HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 152, Angry



Rama dan Izza video call sama Sachi, tapi sengaja duduk di sofa dekat jendela sehingga tidak tampak suasana Rumah Sakitnya.


"Ayah sama Mommy nginep di Hotel ya?" tanya Sachi.


"Iya..." jawab Rama berbohong.


"Kok Sachi ga diajak? Ayah sama Mommy kapan pulangnya.. Sachi kangen" ucap Sachi.


"Nanti ya kalo urusan Ayah sama Mommy sudah selesai disini, baru deh pulang ke rumah. Sachi kan ada banyak orang disana. Kami juga kangen sama Sachi. Oh iya, malam ini Opa sama Om Alex pulang ke Jakarta. Ayah titip oleh-oleh buat Sachi. Bagi-bagi temannya ya" kata Rama.


"Iya Ayah ... " jawab Sachi.


🏵️


Pihak dokter yang merawat Izza belum mengijinkan Izza untuk dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Sudah dua hari Izza menjalani perawatan disini, kondisi fisik berangsur semakin membaik, tapi psikisnya masih belum seperti sedia kala. Dia tidak mau bertemu banyak orang, jadi lebih banyak berdua di kamar sama Rama.


Farida sudah balik ke Jakarta untuk menyiapkan kerjasama dengan berbagai pihak. Rekan bisnis Rama yang di Surabaya pun sangat bersimpati terhadap musibah yang dialami Rama sekeluarga, jadi segala persiapan bisnis dipending hingga waktu yang belum ditentukan.


.


Dihari ketiga, kondisi kandungan Izza dicek kembali dan sudah bersih, jadi tidak perlu dilakukan tindakan kuretase, tapi dokter menyarankan Izza untuk bedrest lebih banyak lagi untuk pemulihan.


Jangan ditanya bagaimana kesedihan keduanya, Izza ga berhenti menangis dari pagi hingga sore. Rama berupaya tampil lebih kuat, padahal kesedihannya dua kali lipat daripada Izza, selain kehilangan calon anaknya, dia juga kehilangan kepribadian Izza yang selalu berhasil mencuri hatinya.


Izza yang sekarang didepan matanya adalah sosok wanita yang sangat lemah, sensitif dan tidak banyak bicara. Makan dan minum pun harus disodorkan dulu didepan mulutnya, berbagai penawaran makanan pun sudah Rama ajukan tapi semua ditolak.


"De.. jangan nangis terus ya, kita terima semua dengan lapang dada dan keikhlasan" saran Rama sambil menghapus air matanya Izza.


"Kalo ga ada kejadian ini kan anak kita bisa selamat Kak" jawab Izza.


"Tidak ada yang bisa menjamin De.. kalo memang sudah takdir kita kehilangan.. ya pasti akan terjadi. Sekuat apapun dan sehati-hatinya kita menjaga.. tetap aja akan kehilangan. Belum waktunya amanah itu dititipkan ke kita De. Mungkin saat ini kita berdua masih sibuk. Kakak sibuk kerja dan menyelesaikan kuliah S2, kamu juga sudah diakhir masa kuliah. Sachi masih butuh perhatian lebih dari kita berdua. Allah tau kalo anak itu terlahir ke dunia, belum tentu kita bisa punya waktu yang banyak untuknya" ungkap Rama.


"Kok Kakak biasa aja sih, ga ada sedih-sedihnya ... apa Kakak ga mau punya anak dari Izza? apa karena latar belakang keluarga yang ga bener jadinya Kakak merasa jijik dan menyesal menikah sama Izza?" ucap Izza.


"Astaghfirullahal'adzim... ga begitu De.. ketika Kakak menikahi kamu, sekedar tau sedikit tentang keluarga kamu kan? tapi Kakak lanjutkan dengan melegalkan pernikahan kita. Semua surat identitas kamu diurus dengan baik hingga kita bisa memenuhi syarat dokumen untuk menikah. Memang kamu bukan wanita pertama yang mengisi hati Kakak.. tapi Kakak janji akan menjadikan kamu yang terakhir. Kamu yang membuat Kakak tersadar untuk hidup di dunia nyata, merasakan cinta yang berbalas" lanjut Rama.


"Kakak ga punya perasaan" akhirnya Izza ngambek.


"Ga punya perasaan gimana sih De? Jangan gitu dong ambil kesimpulannya .. emang kamu mau melihat Kakak menangis meraung-raung disini? kalo hal itu bisa membuat anak kita selamat... kalo hal itu bisa membuat kamu bangkit tersenyum kembali... pasti akan Kakak lakukan. Disaat ini ... kewarasan Kakak harus tetap terjaga.. " kata Rama.


"Kakak mau bilang Izza ga waras???" oceh Izza.


"Ya Allah...." ucap Rama sambil menutup wajahnya memakai kedua tangannya.


Meneruskan pembicaraan malah akan menambah runyam suasana, makanya Rama memilih diam dan mencoba fokus untuk memeriksa pekerjaannya.


"Laki-laki ya... orang lagi sedih, bisa-bisanya dia malah ngurusin kerjaan" gumam Izza dengan suara pelan.


Rama tidak mendengar ucapan Izza karena dia sedang menerima telepon.


🏵️


"Kondisi Izza gimana Mas?" tanya Mba Rani dalam sambungan telepon.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, tapi kehamilannya ga bisa selamat" jawab Mas Haidar.


"Ya Allah.. kasian ya.. pasti mentalnya down banget" ujar Mba Rani.


"Semoga Rama bisa lebih kuat lagi, jadi bisa membantu Izza melewati masa-masa terberat ini" kata Mas Haidar.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. kapan mereka balik ke Jakarta?" tanya Mba Rani.


"Besok siang kayanya. Karena besok pagi mau ke Kantor Polisi dulu memberikan keterangan, terus lanjut pulang ke Jakarta" ucap Mas Haidar.


"Nanti kalo udah di rumah dan saya senggang .. mau nengokin Izza" janji Mba Rani.


"Bener yaa... janji itu hutang loh. Kan belum pernah main ke rumah Papi, kita selalu ketemu diluar, beberapa kali diajak juga nolak terus" ucap Mas Haidar meyakinkan.


"InsyaAllah.. kali ini diusahakan ya, kan kita udah mau lamaran resmi, masa ga main ke rumah calon mertua" sahut Mba Rani.


"Nah gitu dong.. jangan sibuk kerja mulu, Polisi lain juga ada waktu liburnya, masa kamu sibuk terus" ujar Mas Haidar.


💐


Jam sebelas siang, Rama rehat dulu dari pekerjaannya, dia membuat kopi sendiri karena Izza masih asyik duduk didepan televisi, menonton channel dari luar negeri.


"De.. besok kita sudah bisa keluar dari Rumah Sakit, kamu diminta langsung ke Kantor Polisi untuk memberikan keterangan yang diperlukan dan kita balik ke Jakarta siangnya. Mau naik apa ke Jakartanya? biar bisa Kakak pesan tiketnya sekarang" tanya Rama yang sedang duduk disebelahnya Izza.


Izza mengecilkan volume suara televisi.


"Kita kan lagi kaya artis nih ya Kak.. dikejar wartawan, kalo naik kendaraan umum rasanya riskan, nanti diuber-uber. Bisa ga sih minta Polisi untuk datang kesini aja, khawatir banyak wartawan nanya ini itu. Tau sendiri kan .. rasanya takut ketemu banyak orang" kata Izza.


"Nanti Kakak tanya dulu ya, terus gimana pulangnya? apa masih mau lanjut bedrest di Surabaya? bisa Kakak carikan Hotel. Atau mau lanjut santai di Bali, Lombok atau Raja Ampat sekalian?" tawar Rama.


"Ngga... mau balik ke Jakarta aja. Banyak yang harus dikerjakan disana. Kasian juga sama Sachi kalo kelamaan kita tinggal" jawab Izza.


"Terus mau naik apa pulangnya? dari tadi tanya ga dijawab-jawab" ujar Rama.


"Tuh kan marah .. udah ga sayang lagi ya sama Izza" tukas Izza sambil menggelayut manja dipundaknya Rama.


"Astaghfirullahal'adzim De... dibagian mana dari kata-kata Kakak yang bilang ga sayang sih? kan cuma tanya mau naik apa kita ke Jakartanya" papar Rama mencoba sabar.


"Itu tadi marah-marah katanya nanya ga dijawab-jawab" lanjut Izza.


"Siapa yang marah De.. kayanya juga ga teriak-teriak tanyanya. Jangan sensi deh" ingat Rama.


Rama memindahkan kepala Izza ke bantalan sofa, kemudian dia berjalan menuju meja makan yang ada di kamar rawat inap.


"Tuh kan Kakak ga mau dipeluk" protes Izza.


"Apa sih Deeeeee ... kan mau ambil makanan dulu, mulai laper ini abis meriksa kerjaan. Udah mau jam makan siang pula, Kakak mau pesan makanan ke Kantin lewat telepon" jelas Rama.


Izza merengut, Rama berjalan menuju meja makan. Dia juga tengah menelpon extension Kantin (untuk kamar VVIP dan VIP diberikan akses menghubungi extension Kantin untuk memesan makanan dan nanti akan diantar langsung ke kamar rawat inap).


Begitu Rama membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju sofa depan televisi, Izza sudah pindah tiduran di tempat tidur pasien.


"Ngantuk?" tanya Rama sambil duduk di sofa.


Izza ga menjawab dan membalikkan tubuhnya membelakangi Rama.


Rama cuma bisa geleng-geleng kepala sambil beristighfar banyak-banyak. Daripada ikutan jengkel, Rama memilih untuk melanjutkan mengurus pekerjaannya.


💐


"Jang .. ini gimana sih .. laporan jam kerja driver ga jelas begini... gimana ngaturnya sih?" tanya Mas Haidar yang udah pusing sama kelakuan Mang Ujang yang kebanyakan tidur daripada kerjanya.


"Maaf Mas.. selama ini memang mereka sendiri yang nulis laporannya. Kan laporan ke HRD seminggu sekali, ya Ujang tinggal tanda tangan" jawab Mang Ujang sambil menunduk.


"Rama tau ga hal ini?" tanya Mas Haidar.


"Ga tau Mas.. kan Mas Boss kemarin-kemarin masih sibuk urus pernikahan. Lagian urusan seperti ini kan harusnya pihak HRD bilang ke saya, kenapa jadi ke Mas Haidar langsung?" bela Mang Ujang.


"Karena pihak HRD udah bingung sama Mang Ujang, dijelasin ga paham-paham, lagi pula pengangkatan sebagai koordinator juga permintaan khusus dari Rama. Kamu kenapa sih Jang.. tidur terus di jam kerja? sebagai manusia tidur itu wajar, tapi kalo dari pagi sampe sore tidur terus ya ga wajar. Kamu ngobat ya?" cecar Mas Haidar.


"Ngobat tuh apa Mas?" tanya Mang Ujang ga paham.


"Minum obat" jawab Mas Haidar.


"Emangnya saya sakit segala minum obat" kata Mang Ujang polos.


"Bukan obat buat orang sakit, tapi obat yang aneh-aneh" lanjut Mas Haidar gemes sendiri.


"Aneh-aneh? saya masih perkasa Mas Haidar... ga perlu obat kuat yang aneh-aneh gitu. Ga pake obat aja istri kewalahan, apalagi pake obat.. hehehe" lanjut Mang Ujang.


"Narkotika.. sabu-sabu.. ekstasi dan lain sebagainya Jang!" seru Mas Haidar dah mangkel.


"Amit-amit deh Mas kalo pake begituan. Saya tuh banyak ngantuk karena tiap malam begituan sama istri Mas.. namanya juga pengantin baru, kaya ga ngerasain aja deh Mas Haidar" kata Mang Ujang sambil cengengesan.


Mas Haidar rupanya sudah diambang batas kesabaran. Dia menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya.


BRAKKKK...


Mang Ujang kaget dengan kejadian tersebut.


"Ini Kantor.. jangan samakan komunikasi kita di rumah dan kantor..paham????" oceh Mas Haidar.


"Maksudnya gimana ya Mas? Ga paham kenapa Mas Haidar marah-marah. Terus komunikasi kenapa Mas? maksudnya pakai HP gitu sebagai alat komunikasi?" tanya Mang Ujang agak takut-takut.


"Mau kamu bercinta sama istri semalaman suntuk, tetap aja kamu punya kewajiban kerja di pagi harinya. Rama mungkin juga sama seperti kamu yang pengantin baru, tapi liat ga dia malas-malasan? tetap sholat subuh di Mesjid, jam enam pagi sudah berangkat kerja, pulang ke rumah paling cepat jam sepuluh malam, kadang weekend ada meeting atau olahraga bareng sama rekan bisnisnya. Pernah liat dia tidur aja di Kantor?" papar Mas Haidar.


"Saya ga pernah liat Mas Boss ngapain aja kalo di ruangan ini" jawab Mang Ujang makin polos.


"Keluar Jang... pusing ngomong sama kamu, heran deh .. kenapa Rama bisa sabar banget ngadepin kamu. Sekarang ke HRD sana, biar diajarin cara ngitung jam kerjanya" usir Mas Haidar penuh emosi.


Mang Ujang keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan HRD.


"Mas Haidar kaya cewe lagi datang bulan aja, masa ngomongin jam kerja supir aja bisa semarah ini, mana segala gebrak-gebrak meja. Dia yang ada masalah...eh orang lain kena getahnya. Begini deh nasib bawahan, disalahin mulu sama atasan" gumam Mang Ujang tanpa beban


💠


Pagi harinya, Rama sudah selesai mengurus administrasi Rumah Sakit. Obat-obatan dan catatan medis sudah diserahkan ke Rama karena Izza akan melanjutkan pemeriksaan di dokter yang ada di Jakarta.


Rama dan Izza akan naik luxury medium bus, pas banget waktunya sama acara wisuda sepupunya. Adiknya Pak Isam yang bungsu, selalu orang tua anak yang akan diwisuda, akan menuju Jakarta sore ini, pakai


bus super mewah tadi.


Adik bungsunya Pak Isam memang punya usaha rental bus pariwisata dan luxury, nama perusahaannya Omah Mlayu.


Rama ditawarkan untuk bareng aja menuju Jakarta, toh mereka juga akan menginap di rumah Pak Isam selama di Jakarta.


Luxury medium bus ini berkapasitas maksimal dua belas penumpang, dilengkapi dengan pendingin yang sangat sejuk, sofa empuk, kursi pijat, jaringan internet Wifi, televisi dengan alat pemutar musik dan film, kulkas, lemari, tempat tidur dan closet duduk.


Ada juga meja untuk makan, disediakan pula aneka minuman dan makanan ringan. Ada sekat antara supir dengan penumpang, jadi bisa lebih privasi.


Disewakan dengan biaya dua puluh juta sekali jalan dari Surabaya ke Jakarta. Om nya Rama tidak mau Rama bayar, toh memang mereka sekalian mau ke Jakarta. Tapi Rama tipe orang yang ga enakan, dia memberikan uang lima juta untuk beli bensin dan bayar tol.


"Jika haus atau butuh kopi, teh atau jus, kan ada minibar dan mini kitchen set yang sudah dilengkapi pula dengan dispenser yang menyediakan air dingin dan air panas sekaligus. Disiapkan pula peralatan makan seperti piring, sendok dan garpu. Fasilitas karaoke yang dilengkapi dengan televisi LCD berlayar lebar bisa memanjakan penumpang diperjalanan. Nanti kan ada satu kamar dengan tempat tidur dengan kasur yang sangat empuk di kabin belakang, sudah dilengkapi dengan TV LCD untuk kebutuhan hiburan yang bersifat personal, jadi Izza bisa rehat selama perjalanan" promo Om nya Rama.


💐


Selama dua jam, Izza memberikan keterangannya ke pihak berwajib. Dia juga berjanji jika ada informasi yang dibutuhkan lagi, bersedia untuk kembali dimintai keterangan.


Izza minta ijin untuk bertemu sama Om Flandy terlebih dahulu sebelum pulang, dia diberikan waktu lima belas menit untuk bertemu. Rama ikut mendampingi karena khawatir emosinya Izza meledak karena belum stabil.


Om Flandy sudah duduk dihadapan Rama dan Izza. Tatapannya masih tatapan nakal terhadap Izza.


"Om kenal sama Ibu Didie?" tembak Izza tanpa basa-basi.


Tangan kanannya Izza menggenggam tangan kirinya Rama.


"Didie? siapa ya???" kata Om Flandy.


"Wanita yang Om simpan sekitar dua puluh dua tahun yang lalu" jawab Izza.


"Oh Didie.. kamu siapanya?" tanya Om Flandy.


"Saya anak yang dikandungnya, saat Om membuangnya ketika sudah hamil besar" jawab Izza.


"Pantas kamu punya kemiripan dengan dia, rupanya anaknya Didie" sahut Om Flandy dengan entengnya.


"Apa saya anaknya Om?" buru Izza.


"Hahahaha... Ibu kamu itu wanita panggilan, tidur dengan banyak pria, padahal saya sediakan apartment mewah dan mau saya jadikan istri kedua, tapi menolak. Jiwa kupu-kupu malam ga bisa hilang kan? lebih senang tidak terikat jadi bisa bebas tidur dengan siapa saja.. hahaha" seringai Om Flandy.


"Jaga mulut Om ya... orang yang Om hina belum tentu lebih hina dari Om" tukas Izza marah sambil berdiri menunjuk kearah Om Flandy.


"Apa yang saya ucapkan salah? saat dia tinggal bersama saya .. kondisinya sudah hamil. Dia yang ga jujur, tapi ya karena sudah cinta .. tetap saya pelihara. Ternyata berhubungan dengan wanita hamil sensasinya luar biasa. Ibu kamu ga pernah menolak pakai gaya apapun, ga pernah cemas kondisi kandungannya, malah makin hot dan liar... hehehe.. " ucap Om Flandy.


"Anda memang sakit jiwa Om .." kata Izza lebih marah lagi.


Rama menahan tubuh Izza yang sudah dalam posisi siap menampar wajahnya Om Flandy.


"Ibu dan anak sama-sama gemesin kalo marah .. apa pelayanannya di kasur memuaskan Ram? biasanya tipe-tipe seperti ini membuat kita kaum pria bisa selalu ingin nambah.. hahaha" kata Om Flandy dengan nada ngeledek.


Izza makin emosi, Rama menarik tubuh Izza untuk segera keluar dari ruangan ini.


Begitu didepan pintu keluar, Rama memasukkan kepalanya menghadap Om Flandy.


"Saya ga akan membiarkan Om lolos dari hukuman.. walaupun Izza tidak mau diteruskan untuk kasus pelecehan dan penculikan, saya yang akan mengajukan permohonan pemeriksaan terhadap kasus itu. Semoga hukuman seumur hidup atau hukuman mati bisa menjerat Om. Toh kepemilikan obat terlarang dengan jumlah yang fantastis pun sudah membuat hukuman itu bisa berlaku. Saran saya .. manfaatkan waktu untuk bertobat selagi sempat, sebelum tiba waktunya eksekusi mati. Sudah cukup Om melakukan banyak kejahatan terhadap keluarga saya, kita liat... bagaimana kondisi keluarga Om setelah ini. Semua harta atas nama Mba Anin, sudah dua mingguan yang lalu berpindah tangan atas nama saya. Bersiap untuk kehancuran keluarga Om.. hahaha" Rama malah mengancam.


"Kurang ajar... anak setannnnn... kamu memanfaatkan Anin untuk mengeruk harta kami" amarah Om Flandy tersulut sambil berlari mendekati pintu.


Tapi Rama langsung menutup pintu sebagai balasan amarahnya Om Flandy hingga Om Flandy kejedot pintu dan jatuh tersungkur di lantai.