HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 11, Sad



"Haidar Koma, Tomo tewas ditempat kejadian" jelas Pak Isam.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" jawab Faqi.


"Papi akan pindahkan Haidar ke Rumah Sakit di Malaysia, sekarang Gita lagi urus semuanya" tambah Pak Isam.


"Kenapa ga disini aja dirawatnya Pi?" tanya Faqi.


"Kita ke cafe dibawah, ada yang perlu Papi bicarakan dengan kamu" kata Papi sambil beranjak jalan.


Faqi mengikuti dari belakang setiap langkah Pak Isam. Udah makin ga karuan pikiran dan perasaan Faqi. Bingung bagaimana menyampaikan ke Mba Mentari tentang berita ini.


Papi memilih meja paling pojok yang jauh dari meja yang lainnya.


"Kenapa kalian berkomplot dibelakang Papi? kamu dan Mentari tega mengkhianati Papi buat dukung Haidar menikah sama mantan sekretarisnya" kata Pak Isam ketika mereka sudah duduk di cafe.


Faqi terperanjat kaget dengan perkataan Pak Isam.


"Pi... ini pilihan Mas Haidar. Restuilah mereka Pi. Dari kecil kan Mas Haidar selalu ikutin apa yang Papi mau, tolong Pi... sekali dalam hidupnya dia bisa memilih. Mas Haidar dan Mba Nay saling mencintai" ujar Faqi.


"Mau taro dimana muka keluarga kita sama keluarga Anindya? gara-gara wanita murahan itu, Haidar memutuskan pertunangan dengan Anindya. Harusnya Papi bisa bertindak lebih awal. Tapi semua udah terjadi. Liat kan .. perbuatan kalian tidak direstui Tuhan" ucap Pak Isam dengan pongah.


"Tuhan atau Papi yang ga merestui?" tukas Faqi blak-blakan.


Pak Isam tampak bisa menguasai keadaan, beliau ga tampak sedih.


"Pi... Papikah yang berniat mencelakai Mas Haidar? Setega itu Pi sama anak sendiri?" tuduh Faqi yang mencurigai Papinya sendiri sebagai dalang dari kecelakaan ini.


"Anak durhaka kamu ya, masa nuduh Papinya sendiri. Sebuas-buasnya harimau, ga akan makan anaknya sendiri" jawab Pak Isam marah.


"Pak... ambulance udara dari pihak Rumah Sakit Malaysia, satu jam lagi akan standby, kebetulan habis mengantarkan pasien pulang dari sana. Saya juga sudah berkoordinasi sama Rumah Sakit ini, dalam waktu tiga puluh menit lagi, Mas Haidar akan dibawa ke Bandara. Semua data yang dibutuhkan sudah dipersiapkan. Baju-baju Mas Haidar dan Bapak juga sudah diantar sama supir kesini. Jadi sekarang Bapak harus mempersiapkan diri. Ini didalam map sudah ada pasport Bapak dan Mas Haidar. Semua data dan pembayaran juga sudah saya print out" ucap Mba Gita yang datang dengan peluh yang membasahi wajahnya.


Dalam waktu empat jam, Mba Gita sudah menghubungi semua yang terlibat dalam proses perujukan pasien. Memang Mba Gita adalah karyawan yang paling bisa diandalkan dalam segala situasi yang ada.


Keluarga Anindya pun sudah datang ke Rumah Sakit, rencananya Anindya akan ikut ke Rumah Sakit Malaysia.


Saat semua sibuk mengurus perujukan Haidar, Faqi menyelinap keluar menjauh dari keluarga.


Faqi langsung menelpon Mba Mentari untuk mengabarkan tentang kondisi Haidar.


Rupanya Mba Mentari sudah diinformasikan oleh Pak Isam. Tapi Mba Mentari memilih untuk mendampingi Nay terlebih dahulu.


🌺


Pelan-pelan Mba Mentari menjelaskan ke keluarga Nay tentang kondisi Haidar yang sebenarnya. Bahkan menunjukkan foto Haidar yang sedang koma (Mba Mentari mendapatkan foto tersebut dari Pak Isam). Nay yang paling histeris teriak mendengar kabar ini hingga ia pingsan kembali.


Mba Mentari langsung membawa Nay ke klinik terdekat karena khawatir dengan kondisi Nay. Dari klinik inilah diketahui kalo Nay kemungkinan ada sesuatu yang menyebabkan pingsan selain kabar yang membuat shock, tapi belum bisa dipastikan mengingat kondisi Nay yang belum sadar.


Setelah siuman, dokter menanyakan beberapa hal ke Nay. Sambil menangis, Nay menjawab pertanyaan dokter.


Dokter menyarankan Nay untuk melakukan testpack karena ada obat yang mau disuntikkan dan tidak boleh dimasukkan jika pasien dalam kondisi hamil.


Mba Mentari yang mendengar penjelasan dokter kalo Nay hamil pun kaget. Tapi buru-buru dia menguasai situasi.


Tentu saja hal ini membuat keluarga Pamannya shock mendengar apa yang disampaikan oleh Mba Mentari.


Memang dari kejadian Nay dengan Haidar itu sudah hampir sebulan yang lalu, kemungkinan pula kondisi Nay memasuki masa subur, sehingga kemungkinan bisa hamil pun besar.


Mba Mentari akhirnya berterus terang ke keluarga Pamannya Nay. Hal ini dilakukan untuk membela Nay.


"Saya mewakili Haidar, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Makanya kami putuskan untuk mempercepat pernikahan karena ada kekhwatiran Nay hamil. Rupanya suratan takdir berkata lain. Haidar sekarang terbaring koma. Tapi saya dan keluarga akan bertanggung jawab terhadap Nay dan kandungannya" jelas Mba Mentari mengademkan suasana.


Pihak keluarga Pamannya udah ga mau menerima wanita kotor seperti Nay. Menurut mereka, Pamannya ga mau nama baik keluarga tercoreng karena perbuatan Nay yang hamil diluar nikah.


Depresi Nay makin bertambah lagi, setelah Haidar kecelakaan dan kini dibuang dari "keluarga yang ada". Mba Mentari terus mencoba menenangkan Nay. Ia membawa Nay ke apartemen milik Haidar yang ditempati Nay. Ada salah satu karyawan Mba Mentari yang diminta untuk menjaga Nay dulu, sementara Mba Mentari akan menyusul ke bandara untuk melihat kondisi Haidar.


🍒


Persiapan pemberangkatan untuk merujuk Haidar pun sedang berlangsung. Keluarga Anindya, Pak Isam dan Faqi hanya bisa duduk memandang para tim medis yang sibuk operan catatan dari Rumah Sakit disini ke perawat dari Rumah Sakit di Malaysia


"Mentari... kamu ikut dulu sama Haidar dan Anin kesana, nanti Papi akan berangkat setelah urusan di kepolisian selesai. Papi ga jadi ikut karena banyak urusan perusahaan yang harus Papi handle" perintah Pak Isam.


"Tapi Pi.. passport dan baju kan belum dibawa" ujar Mba Mentari.


"Gita sudah siapkan semuanya, pokoknya tinggal kamu ikut berangkat. Faqi nanti kesananya bareng sama Papi" kata Pak Isam.


"Tapi Pi ..." jawab Mba Mentari ragu.


"Kamu kan bisa ngurus semuanya disana, siapa lagi yang bisa Papi harapkan. Lagipula ada Anin juga yang ikut kalian" pinta Pak Isam.


"Ya Pi" jawab Mba Mentari tanpa perlawanan.


"Faqi... kamu nanti bantu Gita urus asuransi mobilnya Haidar. Selama kamu masih belum kuliah, kamu akan bantu Papi mengurus kerjaan Haidar" tambah Pak Isam.


Faqi diam aja, ga mengangguk atau menggeleng. Udah ga tau juga harus bagaimana. Pikirannya udah melayang ke Nay. Mba Mentari tadi sempat membisikkan kondisi Nay ke Faqi.


Mba Mentari juga sudah share location apartemen milik Haidar dan meminta Faqi mengurus semua kebutuhan Nay.


Persiapan keberangkatan Haidar sudah selesai. Haidar masih dalam kondisi koma. Faqi menghampiri Haidar dan berbisik ke kakaknya.


"Mas... jangan khawatir, ada Faqi yang akan jaga Mba Nay. Faqi janji akan menjaga Mba Nay dari apapun juga" bisik Faqi.


Tetiba respon dari tubuh Haidar timbul. Air mata menetes dari kedua matanya. Sekilas Faqi tadi sempat mendengar informasi dari pihak Rumah Sakit disini kalo kondisi Haidar mengalami patah tulang dileher dan kakinya, ada pula pendarahan dibagian kepala yang membeku didalam kepala sehingga perlu disedot bekuan darahnya. Dan ada kemungkinan pasien mengalami amnesia (hilang ingatan). Operasi yang direncanakan pun semua mengandung resiko kematian, peluang hidup hanya sekitar empat puluh persen.


Sepanjang perjalanan pulang, Faqi berada satu mobil sama Papinya. Mobilnya dikendarai oleh salah satu bodyguard Pak Isam karena dia sudah merasa kantuk yang amat sangat.


Faqi tertidur di mobil dengan pulasnya. Pak Isam ga membangunkannya saat beliau turun di kantor polisi untuk mengurus laporan tentang kecelakaan serta mengurus jenazah Pak Tomo yang akan dipulangkan ke kampungnya di Probolinggo.


🏵️


Sudah seminggu Haidar dirawat dan sampai sekarang belum juga sadarkan diri. Haidar pun sudah menjalani operasi bedah tengkorak kepala untuk menyedot darah yang beku didekat otak.


Pak Isam dan Faqi hanya datang menjenguk sehari aja kesana karena banyak yang diurus. Mba Mentari dan Anindya ga pulang karena mau menjaga Haidar sampai siuman.


🌷


Nay memberanikan diri membeli testpack di Apotek yang ada dibawah apartemen. Dia masuk ke kamar mandi, harap-harap cemas ia nantikan hasilnya. Walaupun sudah melakukan hal tersebut di Klinik, Nay berharap diagnosa dokter tersebut salah.


Kini Nay terdiam diatas ranjang penuh dosanya sambil menatap dua garis merah di testpack yang dia beli sendiri.


Beberapa hari ini dia mengalami morning sickness dan badan terasa lemas sekali. Tangisan sudah tak terbendung, setiap mengingat kebodohannya menyerahkan tubuh berharganya ke Haidar, seorang lelaki yang bukan sah sebagai suaminya. Apalagi ditambah sekarang kondisi Haidar diantara hidup dan mati.


Jangankan kabar, Mba Mentari pun ga menghubunginya hingga detik ini. Memang Faqi sudah dua kali datang menyerahkan sejumlah uang ke Nay untuk kebutuhan sehari-hari. Faqi juga membelikan apa yang Nay butuhkan.


Jadi, setelah kejadian, Faqi memberanikan diri menghubungi Nay pakai HP nya Haidar yang sampai sekarang ada ditangannya. Dengan nomer itulah Faqi dan Nay berhubungan. Faqi ga mau masuk ke unit apartemen karena khawatir timbul fitnah.


Dalam kesendiriannya, Nay berbaring sambil menutup matanya. Mengingat kembali kenangan manisnya bersama Haidar. Sosok lelaki yang mampu memanah tepat di hatinya.


Memang singkat, tapi sangat berkesan kisah cinta keduanya.


"Mas Haidar ... mengenalmu sungguh bukan suatu kesengajaan. Kau adalah pejantan tampan yang pernah hadir didalam hidupku. Kebaikanmu, keramahanmu bahkan perhatianmu mampu buatku melemah setiap kali berhadapan. Senyummu mampu membuatku luluh, ditambah pancaran dari matamu yang menyejukkan. Keseharian dan kedekatan diantara kita sebagai atasan dan sekretaris, tak pelak membuatku lambat laun mulai mencintaimu. Witing tresno jalaran soko kulino... benar adanya kurasakan Mas. Intensitas pertemuan kita seakan ga memberi jarak lagi. Hingga hubungan kita berlanjut sudah terlalu jauh dan hubungan terlarang itu pun terjadi dalam status tanpa pernikahan. Ya ..kita melakukan kesalahan bersama. Rasa sedih dan bahagia menyatu saat kita tidur bersama. Tapi ... dalam kesadaran aku ketakutan, takut kalo hamil. Janji Mas mampu meyakinkanku untuk tetap tenang karena Mas akan bertanggungjawab terhadapku walau apapun terjadi. Mas ... Kini aku mengandung anakmu, buah cinta kita yang ga berdosa seperti kita” lirih Nay dalam batinnya sambil memandang foto wefie di HP nya saat berdua dengan Haidar.


Kalo ga ingat dosa, mungkin Nay sudah ingin menghujamkan pisau dapur yang ada tepat di jantungnya. Tapi dia masih bisa berpikir waras. Dosanya sudah banyak, akankah dia harus menambah dosa lagi dengan bunuh diri dan membunuh janinnya juga.


"Mas Haidarrrrr ......" teriak Nay sekuat tenaga tapi suaranya hilang.


🌺


Didalam kamarnya, Faqi melihat isi HP punya Haidar. Hanya ada satu nomer kontak didalamnya, hanya nomer milik Nay.


Wallpaper pun gambar keduanya. Dibuka galeri foto di HP tersebut. Cukup kaget juga melihat kebucinan Haidar. Tapi ada juga foto Haidar dan Nay sekasur. Sepertinya diambil sama Haidar secara diam-diam saat kejadian dan Nay tampak tertidur.


Ada juga foto Haidar dan Nay tengah berciuman. Tadinya mau dihapus sama Faqi, tapi niatnya dibatalkan, karena ini sebenarnya privasi Haidar.


Kebanyakan galeri foto dan video berisi kegiatan Nay. Sepertinya Nay selalu melaporkan kegiatannya ke Haidar setiap waktu.


"Ya Allah ... besar juga cinta kalian. Semoga takdir membawa kalian bersama" harap Faqi.