
Sudah masuk waktu Maghrib, keduanya menuju Musholla yang ada di Mall tersebut. Terkadang semakin premium sebuah Mall, semakin minimum jama'ah yang sholat di Musholla nya. Jadi meskipun Maghrib biasanya agak ramai ditempat lain, disini hanya bisa dihitung jari jama'ah yang sholat.
Seusai sholat, Izza menunggu Rama di kursi yang terletak didepan Musholla. Rama sedang mengambil sepatunya.
"Aduhhhh" pekik Izza kesakitan begitu jatuh tersungkur karena didorong dengan keras oleh seorang lelaki yang langsung lari kencang.
"WOOIIII" ucap Rama sambil berlari kearah orang yang mendorong Izza, tapi karena Izza masih duduk dilantai, Rama memutuskan balik menghampiri Izza sambil menenteng sepatunya. Kemudian dia membantu Izza untuk bangun.
Izza sekarang duduk kembali ke kursi. Rama duduk disampingnya, orang yang kebetulan ada di Musholla hanya melihat tanpa membantu.
"Ada yang luka atau sakit?" tanya Rama memastikan.
"Ga Kak .. tapi tali tasnya putus, kayanya dia bawa gunting deh, pas mau nusuk kebetulan Izza lagi ngecek tas. Liat aja sampe begini tasnya" ucap Izza sambil nunjukin kondisi tasnya.
Melihat dari guntingan di tas, bisa dipastikan itu sangat tajam. Ditambah tali sampai putus. Gunting memang untuk melakukan tindak kejahatan di Mall sangat dimungkinkan karena bisa dibeli disalah satu toko buku atau supermarket yang ada didalam Mall. Jika benda tajam dibawa dari luar maka tidak akan lolos dari pintu masuk.
"Kita balik pulang aja ya, kayanya ga aman disini. Nanti untuk sepatu dan tas saya cek punya Mami dan Mba Mentari, apa ada yang cocok sama baju kamu" ajak Rama buru-buru.
"Ga aman? maksudnya ini ada faktor kesengajaan?" tanya Izza.
Izza memang cepat pola pikirnya, jadi begitu diajak ngomong pasti langsung dia bisa berasumsi. Tapi terkadang, dia harus pura-pura ga nyambung biar lawan bicara kesal dan malas meneruskan pembicaraan.
"Ya ga bisa dibilang sengaja atau ngga, yang jelas kalo orang melakukan sesuatu pasti ada alasannya. Sekarang diliat dari tas yang kamu pakai, sejenis kanvas kaya gini berapa sih harganya, terus penampilan kamu juga ga terlihat high class, so .. ga mungkin dong mau ngejambret tas kamu yang isinya ga seberapa. Lagipula ini Mall, jarang kejadian aksi penjambretan ada disini" papar Rama.
"Iya juga sih.. tapi apa alasannya coba? kalo dia anggap bukan termasuk orang yang berduit, terus apa motifnya? salah sasaran?" tanya Izza mencoba untuk bangun dari duduknya.
Agak terpincang-pincang kakinya, Rama langsung memberikan lengannya untuk dipegang. Izza cuma bengong melihatnya.
"Ga usah mikir sok mesra atau apa, yang penting sekarang kamu bisa jalan sampe lobby. Atau perlu saya pinjam kursi roda buat dorong kamu?" kata Rama.
Karena Izza masih diam, Rama langsung mengambil tangannya Izza dan dilingkarkan dilengannya. Mereka jalan perlahan menuju lift untuk turun ke lobby.
"Nanti saya ceritain semuanya. Jadi kamu bisa paham kenapa posisi kamu ga aman sekarang ini" kata Rama.
"Iya .. ini kali kedua yang bikin takut, yang pertama yang kejadian hampir dirudapaksa, yang kedua hampir jadi korban penjambretan. Berasa kaya orang penting banget yang banyak musuhnya" ujar Izza.
"Karena kamu bisa dijadikan sandera untuk jaringan pengedar itu" kata Rama dalam hatinya.
Rama mampir dulu kesebuah restoran fast food untuk memesan burger, french fries dan fried chicken buat makan di mobil. Rasanya akan lebih aman makan di mobil daripada meneruskan makan di Mall ini. Lagipula Rama juga merasa was-was, ga ada bodyguard mendampinginya hari ini.
🏠
"Ayah kok belum pulang, tadi janjinya mau makan malam di rumah" protes Sachi saat makan malam.
"Ayah banyak kerjaan kali, tadi kan laptopnya rusak kebanting. Udah gitu motornya juga ilang, bisa jadi lagi nyari sama Mang Ujang" jawab Haidar.
"Mang Ujang udah balik ke rumah, tadi aja lagi makan di dapur" adu Sachi.
"Mang Ujang udah pulang? terus Ayah Rama kemana?" tanya Haidar.
"He told me he was away with someone (dia bilang padaku sedang pergi bersama seseorang)" jawab Pak Isam yang sengaja berbahasa Inggris agar Sachi ga paham.
"Someone?" tanya Haidar rada bingung.
"Kalo mau tau berita terupdate ya dari lambene Ujang" canda Pak Isam.
Sachi sudah selesai makan, ga habis makannya karena ngambek Ayahnya belum juga pulang. Mba Nur diminta sama Haidar untuk membawa Sachi ke kamar.
"Sachi main dulu aja ya di kamar, kalo udah cape ya Bobo. Jangan lupa cuci kaki sama gosok gigi" ingat Haidar.
"Iya Pa ... nanti kalo Ayah udah pulang, tolong minta Ayah ke kamar Sachi ya" pinta Sachi.
"Ya .. nanti Papa bilang ke Ayah ya kalo udah pulang" jawab Haidar.
Sachi menaiki tangga perlahan menuju kamarnya. Pak Isam dan Haidar pindah ke teras belakang.
.
"Janggggg.... Ujangggg" panggil Haidar berteriak.
Mang Ujang lari dari arah samping rumah untuk menghampiri asal suara.
"Ada apa Boss?" tanya Mang Ujang dengan napas yang ngos-ngosan.
"Udah makan belum?" kata Haidar.
"Udah" jawab Mang Ujang.
"Lagi ngapain?" tanya Haidar.
"Lagi nelpon calon gebetan.. hehehe" jawab Mang Ujang malu-malu.
"Mas Boss nya kemana?" buru Haidar lagi.
"Mas Boss lagi kencan sama Mba Izza" bongkar Mang Ujang.
"Kencan? ga lagi becanda kan? emang mereka dah resmi pacaran?" ucap Haidar kaget.
"Kalo urusan kerjaan pasti Mas Boss minta disupirin, kali ini ngga tuh. Nyariin saya aja ngga, nelpon apalagi, tau-tau pergi aja sama Mba Izza. Ga pake pamitan sama Ujang. Sekretarisnya aja sampe pusing karena ada berkas yang harus diperiksa karena besok pagi ada meeting" adu Mang Ujang.
"Mereka beneran pacaran?" tanya Pak Isam yang jadi ikut penasaran.
"Wah .. ini belum ada berita pastinya Boss Papi" kata Mang Ujang.
"Biasanya kamu berita apa aja cepet Jang ... terus motor gimana kabarnya?" ujar Pak Isam.
"Nah ini yang saya heran, tadi pas saya pulang ada yang anterin motor punya Mas Boss. Katanya dia pernah dibantu sama Mas Boss, jadinya pas tau motornya ilang dia langsung nyariin. Motornya tadi langsung saya mandiin pakai air kembang" lapor Mang Ujang.
"Kenapa dimandiin air kembang?" kata Haidar heran.
"Buang sial kata orang dulu mah" jawab Mang Ujang.
"Adanya tuh yang dimandiin air kembang yang punya motor .. sejak Gita ditahan, dia banyak uring-uringan, sama Papi aja menghindar mulu" cerita Pak Isam.
"Sama Pi .. kalo Haidar tanya ini itu juga jawabnya singkat, sama Sachi juga kurang perhatian lagi" sambung Haidar.
"Tau ga Jang .. dia lagi mikirin apa sih sebenarnya?" tanya Pak Isam serius.
"Mau nikah sama siapa? wong punya pacar juga ngga, punya teman dekat yang perempuan juga kayanya belum pernah dikenalin" sahut Pak Isam.
"Mba Izza lagi dekat sama Mas Boss, ya siapa tau emang Mas Boss suka dari awal kenal. Kan matanya Mas Boss kalo liat Mba Izza pasti langsung ga berkedip" ungkap Mang Ujang.
"Papi yakin anak itu beneran suka sama Izza?" tembak Haidar.
"Ga yakin sih, Rama pasti belajar banyak dari Kakak-kakaknya, lagipula Izza kan adik angkatnya Gita yang sedang berhadapan secara hukum sama Rama. Kita kenal kan bagaimana Rama kalo marah sama orang tuh pasti semua jadi ikut kena. Papi khawatir dia malah mau balas dendam ke Izza" papar Pak Isam.
"Masa sih Boss? kayanya Mas Boss Rama ga sekejam itu kali. Waktu pulang dari PRJ aja natap Mba Izza sampe ga ngedip. Saya mah yakin kalo Mas Boss jatuh cinta sama Mba Izza, tapi Mba Izzanya ga mau. Atau Mas Boss bingung, mau nyatain cinta tapi dia adiknya Mba Gita" sahut Mang Ujang.
"Udah sana Jang .. istirahat aja. Nanti Mas Boss kamu kan suka ajaib, bisa aja kan malam ini kamu ditelepon buat jemput dia" perintah Pak Isam.
"Iya juga ya, emang ajaib Mas Boss. Pergi sendiri tapi kalo cape saya disuruh nyamperin buat bawa mobil" ucap Mang Ujang.
.
Mang Ujang berlalu. Pak Isam mengambil secangkir teh hangat untuk dinikmati.
"Pi ... tolong dong dinasehatin Ramanya, jangan mainin perasaan wanita" pinta Haidar.
"Gimana mau Papi nasehatin, wong dia aja belum cerita apa-apa. Bisa ngamuk dia kalo kisahnya kita dapat dari Ujang. Dia udah dewasa untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya. Selagi dia ga minta pendapat kita ya kita liatin aja. Nanti kalo udah keterlaluan baru kita bertindak" papar Pak Isam.
"Oh ya Pi ... Sabtu ini Haidar kenalin ya sama wanita yang lagi mulai dekat sama Haidar .. masih penjajakan sih Pi, yang pernah Haidar cerita itu loh" ujar Haidar.
"Bukannya kamu mau ke Tasikmalaya sama Sachi? katanya mau nemuin Sachi sama Tantenya" ucap Pak Isam.
"Iya Pi .. kita ketemu di Tasikmalaya ya, orang yang mau dikenalin ada disana" kata Haidar lagi.
"Orang sana?" tanya Pak Isam.
"Bukan Pi .. nanti deh Papi juga bakalan tau siapa orangnya" kata Haidar.
"Papi ada kondangan, kayanya sama Rama datangnya. Rekanan kita juga" ucap Pak Isam.
"Urusan kondangan rekanan ya Papi titip aja, sekarang kan Boss Abrisam Group udah Rama, biarin dia yang hadir kesana" rayu Haidar.
"Iya... Papi berangkat bareng kamu aja ya" jawab Pak Isam.
🍒
Didalam mobil menuju pulang ke Panti Asuhan.
"Kenapa tangannya diurut-urut kaya gitu?" tanya Rama yang dari tadi memperhatikan Izza mengurut tangannya.
"Baru berasa sakit" jawab Izza.
"Ini makanan kamu makan aja Za .. di dashboard ada sarung tangan plastik, saya kan sering makan didalam mobil, jadinya biar tangan ga kotor" tawar Rama.
"Ya .. Kakak ga makan? katanya tadi lapar" ujar Izza.
"Ya .. nanti kalo pas macet aja, sebentar lagi juga kita masuk kawasan yang macet. Bisa deh sambil makan burger" sahut Rama santai.
Izza mengambil burger dan memakan perlahan.
"Kakak kamu sekarang ada didalam penjara Za, terlibat kasus narkoba. Setelah dia antar kamu ke Panti Asuhan, ga lama kemudian tertangkap tangan membawa barang haram itu di Bandara" Rama mulai bercerita.
"Uhuk... uhuk .. uhuk..." Izza langsung batuk, Rama membukakan air mineral botol yang tadi dibelinya. Kemudian buru-buru diberikan ke Izza.
Izza yang lagi makan sampe keselek mendengar perkataan Rama yang tiba-tiba. Siapa yang ga kaget mendengar hal seperti itu.
"Yang bener Kak? ga lagi becanda kan?" tanya Izza setelah batuknya reda.
"Apa hal seperti ini patut dibawa becanda? saya juga tau kapan becanda dan tidak" sahut Rama.
"Di Lapas mana? saya mau ketemu" ucap Izza.
"Kebetulan, saya rencananya besok mau menemui dia. Siapa tau dia paham sepak terjangnya Mba Gita kaya gimana. Semoga ada informasi penting yang bisa saya dapatkan" jawab Rama.
"Saya ikut ya Kak" buru-buru Izza minta diajak.
"Boleh aja, jadwal kunjungan jam sepuluh, kita berangkat jam sembilan" kata Rama.
"Alhamdulillah ya Allah... sungguh KuasaMu amatlah nyata" ucap Izza penuh keharuan.
Rama membiarkan Izza menata hatinya, Rama hanya menyerahkan tissue agar Izza bisa mengusap air mata yang sedari tadi menetes dikedua pipinya.
Izza makan burger sambil menangis. Sebenarnya lucu kalo diliat, tapi Rama mencoba menahan tawa karena bersimpati terhadap keharuan yang Izza rasakan.
"Kak ... terima kasih sudah menemukan Mba Zizi. Ga tau harus gimana lagi mengucapkan rasa terima kasih itu" kata Izza pelan dan agak tersendat.
"Saya juga ga tau Za ... ga mencari dia malah, karena ga kenal, patut ga rasa terima kasih itu saya dapatkan? Saya juga belum lama dapat informasi tentang Mba Zizi, baru tau saat kasus Mba Gita tentang keterlibatan dalam lembah barang haram. Saya yakin Mba Zizi paham tentang jaringan itu, dia mengorbankan dirinya biar kamu selamat Za" lanjut Rama sambil menikmati burgernya.
Jalanan mulai padat merayap, apalagi memasuki gerbang tol, sempat tidak bergerak.
Rama mengambil HP di kantong baju, memencet sesuatu kemudian menyerahkan HP tersebut ke Izza. Rekaman suara Mba Zizi yang diberikan ke Alex. Izza mendengarkan dengan seksama.
Izza masih ingat bagaimana suara Mba Zizi kalo sedang berbicara jadi dia yakin itu benar Mba Zizi.
"Ini suaranya sepertinya ga asing ditelinga" Izza mulai curiga ketika mendengar percakapan diawal-awal.
"Itu orang suruhan saya yang mencari informasi tentang kasus kebakaran rumah keluarga Mba Nay" jawab Rama.
"Kok familiar namanya, suaranya juga agak mirip, tapi ga mungkinlah orang yang sama seperti yang saya kenal" kata Izza buru-buru menghapus bayangan Alex dari otaknya.
"Kamu kenal sama Alex?" tanya Rama pura-pura ga tau, padahal dia lupa kalo udah kelepasan membuka identitasnya Alex adalah orang suruhannya.
"Ya kan nama Alex di dunia ini ga hanya satu orang. Alex yang saya kenal itu driver ojol. Ga mungkin dong dia jadi spy .. memang sih orangnya tinggi besar, tapi kalem dan ga bisa berantem" kata Izza.
"Yup .. banyak yang namanya Alex di dunia ini" ucap Rama bernapas lega.
"Ga nyangka ternyata Mba Zizi terlibat kasus kebakaran rumah keluarga Mba Nay. Mba Zizi itu orang baik Kak .. kenapa bisa terlibat tindakan kriminal?" ujar Izza pelan.
"Ya .. kepepet mungkin .. nanti kamu tanya langsung aja. Saya juga penasaran sih" kata Rama.