HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 26, Slow but sure



Seusai bertemu sama Anindya, iseng-iseng Rama muter keliling Mall, melihat perkembangan ekonomi katanya. Ketika berjalan-jalan sendirian didalam Mall, dia melihat sekeliling ada banyak orang yang berjalan dengan pasangannya masing-masing.


Rama baru sadar kalau ternyata dia menjadi salah satu orang yang berjalan sendirian didalam Mall, detik itu juga ia ngerasa kalo masih jomblo dan belum memiliki kekasih hati.


Sepulang dari Mall, pikirannya mulai memberontak, apakah dia lelaki normal? karena memang ga merasakan cinta ke lawan jenis selama ini.


Setelah melihat Sachi yang udah pulas di kamarnya, Rama masuk ke kamarnya sendiri. Setelah berdiam sejenak, ia lantas mandi. Seusai mandi, dibukanya phonebook HP, mengecek nomor ponsel yang isinya hanya nomor kontak teman-teman (yang kebanyakan sudah punya pacar, baik lelaki maupun wanita).


Rama menghibur diri berusaha tenang karena ada jutaan manusia kesepian juga di dunia ini seperti dirinya. Tapi ia menyadari wanita sekarang pasti ga sekedar melihat tampang aja, tapi kualitas, makanya ia bertekad meng-upgrade diri dulu biar lebih berkualitas dari sebelumnya. Jangan sampe dia hanya bermodalkan penampilan tetapi kepribadian kosong melompong. Kalo syarat-syarat menjadi imam rumah tangga bisa ia penuhi maka dia akan memikirkan buat pensiun dari status jomblonya.


Rama tertidur pulas. Dia bermimpi bertemu seorang wanita yang cantik, memanggilnya dengan lemah lembut dan mendekapnya erat. Mengelus kepalanya dengan kasih sayang sambil berpesan untuk menolong Pak Isam, memang diusia hampir enam puluh tahun, seharusnya Pak Isam sudah nyaman menikmati masa tuanya. Melihat anak-anak berumah tangga dan bermain dengan para cucu. Mimpi yang terasa amat nyata bagi Rama sampai dia bangun karena kaget.


"Mami... itu Mami kah? Rama rindu Mi... bahkan Rama belum ngerasain ciuman Mami. Begitu hampa kehidupan ini Mi, mengulang kejadian yang sama namun berbeda runtutan cerita. Besar tanpa kasih sayang orang tua, hanya Mas Haidar dan Mba Mentarilah yang menguatkan. Mi .. liang lahat memisahkan jarak diantara kita. Rama kehilangan sosok malaikat tanpa sayap setelah Mba Mentari tiada dan Mas Haidar kecelakaan hingga amnesia partial. Ya Allah, Engkau tau betapa aku sangat merindukan Mami, betapa tulus hatiku mencintai dan menyayanginya. Rama janji Mi ... akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, Rama usahakan bisa istiqomah menjadi hamba Allah, jadi anak sholeh yang berbakti pada orangtuanya, insyaa Allah seperti baktinya Sahabat Rosulullah, Uwais Bin Amir yang begitu berbakti pada Ibunya dan menjadi orang yang berbudi pekerti baik" harap Rama.


💐


Rama selalu sampai di Kantor jam setengah delapan pagi, memang Pak Isam sama sekali belum memberinya tugas. Bahkan meja kerjanya masih di ruang tamu ruangannya Pak Isam.


Kerja pun maunya diantar jemput, bukan karena dia manja atau mau menunjukkan kalo dia adalah calon Boss, tapi sekedar bisa melanjutkan tidur selama perjalanan datang dan pulang dari kantor.


Sudah seminggu ini Rama berusaha berbicara sama Papinya, tapi Pak Isam punya puluhan cara buat menghindari Rama.


Pagi ini Rama duduk didepan meja resepsionis, kursi yang banyak diduduki sebagai transit para tamu yang datang ke kantor.


Rama duduk sambil sibuk sama ponsel canggih keluaran terbaru miliknya, Mang Ujang duduk disebelahnya sambil memegang tumpukan berkas yang rapih dalam filling cabinet plastik. Berkas tersebut dipangku sama Mang Ujang.


"Mas ... Mas Boss ... ini mau sampe kapan berkas ini saya pangku?" tanya Mang Ujang hati-hati.


"Eh ... kok masih disini?" ucap Rama kaget.


"Lah terus harusnya dimana? tadi kan Mas Boss bilang kalo saya harus bawain berkas ini" kata Mang Ujang.


"Betul... saya emang bilang bawain berkas, bukan ikutin saya. Bisa kan Mang Ujang taro di ruangan" jawab Rama sambil masih fokus ke ponselnya.


"Kenapa ga bilang dari tadi sih Mas .. lagipula ruangannya yang mana ya? bukannya Mas belum punya ruangan?" tanya Mang Ujang.


"Kebanyakan nanya .. udah kaya tamu aja. Mang naik keatas, terus ketemu sama Mba Gita. Tanya sama dia dimana ruangan saya. Segampang itu masih harus diajarin?" kata Rama dengan gayanya yang Bossy.


Beberapa karyawan mulai melihat taji dari calon Boss nya.


"Saya naik dulu ya Mas .. mau tanya ke Mba Gita" pamit Mang Ujang.


"Wait ... wait ... duduk disini aja" kata Rama sambil mengambil tumpukan berkas dari pangkuannya Mang Ujang.


Rama membawa semua berkas ditangannya dan cukup kerepotan memencet tombol lift. Izza yang juga akan naik lift langsung membantu memencet tombol agar pintu lift terbuka.


"Makasih" kata Rama sambil tersenyum.


Rama masuk kedalam lift, Izza menunggu diluar.


"Ampun deh Mas Boss ... giliran ada Izza sok bawa-bawa berkas, cuma sekedar buat dibukain pintu lift ... kebaca banget sih gayanya" umpat Mang Ujang.


.


"Kamu mau naik juga kan?" tanya Rama.


"Gapapa .. Bapak duluan aja" kata Izza kikuk.


"Udah dibilang jangan panggil Bapak.. ohhh .. bentar ... Mang ... Mang Ujang ... sini" panggil Rama dari dalam lift.


Mang Ujang buru-buru menghampiri Rama.


"Kenapa Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Sini naik lift" ajak Rama.


Mang Ujang masuk kedalam lift dan Izza mengikuti dari belakang. Semua berkas yang ada ditangan Rama langsung diserahkan kembali ke Mang Ujang.


"Ini semua tolong diletakkan di ruangan Pak Isam ya" perintah Rama dengan gaya dibikin rada serius.


Mang Ujang cuma mlongo.


"Udah sarapan Za?" tanya Rama.


"Ini saya beli di warung depan, sama buat Mba Gita juga" jawab Izza.


"Biasanya kalo cewe suka bawa makanan sendiri, pasti kesiangan ya" terka Rama.


"Iya tadi saya bangun kesiangan, jam enam baru bangun, jadinya buru-buru deh" jelas Izza.


"Bawain berkas cuma buat pencitraan, ujung-ujungnya kita juga yang jadi korban. Punya Boss kok ya pinter ngerjain bawahan" kata Mang Ujang dalam hati.


Pintu lift terbuka, mereka semua keluar. Mang Ujang berjalan kearah ruangan Pak Isam. Rama mengikuti langkah Izza menuju ke Pantry.


Begitu melihat Rama masuk Pantry, para pekerja yang lagi membuat kopi dan teh serta yang lagi sarapan langsung menyingkir ke rooftoop yang memang digunakan sebagai ruang santai dan ruang makan karyawan.


"Maaf Kak ... ga usah sampai kaya gini, nanti apa kata orang" kata Izza ngomong setengah berbisik.


"Kata orang? emang saya ngapain?" tanya Rama bingung.


"Kak Rama mau apa?" ucap Izza sambil mengeluarkan dua cangkir kosong dan menyeduh teh.


"Mau sarapan" jawab Rama.


"Sarapan apa?" tanya Izza lagi.


"Kamu beli apa?" balik Rama bertanya.


"Ini ada dua bungkus nasi uduk, kalo Kak Rama mau, bisa makan yang sebungkus, nanti yang sebungkus lagi buat Mba Gita" jelas Izza.


Mba Gita datang ke Pantry.


"Mba Gita keberatan ga kalo nasi uduknya saya makan?" tembak Rama.


Mba Gita tersenyum.


"Makan deh, udah lama kan ga sarapan nasi uduk. Nanti Mba bikin roti aja" ujar Mba Gita sambil menuju tempat roti dan selai berada.


"Makasih ya atas sarapannya" jawab Rama.


"Za ... siapin makanan buat Mas Rama. Oh ya dia ga suka manis, kasih teh tawar aja" pinta Mba Gita.


Izza menjalankan instruksi Mba Gita. Setelah selesai mengoles roti, Mba Gita pamit ke ruangannya.


.


"Mang... itu Boss cilik suka sama Izza ya?" tanya karyawan ke Mang Ujang.


"Keliatannya gimana?" tanya Mang Ujang balik.


"Ya keliatannya mah suka. Tapi kalo suka juga gapapa sih, secara Izza itu kan adiknya Mba Gita, pasti Pak Isam ga akan melarang" ucap karyawan yang lain.


"Masih sepadan lah ... dibandingkan Kakaknya dulu" lanjut lainnya.


"Kakaknya? maksudnya Mas Haidar?" kata Mang Ujang meyakinkan.


"Emang kenapa sama anaknya Pak Isam?" tanya Mang Ujang yang emang orangnya super kepo.


"Tau ga sih, mereka kaya kena kutukan percintaan beda kasta" jawab lainnya.


"Maksudnya gimana?" tanya Mang Ujang lagi.


"Mereka selalu jatuh cinta sama yang ga selevel" bisik salah satu karyawan.


"Bukannya Mas Haidar nikah sama orang yang super kaya juga?" ujar Mang Ujang.


"Itu mah nikahnya, tapi pacarannya sama resepsionis disini. Gosipnya juga mereka hampir kawin lari karena ceweknya hamil duluan. Tapi sampai detik ini ga ada yang tau keberadaan cewe itu. Terus anak perempuan Pak Isam juga kawin lari sama Office Boy" jelas karyawan.


"Kenapa kisahnya pada kawin lari. Kita do'akan bersama kalo Mas Boss Rama ini ga kawin lari. Ya kalo udah sama-sama cinta kan bisa ngomong baik-baik" tutur Mang Ujang bijak.


"Percintaan orang kaya tuh kudu sekasta Mang Ujang. Repot kalo ga sama-sama kaya. Bisa dicurigain cuma incer hartalah, mau hidup senang ga pake kerjalah .. ya pokoknya yang bau-bau uang gitu deh" kata lainnya.


Rama duduk dihadapan Izza, jelas aja Izzanya kikuk dan salah tingkah sama kelakuan Rama.


"Za.. nasi uduk apa yang paling enak sedunia?" tanya Rama iseng.


"Ya seenak-enaknya nasi uduk ya begini aja rasanya. Semua kan balik ke selera pribadi" jawab Izza panjang lebar.


"Ada ... uduk berdua denganmu" jawab Rama sambil ketawa sendiri.


"Busyet deh ... Boss ga mau keduluan yang lain, yang bening udah langsung disikat" ujar karyawan.


"Ngenes banget dengar gombalannya. Anak SD di kampung saya aja udah level dewa gombalannya" kata Mang Ujang sambil geleng-geleng.


"Ajarin Mang" canda karyawan lainnya.


"Iya nih... harus ditatar nih Mas Boss. Jangan malu-maluin kaum Adam dengan gombalan kacangan kaya gitu" ucap Mang Ujang.


.


Ga jauh dari para karyawan yang sedang memperhatikan Izza dan Rama, ada Pak Isam yang berdiri tegak melihat kearah Pantry.


🏵️


Anindya bersedia membantu Rama buat mengembalikan kejayaan bisnis milik Pak Isam seperti dulu karena sekarang dia sudah terjun mengurus perusahaan Papanya. Butik yang dimiliki secara pribadi, sudah diserahkan ke orang yang lebih paham tentang fashion dan manajemen bisnis.


Memang jiwa bisnis Anindya itu luar biasa, apa yang dia pegang ga pernah rugi, ide-idenya cemerlang dan yang paling penting itu adalah kemampuan untuk bisa masuk ke pergaulan lintas usia. Anindya juga sudah bersedia membantu menyuntikkan dana keuangan jika diperlukan oleh Rama.


Rama masih belum total sepenuh hati dan raganya mengurus bisnis Pak Isam. Hampir dua minggu sudah ia mempelajari tentang laporan keuangan, ada yang aneh menurutnya, tapi dia belum bisa menyimpulkan terlalu dini. Dia masih ingin berbincang dengan bagian terkait.


Mba Gita menjadi orang yang selalu siap membantunya untuk menjawab hal-hal yang masih rancu baginya. Urusan pembayaran pesangon karyawan Hotel pun sudah dalam tahap pengajuan kebagian keuangan, pembayaran akan dibagi menjadi empat tahap. Aset properti di Hotel tersebut pun sudah dalam proses lelang.


❤️


Haidar sedang berlibur ke Bali bersama Sachi, ada gathering dari pusat merchant minimarket yang ia miliki franchisenya. Haidar pergi bersama pengasuhnya Sachi dan suami pengasuhnya (agar ga menimbulkan fitnah).


Sejak perceraiannya dengan Anindya, membuat Haidar bisa lebih total mengurus Sachi. Haidar berniat mengurangi beban pikiran Rama yang sudah mulai fokus ke perusahaan.


Beberapa kali memang Sachi menanyakan tentang keberadaan Ayah Ramanya, tapi Haidar selalu bilang kalo Ayah Rama lagi kerja bantuin Yangpi (Eyang Papi, sebutan buat Pak Isam).


Haidar memang sudah bilang ke Rama untuk mengurus Sachi dan meminta Rama membantu Papinya.


🍒


Jum'at malam sepulang kerja, Rama mengajak Mang Ujang buat nongkrong didaerah Puncak. Sejak membuka flashdisk milik Nay, ada perasaan penasaran terhadap restoran yang Nay ceritakan sebagai tempat dimana untuk pertama kalinya Haidar menyatakan cinta.


"Kita mau kemana Mas Boss?" tanya Mang Ujang sambil membantu Rama membawakan banyak tumpukan berkas dan dua unit laptop menuju mobil.


"Mang bebas ga hari ini? Ya sampe Sabtu sore lah" kata Rama sambil memasukkan barang bawaannya ke bangku belakang mobil.


"Besok ya... kalo Mba Gita bilang tuh jam kerja abdi mah sarua ku jam kerja Mas Boss" ucap Mang Ujang dengan bahasa gado-gado.


Mang Ujang tipe orang desa yang mau menghilangkan identitas dan berubah menjadi orang kota. Jadi udah jarang berbahasa Ibunya. Walaupun aksen lidahnya ga bisa menghilangkan identitasnya.


"Kita ke Puncak yuk.. teman saya baru buka restoran sate kambing di Puncak. Saya diundang buat nyobain sama ngobrol aja disana" ajak Rama.


"Ke Puncak? Kita berdua?" sahut Mang Ujang heran sambil garuk kepala.


"Emang kenapa? Ada larangan pergi berdua ke Puncak?" ucap Rama bingung.


"Atuh Mas Boss, aya-aya wae.. hawana tiis (udaranya sejuk) ..ngadahar (makan) sate kambing ...barengan sama Mas Boss.. hadeuhhhh lengkap sudah penderitaanku... ya Allah tolong selamatkan Ujang" ucap Mang Ujang becanda.


"Mang... biar kata saya jomblo juga masih tau dosa, ga mungkin saya macam-macam sama Mang. Saya masih suka perempuan. Sini kunci mobil, saya yang bawa mobilnya" ucap Rama.


Mang Ujang menyerahkan kunci mobil ke Rama.


"Saya tau Mas Boss ga bakalan macam-macam sama saya, atuh maen pedang kita, tapi saya khawatir justru saya yang hilap sama peuyeum disana" ujar Mang Ujang.


"Peuyeum ...tape?" tanya Rama serius sambil memakai sabuk pengaman.


"Peuyeumpuan Mas Boss... cantiknya kelewatan" Mang Ujang berkhayal.


"Mang Ujang udah nikah?" tanya Rama kepo.


"Hampir nikah tepatnya Mas Boss.." jawab Mang Ujang sambil nelen ludah.


Mesin mobil dinyalakan dan sudah mulai melaju meninggalkan parkiran mobil.


"Hampir?" tanya Rama meyakinkan.


"Ya... beginilah nasib playboy Mas Boss, jaman masih ganteng saya mah banyak pacar, eh giliran waktunya nikah .. tetottt... ga ada yang mau diajak kawin" jelas Mang Ujang.


"Ketulah tuh sama cewe, banyak disumpahin para mantan...hehehe" ejek Rama.


"Cobaan atuh Mas Boss, bukan sumpahan" bela Mang Ujang.


"Anu ngarana hirup mah loba cobaan, mun loba saweran eta ngarana dangdutan (namanya orang hidup tuh banyak cobaan, kalo banyak saweran namanya dangdutan)" canda Rama sambil tertawa.


"Hahaha.. Mas Boss lucu juga, beda banget sama Pak Isam dan Mas Haidar yang mukanya ketat aja" jawab Mang Ujang.


"Ya...karena saya dididik dengan cara yang berbeda .." ucap Rama serius.


"Mas Boss juga kenapa masih jomblo... tampang keren, kaya raya, sekolah diluar negeri, calon Boss .. udah lengkap banget atuh" ucap Mang Ujang.


"Tapi dompet masih tipis dan rekening masih tongpes... hahaha... Realistis aja Mang, hari gini mana ada yang mau diajak susah duluan" kata Rama sambil menyetel radio mobil.


"Dompet tipis kan karena isinya kartu semua Mas Boss... nah kalo saya yang ngomong baru orang percaya deh saya ini tongpes.. kantong kempes" kata Mang Ujang.


"Perusahaan Papi lagi begini Mang... Otak saya harus fokus kesana, kalo jodoh mah ga kemana lah Mang... dia akan menunggu saya" ucap Rama yakin.


"Jodoh emang ga kemana-mana Mas Boss, tapi kalo ga dicari ya atuh ga ketemu" jawab Mang Ujang.


"Mang Ujang umurnya berapa?" tanya Rama lagi.


"Dua bulan lagi genap dua puluh delapan tahun" jawab Mang Ujang.


"Masih muda ya ... tapi panggilannya udah Mamang.. boros tampang sih" ledek Rama puas.