HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 196, Love don't cost a thing



Saat Rama dan Izza sampai di Pesantren, keluarga Pak Sandy sudah datang. Ikut serta pula Mas Barry, Ani dan keluarga Kakaknya Mas Barry. Mereka tampak duduk didepan aula. Biasanya digunakan untuk santri makan bersama.


Mobil Rama dipinjam oleh Abah Ikin dan Mang Ujang untuk menuju Rumah Sakit. Mereka mau kesana guna menjenguk Ceu Lilis yang sudah melahirkan. Mereka juga membawakan tas yang sudah disiapkan Ceu Lilis tapi tadi tidak sempat dibawa.


Keluarga yang disana juga membawakan nasi timbelan untuk yang jaga disana.


Mang Ujang membawa keranjang belanja dari rotan yang full berisi makanan hingga termos air panas.


"Mau piknik apa mau ke Rumah Sakit Mang?" ledek Rama yang tersenyum melihat bawaannya Mang Ujang yang banyak.


"Namanya juga orang kampung Mas Boss, segala apa juga dibawa. Alasannya makanan di Rumah Sakit itu mahal dan ga enak" jawab Mang Ujang.


"Bawa termos buat apa? kamarnya ada dispenser kok" ucap Rama.


"Mamang mah disuruh bawa doang Mas Boss.. ga tau nanti dipakai apa ngga" lanjut Mang Ujang.


"Ga bawa tikar sama bantal sekalian?" tanya Rama.


"Eh iya ya.. lupa.. kalo kasur yang di mobil boleh ga Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Pake aja, nanti kalo mau pulang kan spreinya diganti" jawab Rama.


"Jalan dulu ya Nak Rama" pamit Abah Ikin.


"Iya Bah.. salam dulu buat semua" kata Rama.


"Kita berbincangnya besok siang saja ya" bisik Abah Ikin.


"Ya.. kelihatannya juga keluarga Pak Sandy masih lelah kalo malam ini" ujar Rama.


Mobil keluar dari agar Pesantren.


.


Izza langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Bahkan tidak bersalaman dengan Pak Sandy dan keluarganya.


Rama sebenarnya tidak suka melihat Izza seperti itu, tapi karena dia paham situasinya tidak enak untuk Izza, jadi dia memaklumi. Ditambah kondisi hamil muda pula, dimana hormonnya terganggu sehingga kestabilan emosi pun naik turun.


Rama yang akhirnya menemani keluarga Pak Sandy. Sudah ada kudapan dan minuman terhidang. Rupanya Abah Ikin sudah meminta kepada pihak dapur Pesantren untuk menjamu tamunya Rama.


Yang sekarang ada di Aula hanya Rama, Pak Sandy, Mas Barry dan Ani. Yang lain sedang beristirahat.


.


"Jauh ya Pak jalannya menuju kesini" basa basi Rama.


"Lumayanlah.. baru kali ini datang ke daerah Tasikmalaya. Ternyata Pesantren itu tidak sekaku yang Bapak bayangkan. Rasanya adem dan tenang disini ya Ram. Kamu ketemu aja tempat seperti ini. Bapak ga menyangka, seorang yang sangat mapan di Ibukota, mainnya masih ke Pesantren daerah yang belum ternama" jawab Pak Sandy.


"Kan tidak ada aturan orang kota dan seperti saya tidak boleh kesini Pak.. hehehe.. Abah Ikin sudah seperti orang tua saya sendiri, saya lumayan banyak menghabiskan masa galau dan mencari jati diri disini, sampai melangsungkan pernikahan pun disini juga. Jadi tempat ini bisa disebut rumah kedua. Balik kesini artinya kembali ke rumah juga. Tempat saya kembali membersihkan jiwa saya yang rasanya penuh sama kesibukan duniawi. Itulah kenapa saya minta Bapak datang kesini juga, mungkin belum tentu kita dapat solusi tentang apa yang akan kita perbincangkan, tapi paling tidak ... ada yang bisa kita ambil pelajaran untuk diri sendiri. Belajar legowo di tempat dan orang yang tepat" papar Rama.


"Iya Ram.. orang-orang seperti kita ini memang keliatannya saja bahagia. Orang luar tidak ada yang tau apa yang sedang kita hadapi" jawab Pak Sandy.


"Bapak sama Mas Barry, mau rehat dulu atau tanggung mau masuk waktu Maghrib?" tanya Rama.


"Maghriban dulu saja.. sekarang juga sedang rehat kok, dari tadi duduk santai, menikmati pemandangan dan merasakan atmosfer yang menentang hati. Oh ya kamu sudah lama kenal sama Candra?" tanya Mas Barry.


"Belum lama kenal Mas, meskipun kenal juga tidak terlalu akrab. Sekedar rekan bisnis. Sudah dua kali saya ke Jaya Resort untuk berlibur dan bertemu beliau disana" kata Rama.


"Kamu itu secara pembawaan mirip sama dia, bijak, santai dan punya step yang jelas. Melihat kamu sekarang itu seperti melihat Candra muda tapi versi upgrade.. ya kan Pah?" puji Mas Barry.


"Iya.. cara bicaranya juga mirip, seperti anak kembar. Hanya memang lebih macho Rama. Candra sejak sibuk jadi pimpinan perusahaan, jadi ga rutin berolahraga, mulai gemuk dia" nilai Pak Sandy.


Rama hanya tersenyum mendengar pujian dari kedua orang yang ada dihadapannya.


Ani mohon diri untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan disekitar pesantren.


Pak Sandy juga pamit mau ke kamar mandi sekalian nanti di kamar mau meluruskan pinggang setelah menempuh perjalanan darat yang cukup lama.


"Tapi ga seganteng Mas Candra muka saya Mas.. hahaha. Sekarang saja masih ganteng, apalagi jaman masih mudanya, pasti jadi idola kaum wanita" canda Rama.


"Nah itu.. Candra itu paket lengkap. Wajar dia ada diposisi sekarang. Banyak tempaan hidup yang dia hadapi. Dan semua itu ga ringan. Buah kesabaran, kerja keras dan do'a yang ga pernah putus" ingat Mas Barry.


"Ini kenapa kita jadi Bapak-bapak ghibahin orang ya?" sahut Rama.


"Ngiri aja sama dia.. hidupnya perfect banget. Punya keluarga yang selalu mendukung. Istri dan anak-anak yang membuat dia selalu tersenyum meskipun dunia sedang tidak ramah padanya. Keluarga mertua yang menerima dia apa adanya. Karier sukses, disukai banyak orang, kayanya apa yang dia kerjakan selalu mendapatkan hasil yang selalu baik. Beda jauh sama Mas .. banyak gagalnya" ucap Mas Barry sambil memandang kearah langit sore.


"Senja mungkin selalu sama Mas.. tapi kita saja yang memandangnya dengan perspektif yang berbeda. Rumput tetangga memang tampak terlihat lebih hijau daripada rumput di rumah, tapi kan kita tidak tau apakah rumput tetangga itu rumput sintetis atau memang perawatannya lebih ekstra dari yang kita punya. Tidak ada manusia sempurna Mas. Mungkin dimata orang lain, sosok Mas Candra tampak perfect. Realnya kan pasti ada yang tidak, hanya Mas Candra pandai menutupi saja" jawab Rama.


"Istri saya dulu pacarnya Candra. Sejak kecil mereka kenal karena Keluarga Candra mengontrak rumah keluarga istri saya" kata Mas Barry datar.


"Istri Mas sepertinya masih sulit melupakan sosok Candra. First love kan ya.. susah dilupakan pastinya. Mas berusaha berubah, bahkan mencoba menjadi sosok seperti Candra, tapi tetap aja ga bisa mendapatkan cintanya secara utuh. Rasanya ingin menyerah, tapi Papa selalu melarang. Kasian juga kalo pisah sama Mas, dia memang keluarga lumayan berada di daerahnya, tapi Ibunya sangat gila harta, bisa-bisa Ani habis disiksa lahir batin kalo pisah sama Mas" lanjut Mas Barry.


Rama yang terkenal selalu klop urusan perjodohan orang, dibuat bingung oleh cerita Mas Barry. Rama tidak terbiasa mendengarkan curhatan tentang pasangan suami istri.


"Kamu sama Izza pasti saling cinta ya? meskipun kalian belum diberikan seorang anak, tapi keliatan bahagia dan enjoy menjalani kehidupan rumah tangga. Dari matanya Izza, Mas bisa melihat ketulusan cinta buat kamu Ram" kata Mas Barry.


"Semua juga ada prosesnya Mas. Saya dan dia tidak tiba-tiba saling jatuh cinta, justru munculnya setelah menikahi dia secara agama dulu. Dari sana kami makin sering ngobrol dan akhirnya jatuh cinta. Kalo terlihat bahagia ya syukur Alhamdulillah. Tapi balik lagi, tidak ada rumah tangga yang baik-baik aja. Setahun ini ujiannya sangat luar biasa. Menguras emosi, kesabaran dan ga jarang air mata pun hadir didalamnya. Izza adalah pilihan saya Mas.. jadi saya akan berkomitmen terhadap apa yang sudah saya pilih. Meskipun awalnya seperti sebuah pernikahan yang dipaksakan, saya tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya. Bukan karena khawatir dia akan seorang diri lagi diluar sana, lebih kepada saya ga bisa hidup tanpa dia. Izza itu penyeimbang dunia saya Mas. Disaat lelah kerja .. dia ada untuk mengurus saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Izza pula yang berhasil membuat saya bisa dekat dengan keluarga. Jadi banyak hal yang diselesaikan oleh Izza dalam cerita hidup saya" jawab Rama panjang lebar.


"Apa harus Mas melepaskan Ani untuk merelakan dia bahagia meski bukan sama Mas?" tanya Mas Barry.


"Maaf Mas.. saya kira bukan kapasitas saya untuk menjawab. Bahkan memberikan pendapat pun rasanya kurang elok. Pertama, saya belum mengenal Mas Barry dan Mba Ani seperti apa. Yang kedua, ini urusan dalam negeri keluarga. Mungkin Mas bisa berbincang dengan orang tua kedua belah pihak, lebih kenal juga karakter Mas dan Mba Ani seperti apa. Apa Mas pernah bertanya ke Mba Ani.. apa sudah bahagia?" ujar Rama.


"Perlu Ram?" tanya Mas Barry.


"Saya berkali-kali tanya ke Izza... sudahkah dia bahagia? Alhamdulillah selama ini selalu berhasil menghangatkan hubungan kami. Meskipun kami ini punya pemikiran masing-masing, tapi jika ditanya sudahkah bahagia, rasanya kita akan tambah cinta. Coba aja Mas.. semoga berhasil" saran Rama.


"Sudah mau adzan Maghrib.. kita siap-siap sholat dulu" ajak Mas Barry.


.


Selepas makan malam, Izza dan Ani tampak sedang berbincang di taman dekat kamar. Rama hanya tadi mengantarkan jaket untuk Izza kenakan agar tidak dingin.


Kemudian Rama ikut berkumpul dengan para lelaki. Abah Ikin dan Mang Ujang baru saja pulang dari Rumah Sakit.


"Alhamdulillah Lilis anaknya cewe, berat juga tuh .. sekitar tiga kiloan. Kulitnya bersih kaya keluarga Abah Ikin. Mukanya plek ketiplek sama Lilis" buka Mang Ujang.


"Alhamdulillah.. selamat ya Abah ... dapat cucu baru lagi" ucap Rama.


"Alhamdulillah.." jawab Abah Ikin.


.


"Kenapa ga mau test DNA sama Papa Sandy?" tanya Ani penasaran.


"Karena saya ga perlu tau kebenarannya seperti apa. Toh sejak tau juga saya bilang tidak butuh pembuktian bahkan pengakuan dari beliau. Saya hanya tidak mau malah timbul polemik kedepannya dengan anak-anak sahnya beliau" jawab Izza simple.


"Mungkin karena kamu udah kaya kali ya Za.. jadi rasanya harta Papa Sandy ga kamu butuhkan lagi, atau malah jumlahnya tidak seberapa dibandingkan harta kekayaan suami kamu" kata Ani rada nyinyir.


"Mba Ani ngajak berbincang atau mau cari keributan ya? saya mau damai-damai aja loh, ga mau ada permasalahan dengan keluarga besar beliau. Saya setuju dengan dengar pendapat dari Abah Ikin karena ingin beliau paham kenapa saya bersikap seperti ini. Mungkin pengetahuan agama saya ga seberapa, tapi paling tidak saya paham konsepnya. Jangan takut bagiannya Mas Barry akan berkurang karena kehadiran saya" papar Izza yang memang tipenya gampang tersinggung jika ada omongan yang ga nyaman dihati.


"Mba ga cari ribut kok, cuma sekedar membuka mata kamu. Masih bagus loh Papa Sandy cari kamu bahkan mau mengakui sebagai anak, bahkan ingin memberikan hartanya buat kamu. Ga usah terlalu sombong lah, diatas langit masih ada langit" sahut Ani.


"Kayanya arah pembicaraan kita ga jelas deh Mba ... maaf... apa masih ada yang Mba mau sampaikan ke saya?" tanya Izza memotong arah pembicaraan yang sudah tidak nyaman lagi.


"Oke.. kita tukar topik.. kamu udah nikah berapa lama?" tanya Ani balik.


"Setahun" jawab Izza.


"Sama ya nasib kita.. belum punya anak. Eh tapi Mba udah pernah ada sih. Ya intinya sekarang ini tidak ada anak aja. Sudah berobat kemana Za? ya siapa tau kita bisa saling sharing pengalaman program kehamilan" tutur Ani.


"Standar aja.. cuma ke dokter untuk konsultasi dan sekali ikut urut pas lagi menginap di Jaya Resort. Mba Ani tau kan ya Jaya Resort? karena pernah dengar Mas Candra kenal sama Mba" kata Izza.


"Kenal.. kenal banget malah. Dia mantan pacar Mba sebelum kami menikah dengan pasangan kami masing-masing" jawab Ani dengan entengnya.


"Ohhhh" hanya ini yang bisa Izza ucapkan.


"Kalo Lexa ga nguber-nguber Mas Candra, kayanya sekarang pasti Mas Candra sudah menikah sama Mba. Ditambah mertuanya kan kaya raya, hutang budilah Mas Candra sudah dikasih biaya kuliah gratis di Australia dan diberikan jabatan sebagai pimpinan perusahaan. Siapa yang ga silau coba? udah dapat anaknya, eh dapat hartanya pula. Uang itu bisa mengalahkan cinta" ungkap Ani dengan sinisnya.


"Kayanya Mba Lexa yang saya kenal ga seperti itu orangnya. Malah cenderung pendiam kok, bukan tipe wanita penggoda. Ya sudahlah Mba.. itu namanya jodoh. Pacaran sama siapa, terus menikah dengan siapa. Yang penting kan Mas Candra dan Mba Ani sudah sama-sama bahagia dengan pasangan masing-masing. Yang sudah berlalu ya ga perlu diingat-ingat Mba, cuma bikin kita emosi dan sakit hati" ujar Izza mencoba bersikap santai.


"Cinta pertama susah dilupakan pastinya. Mungkin Mas Candra sudah bahagia, tapi Mba belum. Pernikahan ini kan paksaan dari orang tua, yang bahagia ya orang tua" ujar Ani.


"Sekarang Mba juga harus bisa bahagia dong. Keliatannya Mas Barry juga sayang sama Mba. Orang kan bisa keliatan mana yang tulus dan mana yang modus. For your information ya Mba.. saya dan Kak Rama juga bukan sepasang kekasih saat memutuskan untuk menikah. Kami menikah bisa jadi karena Kak Rama dipaksa sama Papi dan Kakaknya. Saat itu saya lebih kenal dengan Papi dan Kakaknya, Panti Asuhan tempat saya bernaung dialihfungsikan, jadilah kami para penghuni Panti Asuhan ditempatkan dibeberapa lokasi. Saya diminta sama Papi mertua untuk tinggal di rumah beliau. Karena tidak ada ikatan keluarga, makanya diminta ada ikatan keluarga.. ya dengan menikah. Kata Papi, biar saya ada yang jaga. Berat juga menjalankan sebuah pernikahan tanpa kita mengenal siapa pasangan bahkan tidak ada cinta. Tapi seiring berjalannya waktu, saya dan suami setiap hari ketemu, banyak diskusi bahkan saling memberikan perhatian, lama-lama cinta itu hadir. Makin hari makin besar dan mendalam. Dulu rasanya ingin mengumpat mendapatkan jodoh seperti Kak Rama, tapi sekarang saya amat sangat bersyukur, Kak Rama adalah sosok yang tepat buat saya" kenang Izza.


"Kamu sempat tinggal di Panti Asuhan?" tanya Ani kaget ga percaya.


"Ya.. hanya sebentar sih, kemudian saya diangkat adik oleh seorang wanita single. Tapi beliau terlibat masalah hukum, jadi saya kembali lagi ke Panti Asuhan. Ga lama kemudian dialihfungsikan, bingung ga punya tempat bernaung.. jangankan tempat tinggal, pekerjaan pun ga punya. Keluarga Kak Rama lah yang memberikan saya segalanya. Saya yang yatim piatu dan sebatang kara karena saudara pun tidak ada, diberikan cinta kasih, rasa sayang dan perhatian, tempat tinggal bahkan harta oleh keluarga Kak Rama. Beruntung bukan?" pamer Izza.


Sebenarnya Izza tidak mau bicara tinggi seperti tadi, hal ini dia lakukan agar Ani paham, bahwa hidup harus terus disyukuri, bukan disesali sepanjang masa. Boleh jadi apa yang kita punya sekarang ini adalah hal yang diidam-idamkan oleh orang lain.


"De.. udah malam.. rehat dulu ya, dari sampai belum rehat" ajak Rama dengan lembut.


"Mba.. kami rehat dulu ya" pamit Izza.


"Ya.." jawab Ani.


Rama merangkul pinggang nya Izza, keduanya berjalan menuju kamar.