HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 47, Two of us



"Masih mau bengong disini?" tanya Rama.


"Iya .. iya.. ini juga mau pulang sekarang" jawab Izza sambil menuju kursi tempat dia duduk tadi dan mengambil tasnya.


Dia langsung pamit ke teman-temannya yang masih tersihir pesonanya Rama. Mereka baru tau kalo Izza punya Kakak yang high quality (kualitas tinggi) banget. Bahkan pada minta dikenalin semua. Izza cuma bilang ke teman-temannya, nanti aja kenalan sama Rama karena suasana lagi ga bagus buat sekedar ngobrol.


Rama menunggu didepan pintu Restoran sambil melihat layar HPnya. Izza mendekatinya perlahan dan berhenti persis disampingnya Rama.


"Mau ngapain masih didepan pintu gitu, kata Mbah saya kalo anak gadis ga boleh berdiri depan pintu, jodohnya bisa jauh" ucap Rama becanda.


"Apaan sih Kak Rama ... ini terus gimana? Izza udah nurut mau pulang, tapi ga tau pulang naik apa. Belum pernah ke Mall ini dan bawa duitnya pas-pasan, kalo naik taksi mana cukup, maklumlah uangnya udah buat ke Tasikmalaya kan dua pekan yang lalu" ujar Izza terus terang.


"Ribet amat sih bahasanya... tinggal bilang Kak Rama ... boleh nebeng ga? Gitu aja simpel dibikin panjang kaya kereta" cerocos Rama dengan intonasi yang lucu.


"Ya kalo ga boleh ya gapapa. Nanti telepon aja ke Mba Gita, tinggal minta transfer ... beres deh" kata Izza langsung cabut kearah pintu keluar Mall.


Rama langsung mengejar dan berjalan sejajar persis disamping Izza. Mang Ujang jadi ikut lari karena langkah keduanya lumayan cepat.


"Mau bilang main ke Mall dan bolos kuliah ke Mba Gita?" kata Rama dengan datar.


"Siapa yang bilang bolos .. ga ada kelas tau" jawab Izza.


"Ampun deh Mas Boss ... baru makan udah diajak olahraga aja. Itu kaki pada cepet-cepet amat sih langkahnya. Perut jadi sakit banget nih. Kenapa selalu ketiban sial ya kalo sama Mas Boss, ada aja zonk nya" ucap Mang Ujang rada sewot.


.


"Kalo mau nebeng boleh aja .. tapi ga gratis loh ya, nih bawain tas saya sampe mobil. Males bawa tas, udah kaya tukang kredit panci bawa tas begini" tawar Rama.


"Apaan Mas Boss? tukang kredit panci? ini tas mahal kan Mas ... waktu Pak Isam beli itu saya yang anterin. Ga sengaja liat notanya, ya Allah ... kalo buat modal kredit panci mah bisa dah emak-emak satu RW kebagian kreditan panci" kata Mang Ujang.


Seakan Rama ga mengindahkan omongannya Mang Ujang, dia masih aja nanya ke Izza.


"Gimana? deal or no deal?" tanya Rama lagi.


"Ya..." jawab Izza pasrah.


Rama memberikan tasnya ke Izza. Lumayan cukup berat tasnya. Tapi Izza udah menyetujui mau bagaimana lagi. Rama jalan paling depan.


"Sini Za ... biar Mang Ujang yang bawain" tawar Mang Ujang.


"Mang denger kan ... kalo ikut campur, nanti malah saya tinggalin disini Mang Ujang sama Izza. Terserah mau pada pulang naik apa" tembak Rama.


"Jangan dong Mas Boss, dompet saya ketinggalan nih di kost an, masa saya mau ngesot pulangnya" pinta Mang Ujang.


"Makanya diam aja. Tolong ambil mobil ya, saya tunggu di Lobby, males banget harus cari mobil di parkiran" jawab Rama.


.


Bahkan keusilan Rama ga sampe disitu, sengaja dia mampir-mampir melihat-lihat sesuatu yang ga penting-penting amat. Kaya beli bando buat Sachi, beli makanan buat pengasuhnya Sachi bahkan beli plester jari di Apotek modern. Izza hanya ikut aja, pasrah berjalan dibelakangnya Rama.


Mereka berjalan berdua menuju Lobby. Sengaja pula ga naik lift jadi jalan agak jauh dan muter.


"Kalo ga terpaksa juga ga bakalan deh mau pulang bareng makhluk aneh satu ini .... amit-amit ... jadi cowo nyebelin banget" kata Izza dalam hatinya menahan kesal.


"Kamu beneran nih ga bolos kuliah?" interogasi Rama.


"Ga... harusnya emang ada kuliah sampe jam lima sore. Pas kita datang dosennya kena musibah di jalan saat menuju kampus, jadinya ga ada kelas sore. Karena udah datang ke kampus dan ada temen yang ulang tahun, akhirnya diajak makan kesini. Tau kan kalo Mall ini tenar dan bisa dibilang ga jauh dari kampus. Jadi yang berulang tahun setuju makan disini, katanya sih nanti ada yang bayarin. Ga taunya cowo yang tadi itu. Kita mana tau kalo tuh cowo udah punya pacar. Lagipula kalo tau juga bukan urusan kita" jelas Izza panjang lebar.


"Ooohhhh" jawab Rama.


"Kak .. jangan bilang ke Mba Gita ya" pinta Izza memelas.


"Emang kenapa?" tanya Rama.


"Mba Gita ga tau kalo Izza main sepulang kuliah" jawab Izza.


"Setakut itu sama Mba Gita?" tanya Rama lagi.


"Bukan takut, tapi segan karena..." ucap Izza.


"Karena dia nanggung hidup kamu, karena dia baik and the bla and the bla ... selalu gitu aja alasannya. Mau sampe kapan kamu kaya gitu? Kamu tuh udah diatas tujuh belas tahun, bebas memilih apa yang kamu mau" tutur Rama dengan nada agak sinis.


"Saya bukan orang yang ga tau diri Kak. Hidup saya udah ga jelas kalo ga dibawa ke panti dan ketemu Mba Gita. Andai Mba Gita ga ambil saya, mungkin saya malah ga bisa kuliah seperti sekarang ini. Bantuan ke panti kan ga menentu tiap bulannya" kata Izza.


.


Rama terdiam mendengar jawaban Izza. Kini keduanya duduk didalam mobil. Izza dan Rama duduk dibelakang. Tadinya hanya Izza yang duduk dibelakang. Tapi pas tadi Rama mau duduk dibangku depan, ga sengaja minumannya tumpah ke jok mobil, jadinya dia pindah kebelakang karena basah.


"Berapa banyak anak-anak di panti asuhan sekarang ini?" tanya Rama.


"Sekarang ada sepuluh anak. Usia sekolah antara SD sampai SMP" jawab Izza.


"Biaya selain dari donatur, dari mana lagi?" tanya Rama makin penasaran.


"Ya kami berjualan dan menerima cuci gosok buat menambah penghasilan. Kalo sekolah sudah ditanggung semua sama donatur. Tapi kan kebutuhan ga hanya sekolah aja" jelas Izza gamblang.


"Banyak donatur tetapnya disana?" tanya Rama.


"Hanya satu ... Abrisam Group, kalo yang lain paling pas Ramadhan dan Idul Fitri aja kasih bantuan. Kalo Idul Adha ya dikasih daging" jawab Izza lagi.


"Papi atau Mas Haidar yang mengatur tentang dana yang diserahkan ke panti?" kata Rama.


"Pak Isam" jawab Izza singkat.


"Sejak kapan?" ujar Rama.


"Lima tahun yang lalu, ya ga lama dari saya masuk ke panti itu. Ibu pernah cerita kalo mobil Pak Isam mogok tepat didepan panti. Karena hujan, Pak Isam ditawari masuk untuk berteduh. Rupanya jiwa sosial beliau amat tinggi, merasa iba dengan anak-anak panti dan akhirnya memberikan bantuan sampai sekarang ini" jawab Izza.


"Ketemu pernah, tapi ga dikenalin. Beliau ga kenal saya dan saya cuma liat beliau dari jauh. Waktu santunan yang kita diundang ke kantor" lanjut Izza.


"Pas kemarin kerja di kantor, kan ketemu tuh sama Papi, kamu bilang dari panti itu?" tukas Rama yang sekarang berani memandang kearah Izza.


"Ga ... Mba Gita memperkenalkan saya sebagai adik angkatnya tapi ga dijelasin saya dari mana. Kayanya ga perlu Pak Isam tau tentang asal usul saya kan? ga penting" kata Izza yang lebih banyak menundukkan kepalanya saat berbicara.


"Mas Boss nanya kaya penyidik aja. Kasian tuh Izzanya dari tadi jawab mulu" potong Mang Ujang.


"Ibu yang saya ketemu di Tasikmalaya tempo hari berarti pimpinan panti kan ya? saya kira pegawainya" tanya Rama lagi.


"Iya.. beliau pimpinan panti" jawab Izza.


"Kayanya kalian berdua sangat dekat ya. Like mother and daughter" ujar Rama.


"Ya .. beliaulah tempat saya berbagi kasih sayang sejak saya ditempatkan disana. Saya kan anak yatim piatu, ga punya siapa-siapa dan ga punya apa-apa .. semua habis dilalap si jago merah. Sedangkan Ibu kan single, tidak punya suami dan anak. Saya yang butuh seorang Ibu, mendapatkan semuanya dari Ibu. Demikian juga sama Ibu, beliau mencurahkan kasih sayang buat saya seperti anaknya sendiri. Jadi ya kami dipertemukan oleh takdir. Allah menggantikan kedua orang tua saya yang sudah berpulang dengan sosok Ibu" jelas Izza.


"Bisa ya kita sayang dan menganggap orang yang ga ada hubungan darah, seperti orang tua kita sendiri?" tanya Rama.


"Bisa ... karena kasih sayang ga perlu ada hubungan darah. Seperti saya sama Ibu, saya sama Mba Gita, saya dengan teman-teman dan lainnya" jawab Izza.


"Kamu sempat kenal sama Ibu kandung?" kata Rama.


"Ya kenal lah... mereka kan berpulang saat saya SMP, jadi cukuplah punya memory tentang sosok Ibu" jawab Izza.


"Saya malah ga sempat digendong sama Mami ... beliau berpulang sesaat setelah saya terlahir dimuka bumi ini" kata Rama agak mellow.


Ga ada yang berani menjawab.


"Mungkin karena ga dapat kasih sayang seorang Ibu, jadinya saya tumbuh jadi orang yang ga terlalu peka sama orang sekeliling. Sifat saya terlalu jantan, ga ada lembut-lembutnya. Bukan karena saya ga sayang sama orang sekeliling, tapi begitu sulit buat ungkapin rasa sayang ke siapapun. Memang dulu ada sosok Mba Mentari hadir menggantikan peran Ibu, tapi rentang usia kami jauh. Jadinya saat saya sedang butuh perhatian, Mba Mentari udah remaja, sibuk dengan dunianya sendiri. Papi pun lagi sibuk-sibuknya bangun bisnis" lanjut Rama.


Mang Ujang dan Izza masih diam.


"Beruntung kalian berdua sempat merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Merasakan air susunya, mendapatkan belaian kasih sayangnya, bahkan bisa memakan masakan hasil racikan tangannya" ucap Rama makin sedih.


"It's just my opinion ya Kak .. Perasaan kehilangan itu sesuatu yang wajar dialami oleh setiap orang, ketika salah satu orang tua pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Rasa rindu akan hadir setiap teringat sosok yang kini sudah ga bisa kita liat lagi. Meskipun udah ga bisa ketemu, Kakak bisa mengirimkan do'a dan kata-kata buat almarhumah Ibunya. Dengan kata-kata kita bisa mengungkapkan perasaan rindu sekaligus cinta dan kasih sayang pada Ibu. Kakak juga bisa berziarah ke makam dan mengucapkan langsung kata-kata tersebut dengan perasaan yang tulus dan ikhlas. Dekat sama sosok lain itu bukan untuk menggantikan posisi Ibu dalam hidup kita, tapi bagaimana kita membalut luka dan sedikit menambal rasa atas kehilangan yang ada" papar Izza.


Rama manggut-manggut aja. Kali ini dia setuju sama opini yang diberikan oleh Izza.


🌺


Enam bulan sudah Rama mengurus semua kerajaan bisnis milik Pak Isam yang banyak diambang kehancuran, walaupun belum stabil tapi semua yang tersisa masih bisa dipertahankan serta tidak ada lagi PHK massal.


Sebulan lagi Hotel yang dulu sempat pailit akan kembali dibuka. Keluarga Anindya yang membeli bangunan Hotel dengan cara menukar dengan Hotel yang mereka punya serta ada tambahan uang yang dipakai untuk investasi di Hotel tersebut.


Letak Hotel hanya berjarak empat kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma dan tujuh kilometer dari PGC (Pusat Grosir Cililitan). Menurut Rama, letaknya merupakan sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Rama dan Anindya mampu menangkap peluang tersebut jadilah mereka sepakat membangun bisnis bersama.


Mereka mengkonsepkan Hotel yang rekondisi hanya sebagai tempat transit bagi yang akan naik pesawat di Halim Perdanakusuma (biasanya biar ga telat, jarak rumah dengan Bandara jauh dan macet) serta orang-orang luar Jakarta yang membeli barang di PGC (harga PGC ga jauh beda sama Tanah Abang, tapi fasilitas PGC lebih seperti Mall, adem dan tertata lebih rapi).


Melihat banyak keuntungan seperti itu mereka membuat Hotel yang baru ini buat sekedar tidur dan makan saja. Ga perlu fasilitas segala rupa karena ga akan digunakan oleh para tamu. Dengan mengurangi berbagai fasilitas maka bisa memberikan harga murah buat konsumen karena pemeliharaan fasilitas bisa ditekan. Selain itu Rama juga bekerjasama dengan biro-biro travel dan agen penjualan tiket online dengan cara bundling (membuat paket tiket plus menginap transit di Hotel).


Pembagian saham kepemilikan antara Rama dan Anindya, 70:30, sesuai dengan total modal yang mereka tanam. Semua isinya dirancang ulang sama Anindya. Anindya mempercayakan Rama menduduki jabatan sebagai Direktur disana dengan sistem gaji, selain dia juga nantinya berhak atas keuntungan dari saham kepemilikan pertahunnya.


Pak Isam dan Haidar menyerahkan semua langkah ini ke Rama. Karena memang sejak awal Rama dan Anindya yang meeting dan membuat perjanjian bisnis. Untuk mencegah hal-hal dikemudian hari, mereka juga sudah membuat nota kesepahaman dan perjanjian jika ada sesuatu yang terjadi kedepannya. Memang antara Rama dan Anindya tipe yang well preparation.


🏵️


Ceu Lilis juga sudah mengikuti program kejar paket B (setara SMP) karena jenjang pendidikan terakhirnya sudah kelas IX, dia hanya ikut tes penempatan dan dinilai langsung bisa ikut setara UN SMP. Kedepannya dia akan terdaftar dikejar paket C, lama pendidikan juga tiga tahun seperti SMA, hanya bedanya ga harus bersekolah setiap hari, hanya sekali seminggu aja. Yang mengadakan juga lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk program kejar paket C. Ceu Lilis terdaftar di Kota yang jaraknya sekitar empat puluh menit dari kampungnya. Untuk mobilitas sekolah, Rama sudah memberikan instruksi kepada penjaga villa untuk antar jemput Ceu Lilis.


🌺


Pulang ke Tasikmalaya pun sudah jadi agenda rutin tiap sebulan sekali buat Rama. Menyambangi orang tua Mang Ujang, berkunjung ke pesantren buat ngobrol sama Abah Ikin, melihat potensi-potensi kebun milik Pak Isam serta mengunjungi Ceu Lilis dan keluarganya.


Bagi Rama, Tasikmalaya udah jadi kampung keduanya setelah Surabaya. Orang-orang disini pun amat menerima kehadirannya. Rama menjadi sosok pemuda yang kaya raya tapi rendah hati. Jangan ditanya berapa banyak orang tua di kampung ini yang berharap bisa menjadikan Rama sebagai menantu, karena memang hampir semua kalo ditanya pasti jawabannya mau.


Hubungan diantara Rama dan Ibunya Ceu Lilis pun semakin akrab. Karena Ibunya Ceu Lilis udah anggap Rama seperti anaknya sendiri. Rama bisa becanda atau sekedar minta dimasakin sama Ibunya Ceu Lilis.


🏵️


Rama dan Anindya itu kaya botol ketemu tutupnya, keduanya sama-sama gila kerja dan selalu punya ide brilian, jadinya pas dan klop Bahkan dengan nyelenehnya mereka memberikan nama buat hotelnya yaitu "Audah Hotel".


Pilihan yang gampang diingat dan lafalnya pun mudah diucapkan. Mereka juga mempunyai tagline "kalo ada yang murah kenapa pilih yang mahal".


Audah ini berasal dari bahasa Skandinavia yang artinya makmur atau kaya. Berharap bisnis milik mereka berdua ini bisa memberikan kemakmuran untuk karyawan serta pelaku usaha yang menyewa tempat di lobby Hotel untuk menjual produk yang dibutuhkan oleh para tamu hotel. Serta pastinya diharapkan bisa menambah pundi-pundi kekayaan untuk Rama dan Anindya.


Mereka juga mendekor ulang Hotel dengan suasana rumah banget, jadi yang menginap akan terasa pulang ke rumah sendiri. Seragam-seragam para pekerjanya pun sudah dirancang lebih casual, agar ga terlalu terlihat berjarak dengan para tamu. Rama memang lebih bertindak sebagai konseptor dan Anindya sebagai eksekutornya.


Selain berbisnis bersama, mereka juga sudah terdaftar sebagai mahasiswa program magister disalah satu Universitas Negeri tersohor di negara ini. Bagi keduanya yang masih minim ilmu dan pengalaman akan lebih bagus jika mendapat kombinasi dari ilmu orang tuanya dan ilmu di bangku kuliah formal.


Bahkan kedekatan keduanya membuat akhirnya Anindya dan Haidar jadi lebih berjarak lagi. Haidar hanya ga mau berurusan sama Anindya. Usia Anindya dan Rama hanya selisih tiga tahun jadi masih bisa nyambung ngomong apapun.


.


Mba Gita sedang mengalami kesulitan biaya buat Izza. Memang dulu Mba Gita sendiri yang memaksa Izza untuk ambil kuliah D3 di sebuah lembaga pendidikan Internasional, mengingat lulusan sana banyak diambil oleh perusahaan-perusahaan terkenal di negeri ini serta perusahaan asing. Kuliah yang singkat membuat semua mata kuliah dipadatkan dengan tugas yang menggunung, apalagi dia ambil kelas eksekutif, buat para pekerja yang biayanya dua kali lipat dari biasanya.


Izza pun sebenarnya ga berpangku tangan, dia juga sudah kembali mencoba melamar kerja kesana kemari. Apalagi di semester ini dia hanya kuliah dari Jum'at sampai Ahad. Jadi empat hari free nya akan dimanfaatkan untuk mencari uang.


Karena memang masih belum dapat kerja walaupun sudah beberapa kali ikut interview. Jadinya Izza kerja serabutan, mulai dari bantuin warung tetangga, jualan baju online sampe buka les panggilan buat anak-anak SD. Tapi semua yang dilakukan belum bisa menutupi biaya yang dibutuhkan.


Saat Bossnya Mba Gita masih Pak Isam, Mba Gita ga kesulitan ekonomi karena Pak Isam tipe Boss yang sangat royal. Berbeda sama Rama yang rada-rada perhitungan. Rama hanya akan memberikan bonus berdasarkan performa kerja dan seberapa besar kontribusi untuk perusahaan.


Sebenarnya gaji Mba Gita sudah diatas gaji rata-rata Sekretaris CEO, tapi sekarang ga dapat uang tambahan dari Bossnya secara pribadi, kalo dulu Pak Isam pasti memberikan uang setiap bulannya sebagai wujud terima kasih sudah dibantu semua pekerjaannya.


Rama itu bukan kategori manusia pelit, tapi dia menggunakan uang perusahaan sebagai mana mestinya, ia pakai manajemen bisnis yang seharusnya, bukan manajemen warung yang bisa ambil kapanpun butuh. Dia pun sudah mengganti karyawan yang mempunyai posisi penting di perusahaan dengan orang yang lebih berkompeten dibidangnya.