
Supir taksi online meminta ijin untuk menepi ke kamar mandi dulu disebuah pom bensin. Perutnya terasa sakit. Rama dan Izza juga ikut keluar dari mobil. Rencananya Rama akan membeli minuman dingin disebuah minimarket.
Rama mengeluarkan m amplop berwarna coklat dari tas dan diserahkan ke Izza. Tampak tebal amplop tersebut.
"Ini apa Kak?" tanya Izza.
"Buat kamu .. buka aja. Mau sesuatu ga? saya mau beli minuman" jawab Rama sambil menuju minimarket.
"Air mineral aja" kata Izza.
Tidak sampai lima menit kemudian, Rama sudah kembali mendekati mobil. Dia berdiri disampingnya Izza yang sedang berkaca-kaca matanya melihat lembaran foto-foto keluarganya yang tadi ada didalam amplop.
Rama menyerahkan air mineral dingin ke Izza. Izza masih tampak serius melihat foto keluarganya.
"Saya rasa ini sangat kamu perlukan, jadi saya harus memastikan amplop ini sampai dengan selamat ke orang yang berhak. Ini keluarga kamu kan?" kata Rama datar.
"Kakak bisa ngasih di Stasiun tadi pagi, ga sampai harus ikut ke Kudus untuk kasih amplop ini" ucap Izza pelan.
"Jangan nangis .. nanti disangka orang-orang, kita ini pasangan yang lagi berantem" ucap Rama.
"Ini Bapak dan Ibu" Izza menyodorkan selembar foto ke Rama.
Rama memperhatikan foto tersebut.
"Kamu mirip sama Ibu" kata Rama sambil mengembalikan foto tersebut ke Izza.
"Makasih ya Kak.. kayanya saya harus banyak mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya" ucap Izza.
"Oh ya lupa .. ini alamat keluarga Bapak kamu di Kudus, semoga belum pindah ya" kata Rama sambil menyerahkan sebuah amplop surat yang ada alamat rumah di Kudus.
"Amplop itu sudah kosong, ga ada isinya saat saya temukan. Saya sudah cek di Map, alamat rumah ini masih ada. Nanti saya kirim hasil screenshot mapnya" tambah Rama.
"Makasih Kak .. Kak Rama dapat semua ini dari mana?" jawab Izza.
"Ga usah taulah .. yang penting kan sekarang ada ditangan kamu. But .. ga ada makan siang yang gratis Za..." sahut Rama.
"Maksudnya? Kak Rama minta ditraktir" tanya Izza dengan polosnya.
"Ga usah berlagak polos, cukup Mang Ujang aja yang kaya gitu. Saya kira waktu untuk kamu menjawab lamaran saya akan habis besok. Makanya kenapa saya sampe bela-belain datang kesini ditengah kesibukan saya yang padat, itu karena selain menemani dan memastikan kamu sampai ditujuan, saya juga ingin berkenalan sama pihak keluarga, saya akan langsung mengutarakan maksud untuk melamar kamu. Anggaplah ini sebagai nembung awal, bulan depan saya bisa bawa rombongan keluarga kesini kalo kamu mau" jelas Rama.
"Kak .. lupain ajalah semuanya. Masa depan Kakak lebih penting daripada memperistri saya. Kakak dan saya itu banyak perbedaan. Terlalu curam tebing yang terbentang didepan kita. Kakak udah pikir panjang belum? apa kata orang nanti, seorang CEO Abrisam Group yang menguasai banyak lini bisnis, dari keluarga terpandang, sosok muda bertalenta .. punya istri dari Panti Asuhan, udah ga punya keluarga dan yang lebih parahnya adalah adik angkat dari musuhnya Kakak. Saya ga mau dibilang aji mumpung, saya ga mau disebut matre dan satu lagi .. saya ga mau menghabiskan waktu dengan orang yang ga saya cintai" ungkap Izza.
"Keputusan saya sudah bulat Za. Apa yang saya ucapkan, itulah yang akan terjadi" jawab Rama.
"Tapi ga kaya gini juga Kak.. terlalu terburu-buru. Kalaupun saya bersedia, pasti juga minta waktu untuk saling mengenal. Jangan malah ketika kita sudah menikah, semua jadi berantakan meninggalkan luka. Maaf ya Kak .. apa ga kasian sama Pak Isam? rumah tangga anak-anaknya berakhir di meja hijau pengadilan" lanjut Izza.
"Jangan pernah menghina keluarga saya sebagai keluarga yang langganan ke Pengadilan Agama ya. Jaga mulut kamu baik-baik" ingat Rama ga senang atas omongannya Izza.
Karena supir taksi online sudah selesai dari kamar mandi, perjalanan dilanjutkan kembali.
.
Kini mereka sudah sampai didepan rumah yang bentuknya masih belum banyak berubah dari Map yang Rama liat.
Berjalan perlahan, keduanya mendekati pintu rumah. Izza mengetuk pelan sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum... " sapa Izza.
Tidak ada yang keluar dari dalam rumah.
Dicoba kembali mengetuk pintu rumah, ga lama kemudian ada seorang Nenek kisaran usia diatas lima puluh tahunan sudah berdiri membuka pintu.
"Assalamualaikum.." sapa Izza sambil mencium tangan Nenek tersebut.
"Waalaikumsalam.. " jawab Sang Nenek.
Izza memperkenalkan siapa dirinya pelan-pelan, dia juga menunjukkan foto-foto keluarganya untuk meyakinkan identitasnya. Tampak Izza berpelukan saling menangis dengan saudara-saudaranya. Kemudian datang satu persatu keluarga menuju ruang tamu. Semua turut larut dalam haru.
Rama hanya bersalaman dengan semuanya, kemudian menuju keluar rumah, menunggu duduk dibawah pohon kecapi.
"Ya Allah Izza .. lama kami semua nyari Bapak kamu" ucap saudara lainnya.
Mereka melanjutkan bercerita hingga terlupa kalo ada Rama disana. Rama terlihat santai mengerjakan pekerjaannya.
"Itu yang duduk dibawah pohon siapa?" tanya Pakleknya Izza.
"Sebentar saya panggilkan" jawab Izza.
Izza menghampiri Rama, berbicara sebentar kemudian keduanya sudah kembali ke ruang tamu.
Secara gentleman, Rama memperkenalkan dirinya termasuk mengutamakan maksud hatinya.
"Begini Nak Rama, kami semua baru bertemu dengan Izza. Belum banyak cerita yang dibagikan. Jadi kami perlu berbincang dulu" tengah Pakleknya Izza.
"Baik .. saya mengerti Paklek" jawab Rama dengan sopan.
"Izza ini anak Kakak kami, sebenarnya baru sekali kami semua disini bertemu sama Ibunya Izza dan anak-anaknya termasuk Izza. Kakak kami itu punya istri sebelum menikah sama Ibu kamu Za. Punya anak satu, perempuan. Jadi setelah menikah, mereka pindah ke Jakarta, karena kondisi ekonomi yang ga memungkinkan, istrinya balik kesini bersama anaknya dan dia balik ke Jakarta. Ternyata di Jakarta malah nikah lagi dan istrinya disini bunuh diri" cerita Pakleknya Izza.
Izza kaget dengan kenyataan yang baru didengarnya. Rama tidak kaget karena sudah mendapatkan cerita versi Mba Gita.
"Setelah Kakak ipar kami meninggal, Bapak kamu ga pernah pulang dan terakhir balik yang sama kamu itu. Terus hingga detik ini ga kembali. Pernah dengar cerita tentang kebakaran, tapi ga sangka kamu masih hidup" papar Pakleknya Izza.
Izza makin terasa sedih.
.
Ternyata yang tinggal di rumah tersebut adalah anak bungsu (adik bungsu Bapaknya Izza), yang lain sudah tiada. Anak mantu pun merantau ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Jadi hanya bertiga yang menempati rumah tersebut, yaitu Paklek, Bulek dan anak lelakinya.
Ada sepupunya Izza yang usianya tampak sepantaran sama Rama, dari awal memang agak songong gayanya. Sok seperti orang kaya padahal pengangguran belaka. Makan dan hidup bergantung sama orang tua.
"Nek koe tenanan tresno, ojo nggawe eluh banyu motone, ojo nyakiti atine, ojo nggawe atine loro (Jika kamu benar-benar cinta padanya, jangan hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, hatinya dengan luka)" dengan gaya menasehati, adik sepupunya Izza bicara dengan nada yang kurang enak didengar.
"Kerja apa di Jakarta?" tanya adik sepupunya Izza sok gaya.
"Saya karyawan Mas" jawab Rama merendah.
"Umur berapa?" tanya adik sepupunya Izza lagi.
"Menjelang dua puluh enam" jawab Rama.
"Tinggal masih sama orang tua atau udah punya rumah sendiri? kalo nikah nanti Izza mau dibawa tinggal dimana? emang gajinya cukup untuk berumah tangga" cecar adik sepupunya Izza.
"Tinggal sama orang tua saya, di rumah ada juga Kakak dan anaknya juga tinggal disana. Alhamdulillah masih cukup kamarnya" ucap Rama.
"Waduh .. tinggal sama mertua? repot .. bisa makan hati setiap hari" kata adik sepupunya Izza.
"Kalau Mas usianya berapa? bekerja sebagai apa dan tinggal dimana sekarang?" tanya Rama balik.
"Baru dua puluh tiga tahun, masih cari pekerjaan yang layak buat saya" jawab adik sepupunya Izza dengan enteng.
"Pekerjaan yang layak seperti apa Mas?" ujar Rama ingin tau.
"Saya kan lulusan STM mesin, ya maunya kerja di pabrik besar, bukan di bengkel pinggir jalan gitu. Bedalah sama montir-montir yang belepotan oli" kata adik sepupunya Izza.
"Sudah ada pengalaman kerja dimana Mas?" tanya Rama basa basi.
"Inilah perusahaan, semua nanyanya pengalaman. Bagaimana orang yang seperti saya ini bisa punya pengalaman kalau tidak dikasih kesempatan kerja" ujarnya sotoy.
"Gitu ya .. kenapa ga buka bengkel sendiri aja. Dengan konsep modern, sesuai keinginan Mas. Cukup ramai daerah dekat menara, lokasi strategis dan peluang lebih besar karena berada di jalan yang dilalui banyak kendaraan" papar Rama.
"Semua itu butuh modal... kamu tuh kalo ngomong ga dipikir panjang ya, modal dari mana? Bapak Ibu ga mau gadaikan rumah ini buat modal. Mau jadi pengusaha aja, biar jadi wong sugih (orang kaya), makanya jangan jadi karyawan terus, cuma duduk dibalik meja, otak ga berkembang. Cita-cita nih kaya saya, mau jadi Boss, makanya mau cari kerja yang minimal jadi Manager" ucap adik sepupunya Izza makin error.
"Wah ide bagus itu, nanti saya mau melamar jadi CEO atau mau jadi vice president sebuah Hotel saja. Siapa tau gaji besar, fasilitas mobil mewah, bisa gratis tidur di Hotel" papar Rama.
"Nah .. kalo ada lowongan seperti itu, saya dikasih info ya, biar bisa ngelamar bareng" kata adik sepupunya Izza.
.
Izza pamit mau mandi, rasanya sudah tidak nyaman karena seharian banyak di jalan.
Karena sudah hampir isya, Rama juga mohon pamit dulu, dia mau mencari Hotel untuk bermalam.
"Maaf Paklek .. saya pamit dulu, biar Izza disini melanjutkan obrolan keluarga" kata Rama.
"Maaf ya Nak Rama, rumah kami kecil jadinya ndak bisa ada tamu yang menginap, ndak ada kamar lagi" ucap Pakleknya Izza.
.
"HEIII SIAPA YANG MAU NGINTIP!!!!!" teriak Izza yang baru aja masuk kamar mandi.
Kamar mandi terletak bersebelahan dengan dapur, memang tidak ada langit-langit, langsung genteng. Jadi bisa ada yang intip dari meja dapur.
Pakleknya Izza dan Rama segera kebelakang. Mereka mendapati adik sepupunya Izza terjatuh karena kaget Izza teriak.
Izza juga sudah keluar kamar mandi, ga jadi mandi karena dia khawatir ada yang intip lagi kalo mandi.
Rama tanpa basa basi menarik lengannya Izza dan membawa Izza ke ruang depan. Keluarga yang lain mengikuti.
"Maafkan anaknya Paklek ya, dia kadang suka iseng" ucap Pakleknya Izza.
"Iseng? ini tindakan kriminal dan melanggar asusila. Saya akan bawa Izza menginap di tempat lain. Besok kami balik lagi kesini untuk membicarakan lebih lanjut tentang hubungan saya dan Izza" putus Rama yang memang gampang panasan.
"Kak .. udah jangan bikin ribut, ga enak di wilayah orang" harap Izza.
"Kamu itu hampir jadi korban pelecehan, memang kamu mau tubuh kamu dilihat sama lelaki yang bukan mahram? sekarang keluarin tas kamu, kita cari Hotel" oceh Rama.
"Ah itu alasan kalian aja. Orang kota itu keluar masuk Hotel sama pacar adalah hal yang lumrah. Eh Izza .. jangan sok cantik ya, saya tadi lagi mau benerin genteng yang bocor" bela adik sepupunya Izza.
Rama mendekati lelaki tersebut.
"Saya bisa menjebloskan kamu ke penjara malam ini juga dengan hanya mengangkat telepon. Jaga mulut kamu baik-baik ya, ga semua orang kota seperti apa yang kamu gambarkan. Saya mengajak Izza menginap di Hotel bukan berarti saya mau berbuat macam-macam sama dia, justru saya menjaga harkat martabat dia sebagai wanita. Kalo saya tau penerimaannya seperti ini, saya akan jadi orang pertama yang melarang dia mencari keluarganya" ucap Rama didepan wajah sepupunya Izza yang tampak nyalinya sudah ciut akibat tatapan tajam Rama.
"Kak.. udah Kak .. udah ya" pinta Izza sambil menarik tangannya Rama.
"Paklek.. bukannya saya ga sopan, sepertinya cukup lewat telepon saja nanti saya bicara lebih lanjut, daripada saya lepas kendali meninju muka anaknya Paklek" kata Rama yang mulai mengeluarkan amarahnya.
💐
Haidar sedang menelpon kekasih hatinya. Awalnya saling menanyakan kegiatan harian, selanjutnya Haidar malah curhat tentang keresahan hatinya. Bagaimana dia ga setuju kalo Rama menikah hanya karena Sachi yang suka sama Izza, bukan karena Rama cinta sama Izza.
"Ya kadang dibilang jodoh itu jorok ya kaya gini. Rama akan menikahi wanita yang merupakan adik angkat dari orang yang dia jebloskan ke penjara. Rama akan menikahi wanita yang Sachi sayangi hanya demi melihat Sachi bahagia. Tapi kita jangan lupa Mas .. Rama itu lelaki normal. Dia pasti bisa aja kan jatuh hati beneran sama Izza. Saya pernah liat kok mereka pas lagi jalan berdua, walaupun mungkin sekarang berada di kubu yang berbeda, tapi chemistry keduanya tuh dapet banget" kata sang wanita.
"Ketemu dimana sama mereka berdua? Rama tau tentang hubungan kita?" cecar Haidar.
"Kalo ketemu sama mereka... pokoknya adalah disuatu tempat. Nah kalo Rama tau atau tidak hubungan kita ya mungkin bisa tanya langsung ke Rama. Dia itu lebih cerdas dari yang kita duga" ucap sang wanita.
"Dia itu tertutup, susah ngorek cerita dari dia. Jadinya kapan nih bisa ketemu sama keluarga? sebentar lagi kan keluarga Mas mau kumpul di rumah" kata Haidar.
"As soon as possible" jawab kekasih hatinya Haidar.
🏢
Rama menyewa dua kamar yang berdampingan untuk dirinya dan Izza. Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk rehat.
"Ya Allah.. kenapa begitu ya keluarga Paklek .. ya udahlah.. memang harus hidup bersama Ibu Panti Asuhan dibandingkan dengan saudara sendiri" keluh Izza.
.
"Keluarga berantakan ternyata .. ga ada yang beres. Bapaknya juga nikah lagi, Kakaknya penjahat semua, wanita seperti itukah yang harus kunikahi demi Sachi?" ucap Rama.