HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 201, Husband



"Mba.. ada paket buah, saya bawa keatas atau diletakkan ke dapur saja?" lapor security rumah lewat sambungan telepon PABX ke kamarnya Izza.


"Dapur aja, nanti saya mau turun ke dapur" jawab Izza.


Mba Nur dan Sachi yang menemani Izza di kamar, menuju dapur untuk melihat paket kiriman yang ditujukan untuk Izza.


"Siapa yang kirim ya?" tanya Izza saat turun pakai lift.


"Mungkin Mas Rama" jawab Mba Nur.


"Buat apa dipaketin, sebentar lagi juga pulang" jawab Izza.


"Maksudnya buat Mas Rama, dari rekan kerjanya mungkin" lanjut Mba Nur.


"Bisa jadi.. eh tapi nama penerimanya saya. Kalo untuk Kak Rama kenapa tidak ditujukan nama penerimanya beliau" ucap Izza.


"Nanti kita lihat saja.. oh ya Mba.. kamarnya Mas Rama keren ternyata, baru sekali saya masuk, biasanya cuma diluar pintu saja. Simple, ga banyak barang, rapih, nyaman tapi tetap modern" kata Mba Nur kagum.


"Dulu Kak Rama kan punya cita-cita jadi arsitek, pasti kamarnya didesain sendiri, liat aja plafonnya tinggi dibandingkan ruangan yang ada disini, sekatnya juga beda. Orang rumah pernah bilang katanya ada renovasi kamarnya Kak Rama setelah pulang study dari luar negeri" jelas Izza.


"Jauh ya dari arsitek jadi pengusaha. Tapi enakan jadi pengusaha, uangnya banyak" ujar Mba Nur.


"Tapi konsekuensi tanggung jawab dan waktu juga tinggi. Semua pekerjaan kan ada plus minusnya Mba" jawab Izza.


.


Sesampainya di dapur.


Mba Nur membuka paket buah. Izza dan Sachi duduk dihadapannya Mba Nur.


"Dari siapa?" tanya Izza.


"Ga ada kartu ucapan apapun, disini hanya ditujukan buat Mba Izza terus alamat rumah" jawab Mba Nur.


Mba Nur mengeluarkan semua isi dalam kotak tersebut.


"Hubungin Kak Rama dulu deh, nanti takutnya salah kirim" ide Izza.


"Iya Mba.. siapa tau ini berbahaya, ada racun atau apa gitu" kata Mba Nur waspada.


"Makan aja De.. bumil butuh asupan buah-buahan segar kan? InsyaAllah aman, itu dari sebuah toko buah ternama kok, liat aja pitanya ada nama toko" ucap Rama sambil masuk ke dapur.


Rama mencium keningnya Izza dan Sachi.


"Dari siapa sih Kak?" tanya Izza.


"Dari rekanan" jawab Rama.


Sebenarnya memang sekarang bisa dibilang Pak Sandy adalah rekanan Abrisam Group, jadi Rama tidak perlu berbohong ke Izza. Hanya tidak menyebut nama saja.


Mang Ujang dan Alex masuk ke dapur, tadinya mau bikin kopi dan cari cemilan. Begitu melihat ada Rama, keduanya bersiap keluar.


"Masuk ... ngapain balik lagi, udah kaya sama siapa aja. Pasti mau gratakan dapur ya, mau cari makanan sama bikin minuman" tembak Rama.


Alex dan Mang Ujang nyengir bareng.


"Wah beli buah banyak amat sampe sekardus besar. Ngidam ya Mba Boss? eh tapi ngidam model apa ini buah-buahannya begini" tanya Mang Ujang.


"Dikasih Mang.. saya juga baru liat isinya apa aja"" jawab Izza.


"Buah-buahan import ini Mba" Alex ikut nimbrung sambil membantu mengeluarkan buah-buahan dari dalam kardusnya.


"Baik amat yang ngasih ya.. tau kali ya, kalo Mba Izza lagi hamil anak sultan, jadinya dikasih buah-buahan import. Gak kaya orang di kampung saya, ngidamnya mangga muda, kedondong.. paling keren juga jeruk" sahut Mang Ujang.


"Bukan import itu, masih buah lokal. Tapi itu ada juga sih yang import" sambung Rama.


"Buah lokal bukannya kecil-kecil Boss? ini besar-besar dan bagus bentuknya" tanya Alex sambil mengamati alpukat jumbo.


"Buah lokal sekarang juga banyak yang sudah memenuhi standar import, jadi kualitasnya ga kalah. Tapi ya memang harganya lebih mahal. Maklum transfer ilmu pertaniannya dari luar negeri. Petani lokal sebenarnya sudah banyak yang paham, tapi seringnya masih terpengaruh pasar dalam negeri, belum banyak yang pemain untuk import, repot sama regulasi yang berlaku kayanya. Ditambah packing untuk buah segar kan ga sembarangan, resiko rusak dan busuk juga tinggi. Bisa dibilang gamblingnya besar" papar Rama.


"Gembling apaan tuh Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Lex jelasin tuh ke Mang Ujang" pinta Rama.


"Gambling itu perjudian Mang.. tapi disini bisa diartikan peruntungannya ya antara untung atau rugi" jelas Alex.


"Masa jual buah impor harus main judi, ga halal dong jadinya" kata Mang Ujang yang kambuh lolanya.


"Udah .. ga usah bahas judi segala... tolong ambilin pisau sama piring" potong Rama.


"Heran deh sama Mas Boss, udah kaya gugel otaknya, apa aja serba tau. Segala milih nanas yang manis aja tau, apalagi buah-buahan import" Mang Ujang takjub.


"Ga semua tau juga sih Mang, hanya saja saya suka membaca. Ga sekadar bacaan bisnis, tapi selama artikelnya menarik ya dibabat habis. Ilmu ga ada yang ga berguna kan" jelas Rama.


Izza mengambil kertas yang ada didalam kardus. Ada keterangan nama buah yang ada didalamnya.


"Alpukat Wina, dari daerah Jetis Semarang. Alpukat ini berkualitas super, karena berukuran jumbo dengan berat mencapai satu setengah sampai dua kilogram per buah, rasa nikmat, lembut, gurih dan sedikit manis. Ada lagi Alpukat kendil, persilangan antara alpukat Kendal dengan alpukat Gunung Pati. Buahnya jumbo dengan berat rata-rata diatas satu koma tujuh kilogram per buah, rasanya lezat, tebal dan pulen. Bagus juga ini toko buah, kasih informasi yang kita butuhkan. Jadi kita makan pun ga penasaran" ucap Izza.


"Baru liat alpukat segede ini, udah kaya buah pepaya" ujar Mang Ujang.


"Sama Mang.. saya juga baru liat" ucap Alex.


"Berhubung kita sama-sama baru liat, tolong ya Mba Nur, dibelah dua terus kita coba bareng-bareng" pinta Izza.


"Mommy ini strawbery kok besar ya? kenapa buah-buahannya besar-besar? seperti perut Mommy yang besar ya?" tanya Sachi dengan polosnya.


Rama menutup mulutnya Sachi sambil memberikan kode ke Sachi. Yang lain menahan tawa, antara lucu sama pernyataan Sachi, tapi mereka khawatir Izza tersinggung.


"Mommy ga besar perutnya .. tapi ada dede bayi yang sedang bersiap-siap keluar dari perut Mommy" jelas Rama.


Izza diam sambil memegang buah-buahan satu persatu, jelas ada gurat kebingungan diwajahnya.


Rama melihat Izza penasaran sama buah-buahan. Rama tersenyum sambil mengambil sekotak strawberry isi sepuluh buah dan besar-besar pula. Kemudian Rama mencuci buah tersebut.


"Ini strawberry Korea.. Ayah pernah makan, manis banget rasanya, beda sama strawberry lokal" jelas Rama sambil menyuapi Izza strawberry yang tadi dicucinya.


"Manis.. enak banget" kata Izza senang.


Kemudian Rama memberikan juga ke Sachi.


"Enak.. kaya permen manis" ujar Sachi.


"Ya enak pake banget lah.. harga sekotak ini satu jutaan" lanjut Rama.


"Pernah liat di Supermarket, coba aja kamu cari di internet harganya, pasti seputaran itu" jawab Rama.


"Berarti satunya seratus ribuan Mas Boss? kalo beli nasi warteg, bisa makan sekeluarga itu" kata Mang Ujang.


"Nih saya bagi ya.. Mang Ujang satu.. nikmatin bareng Maryam. Alex juga satu, berdua sama Mba Nur" kata Rama.


Mang Ujang beranjak keluar dari dapur dan menuju kamar untuk berbagi sama Maryam. Alex dan Mba Nur menikmati strawberry berdua.


"Suka?" tanya Rama ke Izza dan Sachi.


"Banget" jawab Izza.


"Enak Yah" kata Sachi.


"Nikmatilah.. Kakak sudah pernah makan kok, jadi ga penasaran" pinta Rama.


🌺


Senin Pagi, Rama sudah janjian di Audah Hotel sama Mas Barry. Rencananya akan membahas tentang negosiasi harga saham kepemilikan Rama.


"Harga yang ditawarkan sudah fix atau masih bisa turun Ram?" tanya Mas Barry.


"Ini jual beli saham Mas.. bukan jualan baju di pasar.. hehehe. Ada-ada aja nih Boss" jawab Rama becanda.


"Makanya Mas tanya, seperti biasa kan jika jual beli ada nilai kesepakatan, ya siapa tau masih bisa digoyang" kata Mas Barry.


"Nego tipis saja Mas, uangnya untuk saya tanam ke Abrisam Group, karena rencananya akan ekspansi suatu bidang lagi" jelas Rama.


"Kamu itu otaknya cepet banget ya Ram.. sudah kepikiran bisnis lain begitu satu bisnis dilepas" ucap Mas Barry.


"Tuntutan hidup Mas.. hahahha.. maklum mau punya anak sebentar lagi" jawab Rama santai.


"Tapi Papa minta kamu tetap jadi Vice President disini Ram, ya seperti tenaga profesional saja, akan ada hitungan yang akan diatur" ujar Mas Barry.


"Saya sudah sampaikan ke Pak Sandy, rasanya sudah tidak bisa memimpin dua perusahaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Jadi harus ada yang dilepaskan. Pilihannya ya Audah Hotel dilepas agar bisa fokus membesarkan Abrisam Group. Toh saya sudah mengajukan nama Mas Barry untuk menggantikan posisi saya disini. Tenang Mas, saya akan transfer ilmu yang saya miliki. Officialnya seminggu saja ya untuk peralihan, selanjutnya bisa by phone, ga perlu sungkan ke saya Mas. Selagi bisa membantu ya akan saya bantu" tutur Rama.


Cukup lama mereka berbincang, Rama memang sudah mengosongkan jadwalnya hingga jam makan siang. Rama paham jika pertemuan seperti ini pasti akan ada banyak hal yang dibicarakan selain bisnis.


"Ram.. kamu bahagia menikah sama Izza?" tanya Mas Barry serius.


"Pertanyaan standar banget Mas.. apa pentingnya jawaban saya untuk Mas Barry?" tanya balik Rama dengan mimik muka serius.


"Hingga diusia pernikahan kami yang kelima, Mas memang memiliki tubuhnya Ani, tapi tidak hatinya Ram.. masih saja dia terbayang mantan terindahnya ... Candra" jawab Mas Barry agak sedih.


"Bab rumah tangga saya tidak bisa berkomentar apapun Mas. Selain usia pernikahan saya baru setahun, saya memang tidak terlalu peduli dengan rumah tangga orang lain. Wong rumah tangga Kakak kandung saya saja ga pernah mau tau" elak Rama.


"Tapi Mas boleh kan curhat, keliatannya kamu orang yang cocok untuk diajak ngobrol masalah pribadi" ucap Mas Barry.


"Kalo share pengalaman saya yang minim ini ya bisa saja Mas, tapi kayanya Mas ga akan puas dengan jawaban yang saya berikan nantinya. Masih cetek banget ilmu dan pengalamannya" kata Rama.


"Bagaimana membuat istri jatuh cinta ke suaminya?" ungkap Mas Barry.


Ada nada kecewa, marah sekaligus sedih keluar dari mulut Mas Barry. Rama mencoba untuk tetap tenang meskipun kaget mengetahui ada pasangan sudah lima tahun bersama tapi tidak ada cinta tulus dari keduanya.


"Ini saya ya Mas.. saya hanya bercerita apa yang saya alami secara pribadi. Mungkin dari cerita saya, Mas bisa ambil kesimpulan" buka Rama.


Mas Barry meletakkan HP nya dan menutup laptop yang ada dihadapannya. Fokus akan mendengarkan penuturan Rama.


"Takdir..." jawab Rama.


"Selain takdir ga ada? terus takdir Mas seperti ini gitu?" ujar Mas Barry penasaran.


"Apa yang bisa kita ucapkan selain ini takdir yang sudah melekat dalam diri kita sejak terlahir dimuka bumi ini. Sering kan kita dengar kalo jodoh, rejeki dan maut adalah kehendak Allah.. ya inilah cerita hidup yang kita jalani Mas" lanjut Rama.


"Itu sih udah tau Ram" jawab Mas Barry agak gemes sama jawaban-jawabannya Rama.


"Setelah kita menerima takdir.. ya langkah selanjutnya ikhlas. Ikhlas menerima semua ketetapan Allah" ujar Rama.


"Itu juga semua orang tau Ram, segala ikhlas kamu sebutin" sahut Mas Barry.


"Setelah ikhlas.. banyak-banyak meminta ampunan kepada Allah SWT, hanya padaNya kita meminta pertolongan kan Mas? salah satunya menolong kita untuk melewati fase dunia pernikahan yang penuh riak gelombang" kata Rama dengan nada datar.


Tampak sekali Mas Barry tidak puas dengan perkataan Rama.


"Jalani dan jangan mengungkit apa yang terjadi sebelumnya, karena hal itu akan terus menjadi ganjalan. Saya dan Izza pun banyak ganjalan dimasa lalu dengan kehidupan kami masing-masing. Ribut, bertengkar bahkan hampir memutuskan untuk pisah saja rasanya ... untung Izza termasuk sabar menghadapi saya yang masih gampang tersulut emosi" lanjut Rama.


"Beruntung kan Ram.. itulah yang Mas ga dapat.. keberuntungan" jawab Mas Barry.


"Saya tidak mengenal pribadinya Mba Ani seperti apa, tapi sedikit pernah dengar dari Izza, ini Izza dapat dari Mba Ani langsung ya, bukan dari orang lain. Intinya Mba Ani termasuk anak yang penurut, buktinya kehendak orang tua untuk menikah dengan Mas Barry, beliau terima. Terlepas dari urusan ekonomi atau apapun ya Mas.. tapi bukankah dengan bersedia menikah sama Mas, artinya beliau serahkan segala-galanya buat Mas? Banyak mimpinya yang mungkin tidak bisa dicapai karena sudah menikah. Banyak harapnya yang tidak bisa digapai karena menikah. Buka mata kita Mas.. lelaki yang bergelar suami seperti kita ini harusnya mikir. Seorang wanita dibesarkan oleh orang tua, dimanja-manja, dijaga layaknya sesuatu yang sangat berharga, diberikan pendidikan, tidak dituntut banyak hal oleh orang tuanya .. eh kita lelaki yang baru kenal setelah dia dewasa, mengambilnya dari keluarga, memisahkan dia dari keluarganya karena ikut kemana saja kita melangkah. Dituntut untuk melayani kita lahir batin, tanpa kita tau apa dia lelah bahkan apa dia rela melakukan semuanya. Bisa jadi sebelum menikah, dia punya keinginan memiliki karier cemerlang, bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang S3 bahkan bisa keliling dunia. Tapi.. liat sekarang istri kita.. duduk di rumah mendengar perintah kita" papar Rama.


Mas Barry terdiam, paparan Rama memang seakan menamparnya. Tidak pernah ada yang mampu berbicara seperti ini didepannya termasuk keluarga. Biasanya Mas Barry akan pergi jika ada yang menasehati, tapi kali ini, Mas Barry duduk menyimak dan menghayati.


"Kamu mirip banget sama Candra cara berpikir dan bertutur kata Ram.." puji Mas Barry.


"One more thing.. jangan banding-bandingkan manusia satu dengan lainnya. Bukan saya tidak suka dibanding-bandingkan dengan Mas Candra, tapi beliau jauh lebih banyak makan asam garam dibandingkan saya, jadi proses pendewasaannya lebih keras dibanding saya" jelas Rama.


"Terus Mas harus gimana Ram biar Ani bisa mencintai Mas secara utuh" kata Mas Barry.


"Berbincang dari hati ke hati Mas. Dengar apa yang istri kita mau, Mas juga ungkapkan apa yang Mas mau. Pergi berdua untuk bersantai, menjauh dari hiruk pikuk kegiatan kita. Pegang HP seperlunya. Pekerjaan ditinggal sejenak. Fokus hanya berdua. Mulai dari melek mata, saling bercumbu dan sedikit merayu, bisa lanjut dengan mandi bareng, habis itu makan berdua. Selanjutnya ya ciptakan suasana yang benar-benar intim hanya berdua" saran Rama.


"Ani susah diajak mesra-mesraan" protes Mas Barry.


"Mas.. saya juga bukan tipe lelaki romantis, wong tiap saya kasih rayuan, jawaban Izza katanya rayuan saya garing, ga kreatif. Tapi selalu berhasil membuat dia baper tuh. Ga suka mesra-mesraan bukan berarti ga bisa loh. Buktinya Izza kalo sudah merayu.. hemmmm... merinding seluruh tubuh saya pokoknya Mas. Bikin susah beranjak dari pelukannya.. hahaha .. " papar Rama.


"Kamu memang tipe yang ga terlalu serius ya Ram kalo diajak ngobrol diluar pekerjaan?" tanya Mas Barry.


"Santai Mas.. hidup jangan dibawa serius terus. Istri yang keliatannya cuek itu sebenarnya justru yang bikin kita jadi bertekuk lutut tak berdaya loh Mas. Intinya Mas dapatkan hatinya, maka dia akan melakukan segala untuk Mas" kata Rama sambil cengengesan.


"Berarti yang lebih bucin kamu ya?" terka Mas Barry.


"Itu mah tidak perlu dipertanyakan dan tidak perlu diragukan lagi.. ya jelas saya lah.. Saya yang jatuh cinta duluan, saya yang ga bisa jauh dari dia, saya yang selalu ingin menghabisi waktu bersama, saya yang selalu ingin dimanja.. pokoknya saya deh semua" ungkap Rama blak-blakan.


"Kok bisa secinta itu Ram?" tanya Mas Barry heran.


"Apa Mas ga merasakan hal yang sama seperti saya? love banget sama istri.. atau bisa jadi Mas nih yang gagal move on?" tebak Rama.


Mas Barry terdiam. Rasa penyesalan saat muda dulu masih terbayang. Andai dia mau bertanggung jawab, mungkin hidupnya sudah bahagia berada ditengah-tengah keluarga Sanjaya.


"Kita dulu Mas yang berubah, tinggalkan kenangan masa lalu, tatap orang yang ada disebelah kita. Orang yang siap melukis masa depan bersama. Allah ga pernah salah memberikan jodoh. Jika ada pasangan yang kemudian pisah, bukan berarti jodohnya salah, tapi hanya sampai disanalah jodohnya. Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih indah lagi bagi mereka yang berpisah. Kita turunkan ego kita sedikit demi sedikit, kita ini pemimpin keluarga, patutnya mengayomi semua. Rumah tangga kita, hanya suami istri yang bisa memperbaiki. Keluarga, teman bahkan penasehat pernikahan pun hanya memberikan saran. Semua terpulang ke pasangan. Selepas ini, jangan cerita ke orang lain tentang rahasia rumah tangga, hormati istri Mas yang mungkin malu jika aibnya dibuka seperti ini. Bukankah aib jika ada yang tau, kalo selama ini hatinya bukan untuk suami. Atau Mas bisa pergi ke Pesantrennya Abah Ikin, merenung disana. Mas sendiri bilang kalo disana suasananya tenang" ungkap Rama.


"Iya Ram.. nanti Mas coba ikutin saran kamu" kata Mas Barry.