HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 215, Kick



Karena sudah tidak ada yang ditunggu, maka diputuskan untuk segera memakamkan Mamanya Mba Anindya. Rama memang tampak sibuk menyiapkan pemakaman. Hingga dia lupa memberikan kabar ke Izza. Tanpa sadar HP nya juga low batt.


Untunglah Mang Ujang menelepon Maryam, bilang kalo hari ini akan pulang telat karena akan ikut prosesi pemakaman Mamanya Mba Anindya selesai. Maryam yang melaporkan ke Izza mengenai hal ini.


Pak Isam dan Mas Haidar belum bisa pulang, baru besok mereka pulang. Izza akhirnya memilih tidur bersama anak-anak.


Rama selalu mendampingi Mba Anindya sejak dari Rumah Sakit hingga ditutupnya liang lahat Mamanya Mba Anindya. Kondisi mentalnya Mba Anindya memang terlihat down banget.


"Mba Anin itu akrab banget ya sama mantan adik iparnya, dulu bukannya mereka sering ribut ya? eh tapi mantan adik iparnya sekarang bersihan ya, dulu kan keling banget" kata saudaranya Mba Anindya.


"Memang mereka sewaktu jadi iparan malah ga akrab, tapi begitu sudah tidak iparan malah akrab. Kan sempat bikin usaha bareng, itu loh Audah Hotel. Tapi semenjak Rama menikah dan ingin fokus ke Abrisam Group, jadinya sudah pecah kongsi sama Mba Anin, malah sekarang mereka berdua bukan pemiliknya lagi. Ya daripada ga keurus juga, kan mending dijual" jelas anaknya Om Alfian panjang lebar.


"Oh gitu.. tapi kayanya Mba Anin nyaman banget dalam pelukannya Mas Rama. Memang istrinya Mas Rama ga datang? kalo saya jadi istrinya Mas Rama pasti ngamuk melihat adegan seperti itu" tanya saudara Mba Anindya yang lainnya.


"Mungkin karena punya anak kecil kali ya, jadi ga bisa hadir, lagipula sekarang sudah jam sembilan malam. Udah.. jangan bergunjing tentang Mas Rama, dia itu cinta banget sama istrinya, jadi ga bakalan deh neko-neko, apalagi Mba Anin kan sudah dianggap sebagai Kakaknya sendiri. Liat keluarga mantan suaminya Mba Anin ga ada yang datang, cuma Mas Rama saja yang membantu. Itu artinya Mas Rama masih menghormati dan menganggap keluarga terhadap Mba Anin. Niat baik orang itu jangan kita salah artikan sebagai hal yang negatif. Antara Mba Anin dan Mas Rama murni persahabatan" bela anaknya Om Alfian yang kembali mencoba untuk meluruskan.


"Kok kamu sampai segitunya belain Mas Rama.. jangan-jangan.." duga saudaranya Mba Anindya.


"Semua keluarga rasanya sudah tau kan tentang bagaimana sepak terjang Papa dan Mba Anin. Kalo Mas Rama mau, bisa saja semua sudah ada dalam penjara. Tapi Mas Rama orang yang sangat pemaaf dan tidak dendam. Bahkan setelah itu juga masih kerjasama. Saya membela bukan karena suka atau ada perasaan ke Mas Rama, murni karena saya ga suka ada yang berprasangka negatif terhadap Mas Rama" sahut anaknya Om Alfian.


💐


Jam satu dini hari, Rama masuk ke kamarnya, tidak ada orang. Dia masuk ke kamarnya Zian lewat connecting door. Tidak ada orang juga.


Karena sudah bau berkeringat dan bajunya kotor, Rama memutuskan untuk mandi dulu baru nanti mencari istri dan anaknya.


.


Setelah mandi dan sholat, Rama menuju ke lantai bawah, tepatnya ke kamar Sachi. Dilihatnya Sachi tidur di kasur atas dan Zian di kasur dorong (Tempat tidur Sachi model atas bawah/model sorong). Izza sendiri tidur memakai playmate yang ada di kamarnya Sachi.


Secara perlahan, Rama merapihkan selimutnya Sachi dan mencium keningnya Sachi. Kemudian melihat keningnya Zian, ada salep diatas kepalanya Zian. Dioleskan sedikit secara perlahan dan dipindahkan salep tersebut keatas meja. Diselimuti sang buah hati dengan selimut kecilnya, kemudian dicium juga pipinya.


Rama mengambil kasur lipat tipis yang ada didalam lemarinya Sachi. Biasa untuk bermain bersama Zian agar kalo jatuh tidak sakit. Dibentangkan dan diberi sprei.


"De.. pindah ke kasur, nanti sakit badannya tidur di playmate" bisik Rama pelan sambil menyolek lengannya Izza.


Izza terbangun karena posisi Rama dekat dengan telinganya. Izza pindah ke kasur lipat dan melanjutkan tidurnya. Rama ikut tiduran disebelahnya Izza.


"Tadi Kakak membantu Mba Anin sampai proses pemakaman Mamanya selesai. Maaf ya ga hubungi kamu, Kakak udah minta Mang Ujang buat kasih tau kamu, ditelepon ga?" kata Rama tepat dibelakangnya Izza.


Izza mendengar tapi tidak mau berkomentar apapun.


"Maaf ya ... " pinta Rama sambil mencium kepala bagian belakangnya Izza.


.


Adzan subuh berkumandang, Izza terbangun. Rama sudah tidak ada di kamarnya Sachi. Hari ini Sachi libur sekolah karena gurunya sedang ada penilaian.


Zian mulai bergerak pertanda dia minta ASI. Setelah Zian bisa tidur kembali, Izza melaksanakan sholat subuh di kamarnya Sachi.


"Ya Allah.. kenapa makin kesini, Kak Rama makin larut sama pekerjaan dan segala aktivitas yang ga terduga? susah bagi kami mengatur waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Terkadang juga hari ini bilang A dan besok berubah jadi B. Apa yang salah dalam hubungan kami? Sebulan terakhir ini benar-benar kurang banget meluangkan waktu berdua untuk sekedar berbincang tentang masa depan. Tiap ketemu sama-sama capek, jadinya emosi doang yang ada" kata Izza dalam hatinya.


Dipandanginya Sachi dan Zian yang masih tertidur. Setelah meletakkan banyak guling disekitarnya Zian dan tidak melipat kasur agar ketika Zian bangun, tidak jatuh langsung ke lantai.


.


Izza menuju dapur, seperti biasa akan menyiapkan sarapan untuk Zian dan Sachi. Zian itu paling suka jika diberikan buah potong yang bisa dipegang sendiri setiap kali makan.


Izza melihat Rama duduk di meja makan sepulang sholat subuh dari Mesjid. Ada asisten rumah tangga yang mendekati Rama dan menawarkan sarapan.


"Dibungkus aja Mba, sekalian tolong bilang ke Alex, saya akan berangkat jam enam" jawab Rama.


"Bang Alex lagi sarapan dibelakang Mas" ucap asisten rumah tangga.


"Kenapa ga makan disini?" tanya Rama.


"Katanya lagi sarapan sama Mba Nur, ya namanya bumil.. ada aja kan permintaannya" jelas asisten rumah tangga.


"Mba Nur sehat?" tanya Rama lagi.


"Ya kadang-kadang mual muntah juga Mas" jawab asisten rumah tangga.


"Ya udah.. tolong bilang sama Alex, hari ini dia libur, saya bawa mobil sendiri" kata Rama.


"Iya Mas.. nanti disampaikan" ujar asisten rumah tangga.


Rama naik ke lantai atas, sekilas saja melihat Izza, demikian pula Izza, mencuri-curi pandang kearah Rama.


.


Setelah siap dengan pakaian kerjanya, Rama masuk ke kamar Sachi untuk membangunkan Sachi agar mendirikan sholat subuh. Zian ikutan bangun dan minta digendong sama Rama.


"Mba Sachi.. hari ini libur kan? terserah mau tidur lagi atau mau sarapan dan main sama Zian, yang penting sekarang sholat subuh dulu" ucap Rama.


"Iya Ayah.. " jawab Sachi sambil menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


.


Rama mengambil kursi makan milik Zian, diletakkan persis disamping tempat duduk Rama. Zian duduk disana. Sudah ngoceh-ngoceh seakan mengajak Ayahnya berbincang pagi ini.


"Good boy.. jagain Mommy dan Mba Sachi ya.. Ayah kerja dulu ya" kata Rama sambil tersenyum.


Zian malah tertawa geli, menurutnya Sang Ayah sedang bercerita hal lucu padanya.


Di meja sudah ada seteko teh hangat tawar. Izza menuangnya untuk dia minum sendiri. Izza sudah meletakkan segelas jus kiwi dicampur bayam organik untuk Rama. Seperti biasa, Rama tidak kenal pagi hari, selalu maunya minuman dingin.


Zian berusaha menggapai minuman Rama yang tampaknya menarik matanya.


"Zian nanti buahnya beda ya.. Mommy lagi siapin dulu. Ini khusus buat Ayah" ucap Rama.


Izza kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat makanan untuk anak-anak.


.


Izza membawakan sepiring sarapan untuk Rama dan semangkuk sarapan untuk Zian.


Pagi ini Zian akan makan sup krim dengan campuran telur, irisan daging asap dan wortel yang diiris kasar. Sesuai dengan usianya, Zian sudah diberikan makanan yang bertekstur meskipun masih belum terlalu padat.


Rama sendiri pagi ini sarapan kentang tumbuk (mashed potato), buncis dan dada ayam panggang. Kentang tumbuknya pakai mentega tawar dan sedikit garam plus merica.


"Ini makan siangnya Zian ya?" tanya Rama.


"Iya.. tapi ga pake merica, tambah keju dan ASIP juga.. lahap kalo ditambahin kaya gitu. Nanti ayamnya juga direbus, sekalian kaldunya disimpan untuk besok bikin sop" jelas Izza sambil memberikan Zian apel yang manis dan sudah dipotong seukuran jari agar mudah dipegang.


"Hari ini berangkat ke Audah Hotel?" tanya Rama.


"Iya.. bawa Zian dan Sachi. Mba Juju yang ikut buat bantuin jaga anak-anak. Mba Nur lagi kurang sehat" kata Izza.


"Buka kamar disana?" tanya Rama lagi.


"Iya.. Pak Sandy juga mau kesana, sekalian ada janjian ketemu teman beliau dan melihat Zian" jawab Izza.


"Kemarin kejadiannya begitu cepat, Mba Anin telepon mengabarkan berita duka saat di jalan. Kakak langsung ke Rumah Sakit dan membantu hingga Mamanya Mba Anin dimakamkan. Mba Anin sangat terpukul hingga pingsan beberapa kali, sekali lagi.. Kakak minta maaf ya" terang Rama.


"Udah cukup kok foto-foto Kakak menjelaskan semuanya, ga perlu diulang lagi" jawab Izza.


"Foto apa?" tanya Rama.


Izza menyerahkan HP nya ke Rama.


"Liat aja, lengkap Mba Anin cerita dan mengirimkan foto-foto kebersamaan kalian berdua. Apa ini cerita lama yang belum kunjung usai?" ujar Izza datar.


"De.. ini murni persahabatan. Apa yang terlihat di foto ga semuanya sesuai pemikiran kamu. Kakak sudah berusaha melepaskan jika sudah keterlaluan De.. tapi kondisi Mba Anin yang lemas membuat Kakak ga tega. Kalo hal itu membuat kamu ga nyaman, sekali lagi Kakak minta maaf" kata Rama.


"Oke.. jadi nanti kalo Izza peluk-pelukan sama Mas Barry boleh dong.. kan persaudaraan.. lagi pula kami satu Ayah" kata Izza lagi.


"Janganlah.. oke sorry..." ucap Rama.


"Kakak sibuk De hari ini, gimana kalo kamu sepulang dari Audah Hotel, mampir ke tempat Mba Anin untuk membawakan kue. Malam ini akan ada pengajian di rumah Om Alfian" ide Rama.


"Izza juga sibuk hari ini. Sepulang dari Audah Hotel mau ke Rumah Sakit, jadwal imunisasi Zian sama kontrol rutin. Habis itu mau beli bahan makanan buat Zian dan Sachi, sudah banyak yang habis di kulkas" papar Izza.


"Mampir sekalian aja ke Kantor, malam ini ada undangan ulang tahun teman kuliah Kakak, ga formal kok.. hanya makan-makan keluarga di rumahnya" kata Rama.


"Repotlah bawa anak dua" jawab Izza sambil mulai menyuapi Zian.


"De.. bisa diajak ngomong baik-baik ga?" ucap Rama pelan.


"Liat nanti ya" jawab Izza malas-malasan.


"Please...." pinta Rama.


"Ga baik ribut didepan anak" potong Izza.


🍒


Mang Ujang yang mengantar Izza ke Audah Hotel, anak-anak menyusul karena Sachi masih tidur kembali dan Zian selepas mandi juga tidur. Kasian kalo harus dipindahkan ke mobil, nanti adanya malah ngambek.


"Mang.. ceritanya kemarin kaya gimana sih? bener Mba Anin sama Kak Rama pelukan terus sepanjang waktu?" tembak Izza.


"Gimana ya jawabnya..." kata Mang Ujang bingung.


"Jawab sejujurnya aja Mang, awas aja kalo bohong" pinta Izza.


"Kalo dibilang pelukan ya antara iya dan tidak" jawab Mang Ujang.


"Ga usah muter-muter Mang.. jangan nutupin kejadian kemarin" ancam Izza.


"Begini Mba Boss.. tau kan kalo kemarin itu Mba Anin sedang berduka, dia ga punya tempat bersandar. Mas Boss sejak pulang ke Indonesia juga sudah mulai berkawan sama Mba Anin, sebelum kenal Mba Boss kan Mas Boss kenal Mba Anin duluan. Yang kemarin itu, menurut kacamata Mamang.. Mas Boss memposisikan diri selayaknya teman yang menghibur sahabatnya dan memberikan dukungan moral" papar Mang Ujang dengan bahasa yang membuat Izza takjub.


"Mamang pasti dikasih contekan sama Kak Rama buat ngomong kaya gini ya? gaya banget cara bicaranya" duga Izza.


"Ya Allah Mba.. curiga amat sama Mamang. Kan Mba Boss sendiri yang bilang Mamang harus memperbaiki sikil komunikasi jadi biar bisa keliatan lebih berkelas" ungkap Mang Ujang serius.


"Bukan sikil Mang.. skill.. kalo sikil mah kaki" Izza meralat ucapannya Mang Ujang.


"Mba.. Mamang juga awalnya kesel banget liat Mba Anin nemplok mulu ke Mas Boss, tapi Mas Boss keliatan kok ga nyaman dan berusaha melepaskan. Tapi ya balik lagi, namanya suasana duka, ya susah komennya juga" lanjut Mang Ujang.


"Beneran nih?" tanya Izza meyakinkan.


"Makanya Mba Boss.. nanti malam ikut aja ke acaranya temannya Mas Boss, daripada Mas Boss digaet mantan" saran Mang Ujang.


"Emang Kak Rama punya mantan? kok beda ya versinya" tanya Izza.


"Ga tau juga ya.. ga pernah ngomongin mantan kan kalo Mas Boss.. apa jangan-jangan Mba Boss ini pacar pertama dan terakhir kali" jawab Mang Ujang mulai asal.


"Kayanya Mang Ujang udah sekongkol nih sama Kak Rama, jadinya nutupin mulu semua kelakuan Bossnya" tuduh Izza.


"Mas Boss yang Mamang kenal itu ga banyak dekat dengan teman wanita. Malah cenderung agak kaku. Mamang ga tau apa Mba Boss ini cinta pertamanya, tapi yang jelas, sejak hadirnya Mba dalam kehidupan Mas Boss, banyak banget perubahannya. Terutama banyak bicara dan tersenyum. Semua orang berproses kan Mba. Rumah tangga itu modalnya kepercayaan, kalo diantara Mba dan Mas Boss sudah saling tidak percaya, terus mau bagaimana lagi? Selama ini Mas Boss selalu memuji Mba didepan semua orang. Katanya Mba itu istri dan Ibu yang hebat" ungkap Mang Ujang.


"Beneran udah pinter nih Mang Ujang rupanya.. baguslah kalo dengan banyak membaca buku, pengetahuan Mang Ujang jadi bertambah, jadi kosa kata pun sudah banyak" puji Izza.


"Ini semua berkat Mas Boss dan Mba Boss yang ga lelah ngajarin Mamang banyak hal. Makasih ya Mba" ujar Mang Ujang mellow.


"Mang.. ini sih menurut Mang Ujang ya, apa Kak Rama termasuk tipe yang digilai oleh wanita? secara dia kan ga genit, tegas dan lingkaran kerjanya banyak kaum adam" tanya Izza penasaran


"Tentulah... coba pikir aja Mba.. dia kaya, kedudukan tinggi, baik, pekerja keras, penyayang dan setia keliatannya" jawab Mang Ujang yakin.


"Kan ga ganteng Mang. Perempuan sekarang juga masih mandang wajah kali" kata Izza.


"Udah ga musim Mba yang ganteng, yang musim tuh bisa bertanggung jawab. Hidup kan harus realistis Mba Boss... emang beras bisa dibeli pake muka yang ganteng? token listrik yang bunyi bisa diliatin sama orang ganteng terus bisa keisi lagi secara otomatis? Tetaplah Mba Boss.. tipe-tipe kaya Mas Boss itu yang justru laku keras di pasaran. Sekarang Mamang tanya .. kenapa Mba Boss mau jadi istrinya? kan katanya ga ganteng. Jangan bilang tergoda sama hartanya ya" ucap Mang Ujang yang makin membuat Izza kagum karena pola pikirnya jauh berubah.


"Karena Kak Rama yang bisa terima saya apa adanya, yang selalu ingin melihat saya bahagia dan selalu melindungi disaat apapun. Kalo tentang harta .. wanita mana sih yang ga mau merasakan hidup yang berkecukupan? tapi bukan itu Mang poinnya. Saya banyak mengalami hidup dengan keterbatasan, ada rasa hati ingin memberi ke sesama manusia, tapi apa daya kan Mang? begitu menikah sama Kak Rama.. dompet saya selalu terisi, tabungan saya ga pernah tiris dan tentunya beliau memberikan kepercayaan ke saya untuk mengelola termasuk jika ingin berbagi kepada yang membutuhkan" papar Izza panjang lebar.


"Tapi semua pasti karena cinta kan? ga mungkin menikah ga ada rasa cinta, meskipun timbulnya setelah menikah. Sama kaya Mamang dan Maryam" sahut Mang Ujang.


"Ya pastilah Mang.. cinta kami yang dimulai ketika sudah menikah, justru sekarang makin bertambah lagi cintanya. Ditambah sudah ada Sachi dan Zian yang melengkapi keluarga kecil kami" kata Izza.


"Mungkin kalo Mba Boss cinta sama Mas Boss ketika sudah menikah.. tapi Mas Boss kayanya udah dari awal ketemu juga keliatan suka, cuma gengsi aja dia. Ingat kan waktu pertama kali sepayung berdua di makam? itu seharian senyum aja" seloroh Mang Ujang.


"Ga lah Mang.. beliau ga jatuh cinta pada pandangan pertama. Kak Rama itu hanya penasaran sama sosok saya, soalnya begitu melihat pertama kali, katanya yakin saya punya sesuatu yang bisa menguak masa lalu. Dan seperti ada desakan dalam dadanya untuk menolong saya yang lemah ini Mang" ucap Izza.


"Mas Boss itu banyak berahasia, dalam diamnya pun masih memikirkan strategi dan kebahagiaan buat kita semua. Orang seakan ga pernah mau tau apa yang sedang dia hadapi. Semua menuntut untuk Mas Boss tampil sempurna. Abrisam Group itu banyak masalahnya Mba, keliatannya memang baik-baik saja, itu karena Mas Boss mampu nutupin. Ga salah Boss Papi ingin Mas Boss yang menjalankan Abrisam Group. Mas Haidar kan gampang stress kalo ditekan" cerita Mang Ujang.


"Iya sih Mang.. paham kalo untuk yang satu itu, tapi ini masalahnya Mba Anin kaya ambil kesempatan dalam kesempitan" oceh Izza.


"Kaya ga kenal Mba Anin aja .. orangnya emang ribet" sahut Mang Ujang.


💐


Hampir jam dua belas siang, Farida yang hari ini diminta menggantikan Alex, sudah bertanya ke Rama apakah mau makan siang diluar atau mau dibelikan dan makan di ruangan. Rama memilih makan di ruangannya.


Tapi Rama belum memesan makanan karena masih belum ingin makan. Nanti jika dia sudah ingin makan, maka akan bilang ke Farida.


Selang lima menit kemudian, Farida menyampaikan kalo ada Mba Anindya yang mau ajak makan siang dan sedang menunggu di Lobby bawah untuk persetujuan Rama.


.


Mang Ujang membawakan tas milik Zian dan Sachi serta mendorong Zian di strollernya. Mba Juju diminta untuk cari makan siang duluan di kantin kantor bersama Farida.


"Izza .." panggil Mba Anindya.


"Mba Anin disini.. Mba.. maaf kemarin ga bisa datang, turut berduka cita ya.. yang sabar Mba" sapa Izza sambil cipika cipiki sama Mba Anindya.


Sachi mencium tangan Mba Anindya.


"Zian.. makin lucu.. mirip banget sama Rama.. takut ga diakui ya sama Rama" canda Mba Anindya yang membuat Izza kesal.


"Kata orang sih.. kalo anak mirip sama Ayahnya, berarti suami cinta banget sama istrinya" sahut Izza dengan entengnya.


"Kamu sama anak-anak ada janjian sama Rama mau pergi ya?" tanya Mba Anindya.


"Ga ada janjian sih Mba.. kami kan keluarga.. wajar dong anak dan istri mau melihat sosok pimpinan keluarga kami. Ya sedikit membuat kejutan manis untuk suami tercinta" jawab Izza.


"Kamu cemburu ya Za?" tanya Mba Anindya.


"Cemburu? apa yang saya cemburuin dari Mba? paling tidak saya punya Kak Rama. Jadi berhentilah untuk mencoba menggaetnya lagi. For your information.. beliau itu udah mentok banget sama saya" kata Izza dengan nada meremehkan Mba Anindya.


Mang Ujang yang ada dibelakangnya Mba Anindya, mengacungkan dua jempol kearah Izza.


"Bukan tipe Rama banget ya, menerima tamu tanpa ada janji, dia itu terbiasa semua teroganisir dengan rapih. Mba aja nunggu jawaban dia, tapi belum ada infonya bisa atau tidak" kata Mba Anindya.


"Mba mau titip pesan apa? nanti saya sampaikan. Saya ini istrinya, jadi ada akses khusus kalo mau ketemu. Ga perlu pakai janji-janjian kaya yang lain. Ga lupa kan siapa saya?" tanya Izza mengejek.


Wajah Mba Anindya ga bersahabat.


"Mba ikut kamu aja gimana? kita makan siang bareng. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih" jawab Mba Anindya.


"Bukan tipenya Kak Rama juga menerima ucapan terima kasih sampai berlebih seperti ini. Pasti Mba tau dong" kata Izza.


"Wah.. ada anak Ayah datang... " sapa Rama yang turun ke lobby karena Farida yang melaporkan ada Izza dibawah.


Rama menggendong Zian dan Sachi sekaligus. Kemudian berjalan mendekati Izza. Rama langsung mencium keningnya Izza karena kedua tangannya sudah menggendong anak-anak.


"Mba Anin ga menyiapkan sesuatu untuk pengajian nanti malam?" tanya Rama.


"Sudah pesan catering" jawab Mba Anindya.


"Ada apa ya Mba datang kesini?" tanya Rama lagi pura-pura ga tau.


"Tadinya mau ajak makan siang sebagai ucapan terima kasih, tapi sepertinya istri dan anak-anak sedang ingin quality time keluarga. Next time lah kalo senggang" pamit Mba Anindya.