HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 200, A little problem



"Kak.. perut rasanya kram deh" ucap Izza pelan sehabis mandi.


Rama buru-buru membantu Izza berjalan. Kemudian dibimbing sampai tempat tidur.


"Kenapa? mau ke dokter aja?" tanya Rama.


"Coba dibawa rebahan dulu, mungkin agak mendingan nanti" jawab Izza.


"Efek berhubungan bukan ya De?" tanya Rama yang mulai kepikiran.


"Ga tau juga.. mungkin karena perut udah gede kali ya, jadi serba salah juga posisi tidur" jawab Izza.


Rama mengusap pelan perutnya Izza, paling tidak untuk memberikan efek rileks ke Izzanya. Memang saat dipegang, perut terasa keras, tidak seperti biasanya.


"De.. keras banget.. ini kontraksi bukan?" ucap Rama mulai was-was.


"Ga mules sih Kak, hanya terasa seperti ketarik gitu" jelas Izza.


Rama komat kamit berdo'a, meminta pertolongan Allah untuk anak dan istri tercinta.


.


Ternyata sudah satu jam berlalu, belum juga hilang rasa kram di perutnya Izza.


"Belum saatnya lahir kan De? masa sudah kram begini. Udah yuk.. kita ke Rumah Sakit aja. Memastikan apa kondisi seperti ini normal untuk Ibu hamil" ujar Rama yang mulai bingung sama keadaan Izza.


"Ga tau nih Kak.. baru pertama kali ngerasain kram perut begini" jawab Izza.


"Ya udah.. kita ke Rumah Sakit sekarang, daripada nanti malah ada apa-apa. Kita banyak berdo'a semoga baik-baik semua kondisinya" ajak Rama.


.


Pelan-pelan Rama membantu Izza berjalan menuju lift yang ada didepan kamarnya.


Begitu pintu lift terbuka di lantai bawah, Pak Isam pas keluar kamar.


"Kenapa Za?" tanya Pak Isam yang langsung menghampiri Izza.


"Ga tau ini kenapa Pi... perut kram sudah sejam lebih" jawab Rama.


"Kamu keluarin mobil, Papi pakai jaket dulu.. Papi ikut ya. Kamu duduk dulu Za.. nanti Papi bantu naik ke mobil" pinta Pak Isam dengan nada agak panik.


Pak Isam berlari menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan dompet serta HP. Kemudian keluar dari kamar.


Dibimbingnya Izza keluar dari pintu depan. Rama sudah memarkir mobilnya didepan pintu. Rama membantu Izza masuk ke mobil, Pak Isam menemani Izza di kursi belakang.


Rama melesatkan mobilnya kearah Rumah Sakit yang tidak jauh dari rumah. Sesampainya di IGD, Izza dicek oleh dokter jaga kemudian oleh bidan yang berdinas di ruang bersalin.


Kebetulan juga, dokter kandungan yang biasa menangani Izza sedang ada operasi caesar, jadinya bisa langsung menuju IGD.


Sang dokter cantik yang masih single diusianya yang "jelita" (jelang lima puluh tahun), memeriksa Izza di ruang konsultasi obsgyn karena ada alat USG.


Rama berdiri disampingnya Izza. Pak Isam dan Izza duduk dihadapan dokter Paramitha.


"Kondisi menantu dan cucu saya baik-baik saja dok?" tanya Pak Isam yang sudah senewen melihat Izza meringis sedari tadi.


"Alhamdulillah.. semua sehat Pak, calon Kakek rupanya panik ya. Calon Ayah saja santai kok .. hehehe" jawab dokter Paramitha santai.


"Ini kram karena apa ya dok?" tanya Rama.


"Habis main ya?" duga dokter Paramitha.


Izza dan Rama hanya tersenyum. Pak Isam mukanya berubah antara menahan malu dan kesal.


"Dalam kebanyakan kasus, mengalami kram perut dan kontraksi, terutama di trimester kedua dan ketiga kehamilan, setelah berhubungan suami istri itu hal yang normal. Selama tidak ada bercak darah atau sakit perut seperti kontraksi. Biasanya kram akan mereda dalam beberapa menit. Ini sudah sekitar satu jam lebih ya, jadi saya sarankan untuk bedrest dulu sehari ini" jelas dokter Paramitha.


"Iya dok" jawab Izza.


"Kok bisa ya dok?" tanya Rama sebagai orang awam.


"Makanya jangan heboh mainnya, selow saja. Sekedar melepaskan hasrat saja ya Ayah.. kasian Bundanya jika Ayah harus full klimaksnya" jawab dokter Paramitha.


Pak Isam makin kesal wajahnya, beberapa kali melihat kearah Rama. Rama yang sadar jika Papinya marah, pura-pura tidak melihat Pak Isam.


"Maaf dok, dulu kan saya pernah tanyakan hal ini, menurut dokter tidak masalah" ucap Rama yang mencoba memberikan jawaban ke Pak Isam.


"Betul .. tidak masalah untuk berhubungan suami istri, tapi sadar dengan kondisi. Kram setelah berhubungan terjadi karena Bundanya melepaskan hormon oksitosin sehingga membuat otot mengalami kontraksi. Selain itu, cairan yang dikeluarkan Ayah dapat memicu kontraksi rahim" jawab dokter Paramitha.


Pak Isam pamit keluar, sepertinya ini termasuk pembicaraan yang sensitif, rasanya malu untuk mendengar rahasia ranjang anak dan menantunya.


"Ketika hamil, ****** menjadi lebih sensitif. Jadi, ketika pasangan merangsang area ******, istri juga dapat mengalami kontraksi. Intensitas dikurangi ya menjelang melahirkan, memang beredar di masyarakat jika mendekati waktu lahir harus sering ditengok sama Ayahnya. Tidak semua kondisi Ibu hamil bisa aman ya. Setelah berhubungan jangan langsung bangkit dari tempat tidur, mandi air hangat dan minum air hangat" saran dokter Paramitha.


"Baik dok" jawab Rama.


Tidak ada obat yang diresepkan oleh dokter Paramitha, Izza hanya diminta bedrest dan mengkonsumsi buah-buahan segar.


.


Dalam mobil menuju perjalanan pulang ke rumah.


Pak Isam yang duduk dibelakangnya Rama langsung memukul pundak Rama dengan keras. Rasanya sudah gemas sejak di Rumah Sakit, tapi tidak bisa marah karena di area publik.


"Aduhhhh" ucap Rama kaget.


"Nakal kok ga ada habis-habisnya sih Ram.. sudah tau istri hamil besar, masih aja kamu minta jatah. Sabar-sabarlah Ram, anak ini kan sudah kalian tunggu-tunggu. Kalo ada apa-apa memangnya kalian ga sedih?" omel Pak Isam.


"Ya Pi" jawab Rama singkat.


"Kamu juga Za.. tolak aja, ga dosa kok jika ada alasan medis. Minta Rama banyak puasa saja biar otaknya ga kepikiran kesana terus" ingat Pak Isam.


Izza hanya diam, ada rasa malu terhadap Bapak mertuanya.


"Pokoknya Papi ingatkan lagi.. sama-sama bisa menjaga kandungan dengan baik. Jangan menyesal dikemudian hari hanya karena menuruti hawa nafsu belaka" lanjut Pak Isam.


Rama dan Izza tidak ada yang berani menjawab.


"Papi ga mau hal ini terjadi lagi. Rasanya jantung udah mau copot melihat Izza meringis. Mana perkiraan lahir sekitar dua bulan lagi. Kalo Rama masih ga bisa menahan diri, mending kalian pisah kamar saja" ultimatum Pak Isam.


"Ya ga sampai begitu juga Pi.. rileks Pi.. semua baik-baik aja kan kata dokter" jawab Rama.


.


Begitu sampai di rumah, Pak Isam ikut mengantar Izza dan Rama ke kamar.


"Jangan nakal-nakal Ram.." terus Pak Isam memberikan wejangan sambil menepuk pundaknya Rama.


"Iya Pi... masa ga percaya sama anak sendiri" jawab Rama pasrah.


"Gimana mau percaya kalo kejadiannya seperti tadi" ucap Pak Isam.


.


"Mobil Boss tadi baru masuk garasi, apa Mba Izza ngidam sesuatu kali ya Mang? jadi Boss nyari sesuatu keluar rumah" kata Alex yang melihat Mang Ujang keluar dari kamar.


Alex sudah lima menit duduk diluar, sempat melihat Rama memasukkan mobilnya ke garasi.


"Iya kali.. ga nelpon Mamang minta dianterin" jawab Mang Ujang sambil duduk disebelahnya Alex.


"Ngopi enak nih Mang" kata Alex.


"Ide bagus tuh, selepas begituan emang enaknya ngopi... hahaha" jawab Mang Ujang.


Alex ikut tertawa, karena hampir bisa ketebak, antara Mang Ujang sama Alex, setiap habis berhubungan suami istri pasti pada keluar kamar dan bersantai dipinggir kolam renang sambil ngopi (karena keduanya tidak merokok).


Alex yang membuatkan kopi, kemudian diletakkan diatas meja.


"Tumben lampu kamar Mas Boss masih terang benderang, biasanya temaram bahkan gelap" kata Mang Ujang sambil melihat kearah kamarnya Rama.


"Lagi ambil jatah kali Mang.. kan Mba Boss lagi hamil, main gelap-gelapan takut kena perut.. hehehe" terka Alex.


"Nanti kejadian kaya Mba Nur ya, gara-gara kamu ambil jatah jadi keguguran" ingat Mang Ujang.


"Jangan diingat-ingat lagi Mang.. emang kebodohan saya juga. Istri masih hamil muda, ditambah masih baru nikah, maunya setiap hari dilayani. Akibatnya bikin ngeri... sekarang malah belum dikasih hamil lagi" ucap Alex penuh penyesalan.


"Alhamdulillah dulu Maryam ga begitu, Mamang minta jatah, kondisi kehamilan baik-baik aja" kata Mang Ujang penuh rasa syukur.


"Yakin ambil jatah? jangan-jangan cuma asal celup doang terus dituntaskan di kamar mandi.. hahahaha" ledek Alex.


"Sembarangan aja nih kalo ngomong" ucap Mang Ujang.


"Mas Boss mulai pulang sendiri terus Mang? masih pulang tengah malam pula" tanya Alex mengalihkan pembicaraan dari seputar ranjang.


"Iya.. targetnya sebulan lagi sudah bisa normal pulang sebelum Maghrib. Katanya demi jadi suami siaga menjelang Mba Izza melahirkan" jawab Mang Ujang.


"Widih.. keren deh Boss kita yang satu itu.. jadi suami siaga. Tapi percaya deh kalo Boss yang bilang begitu, orangnya memang sangat bertanggung jawab" ucap Alex.


"Sebenarnya mau tanya sama Mas Boss, tapi kan penjelasannya dia suka njelimet. Mau tanya sama kamu aja deh Lex" kata Mang Ujang.


"Suami siaga apa sih? memangnya Mas Boss mau menghadapi kerusuhan, bencana alam atau kejadian apa sih? segala siap siaga. Istri melahirkan mah ga usah siaga, yang penting ga panik kaya Mamang" ucap Mang Ujang.


"Siaga tuh singkatan Mang.. siap antar jaga" jawab Alex.


"Tapi kan masih lama waktu lahirannya, kenapa udah siap-siap dari sekarang? kalo masalah antar mengantar kan ada kita yang siap dua puluh empat jam. Nah kalo jaga kan ada security. Memangnya Mas Boss mau kerjain tugas kita juga, jadinya ga perlu kita lagi?" tanya Mang Ujang.


"Bukan mau ambil kerjaan kita Mang, tapi dilakukan untuk istrinya" sahut Alex.


"Lebay banget sih, masa istri mau melahirkan harus Mas Boss semua yang kerjain. Ga percaya sama kita atau gimana? apa khawatir Mba Boss kita pegang-pegang ketika mengantar lahiran nanti?" ujar Mang Ujang makin ga paham.


"Bukan lebay begitu Mang.. siap antar jaga disini bukan seperti tugas kaya supir dan security. Suami siaga itu selalu siap setiap saat dibutuhkan oleh istrinya, misalnya siap terlibat perkembangan kesehatan istri dan buah hati, menjadi orang yang selalu mendukung istri melewati fase kehamilan. Kalo antar, artinya suami bisa mengantarkan istrinya cek kehamilan, ajak jalan-jalan bahkan nanti jika waktunya tiba untuk melahirkan ya siap mengantar ke Rumah Sakit. Nah kalo jaga itu artinya suami menjaga bagaimanapun kondisi kehamilan istri bisa lancar, nanti siap menjaga di Rumah Sakit serta siap ikut begadang buat menjaga anak" jelas Alex panjang lebar.


"Oh gitu, kirain mau gantiin kerjaan kita. Tapi apa bisa ya Mas Boss sesiaga itu? waktu kerjanya aja gila-gilaan, masa Mas Boss siap begadang segala, emang ga ngantuk?" ucap Mang Ujang.


"Mang.. kita kan tau bagaimana Boss Rama. Apa yang terucap dari bibirnya pasti akan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa juga, Boss Rama itu ya Big Boss.. mau datang telat, mau ga masuk atau tidur di kantor ya ga akan ada yang marahin" papar Alex.


"Iya ya.. bener juga" jawab Mang Ujang manggut-manggut.


🌺


Mba Gita sedang sakit, suhu tubuhnya panas tinggi sudah tiga hari. Disarankan untuk cek laboratorium oleh pihak Klinik Lapas.


Setelah dicek ternyata terkena demam berdarah. Rama sebagai nama yang tercantum sebagai keluarga narapidana, dihubungi oleh pihak Lapas.


.


"Kakak mau jenguk Mba Gita dulu ya" kata Rama.


"Iya" jawab Izza.


"Mau ditemani Sachi dan Mba Nur di kamar sini?" tanya Rama.


"Nanti juga mereka kesini" jawab Izza.


"Kalo mau apa-apa hubungi orang rumah, Papi juga bilang siap sedia dibawah" lanjut Rama.


"Kak.. bawakan makanan buat Mba Gita" ingat Izza.


"Iya.. maaf ya kamu ga Kakak ijinkan ikut" ucap Rama.


"Gapapa Kak.. paham kok kenapa Kakak melakukan hal ini ke Izza. Titip salam ya Kak" ujar Izza.


"Ya.. Mau dibawakan sesuatu ga? sekalian jalan" tawar Rama.


"Ga ada.. ga mau apa-apa" jawab Izza.


Rame mencium pipi Izza.


"Love you De.." pamit Rama.


🌺


"Semoga lekas sembuh ya Mba.. maaf Izza ga bisa ikut, ada masalah sedikit sama kandungannya" kata Rama.


"Terus gimana Izza sekarang?" tanya Mba Gita khawatir.


"Alhamdulillah sedang bedrest di rumah. Mba ga perlu khawatir, saya akan jaga dia dengan baik" jawab Rama.


"Iya.. Mba percaya. Mba merepotkan Mas Rama terus ya?" ujar Mba Gita.


"Kita kan keluarga Mba.. oh ya Mba.. boleh saya tanya sesuatu?" tanya Rama.


"Tanya aja, kalo bisa Mba jawab ya akan dijawab semampunya" jawab Mba Gita.


"Mba Gita kenal sama Ibunya Izza?" tanya Rama hati-hati.


"Iya.. kan Mba cari informasi tentang keluarga mereka" jawab Mba Gita.


"Apa yang Mba ketahui tentang Ibunya Izza? yang mungkin saya tidak tau gitu" pancing Rama.


Mba Gita terdiam. Tampak ragu menyampaikan.


"Kenapa Mba? ya udahlah Mba .. kalo ga mau cerita juga gapapa" putus Rama.


"Jangan kecil hati ya kalo Mba cerita yang sebenarnya. Sepertinya Izza juga ga tau tentang hal ini" kata Mba Gita.


Rama diam.


"Ibunya Izza itu wanita ga bener" tutur Mba Gita.


Rama mengernyitkan dahinya.


"Ya ... wanita panggilan..." lanjut Mba Gita.


Rama masih diam, wajahnya datar.


"Kok Mas Rama ga bereaksi kaget? sudah tau?" tebak Mba Gita.


"Siapa Ayahnya Izza?" gantian Rama yang bertanya.


"Secara hukum ya lelaki yang menikahinya, yaitu Bapak saya" kata Mba Gita tanpa beban.


"Secara hukum .. artinya secara biologis bukan?" buru Rama.


"Ga bisa menyimpulkan seperti itu juga. Logikanya sebagai wanita panggilan, apa bisa ditebak benih siapa yang tertanam di rahimnya?" ucap Mba Gita.


"Mba tau siapa saja yang saat itu dekat dengan beliau.. maksudnya berhubungan intens dengan beliau?" kata Rama mencoba menggali informasi.


"Sebelum hamil, yang pernah Mba dengar ya disimpan oleh pengusaha, ga tau namanya siapa. Dikasih tinggal di Apartemen, tapi masih ngamen juga sih meskipun sudah jadi simpanan" lanjut Mba Gita.


"Ngamen? maksudnya masih melayani lelaki lain selain pengusaha itu?" tanya Rama meyakinkan.


"Infonya seperti itu. Kok tiba-tiba Mas Rama tanya ini? apa ada informasi baru yang didapatkan tentang masa lalu keluarganya Izza?" ujar Mba Gita.


"Ga Mba.. hanya ingin tau saja, pernah dengar selentingan. Ya sudahlah.. ga ada yang bisa kita tanya tentang kebenarannya kan? Oh ya Mba.. saya pamit dulu. Kasian Izza di rumah, bedrest pasti membosankan" jelas Rama.


"Iya.. salam ya buat Izza. Sekali lagi terima kasih ya Ram" ucap Mba Gita.


💠


"Sepertinya sudah saatnya menjawab permintaan Papi" kata Mas Haidar.


"Ga enak kan tinggal seatap bersama keluarga, tau sendiri saya ga bisa apa-apa. Mana jam kerja kadang ga jelas. Kan malu Mas sama semuanya" jawab Mba Rani.


"Memangnya di rumah Papi bakalan disuruh-suruh? kami punya banyak pekerja yang sudah ada tugasnya masing-masing. Cukup kamu jadi istri dan anak yang baik saja. Izza sejak belum nikah sampai sekarangpun tinggal serumah sama Papi, dia ga masalah kok. Pernah Mas tanya ke Rama, apa pernah Izza minta pindah, ternyata ga pernah ada permintaan itu. Artinya apa? dia nyaman-nyaman aja tinggal disana" papar Mas Haidar.


"Izza itu beda Mas.. dia bisa masak, bisa bebenah, bisa ambil hati semua orang. Lagian kenapa sih harus disana? bukannya orang menikah ingin bisa mandiri? selama ini juga oke-oke aja kita bolak-balik" balik Mba Rani.


"Papi kan single, ingin banyak menghabiskan masa tua sama anak, menantu dan cucu. Sachi pun bisa maksimal mendapatkan perhatian kita. Sekarang dia tinggal disana, kita disini, kok rasanya Mas ga punya tanggung jawab banget ke dia. Lagipula sebentar lagi Izza akan melahirkan. Fokusnya pasti akan terpecah ke anaknya. Sachi sudah nyaman juga tinggal disana dan sekolah pun ga mau pindah. Apa salahnya kita yang mengalah dengan keadaan ini" ungkap Mas Haidar.


"Tapi kan malah ga bebas Mas" jawab Mba Rani.


"Ga bebas seperti apa? Papi ga pernah ambil pusing sama menantunya kok. Karena Papi pernah bilang, menantunya kan pasti mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, masa begitu diambil sama seorang lelaki, terus kasih sayang berubah. Justru harus dapat double kasih sayang. Papi yang sekarang beda dengan Papi yang dulu terhadap menantu. Memang perubahan ini terjadi setelah Izza masuk dalam keluarga kami, tapi jangan anggap Izza sebuah tolak ukur kalo menantu keluarga Abrisam harus seperti dia" jelas Mas Haidar.


"Pokoknya malu deh Mas. Kalo menginap disana aja rasanya kalah telak sama Izza. Dia terlalu perfect jadi seorang istri. Rama benar-benar beruntung punya istri seperti Izza" jawab Mba Rani.


"Insecure sama Izza? come on honey.. look at you. Seorang prajurit negara yang mempertaruhkan jiwa raga demi sang merah putih. Tidak semua bisa ada diposisi kamu sekarang ini. Setiap orang punya plus minusnya sendiri. Ingat ga sama omongannya Rama disetiap kita diskusi bareng, posisi yang melekat pada kita saat ini bisa jadi adalah posisi yang diimpikan oleh banyak orang diluar sana. Jadi ga perlu sampe punya pikiran ga bisa apa-apa" lanjut Mas Haidar.


"Nanti dipikirkan lagi deh Mas.. " putus Mba Rani.


🌺


Pak Sandy menelepon Rama, mengundang acara ulang tahun perusahaannya.


"Saya tidak janji bisa datang atau tidak ya Pak. Karena Izza menjadi prioritas saya saat ini. Jadi saya mengupayakan selalu ada di rumah selepas kerja" jawab Rama atas undangan tersebut.


"Izza baik-baik aja kan Ram?" tanya Pak Sandy.


"Hari ini sedang bedrest Pak, perutnya masih terasa kram" jawab Rama.


"Sudah dibawa ke dokter?" tanya Pak Sandy cemas.


"Sudah Pak, makanya disarankan untuk bedrest. Ini saya keluar sebentar juga rasanya kepikiran dia terus" jawab Rama.


"Kamu lagi diluar?" tanya Pak Sandy.


"Sudah jalan pulang Pak" jawab Rama.


"Boleh Bapak kirim makanan atau buah buat Izza?" tanya Pak Sandy.


"Gimana ya Pak.. " jawab Rama mengambang.


"Bapak kirim pakai kurir, nanti dititip ke security rumah kamu ya. Tenang Ram.. Bapak ga akan datang menjenguk kok" janji Pak Sandy.


"Baik Pak.. silahkan saja asal tidak merepotkan" kata Rama.