HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 137, Past



Rama baru pulang ke rumah hampir Maghrib, dia langsung mandi dan sholat berjama'ah dengan semua yang ada di rumah.


Setelah semua berdo'a. Rama tampil untuk berbicara. Banyak hal yang harus diinformasikan kepada semuanya.


"Saya mau memberikan banyak pengumuman untuk semua. Sebentar lagi Mang Ujang akan menikah, nanti dia dan pasangannya akan tinggal di rumah ini juga. Di rumah belakang bareng sama yang lain. Alex yang biasa tidur sama Mang Ujang tetap di kamar semula. Kamar Mang Ujang yang ada kamar mandi dalamnya. Nanti bagian samping kamar yang sekarang masih kosong akan saya renovasi jadi dapur kecil. Sebenarnya makan bareng-bareng sama kita disini gapapa, tapi namanya orang baru khawatir ga nyaman" buka Rama.


"Ya buat masak air juga kan Mas" sahut drivernya Pak Isam.


"Kan ada dispenser.. oh atau mau bikin kopi pakai air mendidih kali ya" ucap Rama.


"Bukan Mas ... buat mandi .. pengantin baru pasti mandi sebelum subuh, kalo Mas Rama mah enak ada water heater, kalo Mang Ujang ya harus masak dulu ... hahaha" jawab drivernya Pak Isam.


Semua tertawa, hanya Sachi yang ga paham.


"Next.. yang berangkat ke Tasikmalaya pas nikahan Mang Ujang semua asisten rumah tangga dan driver. Security tidak ada yang ikut, sebagai kompensasi akan saya berikan uang lembur" jelas Rama.


Pak Isam menyimak saja karena semua yang diucapkan oleh Rama sudah kesepakatan antara Pak Isam, Rama dan Mas Haidar.


"Untuk seragam, besok akan dibawakan oleh teman saya. Beli jadi saja, kebetulan teman saya punya usaha pakaian, tinggal ukurannya mau size apa, dia bawa stok. Yang lelaki akan dapat kemeja batik lengan panjang dan songkok hitam serta sarung. Yang wanita gamis batik dan jilbab segiempat, ingat yang wanita pakai jilbab ga usah dipelintir sana sini, pakai simple dan menutup bagian dada" papar Rama.


"Ini kita mau kondangan apa mau jadi santri sih Mas? kok ya sarungan" tanya asisten rumah tangga.


"Karena memang akan diadakan di Pesantren acaranya. Dari mulai akad hingga resepsi semua disana" jawab Rama.


"Ini ada yang terpenting... saya instruksikan kepada semua yang ada di rumah ini tanpa terkecuali. Jika ada paket yang ditujukan untuk Izza, langsung tolak saja. Apapun itu bentuknya. Jangan kecolongan lagi ya, terutama pihak security" ucap Rama.


Semua mendengarkan termasuk Izza.


"Mas.. kalo Mba Izza beli online bagaimana?" tanya security.


"Konfirmasi dulu ke Izza apa barang itu dia beli atau tidak" jawab Rama.


"Siap Mas" kata security.


"Kan kurir bisa kena SP jika barang tidak diterima Mas" ucap security yang lain.


"Bilang saja orang yang dimaksud tidak ada di rumah ini" jawab Rama.


"Siap Mas" ujar security.


"Ini Mang Ujang sama dua orang security ga keliatan? apa securitynya sudah ganti shift dan pulang? tapi kan baru jam segini, ganti shift jam tujuh kan ya?" tanya Rama lagi.


"Dari tadi sore, mereka bertiga mondar mandir ke kamar mandi aja Mas. Bertiga-tigaan gantian.. itu pada nongkrong didepan kamar mandi, dua dibelakang rumah sama satu dibelakang dapur" jelas asisten rumah tangga.


"Kenapa? lagi diare?" tanya Rama.


"Iya Mas. Udah dibikinin teh pahit, makanin pucuk daun jambu sampe dikerokin.. tetap aja masih pada buang-buang air" lanjut asisten rumah tangga.


"Coba tolong panggil kesini" pinta Rama.


Salah satu asisten rumah tangga bergegas kebelakang untuk mencari Mang Ujang dan kawan-kawan.


"Apa mereka makan kue yang saya minta untuk dibuang?" tanya Rama ke salah satu security.


"Kayanya iya Mas. Tadi saya liat di pos ada sisa sedikit. Untung saya belum makan kue itu" jawab security.


"Kan udah saya bilang untuk dibuang" kata Rama kesal.


"Sudah saya mau buang Mas.. tapi security bilang katanya sayang makanan dibuang-buang. Sudah diingatkan juga kalo ada apa-apa Mas Rama ga akan tanggung jawab" jelas asisten rumah tangga agak takut melihat Rama mukanya udah ga enak.


"Sekarang kuenya dibuang saja. Kita ga tau apa kue itu atau bukan yang membuat Mang Ujang dan para security kecuci perutnya. Tapi pelajaran buat yang lain. Jangan menerima apapun dari orang luar. Terutama yang ditujukan untuk Izza. Paham ya!!. Sekarang masih pada sayang nyawa atau mau sayang sama makanan? Sekarang kembali ke tugas masing-masing, setengah jam lagi kita makan malam bareng" ujar Rama.


Para asisten rumah tangga menyiapkan hidangan makan malam, mereka akan makan bersama seperti biasa.


.


Mang Ujang dan security yang sakit perut sedang duduk dihadapan Rama. Mata Rama tertuju tajam ke merek bertiga. Yang dilihat semua nundukin kepalanya.


"Kenapa sih harus maruk banget? disini makanan tersedia di dapur. Bisa minta tolong buatkan atau buat sendiri. Apa yang saya perintahkan itu ada dasarnya. Ada orang yang ingin mencelakai Izza, makanya kita patut waspada. Sekarang ke klinik sana.. daripada dehidrasi" ucap Rama.


"Ya Mas.. maaf" jawab mereka bertiga dengan lemas.


"De .. tolong ambilin uang di tas kerja, yang didompet coklat tua aja, itu isinya uang cash" ucap Rama.


"Bawain aja ya tasnya kesini, nanti Kakak ambil sendiri" jawab Izza ga enak hati.


"Ga usah.. ambil aja sejuta, kayanya ada deh cash segitu" pinta Rama.


Izza naik keatas, kemudian mengambil dompet coklat dari dalam tas. Rama punya tiga dompet. Semua brand ternama. Izza ga berani membuka dompet yang lain, dia hanya mengambil yang berwarna coklat tua kemudian mengambil uang satu juta rupiah.


Ada foto Mba Nay terjatuh saat Izza mengambil uang. Dikembalikan buru-buru foto tersebut kedalam dompet, kemudian Izza segera turun kebawah.


Diserahkan uang ke Rama, kemudian Rama menyerahkan ke Mang Ujang.


"Sana berobat, minta anterin supirnya Papi aja" perintah Rama.


"Makasih Mas Boss" jawab Mang Ujang.


Ketiganya langsung kearah belakang rumah untuk kembali mengeluarkan isi perutnya. Supirnya Pak Isam sudah bersiap-siap mengeluarkan mobil dari garasi.


.


"Ini siapa sih Ram? kok mainnya segala seperti ini? kalo bahaya mending kamu lapor ke polisi" tanya Pak Isam.


"Lelaki yang terobsesi sama Izza Pi. Rama sudah konsultasi ke Mba Rani, sedang diselidiki juga" jawab Rama.


"Kok bisa .. kamu kenal Za?" tanya Pak Isam.


"Ga kenal Pi... makanya bingung" jawab Izza.


Rama meletakkan kepalanya kepangkuan Izza. Padahal Izza sedang menyuapi Sachi makan malam, Sachi makan duluan karena membiasakan tidur di jam yang sama agar gampang banguninnya kalo sekolah pagi, jadi jam delapan malam Sachi harus sudah tidur.


"Ayah kok tiduran di Mommy kaya anak kecil aja" ledek Sachi.


"Emang ga boleh manja-manja sama Mommy?" tanya Rama.


"Ga boleh... Ayah kan orang dewasa. Ayah juga bukan anaknya Mommy. Kata teman Sachi, anak boleh manja sama Mamanya" jawab Sachi.


"Orang dewasa ga boleh manja ya? Ayah kan ga punya Mommy, ya udah kalo begitu Ayah manja sama Opa aja deh, kan Ayah anaknya Opa" ledek Rama.


Rama duduk disebelahnya Pak Isam kemudian merebahkan kepalanya kepangkuan Pak Isam.


"Apaan sih Ram.. berat tau" protes Pak Isam.


Sachi malah tertawa melihat kelakuan Rama yang makin sengaja isengin Pak Isam.


"Kenapa sih ini anak? tiba-tiba jadi begini?" tanya Pak Isam heran mendapatkan kemanjaan Rama.


Rama pura-pura tidur. Sachi makin tertawa terbahak-bahak.


"Rama ini ga pernah bermanja Za... ga kebayang kalo manja sama kamu kaya gimana ya" ledek Pak Isam.


Rama langsung bangun dan kembali duduk dekat Izza. Dia mengedipkan matanya untuk meledek Sachi.


"Ayo mau ngapain?" tanya Izza yang mencium gelagat keisengan Rama.


"Papi mau liat tuh bagaimana seorang Rama bermanja sama istri. Kasian kan kalo ngebayangin, mending liat aja langsung.. hehehe" jawab Rama.


"Ayo Sachi.. siap-siap tidur" pinta Izza.


Izza bangkit dari duduknya.


"Tidur di kamar Mommy, Ayah atau kamar Sachi?" tanya Sachi dengan polosnya.


"Kamar Sachi aja, nanti ditemenin sama Mba Nur tidurnya" jawab Rama.


"Ga mau... maunya tidur sama Mommy" kata Sachi.


"Katanya mau punya adik, kalo mau punya adik ya Sachi ga boleh tidur sama Mommy" ucap Rama.


"Kalo malam ini Sachi ga tidur sama Mommy, besok pagi ada adik di kamar Ayah?" tanya Sachi dengan polosnya.


"Ayo Sachi... sudah malam, ganti baju dan tidur. Ayah cuma becanda" ajak Izza.


"Tidur di kamar aja De.. jangan di kamar Sachi" pinta Rama.


Setelah Izza dan Sachi naik, para penghuni rumah makan malam bersama. Rama ga makan karena nunggu Izza turun buat makan malam bareng.


Untuk mengisi waktu, dia ngobrol sama Mba Nur dan Alex di halaman belakang. Mba Nur dan Alex sambil makan.


"Jadi gimana nih... apa mau langsung nikah secepatnya?" tembak Rama.


"Saya terserah sama Mba Nur aja" jawab Alex.


"Gimana Mba Nur?" tanya Rama.


"Saya mah terserah Bang Alex aja" jawab Mba Nur malu-malu.


"Ditanya malah saling lempar jawaban. Simplenya gini aja, apa kalian berdua sudah merasa cocok atau belum? kira-kira kalo langsung nikah aja gimana?" lanjut Rama.


"Ditunggu sebulan lagi aja ya Mas, untuk meyakinkan diri dulu" jawab Mba Nur.


"Oke .. ga masalah" kata Rama.


Mereka melanjutkan perbincangan hingga Izza menghampiri mereka membawa nampan berisi makanan.


Nampan tersebut diletakkan diatas meja taman. Mba Nur dan Alex pamit dulu. Kini hanya ada Rama dan Izza duduk di taman belakang.


"Sachi udah tidur? tidur dimana?" tanya Rama.


"Di kamarnya" jawab Izza sambil memberikan piring yang berisi makanan ke Rama.


"Wihhh .. ternyata istriku paham sekali sama kode yang diberikan... hehehe...malam ini mau kamu sendiri yang buka atau Kakak yang bukain?" bisik Rama sambil tersenyum genit.


"Jangan mikir kejauhan deh.. Sachi di kamarnya dulu biar bisa dijaga Mba Nur. Kan Kakak minta makan bareng malam ini. Ga mungkin ninggalin Sachi sendirian.. kasian kan baru tidur. Terus kalo di kamar Kakak mana boleh Mba Nur masuk kamar" alasan Izza.


"Terus malam ini tidur bertiga? gagal dong mencangkul sawah biar gembur" ledek Rama sambil makan.


"Kalo mau nyangkul di Tasikmalaya sana" kata Izza.


"Ketularan Mang Ujang tulalitnya" jawab Rama agak sebel.


Mereka lanjut makan tanpa bersuara. Setelah selesai makan, Izza merapihkan piring keatas nampan. Dia mau beranjak ke dapur, tapi tangannya ditahan sama Rama.


"Duduk dulu disini, cari udara segar" pinta Rama.


Izza duduk kembali disampingnya Rama.


"Kata Papi .. Ibunya Izza itu anak orang kaya Kak, pengusaha batu bara di Kalimantan" buka Izza.


"Terus apa hubungannya?" tanya Rama.


"Izza mau kenalan sama keluarga Ibu, bukan karena mereka kaya terus menuntut harta ya. Hanya mau bercerita kalo separuh darah ini mengalir darah mereka" jawab Izza.


"Kalo mereka ga terima gimana? wong Ibu saja yang jelas darah dagingnya ga diterima apalagi kamu, dari benih lelaki yang membuat Ibu kamu terbuang" kata Rama blak-blakan.


"Kakak pernah menyelidiki hal ini?" tanya Izza.


"Ga .. malah baru tau" jawab Rama simple.


"Bohong ya.. Kakak pasti tau" cecar Izza.


"Bapak kamu tuh memang tukang ngibul.. halu alias ngablu kalo anak sekarang bilang" kata Rama.


"Kok gitu sih Kak? sejelek apapun, Bapak kan mertuanya Kak Rama. Ga pantas bicara seperti itu" protes Izza.


"Sorry .. tapi kenyataannya itu. Bapak kamu selalu bercerita ini itu yang ga jelas kebenarannya. Sekarang pernah ga orang tua kamu kenalin Kakek Nenek, atau sekedar cerita dimana kampung halaman mereka?" tanya Rama.


Izza menggelengkan kepalanya.


"Karena memang ga jelas asal usulnya orang tua kamu. Entah siapa yang paham cerita sebenarnya" kata Rama dengan datar.


"Kakak mau bantu buat cari kebenaran cerita ini?" tanya Izza hati-hati.


"Untuk masa sekarang jawabannya big no" jawab Rama tegas.


"Kenapa Kak? punya alasan kenapa tegas menolak. Katanya Kakak ingin serius menjalani pernikahan sama Izza.. artinya Kakak harus tau dong bagaimana asal usul Izza, siapa tau malah kita sedarah hingga menyebabkan ga bisa menikah" ujar Izza.


"Kita test DNA aja berdua, apa ada hubungan darah diantara kita. Papi memang terkesan diktator, tapi beliau ga pernah main perempuan. Mami pun bukan tipe sosialita yang pergi sana sini sekedar hangout dan happy-happy. Jadi kecil kemungkinannya kita sedarah. Kenapa harus tau masa lalu kalo ujungnya akan membuat kamu sedih?" ujar Rama mencoba membuka pikiran Izza.


"Izza akan cari tau sendiri, masa sih dari sekian banyak versi ga ada yang benar ceritanya" kata Izza agak menantang.


"Mau mulai dari mana? keluarga Bapak yang di Kudus aja ga kenal sama Ibu. Mau kumpulin serpihan berkas apa? semua sudah terbakar hangus. Kalo semua kebenaran sudah ditangan, apa yang mau kamu lakukan? mengemis untuk diakui keluarga? membersihkan nama orang tua yang sudah tercoreng dimata keluarga? De.. apa yang Kakak kasih masih kurang? Disini ada Papi yang bisa menjadi orang tua, ada Mas Haidar sebagai pengganti sosok seorang Kakak dan ada Kakak sebagai seorang suami yang akan memenuhi semua yang kamu butuh. Kasih sayang, cinta, kehormatan, harta, kesenangan dan apapun yang kamu mau De... ga cukup?" ungkap Rama.


"Kakak anggap Izza masuk ke keluarga ini hanya ingin hal itu?" tanya Izza yang akhirnya kesal sama kecuekannya Rama.


"Kita tidak dapat menyalahkan masa lalu, karena setiap orang pasti pernah berada di masa terburuk dalam hidupnya. Begitu pula dengan orang tua. Keburukannya dimasa lalu itu mungkin kesalahan yang gak disengaja karena ga tau. Mungkin orang tua sudah merasa sama-sama sudah menemukan cinta sejatinya, jadi rela menabrak norma yang ada. Sekarang masing-masing sudah menjalani hidup tanpa diusik masa lalu. Membahas masa lalu hanya akan memperburuk masalahmu. Fokus buat sebuah tujuan baru, menciptakan masa depan yang berakhir bahagia. Cukup Kakak yang mengalami hidup dengan gelimang masa lalu. Apa yang Kakak dapat? Nol besar... ga ada kebahagiaan, membuang waktu, berharap sesuatu yang mustahil dan pastinya jadi bodoh karena gagal move on" saran Rama.


Izza terdiam, meresapi setiap kalimat Rama yang memang banyak benarnya.


"Iya juga sih.. kalo keluarga besar bisa menerima kehadiran Izza.. kalo ga? apa ga jadi runyam. Sama keluarga Kudus aja ga baik-baik aja" gumam Izza dalam hatinya.


Rama bangkit dari duduknya, membawakan nampan yang terisi piring dan gelas kosong. Kemudian menghadap kearah Izza.


"Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan matang akan menuntunmu kearah kehidupan yang lebih baik. Sedangkan keputusan secara gegabah membuat hidup jadi semakin rumit. Dan Kakak memilih bahagia bersama kamu dan Sachi" ucap Rama sambil berlalu dari hadapan Izza.


Izza ikut menyusul Rama menuju dapur. Izza melihat Rama mencuci piring.


"Sini Kak.. biar Izza yang nyuci" pinta Izza.


"Cuma segini aja kok" jawab Rama.


"Ya gapapa.. Kakak istirahat aja" kata Izza yang mencoba mengambil piring yang ada ditangannya Rama.


"Lelaki yang mencuci piring tanpa diminta konon katanya lelaki yang jantan" ucap Rama sambil menepis tangan Izza dan melanjutkan mencuci piring.


"Kejantanan dibuktikan dengan nyuci piring? kok aneh kedengarannya" tanya Izza.


"Terus mau dibuktikan dengan cara yang bagaimana?" tantang Rama sambil membalikkan tubuhnya kearah Izza.


Izza mundur selangkah, Rama pantang mundur hingga Izza terdesak di meja dapur.


"Jika suatu saat nanti bisa kudapatkan dirimu karena kegilaanku padamu, maka yakinlah bahwa indahmu akan selalu kusimpan dalam relung hati terdalam.. Jika hati ini adalah kerajaan.. Raja ini telah memilihmu menjadi Ratunya" bisik Rama.


"Maaf Mas Boss... Maaf... Maaffff.... ga liat kok" ucap Mang Ujang yang kaget begitu masuk dapur melihat Rama dan Izza dengan tubuh yang saling melekat.


Izza buru-buru berdiri keposisi berdiri tegak. Rama tampak santai.


"Abis berapa?" tanya Rama.


"Bertiga habis empat ratus lima puluh, udah termasuk obat. Sama tadi makan bubur dulu didekat Klinik, habis lima puluh ribu makan berempat" jelas Mang Ujang.


"Sini kembaliannya" pinta Rama.


"Hahhhh??? seorang Mas Boss Rama minta kembalian?" tanya Mang Ujang ga percaya.


"Kembalian juga lima ratus ribu, kalo cuma sepuluh ribu sih gapapa. BBM naik, alokasi dana untuk beli bensin artinya juga naik. Lumayan lima ratus ribu buat isi bensin empat hari" jawab Rama.


"Udah kaya emak-emak nih... apa aja disangkutpautkan sama kenaikan harga BBM" keluh Mang Ujang.


"Ga usah banyak bunyi... mana uangnya?" tanya Rama.


"Jangan ngambek dong Mas Boss.. kan ga sengaja liat lagi mau mesra-mesraan disini.. sekarang lanjut deh .. Mamang mau hapus memory udah liat adegan tadi" kata Mang Ujang.


"Mau pulangin uang itu atau bayar sendiri kekurangan catering?" tanya Rama.


"Ya mending pulangin lima ratus ribu lah.. bayar ketring kan mahal" sahut Mang Ujang sambil ga ikhlas mengeluarkan uang lima ratus ribu dari kantongnya.