
Pak Isam buru-buru pulang ke Jakarta setelah mendengar Mba Gita ditangkap Polisi atas aduan dari Rama. Jam sebelas siang Pak Isam sudah berada di kediamannya.
Sesampainya di rumah, Rama masih tidur, berpelukan sama Sachi yang juga ketiduran karena bosan bermain boneka.
Pak Isam langsung masuk ke kamarnya Rama.
"Rama .. Rama ... bangun.. " panggil Pak Isam.
Rama belum juga bangun, malah Sachi yang terbangun.
"Opa Kenapa bangunin Ayah? Ayah ngantuk" protes Sachi.
"Sachi main sama Mba Nur dulu ya .. atau mandi dulu, belum mandi kan?" kata Pak Isam.
"Belum" jawab Sachi.
"Nanti Opa panggil Mba Nur buat jemput kamu kesini" ujar Pak Isam.
Pak Isam mengangkat telepon yang ada di meja, dia menelpon ke tempat biasanya para pekerja di rumahnya kumpul, yaitu dibelakang dapur.
Rumah Pak Isam memiliki sistem telepon internal atau yang biasa disebut dengan sistem telepon PABX (Private Automatic Branch eXchange). Sistem ini bisa menghubungkan beberapa line dalam satu nomor telepon dengan menggunakan switchboard. Dengan sistem seperti ini, semua orang yang ada di rumah dapat menghubungi satu sama lain hanya dengan menekan nomor ekstensi tanpa dikenakan pulsa. Selain itu, sistem PABX juga mengatur siapa saja yang boleh melakukan panggilan telepon keluar, jadi aktivitas melakukan panggilan keluar orang-orang yang ada di rumah bisa dipantau dan dibatasi sehingga telepon tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
Selang lima menit kemudian, Sachi sudah dibawa oleh Mba Nur menuju kamar Sachi untuk mandi.
🏵️
Izza dan Ibu Panti akan menjenguk Mba Gita hari ini, membawakan baju dan sedikit makanan kesana, karena saat penangkapan Mba Gita semalam ga bawa apa-apa. Baju pun hanya yang melekat dibadan. Tadi pagi Izza dan Ibu sudah ke rumah Mba Gita dan ijin dengan pihak kepolisian yang menjaga rumah untuk mengambil baju.
Saat kejadian, mobil Mba Gita sedang dipinjam oleh pihak Panti Asuhan, jadinya tidak ikut disita oleh pihak berwajib. Lagipula memang Rama tidak memasukkan tentang harta yang Mba Gita punya sebagai delik aduan. Rumah Mba Gita hanya digeledah untuk kepemilikan obat terlarang.
Izza dan Ibu Panti memasukkan barang pribadi Mba Gita seperlunya saja. Kemudian Izza melajukan mobilnya menuju Kantor Polisi.
Sesampainya di Kantor Polisi, mereka saling berangkulan, Mba Gita hanya diberikan waktu selama dua puluh menit untuk dijenguk oleh pihak keluarga.
Dipertemuan itu, Mba Gita meminta Izza untuk menjual mobilnya. Nanti untuk pegangan dan biaya kuliah Izza, selain itu juga untuk membeli kebutuhan Mba Gita selama dalam masa tahanan dan rencananya akan meminta bantuan pengacara kenalannya Mba Gita, jadinya pasti butuh biaya. Tabungan Mba Gita sudah dikuras habis akibat judi online tiga hari yang lalu.
Awalnya Izza menolak, tapi Mba Gita terus mendesak.
"Za .. selama proses ini berjalan kita pasti butuh uang. Rekening tabungan Mba sudah kosong. Mba juga sudah dikunjungi oleh pengacara teman Mba, jasanya gratis tapi kan ada biaya transportasi yang harus kita kasih. Pokoknya Mba minta tolong banget sama kamu" pinta Mba Gita.
"Mba ... gapapa nanti mobil kita sewakan aja. Atau Izza jadi driver taksi online" ucap Izza.
"Za .. bahaya jadi driver taksi di Jakarta, apalagi kamu perempuan. Nanti kalo mobil sudah dijual, kamu beli motor buat mobilitas" lanjut Mba Gita.
"Mba ... kenapa jadi begini? apa perlu Izza ketemu sama Kak Rama buat meminta belas kasihan dari dia?" tawar Izza.
"Jangan Za .. jangan dekati dia untuk masa sekarang ini. Dia ga bisa ditebak langkahnya. Pokoknya kamu jangan gegabah. Mas Rama masih sangat emosi. Diantara anaknya Pak Isam, hanya dia yang modelnya nekat. Berani berhadapan dengan musuhnya, maklumlah sering keluar masuk Polsek karena kenakalan remaja" papar Mba Gita.
"Tapi Izza ga tega liat kondisi Mba kaya gini. Atau minta bantuan Pak Isam aja Mba. Mungkin Pak Isam lebih bijak dalam masalah ini. Kak Rama kan belum lama jadi Boss nya Mba Gita, kalo Pak Isam kan udah tau bagaimana loyalitas Mba terhadap perusahaan, bisa jadi malah nanti Pak Isam membantu" kata Izza.
"Za ... pokoknya kamu ga usah ikut campur dengan masalah ini, Mba bisa handle sendiri. Intinya jangan bertindak kalo Mba ga ijinkan" hardik Mba Gita.
"Tapi Mba ... " lanjut Izza.
"Jangan karena kebodohan kamu, Mba malah ga bisa bebas. Jadi kamu cukup liat dan menjalankan apa yang Mba perintahkan" ucap Mba Gita.
"Benar kata Mba Gita Za ... kamu harus bisa menahan diri. Kita ini buta hukum, salah langkah malah bisa membahayakan Mba Gita. Ibu cuma bisa berdo'a biar Mba Gita dikuatkan menerima cobaan ini. Cepat ada solusinya. Kita ikuti semua proses yang ada. Insyaallah akan ada jalan keluar jika kita bersabar atas ujian ini" nasehat Ibu Panti Asuhan.
"Iya Bu .. makasih do'anya" jawab Mba Gita.
Mba Gita memang tidak menceritakan apa yang sudah dilakukannya terhadap keluarga Abrisam dan yang telah dia lakukan terhadap Mba Nay. Jadi Izza dan Ibu Panti Asuhan taunya Mba Gita adalah orang yang baik dan tidak bersalah.
🏵️
Rama mengucek matanya, masih terasa ngantuk tapi dipaksa bangun oleh Pak Isam.
"Kenapa bisa begini?" cecar Pak Isam.
Rama mengusap wajahnya sambil duduk menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Papi sudah tau belum apa yang disangkakan ke Mba Gita?" tanya Rama.
"Penggelapan uang perusahaan" jawab Pak Isam.
"Dia juga terlibat dalam kebakaran rumah keluarga Mba Nay yang menyebabkan keluarga Mba Nay menjadi korbannya. Dia juga terlibat dalam pengedaran zat-zat aditif, termasuk Papi kan jadi korbannya?" ujar Rama.
Pak Isam kaget mendengar Rama tau tentang sejarah kelam dirinya yang menjadi budak obat terlarang sejak cobaan berat menimpanya.
"Papi ke Pesantren Abah Ikin untuk berobat kan? Alhamdulillah kalo Papi ada ditangan yang benar dan bisa lepas dari jerat itu. Pi .. Mba Gita harus menerima ganjaran atas perbuatannya. Dia sudah memakan uang perusahaan yang bukan haknya. Ditambah lagi sudah menghilangkan nyawa orang. Rama pastikan dia akan mendekam lama didalam penjara" kata Rama penuh emosi.
"Kenapa ga bilang dulu ke Papi? kamu ga mikir kalo akan berbahaya buat perusahaan bahkan diri kamu sendiri" ucap Pak Isam.
"Mang Ujang lagi ke bengkel, kaca mobil pecah karena semalam ada yang ngelempar batu pas mau jalan ke Kantor Polisi" lanjut Rama.
"Tuh kan ... mereka ini pasti jaringan besar. Gita itu udah lumayan tinggi levelnya di jaringan itu. Big Boss dia ga akan tinggal diam. Ada dua kemungkinan, Gita bisa mereka bebaskan atau mereka bunuh untuk menghilangkan jejak" opini Pak Isam.
"Rama udah memikirkan sampe kesitu Pi, Om Muchwan siap membantu mengawal kasus ini. Komandan unit narkobanya juga Rama kenal kok, jadi mereka juga sudah waspada" papar Rama.
"Om kamu memang punya jabatan, tapi kita ga bisa mengintervensi tugas pihak berwajib" ingat Pak Isam.
"Rama cuma meminta Om Muchwan untuk waspada aja kok Pi. Semua proses hukum ya berjalan normal sebagaimana mestinya. Rama juga sudah antisipasi Pi, sudah nyewa dua bodyguard buat jagain Rama" cerita Rama.
"Kurang kalo dua orang, ambil dua lagi, jadi dua puluh empat jam kamu ada yang ngawal" kata Pak Isam.
"Papi ga usah berlebihan kaya gitu, Rama juga tau harus jaga diri kaya gimana. Pokoknya Papi tenang aja, Rama akan handle semuanya. Sementara waktu, semua orang di rumah ini ga usah keluar rumah kalo ga urgent. Sachi juga akan langsung dijaga sama Mas Haidar selama di sekolah. Kita pun harus waspada" terang Rama.
"Ya tapi Papi khawatir banget sama kamu. Jaringan obat terlarang itu terlalu kuat. Banyak kan kasus di negeri ini yang menguap begitu aja kalo petingginya yang tertangkap. Mereka ga akan tinggal diam" Pak Isam tampak khawatir.
"Tapi kejahatan harus kita basmi Pi, Mba Gita harus dihukum .. titik" ancam Rama.
"Apa mungkin kamu kaya gini kalo ga ada kasus kematian keluarganya Nay?" tanya Pak Isam.
"Semua saling berkaitan pokoknya Pi .." jawab Rama.
"Karena kamu cinta sama Nay sampe rela berbuat sejauh ini. Kamu tukar mimpi kamu demi dia dan kandungannya, kamu ambil tanggung jawab membesarkan Sachi, kamu cari adiknya Nay bahkan menyelidiki kasus ini dengan menjual warisan dari Mami" tukas Pak Isam.
Rama terdiam atas segala analisa Papinya. Semua poin yang disebutkan hampir benar adanya, tapi poin mencintai Mba Nay masih bingung menjabarkannya.
"Dalam berbisnis.. Papi mencoba tidak menginjak orang lain, jadinya kalo ada yang terjadi akibat bisnis Papi, itu diluar sepengetahuan Papi" tutur Pak Isam.
"Tau .. tapi Papi ga ada hubungannya dengan tutupnya usaha orang tuanya Gita, bahkan kematian Ibunya kan karena ga kuat harus bermadu. Walaupun Papi tau kisahnya Gita. Papi ga tau siapa orang tuanya Gita. Ga tau juga apa Papi kenal atau ngga" jelas Pak Isam.
"Selama ini Papi udah tau semua cerita? kenapa Papi ga bertindak?" tanya Rama gregetan.
"Kalo tentang Gita dan keluarganya Papi tau karena ada yang memberitahukan tentang hal itu. Makanya Papi kasian, kebetulan juga dia melamar kerja di Abrisam Group, jadilah Papi didik dia biar jadi sekretarisnya Papi. Harapannya agar bisa memperbaiki kehidupannya. Tapi untuk kasus penggelapan ini baru Papi tau. Kayanya selama ini Papi udah memberikan dia gaji dan bonus diatas rata-rata, kenapa masih gelap mata. Apa karena obat dan judi online?" ujar Pak Isam.
"Ya .. terlalu hedon juga hidupnya. Tapi dia habis-habisan saat mulai kenal judi online Pi, bahkan sertifikat rumahnya udah digadaikan. Memang sejak dua bulan terakhir Rama perhatikan dia ga ada barang baru yang dipakai. Biasanya tiap Minggu ada aja yang baru" sahut Rama.
"Terus Papi harus gimana buat bantu kamu?" tanya Pak Isam.
"Papi cukup berdo'a aja, Rama udah berkoordinasi dengan banyak pihak dalam kasus ini. Pengacara perusahaan dan pengacara keluarga kita juga sudah Rama libatkan" jelas Rama.
"Hati-hati ya .. udah adzan dzuhur tuh .. mandi sana" perintah Pak Isam.
"Ga boleh apa tidur lagi? ngantuk berat Pi" rajuk Rama.
"Kalo lagi galak udah kaya jagoan. Tapi kalo manjanya kambuh ngelebihin manjanya Sachi. Sana mandi .. sholat dan makan dulu baru nanti tidur lagi" lanjut Pak Isam.
🍒
Izza menghubungi Mang Ujang, karena dia hanya kenal supir ya Mang Ujang. Menanyakan tentang cara menjual mobil karena ga paham tentang dunia otomotif. Mang Ujang janji akan bantu Izza buat bantu menawarkan mobilnya.
.
Sore hari, Sachi ga jadi nonton karena kehabisan tiket. Jadinya Rama mengajak Sachi bermain sepeda di halaman belakang rumah yang luas. Rama juga mengeluarkan sepedanya untuk membuang keringat.
Rasa kesalnya masih menggunung ke Mba Gita jadi ia ingin melupakan sejenak kasus Mba Gita dengan menghabiskan waktu bersama Sachi.
Mang Ujang yang baru pulang dari bengkel langsung menghampiri Rama.
"Dah beres Mas Boss, tadi orang asuransi yang urus, emang deh nama keluarga Abrisam emang berkelas. Semua jadi cepet urusannya" adu Mang Ujang.
"Kan udah saya laporin langsung ke agennya. Dia pasti koordinasi sama pihak bengkel resmi" jawab Rama yang kemudian duduk di kursi taman bareng Mang Ujang.
"Mas Boss tuh abis ngapain sih sampe kaca pecah begitu? makanya kalo ngantuk ga usah bawa mobil" kata Mang Ujang.
"Siapa yang ngantuk? saya habis diserang orang, lagian kalo ngantuk yang hancur tuh kaca depan dan bagian depan mobil pasti pengok, ini kan bagian depan ga masalah" lanjut Rama.
"Iya juga sih, atau jangan-jangan Mas Boss pacaran ngumpet di semak-semak terus pas mau keluar nih kaca mobil samping kena ranting pohon. Soalnya mana mungkin Mas Boss diserang orang. Mas Boss kayanya ga punya musuh" duga Mang Ujang.
"Kalo saya mau pacaran bebas kaya gitu, Hotel banyak .. mau punya sendiri atau punya orang lain, mau yang bintang berapa juga saya sanggup bayar sewa untuk semalam. Ngapain harus pacaran di semak-semak, itu mah Mang Ujang kali. Jangan curiga mulu sama saya, Mang Ujang kan tau sampe sekarang saya ga ada pacar" ucap Rama dengan gayanya yang rada sombong.
"Bukan maen emang nih Mas Boss, kalo datang sombongnya .... beuh .. selangit dah ngomongnya. Lagian kan cuma becanda, santuy aja Mas Boss" jawab Mang Ujang.
"Makanya otak jangan kebanyakan diisi cerita mesum atau mikir yang ajep-ajep aja. Dilatih buat mikir yang lebih berbobot gitu" saran Rama.
"Yah Mas Boss.. saya ga mikir yang berat-berat aja rasanya nih otak udah lelet, apalagi ditambah mikir yang berat, bisa langsung error kali" sahut Mang Ujang.
"Mending nyuci mobil sana Mang. Tuh posisi udah pas banget di samping rumah, emang tempat buat nyuci mobil" perintah Rama.
"Bisa yang lain aja ga Mas Boss, baru juga pulang, belum makan pula" ucap Mang Ujang.
"Kan saya kasih uang makan, emang ga makan?" tanya Rama.
"Bengkel resminya di kawasan elit, ga ada warteg, adanya restoran yang harga segelas teh manis sama kaya makan nasi Padang. Ya sayanglah uangnya. Begitu jalan pulang mau mampir ke warteg kok ya malu rasanya, masa tongkrongan sama mobilnya ga sebanding" jawab Mang Ujang cengengesan.
"Tolong bilang ke Suparno buat nyuci mobil saya, dia mah orangnya resik dibanding Mang Ujang. Oh ya tolong juga kedepan pos security, ada ojol, saya pesan makanan, bawa sini aja, kebetulan juga pesannya lebih kok, jadi Mang Ujang bisa ikutan makan" kata Rama.
.
Lima menit kemudian, Mang Ujang membawakan bungkusan ke Rama.
"Sachi .. ini pizzanya udah ada" teriak Rama.
"Iya Ayah... " jawab Sachi.
Sachi dibantu Mba Nur untuk menikmati pizza di bangku sebelah.
Rama dan Mang Ujang membuka bungkusan makanan. Ada salad, garlic bread, spicy smoke fettucine, mac and cheese serta dua loyang personal pizza.
"Ini mah mana kenyang Mas Boss, segala lalapan sama roti makannya. Ini kan sore hari, masa makan kaya buat sarapan" protes Mang Ujang.
"Bawel ya, ini tuh salad bukan lalapan .. tuh di rumah masak beef in a soup that’s made from both coconut milk and fresh milk, simmered with aromatic herbs and spices like galangal, garlic, lime leaves and candlenut" tawar Rama.
"Masak apaan itu Mas Boss? panjang amat namanya" tanya Mang Ujang kebingungan.
"Soto Betawi..." jawab Rama sambil ngunyah pizza.
"Astaghfirullah .... tinggal bilang soto Betawi aja sepanjang itu .. ibaratnya kalo orang laper udah keburu kenyang dengerin nama makanannya" ujar Mang Ujang sambil tepok jidat.
Rama pindah duduk dekat Suparno yang lagi menyuci mobilnya. Makanan juga ikut dipindahkan. Mang Ujang membawa semangkok soto Betawi dan sepiring nasi. Dia ikutan duduk dekat Rama.
"Aduh Mas Rama ... beli mobil yang nilainya Milyaran begini, ngeri nyucinya juga" ucap Suparno.
"Kan mobil Papi sama Mas Haidar lebih mahal" kata Rama.
"Iya sih, tapi kan bukan keluaran terbaru. Kalo ini masih edisi gress baru keluar, megangnya juga harus hati-hati" lanjut Suparno.
"Kan pernah saya ikutin pelatihan mencuci dan membersihkan mobil pas saya mau beli alat steam ini" kata Rama dengan entengnya.
"Tapi tipenya Mas Rama kan paham banget sama otomotif, beda sama Mas Haidar dan Pak Isam yang asal kelihatan bersih aja" jelas Suparno.
"Mobil impian ini .... kan macho kalo pake mobil model ini" jawab Rama bangga.
"Tapi ribet Mas Boss, ga muat banyak" sela Mang Ujang.
"Kalo muat banyak mah beli metromini Mang" ujar Rama.
"Sekalian aja truk Mas Boss, bisa segala bawa hasil kebun dan ternak" ujar Mang Ujang keki.
"Sebenarnya saya belum mau beli, tapi ini udah melalui pertimbangan Papi sama Mba Anin, tau sendiri kalo uang saya cuma bisa beli kaca spionnya aja. Kan yang bayarin Papi dulu, tinggal saya cicil tiap bulannya" jelas Rama.
"Lah bukannya dibeliin sama Pak Isam?" tanya Mang Ujang.
"Saya yang ga mau, biar ada kepuasan tersendiri kalo hasil jerih payah pribadi" lanjut Rama.