
Izza masuk ke kamarnya Sachi kemudian membangunkan Mba Nur. Setelah Mba Nur bangun, baru Rama masuk kedalam kamarnya Sachi.
Digendongnya tubuh kecil Sachi untuk dipindahkan ke kamar Rama. Izza membuka pintu kamar Rama kemudian menyingkap selimut agar tubuh Sachi masuk kedalamnya. Dirapihkan kepala Sachi agar enak tidur diatas bantal.
"Pernah terpikir ga... jika sudah saatnya tiba.. apa yang akan Kakak jawab ketika Sachi menanyakan identitasnya? syukur-syukur kalo taunya dari orang yang memang ada saat kejadian, tapi bagaimana kalo orang luar yang hanya melihat dari kacamata mereka dan menceritakan semua ke Sachi?" tanya Izza dengan suara yang pelan.
"Akan diceritakan semuanya... tapi harus bersama Mas Haidar pastinya. Pelan-pelan seiring berjalannya waktu dan bertambah usianya Sachi, Kakak akan mulai sedikit-sedikit menjelaskan secara implisit. Mas Haidar dan " jawab Rama.
"Kalo Sachi ga bisa menerima kenyataan?" tanya Izza lagi.
"Hingga detik ini selalu berusaha jadi Ayah yang baik buat Sachi. Tentu harapan terbesarnya adalah dia lari kepelukan Kakak jika semua fakta sudah terungkap. Sachi harus tau, ada Ayah yang sangat mencintai dia dan siap menerima dia apa adanya. Sachi ga boleh merasa hina atau apapun. Sekarang pengadilan sedang dalam tahap pengesahan dia menjadi anak Mas Haidar. Sachi akan jadi wanita yang kuat seperti Mamanya" kata Rama.
"Izza bisa liat kok ... betapa besar cinta Kakak terhadap Sachi dan Mamanya Sachi. Sampai fotonya pun masih tersimpan didalam dompetnya Kakak kan hingga kini? bukannya Mas Haidar minta untuk diserahkan semua ke beliau? katanya udah move on dah menghilangkan pikiran terhadap Mamanya Sachi" Izza keceplosan kemudian menutup mulutnya.
"Foto? foto Mba Nay? didompet? masa sih" tanya Rama bingung.
"Iya... foto yang mirip sama foto yang ada di kamarnya Sachi. Masih belum bisa melupakan cinta pertama?" ucap Izza.
Rama penasaran sama ucapannya Izza, dia langsung mengambil dompetnya dan mencari foto yang dimaksud oleh Izza.
"Ini? oalahhhh... kirain beneran ada foto Mba Nay. Semua foto, video dan kenangan lainnya sudah ada di Mas Haidar yang rencananya akan disimpan buat Sachi. ini tuh foto Mami saat masih SMP, saya edit itu jadi tampilan latarnya lebih modern" jelas Rama.
"Beda Kak.. foto-foto Mami kan ada di ruang tengah, jadi tau lah mukanya jaman muda sampai pas hamil Kakak" jawab Izza.
"Ini tuh Mami... beneran deh, memang mirip sama Mba Nay. Tapi beda.. Mami rambutnya ikal, Mba Nay kan lurus. Inilah foto yang Kakak temukan di buku diary Mami. Sudah agak usang memang, makanya diedit biar cerah. Ambil aja diarynya Mami, dibagian belakang ada foto ini versi hitam putihnya. Kamu belum pernah liat full album foto Mami, ada perubahannya yang signifikan. Jadi saat hamil Mas Haidar sempat kena penyakit kulit gitu deh, makanya mukanya agak berubah. Ditambah kan Mami pernah jatuh dari tangga dan berguling-guling jadinya sempat ada beberapa jahitan di area hidung dan pipi" jelas Rama panjang lebar.
"Ngeles aja.. ngaku juga gapapa kok" kata Izza mendesak.
"Beneran deh.. ga ada lagi fotonya Mba Nay yang Kakak simpan... atau kamu cemburu ya De? orang bilang kalo cemburu itu tandanya cinta loh" ledek Rama sambil tersenyum nakal.
"Udah jam sembilan... mending tidur" jawab Izza sambil tiduran disebelahnya Sachi.
"Tapi beneran De.. itu foto Mami, besok tanya aja sama Papi, nanti diambilin juga deh album foto Mami saat masih muda" janji Rama.
HP Rama berbunyi, sekilas Izza melihat tampilan layarnya, tertera nama Lilis disana. Izza pura-pura ga liat dan menepuk bantal agar enak buat ditidurin.
Baru aja Izza merebahkan kepalanya, Sachi sudah langsung memeluk dirinya.
Izza mengusap-usap kepalanya Sachi agar Sachi bisa lebih nyenyak tidurnya.
Rama keluar dari kamar ketika menerima telepon.
.
"Jangan khawatirlah, rumah itu kan udah jadi hak milik Aa', suratnya lagi diurus, Mba Gita juga udah kasih tanda persetujuan buat ganti nama kok. Rumah itu dibeli dari uang hasil korupsi di Perusahaan Aa' kan Lis.. tenang ajalah, Izza itu urusan Aa', dia ga akan berani macam-macam Lis, dia tuh punya konsep ingin jadi istri sholehahnya Rama, jadi ya harus nurutlah sama Aa', apa yang jadi aturan Aa' ya harus dia jalankan" ucap Rama meyakinkan.
"Iya A' .. Lilis mah yakin Aa' bijaksana, pasti bisa menempatkan diri saat bersama Izza atau Lilis. Tapi kan apa ga bermasalah kalo rumah yang selama ini dia tempatin, malah ditempatin sama Lilis? Izza kan kalo ngomong nyelekit banget" keluh Ceu Lilis.
"Jangan gitu Lis... dia kan sekarang jadi Kakak kamu juga, kan Aa' sudah nikah sama dia" ingat Rama.
"Ya A' ... Lilis ga tau harus ngucapin dengan cara apa, tapi sekali lagi.. makasih banyak ya A', sudah mengangkat banget hidup Lilis. Ga salah Mba Nay nitipin Lilis ke Aa'... lelaki hebat yang memegang amanah banget" puji Ceu Lilis haru.
"Tapi Lis.. saya minta berdamailah sama Izza. Aa' ga mau berada ditengah seperti sekarang ini. Walaupun sudah pasti Aa' akan lebih berat ke Izza dibandingkan ke kamu. Toh Izza juga ga tau tentang Mba Gita yang bertindak sejahat itu sama keluarga kamu. Dia tuh masih polos banget Lis... hidupnya lurus-lurus aja. Saking polosnya dia aja ga tau kalo Mba Gita terlibat jaringan obat terlarang dan berbagai tindak kejahatan" kata Rama.
"Polos gimana sih A'... dia aja sering ngomong yang bikin Aa' mati kutu kan? Mang Ujang sering cerita, kalo Aa' tuh lemah banget didepan Izza. Jangan jadi suami dibawah kendali istri A'... harus jadi pemimpin.. dominan" saran Ceu Lilis.
"Aa' ga perlu saran dan penilaian kamu tentang hubungan Aa' dan Izza, tapi Aa' berharap kamu bisa segera berdamai sama Izza. Aa' ga minta macam-macam kok, hanya berdamai. Aa' mau orang yang ada disekitar Aa' tuh rukun, bahagia dan kompak. Apa yang Aa' berikan pada kalian semua itu untuk masa depan juga kan? lagipula jangan banyak dengerin mulut Mang Ujang.. dia mah ngalahin adminnya lambe tumpah" kata Rama lagi.
"Iya A' .. nanti deh kalo ketemu sama Izza, Lilis coba baikan. Tapi Aa' kasih nasehat juga sama Izza, biar dia ga jutek" pinta Ceu Lilis.
"Jutek apanya sih.. mukanya aja teduh begitu kok. Dia tuh baik sama siapa aja, tapi kalo lawan bicara ngeselin, ya dia bisa lebih ngeselin. Jangan selalu meminta orang mengerti kamu, tapi kamu juga harus mengerti lawan bicara maunya apa. Sebentar lagi nikah, akan banyak cobaan yang menghadangnya didepannya. Kamu akan dituntut lebih dewasa, matang dan panjang pemikirannya" ingat Rama.
Ceu Lilis mendengarkan wejangannya Rama yang panjang lebar.
.
Setelah selesai telponan, Rama masuk ke kamar dan memencet tombol di HP nya, kemudian dia mendekati Izza. Kali ini Rama mengambil foto wefie berdua buat pertama kalinya. Posisinya menempelkan pipinya dipipi Izza.
"Apaan sih Kak?" tanya Izza ga nyaman.
"Emang ga boleh gitu kita wefie?" tanya Rama balik.
"Ngapain coba ambil foto di tempat tidur, mana ga pake jilbab lagi. Nanti kalo Kakak posting kan Kakak juga yang dosa" jelas Izza.
"Siapa yang mau diposting? ini buat kolpri aja kok" jawab Rama dengan entengnya.
"Kolpri apaan tuh?" tanya Izza.
"Koleksi pribadi" jawab Rama.
"Jangan bilang banyak kolpri foto-foto cewek seksi dan menggoda ya?" duga Izza.
"Banyak sih channel untuk dapatin foto model begitu, tapi sayangnya ga berminat tuh. Ngeliat kamu buka kancing aja udah bikin mandi berkali-kali. Yang halal aja ada, ngapain liat yang haram" ucap Rama.
Rama ndusel tidur disampingnya Izza, padahal sisi sebelah masih kosong.
"Apa kamu mau foto seksi buat kolpri Kakak? bolehlah nanti kalo pas kita ga bisa bareng, liatin foto itu" bisik Rama nakal.
Izza segera duduk dan mencubit lengannya Rama.
"Aduh .. perih" teriak Rama.
"Makanya jangan genit deh. Pindahlah Kak... disebelahnya Sachi kosong" pinta Izza.
"Kan udah bilang, mau memeluk istri setiap tidur biar nyenyak" jawab Rama.
"Ga mau .. maunya sama Mommy" kata Sachi dengan suara parau.
"Iya ini sama Mommy" jawab Izza.
Kembali Sachi memeluk Izza, Izza pun mengusap punggungnya Sachi agar kembali tidur.
Izza tidur menghadap ke Sachi sambil berpelukan, Rama malah melingkarkan tangannya dipinggangnya Izza. Wajahnya tepat berada diatas kepalanya Izza.
"Kenapa sih kalo Lilis telpon, Kak Rama pasti pergi menjauh dari orang-orang .. udah gitu kenapa kalo telepon itu kebanyakan malam atau pas kita lagi bareng, dia kan tau ya kalo Kak Rama itu suami orang, harusnya paham kapan waktu buat hubungin Kakak" protes Izza rada kesal.
"Ga nyangka kamu pencemburu berat. Kan udah dibilang, ga usah ikut campur urusan Kakak sama Lilis, kita masih tau batasannya kok. Untuk masa sekarang, Kakak cuma minta kamu percaya aja" jawab Rama.
"Udah ah... Izza ngantuk.. mau tidur" kata Izza sambil menarik selimutnya hingga menutupi dada.
"Masih jam segini De, kode banget nutup selimutnya sampe dada.. takut Sachi liat ya... mau main tipis-tipis aja dulu nih.. hehehe" goda Rama sambil menggelitik pinggangnya Izza.
Izza tentu aja kegelian.
"Udah dong Kak, nanti Sachi bangun loh" mohon Izza.
"Begini amat ya ... mau mesra-mesraan susah ya kalo punya anak. Pokoknya kalo kita punya anak, dari bayi udah pisah kamar aja, kaya bule-bule diluar negeri sana" ucap Rama.
"Gayanya... sama Sachi aja yang bukan darah daging aja sayangnya berlebih, apalagi anak sendiri... pasti maunya dipeluk cium terus" ujar Izza.
"Apa kita puas-puasin dulu berdua, nanti baru deh punya anak" usul Rama.
"Ga usah kejauhan Kak bikin rencananya" ucap Izza.
"Pokoknya weekend ini mau ngerasain family time yang sesungguhnya, ga ngurusin kerjaan, ga mikirin kemajuan bisnis, eh tadi keluar sebentar deh, kan ada keperluan" papar Rama.
"Kenapa jadi genit kaya gini sih Kak, biasanya juga sibuk sama kerjaan yang ga ada habisnya. Lagian sekarang malam Minggu, tuh lagi pada bikin api unggun dibelakang, menghibur diri. Kalo Kakak belum ngantuk, mending ikut happy-happy sama mereka dulu, kalo udah ngantuk baru deh masuk ke kamar" usul Izza.
"Biarin aja mereka mau gegonjrengan sampe pagi kek, mau menikmati api unggun sambil ngobrol atau apapun. Pilihan Kakak ya mending nemenin kamulah. Menghangatkan tubuhmu De... biar ga dingin" rayu Rama.
"Masih garing aja gombalannya" ledek Izza.
"Jadinya gimana nih? kapan kita eksekusinya?" tanya Rama.
"Eksekusi apa?" kata Izza ga paham.
"Jangan pura-pura bego deh, tau begitu semalam mending Kakak tungguin kamu mandi terus kita tuntaskan adegan pemersatu bangsa.. hehehe" sahut Rama.
"Janji harus ditepatin dong, tunggu sampai kita nikah resmi. Ini penting untuk menjaga hak sebagai seorang istri. Ya hari gini mah perlu ada keabsahan dari negara agar kita bisa terlindungi" kata Izza.
"Oke .. punya impian ga melakukan hal itu pertama kali dimana?" tanya Rama.
"Sejak berusia tujuh belas tahun, saya berhenti bermimpi menjadi seorang putri yang akan hidup di istana megah bersama pangeran tampan. Tertampar oleh keadaan membuat saya harus real dalam menyusun impian. Termasuk menikah... saya hanya ingin punya suami yang mengerti bagaimana saya dan bisa membimbing saya kearah yang lebih baik lagi" jawab Izza.
"Kalo Kakak tuh punya impian.. mau honeymoon selama beberapa hari, kalo bisa yang daerahnya susah sinyal, jadi ga ada yang ganggu. Hanya fokus kita berdua aja" ujar Rama.
"Udah ada tempatnya?" tanya Izza.
"Belum.. abis serba salah sih.. kedaerah pantai, rasanya panas ya buat honeymoon, kalo pilih daerah dingin, nanti kamu alerginya kambuh" jawab Rama.
💐
Mang Ujang sudah memulai libur panjangnya. Izza pun berkegiatan seperti biasanya, tapi sekarang agak makin ribet. Berangkat ke suatu tempat, terus ditempat tersebut hingga pulang ke rumah, Alex wajib ada disampingnya. Malah Alex sampai nunggu didepan pintu kelasnya Izza pada saat di kampus. Malah pernah ada yang menduga kalo Alex adalah kekasihnya Izza.
Rama pun makin posesif terhadap Izza, maksudnya Rama memang baik untuk melindungi Izza, tapi kadang caranya yang kurang tepat. Hal ini yang akhirnya menjadi pemicu keributan kecil diantara mereka. Tapi biasanya yang akan mengalah Rama, mungkin pemikirannya lebih matang, jadinya bisa langsung diam. Izza yang memang senang bicara pasti akan panjang ocehannya, sehingga ga akan ada ujungnya jika tidak dihentikan oleh diamnya Rama.
💠
Rama membawa mobilnya sendiri menuju Kantor, dia tidak pakai supir kantor atau supirnya Pak Isam.
Mang Ujang menelpon Rama, untuk berkoordinasi demi kelancaran acara pernikahan.
"Saya lihat Lilis bahagia banget nyiapin pernikahannya, Mas Boss juga sibuk lembur kan? biar bisa liburan singkat buat bulan madu?" tanya Mang Ujang.
"InsyaAllah Mang. Pokoknya Mang Ujang kan udah saya siapkan. Ya beda tempatlah sama saya, ga asyik aja kalo sama tempatnya, nanti Mang Ujang kepo sama mulutnya ember" jawab Rama.
"Oh iya Mas Boss .. jasnya sudah saya titip ke Pesantren ya, sesuai permintaan. Kan Mas Boss bilang jangan taro di villa, nanti ada yang tau" lapor Mang Ujang.
"Oke..sippp" jawab Rama.
"Saya liat-liat nih ya... jasnya Mas Boss cakep banget, keliatan gagah kalo dipakai. Tau begitu bikin model yang sama kaya Mas Boss. Heran juga sih, dulu nikah agama malah ga bikin baju baru, sekarang malah bikin baju" kata Mang Ujang.
"Bedalah... kalo dulu nikah kan buru-buru, lagian vendor juga baru aja bikin baru baju itu, jadi tetap aja baru kan" jawab Rama dengan santainya.
"Beda banget ya persiapannya. Tapi Mas Boss.. Apapun itu, saya do'akan Mas Boss tetap bisa langgeng terus sama Mba Boss walau apapun terjadi. Makasih juga sudah bantu segalanya buat Mamang" ucap Mang Ujang tulus.
"Nanti kalo udah nikah tetap kerja yang rajin, ngomong juga sama istri mengenai jam kerja yang kadang melewati jam normal. Tempat tinggal ga usah mikirin deh, nanti kamar di renovasi biar cocok buat pasangan baru" kata Rama.
"Ya iyalah Mas Boss, justru harus makin rajin lagi, kan ada tanggung jawab istri yang harus dipenuhi segala kebutuhannya" ujar Mang Ujang yakin.
"Akhirnya Mang Ujang nikah juga ya, siapa tau kita bisa punya anak bareng.. hehehe" canda Rama.
"Iya nih gimana sih Mas Boss, gayanya doang mesra-mesraan terus, udah hampir sebulan nikah belum ada kabar si unyil hadir" ledek Mang Ujang.
"Makanya Mang harus dicariin sparing partner dulu kayanya, mancing Mang.. hahaha" canda Rama.
"Orang mah mancing tuh angkat anak Mas Boss, bukan malah cari madu.. Hahaha" timpal Mang Ujang.