HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 207, High Tension Again



DNA adalah singkatan dari deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat, bahasa mudahnya adalah bagian inti sel yang menyimpan semua informasi tentang genetika.


Tubuh manusia terdiri atas jutaan sel yang sebagian besar dari sel-sel tersebut mengandung gen dengan rangkaian lengkap. Didalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom.


Setiap orang akan menerima setengah pasang kromosom dari Ayah dan setengah pasang kromosom dari Ibu, sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari Ibu maupun Ayah.


Tes DNA sendiri adalah prosedur yang digunakan untuk mengetahui informasi genetika seseorang. Metode yang digunakan dalam tes DNA adalah dengan mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Itulah mengapa tes DNA kebanyakan digunakan untuk membuktikan kebenaran anak kandung yang diragukan statusnya. Karena setiap manusia akan mewarisi setengah dari gen kedua orang tuanya.


.


Hari ini Pak Sandy menjemput Izza untuk menuju Rumah Sakit, Rama tidak bisa ikut karena ada jadwal meeting. Zian ditinggal di rumah bersama Mba Nur dan dalam pengawasan Pak Isam. Alex diminta oleh Rama untuk mengawal Izza ke Rumah Sakit. Mereka naik mobilnya Pak Sandy secara bersama-sama.


Pak Sandy dan Izza menuju ruang konsultasi di lantai dua. Disana sudah ada dokter yang akan menjelaskan secara singkat semua prosedur yang akan dijalani oleh keduanya. Sebelumnya pihak pendaftaran dan administrasi meminta kelengkapan data yang diperlukan untuk menjalani tes DNA ini.


Karena tes ini bersifat rahasia dan independen, dalam ruang konsultasi pun hanya ada dokter dan dua orang yang akan diperiksa DNA nya. Tidak ada orang lagi kecuali nanti petugas laboratorium untuk mengambil sampel yang diperlukan.


.


"Selamat pagi Bapak Ibu, jadi tujuan tes DNA kali ini dilakukan untuk mengetahui dan memastikan status Ayah dan Anak. Tadi sudah menandatangani surat persetujuan diambil sampel DNA baik calon Ayah dan calon Anak. Yang akan kita jalani sebentar lagi itu jenisnya DNA paternity test, yaitu mengetahui hubungan biologis antara Ayah dan Anak, karena disini tidak ada sampel Ibu. Tes ini sangat akurat, tingkat akurasinya hingga sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Setelah diambil sampel yang diperlukan, akan kami uji di laboratorium. Adapun sampel yang akan diambil adalah darah, rambut, air liur, ulas/swab bagian dalam pipi dan kuku. Khusus sampel darah yang akan kami pakai adalah sel darah putih, karena sel darah merah tidak memiliki inti sel" jelas dokter secara singkat dan jelas.


Pak Sandy dan Izza menyimak penjelasan dokter, setelah tanya jawab, keduanya mulai diambil sampel oleh petugas laboratorium yang masuk kedalam ruangan.


Masing-masing sampel diberikan etiket data mereka agar tidak tertukar. Prosedur selanjutnya, petugas laboratorium yang akan bekerja. Tes ini sendiri sangat dijamin kerahasiaannya, tindakan curang dan pemalsuan dapat dipastikan tidak ada, karena petugas yang mengambil sampel dan yang memeriksa berbeda orang. Ditambah lagi, laboratorium Rumah Sakit ini dilengkapi CCTV agar tidak ada penukaran sampel dan sebagainya seperti yang sering ada di sinetron-sinetron negeri plus dua enam.


Hasil tes DNA baru dapat dilihat hasilnya sekitar tiga sampai empat minggu setelah tes dilakukan.


.


Seusai menjalani tes, Izza dan Pak Sandy menuju makam Ibunya Izza, mereka singgah sebentar kemudian Pak Sandy mengantarkan Izza pulang ke rumah.


"Terima kasih Za.. sudah mau melakukan tes ini dengan ikhlas" ucap Pak Sandy.


"Saya juga mau berterima kasih sudah diurus semuanya. Maaf untuk penawaran makan siang tidak bisa saya terima, Zian resah kalo saya tinggal lama Pak" jawab Izza.


"Kolokan ya Za" kata Pak Sandy.


"Seperti Ayahnya, manja dan ingin selalu diperhatikan. Ya mungkin karena sejak awal kan kami berdua berkomitmen untuk sebisa mungkin mengurus anak kami berdua, pengasuh hanya untuk membersihkan kamarnya Zian dan merapihkan semua keperluan Zian. Atau saat saya mandi atau makan, ya pengasuh yang pegang" jelas Izza.


"Rama manja? kok kayanya Bapak kurang percaya ya.. dia tuh laki banget kan" tanya Pak Sandy setengah ga percaya.


"Tipe anak bungsu, sedewasa apapun, tetaplah anak yang butuh perhatian ekstra kan Pak" jawab Izza.


"Tapi ga keliatan sisi manjanya, malah Bapak lihat dia lebih dewasa dibandingkan Kakaknya. Diantara kalian berdua yang terlihat manja malah kamu Za" kata Pak Sandy.


"Mungkin karena Kak Rama itu lebih laki sifatnya dibandingkan Mas Haidar, sehingga sisi manjanya ga terlihat dari luar" jawab Izza.


"Kok panggilnya Kakak? ga Mas atau sayang gitu" ucap Pak Sandy.


"Ketika pertama kali bertemu, saya panggil Kakak ke beliau, berjalannya waktu juga panggilan tidak berubah. Kak Rama bilang tidak perlu diubah, biarkan seperti itu saja. Tapi karena sekarang ada Zian, kami kadang membahasakan dengan panggilan Ayah dan Mommy, agar Zian nanti terbiasa" jelas Izza.


"Kalian memang pasangan yang unik. Kenal sama Candra dan Lexa kan? mereka juga pasangan yang bisa dicontoh seperti kalian. Hanya bedanya mereka itu pasangan lucu, yang satu dingin dan yang satu panasan. Tapi kalo kamu dan Rama ini kayanya adem ayem, sama-sama anteng" tutur Pak Sandy.


"Keliatannya adem ayem? itu karena Kak Rama lebih mengalah saja, beliau juga selalu memberikan alasan jika melarang sesuatu, jadinya kita bisa mudah paham apa yang beliau inginkan" puji Izza.


"Rama itu pimpinan perusahaan besar, pasti sudah terbiasa mengatur orang, jadi dia tau kapan saatnya mengalah dan kapan saatnya orang ikutin pendapatnya. Barry jauh berubah sejak dimentori oleh Rama. Dulu Barry didampingi oleh Candra, tapi ada konflik cinta yang membuat mereka ga akur. Lagipula kan dulu Candra itu bawahannya Barry, jadi Barry bisa sembarangan menyuruh Candra. Nah sekarang ketemu pawangnya, Rama itu tegas kalo ngajarin, ga pandang orang lebih tua atau tidak, dia tidak sungkan tapi tetap menjaga sopan santun" papar Pak Sandy.


"Bercerita tentang Kak Rama memang tidak akan ada habisnya. Saya, Mang Ujang, Papi Isam, Mas Haidar bahkan Bang Alex ini juga seperti sekarang ini karena polesan Kak Rama" ungkap Izza.


"Benar itu Lex?" tanya Pak Sandy.


"Benar Pak, pokoknya saya abdikan seluruh hidup saya untuk keluarga Boss Rama. Beliau yang menyelamatkan hidup saya dan mengembalikan ke jalan yang lebih baik. Beliau juga yang meminta saya untuk kuliah Pak, kadang saya juga membantu Boss Rama jika ada proyek, ya membantu mengetik atau menghitung" papar Alex.


"Keren deh Rama... tapi Bapak pernah ketemu sama supirnya, orangnya rada gimana gitu ya, lain daripada yang lain" ujar Pak Sandy.


"Itu sudah bergaul sama Boss Rama lama Pak, dulunya lebih parah lagi. Padahal diminta kuliah juga sama Boss Rama, tapi katanya sudah ga sanggup buat berpikir lagi. Tapi dia bestienya Boss Rama, sama-sama saling tau hal pribadi, bisa jadi Mba Izza ga tau tapi Mang Ujang tau" papar Alex.


"Hayoo Bang Alex.. ada rahasia apa ya antara Kak Rama dan Mang Ujang?" tanya Izza kepo.


"Rahasia laki-laki Mba.. santai aja, mereka berdua dijamin bukan urusan wanita lain, lebih ke membangun karakter dan saling bully buat menghibur diri" jawab Alex.


"Sudah.. sudah.. dari tadi bahas Kak Rama terus, kasian lagi meeting nanti telinganya berdenging terus" putus Izza.


💐


"Pak Rama... Manager marketing dan staf marketing yang selalu menjadi ujung tombak perusahaannya ini, sudah diambil oleh perusahaan sebelah, bisa dikatakan ujung tombak tidak seruncing dulu. Banyak staf kita yang diambil juga oleh perusahaan lain" lapor Manager HRD yang dipanggil Rama sore ini.


"Sudah saya minta untuk mencari Manager yang baru kan sejak Manager yang lama mengajukan surat resign. Kenapa belum ada juga hingga hari ini? sudah saya peringatkan berkali-kali untuk segera mencari dan bikin temu janji dengan saya, tapi mana hasilnya? jangan hanya mengeluh, kerja dengan cepat dan cermat. Dua bulan posisi Manager marketing kosong dan saya yang bantu backup, tidak akan maksimal hasilnya karena tidak ada input dari kepala orang lain, masa saya yang buat terus saya pula yang menyetujui" Rama mulai agak tegas.


"Calonnya tidak ada yang cocok Pak" jawab Manager HRD.


"Dalam banyaknya para lulusan manajemen, ekonomi dan marketing yang melamar kesini, apa tidak ada yang memenuhi spesifikasi standar awal di perusahaan ini?" tanya Rama.


"Tidak ada yang melamar sebagai Manager marketing Pak" jawab Manager HRD.


"Sebagai seorang HRD kawakan, apa tidak punya jaringan sekitar untuk mencari karyawan? Jangan kita menunggu orang melamar, kalo perlu kita yang melamar orang tersebut. Lepasnya Manager dan staf yang bagus disini karena pihak sana lebih aktif mendekati dan memberikan penawaran yang menarik" kata Rama.


"Tapi wewenang saya tidak sampai memberikan penawaran yang menarik Pak" jawab Manager HRD.


"Benar.. tapi saya memberikan aturan yang jelas untuk HRD, jika ada sesuatu yang diharapkan oleh pekerja, harusnya diakomodir dan dibicarakan ke saya, jangan malah diam seribu bahasa. Tugas Anda disini bukan hanya menghitung absensi dan gaji, tapi bagaimana bisa merangkul para karyawan semua agar mempunyai loyalitas terhadap perusahaan" ujar Rama mulai ada nada emosi dan kecewa.


Manager HRD terdiam, Rama memang sangat menyeramkan jika sudah mencecar orang.


"Besok siang, sudah ada berkas calon Manager HRD di meja saya. Tidak perlu punya pengalaman sebagai Manager, tapi lihat track record pekerjaan dibidang marketing. Paling tidak, calon tersebut ada pengalaman sekitar tiga tahun dibidang ini" perintah Rama.


"Baik Pak" jawab Manager HRD.


.


Hari ini Rama banyak bertemu dengan kliennya. Tak terasa sudah mendekati pukul lima sore.


Rama mendapatkan telepon dari pihak lembaga permasyarakatan tempat Mba Gita ditahan.


"Selamat sore Pak Rama, kami dari pihak Lapas XYZ, memberikan kabar duka cita, saudara Gita ditemukan tidak bernyawa di selnya. Tidak ada sakit atau tindak kekerasan, menurut saksi yang satu sel dengan saudara Gita, tadi mengeluh pusing kemudian tidur. Karena sudah sore, coba dibangunkan, tapi sudah tidak teraba nadinya" lapor pihak Lapas.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, baik.. saya akan segera kesana" jawab Rama.


Rama segera menelepon Izza, meminta Izza untuk bersiap-siap dan segera menuju Lapas tempat Mba Gita ditahan. Rama sudah memberitahukan kabar duka cita ini ke Izza dan Pak Isam. Pak Isam menghubungi Mas Haidar.


Tangis histeris Izza membuat seisi rumah panik. Zian langsung diambil oleh Mba Nur dari dekapan Izza.


Pak Isam mencoba menenangkan Izza yang sudah tidak karuan histerisnya. Maryam turut membantu menenangkan Izza juga.


Setelah kondisi Izza sudah lebih baik, dia segera berganti pakaian.


Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit pun, Izza masih saja menangis. Pak Isam terus menerus memberikan dorongan kekuatan untuk Izza.


Rombongan Izza sampai terlebih dahulu, Mas Haidar dan Alex yang langsung berkoordinasi dengan pihak yang berwajib untuk segera memandikan dan mengkafani jenazah. Rama sendiri sudah menghubungi pihak tempat pemakaman umum, rencananya akan langsung dimakamkan saja karena tidak ada keluarga yang perlu ditunggu.


Maman yang sedang ada di Pesantren dimintai tolong oleh Rama untuk sholat ghaib dan mendo'akan almarhumah Mba Gita. Sedangkan Maryam yang ada di rumah Pak Isam diminta untuk mengadakan pengajian dengan semua orang yang ada di rumah.


.


Perasaan Izza sudah tidak bisa digambarkan lagi, baru merasakan kebahagiaan, sekejap mata tiba-tiba mendapatkan kabar duka.


Jenazah sedang dimandikan dan dikafani di sebuah Rumah Sakit yang tidak jauh dari Lapas. Semua barang-barang milik Mba Gita diserahkan ke Rama sebagai penanggung jawab.


"Kak... ga bolehkah Izza sebentar aja bahagia? kenapa Izza selalu ditinggalkan?" tangis Izza setelah melihat jenazah Mba Gita.


Rama tidak banyak berkata-kata, dia memeluk Izza. Tiba-tiba badan Izza rebah, untungnya Rama sudah bersiap dengan kemungkinan Izza jatuh pingsan.


Izza dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan medis. Rama meminta tolong ke Pak Isam dan Mas Haidar untuk memakamkan Mba Gita secara layak. Rama kembali menelepon pihak tempat pemakaman umum dan semua sudah siap melaksanakan pemakaman. Rama juga sudah mentransfer sejumlah uang yang diminta oleh pengurus makam.


Biar bagaimanapun, Mba Gita lama bekerja dengan Pak Isam, sehingga layak mendapatkan penghormatan terakhir yang layak. Oleh karena itu, keluarga Pak Isam mengurus semuanya.


.


Rama mengajak Izza pulang ke rumah, tidak ikut ke pemakaman, hal ini karena anjuran dari dokter untuk segera beristirahat saja. Tekanan darahnya sangat rendah, sehingga disarankan untuk tidak melakukan aktivitas.


.


Meskipun awalnya Izza tetap ngotot mau ikut proses pemakaman, akhirnya menyerah juga setelah badannya terasa sangat lemas.


Sampai di rumah, keduanya mandi terlebih dahulu baru mengambil Zian yang sudah tidur di kamarnya Sachi.


Zian tidur bareng Izza dan Rama di ranjang yang sama. Rama memang mengganti ranjangnya ke ukuran custom sehingga lebih lebar, biasanya Zian tidur di kamarnya sendiri, malam ini rasanya Izza enggan berpisah dengan Zian.


"Pagi nanti ke makam ya Kak" pinta Izza.


"Hari ini istirahat dulu, fokus ke stamina kamu dan Zian, tadi kan Mba Nur bilang, pas kita tinggal.. Zian rewel" kata Rama.


"Tapi Kak.. Izza mau liat makamnya Mba Gita" lanjut Izza.


"Kakak tau bagaimana perasaan kamu, asal kamu tau De.. sejahat-jahatnya beliau, Kakak mengenalnya sejak Kakak SD. Beliau juga yang membantu mengawasi Mamanya Sachi saat Kakak kuliah diluar negeri, meskipun itu sebuah kesalahan besar. Kakak sudah urus selayaknya jenazah dimakamkan. Kalo kamu sudah stabil baik emosi maupun kesehatan, Kakak sendiri yang akan mengantar kesana" kata Rama.


"Kak.. please" mohon Izza.


"Tolonglah De.. nurut bisa ga? semua demi kamu juga" jawab Rama.


"Tapi kan Mba Gita itu Kakaknya Izza" debat Izza.


"Terserah siapanya kamu, yang jelas kamu di rumah saja. Jangan berani-berani keluar dari rumah selangkah pun tanpa ijin dari Kakak. Paham????" ucap Rama agak emosi.


Zian kaget mendengar suara Rama dan akhirnya Zian menangis. Izza langsung mengusap tubuh Zian agar tenang.


Karena belum reda juga tangisnya, Izza mengASIhi Zian. Rama malah pindah tidur ke sofa.


"Menurut keterangan dokter, Mba Gita meninggal wajar. Tidak ada tanda kekerasan atau sakit. Apa jaringan-jaringan mafia obat terlarang yang dulu terlibat dalam kematian Mba Gita? stop Rama.. stop... otak kamu ga perlu curiga seperti itu, terima saja penyebab kematian Mba Gita karena takdir. Banyak hal yang harus kamu selesaikan. Sudah tiga bulan ini tidak ada proyek yang berhasil Abrisam Group dapatkan. Papi sudah sering negur. Fokus Ram.. fokus..." kata Rama bicara sendiri dalam hatinya.


Zian sudah kembali tertidur dengan tenang. Izza menuju dispenser untuk mengambil air minum.


"Kalo banyak persoalan, jangan pernah bawa kedepannya Zian. Kakak boleh marahin Izza, tapi tidak didepan anak seperti tadi. Kakak ga pernah tau bagaimana terlukanya seorang anak jika Ibunya dibentak oleh Ayahnya sendiri" ingat Izza dengan suara pelan.


"Maaf ya.." jawab Rama menyesal.


Izza menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


Rama memandang dari sofa, dia menyesal sudah melampiaskan kepenatan beban pekerjaan ke Izza. Malam ini Rama sedang enggan merayu Izza agar memaafkannya, hal ini karena Rama merasa dirinya sendiri masih terbebani banyak hal sehingga emosinya tidak stabil.


.


Pagi hari Rama tidak sempat sarapan, tapi Izza sudah meminta ke Mba yang ada di dapur untuk membuatkan sandwich dan jus lemon plus apel guna dinikmati sama Rama didalam mobil.


Kalo Mang Ujang dibawakan roti bakar dan teh manis hangat. Keduanya sarapan di mobil.


Mobil sudah melesat di jalanan Ibukota sekitar jam enam pagi. Rama sibuk dengan laptopnya, membaca email yang masuk dengan seksama.


"Masih aja Mas Boss sarapan roti pake lalapan begitu, mana pake jus asem dingin, emang perutnya ga konslet pagi-pagi sarapan begitu?" tanya Mang Ujang.


"Ini tuh sandwich Mang.. bukan roti pake lalapan" jawab Rama.


"Sama aja Mas Boss.. lalapan kan sayuran mentah, lah itu isi rotinya mentah semua. Mending makan roti bakar selai kacang plus teh manis hangat.. beuh.. nikmattt" kata Mang Ujang.


Rama masih tekun membaca sambil menikmati sandwichnya.


"Kita kenapa pagi-pagi begini lagi sih jalannya, kan katanya udah insyaf sejak Zian lahir. Kenapa kambuh lagi Mas Boss?" tanya Mang Ujang penasaran.


"Saya mau masuk ke ruangan para Manager Mang" jawab Rama.


"Kan baru pada datang jam delapanan Mas Boss, kita ini nanti sampai di kantor juga masih jam tujuh kurang" sahut Mang Ujang.


"Justru itu, saya mau minta kunci ke cleaning service, mereka kan pasti sudah selesai membersihkan ruangan sekitar jam tujuh, kemudian kunci akan diserahkan ke security" ucap Rama.


"Masih ga paham deh.. kan udah ada security, kenapa harus Mas Boss yang dititipin kunci, sekarang Mas Boss tambah kerjaan pegang kunci ruangan?" tanya Mang Ujang.


"Ga usah bawel Mang... saya lagi mempelajari sebelum bertindak" pinta Rama.


"Bertindak apa nih Mas Boss? Jangan bilang kalo Mas Boss mau ngamuk hari ini" duga Mang Ujang.


"Bisa diam ga? kalo ga bisa diam, Mang Ujang turun disini, biar saya yang bawa mobil sendiri" ancam Rama.


"Becanda aja nih Mas Boss, ini kan jalan toll, nanti Mang Ujang gimana keluarnya dari sini? emangnya ada yang mau angkut orang ditengah jalan toll?" ucap Mang Ujang.


Rama menelepon Farida, meminta Farida datang lebih cepat.


"Ada apa ya Pak? saya belum siap-siap, biasanya berangkat dari rumah jam tujuh" kata Farida.


"Kamu ga perlu dandan, yang penting pakai baju rapih seperti biasa. Kalo ga ada suami kamu yang antar, naik taksi sekarang juga, tagihannya saya yang bayar" perintah Rama.


"Tapi kita tidak ada jadwal meeting pagi ini Pak" jawab Farida.


"Saya tunggu segera" kata Rama sambil mematikan ponselnya.


Mang Ujang ciut juga nyalinya, melihat tampang Rama yang sudah tidak bersahabat dan ngomong dengan nada yang tegas ke sekretarisnya.


"Ini Mas Boss kenapa ya? sampai marah-marah juga ke Mba Farida. Bikin salah apa ya kira-kira? Apa karena kematian Mba Gita jadi Mas Boss curiga sama sekretarisnya sendiri? ah.. pagi-pagi diajak mikir sama Mas Boss, orang mah diajak sarapan nasi uduk pake semur tahu dan gorengan" kata Mang Ujang dalam hatinya.