
Rama, pemuda yang baru kenal dunia dan merasakan keterbatasan dalam hidup. Memang ga sampe sengsara, tapi mengenal kata hemat adalah hal luar biasa dalam hidupnya.
Sejak lahir, deretan pakaian branded, mainan mahal, keperluan hidup yang jauh diatas kata standar, selalu melekat dalam dirinya.
Sempat menangis ketika makan roti dicelup ke susu untuk mengganjal perutnya. Seminggu dia melewatinya karena Sachi masuk Rumah Sakit, demam tinggi. Memang Haidar yang banyak mengurus administrasinya, tapi Rama harus ikut bertanggung jawab juga.
Haidar menelpon Rama karena mendengar dari Om Shakti kalo Rama keliatan lesu dan banyak diam.
"Kamu ga usah mikirin Sachi banget, tenang aja, ada Mas disini" ingat Haidar.
"Namanya seorang Ayah, pasti akan cemas kalo anaknya sakit" jawab Rama.
"Om Shakti bilang kamu banyak diam. Ada masalah?" tanya Haidar.
"Ga ... ga ada Mas" jawab Rama buru-buru.
"Jujur aja sama Mas, kali aja Mas bisa bantu" kata Haidar.
"Ga ada apa-apa kok Mas" lanjut Rama meyakinkan.
Sebenarnya, selain mikirin Sachi, Rama tengah bingung memikirkan keinginan Papinya yang ingin menjodohkan dia sama anaknya Om Shakti.
⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️
Seperti biasa, toko Om Shakti tutup tiap Jum'at. Rama diajak ngopi santai sama Om Shakti disebuah coffeshop.
"Setahun disini oke?" tanya Om Shakti.
"Alhamdulillah .. semua udah mulai bisa dijalani dengan baik" jawab Rama.
"Papi kamu udah bilang tentang perjodohan kamu dan Yella (anak Om Shakti)?" tanya Om Shakti.
"Sudah" jawab Rama simple.
"Terus pendapat kamu?" tanya Om Shakti.
"Saya sudah punya anak Om .. sekarang anak saya tinggal di rumah Papi. Apa bisa Yella terima hal itu?" ucap Rama blak-blakan.
"Anak??? kamu udah nikah? kok Isam ga pernah bilang tentang hal ini" Om Shakti kaget mendengar hal ini.
"Saya memang belum menikah kok Om .. hanya punya anak" jawab Rama makin santai.
"Maksud kamu anak itu lahir tanpa ada ikatan pernikahan?" tanya Om Shakti meyakinkan.
"Ya .. ini kan aib Om .. biarlah menjadi cerita kami saja. Saya ga bisa menceritakan bagaimana kehadiran anak ini dalam hidup saya" ujar Rama dengan cueknya.
Tentu saja hal ini membuat Pak Isam berang dan marah ke Rama. Ditambah Rama langsung minta berhenti kerja dari Om Shakti. Alasannya karena dia ga mau pekerjaan yang dia punya sekarang sebagai kedok untuk dia lebih kenal sama keluarga Om Shakti.
Pak Isam sudah menjelaskan ke Om Shakti tentang anak yang dimaksud sama Rama. Pak Isam mengatakan kalo itu anak temannya Rama dari hasil pemerkosaan. Rama kasian melihat anak itu seorang diri jadi diambil untuk dirawat.
Om Shakti memang tidak langsung percaya dengan penjelasan Pak Isam. Karena sepak terjang Rama selama masa sekolah sudah dia dengar (keponakan Om Shakti satu sekolah sama Rama saat SMP dan SMA). Keluar masuk urusan sama pihak berwajib, main taruhan di arena balap motor dan mobil bahkan ikut tertangkap di club malam karena narkoba adalah deretan kenakalan Rama yang sudah beliau ketahui. Jadi menurut Om Shakti, adalah sesuatu yang wajar kalo Rama terlibat pergaulan bebas dan punya anak diluar nikah.
"Rama ga separah itu, dia ga pernah keliatan punya pacar. Jadi ga mungkin dia punya anak diluar nikah" kata Pak Isam meyakinkan.
"Udahlah Sam .. anaknya sendiri ngaku kok kalo itu anaknya" jawab Om Shakti.
"Tapi itu bukan anaknya" lanjut Pak Isam.
"Berani test DNA?" tanya Om Shakti.
Pak Isam terdiam karena khawatir ada beberapa kesamaan gen mengingat Sachi adalah anak Haidar dan Rama adalah adiknya Haidar. Lagipula test ini malah akan memperjelas tentang asal usul Sachi yang sebenarnya.
"Kenapa diam Sam? takut?" ucap Om Shakti mengejek.
"Saya akan buktikan itu bukan anaknya Rama" kata Pak Isam mengakhiri pembicaraan.
➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️
Hidup Rama jadi ga tenang, setiap hari Pak Isam telepon. Sibuk dengan kemarahannya.
"Mau atur hidup anak-anak sampai kapan Pi?" tanya Rama.
"Kamu yang udah janji menukar semuanya sama Sachi" jawab Pak Isam emosi.
"Iya ... tapi bukan perjodohan Pi ... Rama hanya menukar mimpi, bukan masa depan Rama" tegas Rama.
"Kamu udah setuju dan menandatangani perjanjian secara sadar kan?" ujar Pak Isam.
"Jangan-jangan ada klausul kalo Rama bersedia diatur jodohnya sama Papi ya?" ucap Rama menebak.
"Coba kamu baca seluruh isi perjanjian itu" pinta Pak Isam.
Rama langsung mengambil copy surat perjanjian, dia memang ga pernah membaca secara menyeluruh, baginya poin yang menyangkut Sachi saja yang penting.
"Damn..... aaarrggghhhhh....." ucap Rama sambil melempar perjanjian tersebut.
Ternyata memang ada klausul yang mengatur tentang masa depan Rama. Disana jelas kalo Rama hanya boleh menikah dengan ijin dari Pak Isam, kalo dilanggar maka Sachi harus diserahkan ke panti asuhan dan pemilihan panti asuhan diserahkan ke Pak Isam.
"Papiiii.... teganya ngejebak anak sendiriii... bodoh .... bodoh .... kenapa bisa sebodoh ini, udah tau Papi licik ... kenapa ga baca dulu baru tandatangan" oceh Rama sambil ngacak-ngacak rambutnya yang mulai gondrong.
Setelah tidak bekerja, praktis Rama mulai membuka usaha sendiri, dia minta modal sama Haidar. Dikalangan PPI, ia terkenal sebagai pedagang palugada (apa lu mau gw ada), mulai dari voucher paket internet, makanan Indonesia (Rama kerjasama sama IRT yang masakan Indonesia nya enak dan otentik), jasa translate dan mengetik bahkan sampe jualan kosmetik dan alat kecantikan. Sebagian besar barang yang ia jual, didapatkan dari salah satu kenalannya yang baru membuka toko Indonesia dipinggiran kota, tapi belum banyak yang tau ada toko Indonesia disana.
Bisa dibilang Rama ini makelar barang. Semua dia lakukan demi Sachi dan menyambung hidupnya. Dia yakin ketika Allah mengujinya dengan kesulitan seperti ini akan ada hikmahnya buat dia kelak. Toh selama ini hidupnya bak dalam istana dongeng yang sekali kedip semua sudah tersedia. Dari lahir hingga memasuki usia sekarang, belum pernah ngerasain kelaparan, Alhamdulillah sekarang udah kenalan sama kata lapar malah bisa dibilang sudah berkawan akrab.
Semua kesibukannya dalam mencari uang berimbas pada nilai yang harus dicapai, bahkan ada dua mata kuliah dimana dia harus mengulang. Sebenarnya nilainya bagus saat ujian, tapi nilai tugas dan diskusi jelek karena sering telat masuk kelas.
Mulailah Rama tersadar, harus bisa mengatur waktu secara bijak. Mulailah ia membuat skala prioritas dulu, sebagai mahasiswa dengan indeks nilai paling tinggi dijurusan dan angkatannya pasti dia malu kalo nilainya melorot. Toh sekarang ada Mas Haidar yang membantunya membiayai Sachi.
🍒
Kondisi kesehatan Haidar sudah banyak menunjukkan perbaikan. Sudah bisa nge gym dan main basket seperti hobinya dulu. Untuk ingatannya sudah mulai banyak yang ia ingat, makanya ia bisa kembali aktif kerja di Hotel.
Banyak promo dan kerjasama yang dilakukannya untuk memajukan lagi hotel ini yang bisa dibilang jalan ditempat sejak setahun yang lalu.
Perkembangan pesat Haidar terbantu dengan kehadiran Sachi. Haidar makin lama curiga dengan kemiripan wajahnya dengan Sachi. Karena itulah Haidar punya motivasi bisa kembali mengingat masa lalu. Dia ingin mengenal siapa Sachi, karena bersamanya terasa bahagia dan tenang.
Jangan ditanya berapa banyak keributan yang terjadi selama menikah sama Anindya. Dari sekedar ribut adu mulut sampe beberapa kali barang-barang di rumah pecah karena dibanting sama Anindya, dari pisah ranjang hingga pisah rumah pun sudah dilalui. Mungkin kalo kedua belah pihak keluarga tidak mendamaikan, bisa saja sudah berakhir pernikahan mereka di meja hijau Pengadilan Agama.
🤍
Sachi sekarang udah hampir menginjak usia dua tahun, Ramaa membatasi video call hanya seminggu sekali, dia harus hemat kuota demi tugas kuliah. Lagipula ga ingin membuat Sachi jadi rewel kalo keseringan ditelpon. Sachi sudah bisa diajak ngobrol walaupun jawabannya terkadang ga nyambung.
Sachi tumbuh menjadi anak yang riang dan ga bisa liat kolam renang, pasti langsung pengen nyemplung aja, seperti pagi ini dia berhasil kabur dari pengasuhnya dan diam-diam menuju kolam renang di halaman belakang.
Suasana rumah sepi karena semua sedang kerja. Sachi mengambil ban renangnya yang ada didekat kolam renang lalu memasukkan ban tersebut kedalam kolam, dia mulai memasukkan kakinya kedalam kolam untuk mengambil ban.
Haidar pulang cepat dari kantor, ia pulang ke rumah Pak Isam karena mau cari buku saat SMA yaitu buku tahunan. Rencananya bulan depan dia akan ada reuni, ya sekedar mengingat aja kawan-kawan masa SMA nya.
Saat akan naik tangga, matanya tertuju ke Sachi yang tertawa dipinggir kolam. Langsung aja dia berlari ke arah kolam secepat yang dia bisa.
"Nay......"panggil Haidar, Sachi menengok kearahnya. Anak kecil itu langsung berdiri dan berlari kearah Haidar.
Sachi memegang tangan Haidar dan mengajak berenang.
"Papa....renang" ucap singkat Sachi dengan lafal masih cadelnya.
"Kamu kok renang sendiri, Mba mana?" tanya Haidar sambil mengusap kepala Sachi.
"Mandi" jawab Sachi singkat.
Pengasuh Sachi langsung berlari menghampiri Sachi. Dan langsung mendapat tatapan tajam dari Haidar.
"Maaf Mas Haidar, tadi Sachi main di ruang keluarga, saya tiba-tiba kebelet ke kamar mandi. Saya udah bilang sama Sachi buat tunggu disitu, jangan kemana-mana" ucap pengasuh Sachi dengan nada takut.
"Kenapa ga titip ke yang lain dulu, anak ini kan ga ngerti mana yang bahaya dan mana yang ga bahaya. Kalo dia tenggelam gimana?" kata Haidar dengan emosi.
"Maaf Mas, lain waktu saya titip Sachi biar ga sendiri" ucap pengasuh masih menunduk.
"Kalo kamu ga bisa jaga Sachi dengan benar .. saya akan ganti kamu sama yang lain" ucap Haidar marah.
Haidar meninggalkan mereka dan masuk ke kamar Rama. Semua berkasnya tersimpan dikamar Rama. Jadi saat dia akan pindah ke rumahnya yang sekarang, sempat ada barang miliknya yang tercecer dan sama pengasuhnya Sachi diletakkan di kamar Rama.
Sekarang kamar Haidar yang lama sudah disulap jadi kamar Sachi sekaligus tempat bermainannya. Lumayan banyak mainan Sachi karena Haidar dan beberapa saudara yang sayang sama Sachi selalu beliin mainan.
Haidar membuka laci meja belajar Rama, mencari dimana buku tahunannya berada. Akhirnya dia menemukan bukunya, diambil buku tersebut dan terdengar ada sesuatu benda yang jatuh. Dilihat kearah lantai, ada sebuah flashdisk warna pink bertulis sebuah nama disana.. Ainayya Fathiyyaturahma.
"Kayanya nama ini familier banget ya, tapi nama siapa? Kenapa tadi saya panggil Sachi pake panggilan Nay ya? siapa Nay? Ainayya.... Ainayya... Nay.. orang yang sama kah? kenapa ada flashdisk atas nama perempuan dilaci ini. Punya Rama atau punya saya ya?" ujar Haidar dalam hati, dia mencoba berfikir tentang nama ini.
Beberapa saat mencoba mengingat, malah kepalanya terasa sakit, diletakkan kembali flashdisk tersebut ke tempat semula.
❤️
Selepas sholat, Haidar mendekap Sachi yang tertidur bak seorang putri kecil. Kamar Sachi memang berkonsep seorang princess. Karena kepalanya pusing, Haidar tidur bersebelahan dengan Sachi sambil memeluknya.
Pak Isam membuka pintu kamar Sachi dan melihat bagaimana Haidar menyayangi anak tersebut. Pak Isam kembali menutup pintu kamar. Beliau segera menuju kamarnya.
Didalam kamar, Pak Isam memandang foto besar dalam bingkai putih bergaris emas. Foto keluarga lengkap, ya inilah satu-satunya foto keluarga lengkap, diambil saat usia kehamilan istrinya menginjak usia delapan bulan (Rama masih didalam kandungan).
Dua wanita tersayang dalam hidupnya kini sudah tiada, hanya tersisa dua anak laki-laki dalam keluarganya.
Memang sekarang beliau punya Anindya yang sudah seperti anaknya sendiri, tapi tetap aja Anindya bukanlah darah dagingnya.
Pak Isam ga bisa mengenyampingkan kalo Sachi lah wanita yang didalam tubuhnya ada darah keluarga Abrisam.
Pak Isam duduk disudut tempat tidurnya. Tangannya memegang album foto saat anak-anak masih kecil. Lembar demi lembar ditelusuri dengan seksama. Untunglah anak-anak dulu punya pengasuh yang selalu mendokumentasikan foto mereka saat kecil. Karena saat itu, Pak Isam ga punya waktu untuk bercengkrama dengan keluarga kecilnya, saat itu ia tengah membangun kerajaan bisnisnya.
Wajah anak-anak yang polos dan tertawa tanpa beban seharusnya bisa membuat dia ingin cepat kembali ke rumah. Tapi uang sudah membutakan perasaannya sebagai seorang Papi. Baginya kalo ia kaya, maka anak-anak pasti akan bahagia karena bisa mendapatkan apa yang mereka mau.
Pak Isam mengusap sebuah foto, pernikahan Mentari yang tidak ia setujui, beliau dapat foto ini dari orang-orang suruhannya. Teringat bagaimana beliau berupaya memisahkan kedua insan yang di mabuk cinta ini dengan cara-cara kotor.
Pernikahan Mentari dengan suami tercintanya haruslah berakhir sebelum mereka punya anak. Beliau membayar seorang wanita panggilan untuk menjebak suami Mentari kemudian menggiring Mentari untuk melihat perselingkuhan tersebut.
Kemudian melihat foto wisuda Haidar, ada raut muka ga bahagia terpancar disana. Kembali ia mengingat bagaimana Haidar selalu masuk sekolah yang sudah ia atur, Haidar ga bebas berteman dan memilih jurusan yang dia inginkan. Memang secara akademis, Haidar ga pandai, kemudian dengan uangnya, ia minta ke pihak sekolah untuk memberikan nilai yang bagus, tentunya sumbangan buat sekolah ia perbesar.
Masuk universitas di luar negeri pun atas katabelece seorang pejabat kedutaan disana. Itulah Pak Isam, selalu punya prinsip, ketika semua bisa ia beli dengan uang, maka akan ia selesaikan dengan uang.