HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 95, Decision



Izza melangkah keluar dari halaman Panti Asuhan. Tujuannya akan pergi ke kantornya Rama. Uangnya hanya tinggal dua puluh ribu rupiah, karena kemarin dia habis membuat tugas kuliah yang membutuhkan biaya buat print tugas, jadi sisa nyupir hanya tinggal selembar itu aja.


Hari Senin, jam delapan pagi, Izza lagi mikir mau naik apa yang uangnya cukup untuk sampai ke kantornya Rama. Dia memang belum membuat janji sama Rama. Makanya akan datang dari pagi. Tadinya mau nelpon dulu untuk bikin janji, tapi ada rasa khawatir kalo Rama malah menolak bertemu setelah perbincangan terakhir mereka.


"Mba Izza..." panggil Alex.


"Bang Alex ... lagi ada orderan? kok tumben nongkrong didepan Panti? wah sekarang pakainya mobil lohhh" tanya Izza.


"Ya Mba, abis anterin orang dekat sini, ini lagi nunggu orderan lain. Mba mau kemana? ayo saya antar. Ini mobil punya orang yang selalu bantu saya Mba, daripada mobil ini nganggur, ya dibawa aja buat narik taksi online" ajak Alex, dia memang berbohong, padahal menjaga keselamatan Izza adalah tugas yang diberikan oleh Rama.


Rama merasa Izza penting untuk dijaga karena sekarang dia menjadi penting buat Sachi dan satu-satunya keluarga Mba Gita yang dia kenal. Entah kenapa sejak pertama berjumpa, ada sesuatu yang mengikatnya.


"Ga usah Bang Alex .. saya deket kok, mau naik angkot aja" kata Izza mengelak mencari alasan.


"Pokoknya mau dekat atau mau jauh sekalipun, ya tetap saya antar. Sekarang sebutin aja mau kemana?" tanya Alex.


"Ga usah Bang" jawab Izza makin ga enak hati.


"Mba .. ga usah mikirin bayaran, pokoknya saya antar sampai tujuan" ucap Alex.


"Jangan gitu Bang, saya yang ga enak kalo begitu" ujar Izza.


"Anggap aja saya nraktir Mba Izza. Gimana?" tanya Alex.


"Saya mau ke Abrisam Group sebenarnya, didaerah Sudirman" kata Izza akhirnya berterus terang.


"Jauh itu Mba .. ya udah naik, saya tau kok itu kantor ternama, saya pernah antar customer kesana" jawab Alex.


"Tapi Bang Alex.. uang saya tinggal dua puluh ribu" jujur Izza.


"Kan saya bilang ... Gratissss" ucap Alex.


"Bener nih Bang?" tanya Izza meyakinkan.


"Bener" jawab Alex serius.


Alex membukakan pintu belakang untuk Izza.


"Saya didepan aja Bang .. kesannya kaya Boss aja duduk dibelakang" ujar Izza.


"Terserah Mba Izza aja, kalo ga keberatan duduk disamping saya ya ga masalah sih" ucap Alex.


Setelah didalam mobil. Alex memencet sebuah nomer di HP nya dan meletakkan HP tersebut di pintu mobil.


"Mau ada panggilan kerja kesana? itu perusahaan bonafid Mba, bagus kalo bisa kerja disana" tanya Alex basa basi.


"Bukan ... saya ada keperluan penting disana" jawab Izza.


"Semoga urusannya dilancarkan ya Mba" harap Alex.


"Aamiin" jawab Izza.


Selanjutnya mereka berbincang ringan aja, ga jelas arah pembicaraan, asal ada bahan untuk sekedar ngobrol aja.


"Sebenarnya Boss Rama ini suka ga ya sama Mba Izza? keliatannya orangnya baik, tulus dan masih polos. Kenapa Boss amat terobsesi ingin tau semua tentang dia. Kalo sekedar kebencian terhadap Mba Gita, kenapa harus ditimpakan ke Mba Izza yang hanya seorang adik angkat? ada yang ga beres nih kayanya sama Boss. Apa enak nyelidikin Boss sendiri? nanti kalo tau bisa tambah ngamuk dia. Sekarang aja masih marah gara-gara kematian Mba Zizi. Ditelpon mana pernah diangkat, untung tadi chat dulu dan kirim foto Mba Izza, makanya dia mau dengerin" tanya Alex dalam hatinya.


Telepon sudah dimatikan, Alex lebih bisa bicara banyak secara bebas sama Izza.


"Mba .. bisa ajarin saya sholat?" tanya Alex yang membuat Izza kaget.


"Pengetahuan agama saya sangat kurang Bang. Waktu kecil ikut ngaji di Musholla, tapi sejak kami berpindah-pindah, memulai lagi ditempat baru sulit. Baru Lima tahun terakhir ini saya ikut pengajian lagi dan beberapa kajian. Tapi balik lagi ya Bang.. kadang menuntut ilmu memang butuh biaya. Gratis sih pengajian atau kajian, tapi kan kita butuh ongkos buat ke tempat majelis ilmu, terus menyisihkan sodaqoh terbaik kita disana. Kalo dulu Kakak saya kasih uang jajan yang bisa saya sisihkan, sekarang ga ada lagi" ujar Izza jujur.


"Emang Kakaknya kemana?" tanya Alex pura-pura ga tau.


"Ya intinya udah ga bisa kasih uang jajan lagi. Bang Alex ada info lowongan pekerjaan ga? kerja apa aja deh Bang, yang penting halal. Saya butuh ongkos kan buat kuliah" tanya Izza.


"Yah Mba .. mana ada saya kerjaan buat cewek, kerja kasar semua adanya" jawab Rama.


"Pokoknya kalo ada nanti hubungin saya ya" pinta Izza.


💐


Rama meletakkan HP nya di meja kerjanya.


"Mau apa dia kesini? ga ada chat atau telpon sebelumnya. Bukannya udah nolak buat saya lamar? dia kan belum tau kalo saya mau ke Kudus buat nekat ngelamar dia. Apa dia punya indera keenam? dia kesini mau ngomong apa ya?" gumam Rama heran.


"Pak .. Pak Rama tadi bilang apa ya? maaf saya tidak dengar, bisa diulang Pak?" ingat Farida memecah lamunan Rama.


"Oh ngga .. saya lagi mikir aja" jawab Rama.


"Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanya Farida.


"Jadwal saya apa aja hari ini?" ujar Rama.


"Akan mulai di jam sembilan ya Pak, full sampai jam dua belas. Selama tiga jam ini akan bertemu dengan lima tamu. Jadi kalo bisa, satu tamu sekitar tiga puluh menitan ya Pak. Nanti selepas makan siang ada dua tamu lagi, sekitar jam dua dan jam tiga konfirmasi kedatangannya" jelas Farida.


"Ok .. silahkan kamu kembali ke ruangan" pinta Rama.


"Baik Pak ... permisi" jawab Farida sambil meninggalkan ruangan Rama.


.


Jam sembilan lewat, Izza sudah sampai di Abrisam Group. Alex sudah langsung pamit pergi, alasannya ada penumpang yang harus segera dijemput.


Izza langsung dibawa oleh security ke lantai atas, tempat ruangan Rama berada (security kenal sama Izza), karena tadi Izza lapor untuk bertemu sama Rama. Sudah ramai juga selentingan kabar kalo antara Rama dan Izza punya hubungan, jadi security sangat menghormati Izza.


"Bagaimana kabarnya Mba Gita ya Mba?" tanya security.


"Alhamdulillah baik" jawab Izza berbohong.


"Mba Izza sudah bikin janji belum sama sekretarisnya Mas Rama? soalnya Mas Rama sangat sibuk" tanya security.


"Belum" jawab Izza singkat.


"Saya belum tau ya Mba, bisa atau tidaknya. Karena memang hari ini Mas Rama banyak tamu. Tadi banyak yang lapor ke security untuk bertemu sama Mas Rama" jelas security.


"Ya gapapa Pak.. kalo ga bisa hari ini, saya akan buat janji aja dulu" kata Izza.


"Atau Mba Izza coba langsung hubungi Mas Rama aja, mungkin nanti bisa didahulukan" ide security.


"Saya ikut prosedur yang berlaku aja Pak" jawab Izza.


🌺


Farida agak kaget melihat kedatangan Izza. Dia tau persis kalo hari ini ga ada jadwal atas nama Izza. Rama juga ga memberitahukan jika Izza akan datang.


"Selamat pagi Bu Izza, ada yang bisa dibantu?" sapa Farida.


"Pagi Mba, saya mau tanya tentang jadwal Pak Rama, apa bisa saya bertemu dengan beliau hari ini?" tanya Izza sopan.


"Saya tanya ke Pak Rama dulu ya Bu, sekarang sedang bertemu dengan tamu. Ibu tunggu disini dulu, nanti saya berikan note ke Pak Rama. Apa sebelumnya sudah ada janji dengan Pak Rama atau mungkin Pak Rama lupa kasih info ke saya?" tanya Farida.


"Belum Mba, silahkan tanya dulu saja ke Pak Ramanya, jika tidak bisa hari ini, saya buat janji aja ya kapan bisanya" jawab Izza.


"Baik ... silahkan tunggu di ruang tamu ya Bu? mau minum apa? nanti bisa dibuatkan. Atau silahkan mengambil yang tersedia di showcase" tawar Farida.


"Ya Mba .. terima kasih" jawab Izza.


Farida menulis disebuah sticky notes berwarna, kemudian membawa kertas tersebut kedalam ruangan Rama.


.


Di ruangan tersebut sudah ada dua orang tamu yang sedang menunggu.


Selang lima menit kemudian, Farida menghampiri Izza yang sedang duduk sambil membaca sebuah majalah bisnis.


"Bu Izza... Pak Rama akan menemui Ibu selepas makan siang. Bagaimana?" tanya Farida.


"Terserah Ibu Izza aja. Sekarang baru jam sembilan lewat, masih ada waktu empat jam lagi buat jadwal bertemu, saya khawatir kelamaan menunggu jadi bosan. Mungkin bisa jalan-jalan disekitar perkantoran ini saja. Tapi kalo mau nunggu disini pun tidak masalah" jelas Farida.


"Baik Mba, nanti saya datang lagi sebelum jam satu siang" pamit Izza.


"Baik... akan saya sampaikan ke Pak Rama" jawab Farida.


🍒


Izza berjalan menuju luar gedung, tujuannya belum jelas mau kemana. Ketika keluar pintu lift, dia bertemu sama Mang Ujang.


"Assalamualaikum Mang Ujang" sapa Izza pelan.


"Waalaikumussalam... ya Allah Izza... Lama ga keliatan" jawab Mang Ujang.


"Kayanya baru seminggu yang lalu kita ketemu" kata Izza.


"Eh iya ya.. kadang emang Mamang tuh suka lupa kalo ngeliat wanita cantik, ada keperluan apa Mba Za kesini?" tanya Mang Ujang.


"Mau ketemu sama Kak Rama" jawab Izza singkat.


"Hah? sama calon suami aja pake janjian? lagi marahan ya?" ledek Mang Ujang.


"Apaan sih Mang Ujang... nanti kedengaran sama yang lain nanti disangka Izza ngejar-ngejar Kak Rama" jawab Izza.


"Jam berapa janjian sama Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Habis makan siang" kata Izza.


"Macam mana pula ini Mas Boss.. masa calon istri harus ikutin prosedur sih. Mending janjian makan siang bareng gitu.. kan enak ngobrolnya santai. Eh lupa... hari Senin mah Mas Boss puasa" ucap Mang Ujang.


"Biarin aja Mang ... malah bagus dong menerapkan aturan tanpa pandang bulu. Kak Rama itu pimpinan disini, jadi harus menjadi contoh untuk karyawan lainnya" papar Izza.


"Sekarang mau kemana?" tanya Mang Ujang.


"Belum tau Mang.. mungkin jalan-jalan aja sekitar sini" ujar Izza.


"Nunggu di musholla aja ... enak disana .. dingin. Saya aja suka ketiduran disana... hehehe" usul Mang Ujang.


"Dimana ya Mang, tadi saya juga mau ke musholla eh malah sekarang udah jadi gudang" kata Izza.


"Oh iya .. Mba Izza belum tau ya, Mas Boss udah bikin ruangan baru buat Musholla, lebih besar. Jadi dari pintu masuk ambil kiri, setelah ada tangga darurat nah ada ruangan warna hijau, itu musholla barunya. Ambil wudhunya juga disana. Terpisah kok cewek dan cowoknya" terang Mang Ujang.


"Ya udah Mang... Izza pamit kesana dulu ya" jawab Izza.


🌷


Izza berjalan kearah seperti yang Mang Ujang jelasin tadi. Setelah sampai ditujuannya, Izza melepas sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. Bersamaan itu pula Rama duduk dibangku kayu dan melepaskan sepatu serta kaos kakinya, kemudian meletakkan sepatunya di rak, terus masuk kedalam pintu yang bergambar tanda laki-laki tanpa sedikitpun menoleh kearah Izza.


Rama memang merancang dua pintu masuk yang berbeda dengan bagian untuk laki-laki didepan serta untuk wanita dibelakang. Tempat wudhu berada disamping masing-masing bagian.


Cukup luas musholla yang sekarang, muat untuk sekitar tiga puluh jama'ah. Lantainya terbuat dari parquet kayu jati, gantungan mukena bersih dan wangi serta tumpukan Al Qur'an serta buku-buku islami tertata rapi didalam lemari kaca.


Setelah sholat, Izza melanjutkan membaca Al Qur'an, dia ga ambil urusan apakah Rama masih sholat atau udah kembali ke ruangannya. Tiba-tiba fokusnya terpecah akibat sakit perut yang sedang melandanya. Sakit maag memang terkadang membuatnya sulit untuk beraktivitas. Dibalurkan perutnya dengan minyak kayu putih, keringat dingin membanjiri wajahnya.


"Ya Allah... padamulah kupintakan kesembuhan. Hamba harus kuat" ucap Izza.


Dihadapkan hidup di Panti Asuhan tanpa status yang jelas disana, membuat dirinya semestinya tidak mendapatkan jatah makan. Jadi kadang dia mengaku sudah makan agar anak-anak tidak berkurang jatahnya.


Izza sempat tertidur karena menahan rasa sakitnya. Dua tahun lalu pernah seperti ini, ritme kuliah yang membuat maagnya sudah kronis dan harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit selama dua hari.


Tadi jam tiga dini hari, dia sudah meminum obat maag yang biasa dikonsumsi, tapi masih belum mereda juga perihnya.


.


Sebelum jam satu siang, Izza sudah standby menunggu di ruang tamu yang ada di lantai atas. Duduk sambil melihat HP nya.


Farida baru aja balik dari makan siang. Dia kembali menghampiri Izza.


"Bu .. tadi Pak Rama pesan, agak telat lima menit, dibawah sedang mengecek para security" kata Farida.


"Ya Mba.. gapapa kok, lagipula belum jam satu" kata Izza.


"Pak Rama memang ya .. selalu memberikan contoh yang baik sama kita. Bisa membedakan urusan kantor dan pribadi. Tidak mau mengganggu jadwal para tamu yang sudah lebih dulu membuat appointment" puji Farida.


"Ya memang seperti itu harusnya. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, segala gerak gerik tingkah lakunya pasti akan disorot oleh banyak mata" ungkap Izza sambil tersenyum.


"Bu Izza ini luar biasa berarti sabar dan legowonya, saya aja ya ... baru seminggu kerja rasanya udah sakit kepala menghadapi sikap Pak Rama yang sulit ditebak. Kalo sudah maunya ya harus" curhat Farida.


"Pribadi yang unik memang" kata Izza mengiyakan pendapat Farida.


"Keliatannya Pak Rama dingin sama wanita, tapi kalo melihat Bu Izza ... eemmhhh langsung beda wajahnya" goda Farida.


Izza dan Farida melihat Rama tengah berjalan masuk ke ruangannya.


"Tuh liat Mba .. aslinya tuh jantung udah pengen loncat karena senang akan bertemu kekasih hati, tapi jaim aja. Tunggu ya Mba ... saya tanya dulu, mau sekarang atau masih tunggu sebentar lagi buat ketemuan, siapa tau mau dandan dulu" pamit Farida sambil becanda ke Izza.


Farida mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Rama. Ga lama kemudian, Farida sudah keluar.


"Bu Izza... silahkan masuk, Pak Rama sudah menunggu" kata Farida mempersilakan dan membukakan pintu buat Izza.


"Makasih ya" jawab Izza.


"Bu .. kayanya Pak Rama agak bete, tolong dihibur ya, masih ada dua tamu lagi dan setumpuk berkas yang harus diperiksa. Wah kalo sampe bad mood, saya juga yang repot" bisik Farida.


Izza hanya tersenyum. Kemudian berjalan perlahan menuju pintu dan masuk.


Rama tengah berdiri didepan jendela ruangan dan melihat kearah jalanan Ibukota.


"Assalamualaikum" sapa Izza.


"Waalaikumsalam... silahkan duduk, mau di bangku yang mana aja bebas" jawab Rama masih ga memandang Izza.


"Kak..." panggil Izza.


"Saya hanya punya waktu lima menit buat kamu. Ga usah bertele-tele, langsung to the point" ucap Rama tegas.


"Saya setuju sama lamarannya Kak Rama. Saya bersedia menikah sama Kak Rama" jawab Izza deg-degan.


Rama membalikkan tubuhnya menghadap Izza yang duduk di kursi tamu.


"Oke... saya yang akan atur semuanya. Jangan mimpi nikah sama putra raja kamu bisa mengadakan pesta mewah dan megah ya. Karena saya ga mau" kata Rama dengan nada yang datar.


"Saya ga minta macam-macam Kak, cukup datangi wali saya di Kudus, biar bagaimanapun, beliau adik Bapak saya. Minta restu ke beliau, layaknya seorang laki-laki yang melamar wanita, satu lagi .. saya minta Kakak juga menghadap Ibu Panti, beliau orang tua saya juga" pinta Izza.


"Ok... boleh... keluarga saya akan datang ke Kudus. Apa yang kamu minta sebagai pengikat? karena kesibukan saya, kita ga bisa menikah dibulan ini, mungkin baru bisa bulan depan. Di meja saya ada kertas dan pulpen. Kamu tulis apa yang kamu minta, nanti saya siapkan" perintah Rama.


"Kapan kakak mau datang kesana?" tanya Izza hati-hati.


"Ga usah banyak nanya... yang penting keluarga saya datang kesana kan? Toh ga perlu kehadiran kamu juga disana. Kamu udah setuju nikah sama saya kan?" kata Rama.


"Tapi Kak... Pastinya ada tata krama dalam bertamu, kalo Kakak dan keluarga datang tanpa pemberitahuan pasti akan jadi sesuatu yang menghebohkan dan bisa aja Paklek sekeluarga berpikir macam-macam tentang kita, emang ga malu?" ungkap Izza.


"Ga perlu ngajarin tata krama ya ... masih punya malu? Kenapa saat Mba Gita ambil uang perusahaan dan menafkahi kamu pake uang itu kamu ga malu?" balik Rama.


"Kan udah saya bilang kalo ga tau" jawab Izza agak mulai kesal.


"Jangan tinggikan suara kamu dihadapan saya .. perlu saya ajarkan tata krama?" ujar Rama.


Izza menuju mejanya Rama dan mengambil kertas serta pulpen. Dia mulai menuliskan apa yang dia minta ke Rama.


"Ini semua udah saya tulis, saya kira sebanding antara permintaan saya dengan setuju menikah" ujar Izza sambil meletakkan pulpen.


"Waktu habis... silahkan keluar, saya masih banyak kerjaan" kata Rama sambil melihat jam tangannya.