HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 104, Healing



Jam sembilan pagi, Rama sudah pamitan sama Abah Ikin sekelurga, dia akan pulang ke Jakarta, tapi sebelum pulang dia mau mampir sejenak ke rumah Ceu Lilis. Menemui Ibunya Ceu Lilis dan keluarga lainnya. Mereka berbincang sambil menikmati sarapan yang sederhana. Setelah makan, Rama dan Ceu Lilis duduk ditepi sawah dekat rumah. Rama ngajak ngobrol ringan aja sambil "nurunin nasi", ga enak kan abis makan langsung nyetir lagi.


"Lis .. pindah ke Jakarta aja, Aa' punya rumah yang bisa kamu tempatin. Rumah Mba Gita kan diserahkan ke Aa', menurut Mba Gita rumah itu dibeli pake uang perusahaan Aa'.. sekarang belum disewakan, masih kosong, entah nantinya gimana. Kalo kamu udah di Jakarta kan bisa kerja sambilan atau mau fokus sekolah juga boleh" tawar Rama.


"Loh .. Izza emangnya dimana sekarang? kok rumah Kakaknya ga ditempatin, balik ke Panti Asuhan lagi atau gimana?" tanya Ceu Lilis.


"Panti Asuhan tempat dia tinggal sudah dialihfungsikan, jadi dia udah ga tinggal disana lagi. Sementara waktu tinggal di rumah orang tua Aa', makanya Aa' yang ngalah ga tinggal disana. Aa' tinggal di Audah Hotel sejak dia di rumah" jelas Rama.


"Atuh ga ada hubungan keluarga tinggal disana, kaya wanita ga bener aja. Hati-hati A'.. dia cuma mau incar hartanya Aa', berlagak sedih dan merana, padahal mah dia lagi dapat karma tuh akibat perbuatan keluarganya" ingat Ceu Lilis.


"Dia calon istri Aa' .. jangan menghina dia baik didepan maupun dibelakang Aa', kalo kamu lakukan sama aja menghina Aa', paham ya? Mengenai dia ada di rumah Aa' ya karena panjang ceritanya. Toh Papi udah lama kenal sama dia. Jangan pernah beranggapan dia seperti wanita murahan, karena tipe saya ga murahan. Kalo saya pilih dia sebagai istri, artinya dia punya sesuatu yang saya butuhkan untuk melengkapi segala kekurangan saya. Kan kamu tau sendiri, apa yang ga bisa saya beli dengan harta kekayaan yang keluarga saya punya, tapi ada sesuatu yang ga bisa saya beli dan itu ada didirinya" bela Rama dengan agak sombong.


"Bukan maksudnya begitu .. tapi Aa' serius mau nikah sama dia? emang Aa' cinta? kalo saran Lilis mah jangan deh A', banyak wanita lain yang lebih dari dia. Aa' ga lupa kan kalo dia adik yang membakar rumah keluarga Lilis sampe harus kehilangan orang tua dan pisah sama Mba Nay. Emang Aa' ga sayang sama Mba Nay sampai tega menikah sama keluarga pembunuh keluarga Lilis? Lilis masih susah buat maafin dia dan keluarganya. Kebayang ga .. Aa' yang Lilis hormati sebagai Kakak malah menikah sama wanita kaya dia" ucap Ceu Lilis sewot.


"Mba Nay udah ga ada Lis .. semua janji Aa' terhadapnya sudah tertunaikan. Aa' udah membesarkan Sachi, merawat makamnya dan menemukan kamu. Bahkan hingga detik ini Aa' menanggung hidup kamu dan keluarga. Lagipula Sachi hanya cocok sama dia. Selama ini Sachi ga pernah bisa dekat dengan siapapun. Ke pengasuhnya aja ga seperti sikap Sachi terhadap Izza. Sama kamu aja Sachi ga mau kan? lagipula Papi juga kayanya udah sreg dan udah anggap dia kaya anaknya sendiri. Papi amat sangat berduka karena dua wanita spesial dalam hidupnya telah tiada. Begitu kenal sama Izza, Papi banyak berubah. Mungkin kamu ga tau, kalo Izza yang ngajarin Papi sholat dan ngaji lagi" cerita Rama.


"Kan Aa' diluar negeri saat itu, darimana Aa' tau?" tanya Ceu Lilis.


"Papi yang cerita, jadi saat Papi ke panti asuhan untuk mengantarkan sumbangan, Papi melihat sosok Izza yang berbeda. Setelah kenal, Papi minta ajarin sholat dan ngaji ke Izza. Papi malu kalo harus panggil ustadz, masa udah tua lupa bacaan sholat dan ga bisa ngaji. Setelah agak lumayan bisa, barulah Papi panggil ustadz. Semalam Papi juga baru cerita, saat Aa' lagi merenung terus ga sengaja kepencet nomer HP Papi, akhirnya ngobrol sama Papi" ungkap Rama.


"Kita kan ga tau apa dia punya niat tersembunyi atau apa gitu, Aa' harus waspada. Buktinya Mba Gita yang keliatannya baik banget ternyata penjahat. Pokoknya mah Lilis ga ikhlas kalo Aa' jadi sama dia. Lagian juga kenapa Aa' harus ngalah terus sih? Udah mah Aa' banyak berkorban untuk Mba Nay dan Sachi, masa sekarang Aa' korbankan lagi masa depan. Aa' itu Boss besar, orang kaya dan pintar, akan banyak wanita bertekuk lutut dihadapan Aa'. Coba kalo nanti rekan bisnis Aa' tau siapa keluarganya Izza, apa ga malu? seorang yang terpandang dan terhormat seperti Aa' Rama punya istri yang keluarganya terlibat kriminal" gamblang Ceu Lilis bicara.


"Kamu atau siapapun ga berhak melarang saya menikah dengan dia" ucap Rama.


"Bukan ngelarang A' .. tapi kasih pendapat yang kiranya buat Aa' sedikit mikir. Apa sih kelebihan dia? cakep banget ya ngga, pinter banget ya belum tentu, toh sekolah di swasta. Cuma sekedar dia bisa urus Sachi jadinya Aa' jadikan dia istri. Sachi hanya perlu dibiasakan aja" ucap Ceu Lilis.


"Dibiasakan gimana maksudnya?" tanya Rama ga paham.


"Ya kalo Aa' udah ada istri kan nanti bisa ketemu setiap hari sama Sachi, lama-lama juga Sachi bisa terima asal bisa ambil hatinya. Lilis udah ngobrol sama Mas Haidar, kita banyak bicarakan tentang Sachi kedepannya bagaimana. Tentang rencana Mas Haidar mengakui Sachi lewat pengadilan dan rencana lainnya. Dari situ kan udah jelas kalo Mas Haidar yang akan ambil alih Sachi, artinya Aa' bisa mulai hidup yang baru. Masa Aa' udah pernah mengorbankan cita-cita, masih mau berkorban cinta sih. Aa' juga berhak bahagia. Udah cukup Aa' ngasih kebahagiaan ke banyak orang" kata Ceu Lilis.


"Jadi kapan Aa' bilang ke Ibu buat bawa kamu ke Jakarta?" ujar Rama untuk mengalihkan pembicaraan.


"Adik-adik sama Ibu gimana A'? kasian ah kalo Lilis tinggalin" jawab Ceu Lilis.


"Katanya mau kelarin kejar paket terus kuliah .. di Jakarta aja, banyak pilihan, saya juga bisa ngawasin. Kalo disini kan jauh" ucap Rama.


"Kayanya Lilis ga mau kuliah deh A', mau ikut pelatihan salon aja, selain menunjang penampilan, atuh bisa nambah penghasilan" ujar Ceu Lilis.


"Saya sebenarnya khawatir sama Bapak tiri kamu Lis. Dari banyak cerita kamu, kok ya makin hari makin ga beres" kata Rama.


"Lilis kan udah ga tidur di rumah lagi, kalo malam tidurnya di rumah orang tua Mang Ujang" ungkap Ceu Lilis.


"Kok ga bilang?" tanya Rama yang baru tau.


"Ambunya Mang Ujang ngeliat Lilis lagi digodain Bapak tiri pas Ibu lagi ke pasar. Jadinya langsung bilang buat tinggal disana aja. Lagian kan adik-adik jadi lega tidurnya. Sekalian jagain orang tua Mang Ujang yang udah mulai sakit-sakitan" jawab Ceu Lilis berterus terang.


"Kurang ajar tuh orang..." amarah Rama muncul.


"Sabar atuh A' .. Lilis ga mau Ibu tau, kasian sama Ibu. Kayanya Ibu udah cinta banget sama Bapak. Lilis ga mau jadi penyebab mereka berpisah. Kebahagiaan Ibu itu penting buat Lilis" ucap Ceu Lilis meredam amarahnya Rama.


"Ga bisa dibiarkan Lis .. manusia kaya gitu harus dikasih pelajaran" kata Rama.


"Jangan A' .. Bapak itu kepala preman di sini. Ga tau kenapa Ibu bisa mau sama Bapak. Orang kalo jatuh cinta begitu kali A', ga bisa dengerin nasehat siapa pun. Kan keluarga juga ga setuju sama pernikahan mereka. Nikah juga nikah siri" papar Ceu Lilis.


"Makin aja Aa' akan bawa kamu ke Jakarta. Aa' ga bisa biarin kamu dalam kondisi kaya gini. Aa' udah janji sama Mba Nay buat jaga kamu kalo suatu hari ketemu" ujar Rama.


"Tapi A'.. apa kata orang kalo Lilis dibawa ke Jakarta. Kita kan ga ada hubungan apa-apa. Apa memang tipenya Aa' ngumpulin cewek-cewek yang sedang bermasalah?" ucap Ceu Lilis.


"Aa' pulang dulu ... besok keluarga dari Surabaya mau datang. Ayo .. balik ke rumah, Aa' mau pamitan sama Ibu" kata Rama sambil bangkit dari duduknya.


Ceu Lilis mengikuti dibelakangnya Rama.


"A' ... atuh Lilis ngomong seperti ini karena Lilis sayang sama Aa'... coba pikirkan baik-baik tentang menikah sama Izza" ucap Ceu Lilis.


Rama menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Ceu Lilis.


"Mohon do'anya aja.. siapapun jodoh Aa' .. akan Allah pertemukan juga " jawab Rama pelan.


.


Menyetel musik agak kencang menjadi pengusir kesepian Rama didalam mobil seorang diri. HP nya sudah mulai diaktifkan, banyak chat yang masuk, notifikasi dari email dan media sosialnya pun ramai terdengar.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, nanti dia akan sholat Jum'at di Mesjid yang dilalui saja. Sebelumnya dia mampir kesebuah pusat oleh-oleh. Karena besok keluarganya datang, jadi dia akan membawakan beberapa jajanan khas Tasikmalaya yang tidak ditemui di Surabaya.


🌺


Izza bersama tiga asisten rumah tangganya Pak Isam sudah berjibaku di dapur dari pagi hari. Kebetulan Jum'at ini Izza libur kuliah, diganti Sabtu sore jadwalnya karena dosen sedang ada keperluan pribadi yang mendesak.


Sachi sejak pulang sekolah juga sudah ikut merecoki dapur. Izza memang belum biasa masak dalam jumlah yang besar, jadi dia serahkan kepada yang lebih berpengalaman. Tugas Izza hanya mengatur dan membantu sedikit-sedikit.


Izza sedang membuat puding dalam cup serta risol kampung, menurut Pak Isam, keluarganya suka sama risol kampung yang isinya bihun dan wortel tanpa tepung roti.


Jadi besok siang akan dijamu dengan sayur asem, ikan gabus asin, sambal, lalapan, tempe dan tahu goreng, rempeyek udang dan ikan bandeng goreng. Sedangkan cemilan sore hari ada puding, gorengan (risol, bakwan jagung dan tahu isi) dan pisang coklat. Untuk makan malam akan disajikan capcay seafood, ayam bakar madu, udang saus padang, cumi goreng tepung. Memang menunya ga terlalu variatif karena menurut Pak Isam, keluarganya ga neko-neko mengenai makanan, yang penting jumlahnya banyak. Lagipula biasanya kalo ketempatan akan memanggil catering untuk menyediakan makanan.


Pak Isam menyewa pemanas masakan, piring, sendok dan garpu seperti dihajatan karena jumlah yang ada di rumah tidak mencukupi. Hal ini wajar, karena nyonya rumah sudah lama tiada, barang yang ada jumlahnya sangat standar walaupun berkelas kualitasnya karena keluaran merek terkenal. Mba Mentari pun bukan tipe wanita yang suka mengoleksi barang-barang rumah tangga, jadilah para pria yang ada di rumah ga paham. Asisten rumah tangga juga ga pernah berinisiatif memberikan ide karena selalu pakai katering.


Sebenarnya Pak Isam sudah mau mengajak Izza untuk membeli peralatan baru, atas saran Izzalah akhirnya diputuskan untuk menyewa saja. Selain waktunya mepet, belum ada tempat yang dipersiapkan untuk meletakkan barang-barang tersebut jika sudah tidak terpakai.


Tumpukan air mineral gelas juga sudah disiapkan, showcase di dapur bersih sudah penuh oleh deretan susu UHT, juice kemasan dan teh dalam botol. Ada juga sebuah brand ice cream disewa harian freezernya dengan cukup membeli produk senilai satu juta rupiah. Buah-buahan pun sudah dibeli bersamaan dengan bahan makanan.


Tampak Pak Isam dan Sachi sedang duduk didepan Izza yang masih sibuk sama adonan risolnya.


"Beli sebanyak ini kok cuma lima juta ya, biasanya pesan catering itu sekali makan bisa sepuluh juta loh" adu Pak Isam heran.


"Oh gitu .. irit banget berarti.. hehehe.. ini semua untuk hidangan seharian cukup ya?" tanya Pak Isam.


"Cukup Pak, makan besar dua kali dan snack sore. Kalo kurang nanti bisa manfaatkan bahan yang ada, pokoknya beres ..." kata Izza.


"Good .... Beginilah kalo ga ada nyonya rumah, cari yang praktis walaupun bikin dompet menipis karena harus pesan catering atau makan di restoran" canda Pak Isam.


"Bisa aja nih Bapak .. dompet Bapak menipis bukan karena ga ada uang, tapi isinya kartu semua" sahut Izza.


"Begitulah kira-kira" jawab Pak Isam sambil tertawa kecil.


"Sachi ga bobo siang? sudah jam satu lewat loh" tanya Izza.


"Ga mau .. kan mau temenin aunty Izza bikin makanan" jawab Sachi.


"Bobo dulu ya sama Mba Nur" pinta Izza.


"Ga mau pokoknya mau sama aunty Izza" ngotot Sachi.


"Sachi tidur dulu, nanti sore Opa ajak ke Mall buat nonton bioskop, udah lama kan ga ke bioskop?" tawar Pak Isam.


"Mau .. mau ... mau" jawab Sachi antusias.


"Nur ... Nur..." panggil Pak Isam.


Mba Nur langsung menghampiri Pak Isam.


"Ya Pak" jawab Mba Nur.


"Sachi tolong diajak tidur dulu, nanti semua saya ajak nonton bareng. Anggap sebagai reward sudah bisa irit buat belanja menjamu tamu. Lagipula kita ga pernah pergi bareng kan?" ucap Pak Isam.


"Benar Pak? wah saya harus kasih tau yang lain dulu" sahut Mba Nur sumringah.


"Iya .. besok kan kalian semua pasti cape deh ngurusin tamu, jadi refreshing dulu biar besok semangat" kata Pak Isam.


"Mba Nur ajak Sachi aja ke kamar, nanti saya yang kasih tau yang lainnya" pinta Izza.


Mba Nur membawa Sachi ke kamar. Setelah merapihkan risol yang sudah dibuat kedalam tempat dan dimasukkan ke chiller makanan, Izza menuju ke dapur kotor untuk memberitahukan ajakan Pak Isam.


Pak Isam menuju kamarnya untuk rehat. Izza memberitahukan kepada semua asisten rumah tangga untuk bersiap pada sore hari karena akan diajak nonton sama Pak Isam. Antusiasme para asisten rumah tangga langsung tampak, mereka bersorak kegirangan. Belum pernah dalam sejarah kerja disini diajak jalan-jalan. Mereka hanya mendapatkan bonus dan dipersilahkan untuk jalan-jalan asal bergilir liburnya.


💐


Sepanjang perjalanan, Rama berbincang via telepon dengan beberapa rekan bisnisnya. Farida juga sempat menelpon untuk memberitahukan jika semua berkas-berkas yang perlu di cek ada di rumah Pak Isam. Mau ga mau Rama akan ke rumah Pak Isam dulu, padahal dia udah punya rencana akan langsung ke Audah Hotel dan keesokan harinya baru ke rumah Papinya.


Rama menghubungi Izza karena menurutnya Sachi pasti ada disekitar Izza. Beberapa kali panggil baru sama Izza diangkat.


"Assalamualaikum" sapa Rama dengan nada datar.


"Waalaikumsalam" jawab Izza.


Izza sengaja ga menyinggung "hilangnya" Rama karena tipenya Rama ga mau diinterogasi.


"Sachi bangun atau lagi tidur?" tanya Rama yang tau biasanya Sachi tidur siang.


"Tidur, baru aja naik.. dari tadi ga mau tidur, setelah Pak Isam janjiin mau diajak nonton ke bioskop langsung deh mau tidur" papar Izza.


"Mau nonton? siapa aja yang ikut?" tanya Rama.


"Semua, kecuali dua security yang standby jaga rumah" jawab Izza.


"Alex sama Mang Ujang tolong diajak, biar bisa jagain" kata Rama.


"Iya .. tadi Pak Isam yang bilang ke mereka" jawab Izza.


"Saya nanti ke rumah dulu ambil berkas yang dititip sama Farida, besok deh baru datang lagi" ujar Rama.


"Kak... Sachi kangen sama Kakak.. pulanglah buat jenguk dia. Atau nyusul ke Mall bisa? saya bisa pulang ke Panti Asuhan kalo memang Kakak ga nyaman ada saya. Masih ada Ibu Panti disana" kata Izza dengan nada memohon ke Rama.


"Iya ... udah beli tiket nonton? tungguin aja, sekitar jam empat atau jam lima saya sampai di rumah, minta Mang Ujang tungguin saya kalo semua berangkat duluan. Udah cape banget nyetir sendiri" keluh Rama.


"Pasti ga tidur cukup ya? hati-hati Kak bawa kendaraan, kalo ngantuk jangan dipaksakan, yang penting selamat sampai tujuan" saran Izza.


"Semalam baru tidur jam dua malam, terus jam empat udah bangun, bablas deh sampai sekarang ga tidur" jelas Rama.


"Mau dibuatkan air jahe lagi kaya dulu?" tawar Izza.


"Ga usah, kangen sama minuman dingin" jawab Rama.


"Tumben ga ketemu minuman dingin" ledek Izza.


"Saya di Pesantren milik Abah Ikin di Tasikmalaya, kamu belum kenal kayanya. Ya deket sama rumah Mang Ujang, kalo dari villa Papi ya lumayan jaraknya. Disana mana ada minuman dingin, mau keluar Pesantren rasanya malas" papar Rama.


"Alhamdulillah ya healing ke tempat seperti itu" ucap Izza.


"Za ... kamu terpaksa ga menerima lamaran saya?" tanya Rama.


"Kenapa Kak? ragu buat melangkah bersama? merasa keputusan untuk melamar saya itu salah?" tanya Izza balik.


Terdengar hembusan nafas yang berat dari Rama.