
"Malah bengong didepan jendela .. masih mikirin Mba Gita?" tanya Rama.
"Banyak hal yang dipikirin" jawab Izza sambil menghela nafasnya, tanda dia lelah.
"Mau share? siapa tau bisa sedikit lebih lega" tanya Rama menawarkan.
"Apalagi yang mau dishare kalo semua permasalahan Izza, Kakak sudah tau. Apalagi sih permasalahan seorang Izza, cuma seputar keluarga dan kesulitan ekonomi kan? ga kaya Kak Rama yang sampe mikirin perusahaan dan Hotel serta mensejahterakan para karyawan" ucap Izza rada sinis.
"Begitu amat ngomongnya, Za... untuk masalah kesulitan ekonomi, semoga setelah ini kamu ga mengalami lagi. Nanti saya kirim uang buat pegangan ya" kata Rama.
"Yang dikasih waktu itu aja masih ada Kak" jawab Izza.
"Ya kan udah jadi Ibu Rumah Tangga, harus urus belanjaan keperluan rumah dong, terus juga makanan dan kebutuhan Sachi. Kamu mau berapa?" tanya Rama.
"Mau berapa? saya aja ga tau keperluan rumah berapa, kebutuhan Sachi seperti apa" jawab Izza.
"Nanti saya kasih ya catatan yang biasa saya keluarkan. Urusan sekolah Sachi sudah saya bayar per tahun. Untuk belanja tiap bulan memang saya serahkan ke orang dapur, tapi mulai sekarang kamu yang atur. Untuk listrik, gaji Asisten Rumah Tangga itu patungan Papi dan Mas Haidar" jelas Rama secara garis besar.
Rama berjalan mendekati Izza. Berdiri tepat dibelakangnya Izza. Tentunya rasa ga nyaman sedekat ini sama Rama pun muncul dalam benak Izza. Bahkan tangan Rama sudah menempel di kaca, berada tepat disebelah pundak kanan dan kirinya Izza. Wajah Rama pun ada disamping telinganya Izza. Degup jantung Izza makin ga beraturan. Dicobanya untuk bertenang, tapi malah semakin kencang debarannya.
"Berulang kali saya mencoba dengan keras untuk melupakannya. Namun ternyata semakin keras melupakannya malah makin muncul bayangannya dipikiran saya. Semua foto, video dan benda-benda yang mengingatkan saya akan dia, sudah diserahkan ke Mas Haidar" adu Rama setengah berbisik ke Izza.
Makin aja Izza tambah grogi.
"Ini kenapa jadi bahas Mba Nay ya? tadi kan lagi bahas tentang uang bulanan. Ceritanya dia curhat atau mau ngasih tau kalo Mba Nay itu segalanya buat dia?" ucap Izza dalam hatinya.
"Za.. saat tadi melafadzkan akad nikah, ada sesuatu yang membuat saya menghentikan semua perasaan terhadapnya. Rasanya sangat melegakan, sejenak merelakan dan melepaskan perasaan terhadapnya" lanjut Rama.
Izza membalikkan tubuhnya, berharap Rama menyingkir dan menjauh, tapi kenyataannya justru Izza seakan dalam posisi siap dipeluk dan saling bertatapan. Masih juga Izza mencoba mengatur nafasnya yang naik turun dan ga mampu berkata-kata. Mata mereka saling memandang bahkan Rama makin mendekatkan wajahnya ke wajah Izza. Izza mencoba mundur selangkah hingga punggungnya menempel di kaca jendela.
"Rasanya sudah lelah tersakiti tanpa kenal jeda. Za... tetaplah menjadi diri kamu yang dulu, seperti saat awal kita bertemu, yang selalu tertawa lepas dan gak kenal ragu. Yang mudah tersipu, yang gak pernah layu meskipun kamu merasakan sakit bak diiris sembilu" ucap Rama serius.
Izza cuma bisa menatap Rama. Wajahnya Rama makin mendekat ke Izza perlahan-lahan, kini Izza menutup matanya.
Rama menepuk pundaknya Izza, beberapa kali. Izza langsung membuka matanya.
"Tidur lagi sana. Lumayan kan bisa tidur satu jam sebelum sholat subuh" perintah Rama sambil tersenyum.
Izza langsung menarik nafas lega. Dia berlari kecil menuju tempat tidur dan menutup tubuhnya yang masih rapat tertutup busana lengkap dengan selimut.
Rama juga membaringkan tubuhnya lagi di lantai, diatas selimut hotel yang ga terlalu tebal.
"Gila sih ini ... seorang pemilik Hotel malah tidur di lantai Hotel miliknya sendiri... Rama.. Rama... normal ga sih ngeliat wanita udah didepan mata dan sah malah dibiarkan begitu aja" kata Rama dalam hatinya sambil menepuk pelan jidatnya.
🌺
Seusai sholat subuh, Izza langsung ke kamarnya Mba Nur dan Sachi. Rama tadi pamit mau sholat di Mesjid dekat Audah Hotel bersama keluarganya.
Di daerah dataran Jawa, banyak warga muslim yang merasa lebih afdhol sholat subuh di Mesjid/musholla, jadi sejauh apapun mereka pergi, pasti kebiasaan ini akan tetap mereka lakukan.
.
Mba Nur sudah bangun, tapi Sachi masih tidur.
"Saya gendong Sachi, Mba Nur bawain bajunya ya ke kamar saya" pinta Izza.
"Iya Mba" jawab Mba Nur.
.
Izza membaringkan tubuhnya Sachi ke tempat tidurnya, kemudian Mba Nur pamit. Izza merapihkan bajunya yang kotor kedalam laundry bag. Dia juga memasukkan baju kotor milik Rama dalam kantong yang sama. Agak kaget juga melihat cawet miliknya Rama, sebuah benda yang asing baginya. Dulu di Panti asuhan dia mencuci daleman anak-anak perempuan, karena kebetulan memang penghuninya anak-anak perempuan saja.
.
Rama mengetuk pintu kamar, Izza membukakan.
"Loh Sachi udah disini, dia pindah sendiri?" tanya Rama.
"Tadi saya ambil dari kamar Mba Nur. Kasian kemarin dia ga diperhatikan sama Ayahnya. Mba Nur chat saya semalam, bilang Sachi nangis minta tidur sama Ayahnya" cerita Izza.
"Kok ga bilang sama saya?" ucap Rama sambil mencium pipinya Sachi.
"Saya takut Kak Rama marah" jawab Izza.
"Ya udah ... biarin dia tidur. Masih jam enam juga. Tolong bikinin kopi ya, itu didalam tas kanvas coklat, ada kopi dikasih sama Abah Ikin. Gulanya setengah sachet aja" pinta Rama.
"Iya" jawab Izza.
Izza memasak air pakai teko listrik yang ada didalam kamar. Setelah siap, dia menyajikan kehadapan Rama. Izza juga sudah membuat teh manis hangat untuk dirinya sendiri.
"Dari kemarin ga buka-buka jilbabnya" kata Rama.
"Belum terbiasa aja ada lelaki yang melihat saya membuka jilbab" jawab Izza.
Rama kembali asyik sama laptopnya. Sachi terbangun, dilihatnya ada Izza.
"Mommy..." panggil Sachi dengan sangat manis.
"Ya .. Sachi mau apa?" tanya Izza sambil menghampiri Sachi.
Sachi langsung minta dipeluk sama Izza.
"Kolokan nih Sachi..." kata Rama.
Sachi diam aja.
"Sachi mau pipis? bisa sendiri?" tanya Izza.
"Bisa" jawab Sachi lemah.
"Sekarang pipis dulu ya" ajak Izza.
Izza menggendong Sachi hingga kedalam kamar mandi. Mengajari dia cara membersihkan bagian vital setelah habis buang air kecil. Sachi malah minta mandi.
"Kak.. bisa minta tolong ambilin sabunnya Sachi?" kata Izza dengan hanya menongolkan kepalanya.
Rama mengambil alat mandi Sachi di tas kemudian menyerahkan ke Izza.
Pemandangan seperti ini udah kaya orang tua dipagi hari yang sibuk urus anaknya.
.
"Lex... gimana semalam... kamar aman?" ledek Mas Haidar.
"Kamar mana dulu nih Mas?" tanya Alex yang paham maksudnya Mas Haidar.
"Pake sok ga tau lagi" jawab Mas Haidar.
"Aman-aman aja kita mah di kamar, memangnya ada apa Mas Haidar? ada yang kemalingan?" Mang Ujang ikut nimbrung.
"Bisa jadi sih ada pencurian.." kata Mas Haidar sambil senyum-senyum.
"Wah ga beres nih pihak keamanan, kalo Mas Boss tau pasti bisa ngamuk. Siapa korbannya Mas? apa aja yang diambil?" tanya Mang Ujang sok serius.
"Mencuri hati, mencuri perasaan.. dan ... dan mencuri kegadisan.. hahaha" sahut Mas Haidar sambil ketawa lumayan geli sendiri.
Alex tersenyum, Mang Ujang malah jadi bingung.
"Itu maksudnya ada pemerkosaan disini?" bisik Mang Ujang memastikan.
"Gimana Lex? bisa dikategorikan rudapaksa ga?" tanya Mas Haidar sambil tersenyum.
"Kalo nikah paksa mungkin Boss, tapi kalo sampai mereka melakukan sesuatu tanpa terpaksa ya saya ga tau ... hehehe" canda Alex.
Pak Isam menyenggol lengannya Mas Haidar untuk tidak membahas lebih lanjut karena tampangnya Mang Ujang udah makin bingung.
"Mas Haidar kok malah ketawa sih? ini kasus kejahatan kan.. masa diketawain. Mamang mau lapor ke Mas Boss ah, biar pada diomelin tuh security" kata Mang Ujang.
"Ga usah gangguin Mas Boss kamu Jang .. dia lagi menikmati kebersamaan sama istri tercinta" saran Mas Haidar.
"Tapi kan ada kasus kriminal di Hotel ini" kata Mang Ujang.
"Lah kan pelakunya Mas Boss kamu sendiri" jawab Mas Haidar.
"Jang .. mending makan deh, siapa tau nanti abis makan, otak kamu bisa cepat berpikir. Mas Haidar dan Alex ini lagi becandain Mas Boss kamu" jelas Pak Isam.
"Dimana letak becandanya sih Papi Boss, kan ini tindak kejahatan, kasian kan korbannya" sahut Mang Ujang.
"Korbannya malah senang-senang aja kok sekamar sama Mas Boss kamu, buktinya ga pindah kamar kan semalam?" tanya Pak Isam.
"Ini pada kenapa sih? ga Papi Boss ga Mas Haidar, malah senang Mas Boss melakukan rudapaksa" ucap Mang Ujang.
"Sana makan... pusing saya Jang jelasinnya ke kamu" usir Pak Isam yang udah gemes.
Mang Ujang menjauhi meja para Bossnya, tapi dia masih terus mikir tentang Rama.
"Mas Boss beneran lepel dewa nih playboynya. Udah mah disini kumpul keluarga, baru juga nikah ... eh dia melakukan hal sekejam itu sama wanita. Gimana perasaan Mba Izza kalo tau Mas Rama malah tidur sama wanita lain ya semalam... ah tau deh .. ruwet... keluarganya aja kaya bangga tuh tau Mas Boss meniduri seorang wanita... amit-amit... amit-amit.. semoga ga kaya Mas Boss" kata Mang Ujang dalam hatinya.
.
"Gimana Lex..." lanjut Mas Haidar.
"Gimana ya .. ehmm ... ehm.. Mas Haidar liat video ini aja deh, di zoom" ucap Alex sambil menyerahkan HP nya ke Mas Haidar.
Mas Haidar memperhatikan kaca kamar Hotel, yang letaknya berdekatan dari kamar tempat mengambil foto. Memang Audah Hotel ini bangunannya letter L. Jendelanya kamar Rama bisa terlihat jelas dari kamarnya Alex.
"Wowwww... ga tahan juga nih Boss Rama" ucap Mas Haidar sambil tersenyum.
Karena penasaran, Pak Isam ikut melihat video di HP Alex yang sudah di zoom.
"Ngapain sih mereka malah pelukan di jendela? mana tirainya dibuka. Ga khawatir ada yang liat?" tanya Pak Isam.
"Anak muda Pi.. suka cari spot yang menantang. Kaya ga pernah muda aja" sahut Mas Haidar.
"Tapi ya ga bercinta depan jendela kaya gitu. Bisa aja kan direkam terus disebarkan kemana-mana" ucap Pak Isam.
"Ini mah belum adegan macam-macam Pi, baru saling tatap-tatapan, meluk juga ngga deh, tangannya Rama aja yang ada disampingnya Izza" teliti Mas Haidar.
"Lagian kamu buat apa sih Lex segala videoin orang lagi bermesraan?" tanya Pak Isam.
"Saya ga bisa tidur Pak, kemudian iseng bikin video tentang pemandangan malam, eh begitu lagi merekam kelap-kelip lampu kearah Bandara, eh pas banget ngeliat Boss Rama. Tadinya saya kita mereka sedang melihat sesuatu, ternyata lagi berbuat sesuatu.. hehehe" papar Alex.
"Hapus video ini, nanti Boss kamu tahu bisa diamuk" saran Pak Isam.
Alex buru-buru menghapus video di HP nya.
💐
Sachi udah rapih dengan dress selutut kaos warna pink. Rambutnya dikeringkan sama Izza pakai hair dryer kemudian dikuncir kuda dan diberikan penjepit gambar strawberry.
"Mommy .. kita kebawah yuk.. Sachi lapar" ajak Sachi.
"Mommy belum ganti jilbab ... tunggu dulu ya" jawab Izza.
Izza memilih jilbab segiempat didalam lemari. Terus menuju kamar mandi, Sachi mengikuti Izza dari belakang, kamar mandi ga ditutup sama Izza, pintu terbuka lebar karena didorong Sachi.
Rama pas lagi berjalan menuju meja rias buat menyisir rambutnya, dia melihat Izza tanpa jilbab, rambutnya ikal dibagian bawah dan lurus dibagian atasnya. Ga terlalu panjang, sebahu lebih. Izza belum menyadari kalo Rama sedang melihatnya.
Izza menguncir rambut hitamnya pake kunciran karet berwarna hitam. Berbeda banget wanita berjilbab ketika sedang ga berjilbab.
Rama buru-buru memalingkan pandangannya begitu Izza melihatnya. Izza juga buru-buru menutup pintunya sedikit.
Begitu sudah rapih, Izza keluar dari kamar mandi. Rama kembali menyisir rambutnya dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya, posisinya tepat berdiri disamping Izza yang lagi mengecek kembali jilbabnya di kaca yang sama.
"Kayanya tadi udah sisiran sama pake minyak wangi, kok sekarang sisiran lagi?" tanya Izza sambil memakaikan bros di jilbabnya.
"Kurang rapih" jawab Rama buat nutupin groginya.
🌺
Rama menggendong Sachi dipunggungnya, Izza berjalan disampingnya, mereka menuju Ballroom hotel untuk sarapan.
"Hmmmh .. manten anyar, abis mandi basah kayanya nih...wangi banget, mana tuh rambut sampe klimis gitu" goda saudaranya Pak Isam.
"Bangun tidur itu Lek, matanya aja kaya mata kurang tidur. Abis nguli Mas? keliatan capek banget" timpal lainnya.
Rama cuma tersenyum, Sachi ikut Izza untuk mengambil makanan.
Setelah menyajikan buah dan segelas air putih untuk Rama, Izza duduk disampingnya Pak Isam. Dia kemudian menyuapi bubur ayam ke Sachi.
Rama muter-muter melihat makanan yang disediakan. Bersamaan dengan itu Ceu Lilis dan keluarga serta orang tuanya Mang Ujang masuk ke Ballroom. Ceu Lilis langsung menghampiri Rama.
"Jadi nanti belanja jam berapa? koordinasi sama Mang Ujang ya" jelas Rama ke Ceu Lilis.
"Katanya Mang Ujang hari ini mau antar saudaranya Aa' Rama dulu" jawab Ceu Lilis.
Rama menghampiri meja tempat Ibunya Ceu Lilis duduk.
"Makasih ya Lis udah menghibur para tamu. Makasih juga ya Ibu sekeluarga sudah bisa hadir" basa basi Rama.
"Kita senang kok nak, adik-adiknya Lilis jadi bisa liat kota Jakarta" kata Ibunya Ceu Lilis.
"Kakinya udah enakan Bu?" tanya Rama sambil memegang kaki Ibunya Ceu Lilis.
"Alhamdulillah sejak rutin berobat, udah bisa jalan ga pake tongkat. Tapi ga bisa jauh-jauh" jawab Ibunya Ceu Lilis.
Mereka mengambil makanan yang sudah disediakan, tinggallah Ceu Lilis dan Rama duduk berdua.
"A' kenapa harus nikahnya sama Izza sih?emang ga ada cewe lain yang bisa dijadikan istri?" tanya Ceu Lilis yang masih mengulang pertanyaan yang sama dan masih juga rada-rada keki.
"Jodoh" jawab Rama singkat.
"Tapi kan A' Rama tau siapa Izza" kata Ceu Lilis.
"Lis... ga usah dibahas lagi ya, toh kami sudah menikah" jawab Rama.
"Lilis teh ga masalah kalo Aa' sama cewe lain. Lilis happy kok liat Aa' happy. Begitu mudahnya A' Rama ngelupain janji sama Mba Nay" ucap Ceu Lilis sedih.
"Janji mana yang belum saya tunaikan Lis? semua sudah saya tunaikan" tanya Rama.
"Janji buat ngejaga Lilis" jawab Ceu Lilis.
"Udah Aa' lakukan kan? Lis.. dari awal Aa' udah bilang, sampai kapanpun Aa' akan selalu ada buat Lilis" ucap Rama.
"Tapi pokoknya mah Lilis tetap ga setuju kalo Aa' sama Izza. Adik seorang pembunuh" kata Ceu Lilis.
"Lis... kecilin suaranya, sodara saya ga tau masalah keluarga Izza" ingat Rama pelan.
"Pokoknya Lilis kecewa. Beneran deh Lilis tuh sayang sama A' Rama kaya kakak kandung Lilis sendiri" lanjut Ceu Lilis.
"Inilah hidup Lis... manusia ga ada yang sempurna, mungkin saja ada keputusan yang salah, mudah-mudahan pernikahan ini bukanlah keputusan main-main. Aa' do'akan, Lilis cepet dapet jodoh. Tapi kelarin dulu kejar paketnya setahun lagi. Kalo Lilis mau kuliah di Jakarta juga boleh" tawar Rama.
"Iya A' .. Lilis juga mau ke Jakarta buat memperbaiki nasib" ucap Ceu Lilis.
"Pintu rumah Aa' selalu terbuka buat kamu Lis" kata Rama sambil senyum.
"A' boleh wefie berdua ga?" tanya Ceu Lilis sambil nyengir.
"Jangan berdua ya... dulu aja ga mau, apalagi sekarang" kata Rama.
"Atuh cuma foto A'.. kan kita ga ada apa-apa " kata Ceu Lilis sambil diam-diam mengambil fotonya Rama.
"Apus ga fotonya..." pinta Rama sambil berusaha mengambil HPnya Ceu Lilis.
"Buat para fans nya A' di Tasik... banyak yang request katanya gapapa deh mereka jadi istri kedua juga mau.. hehehe" canda Ceu Lilis.
Rama terus berusaha mengambil HP nya Ceu Lilis sampe tarik-tarikan HP, Ceu Lilis malah ketawa melihat mimiknya Rama yang memohon buat dihapus fotonya.
Akhirnya Rama berhasil mengambil HP nya Ceu Lilis dan mencari galeri foto buat dihapus, Ceu Lilis berusaha mencegah, hingga tangan Ceu Lilis memegang tangan Rama.
Rama buru-buru ngelepasin HPnya Ceu Lilis dan diletakkan diatas meja. Bersamaan dengan itu, Izza jalan kearah meja prasmanan bareng Ibu Panti Asuhan.
Ibu Panti Asuhan melirik ke arah Izza yang cuma bisa diam aja melihat adegan tadi. Banyak saudaranya Rama yang kaget melihat adegan itu juga. Walaupun Rama langsung menarik tangannya, tapi ga pantes dilakukan dimuka umum dengan orang yang bukan saudaranya.
Izza melangkah seolah ga terjadi apa-apa, tetap menyunggingkan senyum terbaiknya. Dengan begitu saudara yang melihat pun jadi tenang, karena Izza paham dan ga terbakar cemburu.