HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 170, Talk



Selepas sholat ashar, Izza jalan-jalan disekitar pantai, ingin menikmati pemandangan cantik dikala sore, kemarin belum sempat jalan-jalan yang puas. Izza bukan pecinta pantai atau lautan, alasannya takut terbawa arus karena ga bisa berenang. Sejak kecil juga ga pernah diajak berlibur ke pantai.


Izza bertemu sama keluarga kecil Candra yang juga sedang mau bermain di area pantai. Boy minta naik jetski, jadinya Candra menyudahi kerja onlinenya. Izza diperkenalkan ke Lexa oleh Candra.


"Cik.. ini Izza, istrinya owner Audah Hotel, yang rencananya akan kita pelajari untuk dibeli" kata Candra sambil menggendong Boy.


Lexa dan Izza berjabat tangan.


"Lexa" ujar Lexa sambil tersenyum.


"Saya Izza Mba .. " jawab Izza.


"Kok suaminya ga ikut?" tanya Lexa.


"Sedang ada keperluan lain Mba, ya berbagi tugas dengan beliau" jelas Izza.


"Cik.. Alung mau naik jetski dulu ya" pamit Candra.


Candra dan Boy tampak sangat happy menuju jetski milik mereka.


.


"Lucu banget nih celana kulotnya, kayanya buat bumil enak .. longgar, bahannya juga adem" puji Lexa sambil melihat kearah kulot yang dipakai oleh Izza.


"Masa sih Mba?" tanya Izza ga yakin.


"Beneran... merek apa ya? kok belum pernah liat" kata Lexa.


"Ga beli Mba, ini hasil karya sendiri, pakai bahan crinkle cut yang lagi model itu. Jadi baru sebulan terakhir ini saya ikut kursus menjahit untuk mengisi waktu luang. Kata pengajarnya, harus dibiasakan menjahit agar dapat feelnya. Istilahnya perlu jam terbang yang banyak untuk membuat yang pas.. bikin satu ini aja sampai seminggu, belum terlalu rapih Mba, untuk kulot ya, ga terlalu kelihatan kalo ini miring sebelah, beda tiga centimeter panjang kanan dan kirinya ...hehehe" kata Izza merendah.


"Kirain beli.. tapi bagus loh untuk pemula, berarti kamu punya bakat desain dan menjahit. Digali terus potensinya Za.. siapa tau malah menghasilkan" saran Lexa.


"Masih untuk dipakai sendiri aja Mba, belum berani buat orang lain. Oh ya Mba .. kita cari tempat duduk aja, nanti Mba pegel kalo berdiri terus disini" ajak Izza.


"Kita jalan-jalan aja gapapa Za.. muter-muter, nanti kita minum es kelapa dan gorengan didekat jembatan. Gorengannya tuh ga lazim ada di tukang gorengan biasanya" ucap Lexa.


"Mba gapapa jalan jauh?" ujar Izza meyakinkan.


"Saya tuh kalo hamil malah gagahnya dari pagi sampe malam, tapi kalo sudah jam delapan malam, mata rasanya udah rapet .. susah melek, jadi ga tau deh Boy tidur jam berapa, urusan Papanya" kata Lexa.


"Kerjasama ya Mba.. kan paginya Mba udah jagain" ujar Izza.


"Cuma ngawasin aja sih, Boy ada pengasuh sejak saya hamil, ga kuat ngejar-ngejar anak yang lagi aktif-aktifnya" sahut Lexa.


Lexa dan Izza berjalan menyusuri bibir pantai, kemudian berhenti untuk minum air kelapa disalah satu lapak penjual.


Lexa memesan beberapa gorengan, ada tahu walik, susu goreng, pisang goreng wijen dan cireng. Untuk minumannya mereka sama-sama memesan air kelapa murni dalam batok. Oleh penjualnya, mereka disediakan gula merah cair jika ingin sedikit lebih manis.


"Bener banget nih Mba.. enak gorengannya. Liburan disini kayanya saya makan lebih teratur, udah gitu jadi banyak jajan.. hahaha" canda Izza.


Keduanya tertawa, Mas Akmal dan Mba Flo yang sedang berjalan-jalan ga jauh dari mereka hanya memandang dari kejauhan.


"Ketika para pemegang kekuasaan kartu ATM suami sedang makan gorengan sama es kelapa, aura-auranya beda ya.." ledek Mas Akmal.


Mas Akmal dan Mba Flo langsung tertawa bersama.


"Para ratu sedang kongkow bareng.. itu kalo penjual oleh-oleh tau siapa wanita yang lagi sama Lexa.. pasti auto ngerubungin" kata Mba Flo.


"Izza namanya... pedagang mana ada yang berani sama Lexa, dia kan terkenal agak jutek sama orang. Semua pedagang udah paham deh kalo galaknya kumat, untung pada masih hormat sama Candra, jadi Lexa masih bisa diterima sama mereka" papar Mas Akmal.


"Tau tuh orang.. udah mau punya anak dua aja sifatnya kadang kekanakan-kanakan, udah paling bener deh jodohnya Candra. Kalo bukan Candra, mungkin udah bubar jalan kali" timpal Mba Flo.


"Kamu kenal ga sama Rama Abrisam?" tanya Mas Akmal.


"Kalo yang namanya Rama, sama sekali ga tau malah, belum pernah dengar. Tapi Pak Abrisam dan anak tertuanya yang perempuan pernah ketemu. Pak Abrisam ga nikah lagi sepeninggalan istrinya. Perusahaan besar itu Mas, lebih besar dibandingkan punya Ayah. Kita pernah kok jadi subkontraktor mereka. Tapi terakhir yang saya dengar itu anaknya yang perempuan mengalami kecelakaan pesawat dan anak lelakinya tabrakan hingga menjalani pengobatan di Singapore hampir setahun. Mungkin Rama ini anak bungsunya kali, jadi semua dilimpahkan ke dia" jelas Mba Flo.


"Masih misteri sih kenapa Rama mau menjual Audah Hotel. Padahal sedang berkembang dan prospeknya bagus kedepannya. Ide brilian sekali mendirikan hotel transit didekat Bandara. Ditambah ada pula fasilitas yang dibutuhkan oleh para tamu, seperti tempat pijat refleksi, minimarket, restoran di rooftop jadi makan dengan sensasi melihat pesawat lepas landas atau yang akan landing. Ditambah punya Aula yang disewa-sewakan untuk acara dan halaman parkir yang luas" kata Mas Akmal.


"Mungkin butuh uang kali Mas" jawab Mba Flo.


"Please deh.. kalo orang sudah lebih kaya dari Ayah, ga gitu juga kalo butuh uang. Bank mana yang menolak untuk meminjamkan uang ke mereka. Apa laporan keuangan dan studi kelayakan bisnisnya hanya palsu belaka?" papar Mas Akmal.


"Kita kan punya ahli untuk mempelajari dan menilai bagaimana sebuah perusahaan, jadi ga perlu buruk pikiran dulu terhadap Abrisam Group" ingat Mba Flo.


.


"Kamu masih muda keliatannya Za .. sudah lulus kuliah?" tanya Lexa.


"Sudah Mba.. tapi D3, suami sudah minta saya meneruskannya kejenjang S1, tapi sayanya yang mau fokus ke keluarga dulu Mba. Hampir setahun menikah tapi belum dikaruniai anak .. jadi mau program Sepertinya" jawab Izza.


"Iya Mba .." jawab Izza sambil mengangguk.


"Oh ya Mba.. semalam sekilas Mas Akmal dan Mas Candra bercerita tentang nasib mereka saat masih remaja, bisa dibilang mirip sama saya Mba.. jadi mungkin itu yang membuat kami semua jadi mudah akrab karena pernah satu server. Saya harap Mba tidak marah atau cemburu karena kedekatannya kami murni bisnis. Yang semalam hanya berbincang ringan saja" kata Izza menyampaikan kata hatinya.


"Suami saya memang mudah akrab sama siapa saja, terutama kaum hawa. Sudah kebal dari masih jadi teman.. terus jadi kekasih.. terus jadi tunangan dan akhirnya menikah, ada aja wanita yang mencoba menggoda. Saling percaya aja kuncinya, toh sekuat apapun kita menggenggam.. jika bukan takdir maka akan terlepas juga? saya juga sudah berkomitmen.. jika suami macam-macam.. bukankah dia yang rugi sendiri? jadi ga usah merasa ga enak hati. Yang semalam itu memang karena anak ga mau tidur kalo ga sama Papanya. Saya sebenarnya sudah tidur, tapi sama Boy diganggu terus. Merengek minta sama Papanya. Maklumlah Boy itu anak Papa banget, makanya Papanya kalo keluar kota udah kaya rombongan sirkus, kita semua dibawa" ucap Lexa santai.


"Iya Mba.. " jawab Izza setuju.


"Kamu anak tunggal ya?" tanya Lexa.


"Tidak Mba.. malah saya kembar, tapi Kakak dan kembaran saya sudah meninggal, demikian juga dengan orang tua. Saya tidak punya keluarga selain keluarga suami, jadinya ya manut aja sama apa yang suami saya katakan" jawab Izza.


"Maaf ya.. jadi bikin kamu sedih.. saya juga sudah kehilangan Bunda sejak lama. Tapi Ayah sangat sayang sama anak-anaknya, ditambah punya suami dan keluarga suami yang memberikan limpahan perhatian. Allah adil Za.. Allah melengkapi kamu dengan cara yang berbeda. Ini sedikit gambaran dari circle saya ya Za, jangan merasa tersindir, biasanya kalo wanita punya kedudukan ekonomi lebih tinggi, biasanya pihak wanita lebih mudah diterima oleh keluarga pihak lelaki, kalo kebalikannya biasanya lebih sulit. Semoga kamu tidak mengalami hal itu ya" papar Lexa.


"Alhamdulillah Mba.. suami dan keluarga besarnya sangat menerima dan baik sama saya. Sudah seperti anak sendiri. Suami kan punya Kakak perempuan tapi sudah berpulang, nah sama Bapak mertua .. saya boleh pakai semua barang milik almarhumah. Sejak awal di rumah itu juga ya layaknya anak sendiri, tidak dibeda-bedakan" jelas Izza.


"Beruntung sekali kamu Za.. mungkin ada amalan baik yang kamu lakukan sehingga semua serba dipermudah. By the way, saya tuh tertarik sama tas kamu kemarin itu loh.. yang pas kamu baru datang, warnanya hijau mint dan agak besar. Saya cari udah ga ada yang jual, padahal store langganan saya sudah membantu mencarikan yang secondhand pun ga ada. Apa kamu mau jual ke saya?" tanya Lexa.


"Itu bukan tas saya Mba.. punya Kakak ipar, sama Papi .. maksudnya Bapak mertua diperbolehkan untuk dipakai, tapi sepertinya tidak untuk dijual" jawab Izza.


"Ini limited edition Za .. keluar sepuluh tahun yang lalu, almarhumah Bunda punya, tapi karena kebodohan saya, barangnya kejual deh. Nyeselnya sampai sekarang" jelas Lexa.


"Maaf ya Mba.. saya ga berani bilang ke Bapak mertua, khawatir beliau menilai saya ga bagus ya. Masa aset bukan milik saya malah dijual" ujar Izza bijak.


"Gapapa Za.. paham kok sama posisi kamu. Anyway kalo punya kenalan atau toko langganan yang menjual tas itu, kamu hubungi saya ya. Kita tukar nomer HP aja sekarang" ucap Lexa.


Lexa dan Izza saling tukar nomer HP. Izza memberikan nomer HP yang HP nya dipegang oleh Rama. Izza sudah mengirimkan chat kalo ada yang miscall tolong disave aja nomernya.


Lexa pamit dulu mau menyuapi Boy. Izza melanjutkan perjalanan keujung dermaga, menanti senja yang konon katanya sangat eksotik.


"Jika senja mengalah pada malam, aku diam mengalah pada harapan. Tapi ada yang tidak tenggelam ketika senja datang, yaitu rasa yang terpatri dalam" ujar suara dari arah belakang Izza.


Izza memutar tubuhnya, suara itu tak asing baginya.


"Za... kamu disini ngapain?" tanya Andi.


"Kamu sendiri ngapain disini?" Izza balik bertanya.


"Ada panggilan interview disini.. di Jaya Resort" jawab Andi sambil mendekati Izza.


Alex tadinya mau langsung mendekati Izza, tapi Izza sudah memberikan tanda jika dia kenal sama Andi dan meminta Alex menjaga jarak dengannya.


Izza dan Andi duduk ditepi dermaga sambil melihat hamparan biru laut dan langit sore. Keduanya duduk berjarak sekitar lima puluh centimeter.


"Sejak kita berjumpa lagi, sosok kamu selalu mengusik rasa. Kenangan masa lalu yang sulit dilupakan hingga saat ini. Tapi apa mau dikata.. kamu kini telah menjadi milik Mas Rama" buka Andi sambil memandang kearah depan.


Izza diam ga menjawab pernyataan dari Andi. Tatapannya pun sama kearah depan.


"Saya jatuh kelubang obat terlarang karena kehilangan kamu, tapi kembali mengumpulkan kesadaran karena ada harapan bisa bertemu kamu lagi. Susah payah berubah, karena ingin bertemu kamu dalam kondisi yang lebih baik, namun ditampar kenyataan kalo kamu sudah menikah. Bahagiakah kamu sekarang Za?" tanya Andi.


Izza menghela nafas.


"Sudah lama kan? apa istimewanya untuk kamu kenang. Kita mungkin diingatkan untuk lebih bersyukur saat kita mengalami sebuah kehilangan. Saat dihadapkan pada kesulitan, kita akan dipaksa untuk mencari cara-cara untuk menyelesaikannya. Sampai hal ini kadang membuat kita memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang ga pernah kita bayangkan sebelumnya. Begitu kita berhasil melompat lebih tinggi, disitulah kita akan menemukan kekuatan yang lebih besar untuk lebih tangguh menghadapi persoalan-persoalan yang ada berikutnya. Menikah dengan Kak Rama mungkin orang-orang lihat sebagai solusi. Saya ga pun ga menepikan hal itu. Kak Rama adalah sosok yang tepat untuk membantu saya melanjutkan hidup. Harta dan tahta yang dia punya, itu bonus. Tapi kepribadiannya sangat pas buat membimbing setelah banyaknya sosok yang hilang dalam hidup saya" jelas Izza panjang lebar.


"Keliatannya kamu ga bahagia Za.. kenapa menyepi seorang diri disini?" kata Andi.


"Kata siapa saya ga bahagia? kedatangan saya kesini untuk perjalanan bisnis, mewakili suami. Lagipula saya ga sendirian, ada bodyguard dan asisten yang menemani" jawab Izza agak sombong sedikit.


"Dimana? kok ga kelihatan sama kamu" tanya Andi sambil celingukan.


"Liat tuh yang lagi minum es kelapa, lelaki pake topi hitam.. nah itu bodyguard saya, terus yang perempuannya adalah asisten pribadi yang mengurus semua keperluan saya. Mana mungkin dong, saya istri seorang milyuner terkenal dari perusahaan bonafid dibiarkan seorang diri. Tadinya malah mau ada tambahan pengawalan.. tapi saya menolak" papar Izza menohok.


Sengaja Izza ngomong agak tinggi agar Andi tau diri siapa Izza yang ada dihadapannya sekarang.


"Wow.. beda banget ya kehidupan kamu sekarang. Tapi ga aneh sih, wajar orang sekaya keluarga Abrisam selalu dapat kawalan" kata Andi.


"Apa kamu datang kesini ada maksud untuk mencari saya?" tembak Izza.


"Seminggu yang lalu saya baru tau kalo sekejam itu keluarga saya terhadap kamu. Makin malu rasanya untuk berdiri dihadapan kamu sebenarnya. Seperti tadi saya bilang .. tujuan kesini untuk interview. Saya mau memulai hidup baru keluar dari circle Abrisam Group. Ga sanggup rasanya.. bukan karena beban pekerjaan.. tapi karena kamu. Disini pula saya ingin memulai dari awal lagi, jauh dari keluarga yang ga beres. Biarlah mereka mau berbuat apa, bahkan dicoret dari kartu keluarga pun ga masalah. Mohon do'anya Za.. semoga segala niat saya bisa terwujud" ungkap Andi.


"Semoga ya ... sesuatu yang kita niatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta dengan tindakan yang baik pula.. maka hasilnya akan baik" jawab Izza.


"Pantesan Mas Rama tergila-gila sama kamu.. selalu punya energi positif terhadap orang sekitar. Terima kasih sudah hadir dalam hidup saya meskipun dengan label teman" ucap Andi tulus.


Andi memang berbeda dengan keluarganya, dia tidak pernah mau ada embel-embel keluarga disetiap langkahnya. Makanya memutuskan mencari kerja yang jauh dari keluarga dan membangun hidup yang baru.