HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 187, Touching



Hari ini Izza melewati batas jam pulang karena ia bertemu dan ngobrol lama sama teman sekolahnya semasa SMP dulu yang kebetulan membeli sayuran organik di toko.


Seperti biasa, perempuan kalo sudah ngobrol, kebanyakan lupa waktu. Apalagi jika membicarakan tentang kenangan jaman sekolah dulu. Meskipun awalnya terasa canggung saat bertemu teman lama, tapi keduanya bisa menghindari awkward moment.


Izza berusaha untuk menghindari perbincangan mengenai hal-hal sensitif seperti berkaitan dengan kehidupan pribadi yang sangat privasi, karena akan membuat mereka tidak nyaman.


Izza dan Hanny dulu bisa dikatakan lumayan akrab meskipun tidak rapat sekali, peristiwa yang membuat hidup Izza kocar kacirlah yang membuat komunikasi diantara mereka jadi terputus. Biasanya keduanya akan pergi dan pulang bareng dari sekolah.


Hanny tau bagaimana dulu kondisi ekonomi keluarga Izza, jadi dia amat memaklumi jika bertemu Izza sebagai pelayan toko sayur (Hanny menganggap Izza disini sebagai pelayan toko).


Hanny pun dari golongan orang biasa saja, suratan takdir yang membuatnya menikah dengan seorang pria yang lumayan berada, jadi dia bisa tinggal di kawasan Pondok Indah, meskipun bukan di komplek elit para artis dan pejabat.


Keduanya membicarakan keseruan kisah lama, kenangan yang seru dan lucu. Saling berbagi cerita tentang bagaimana mereka sejak berpisah hingga hari ini.


"Selepas SMA, ga diterima di Universitas negeri, Bapak ga cukup biaya kalo di swasta karena ada dua Kakak yang sedang kuliah juga, akhirnya diputuskan untuk menunda setahun dulu. Selama mengisi waktu setahun, ikut les dan kerja sambilan. Ikut event jadi SPG atau among tamu di acara wedding. Eh malah ketemu jodoh, suami adalah anak pemilik wedding organizer. Pas saya lagi jadi among tamu, beliau juga jadi ketua panitia acara saat itu. Bukan cinta pada pandangan pertama, tapi cinta karena terbiasa berjumpa. Orang tua malah mendukung untuk menikah muda karena saat itu calon suami sudah menghadap orang tua untuk meminta restu, jarak usia suami juga lumayan jauh, sepuluh tahun. Sekarang baru punya anak satu, usianya sudah dua setengah tahun" cerita Hanny yang memang orangnya tipe rame kalo berbicara.


"Alhamdulillah ya.. jadi setelah nikah lanjut kuliah dong?" tanya Izza.


"Ngga lah.. kan langsung isi, tau sendiri kalo sudah rumah tangga pasti langsung ribet ngurusin anak dan suami. Ga mau deh ditambah pusing kuliah dengan seabreg tugas dan sebagainya" jawab Hanny.


"Iya juga sih.." kata Izza.


"Kamu gimana? habis kebakaran itu tinggal sama saudara?" tanya Hanny penasaran.


"Di Panti Asuhan, ya ga lama sih disana, ada yang menjadikan saya adik angkat. Bersama beliau, saya bisa merasakan SMA dan kampus yang bagus di Jakarta. Saya sudah lulus D3 dan suami meminta untuk melanjutkan ke S1" jelas Izza.


"Udah nikah juga?" ujar Hanny kaget.


"Setahun yang lalu" ucap Izza sambil tersenyum.


"Udah punya anak?" tanya Hanny lagi.


"Belum.. belum dikasih kepercayaan" jawab Izza.


"Sabar aja Za .. tandanya disuruh mempersiapkan dulu. Punya anak bukan sekedar kesiapan mental, tapi butuh uang juga. Emang bayar lahiran, beli perlengkapan anak dan sebagainya cukup pake kata siap aja. By the way, dah lama kerja disini?" tutur Hanny.


"Toko ini aja baru buka dua mingguan, ya selama itulah saya disini" jawab Izza.


"Saya tuh hampir tiga hari sekali kesini, tapi kita ga pernah ketemu, masuk siang terus ya?" tanya Hanny.


"Iya.. pagi antar keponakan dulu, kalo kira-kira bisa kesini ya langsung kesini, kalo ga bisa ya tunggu keponakan pulang sekolah. Jadi banyakan siang datang kesini" kata Izza.


"Ponakan suami pasti ya? Ibu Bapaknya kerja, jadi kamu yang dikorbanin buat urus keponakan. Secara kan kamu kerjanya cuma jadi pramuniaga kaya gini, bisa atur shift, sedangkan mereka karyawan yang bukan shift. Plus membantu menopang hidup kamu" terka Hanny sok tau.


"Ya begitulah kira-kira" jawab Izza merendah.


"Gimana kalo kamu kerja aja di tempat suami, kamu kan pinter ngomong tuh, pasti bagus jadi tim marketing. Daripada jadi pramuniaga seperti ini" ajak Hanny.


"Saya kerja disini aja sebenarnya suami ga setuju, apalagi kerja di tempat lain" jawab Izza santai.


"Aduh emang ya laki-laki kadang ga tau diuntung. Masih bagus istri mau bantu suami cari nafkah, segala dilarang-larang. Emang dia bisa kasih apa yang kita mau? kalo suami saya sih terserah aja, mau kerja silahkan, ga mau kerja pun ga masalah. Dia sudah mampu kok membiayai istri dan anaknya. Ditambah anak orang kaya pula, jadi sama orang tuanya setiap anak dikasih rumah dan gaji yang cukup buat urusin Perusahaan WO nya itu" ungkap Hanny.


"Alhamdulillahnya suami saya juga sangat-sangat memenuhi kebutuhan saya, bahkan berlebihan. Kerja sekedar mengisi waktu luang aja" kata Izza yang merasa harus membela diri.


"Udahlah Za.. ga usah kegedean gluduk daripada hujan. Para istri bekerja itu bukan sekedar iseng pastinya, tapi ikut membantu menopang perekonomian keluarga. Beda lagi kalo membuka usaha atau perusahaan sendiri, itu namanya butuh eksistensi" papar Hanny.


"Lama ga ketemu, banyak yang berubah ya. Sekarang jadi pandai menilai orang hanya dari kacamata pribadi. Ga semua istri bekerja itu untuk membantu perekonomian loh.. asalkan sudah disepakati bersama oleh pihak suami, ga jadi masalah dong" ucap Izza yang merasa temannya sudah banyak berubah jadi agak sombong.


"Kita harus berubah mengikuti dimana kita tumbuh. Sekarang saya ini istri dari pimpinan perusahaan wedding organizer yang ternama di Ibukota (meskipun belum pernah Izza dengar), cara bicara juga harus berwibawa dan berkelas. Kalo terkesan meninggi sedikit itu agar orang ga menyepelekan kita" kata Hanny mengajari Izza.


"Wow... sampe begitunya ya? for your information.. saya tetaplah Izza yang dulu, jika ada beda versi itu hanya sekedar keadaan dan situasi saja, kepribadian tetaplah sama. Saya banyak bertemu para istri CEO yang perusahaannya sudah multinasional, tapi semakin mereka tinggi atau kaya raya, makin terlihat santai bahkan tidak mau diketahui mereka itu istri siapa, demi menjaga privasi" sindir Izza.


"Za .. Za... kamu kenal pasti ga dekat kan sama mereka. Sekedar sebentar ngobrol aja. Saya nih sering banget ketemu para istri jutawan, mereka tampil menunjukkan kelasnya kok. Pakaian yang ga diragukan kualitasnya karena besutan perancang ternama, perhiasan mengkilap dengan harga ratusan juta, fashion penunjangnya pun brand luar negeri semua. Mana ada sih istri jutawan yang gayanya sederhana" kata Hanny ga mau kalah.


"Kamu termasuk istri jutawan itu?" tanya Izza.


"Kayanya kalo claim suami termasuk jutawan kok rasanya sombong ya, tapi dengan punya tempat tinggal di daerah Pondok Indah, punya dua mobil, gajinya dua digit diikuti enam angka nol dibelakangnya.. kira-kira bisa disebut jutawan ga?" tanya Hanny balik.


"Mungkin... ga tau juga sih kriterianya apa? kalo suami punya uang sejuta itu termasuk kategori jutawan bukan? definisi jutawan bukannya orang yang punya uang berjuta-juta tanpa ada batas terendahnya?" iseng Izza memancing.


"Hahahhaa.. lucu banget sih Za.. uang sejuta di kota besar bisa beli apa? saya aja tiap belanja kesini habis lima ratus ribu untuk tiga hari. Kalo suami kamu cuma punya uang sejuta.. ya makan warteg sebulan juga ga cukup" ledek Hanny.


Izza merasa sudah tidak nyaman dengan arah pembicaraan Hanny yang ketinggian. Sangat jauh dengan Hanny yang dia kenal dulu.


Izza mencoba membelokkan arah pembicaraan ke pembahasan tentang umum seperti genre musik, hobi dan berbagi resep.


"Za... kapan-kapan kita janjian yuk di Cafe yang kekinian dekat sini, tenang aja.. saya yang traktir. Harganya memang bikin kantong jebol, tapi rasa dan suasananya oke banget. Kaya suasana luar negeri gitu" ajak Hanny.


"Kamu udah pernah keluar negeri?" tanya Izza.


"Baru Malaysia dan Singapura sih, tapi next mau ke Thailand. Benua Eropa atau Amerika nanti dulu, harus nabung setahun kayanya. Secara tiket aja bisa dua puluh juta lebih, belum akomodasi dan makan. Butuh ratusan juta. Kamu sendiri sudah?" tukas Hanny.


Izza hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar perkataan Hanny yang menyombongkan diri seolah-olah Izza masih orang rendahan seperti dulu.


HP nya Hanny berbunyi, ada panggilan masuk dari pengasuh anaknya. HP terbaru keluaran empat bulan yang lalu kini tergeletak diatas meja.


"Sorry.. saya pamit dulu ya, anak rewel nih, jadi harus segera pulang. Masukin nomer HP kamu aja ya.. nanti saya misscall" pinta Hanny sambil menyerahkan HP nya.


"Kamu aja yang masukin, ini nomer saya xxxx xxxx xxxx" sebut Izza.


"Takut ya pegang HP belasan juta.. emang harus hati-hati sih, kalo rusak harga sparepart dan servisnya mehong" kata Hanny lagi.


"Hehehe" Izza cuma bisa nyengir.


Padahal didalam tas kecilnya Izza, ada HP setingkat lebih update serialnya dibandingkan punya Hanny.


Hanny meninggalkan Izza. Alex yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Izza dengan Hanny jadi ketawa sendiri.


"Orang baru kaya ya Mba? dia ga tau aja Mba Izza itu siapa. HP seri itu aja bilang mahal.. saya aja punya... hahaha" julid Alex mengagetkan Izza.


"Jangan gitu .. namanya juga manusia, begitu diatas suka lupa daratan" jawab Izza santai.


"Sekarang hampir Maghrib Mba, pasti kejebak macet nih kita" kata Alex.


"Ya udah.. pulangnya habis sholat Maghrib aja. Kak Rama udah balik belum dari Kantor?" tanya Izza.


"Tadi siang kan ke Audah Hotel, emang ga bilang sama Mba?" tanya balik Alex.


"Ga.. pasti pulang malam, tau sendiri kan repotnya kalo sudah di Audah Hotel, banyak yang dikerjakan. Padahal kemarin janji pulang cepat" jawab Izza santai.


"HP nya Mba mati ya?" ucap Alex.


"Eh iya... lupa .. tadi di silent, biar ga keganggu pas ngobrol. Kenapa Bang Alex.. Kak Rama telepon?" ujar Izza.


"Iya.. saya bilang aja lagi ngobrol sama customer, terus saya foto.. ga jawab lagi" kata Alex.


🏵️


Jam enam petang baru menginjak aspal kota Jakarta, sudah pasti terjebak kemacetan. Karena merasa lelah, Izza tertidur. Rama menelepon berkali-kali pun ga dengar. Akhirnya Rama menelepon Alex.


"Lagi tidur Boss.. cape banget kayanya" jawab Alex berbicara pelan.


"Iya.. kayanya ada konser mini disalah satu Mall, jadinya akses jalannya macet. Artis dari Thailand, sedang naik daun kabarnya" jelas Alex.


"Ya udah.. jangan mampir-mampir, langsung pulang. Saya sudah ada di rumah" kata Rama sambil menutup sambungan telepon.


.


Rama menemani Sachi tidur sambil menunggu Izza.


"Mommy kok belum pulang?" tanya Sachi.


"Kejebak macet" jawab Rama.


"Kasian Mommy.. pasti Mommy belum makan" kata Sachi.


"Sekarang Sachi tidur ya, sudah jam delapan. Besok sekolah kan" ajak Rama.


"Ayah.. kok Mommy ga punya adik seperti aunty Maryam? kan lucu kalo Mommy punya adik, nanti bisa bobo sama Sachi" tanya Sachi dengan polosnya.


"Sachi bantu do'a dong, semoga Mommy bisa segera punya adik bayi" jawab Rama.


"Kalo Sachi berdo'a, besok pagi bisa ada adik bayinya?" tanya Sachi lagi.


"Ya ngga langsung, adik bayi besar diperut Mommy dulu, kalo sudah ada mata, telinga, tangan, kaki dan lainnya, baru deh adik lahir ke dunia ini" jelas Rama.


.


Sachi sudah tertidur pulas, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rama keluar dari kamarnya Sachi. Sejak Mba Nur menikah, Sachi sudah berani tidur sendiri.


Rama kembali menelepon Alex.


"Masih macet Boss, ya paling cepat sekitar satu jam lagi baru sampai rumah" lapor Alex.


"Perlu dijemput pake motor?" tanya Rama.


"Kita masih ada di tol. Ya terserah Boss mau jemput atau tidak, bisa janjian dimana gitu" kata Alex.


"Keliatannya cape banget ga?" tanya Rama lagi.


"Banget.. sampe tidur selonjoran terus pakai selimut. Sepertinya kurang fit Boss. Apa kurang tidur kali ya, beberapa kali saya liat Mba Izza bawa anaknya Maryam kedalam rumah, kan dua anak itu cengeng banget, nangis mulu setiap malam" lapor Alex.


"Kok saya ga tau ya" ujar Rama.


"Saya juga baru liat dua kali, itu juga pas saya lagi keluar kamar aja. Pernah tanya sama Mang Ujang, katanya sih Mba Izza kasian sama Maryam harus urus sendiri sejak Ambu balik ke Tasikmalaya. Maryam juga ga tega minta bantuan Mang Ujang yang sering pulang malam sama Boss" lanjut Alex.


.


Jam sebelas malam, Izza baru sampai kedalam rumah. Memasuki pintu kamarnya, kondisi lumayan gelap, hanya ada penerangan dari lampu yang ada didepan kamar mandi.


Izza mengira Rama tidur di kamar Sachi, jadinya lupa belum menyalakan lampu kamar.


Begitu lampu dinyalakan, tampak Rama sedang duduk menatap tajam kearahnya Izza. Sontak Izza kaget, tapi dia mencoba tenang dan menghampiri Rama untuk mencium tangannya kemudian duduk dan menjatuhkan kepalanya di bahunya Rama.


"Kenapa baru pulang selepas Maghrib? HP juga disilent. Sibuk apa aja sih, kan Kakak bilang dari kemarin, hari ini makan malam di rumah. Kakak aja jam tujuh sudah sampai di rumah. Jalanan Jakarta kalo sudah bubaran jam kerja pasti macet" cecar Rama.


"Maaf ya, keasyikan ngobrol sama teman lama, tadi ketemu teman jaman SMP" ucap Izza merayu bermanja.


"Kayanya kemarin udah bilang juga, mau ngerayain wedding anniversary kita. Sekarang sudah mau ganti hari" Rama agak ngambek.


"Sorry.... please... " rajuk Izza sambil mencium pipinya Rama.


"Ga usah kerja lagi ya De.. sejak sibuk di toko, kayanya pelayanannya sudah tidak kaya dulu" kata Rama.


"Pelayanan yang mana nih?" goda Izza dengan genitnya.


"Ya di ranjanglah" jawab Rama dengan cuek.


"Masa sih??? kayanya oke-oke diajak main berapa babak juga. Lainnya gimana?" tanya Izza masih sambil menggoda Rama.


"Karena badan kamu cape.. udah ngurus suami dan Sachi, lanjut kerja, sampe rumah urus kita lagi. Sekarang nambah begadang bayi-bayinya Mang Ujang. Kamu kan tau Kakak pulang malam, biasanya rehat sebentar baru kita bercinta. Sudah seminggu ini kayanya hambar aja" papar Rama.


"Cuma gara-gara itu Kakak marah? kita nikah sudah setahun, masih bahas urusan kepuasan di ranjang? bukannya kebalik.. Kakak yang pulang dini hari dan paginya udah jalan lagi. Siapa yang ga fit diantara kita. Heran deh sama lelaki, asal memutarbalikkan fakta" Izza membela diri.


Izza mengambil handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Begitu keluar kamar mandi, dilihatnya Rama sudah tertidur di ranjang mereka.


Izza melihat ada buket bunga dan sebuah kotak perhiasan tergeletak diatas meja riasnya. Izza langsung menuju kearah meja tersebut.


Bunga lily putih atau yang biasa dikenal sebagai Casablanca Lily dipilih oleh Rama untuk diberikan ke Izza, bunga ini dipilih karena menggambarkan keromantisan, anggun, menawan dan cinta yang suci, pas banget sama karakter Izza dimata Rama. Selain itu, almarhumah Maminya Rama penyuka bunga lili juga


Dibukanya kotak perhiasan yang ada disebelah buket bunga. Dari embos nama toko perhiasan di kotak beludru hitam, sudah kebayang kemewahan perhiasan yang ada didalamnya.


Rama memang selalu membelikan Izza perhiasan di toko tersebut, konon toko ini adalah tempat Maminya membeli perhiasan.


Sebuah kalung simpel tanpa diamond dengan liontin huruf R tampak sangat sederhana namun klasik. Memang beberapa kali Izza bilang mau beli kalung yang simple, bisa dipakai harian dan tentunya ga terlalu blink-blink.


Izza masih pakai kimono handuknya, dia menghampiri Rama dan mencium keningnya Rama.


"Maaf ya Kak.. Terima kasih sudah memperkenalkan cinta dan kebahagiaan dalam hidup ini. Kadonya menyusul ya, belum ketemu yang pas aja buat diberikan ke suami hebatku ini" puji Izza.


Rama memicingkan matanya.


"Oke.. tidur De.. besok jangan berangkat ke toko. Ga usah keluar kamar juga malam ini, anak-anaknya Mang Ujang akan dibantu sama asisten rumah tangga yang ada disini, tadi sudah Kakak atur. Pokoknya malam ini ingin terus dipeluk sama kamu" jawab Rama dengan lembut.


"Yakin cuma mau dipeluk?" goda Izza.


"Cape ga?" tanya Rama.


"Ada juga terbalik... Kakak cape ga? soalnya mau minta tolong" bisik Izza nakal.


"Minta tolong apa?" tanya Rama.


Izza menarik lengannya Rama, Rama mengikuti Izza.


"Mau minta tolong sabunin punggung, sengaja belum mandi.. soalnya mau dimandiin sama suami ter the best dimuka bumi ini" ajak Izza manja.


"Nakal yaaaa" sahut Rama sambil langsung menggendong Izza kedalam kamar mandi.


Rama kaget melihat bathtub yang sedang terisi air dan ada bunga mawar didalamnya.


"Kapan beli bunganya?" tanya Rama.


"Tadi siang, habis antar Sachi pulang dari sekolah. Diumpetin dulu di lemari... gimana? masih belum jam dua belas kan? belum ganti tanggal .. happy wedding anniversary Kak.. semoga ditahun yang akan datang, kita bisa selalu merayakan wedding anniversary dengan cara sederhana tapi intim seperti ini" harap Izza.


"Kakak bahagia telah memilihmu kala itu" jawab Rama


Sebagai pasangan suami istri, tentunya sudah saling paham mana sentuhan yang normal dan mana sentuhan yang bertujuan untuk menggoda. Saat gairah dan hasrat mulai muncul kepermukaan, baik Rama maupun Izza nggak akan segan-segan untuk mulai memberikan sentuhan-sentuhan spesial.