HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 210, Result



"Pak.. saya dan suami sudah berdiskusi, tentang kerja sekantor disini. Setelah dipertimbangkan secara panjang lebar, sepertinya akan banyak negatif daripada positifnya. Kami khawatir tidak bisa bekerja secara profesional" kata Farida saat mengantar dokumen untuk Rama di ruangan Rama.


"Duduk dulu Rida" pinta Rama.


Farida duduk dihadapannya Rama.


"Oke saya paham dengan keputusan kalian .. terus bagaimana kelanjutan yang kalian diskusikan?" tanya Rama.


"Suami saya biar tetap di katering milik Bapak saja. Saya akan tetap disini dengan jabatan baru yang Bapak percayakan ke saya" jelas Farida.


"Suami kamu belum hubungi saya untuk keputusan ini" ujar Rama.


"Katanya ga enak bicara sama Bapak secara langsung. Beliau bilang kalo Bapak banyak menolong keluarganya. Dulu mertua saya dibiayai operasi usus buntu, padahal Bapak belum kenal lama sama suami saya. Bapak juga yang membantu kedua adik suami saya bisa melanjutkan sekolah" jawab Farida.


"Sudah ketahuan dong ya saya gimana.. rupanya suami kamu sudah membongkar banyak hal tentang saya. Sebenarnya tidak perlu hal itu dibuka kembali, sudah berlalu. Apa yang saya dapatkan sudah seharusnya dikeluarkan bukan? ada titipan dari Allah SWT untuk saya share ke yang membutuhkan" kata Rama merendah.


"Kebaikan yang Bapak lakukan itu layak untuk diceritakan, bukan untuk pamer, tapi sebagai contoh. Mulia sekali Pak Rama ini, seorang pengusaha muda yang sukses, punya keluarga yang harmonis dan bahagia, serta banyak diliputi keberuntungan dalam dunia bisnis" puji Farida.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. terima kasih jika itu do'a untuk saya dan keluarga, semoga kamu juga mendapatkan hal yang sama" jawab Rama.


"Maaf ya Pak.. sekali lagi bukan kami menolak perintah atasan, ini murni demi profesionalitas kerja" lanjut Farida.


"Saya paham .. kalian sudah memutuskan yang terbaik menurut kalian. Pasti berat jika beririsan antara pekerjaan dan rumah tangga. Saya hanya bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk kamu dan suami berkembang di perusahaan yang saya miliki. Jadi tidak ada masalah mau di Abrisam Group atau perusahaan katering" ucap Rama.


"Terima kasih Pak.. terima kasih atas pengertiannya dan kesempatan yang diberikan ke kami. InsyaAllah kami akan memberikan yang terbaik di perusahaan Bapak" kata Farida.


"Kalian berdua memang sangat potensial. Semoga kalian bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan-perusahaan saya dan jujur pastinya. Jangan pernah menjadi pengkhianat. Sekali pun sudah tidak nyaman dengan perusahaan tempat kita bekerja, ingat.. kita pernah mengabdi disana dan diberikan gaji serta pengalaman berharga. Di Jakarta, pemilik perusahaan hanya dia dia saja, jadi akan terus berkaitan. Akan susah bagi pengkhianat bisa mendapatkan posisi yang bagus jika masih ingin bekerja di Jakarta" jawab Rama.


"Baik Pak.. saya dan suami akan ingat pesan Bapak" lanjut Farida.


🌿


Hari ini Rama mengantar Izza ke Rumah Sakit, sudah janjian bertemu dengan Pak Sandy disana. Pak Sandy juga ditemani oleh semua anak dan menantunya.


Rencananya jam sembilan pagi ini, hasil akan dibacakan oleh dokter penanggung jawab tes DNA.


Wajah ketegangan Izza dan Pak Sandy sangat tampak. Keduanya duduk di sofa yang saling berhadapan di ruang tunggu eksekutif.


Izza terus menggenggam tangannya Rama. Rama pun terus menguatkan Izza dengan mengusap tangannya Izza yang terasa dingin.


"Banyak berdo'a De.. " saran Rama.


"Udah Kak.. tapi ga tenang rasanya" ucap Izza berbisik.


Pak Sandy melihat kearah Izza yang gelisah.


"Kamu sakit Za?" tanya Pak Sandy.


"Alhamdulillah sehat Pak" jawab Izza mencoba untuk tersenyum.


"Santai aja Za.. apapun hasilnya, kami sekeluarga menerima dengan lapang dada. Jadi kamu tidak perlu khawatir kami akan kecewa dan marah. Toh tes DNA ini juga hasil kesepakatan kami sekeluarga" timpal Mas Barry.


"Iya Za.. tidak ada yang perlu dicemaskan. Rama kan ada, dia akan menjadi support system terdepan kamu Za.. benar kan Ram?" tanya Pak Sandy.


Rama tersenyum kearah Pak Sandy.


"Andai kita boleh memilih, tentu semua orang ingin hidup ideal. Terlahir dari keluarga baik-baik, dengan kisah penuh cinta, membesar dengan rasa kasih sayang, bahkan inginnya tidak ada masalah apapun. Tapi terkadang kita dihadapkan pada kenyataan pahit yang harus dijalani dan diterima sebagai sebuah takdir. Ini adalah statement saya untuk istri saya, Izza, dan tentunya untuk keluarga Pak Sandy. Apapun hasilnya nanti, tidak akan mengubah cinta saya terhadap Izza. Mungkin akan ada sedikit perubahan cerita hidup Izza, apapun itu.. saya harap Izza bahagia. Sudah cukup air mata menghias wajah ayunya sedari kecil. Pak Sandy.. maaf sebelumnya jika saya tidak sopan.. tapi saya kembali ingatkan, jangan pernah mengusik Izza tanpa kebenaran ijin dari saya sebagai suaminya. Dia adalah tanggung jawab dunia akhirat saya" kata Rama dengan penuh penekanan.


"Bapak paham Ram.." jawab Pak Sandy bijak.


Perawat keluar dari ruangan dan memanggil Izza dan Pak Sandy untuk masuk kedalam ruangan.


.


"Selamat pagi.. Bapak.. Ibu.. silahkan duduk" sapa dokter yang ada didalam ruangan dengan ramahnya.


"Selamat pagi dok" jawab Pak Sandy dan Izza berbarengan.


"Bagaimana.. apa sudah siap saya bacakan hasilnya?" tanya dokter.


"Siap dok" jawab Pak Sandy.


"Hasil tes DNA ini bisa dikatakan hampir seratus persen akurat (lebih dari sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen). Jika ada kesalahan pun, sangat kecil kemungkinannya, kira-kira satu banding satu juta kasus. Biasanya kesalahan disebabkan oleh faktor human error, terutama pada kesalahan interpretasi fragmen-fragmen DNA oleh operator (manusia). Namun, dengan menerapkan prosedur standar yang benar, human error tentu dapat diminimalisir, bahkan ditiadakan. Seseorang bisa dikatakan memiliki hubungan darah jika mempunyai enam belas STR (STR/short tendem repeat adalah daerah pada DNA dengan unit berulang pendek biasanya berukuran sekitar dua sampai enam pasang basa). Jika urutan dan pengulangannya sama, maka kedua orang yang dicek terbukti punya ikatan saudara kandung atau hubungan darah yang dekat. Dan hasil pemeriksaan antara kedua sampel milik Bapak dan Ibu adalah identik. Jadi kesimpulannya antara Bapak Sandy dan Ibu Izza adalah Ayah dan Anak secara pemeriksaan medis. Untuk yang berkaitan dengan hukum dan sebagainya, silahkan ke pihak yang berhubungan dengan hal itu. Kami pihak Rumah Sakit hanya bisa mengeluarkan hasil yang kami jamin keabsahannya. Di pengadilan pun, bisa dijadikan salah satu barang bukti kuat. Ada yang mau ditanyakan?" papar dokter.


Pak Sandy tersenyum lega, tapi Izza menitikkan air matanya. Pak Sandy cepat tanggap.


"Terima kasih dok, kami pamit dulu, cukup jelas penjelasan dari dokter" ucap Pak Sandy.


Izza berjalan dibelakangnya Pak Sandy. Bahkan Pak Sandy membukakan pintu untuk Izza dan mempersilahkan Izza keluar dari ruangan terlebih dahulu.


Begitu pintu terbuka, semua mata memandang kearah mereka berdua.


Izza langsung berlari meninggalkan ruang tunggu, Rama langsung mengejarnya.


.


Didalam mobil, tangis Izza makin pecah. Alex dan Mang Ujang yang ada di mobil hanya bisa diam tapi penuh tanda tanya.


Selain Pak Isam dan Mas Haidar, memang tidak ada yang tau mengenai tes DNA ini. Wajar jika Mang Ujang dan Alex tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi.


Mang Ujang memberikan kode ke Alex untuk menanyakan kenapa Izza menangis. Tapi Alex menggelengkan kepalanya.


Izza minta diantar ke makam Ibunya, Rama menginstruksikan Mang Ujang untuk menuju tempat pemakaman umum.


.


Rama dan Izza berjalan menuju makam orang tuanya Izza. Mang Ujang dan Alex menunggu di parkiran.


"Mba Boss keluar dari Rumah Sakit kenapa nangis ya? apa dia keguguran?" tanya Mang Ujang penasaran.


"Ga tau Mang.. kayanya lagi ga ada berita apa-apa, tiba-tiba hari ini nangis sesenggukan gitu. Boss juga diam aja, ga ngomong apa-apa dari tadi didalam mobil. Apa karena sedih banget ya" jawab Alex bingung.


"Mas Boss mulutnya diam, tapi tangannya aktif meraba dan memeluk Mba Boss" sahut Mang Ujang.


"Yang diraba dan dipeluk kan istrinya ini Mang.. ga ada masalah dong?" bela Alex.


"Emang ga dengar berita apa gitu Lex?" ucap Mang Ujang makin penasaran.


"Beneran Mang.. kalo hamil juga kan kita ga tau, waktu hamil Zian juga awalnya dirahasiakan. Eh tapi Zian kan belum juga empat bulan, masa udah isi lagi" kata Alex.


"Bisa aja Lex.. begitu kelar masa nifas, langsung hajar bleh, ditambah sering serangan fajar.. nah apa ga langsung tekdung lagi tuh" pikir Mang Ujang.


"Jangan mulai lagi bikin berita versi pemikiran Mamang. Nanti salah lagi bisa-bisa Boss ngamuk" ingat Alex.


"Terus apa dong kalo bukan keguguran? apa Mba Boss kena penyakit yang mematikan sampe minta diantar kesini untuk pesan kapling makam dekat orang tuanya?" masih Mang Ujang kepo.


"Astaghfirullahal'adzim Mang... jangan ngomong begitu. Kita do'akan yang terbaik untuk Mba Izza dan Boss. Awas ya kalo masih juga Mamang mikir yang aneh-aneh kaya tadi, bukan cuma Boss yang bakalan ngamuk, nih bogem mentah dari saya siap bersarang di pipinya Mang Ujang" ancam Alex sambil mengepalkan tangannya.


.


Izza menangis disamping makam kedua orang tuanya. Setelah lima belas menit, Rama mengajaknya keluar dan duduk dibawah pohon tepat didepan tempat pemakaman umum.


"Itu kenapa Boss sama Mba Boss malah neduh dibawah pohon, kan bisa naik mobil terus sambil jalan" kata Mang Ujang.


"Mungkin ingin menjaga privasi Mang, kan kalo di mobil ada kita" jawab Alex.


.


Rama dan Izza kembali ke mobil.


"Lex.. Mang.. naik taksi aja ke Kantor, saya mau antar istri pulang dulu" perintah Rama sambil memberikan uang dua ratus ribu rupiah.


"Mamang bisa antar kok Mas Boss" inisiatif Mang Ujang.


"Kami perlu space untuk berbicara hanya berdua saja. Lex.. tolong reschedule jadwal saya hari ini ya. Tidak ada meeting untuk hari ini" papar Rama.


"Siap Pak" jawab Alex.


.


"Pesen taksi online Lex .. ada-ada aja emang Mas Boss.. segala butuh spes berdua.. emang spes apaan sih Lex?" tanya Mang Ujang.


"Ruang" jawab Alex singkat.


"Ruang? kamar gitu maksudnya? Mas Boss mau anu-anu di mobil? ealah... kaya ga ada tempat lain aja. Punya Boss kok idenya aneh, istri nangis-nangis malah diajak enak-enak sebagai hiburan. Mending pada sewa kamar hotel aja apa sih daripada jadi mobil goyang" kata Mang Ujang.


"Otak tuh bersihin, jangan pikirannya kesana mulu. Mereka bukan butuh ruang dalam bentuk nyata, tapi kiasan. Ngerti ga kiasan?" sahut Alex kesal.


"Kiasan itu kaya hiasan gitu?" tanya Mang Ujang dengan polosnya.


"Bukan hiasan tapi masih sodaraan sama kipasan.. paham????" ujar Alex asal.


"Kipasan? maksudnya gerah gitu? kamu ya Lex.. dikuliahin sama Mas Boss bukannya pinter malah keblinger. Mending Mamang deh, ga mau dikuliahin lagi.. biar ga tambah dongdong kaya kamu sekarang ini" sahut Mang Ujang geram.


Alex diam, dia masih fokus sama aplikasi taksi online dan menjawab beberapa chat yang masuk untuk menanyakan keberadaan Rama. Meneruskan pembicaraan sama Mang Ujang malah nanti bisa merusak moodnya hari ini karena emosi.


.


"Semalam kan sudah kita bahas De.. termasuk jika hasilnya seperti sekarang ini" buka Rama.


"Bukan hasilnya Kak yang membuat sedih. Tapi kecewa berat sama Ibu yang sudah melahirkan Izza. Hasil tadi bisa menjadi sebuah bukti jika apa yang Pak Sandy ceritakan itu benar. Ibu sudah menjadi simpanan Pak Sandy, bahkan tidur dengan lelaki lain selain Bapak dan Pak Sandy. Kakak ga akan bisa merasakan apa yang Izza rasakan saat ini. Ditambah hasil tadi memperkuat jika Izza adalah anak hasil hubungan terlarang.. anak haram.. anak diluar nikah.. " sahut Izza dengan segenap emosinya.


Rama mencoba memberikan ruang untuk Izza mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.


"De.. kita tidak tau secara pasti bagaimana kondisi saat itu, bisa jadi karena tekanan ekonomi dan tidak memiliki kepandaian yang dapat diandalkan untuk mencari rejeki halal. Modalnya ya cuma kecantikan dan bentuk badan yang aduhai. Bisa jadi karena suami yang tidak bertanggung jawab, padahal ada beban biaya anak-anak yang masih kecil-kecil. Dulu Kakak banyak bergaul juga dengan para pekerja seperti itu, tapi tidak memakai jasa servisnya ya.. hanya sekedar berbincang. Kita terkadang harus tutup mata untuk menyelamatkan sesuatu yang mereka prioritaskan, terlepas dari nilai-nilai agama tentunya. Kakak tidak bermaksud menyetujui perbuatan perempuan-perempuan yang dianggap sebagian masyarakat itu sebagai orang rendahan, tetapi sebenarnya mereka itu pejuang keluarga. Bicara soal moral pun relatif.. apa moral para koruptor lebih baik dibandingkan wanita malang tersebut?" ungkap Rama.


Izza berhenti menangis, dia membersihkan wajahnya dengan tissue.


"Kamu sendiri yang menginginkan tes ini karena untuk meluruskan semuanya. Kakak memang menyerahkan semua keputusan ke kamu, tapi ini yang Kakak khawatirkan.. kamu ga siap menerima kenyataan. Jadilah orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita ucapkan De. Selesaikan dengan baik-baik, Pak Sandy menunggu action kamu selanjutnya. Beliau akan mengikuti semua keputusan kamu" saran Rama.


Izza masih diam, dia mengambil botol minumnya.


"Lapar?" tanya Rama.


"Ngga" jawab Izza.


"Hari ini mau main sama Zian di rumah atau mau jalan-jalan?" tanya Rama lagi.


"Di rumah aja" kata Izza.


"Kakak antar pulang terus lanjut berangkat ke kantor ya, banyak urusan. Kayanya akan pulang diatas jam sembilan, kamu makan dan tidur duluan aja, ga perlu tunggu Kakak" info Rama.


"Ya..." jawab Izza singkat.


"Berharap Kakak tanya apa kamu baik-baik aja ya? terlalu klise. Kamu tau apa yang harus dilakukan, hanya kamu tidak berani melakukannya. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159). Islam menganjurkan untuk bermusyawarah dengan sikap yang lemah lembut kemudian membuat kesepakatan serta menjalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, setelah itu bertawakkal kepada Allah SWT. Pikirkan baik-baik De" saran Rama panjang lebar.


"Terima kasih sudah selalu mengingatkan" kata Izza sambil mengusap tangannya Rama.


"Tau ga De.. perasaan terbaik di dunia ini buat Kakak adalah ketika kamu menatap Kakak seolah-olah Kakak adalah orang terbaik yang pernah ada dalam hidup kamu" jawab Rama.


"Salah satu yang terbaik yang pernah hadir Kak.." ujar Izza meluruskan.


"Ya.. orang-orang dalam hidup kita semua terbaik.. karena selalu memberikan banyak pelajaran. Termasuk kamu dan Zian.. titipan Allah yang membuat Kakak banyak belajar lagi. Terutama kesabaran.. menghadapi kamu yang emosi ga stabil aja kadang pusing.. ditambah sekarang Zian yang kadang keras kepala seperti Mommynya.. sepertinya Allah masih menguji kesabaran seorang Ayah yang karismatik ini" goda Rama.


"Ih... muji diri sendiri.. " sahut Izza sambil tersenyum.


"Nah gitu dong.. kalo senyum kan manis" rayu Rama.


"Ga ada gitu rayuan yang ga standar seperti tadi?" tanya Izza.


"Apa ya.. kayanya Kakak mau belajar dulu sama Mas Candra. Dia kalo ngerayu itu ga kacangan.. cerdas dan lucu pokoknya" jawab Rama.


"Janganlah Kak.. cukup jadi seorang Rama saja. Belum tentu orang seperti Mas Candra sesabar, sebaik, seunik bahkan secerdas Kak Rama" puji Izza.


"Aduh.. aduh.. pujiannya bikin melayang.." sahut Rama.


"Kakak tuh Banten.. Bikin aman, nyaman dan tenang" ujar Izza mulai mau becanda.


"Kalo Mommy Zain itu Magetan.. manisnya kebangetan" sahut Rama ga mau kalah.


Keduanya tertawa bersama.


"Kakak selalu bisa membuat dunia Izza yang hitam putih berubah jadi berwarna. Ya Allah.. berikan kesehatan, keselamatan dan keberkahan disetiap langkah suami hamba.. " kata Izza dalam hatinya sambil memandang Rama yang sedang menyetir disebelahnya.


💠


"Jadi kita tunggu keputusan Izza Pa?" tanya Mas Barry.


"Iya" jawab Pak Sandy.


"Papa kan lebih tua, kenapa tidak dia yang ikut keputusan Papa?" tanya Mas Barry.


"Barry.. sejak awal kita tau penolakan Izza. Dia bersedia melakukan tes ini untuk menjawab keraguan. Sekarang sudah terjawab. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Hasil ini bisa dibilang aib keluarga kita terutama Papa" ingat Pak Sandy.


"Tapi kan Papa mau memberikan haknya dia, Papa juga ga menuntut dia mengakui Papa kan? apa Barry bantu ngomong ke Rama?" inisiatif Mas Barry.


"Rama pasti sudah memberikan pandangannya ke Izza, jadi ga perlu ada intervensi kamu lagi, Rama pasti sudah selangkah lebih maju dari kita" kata Pak Sandy.


"Tapi kan kita sudah sepakat jika Audah Hotel akan dibagi buat bertiga anaknya Papa. Mbak.. Barry dan Izza" ujar Mas Barry.


"Rama punya harta melebihi sepertiga bagian Audah Hotel.. jadi Izza tidak akan silau dengan hal itu Barry. Belajar bijak Barry.. tidak semua bisa diselesaikan dengan uang, meskipun banyak hal bisa diselesaikan dengan uang. Papa minta kamu bisa sedewasa Rama. Dia tidak mencampuri tentang hal ini sejak awal, hanya memberikan batasan yang berkaitan dengan psikologis istrinya saja. Andai kamu ada di tempatnya Izza.. kamu pasti bisa merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Papa tanya.. apa ada anak yang tidak kecewa mendapati kenyataan Ibu kandungnya adalah wanita penghibur? apa ada anak yang tidak sedih mendengar kenyataan asal usulnya dari hubungan terlarang dua manusia yang bodoh dan mengedepankan hawa nafsu belaka?" papar Pak Sandy sedih.


Anak dan menantunya Pak Sandy diam.


💐


"Kira-kira hasil tes DNA nya apa ya? Papi rada penasaran nih" buka Pak Isam.


"Feeling Mas kayanya identik Pi, banyak kemiripan wajah dan cara tersenyum keduanya" jawab Mas Haidar.


"Iya.. Papi juga memperhatikan hal itu" kata Pak Isam.


"Yang perlu kita khawatirkan itu justru ledakan psikologisnya Izza. Tau sendiri dia masih belum stabil emosinya sejak kena baby blues kemarin" ucap Mas Haidar.


"Rama pasti tau cara menangani hal ini" ucap Pak Isam.


Izza masuk kedalam rumah dan berlari menuju kamarnya lewat tangga. Dia tidak melihat ada Mas Haidar dan Pak Isam duduk tidak jauh dari tangga.


Pak Isam dan Mas Haidar saling bertatapan sambil mengangkat bahunya.


Ada pesan masuk ke HP milik Mas Haidar.


#Tolong bilang ke semua orang di rumah, biarkan Izza menyendiri, tidak perlu ditanya apapun. Kita berikan dia ruang yang seluas-luasnya untuk berpikir#.


Mas Haidar menunjukkan chat dari Rama ke Pak Isam.


.


Mang Ujang menelepon Mas Haidar. Menceritakan tentang Izza yang menangis dari Rumah Sakit hingga makam orang tuanya.


"Beneran deh Mas.. kayanya Mba Izza keguguran atau kena penyakit berbahaya, ngapain coba dari Rumah Sakit ke kuburan" ucap Mang Ujang mencoba meyakinkan.


"Jang... jaga mulut.. kayanya besok saya akan minta Rama buat kasih kamu cuti khusus selama seminggu buat balik ke Pesantren" kata Mas Haidar.


"Memang nih Mas Haidar orang yang paling paham sama Ujang. Tau aja Ujang butuh hiburan dan istirahat di kampung" ujar Mang Ujang sumringah.


"Jangan lupa ke mertua, minta di ruqyah sama dimasukin ke gentong yang gede buat direndem kepalanya. Kali aja tuh otak jadi adem dan bisa berpikir jernih" omel Mas Haidar sambil menutup sambungan telepon.


"Hadeeehhhh... ga Kakaknya.. ga adiknya.. masa suruh Mamang di ruqyah, beneran nih fix.. orang di rumah Boss Papi itu semua kena gangguan jin, jadinya pada ngelantur" ucap Mang Ujang.


Dilihatnya Alex yang duduk disebelahnya tertidur, padahal Alex pura-pura tidur biar Mang Ujang berhenti bicara.


"Diajak ngobrol malah tidur.. ini nih.. nanti begitu bangun ga tau apa yang lagi dibicarakan, tau-tau ngoceh ga nyambung" keluh Mang Ujang tanpa rasa bersalah.