
Jam empat sore, Izza masih santai di tempat tidur selepas mandi. Baru teringat belum membaca profil dari calon buyer Audah Hotel.
Izza terperanjat saat membuka profil calon buyer, ada keterangan tentang Candra dan Akmal beserta fotonya.
"Pantesan gayanya begitu .. ternyata Boss besar. Kok ga bilang terus terang dia siapa ya.. eh tapi kan dia ga kenal sama Izza yang menjadi wakil pihak Audah Hotel. Jadi ga enak nih, mana tadi ga mau ngenalin nama.. ampun deh.. Izza.. nanti ketemu pasti malu banget. Mudah-mudahan ga terkesan sombong ya.." kata Izza ngomong seorang diri.
Rama menelpon Izza, menanyakan kegiatannya apa saja. Saling memberikan semangat untuk bekerja.
💐
Makan malam berlangsung di restoran, Mas Akmal sudah menyiapkan meja di teras yang pemandangannya langsung kearah laut.
Lexa dan Boy tidak ikut makan malam karena Lexa kelelahan dan memilih makan di kamar. Boy sedang bermain sama Mba Flo dan anaknya.
.
Mba Nur dan Alex mengikuti langkah Izza menuju restoran tapi mereka mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Izza.
Alex membawakan barang yang Izza bawa untuk meeting dengan pihak buyer Audah Hotel.
Mas Akmal dan Candra hanya memperhatikan dari jauh, keduanya sudah tau kalo Izza adalah perwakilan dari Audah Hotel karena tadi sudah diinformasikan oleh resepsionis Resort.
Izza menanyakan ke pelayan apakah sudah ada booking tempat atas nama dirinya yang akan bertemu dengan Mas Akmal dan Candra Pelayan mengantarkan ke meja yang sudah ada Mas Akmal dan Candra disana.
Mereka saling tersenyum.
.
"Selamat malam.." sapa Izza dengan senyum manisnya.
Mas Akmal dan Candra langsung berdiri, kemudian menggeser kursi untuk Izza duduki.
"Terima kasih" jawab Izza.
Mas Akmal dan Candra kembali duduk dihadapan Izza.
"Selamat malam Bapak-bapak semua, perkenalkan nama saya Fayza, bisa dipanggil dengan nama Izza, perwakilan dari Audah Hotel" sapa Izza membangun komunikasi.
"Malam.. oh namanya Izza.. bagus namanya, pantas kemarin disembunyikan" jawab Candra becanda.
"Mohon maaf Pak Candra eh maaf Mas Candra, saya tidak tau jika orang yang akan saya temui adalah Bapak. Maaf atas kejadian diatas kapal tadi" ucap Izza ga enak hati.
"Santai aja Mba Izza .. panggil kami Mas saja ya.. saya Candra dan ini Mas Akmal" Candra memperkenalkan kembali memperkenalkan diri.
Mas Akmal mengangguk dan tersenyum kearah Izza, Izza pun membalas dengan senyuman.
"Bagaimana kalo panggil saya Izza saja, karena tampaknya saya masih junior diantara para senior" canda Izza.
Semua tertawa kecil.
"Biar akrab gitu ya.. boleh juga De Izza.." sahut Mas Akmal.
"Izza saja cukup Mas" jawab Izza.
"Mungkin kalo De Izza itu panggilan sayang dari someone special kali Mas.. jadi kita tidak boleh panggil seperti itu" kata Candra.
"Oh iya ya.. wanita semanis Izza ini pasti sudah ada yang punya ya" ingat Mas Akmal.
"Ini istrinya Pak Rama, pemilik Audah Hotel yang akan kita pelajari untuk dibeli" ucap Candra.
"Kok tau Can?" bisik Mas Akmal sangat pelan.
"Kan sudah diinformasikan oleh sekretarisnya Pak Rama" gumam Candra pelan.
Izza hanya memperhatikan kedua lelaki dihadapannya yang sedang berbisik.
"Udah.. udah.. perkenalan sampai disini dulu. Sekarang sebelum pembahasan tentang bisnis, kami ingin tau terlebih dahulu apa jabatan Anda di Abrisam Group yang menangani penjualan Audah Hotel? karena Anda merupakan representasi dari perusahaan, paling tidak kami bisa menilai sebuah perusahaan dari tampilan yang awal terlebih dahulu. Pasti tau kan nilainya tidak kecil penawaran yang masuk ke kami" kata Candra.
"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena secara organisasi, saya bukan merupakan bagian dari Abrisam Group, kedatangan saya mewakili suami saya, Bapak Rafasya atau yang lebih dikenal dengan nama Bapak Rama. Tujuan utamanya sebagai jembatan awal antara pihak buyer dengan pihak Audah Hotel. Untuk penawaran dan tinjauan bisnis Audah Hotel akan ada orang yang mumpuni dibidangnya yang akan menjelaskan ke Mas-mas semua setelah pertemuan dan pembicaraan awal ini" jelas Izza dengan sangat hati-hati.
"Pak Rama ini serius menjual ga ya? kok malah istrinya yang dikirim.. bukan para manager Hotel atau yang lebih paham tentang Audah Hotel. Baru pertama kali kejadian seperti ini" protes Mas Akmal.
Izza terdiam. Sedang mencari kata yang pas agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Sabar Mas.. saya sudah membaca profil perusahaan dan Pak Rama. Beliau masih muda ya.. sekitar dua puluh enam tahun kan ya?" tanya Candra.
"Benar Mas" jawab Izza.
"Hahhh?? dua puluh enam tahun sudah punya Hotel? anak sultan mana?" ujar Mas Akmal takjub.
"Abrisam Group.. perusahaan utamanya. Mas Akmal pasti pernah dengar. Yang kita lumayan sering kalah juga Mas. Mereka jagoan dipembangunan tempat wisata, villa, rumah peristirahatan dan hotel" papar Candra yang sudah mencari sedikit informasi tentang Rama.
"Abrisam Group bukannya dipegang sama Pak Haidar? kan pernah ketemu diacara pengusaha muda waktu di Bali. Setau saya anaknya yang bungsu masih kuliah saat Kakaknya menjadi pemimpin disana" kata Mas Akmal.
"Pak Haidar itu anak sulungnya Pak Abrisam, beliau sudah mendirikan bendera sendiri, jadi sudah tidak bergabung di Abrisam Group lagi. Suami saya, Pak Rama yang memegang penuh Abrisam Group sekarang setelah Pak Abrisam memutuskan rehat dari dunia bisnis" jelas Izza.
"Belum pernah dengar namanya Pak Rama, tapi untuk Audah Hotelnya sudah banyak dibicarakan orang, bahkan reviewnya bagus. Hotel bintang tiga yang digandrungi banyak orang yang akan bepergian pakai pesawat, hotel transit yang daya inapnya termasuk tinggi perputaran dan dapat penghargaan service excellent untuk bagian front officenya" papar Mas Akmal.
"Mas Akmal rupanya sudah lebih kenal sama keluarga Pak Rama nih .. oh ya Za, kenapa dijual? kan daya orang yang menginap disana masih bagus. Atau ada permasalahan pribadi sehingga perlu dijual, misalkan pembagian warisan dan sebagainya. Maaf ya Za, bukan masalah kepo, tapi hal ini perlu kami ketahui. Tidak perlu detail, garis besarnya saja" selidik Candra.
"Abrisam Group lebih kepada perusahaan konstruksi dibandingkan jasa. Jadi akan lebih fokus ke main business awal dibandingkan side businessnya. Untuk prospek bisnis, tinjauan dan sebagainya sudah ada didalam berkas yang saya berikan ke Mas Candra dan Mas Akmal" papar Izza dengan keyakinan.
"Oke.. kami akan mempelajari terlebih dahulu, mengingat harga penawarannya lumayan ya" kata Mas Akmal.
"Silahkan Mas.. memang akan ada pertemuan lanjutan setelah ini untuk tanya jawab" ujar Izza.
"Silahkan dimakan Za.. jika masih kurang, silahkan pesan lagi" tawar Candra.
"Tapi keren juga sih gayanya Pak Rama, beliau berhalangan hadir, dikirim orang yang spesial dalam hidupnya buat menemui kita disini" puji Mas Akmal.
Ketiganya berbincang ringan. Izza lebih banyak mendengarkan dan sesekali saja menjawab.
"Pasangan muda banget ini ya, hampir mirip sama Candra dulu" ledek Mas Akmal.
"Pak Rama itu kan pebisnis ya .. sama kaya kita lah, begitu lihat sesuatu yang prospeknya bagus pasti langsung diambil lah. Buktinya kita lihat sendiri bagaimana Izza menampilkan Audah Hotel ditahap awal. Bikin tertarik dong pastinya untuk meeting lanjutan dengan pihak Audah Hotel. Coba perhatikan tampilan Izza malam ini dari atas kepala hingga kaki, saya yakin ini dipersiapkan dengan baik. Entah koleksi lama atau baru beli. Pasti Pak Rama lulusan luar negeri ya?" lanjut Candra.
"Terima kasih pujiannya.. ya Pak Rama lulusan UK. Rupanya senior memang tidak bisa kita lawan ya, bisa melihat sesuatu dengan cermat sekali. Analisa Mas Candra benar, penampilan saya memang dipersiapkan dengan baik, suami saya sendiri yang menyortir pakaian serta aksesoris yang saya bawa" jawab Izza.
"Orang sibuk masih ngurusin printilan istrinya? ya ampun... kenapa di dunia ini banyak lelaki yang bucin sih dibandingkan wanita yang bucin" ucap Mas Akmal dengan mimik yang lucu.
"Memang Mas Akmal tidak bisa menangkap pesan terselubung dari penampilan Izza?" tanya Candra.
"Apa??? mau kasih tau barang branded terbaru? atau mau kasih tau beliau lebih kaya dari aset yang kita punya?" ujar Mas Akmal.
"Kan para manager juga bisa didandani dengan sesuatu yang branded juga" sahut Mas Akmal.
"Mas Akmal ini kaya ga tau wanita aja, bisa dibilang mereka itu negosiator keuangan yang baik. Mana pernah kita menang Mas kalo lagi nego masalah uang sama istri-istri kita?" canda Candra.
"Iya juga sih.. sungguh berat bebanmu Dek Candra.. sampe curhat ke istrinya Big Boss. Apa jangan-jangan sama aja nih.. Pak Rama mungkin jago nego dengan siapapun kecuali istrinya" ledek Mas Akmal.
Ketiganya tertawa lagi, cukup cair suasana. Candra dan Mas Akmal yang memang orangnya serius tapi kalo kambuh becandanya pasti rada gila dan tidak melihat situasi dihadapannya seperti apa.
"Secara karakteristik, pria lebih cenderung berperilaku kompetitif, tegas dan berorientasi pada keuntungan. Secara tradisional, wanita memiliki karakteristik lebih umum, seperti mempertimbangkan aspek hubungan jangka panjang ketika bernegosiasi dan peduli terhadap kesejahteraan orang banyak. Jika wanita diberikan pelatihan khusus tentang ilmu negosiasi, maka anggapan gender bahwa pria lebih baik itu bisa dipatahkan" papar Izza yang membuat Candra dan Mas Akmal seperti terlena oleh kata-katanya.
"Kamu lulusan jurusan apa ya? skill komunikasi bagus, pemilihan kata juga pas.. apa Pak Rama juga yang melatih?" tanya Candra penasaran.
"Saya anak komunikasi dan Alhamdulillah suami itu paling senang mengajak debat untuk kemajuan bersama. Sekarang saya hanya Ibu Rumah Tangga yang mengurus keponakan, tapi suami selalu ingin saya maju meskipun hanya berkutat diseputaran rumah dan sekolah keponakan saja" jawab Izza.
"Kamu nih ya Za.. kalo ketemu sama Ayah mertua kami, auto diminta ikut kerja sama perusahaan Ayah dan disekolahin lagi" kata Candra.
"Ga seistimewa itu kali Mas" jawab Izza merendah.
"Ya iyalah..kan yang istimewa mah martabak .. hehehe" sahut Mas Akmal.
"Senyum kamu itu mengandung baking soda Za, membuat lawan bicara ikut mengembangkan senyum juga kalo liat kamu senyum" canda Candra lagi.
"Weiii... inget itu istri ada di kamar dengan perut yang tambah gede" ujar Mas Akmal.
"Maaf ya Za.. kami ini sebenarnya jarang becanda seperti ini dengan wanita, tapi ga tau ya kenapa sama kamu mengalir aja, kaya udah kenal lama" pinta Candra.
"Selama hanya becanda ga masalah Mas.. yang jadi masalah ya kalo kita seriusin becandaan ini" ujar Izza.
"Kalah telak nih Candra.. biasanya paling jago berkata-kata dia. Tapi kalo didengar dengan seksama.. persis kamu banget Can cara bicaranya.. selow tapi pas sama pembahasan plus dengan paparan yang masih sopan" ungkap Mas Akmal.
"Kita becanda seperti ini suami cemburuan ga Za? secara itu dari tadi bodyguard kamu liatin kita terus" tanya Candra.
"Bukan bodyguard kok, teman kecil suami yang kemudian ikut bekerja saja. Kebetulan masih pengantin baru, Sabtu kemarin baru menikah. Ya akhirnya ikut saya kesini biar mereka bisa menikmati masa honeymoon yang jauh dari hingar bingar kota Jakarta. Kalo suami kayanya ga pernah cemburu sama saya, yang ada kebalikannya.. hehehe" jelas Izza.
"Wah.. harus dikasih treatment khusus nih kalo yang sedang honeymoon, nanti deh saya infokan kebagian house keepingnya" ujar Mas Akmal.
"Kenapa sih para wanita gampang cemburu? insecure karena jabatan suami kah?" tanya Candra.
"Ini jadi sesi diskusi ranah pribadi ya dibandingkan bisnis.. hehehe" jawab Izza.
"Sekarang mau bahas bisnis sama kamu juga kayanya ga terlalu paham.. jadi ya kita habiskan waktu buat berbincang santai aja Za, siapa tau ada bisnis yang bisa kita garap bersama" kata Mas Akmal.
"Ya asal para istrinya tidak cemburu aja sama kebersamaan kita. Lagipula saya free besok, jadi bisa tidur lagi kalo ngantuk. Nah Mas berdua ini yang besok harus kerja, nanti ngobrol sampai malam bisa ngantuk" ucap Izza.
"Kita ini biasa tidur sebentar terus on kerja lagi. Apalagi Candra .. workaholic dia" timpal Mas Akmal.
"Jangan sok iye Mas.. Mba Flo itu cemburuannya ngelebihin Acik" ujar Candra.
"Acik itu nama istrinya Mas Candra?" tanya Izza yang merasa belum pernah mendengar ada nama Acik untuk seorang wanita.
"Acik itu panggilan sayang, dari belum nikah. Sampai nikah pun lanjut panggilnya itu. Sampai semua keponakan akhirnya manggil Mama Cik" jelas Candra.
"Mereka ini dispenser couple Za.. dari jaman pacaran sampe nikah, ya gantian aja panas dinginnya.. hehehe" ledek Mas Akmal.
"Pasti mesra ya kalo ada panggilan sayang, kalo saya standar banget" kata Izza.
"Nama panggilan sayang itu bisa membuat kita jadi gimana gitu, menambah kemesraan juga. Kalo menurut penerawangan indera kesepuluh saya .. Pak Rama itu kaku dan cenderung ga romantis sedangkan kamu kebalikannya" tebak Candra.
"Justru terbalik.. saya yang ga romantis. Tapi ya masing-masing orang kan punya cara mengekspresikan keromantisannya ya. Bagi saya.. jalan-jalan kesini, tanpa ditelponin terus, meskipun harus tetap ada laporan kegiatan ya .. terus saya diminta santai, menikmati liburan tanpa suami, rehat dari rutinitas harian.. romantis ga tuh" papar Izza.
"Widihhh .. keren.. dikasih me time sama suami tercinta, apalagi kalo bekalnya unlimited ya.. makin deh healingnya makjoss" ucap Candra.
"Hahaha.. bisa aja nih Mas Candra.. paling paham deh suara hati seorang istri" kata Izza.
Mereka melanjutkan ngobrol bertiga, Mba Nur sudah masuk ke kamar karena lelah. Alex masih menjaga Izza.
Izza pamit sebentar untuk berbicara sama Alex.
"Bang Alex masuk dulu gapapa, kami masih berbincang disini, lagipula ini kan tempat umum, banyak orang disini, jadi ga menimbulkan fitnah. Toh restoran biasanya paling lambat jam sebelas juga sudah tutup. Kasian Mba Nur sendirian" kata Izza.
"Gapapa Mba.. dia paham kok kalo saya ada tugas jaga Mba" jawab Alex.
"Saya ga enak kalo pamit duluan, secara ini kan calon pembeli Audah Hotel yang cukup potensial" tambah Izza.
"Ya gapapa .. sampe jam berapa juga saya tetap tungguin" ujar Alex.
"Pasti dari tadi video call ya sama Kak Rama? tumben suami saya ga berisik ke HP.. pasti udah ada live report dari Bang Alex" duga Izza.
"Kaya ga tau lagunya Boss aja, sok anteng padahal mah pasti blingsatan tau istrinya ketawa ketiwi sama lelaki lain. Mana malam ini tidur sendiri, Sachi tidur sama Mas Haidar" lapor Alex.
Izza kembali ngobrol sama Mas Akmal dan Candra. Padahal keduanya udah di misscall berkali-kali sama Mba Flo dan Lexa, malah HP nya disilent dan kirim chat masih meeting.
.
"Maaf ya Za.. kalo ga keberatan ya silahkan dijawab, ngga pun ga masalah sih. Tapi dari gerak-gerik kamu itu sepertinya kamu hampir mirip keadaan ekonominya sama kita sebelum jadi menantu Ayah mertua" kepo Mas Akmal.
"Masa sih.." kata Izza ga percaya.
"Saya ini anak broken home Za.. kalo bukan Ayah Sanjaya angkat saya jadi anak asuh, ga mungkin kaya sekarang" jawab Mas Akmal.
"Apalagi saya Za, kerja serabutan sampai jadi tukang bubur keliling, pernah juga ngalamin diusir dari kontrakan. Takdir berkata lain setelah kenal Ayah Sanjaya ya jadi seperti sekarang ini" sahut Candra.
"Bisa sama ya.. pernah tau dong kisah Cinderella.. ya saya si Upik abu yang berubah menjadi ratu karena dijadikan istri seorang putera raja" kata Izza yang merasa ajaib bisa berbicara sepribadi ini dengan orang yang baru dikenal.
"Yang penting bukan bagaimana masa lalu kita, tapi bagaimana kita menjadi lebih baik lagi di masa datang" ujar Candra.
"Alunggggg..." panggil Lexa sambil menggandeng Boy yang masih on main ga mau tidur.
Candra menghampiri anak dan istrinya.
"Lama banget sih ngobrolnya.. ini anaknya ga mau tidur kalo Papanya belum masuk kamar. Acik kan ngantuk" keluh Lexa.
"Guys.. duluan ya.. besok deh kita sambung lagi" pamit Candra.
"Sebentar lagi pasti Mas Akmal dipanggil nih.. hehehe... satu... dua..." duga Izza.
"Papa ... anaknya nyariin nih" panggil Mba Flo.
"Bener banget dugaan kamu Za.. pamit dulu ya" ucap Mas Akmal.