
"Kak.... boleh saya kenalan sama istri dan anaknya?" tanya Izza yang menghentikan langkah Rama yang akan kembali masuk kedalam IGD.
"Boleh... Ayo ikut kedalam" ajak Rama.
Izza mengikuti langkah Rama dari belakang. Begitu membuka tirai, Izza kaget ternyata yang dilihatnya adalah Haidar, karena Izza belum pernah ketemu dan belum kenal sama Haidar, langsung deh muncul pikiran negatif di otak Izza.
"Orang sekeren dan sealim Kak Rama penyuka sesama jenis? Ihhh serem deh. Emang cowo macho sekarang tuh harus lebih dicurigain. Bener kata Mba Gita, cowo macho tuh jaman sekarang cuma dua jenis, dia brengsek atau sesama jenis, tapi ini anak siapa ya? mukanya mirip mereka berdua, apa mereka nyewa rahim seorang ibu buat mengandung anak mereka? astaghfirullah... ah bodo amat lah, itu urusan mereka" batin Izza berkata.
"Za.... kok malah bengong.. sini .. katanya mau kenalan ... ini anak saya" ujar Rama mengagetkan lamunan Izza.
"Eh... anaknya cantik sekali, siapa namanya De?" tanya Izza mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sachi.." jawab Rama spontan.
"Boleh saya mendekat?" tanya Izza.
Rama mempersilahkan, dia menggeser posisi berdirinya. Sachi masih tampak lemah walaupun kesadarannya masih bagus.
"Bunda.... Bunda datang .. hore..." kata Sachi gembira sambil langsung duduk.
Tanpa basa basi, Sachi langsung memeluk Izza, Izza yang ga paham pun kaget, tapi dia berusaha menerima pelukan Sachi.
"Bunda jangan pergi ya..." pinta Sachi.
Izza masih mengusap rambut Sachi.
"Sachi... ini bukan Bunda .. kan Sachi udah pernah liat fotonya Bunda kaya gimana" bujuk Rama sambil berusaha melepaskan pelukan Sachi dari Izza.
"Maaf ya Za.. mungkin dia halu dari panasnya. Jadinya ga bisa mengenali orang dengan baik" ucap Rama ga enak hati terhadap Izza.
"Gapapa Kak... mungkin anak ini rindu sama Bundanya. Wajar kok kalo dia kaya gini, anak sekecil dia pasti maunya dekat sama Bundanya, apalagi sakit begini. Memang Bundanya pergi kemana?" tanya Izza hati-hati.
"Sudah meninggal, sesaat setelah melahirkan dia" bisik Rama sedih.
"Maaf Kak, saya ga tau kalo istrinya Kakak sudah meninggal, sekali lagi saya minta maaf" kata Izza menyesal.
"Bundanya Sachi itu bukan istri saya, tapi beliau adalah Kakak yang sangat saya sayangi. Saya belum pernah menikah Za... Sachi memang memanggil saya Ayah dan saya menganggap Sachi seperti anak saya sendiri" jelas Rama.
"Saya ga nanya sejauh itu Kak" jawab Izza.
"Ya ... daripada kamu nanti penasaran, kan mending saya ceritain" lanjut Rama kikuk.
Sachi diperbolehkan pulang karena setelah diobservasi selama enam jam, panasnya sudah turun.
"Sachi yang pinter minum obatnya ya .. jangan main lari-larian dulu" kata Izza.
"Bunda mau kemana?" tanya Sachi.
"Pulang dulu ya, karena mau anterin Ibu yang itu pulang ke rumah" jawab Izza sambil menunjuk kearah bed sebelah.
"Sachi ikut" rengek Sachi.
"Sachi ... ayo pulang sama Ayah" ajak Rama.
"Ga mau" kata Sachi.
"Sachi ga sayang sama Ayah? ya udah .. nanti Ayah mau pergi sekolah lagi aja, ga ajak main Sachi lagi" ucap Rama pura-pura ngambek.
"Jangan Ayah ... Sachi sayang Ayah" ujar Sachi sambil memeluk Rama.
Haidar dan Izza melihat interaksi antara Sachi dan Rama sangat sweet sekali. Mereka hanya bisa tersenyum haru.
💐
Jum'at malam, Rama baru sampe rumah jam sebelas malam. Ada meeting sama beberapa supplier kebutuhan Hotel.
Seperti biasa, setiap pulang yang dicari adalah Sachi. Rama masuk ke kamar Sachi, memastikan CCTV di kamar Sachi berfungsi, hal ini memang untuk menjaga Sachi yang sedang dilatih tidur sendiri.
Rama mengecek suhu tubuh Sachi, kemudian melihat bagian tangan, kaki dan wajah, hal ini untuk memastikan tidak ada bagian yang terluka. Setelah itu, selimut Sachi dirapihkan agar menutup tubuh Sachi. Diciumnya kening Sachi dan diusap kepalanya perlahan.
"Setiap kuletih melangkah, ku berhenti sejenak didekatmu, bahkan untuk sekedar mencium harummu. Kulabuhkan kasih sayang dan kuselimuti dirimu dengan senandung cinta. Makasih Mba Nay ... menitipkan Sachi padaku. Satu-satunya alasan yang mengubah hidupku jadi lebih baik. Aku ga menyesal Mba ... ga menyesal udah memilih jalan ini. Mimpiku memang tidak terwujud, tapi mimpi Sachi akan kuwujudkan untukmu Mba. Sekarang Mas Haidar udah jadi Papa yang baik buat Sachi. Hanya tinggal ingatannya aja yang mulai pulih. Rama ga bisa memaksa ingatannya secara paksa. Maafin juga kalo sejak pulang ke Indonesia, Rama ga banyak waktu buat Sachi. Ada hal lain yang juga harus Rama selesaikan Mba" ucap Rama sambil menatap foto Nay yang terbingkai rapih dan diletakkan di laci samping tempat tidur.
.
Rama menutup pintu kamar Sachi dan bersiap masuk ke kamarnya.
"Rama ...." panggil Pak Isam dari bawah.
"Ya Pi.." jawab Rama sambil nongolin kepalanya ke tangga.
"Sabtu depan ikut Papi ya ke Tasikmalaya" ajak Pak Isam.
"Ada apa Pi kesana?" tanya Rama.
"Anak kawan lama Papi mau nikah disana.. Dia orang Kedutaan loh, di Inggris pula, kamu emang ga kenal? kayanya masih aktif disana" kata Pak Isam.
"Banyak kan orang kedutaan Pi, siapa namanya? mungkin Rama kenal" tanya Rama.
"Yahya ..." kata Pak Isam.
"Yahya .. kayanya ga pernah kenal sama nama itu" ingat Rama.
"Udah setahun lebih kok dia dinas disana, mungkin kamu lagi sibuk magang tugas akhir kali ya jadi ga sempet kenal sama dia" ujar Pak Isam.
"Dia kan baru mendingan, kasian nanti capek. Lagipula kalo bisa ya kita pulang hari, ga nginep. Papi udah bilang sama Ujang, supir kamu itu, buat anter kita kesana. Kata Gita, itu kan kampung halamannya, pasti dia paham jalan daerah sana" jelas Pak Isam.
"Gimana ya? Mas Haidar kan juga mau pergi, Sachi nanti sama siapa?" tanya Rama sedih.
"Haidar ga jadi ke Malaysia, dia mau kontrol di Rumah Sakit sini aja, toh catatan medisnya sudah dia minta dulu. Tau sendiri kan kalo dia udah ga bisa jauh dari Sachi" ujar Pak Isam.
"Wajar kan Pi? emang harusnya Mas dekat sama Sachi. By the way, Papi udah bisa nerima Sachi?" Rama mencoba mengorek hati Papinya, Rama turun tangga mendekati Papinya.
"Papi ga bisa jawab" kata Pak Isam.
"Pi ... empat tahun Sachi tinggal disini, kita ga bisa pungkiri kalo dalam tubuhnya ada darah keluarga kita. Liat wajahnya kan Pi? makin lama mirip sama Papi dan Mas Haidar. Benar kata orang, selain memiliki anak, kebahagiaan juga akan muncul kalo punya cucu, bahkan akan lebih sayang ke cucu daripada anak. Kehadiran Sachi sangat spesial, menjadi momen berharga bagi Papi yang sedang menghabiskan masa tua. Rama pernah liat Papi jagain Sachi main" ungkap Rama.
"Sudahlah ... Papi ga mau bahas" jawab Pak Isam mengelak.
"Alhamdulillah kalo Papi udah mulai bisa nerima kehadiran Sachi dalam keluarga kita. Anak itu ga bersalah Pi, jadi jangan buat dia ikut menanggung kesalahan masa lalu orang tuanya" papar Rama.
"Entahlah ... Melihatnya menjadi trauma tersendiri buat Papi. Kisah Haidar yang telah melakukan hubungan gelap dengan Nay cukup mencoreng keluarga kita. Andai mereka ga berbuat macam-macam, pasti semua ini ga bakalan terjadi" ucap Pak Isam mulai tersendat bicaranya.
"Pi .... " kata Rama.
"Cucu yang lahir, semestinya menjadi sesuatu yang dinantikan keluarga besar. Tapi pada akhirnya apa? berubah menjadi aib yang mencoreng nama keluarga. Sekarang banyak yang sudah mulai curiga atas identitas Sachi. Kemiripan wajahnya ga bisa ditutupi lagi. Papi cape harus menjawab berbagai pihak yang ingin tau kisah sebenarnya" tambah Pak Isam berusaha tegar.
Rama menarik nafas panjang, kemudian mendekati Pak Isam, ia duduk tepat dibawah kaki Pak Isam. Rama meletakkan kepalanya di pahanya Pak Isam yang tertutup sarung.
"Tapi karena Sachi lah kamu mau berangkat kuliah keluar negeri dan menuruti semua perintah Papi. Kamu berubah dari Faqi yang selalu melawan menjadi Rama yang manis. Sekarang pun Papi liat kamu sudah mulai merasa memiliki perusahaan. Dari pulang ke Indonesia, kamu udah langsung masuk ke Kantor, ya walaupun kerjanya masih sibuk cari perhatian adiknya Gita" ujar Pak Isam sambil mengusap kepala Rama.
"Apaan sih Pi...." jawab Rama.
"Dia bukan adik kandungnya Gita. Jadi jangan mengulang kesalahan yang sama kaya Kakak-kakak kamu dulu. Papi melarang hubungan yang taraf hidupnya ga sama seperti kita, bukan karena sekedar egois, tapi kenyataannya ga akan pernah bisa jalan dengan baik kan?" kata Pak Isam.
"Mungkin kalo ga ada campur tangan Papi, semua akan baik-baik aja" jawab Rama.
Keduanya terdiam sejenak.
"Kenapa Papi benci sama Rama? Kenapa harus disalahkan atas kematian Mami. Kenapa ga ada nama Abrisam dibelakang nama Rama? Kalo tau Papi akan lebih sayang sama Rama yang sekarang ... udah dari dulu Rama akan jadi seperti sekarang" ujar Rama mulai terpancing emosi sedih.
"Maafin Papi yang sudah memaksa kamu menjadi boneka Papi sejak kecil, bahkan paling terasa ya empat tahun belakangan ini. Kamu ga punya nama Abrisam di nama belakang karena Papi ga mau kamu kena kutukan atas nama itu" jawab Pak Isam.
"Kutukan?" tanya Rama kepo.
"Semua yang menyandang nama Abrisam, selalu berantakan hidupnya. Buyut kamu meninggal dibunuh karena persaingan bisnis, Kakek harus bangkrut karena punya banyak wanita simpanan. Papi ini yang kembali merangkak membangun puing-puing reruntuhan bisnis keluarga yang menyisakan banyak hutang dimana-mana. Orang diluar sana taunya bisnis keluarga kita sukses aja dan banyak uang. Padahal ga seperti apa yang mereka liat. Saat Mami hamil Haidar, bisnis Papi mulai maju karenanya Papi kasih nama Abrisam dibelakang nama Haidar dengan harapan dia mampu menjadi cahaya baru di keluarga kita. Tapi ketika Mami meninggal saat melahirkan kamu, Papi ingat dan ga mau ada nama Abrisam menempel dibelakang nama kamu. Rupanya benar kan, semua yang Papi khawatirkan terjadi. Kisah cinta Mentari yang kawin lari dengan orang yang ga selevel dengan kita dan menjadi mesin uang keluarga suaminya membuat Papi geram. Haidar pun sama, kisah cinta tragis dengan Nay dan hancurnya pernikahannya sama Anin ... semoga kamu ga mengalaminya ... Mami kamu selalu wanti-wanti agar ga menempelkan nama Abrisam dibelakang nama kamu" jelas Pak Isam.
"Pi... nasib orang memang berbeda-beda, justru karena itulah seharusnya kita banyak bersyukur. Ada yang bisa kita pelajari dari sekian banyak cobaan hidup buat bekal ga mengulang kesalahan yang sama. Rama pun sempat kesal sama nasib, tapi setelah merenung dan berfikir bahwa nasib manusia itu seperti sepasang kaki yang berjalan... ya ada nasib baik dan kurang baik, keduanya tidak akan pernah dipertemukan dalam satu irama langkah bersama tapi akan menuntun kita ketujuan yang sama yaitu makin mendekatnya kita pada Allah, baik atau buruk cuma prasangka manusia Pi, tapi bagi Allah .. semua yang menimpa kita itulah yang terbaik buat kita. Kita ga mau sabar aja menanti pelangi setelah hujan. Semua maunya langsung lancar aja hidupnya" tutur Rama mencoba mengeluarkan pemikirannya.
Pak Isam menitikkan air mata yang buru-buru dihapusnya.
"Papi baru belajar lagi ilmu agama lagi ... do'akan Papi ya.. " ucap Pak Isam tulus.
"Pi... tanpa Papi minta juga pasti Rama selalu mendo'akan orang tua. Kita saling mendo'akan ya Pi.. maafin semua yang pernah Rama lakukan dan ucapkan ke Papi. Papi ga sendiri, Papi masih punya Mas Haidar dan Rama yang siap memberikan segalanya buat Papi" kata Rama sambil memeluk Pak Isam.
Keduanya larut dalam keharuan mendalam. Bahkan para pekerja di rumah yang melihat sampai ikut menitikkan air mata.
Betapa hari ini Allah mengabulkan do'a mereka semua. Do'a yang mereka lantunkan buat Rama agar bisa disayang sama Pak Isam.
"Ma ... Papi sudah banyak mengajarkan kamu urusan bisnis, apalagi kamu juga udah mengenyam pendidikan bisnis yang lebih baik dibandingkan Papi. Tapi sebagai orang tua, Papi ingin berpesan. Dalam dunia percintaan, dua nasib manusia seringkali dipertemukan dengan lancar dan ga jarang pula menghasilkan pertentangan. Papi akan membebaskan kamu menentukan sendiri pilihan buat pendamping hidup kamu kelak. Papi insya Allah akan merestui siapapun wanita itu. Yang penting dari keluarga yang baik-baik. Kenali dulu siapa pasangan kamu. Jangan menyesal nantinya" ucap Pak Isam dengan senyum dibibir.
"Pi... Rama bukanlah seorang superhero, bahkan hanyalah pria yang punya banyak kekurangan. Buat masa sekarang, prioritas Rama adalah kelangsungan perusahaan keluarga kita Pi.." janji Rama.
"Cinta itu alamiah, daripada kalian malah berbuat zinah, kan lebih baik kalo sudah ketemu calonnya terus kamu menikah. Kamu ga pengen kasih adik buat Sachi?" tanya Pak Isam serius.
"Hehehe... kenapa sih Papi tiba-tiba bahas tentang jodoh, jangan bilang kalo Rama diajak ke Tasikmalaya buat dijodohin" terka Rama.
"Ga, sejak Shakti ngobrol panjang lebar atas jawaban kamu yang ga mau dijodohkan sama Yella, Papi udah ga punya stok jodoh buat kamu. Jadi ya cari sendiri" kata Pak Isam.
"Bagaimana pendapat Papi tentang adiknya Mba Gita?" tanya Rama.
"So far so good" jawab Pak Isam.
"Tapi kok tadi Papi kaya ga suka karena dia cuma adik angkat Mba Gita?" cecar Rama.
"Bukan ga suka, tapi dia ga jelas keluarganya, kata Gita, Izza itu anak pelacur" ucap Pak Isam pelan.
Rama terdiam.
💐
Pagi ini Mba Gita mengajak Izza buat sarapan di warungnya Mba Rani. Ada beberapa pekerja juga yang sedang makan disana. Izza memang banyak diam dan senyum aja kalo ditanya sama orang. Tapi Mba Gita lah yang selalu memandang sadis para lelaki yang curi-curi pandang atau mencari perhatian Izza.
Mba Gita memesan lontong sayur, kalo Izza memesan lontong bumbu (lontong yang disiram bumbu kacang) plus gorengannya.
"Eh... aya bidadari dipagi hari turun ke warung Mba Rani" sapa Mang Ujang.
"Mang Ujang bikin kaget aja" kata Izza sambil minum karena keselek potongan bakwan.
"Punten atuh Za .. atuh ga keren keselek bakwan mending keselek cinta" goda Mang Ujang.
"Mang.... jangan macem-macem ya" ancam Mba Gita.
"Punten Mba Gita" jawab Mang Ujang.