HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 79, After "wedding proposal"



Mungkin impian banyak para wanita, berharap akan dilamar oleh seorang lelaki disebuah tempat yang romantis dengan segudang kejutannya, ga seperti sekarang ini. Jauh dari kata impian.


Untungnya hanya mereka berdua yang duduk disana, jadi ga malu banget mendengar ajakan Rama. Bahkan Rama berbicara sambil memperhatikan Sachi main, tidak memandang Izza sama sekali.


"Gimana?" tanya Rama lagi.


"Kak ..." kata Izza ragu.


"Saya kasih waktu seminggu buat berpikir. Apapun keputusan kamu ga akan berpengaruh terhadap hidup saya. Sekarang yang terpenting hanya mau melihat Sachi bahagia. Dan bahagianya Sachi adalah bisa bersama kamu. Dia menemukan sosok Ibu dalam diri kamu" jelas Rama.


"Kalo Sachi merasa bahagia dekat Mba Nur atau dekat gurunya di sekolah pun Kak Rama akan menikahi mereka juga agar senantiasa dekat sama Sachi?" tanya Izza penasaran.


"Ya kalo diperlukan.. saya bisa menikahi empat wanita sekaligus. Saya mampu kok menafkahi semuanya baik lahir maupun batin" kata Rama yakin.


"Menikah itu bukan buat mainan Kak. Kenapa harus saya?" tanya Izza.


"Harusnya dibalik .. kenapa kamu bisa mencuri hatinya Sachi?" jawab Rama.


Mungkin ga ada yang luar biasa dalam kisah ini. Hanya tentang dua anak manusia, yang belum lama saling kenal, memberanikan diri untuk memutuskan akan menikah dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi kisahnya.


Memang bukanlah kisah cinta luar biasa yang Izza idamkan sebagai salah satu impian masa depannya, melainkan kisah cinta yang sesuai "jalanNya", karena sejak mulai beranjak dewasa, terpatri dalam pikirannya, bahwa cinta yang akan menuntunnya untuk memahami takdir yang sudah tertulis untuknya.


Kenapa Rama ga menanyakan "status" hatinya Izza sekarang ini. Apa sudah punya tambatan hati atau bahkan sudah milik orang lain. Seyakin itu Rama menganggap Izza seorang wanita yang sedang tidak menjalin hubungan dan terikat dengan lelaki manapun. Menganggap Izza bisa menerima pinangan tersebut begitu saja karena tawaran menggiurkan yang diberikan oleh Rama. Izza pun masih menganggap ajakan nikah ini hanya sebuah gurauan Rama semata.


"Kak Rama lagi becanda kan? lagi ngeprank ya .. mungkin ada kamera tersembunyi gitu buat masukin ke vlog?" tanya Izza agak becanda.


"Saya sangat serius Za, ga liat wajah saya seserius ini? lagi saya bukan vlogger yang tiap gerak langkah harus dibikin konten. Hidup saya adalah privasi yang saya nikmati sendiri, saya juga ga butuh sensasi. Putuskan apa yang patut buat hidup kamu dan orang yang kamu sayang, saya kira waktu yang diberikan sudah lebih dari cukup buat mutusin jawabannya apa. Intinya semua keputusan ada ditangan kamu. Mau terima atau menolak ya terserah aja. Tapi ingat, jawaban itu bisa menentukan masa depan kamu dan Mba Gita tentunya" kata Rama sambil berjalan menuju Playground dengan santainya, mendekati sang putri tercinta.


Dingin sekali nada bicaranya Rama. Kalo ikutin hatinya Izza, rasanya ingin sekali menimpuk kepalanya Rama pakai botol air mineral agar bisa jejeg otaknya buat berpikir panjang. Sulit sekali mengerti jalan pikiran seorang Rama, selalu ada "kejutan" yang membuat tensi darah melonjak tinggi.


"Nyebelin banget sih jadi orang.. mentang-mentang punya segalanya, terus semua harus tunduk sama ucapan dia gitu? Ya Allah... saking misteriusnya, sampe ga bisa bedain dia serius atau ngga ... orang yang aneh bin ajaib. Kadang mikir deh, Mamanya ngidam apa sih pas hamil dia .. dingin banget kaya batu es" kata Izza pelan tapi gemes.


Sachi keluar dari dalam Playground dan langsung mendekati Rama. Interaksi keduanya sangat hangat.


"Ayah .. jangan pulang dulu ya, Sachi masih mau melukis disana" tunjuk Sachi kesebuah tempat ga jauh dari Playground.


"Oke .. pokoknya sampai kamu bosan main disini baru kita pulang" janji Rama.


"Bener ya Yah? seneng deh karena Ayah libur kerja. Bisa temenin Sachi terus, ada aunty Izza juga yang ikut. Jadi Sachi tambah senang mainnya. Ayah udah ambil foto dan video Sachi kan? nanti Ayah bagusin ya" celoteh Sachi sambil bergandengan tangan sama Rama.


"Iya" jawab Rama.


Rama memang senang mendokumentasikan kegiatan Sachi kemudian diedit menjadi lebih bagus untuk ditonton.


Rama berjongkok didepan Sachi, Izza berdiri dibelakangnya Sachi.


"Kalo aunty Izza bisa selalu tidur sama Sachi, bisa jemput sekolah, bisa nyuapin tiap kali Sachi makan, bisa main bareng sepanjang hari .. apa Sachi mau?" tanya Rama.


"Mau ... mau ... mau... " teriak Sachi makin bahagia.


"Sebentar lagi ... semua keinginan Sachi untuk selalu dekat aunty Izza akan terwujud. Ya .. aunty Izza akan pindah ke rumah kita secepatnya" jelas Rama.


"Bener Yah ??? Hore ... aunty Izza bisa jemput sekolah, bisa main bareng dan nemanin Sachi kalo Ayah lagi kerja .. asyikkkk" kata Sachi penuh bahagia.


Sachi lompat kegirangan sambil melihat kearah Izza, yang dilihat hanya tersenyum rada miris mendengar celotehan Sachi.


🏠


"Ini yang pada tamasya kayanya betah banget lama-lama disana. Mau nunggu diusir satpam kali ya Pi .. hihihi" buka Haidar saat sedang ngopi bareng Pak Isam.


"Nunggu tutup kali, areanya kan luas, ga mungkin bisa muterin semuanya kalo hanya sebentar disana" jawab Pak Isam.


"Sachinya ga mau pulang, tadi Rama bilang cape banget ikutin Sachi kesana kemari" jelas Haidar lagi.


"Udah lama kan Rama dan Sachi ga menghabiskan waktu bersama. Ada update an berita lagi dari Ujang?" tanya Pak Isam.


"Ujang ga ikut masuk Pi, katanya males jalan kakinya jauh banget. Jadi dia nunggu di rumah saudaranya ga jauh dari sana" kata Haidar.


"Dulu waktu Jakarta Fair masih di Monas, Papi pernah ajak kamu sama Mba Mentari kesana, Rama belum ada. Bisa dibilang inilah kali pertama Rama menikmati Jakarta Fair" jelas Pak Isam.


"Oh pernah tho Pi .. ga ingat" jawab Haidar.


"Kamu masih umur tiga tahunan kayanya, ya ga ingat mungkin" ingat Pak Isam.


"Pi ... Haidar mau kenalin Papi sama seseorang" ucap Haidar rada malu.


"Someone special?" tembak Pak Isam.


"Belum special banget sih Pi, masih tahap pengenalan. Tapi mau minta pendapat Papi" jelas Haidar.


"Ya udah dijadwalkan aja buat ketemu, Alhamdulillah kalo kamu membuka hati lagi. Your ex juga sebentar lagi menikah, jadi ya biar sama-sama move on lah" ucap Pak Isam.


"Dia orang sibuk Pi, kami jarang ketemu tapi chat mah jalan tiap hari" lanjut Haidar.


"Namanya?" tanya Pak Isam.


"Nanti aja ya Pi .. biar surprise" jawab Haidar sambil tersenyum.


"Udah tua kok ya kaya abege segala surprise" ucap Pak Isam.


"Boleh dong Piiii" kata Haidar masih berteka-teki.


"Dia tau cerita tentang Sachi?" tanya Pak Isam.


"Tau Pi ... Haidar udah cerita semuanya" jawab Haidar.


"Ya mau ga mau kan pasangan kamu kelak harus bisa menerima masa lalu yang berkaitan sama Sachi" kata Pak Isam.


"Iya Pi .. tes DNA memang makin menegakkan kebenaran kalo Sachi adalah anak Haidar" lanjut Haidar.


"Sudah konsul langkah hukumnya?" tanya Pak Isam.


"Sudah Pi .. lewat penetapan pengadilan jika ingin mencantumkan nama Haidar sebagai Ayahnya. Haidar dan Rama sudah berkonsultasi dengan lawyer, tapi ada hal yang harus kita pikirkan ulang, yaitu dampak psikologisnya Sachi. Jadi disarankan terlebih dahulu ke psikolog baik Sachi, Rama dan Haidar sendiri" jelas Haidar.


"Papi cuma bisa mendo'akan langkah hukum yang akan kamu tempuh. Tapi bisa ga kita skip dulu sampai kasusnya Rama versus Gita ada putusan? biar para lawyer konsentrasi menuntaskan kasus ini" saran Pak Isam.


🏵️


Bajunya Rama sudah lumayan basah oleh keringat karena jalan kaki menuju pintu keluar sambil menggendong Sachi yang sudah tidur karena kelelahan.


"Ya Allah ya Tuhankuuuu .... ga salah Mas Boss?" tanya Mang Ujang yang sudah ada di pintu gerbang arah keluar.


Izza membawa banyak bungkusan snack dan didorong pakai koper skuter milik Sachi. Dia juga keliatan cape berjalan lumayan jauh sambil dorong makanan pakai tangan kanan dan menenteng beberapa plastik pakai tangan kiri.


"Ini mobil mewah atau mobil distributor snack nantinya kalo ini semua masuk .. isinya snack sama mainan. Ngeborong apa ngerampok Mas Boss?" kata Mang Ujang.


"Buka pintu bagasinya, jangan bawel deh, ga liat nih saya udah cape gendong Sachi? mana lumayan antep ini badannya" perintah Rama.


"Udah dari tadi Mas Boss" jawab Mang Ujang.


"Beresin semuanya dibelakang. Diatur aja yang berat dibawah. Punya Sachi ada namanya, jadi dipisahkan aja. Yang lain untuk anak-anak Panti Asuhan" jelas Rama sambil bergegas menuju pintu belakang mobil.


Izza membukakan pintu mobil untuk Rama.


"Kamu masuk duluan, nanti kepala Sachi dipangkuan kamu ya" pinta Rama.


"Nanti Sachi bangun ga? gapapa saya didepan aja sama Mang Ujang. Kak Rama yang dibelakang sama Sachi" tawar Izza yang khawatir kalo Sachi bangun jika tidak dipangku oleh Rama.


"Saya aja yang didepan, kamu sama Sachi" jawab Rama.


Izza buru-buru masuk kedalam mobil kemudian dengan gerakan pelan, Rama meletakkan kepalanya Sachi dipangkuan Izza.


Kedua insan ini saling bertatapan dengan jarak yang lumayan dekat. Keringat yang membanjiri wajah Rama menambah kesan tersendiri. Gurat wajah lelah menandakan bagaimana rasa sayang yang teramat dalam kepada Sachi.


Mata memang diibaratkan sebagai jendela hati, karena mata dapat memancarkan perasaan ketika lisan tak bisa berucap. Mulut bisa berbohong, tetapi tidak dengan mata.


"Hingga hari ini, aku tetap percaya dengan jalannya takdir. Saat apa yang diinginkan terkabulkan, Allah begitu sayang mengabulkan do'a hambanya yang masih berlumuran dosa. Ketika apa yang diinginkan tidak terkabulkan, justru itu bentuk kasih sayang lainnya yang lebih luar biasa karena akan dipilihkan yang terbaik untukku. Allah tidak akan membuat hambanya jatuh tanpa mempersiapkan satu pasang kaki yang amat kuat untuk berdiri kembali" kata Izza dalam hatinya.


"Walau ego dan ambisi sebesar gunung, itu semua hanyalah debu bagi Sang Maha Pencipta. Sejak dulu aku memilih untuk tidak pernah membangun komitmen dengan wanita manapun, kulamar dia bukan karena cinta padanya, tapi kubuktikan ke Mba Nay betapa cintaku padanya melebihi apapun. Dengan mencintai Sachi, kutunjukkan kalo aku bisa melakukan apapun demi Mba Nay" ucap Rama dalam hatinya.


Keduanya seakan beku, saling menatap dalam jarak yang dekat. Kucuran keringat dari Rama kembali menetes.


"Ya Allah.... dia kah jodohku? lelaki yang bisa membantu untuk menjawab banyak tanya dalam hidupku? lelaki yang bisa membantuku menuntaskan rasa dendamku? dengan kekayaan yang dia punya, bisakah ku manfaatkan?" lanjut pergulatan batin Izza.


"Aku mundur berulang kali, hanya untuk memastikan langkah ini menuju ketujuanku. Aku pernah terseok-seok berjuang sekaligus mencoba berhenti mencintai Mba Nay. Aku pernah hancur dalam keringkihan cinta mati terhadap Mba Nay, namun Allah tidak pernah membiarkanku sendiri. Banyak kenikmatan yang Kau berikan ya Rabb ... Aku tidak punya pilihan lagi selain memenuhi keinginan Sachi dan wasiat Mba Nay untuk selalu menjaganya" ungkap Rama dalam hatinya ingin berteriak.


Mata Mang Ujang ga berkedip melihat Rama dan Izza saling bertatapan.


"Ini pada kenapa saling menatap? apa jangan-jangan mereka jadian tadi didalam PRJ? tapi ga mungkin juga sih, Mas Boss ga ada tanda-tanda suka sama Neng Izza, dia lebih mesra kalo sama Lilis. Makin ga paham sama mereka berdua ... pada mau kemana sih arah hubungannya?" kata Mang Ujang ngomong sendiri tapi pelan.


Izza dan Rama masih saling tatap dalam jarak yang dekat.


"Ehem... ehem ... uhuk... uhuk...." Mang Ujang terbatuk-batuk sambil menutup bagasi belakang.


Izza dan Rama kaget, seakan jiwanya kembali merasuk kedalam raga yang sempat terdiam.


"Kenapa batuk? haus?" tanya Rama demi menutupi gengsinya.


"Iya nih .. kayanya menikmati segelas capcin (capuccino cincau) lebih enak dibanding liatin sepasang manusia yang mulai bucin" ledek Mang Ujang.


Izza memberikan posisi yang enak untuk kepalanya Sachi. Rama pun segera keluar dari pintu belakang.


"Mang... tas saya udah dipindah kedepan?" tanya Rama.


"Udah Mas Boss" jawab Mang Ujang sambil masuk ke pintu belakang kemudi.


Rama masuk kedepan dan membuka tas olahraganya. Ada kaos bersih tersimpan disana. Dia langsung membuka kaos yang sudah basah akibat keringat dan mengganti dengan yang bersih.


Izza langsung menunduk, kaget melihat Rama tanpa malu-malu membuka kaosnya. Badannya ideal sekali untuk ukuran lelaki seusianya. Walaupun tidak putih tapi bersih dan tidak ada tato diwilayah punggungnya. Walaupun masa muda termasuk badboy, Rama tidak berniat merajah tubuhnya dengan jarum tato.


"Ya ampun Mas Boss .. atuh kira-kira .. ada anak gadis dibelakang, langsung buka aja tuh baju tanpa bilang-bilang" ingat Mang Ujang.


"Basah banget kan kaosnya, daripada masuk angin" jawab Rama.


"Ya tapi bilang dulu Mas Bossss ... kasian Neng Izza kaget" kata Mang Ujang.


"Ini kan bukan aurat Mang, jadi ga masalah dong?" ucap Rama.


"Punya Boss kok ya susah nerima masukkan.. ya udah deh Mas Boss, kita meluncur ke Audah Hotel atau mau kemana nih?" tanya Mang Ujang.


"Ke Panti Asuhan dulu, anterin Izza pulang" jawab Rama.


"Oh kirain mau dibawa langsung ke rumah" ledek Mang Ujang.


.


Karena kelelahan, Rama tertidur dibangku depan, wajahnya menunjukkan kalo ga hanya lelah secara fisik, tapi juga udah lelah secara psikis.


Rama memang seakan punya luka emosional. Jika luka fisik itu terlihat jelas, maka akan mudah untuk diobati, tapi tidak demikian halnya dengan luka secara emosional, bisa diobati tapi harus dicari dulu pangkal lukanya.


Atas luka tersebutlah, Rama ingin membalas dendam kepada semua pihak yang berkaitan tanpa memandang apa orang tersebut tau atau tidak tentang kejahatan dimasa lalu. Pada dasarnya, insting untuk membalas dendam dimiliki oleh setiap orang. Tergantung bagaimana pengendalian diri dan kepribadian seseorang dalam menerima insting tersebut. Seringnya, balas dendam dilakukan dengan perbuatan yang jauh lebih kasar dan menyakitkan.


Semua orang tentu pernah terluka batinnya. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk berbuat baik pada kita setiap saat. Terkadang ada tindakan yang dilakukan orang lain, baik disengaja maupun tidak, yang menyakiti perasaan kita.


.


Begitu sampai di Panti Asuhan, Rama dan Sachi tidak bangun sama sekali. Pelan-pelan Izza dan Mang Ujang turun sambil menutup pintu dengan pelan.


Mang Ujang membuka pintu bagasi untuk menurunkan tas Izza dan snack yang ditujukan sebagai buah tangan untuk anak-anak Panti Asuhan.


"Makasih ya Mang .. sampaikan salam saya untuk Kak Rama dan Sachi" ucap Izza tulus.


"Bener nih ga perlu dibangunin Mas Bossnya? nanti dia nyariin?" tanya Mang Ujang.


"Ga usah Mang .. kasian kayanya cape banget abis nguber-nguber sama gendong Sachi seharian" jawab Izza.


"Ya udah kalo gitu, saya ga mampir ya, salam buat Ibu Panti" kata Mang Ujang.


"Sekali lagi makasih ya Mang" ujar Izza.