HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 194, Still



"Kak.." panggil Izza.


"Eh... belum tidur, tadi bilangnya udah mau tidur" kata Rama yang baru pulang kerja.


Sudah lewat tengah malam. Rama langsung menghampiri Izza untuk memberikan kecupan hangat untuk istrinya tercinta.


"Emang udah tidur, terus kebangun pas Kakak buka pintu" jawab Izza.


"Masih ga enak badan?" tanya Rama lembut sambil mengusap kepalanya Izza.


"Iya.." jawab Izza lemas.


"Mau ke Klinik atau ke Rumah Sakit sekarang?" tawar Rama.


"Ga.. mau rehat aja, besok sudah minta tolong Mba Nur dan Bang Alex buat urus Sachi sekolah. Kebetulan Mba Rani juga libur, jadi bisa urus Sachi juga" jelas Izza.


"Ga usah mikirin orang lain dulu, fokus ke diri sendiri. Kalo udah sehat baru mikirin orang lain" saran Rama.


"Kakak udah makan?" tanya Izza.


"Udah.. kan tadi Kakak kasih kabar kalo ada meeting sambil makan malam" jawab Rama.


"Ya .. mandi dulu aja sana. Nanti kalo udah selesai mandi, minta tolong boleh?" ucap Izza.


"Boleh banget lah... mau apa sih sayangku yang satu ini" kata Rama sambil membuka bajunya.


"Mau minta beliin sate sama lontong didepan komplek" jawab Izza.


"Beneran kali nih De.. ngidam nih, mau berapa tusuk?" ucap Rama sumringah.


"Sepuluh aja" jawab Izza.


Rama langsung turun ke pos security untuk meminta tolong membelikan makanan yang Izza minta.


"Sisanya ambil aja" kata Rama sambil menyerahkan uang seratus ribuan ke security.


"Tumben lapar Mas? biasanya makan masakan rumah" ujar security.


"Bukan saya yang lapar .. tapi nyonya lagi pengen makan sate sekarang juga" jawab Rama.


"Dari pagi kayanya jajan terus Mas .. udah berapa ojol anterin makanan buat Mba Izza, ga kaya biasanya. Jangan-jangan hamil kali ya Mas? jadi ngidam segala rupa" lapor security.


"Aamiin ya rabbal'alamin kalo beneran ngidam, saya malah senang kalo dia doyan makan. Biarin deh dia makan sesuka hati daripada mogok makan malah nanti saya yang repot" ucap Rama.


Rama kembali ke kamar kemudian mandi. Izza masih saja berbaring sambil menonton film di televisi berbayar.


Pas Rama selesai mandi, pintu kamar diketuk oleh security. Rama yang mengambil bungkusan tersebut.


"Sini makan De.." ajak Rama sambil merapihkan sate dan lontong ke piring yang tadi sudah dia bawa dari dapur.


"Lemes Kak.. disini aja makannya" ujar Izza.


Rama mengantarkan piring ke tempat tidur.


"Kakak suapin aja ya?" tawar Rama.


"Kakak kan capek baru pulang kerja. Bisa kok makan sendiri" jawab Izza.


"Ga ada kata cape buat istri tercinta De.. ayo mulutnya dibuka" kata Rama sambil menyodorkan setusuk sate ayam.


Izza makan dengan lahapnya, Rama bahagia melihat istrinya makan dan tampak bahagia.


"Kakak jangan berharap banget ya" pinta Izza.


"Berharap gimana maksudnya?" tanya Rama ga paham.


"Hamil.. Izza kan iseng ke dokter kandungan, waktu itu sekalian antar Mba Nur. Harusnya sih kita datang berdua untuk konsultasi, akhirnya dikasih vitamin E. Konsumsi itu malah doyan makan" jelas Izza.


"Gapapa lah.. malah cakep begini, makin berisi, makin enak dipeluknya.. agak membel.. hehehe. Kita kan ga pernah bahas masalah hamil atau apapun, ya mungkin belum saatnya aja kalo belum dikasih. Santai ajalah, usia pernikahan kita masih setahun. Banyak orang diluar sana yang bertahun-tahun menikah tapi belum juga diberikan anugerah anak. Yang penting kita bahagia, bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam masa sekarang, sepertinya kita diminta untuk fokus ngurusin anak orang dulu. Kaya Sachi, terus si kembarnya Mang Ujang, next sepertinya anaknya Lilis" kata Rama.


"Lilis masih sebulan lagi Kak lahirannya, semoga ga kenapa-kenapa ya. Jangan sampe kejadian kaya kelahiran si kembar" harap Izza.


"Sekarang kan Lilis sudah di pesantren, semoga dengan dekat sama orang tua dan mertua, dia bisa lebih siap untuk menghadapi fase melahirkan" ujar Rama sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Besok Izza mau ke makam orang tua ya Kak" ujar Izza.


"Kakak ga bisa antar .. ada breakfast meeting sama Mas Barry, anaknya Pak Sandy. Di Audah Hotel, sekalian dia mau liat-liat Audah Hotel. Banyak hal yang mau direvisi sebelum sign contract untuk kerjasama. Sama Alex aja ya kesananya, ga keberatan kan?" lapor Rama hati-hati.


"Ga.. oh ya, Izza pernah dengar dari Mas Candra kalo Mas Barry itu masih kurang cekatan dalam menangani perusahaan, makanya Bapaknya masih turun gunung. Kakak yakin kerjasama dengan orang yang seperti itu?" kata Izza.


"Udahlah.. bukan urusan kita, yang menjadi urusan kita itu bagaimana sebuah kerjasama bisa saling menguntungkan. Kakak sudah mempelajari profil perusahaan dan pimpinannya. Sudah diskusi juga dengan team di kantor dan ga ada masalah. Setiap orang harus diberikan kesempatan De.. bagaimana dia bisa membuktikan sesuatu jika kita ga pernah kasih kesempatan" saran Rama.


"Istirahat Kak.. ga perlu diskusi panjang lagi, udah jam dua malam" ujar Izza sambil melihat jam.


Rasanya Izza malas jika mendengar ada nada pembelaan terhadap keluarga Pak Sandy keluar dari mulutnya Rama.


"Sholat dulu yuk, udah jam segini. Habis itu lanjut ibadah yang lain, kayanya udah tiga hari nih ga ambil jatah.. hehehe" ajak Rama sambil tersenyum penuh makna.


Izza hanya tersenyum saat suaminya menggandeng tangannya menuju kamar mandi.


🌺


Setelah mengantar Sachi ke sekolah dan bertemu Mba Rani disana, Izza pamit menuju tempat pemakaman umum bersama Alex.


Tidak lupa Izza mampir kesalah satu toko bunga untuk membeli bunga mawar dan lily. Rencananya akan ke makam Ibu mertua dan Mba Nay juga. Kedua bunga itu yang sering Rama beli jika ke makam Maminya dan Mba Nay.


Setelah sampai ditujuan, Alex ikut turun membawakan bunga-bunga. Izza mengganti sepatu dengan sendal jepit. Izza juga memakai kacamata hitam dan payung karena cuaca terik sekali meskipun masih jam sembilan pagi.


Pertama-tama dia ke makam Ibu mertuanya, kemudian ke makam Mba Nay.


Setelah itu menuju makam keluarganya. Makam yang dalam satu lubang ada Ibu, Bapak dan Kakaknya.


Dibersihkan batu nisan dengan air mawar yang tadi dibelinya diluar areal pemakaman. Kemudian duduk disampingnya sambil berdo'a. Alex memegangi payung agar Izza tidak kepanasan.


Pundak Alex ada yang menyentuh pelan, kemudian payung diserahkan ke orang yang menepuk pundaknya Alex.


Alex mundur beberapa langkah tapi tetap waspada sesuai instruksi dari Rama.


Setelah selesai berdo'a, Izza menaburkan bunga dan meletakkan bunga mawar didekat batu nisan.


Pundak Izza dipegang dengan lembut, jelas saja Izza kaget karena selama ini Alex tidak akan berani menyentuhnya.


"Za..." sapa Pak Sandy.


Izza menengok kearah asal suara.


Ada kemarahan tampak diwajahnya Izza.


Izza sudah mau berdiri untuk meninggalkan area ini, tapi ditahan sama Pak Sandy.


"Bisa bicara Za? tapi ijinkan saya berdo'a dulu disini" pinta Pak Sandy.


Izza berjalan menjauh dari makam, Alex langsung mengambil payung dari tangan Pak Sandy kemudian memayungi Izza. Keduanya berjalan menuju pintu keluar area pemakaman.


.


Pak Sandy duduk bersimpuh disamping makam, tangisnya pun pecah, entah apa yang diucapkan olehnya.


Berkali-kali terlihat beliau mengusap nisan yang belum lama diperbaharui dengan ada tiga nama didalamnya.


.


Saat Pak Sandy melangkahkan kakinya keluar dari area taman pemakaman umum, beliau melihat Izza masih berdiri didepan mobilnya. Alex tengah memayungi Izza.


Pak Sandy kaget karena menduga Izza pasti sudah pergi sedari tadi.


"Kita lanjut ngobrol di cafe saja, bisa ikut mobil saya aja Pak?" tanya Izza dengan datar.


"Iya.. nanti Bapak bilang supir dulu untuk mengikuti mobil kamu" jawab Pak Sandy sumringah.


Pak Sandy menghampiri supirnya, kemudian kembali ke mobilnya Izza.


Izza duduk disebelahnya Alex, sedangkan Pak Sandy duduk dibelakang. Meskipun Alex masih belum paham, tapi sudah mengaktifkan HP nya yang tersambung dengan panggilan ke HP nya Rama.


"Za..." panggil Pak Sandy.


"Kita berbincang nanti dulu ya, saya mau telepon seseorang" ijin Izza.


Izza rupanya menelponnya Ibu panti asuhan, tadi rupanya menghubungi Izza saat di makam tapi Izza tidak mendengar.


.


Disebuah cafe, Izza dan Pak Sandy menuju ke ruang non smoking, belum ramai karena masih sekitar jam sepuluh pagi dan baru saja cafe buka.


Masing-masing memesan makanan dan minuman yang diinginkan. Alex ikut masuk tapi menjaga jarak dengan berada diluar ruangan sesuai perintah dari Rama.


"Maaf ya Za... sebenarnya Rama sudah meminta Bapak untuk tidak mengikuti kamu. Tapi keinginan Bapak untuk melihat makam Didie itu sangat besar, jadi selalu mengikuti gerak langkah kamu" buka Pak Sandy.


"Kak Rama bilang kalo hari ini saya mau ke makam?" tanya Izza.


"Tidak.. tidak sama sekali. Hanya feeling saja, menurut informasi yang Bapak dapatkan, kamu selalu menyempatkan untuk datang seminggu sekali" jelas Pak Sandy.


"Masih berharap saya mau menjalani test DNA bersama Bapak?" tanya Izza.


"Harapan itulah yang terbesar dalam hidup Bapak sekarang ini" jawab Pak Sandy.


"Kemarin kemana aja Pak? ga ada yang mencari saya saat masih susah dan tinggal di Panti Asuhan dengan segala keterbatasannya. Sekarang.. ketika posisi saya sebagai menantu keluarga Abrisam, banyak yang menghampiri" kata Izza dengan nada yang sinis.


"Itulah manusia Za ... ketika kesadaran belum didepan mata, ketika hati belum terketuk, semua ga akan berjalan. Pertemuan Bapak dengan Candra dan bilang kalo ada seorang wanita yang wajahnya mirip, membuat Bapak kembali teringat sama Didie. Candra juga yang memberikan informasi walaupun tidak lengkap. Bapak mengupah seseorang untuk menyelidiki kamu. Setelah itu, mulailah untuk membuntuti dengan tujuan untuk melihat kamu secara langsung. Sekarang kamu pasti paham kan kenapa Bapak sampai melakukan hal ini? kesalahan masa lalu mungkin tidak bisa Bapak perbaiki. Tapi setidaknya, inilah langkah yang perlu Bapak ambil demi keadilan kamu Za" ucap Pak Sandy tulus.


"Keadilan? saya tidak pernah menuntut keadilan ke Bapak. Toh saya punya orang tua meskipun telah tiada" jawab Izza.


Rama rupanya menyusul ke cafe, posisi dia sedang ada di Audah Hotel, jadi dekat untuk ke cafe dimana Izza dan Pak Sandy berbincang. Meetingnya dengan Mas Barry sudah selesai. Bahkan dia bersama Mas Barry menuju cafe.


Rama mencium tangan Pak Sandy kemudian duduk disampingnya Izza. Izza langsung mencium tangannya Rama, Rama membalas mencium keningnya Izza. Pak Sandy tersenyum melihat tingkah lakunya Rama. Mas Barry duduk disebelahnya Pak Sandy. Lumayan kaget juga melihat Izza pertama kali yang sangat mirip Papanya, bahkan sekilas ada kemiripan dengannya.


"De.. ini Mas Barry" Rama memperkenalkan keduanya.


Izza hanya tersenyum, padahal Mas Barry sudah menyodorkan tangannya, tapi Izza ga bereaksi. Mas Barry buru-buru menarik tangannya.


"Pesan minuman atau makanan dulu" saran Pak Sandy.


"Alhamdulillah sudah kenyang. Maaf Pak.. ada apa ya menemui istri saya? kemarin sudah cukup jelas permintaan saya" tanya Rama to the point.


"Maaf Ram .. Bapak hanya mau tau dimana makamnya Didie" jawab Pak Sandy.


"Tadi sudah tau kan ya? kenapa malah mengajak Izza kesini untuk berbincang?" lanjut Rama.


Izza memegang tangannya Rama sebagai tanda agar Rama diam.


"Saya yang ngajak untuk berbincang disini. Masa di makam berbincang.. ga elok" jelas Izza.


Rama diam setelah mendengar jawaban dari Izza. Mas Barry pun juga memilih diam.


"Untuk masa sekarang, saya menolak melakukan test DNA. Saya juga tidak membutuhkan pengakuan anak siapa. Karena sesuai dengan data yang saya miliki, keterangan siapa orang tua saya sudah jelas. Jika Bapak merasa harus menebus kesalahan dimasa lalu, cukup Bapak meminta ampunan kepada Allah, kemudian berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika menurut Bapak, saya berhak atas kekayaan yang Bapak punya, silahkan sumbangkan ke Panti Asuhan. Siapa tau disana ada Izza Izza lain yang bernasib sama dimasa lalunya tapi masih belum bisa lebih baik untuk masa depannya" ungkap Izza.


Ada genangan air mata tanda kesedihan dipelupuk mata Pak Sandy. Izza tampak lebih tegar. Rama masih berwajah datar.


"Za.. ga perlu pakai test itu pun, kamu ga bisa mengingkari kemiripan wajah diantara kita berdua. Bapak yakin kamu adalah anak biologis Bapak" ucap Pak Sandy terbata-bata.


"Jika memang seperti itu, bukankah saya tidak bisa bernasab ke Bapak. Dan saya pun tidak berhak mendapatkan apapun dari Bapak" sahut Izza mencoba melakukan perlawanan.


"Za .. Bapak tau kamu sekarang lebih dari cukup. Tapi Bapak dan anak-anak sudah sepakat akan memberikan kamu bagian" ujar Pak Sandy.


"Za.. bukan Mas mau ikut campur.. oke kalo keputusan kamu untuk tidak mau test DNA. Tapi hormatilah Papa sedikit. Beliau sudah meminta maaf dan berniat baik memberikan hak kamu, kenapa masih juga keras kepala?" kata Mas Barry yang kesal mendengar kesombongannya Izza.


"Maaf .. sekali lagi saya katakan .. saya tidak berhak. Secara agama bukankah sudah jelas? Anda berdua pasti paham kan hukum agamanya?" ujar Izza.


"Maaf kalo saya potong ya.. apa yang dikatakan istri saya ada benarnya, tapi apa yang Pak Sandy sampaikan pun tidak ada salahnya. Jadi daripada panjang hanya berdebat tanpa ujung pangkalnya, lebih baik nanti kita cari orang yang lebih paham mengenai hal ini. Agar kedua belah pihak sama-sama bisa legowo mendengarkan paparan secara baik. Kedepannya seperti apa ya kembali ke yang menjalani. Bagaimana?" usul Rama.


"Ga perlu Ram.. ya sudahlah.. memang Izza sudah tidak mau berhubungan dengan Bapak. Ya mau bagaimana lagi?" kata Pak Sandy pasrah.


"Baiklah kalo begitu, saya akan bawa istri saya pulang ya Pak" putus Rama dengan tegas.


"Setiap tetes airmatamu Za... biar jadi penyesalan dan pengingat bagi Bapak untuk berusaha memperbaiki diri menjadi sosok yang pantas kamu sebut sebagai Bapak. Bodohnya Bapak meninggalkanmu bahkan tidak mengakui kehadiran kamu demi kepalsuan yang baru disadari pada akhirnya" ucap Pak Sandy.


Izza dan Rama hanya memandang Pak Sandy tanpa menjawab.


Rama mencium tangan Pak Sandy kemudian pamit. Izza hanya melihat wajah Pak Sandy kemudian berlalu menggandeng tangannya Rama.


.


Didalam mobil, Izza menangis dalam pelukan Rama. Alex hanya fokus ke jalan, dia tidak mau ikut campur urusan para Boss nya.


"Udah ya.. jangan nangis terus, nanti matanya sembab jadi wajah ga fresh. Mau pulang ke rumah atau mau ikut ke Audah Hotel?" kata Rama sambil mengusap pundaknya Izza.


"Ikut ke Audah Hotel aja boleh?" tanya Izza yang hilang fokus.


"Kan tadi udah ditawarin.. berarti fix kita ke Audah Hotel aja ya. Kalo cape kan nanti bisa rehat di kamar, sekarang ruang kerja Kakak itu ada connecting door ke kamar sebelah" jawab Rama.


Izza menganggukkan kepalanya. Dia masih memeluk Rama dan merebahkan kepalanya diatas dadanya Rama. Rasanya setiap ada masalah, pelukan Ramalah yang selalu berhasil membuatnya tenang.