HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 77, Take a little break



Karena Sachi sudah tampak kelelahan, Rama memutuskan untuk pulang menuju Audah Hotel. Sachi sudah tertidur dalam gendongan Rama sejak menuju parkiran. Akhirnya Rama duduk dikursi belakang agar Sachi ga terbangun. Kalo sambil mangku Sachi, ga akan muat duduk didepan. Izza tadinya mau duduk didepan, tapi Sachi sempat bangun dan memegangi tangan Izza.


Selang lima belas menit kemudian, Sachi makin terlelap dalam tidurnya dan Izza pun ga bisa ngelawan kantuk yang menyerang. Sambil masih memegang tangannya Sachi, tanpa sadar kepalanya bersandar dibahu kekarnya Rama.


"Menang banyakkkkkkkk" goda Mang Ujang setengah berbisik.


"Ssttt.. jangan berisik, udah pada tidur" ucap Rama.


"Pagi-pagi udah genggaman tangan sama Lilis. Eh malamnya sama Neng Izza, segala megang pinggangnya kaya orang mau meluk, gandengan tangan, usap-usap kakinya eh sekarang disandarin tuh bahu .. emang nih Mas Boss ga ada lawan kalo urusan menaklukkan wanita. Ga banyak kata tapi banyak meraba ... hahahaha. Runtuh seketika deh nih label playboy dalam diri Mang Ujang.. tergantikan oleh Mas Boss Rama, CEOnya Abrisam Group dan Dirutnya Audah Hotel" goda Mang Ujang.


"Sstttt" ingat Rama.


"Senin lanjut ga nih ke Farida? kayanya kalo tiap ketemu Sang Sekretaris tuh mata keliatannya langsung ada kelap-kelipnya kaya lampu ditukang es boba" lanjut Mang Ujang.


"Bisa diem ga?" tanya Rama penuh penekanan intonasinya.


"Biasanya ada istilah the power of emak-emak, kali ini the power of teh talua. Besok minum itu lagi ah, siapa tau langsung dapat rejeki nomplok kaya Mas Boss, baru minum segelas udah dua cewe ditaklukkan .. hahahaha" makin Mang Ujang meledek.


.


Mengakui atau tidak, setiap lelaki yang disandarkan bahunya akan merasa dirinya dipercaya dan berpikir bahwa wanita yang saat ini disampingnya sedang menunjukkan sikap yang ingin dilindungi dan disayangi olehnya.


Hal ini yang awalnya memunculkan rasa suka kemudian berubah menjadi cinta ke Mba Nay. Dari sekedar berbagi beban hingga akhirnya Rama main perasaan. Terjebak dalam hubungan kakak adik yang ga bisa naik levelnya.


Saat sedang menghadapi cobaan hidup, rasanya dunia seakan runtuh dan hancur berkeping-keping. Disaat seperti inilah, biasanya sangat membutuhkan seseorang untuk bisa menguatkan diri. Butuh semacam bahu untuk bersandar demi meringankan perasaan dan beban dihati.


Izza memang punya Ibu Panti Asuhan sebagai tempat dia berkeluh kesah dan sejenak menyandarkan kepalanya dibahu Ibu Panti Asuhan, tapi kesibukan Ibu Panti Asuhan membuat Izza ga bisa terlalu lama curhatnya.


"Za ... saat ga ada orang yang bisa dijadikan sandaran, ga masalah bersedih dan menangis secukupnya. Akan tetapi, setelah itu berdamailah dengan keadaan. Cobaan dan ujian hidup yang kamu hadapi sendiri pada akhirnya akan membuat kamu menjadi perempuan yang lebih tegar. Ingat Za, tidak setiap saat kita bisa mengandalkan orang lain. Bahkan ada saatnya kita yang perlu menjadi orang yang lebih kuat untuk orang lain disekitar kita" ucap Rama dalam pikirannya sambil melihat wajah Izza yang tampak lelah.


"Kayanya lelah jiwa raga ya Neng Izza, ga kebayang gimana perasaannya sekarang" buka Mang Ujang memecah kesunyian.


"Wanita ini posisinya sedang lemah. Teramat sangat lemah malahan. Dia lagi hanya mempertontonkan kekuatan semunya. Padahal, sekuat apapun dia menganggap dirinya itu sebagai diri yang kuat, sebenarnya pasti ada titik kelemahan dirinya yang tidak diperlihatkan kepada orang lain. Manusia itu sudah dirancang untuk mudah merasakan marah, senang, bahagia, sedih, cemburu ataupun terluka. Manusia tidak mampu mengendalikan dirinya untuk memilih agar selalu merasakan bahagia atau memilih rasa-rasa yang boleh datang atau tidak ke dalam diri kita" papar Rama panjang lebar.


"Udah mah yatim piatu, ga punya kerjaan, nasib kuliah kedepannya ga jelas, hidup di Panti Asuhan yang pasti dengan segala keterbatasan, bahkan Kakak angkatnya sedang dalam proses hukum. Anehnya kok ya masih bisa tersenyum, kalo Mamang mah udah mati bunuh diri aja deh" lanjut Mang Ujang.


"Beda kadar keimanannya tuh Mang" sahut Rama.


"Nasibnya sial banget itu Mas Boss" kata Mang Ujang sambil melihat wajah Izza dari kaca depan.


"Ga juga.. takdir memintanya sekuat sekarang, kita ga tau kedepannya akan seperti apa dia" jawab Rama.


"Ah tetep Mamang mah kasian. Nanti kalo pulang kampung mau ngomong ke Abah sama Ambu ah, kali aja mereka punya solusi" kata Mang Ujang.


Rama terdiam.


"Ga ada rasa kasian apa Mas Boss ke dia, saya lihat Sachi seneng banget deket sama Izza. Gimana kalo dia jadi pengasuhnya Sachi, tinggal di rumah Mas Boss yang fasilitasnya lengkap. Ya kasih tawaran aja, boleh kuliah tapi ga dibayar gajinya sebagai pengganti uang kuliah. Toh mau makan, minum dan lainnya udah terpenuhi di rumah Mas Boss" ide Mang Ujang.


Rama berpikir tentang ucapan Mang Ujang barusan.


"Andai Mang Ujang tau kalo keluarganya telah membuat huru hara dan petaka buat keluarga Abrisam..." ucap Rama dalam hatinya.


Kembali bayangan Mba Nay yang tersiksa batin muncul lagi. Bagaimana Mba Gita dengan kejamnya mengaduk-aduk emosinya Mba Nay hingga hampir bunuh diri.


.


Rama membangunkan Izza begitu sampai di Audah Hotel, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Masih dengan muka bantal, Izza jalan menuju kamar yang sudah Rama siapkan, tasnya dibawakan oleh Mang Ujang. Rama menggendong Sachi.


"Malam Mas Rama, kamar sudah disiapkan sesuai instruksi" sapa salah satu supervisor.


"Thanks" jawab Rama.


.


Rama dan Mang Ujang tidur sekamar di kamar yang memang sudah disediakan sebagai kamar pribadinya Rama jika menginap di Audah Hotel.


.


Izza sedang mengelap tubuh Sachi dengan tissu basah dan digantikan baju dengan baju tidur. Sachi sudah tepar tak berdaya karena lelah.


.


Mang Ujang mandi duluan, Rama masih sibuk sama HP nya. Setelah Mang Ujang selesai mandi, giliran Rama yang membersihkan tubuhnya.


"Mas Boss ... tetep ah rasanya kasian sama Neng Izza. Punya solusi ga Mas Boss?" paksa Mang Ujang yang rupanya masih kepikiran nasibnya Izza.


"Untuk sekarang ga ada solusinya" jawab Rama santai.


"Tolong deh Mas Boss, dia pasti ditawarin kerjaan apa aja mau. Lagi kepepet kan. Mas Boss kan orang kaya, bisa kasih dia kerjaan kan?" kata Mang Ujang lagi.


"Tidurrr ... besok kita jalan pagi" ajak Rama sambil merebahkan tubuhnya di kasur sebelah (jadi di kamar ini ada dua single bed, tidur pun terpisah).


"Mamang ga ikut ya... cape kan muterin PRJ" pinta Mang Ujang.


"Silahkan kalo mau besok Senin pindah jadi supir kantor" balas Rama.


"Ih Mas Boss mah ga bisa diajak becanda deh, jangan kaku-kaku banget lah..." kata Mang Ujang yang udah ga berani ngeledekin Bossnya lagi.


Mang Ujang cukup kenal karakternya Rama kalo lagi bete, bisa apa yang diucapkan pasti kejadian.


🏠


"Dapat darimana videonya?" tanya Pak Isam.


"The one and only... Ujang .. hehehe" jawab Haidar sambil cengengesan.


"Sekarang dia dimana?" tanya Pak Isam.


"Nginep di Audah Hotel" jawab Haidar.


"Apa??? ini anak udah melampau. Masa ngajak perempuan nginap di Hotel" kata Pak Isam rada marah.


"Tenang Pi .. anak bungsu Papi tidurnya sama Ujang. Sachi dan Izza di kamar sebelahnya, ga ada connecting door kok. Rama itu biar kata kaya preman juga dia masih kuat iman. Bedalah sama Haidar yang masih gampang tergoda" ungkap Haidar jujur.


"Kata kamu Sachi akan menginap di Panti Asuhan, kok malah ke Hotel?" tanya Pak Isam.


"Sachi mana bisa gerah-gerahan Pi, pasti kepanasan kalo di kamarnya Izza, makanya mereka nginep di Audah Hotel" jelas Haidar.


"Kok ini ada di Monas juga? segala Izza megang tangannya Rama .. mereka pacaran?" berondong Pak Isam.


"Keliatannya kaya orang pacaran ya? hehehe.. boleh emangnya Pi?" ucap Haidar memancing.


"Terserah anaknya lah" kata Pak Isam.


"Izza tiba-tiba kakinya kram, ini dibantu sama Rama ke mobil. Liat ini lagi deh Pi .." lanjut Haidar sambil memperlihatkan video yang lain.


"Sachi bahagia banget ya, padahal cuma liat air mancur" puji Pak Isam.


"Inilah yang Sachi butuhkan Pi .. sosok Ayah dan Ibu yang lengkap" kata Haidar.


"Tapi Papi ragu kalo mereka bisa bersatu, banyak hal yang berbeda. Apalagi dengan kasusnya Gita, Rama ga akan bisa berdamai sama orang-orang sekitar Gita termasuk Izza. Rama akan menganggap Izza sekongkol sama Gita dan sudah menikmati uang hasil korupsi" papar Pak Isam.


"Iya ya Pi ... kita liat ajalah Pi. Untuk sementara ini Haidar senang liat Sachi bisa tertawa selepas ini. Besok mereka kan mau ke PRJ" adu Haidar lagi.


"PRJ? Rama mau ke tempat seperti itu? dia kan malas kalo disuruh jalan jauh sama panas-panasan" ucap Pak Isam kaget.


"Demi anak Pi .. apa sih yang ga kalo Sachi yang minta" sahut Haidar.


"Sachi tau PRJ dari mana?" tanya Pak Isam.


"Ga tau deh, mungkin dari teman sekolah atau asisten rumah tangga disini, kan mereka pernah ijin mau ke PRJ" jawab Haidar.


💫


PRJ kembali diselenggarakan di JI EXPO Kemayoran. Dengan menghadirkan beragam fasilitas dan atraksi. Event Jakarta Fair atau yang biasa disebut Pekan Raya Jakarta (PRJ) ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1968. Acara ini diadakan dalam rangka perayaan hari ulang tahun Jakarta yang jatuh pada tanggal 22 Juni.


PRJ pertama kali dibuka oleh Presiden Soeharto pada tanggal 5 Juni hingga 20 Juli 1968. Pembukaan PRJ ditandai dengan pelepasan burung merpati pos. Awalnya PRJ diselenggarakan di Kawasan Monas, namun pada tahun 1992 dipindahkan ke Kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, karena memiliki area yang lebih luas.


Pencetus ide perhelatan Pekan Raya Jakarta ini adalah Syamsudin Mangan (Haji Mangan), Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) saat itu. Event ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemasaran produk dalam negeri yang kala itu mulai bangkit setelah peristiwa G30S PKI 1965. Ide tersebut disambut baik oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, karena Pemerintah DKI Jakarta juga ingin membuat pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama.


Untuk bisa masuk ke Pekan Raya Jakarta, harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Tiket masuk bisa dibeli on the spot atau secara online di website resmi PRJ.


Bisa dibilang PRJ sebagai ajang belanja barang dengan harga lebih murah dibandingkan diluaran. Ada banyak booth yang bisa dikunjungi. Mulai dari makanan, pakaian, alas kaki, kain dan barang tradisional, furniture, produk elektronik hingga mobil dan motor.


Para produsen pun banyak menebar diskon. Jadi bisa mendapatkan produk dengan harga yang lebih murah daripada jika membelinya di toko atau Mall.


Selain itu yang paling diburu adalah masakan khas Nusantara. Di Pekan Raya Jakarta ini ada area food court dibeberapa titik. Jadi nggak akan kesusahan cari makan atau cari jajanan buat mengganjal perut. Makanan yang disediakan pun beraneka ragam.


Di jam-jam tertentu ada pertunjukan atraksi dari kesenian daerah yang dipertontonkan. Hari ini akan ada kesenian tanjidor.


Selain itu ada juga konser musisi papan atas yang akan tampil selama perhelatan Pekan Raya Jakarta. Ada tiketnya tersendiri, bisa bundling dengan tiket masuk jika ingin menonton konser.


Mang Ujang tidak ikut masuk, kebetulan ada rumah saudaranya didaerah Kemayoran, letaknya di belakang Mesjid Akbar setelah jalan H. Benyamin Sueb. Awalnya karena mencari parkiran yang susah, hingga akhirnya diputuskan menunggu saja di rumah saudara. Agak riskan kalo mobil milik Rama di parkir ke tempat parkir liar.


"Ayah ... rame banget" kagum Sachi sambil duduk di koper skuter pink miliknya.


"Kan Ayah bilang juga apa, disini rame, mending ke Mall ga panas" kata Rama.


Untunglah tadi Rama pakai topi dan kacamata hitam jadi ga silau. Izza juga sudah dipinjamkan topi dan kacamata sama Rama. Dari pintu masuk ada yang menjual topi dan payung. Rama membelikan untuk Sachi biar ga kepanasan.


Tadi mereka sudah sarapan tapi sedikit, sampai disini udah lapar lagi.


"Kita makan dulu ya, nanti baru keliling. Kalo lapar mana enak menikmati suasana" saran Rama.


"Sachi mau makan apa?" tanya Izza.


"Itu ada fried chicken, Sachi mau itu sama supnya" jawab Sachi.


"Kamu sama aunty Izza tunggu disini ya, Ayah yang antri beli. Mau juga Za?" sahut Rama.


"Mau liat makanan tradisional aja, mumpung disini" kata Izza.


Rama menyerahkan uang dua ratus ribu ke Izza untuk membeli makanan yang dia inginkan.


"Saya tolong beliin apa aja .. yang kira-kira enak aja" pinta Rama.


Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke PRJ tanpa mencicipi kerak telor. Kuliner legendaris Betawi, rada mirip telur dadar, namun cita rasanya unik. Perpaduan telur, ketan, ebi, cabai merah, kencur, merica, jahe, dan gula pasir membuat rasanya gurih, enak dan aroma wangi dari bakaran serta kelapa parut sangrainya memang selalu berhasil menarik pengunjung untuk datang dan mencicipi. Selain itu ada juga toge goreng, makanan yang sudah mulai langka ditemui. Perpaduan tekstur toge yang renyah, tahu yang gurih, mi kuning dan ketupat bertambah nikmat dengan siraman kuah tauco yang kental. Rasanya asin, gurih dan manis. Selain itu, Izza tergoda melihat nasi pedas Bali.


Hidangan khas Bali dengan sambal pedasnya yang juara, sukses membuat banyak orang ketagihan. Izza memesan dengan lauk cumi pedas.


Sambil menunggu Rama, Izza membeli cemilan di American Donat. Stand donat lokal satu ini ga pernah absen ikut perhelatan PRJ bahkan bisa dibilang sebagai salah satu ikon PRJ, ga lengkap rasanya ke PRJ tanpa membeli donat ini. Pionir donat di Indonesia, memiliki rasa yang klasik dan khas. Ada empat varian yang menjadi andalan dari American Donat yaitu cake donat, muffin, waffle stick dan brownies donat.


Tidak banyak area duduk tersedia, jadi mereka yang ga dapat kursi, terpaksa duduk dipojokkan beralaskan ubin.