HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 30, Memories



"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan saat itu. Tapi Allah menakdirkan berbeda. Saya hanya bisa menjadi Ayah Sachi aja, bukan menjadi suaminya Mba Nay" kenang Rama.


"First love (cinta pertama) kedengarannya" canda Izza mencairkan suasana yang mulai mellow.


"Maybe ... sulit mendefinisikan hati saya saat itu. Antara kasian dan sayang ga ada bedanya. Tapi setelah penolakan demi penolakan dari Mba Nay, saya sadar kalo rasa sayang yang saya punya hanya sebatas sayang terhadap seorang Kakak. Saat itu ga mikir panjang juga, yang diotak saya hanya menjaga kehormatannya. Masih muda kan .. pasti mengedepankan perasaan daripada pikiran" sahut Rama sambil mengarahkan pandangan ke jendela dan melihat birunya langit.


"Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat kita disaat yang tepat. Mungkin aja kalo Kakak menikah sama Mba Nay malah merunyamkan suasana. Bisa aja kan sewaktu-waktu Mas Haidar sembuh total dan mendapati orang yang dicintainya sudah menikah dengan adik kandungnya sendiri. Pahit pastinya menerima hal itu. Bukannya lebih baik seperti sekarang, Sachi punya Ayah dan Papa sekaligus. Toh apapun status kalian berdua, dimata Sachi, kalian orang yang dia cintai dan sayangi" kata Izza bijak.


"Ya sih... oh ya waktu di IGD kok kamu liat Mas Haidar kaya aneh gitu kenapa ya?" tanya Rama penasaran.


"Ga... ga.... kata siapa pandangan saya aneh" jawab Izza gelagapan.


"Ayoooo mikir apa tuh.. suka ya sama Mas Haidar? Gapapa juga sih, dia single tapi punya anak satu" ujar Rama tersenyum.


"Bukan gitu Kak eh Mas" ucap Izza buru-buru.


"Kalo lebih nyaman panggil saya Kakak, kenapa harus maksain manggil Mas? Saya ga pernah mempermasalahkan kok, semua orang bebas memanggil saya dengan sapaan apapun" goda Rama.


"Maaf kalo saya belum bisa membahasakan diri kepada atasan, skill komunikasi juga tidak sebaik Mba Gita ... mohon maaf" pinta Izza dengan sopan.


"Santai aja Za... saya ingin semua yang kerja disini merasa nyaman tanpa ada tingkatan jabatan. Kita harus setara demi timbul rasa memiliki di perusahaan ini" jelas Rama.


"Saya kan hanya sebentar, sekitar sebulan kedepan sudah tidak kerja disini lagi. Bukan tidak ingin punya rasa memiliki, tapi saya mencoba tidak tergoda dengan kenyamanan. Karena kalo kita merasa nyaman, berarti kita ga bertumbuh, berkembang dan menjadi lebih baik kedepannya" ucap Izza filosofis.


"Wowww... kata-katanya makjleb banget, kamu tau ga... wanita yang ada disekitar saya selalu bilang kalo saya tuh bisa membuat mereka nyaman. Baru kali ini ada wanita yang malah menolak kenyamanan dari saya ... good girl..." jawab Rama meledek.


"Ada lagi yang mau ditanyakan? saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan ada meeting dengan Pak Feri dan Pak Idam" tanya Izza memotong arah pembicaraan Rama yang udah ga tentu arahnya.


"Cukup... makasih atas penjelasan dan berkas-berkasnya, kamu bisa lanjut kerja sekarang. Kalo mau ke kantor yang satu lagi, bisa minta anterin Mang Ujang. Saya ga ada jadwal keluar kok hari ini" tawar Rama.


Izza keluar dari ruang meeting. Mata Rama masih mengikuti pergerakan Izza sampai duduk di kursinya. Sedangkan Mba Gita melihat tatapan Rama dengan pandangan yang kurang suka.


Izza sendiri ga menyadari kalo dia lagi diperhatiin sama Rama dan Mba Gita merhatiin Rama, Izza udah sibuk terbenam sama tumpukan berkas.


.


Rama menyenderkan kepalanya ke kursi, sambil masih menatap Izza dari ruang meeting.


"Hei you, seperti layaknya manusia biasa .. kita ga akan pernah tau apa yang akan terjadi didepan nantinya, jika sekarang ini kita sedang menjalin hubungan kerja, semua ku serahkan kembali ke Allah. Jika Allah menakdirkan kita bersatu dalam jenjang keseriusan yang lebih membahagiakan maka kita pun takkan terpisahkan, namun jika Allah berkehendak kita hanya ditakdirkan menjadi teman, maka kita akan bertemu dengan yang lain untuk menjalin hubungan keseriusan, memaksa untuk memilikimu hanya akan berakhir sia-sia dan tentunya terluka. Untukmu yang saat ini selalu mengisi hariku, walau masih dalam lingkup pekerjaan, semoga kamu selalu bahagia seperti kamu membuatku bahagia berada di tempat yang ga kuinginkan. Semoga kelak kita berujung dalam sebuah kepastian yang nyata. Terima kasih karena selalu membuatku nyaman untuk berjuang demi masa depanku" gumam Rama dalam hati.


Ga bisa dipungkiri kalo bayangan Mba Nay seakan muncul didalam sosok Izza. Empat tahun yang lalu berusaha melamar Mba Nay, membuat Rama timbul perasaan yang lebih kepada Mba Nay.


"Ya Allah ... jatuh hatikah aku padanya? atau karena rasa yang kupendam terhadap Mba Nay muncul kembali?" kata Rama sambil menutup mukanya pake kedua belah telapak tangan kekarnya.


.


"Mas Rama keliatannya banyak pikiran? dia mikirin apa ya? kenapa sejak dia balik dari Inggris malah ga deket dan jarang berbagi kisah? Apa benar dia udah tertarik sama Izza?" tanya Mba Gita dalam benaknya sendiri.


.


Izza memandang foto keluarganya, mengusapnya perlahan.


"Ga perlu balas dendam ... tersenyumlah, dan biarkan karma melakukan tugasnya. Orang yang melukai keluarga kita akan terluka juga pada akhirnya" ucap Izza.


🌷


Jum'at malam, Pak Isam, Rama dan Mang Ujang udah siap berangkat ke Tasikmalaya sepulang Rama dari kantor.


Dari tadi siang sampe sore, Mang Ujang udah disuruh tidur dulu sama Rama. Jadi sekarang udah fit dan siap buat mengemudikan kendaraan.


Mereka sengaja berangkat tengah malam, jalan santai biar menjelang subuh bisa sampe sana dan menikmati udara yang masih fresh.


Diperjalanan, hanya Pak Isam dan Mang Ujang yang ngobrol, Rama udah terlelap dalam alunan mimpinya, entah apa yang dimimpikannya, sesekali ia tersenyum.


"Jang... anak saya lagi jatuh cinta ya?" tanya Pak Isam mengorek keterangan dari Mang Ujang.


"Atuh saya ga tau Papi Boss, tapi kayanya belakangan ini liat Mas Boss ya kaya gitu banyak senyum. Tapi kalo udah pulang kerja ya balik asem lagi" lapor Mang Ujang jujur.


"Tau siapa wanitanya?" cecar Pak Isam.


"Mas Boss ga pernah bahas tentang perempuan, kalo ngobrol sama saya cuma bilang mau ngerancang taman buat orang rekreasi murah meriah, itu aja kayanya deh pembahasan setiap hari" jawab Mang Ujang yang menutupi kalo sebenarnya ia mulai curiga dengan tatapan Rama ke Izza, tapi demi privasi Mas Boss nya dia harus sedikit bohong. Toh Mang Ujang udah janji akan menjadi sahabatnya Rama.


"Dia memang ingin jadi arsitek sedari kecil. Saat anak sebayanya main mobil-mobilan, dia selalu asyik sama kertas dan spidol. Bisa betah berjam-jam membuat gambar bangunan. Bahkan ngumpulin uang buat beli meja arsitek, bagi dia mending ga jajan daripada ga bisa gambar. Dia belajar otodidak dari internet bagaimana membuat gambar. Tapi saya sudah mematahkan mimpinya, saya paksa dia jadi pebisnis, menjadi salah satu penerus bisnis keluarga. Harapnya mungkin sudah dia kubur dalam-dalam, tapi saya yakin kalo mimpinya masih dia ingin wujudkan. Tadinya saya mau berdamai membiarkan dia meraih apa yang dia inginkan, tapi kenyataan yang ada ga memungkinkan. Dia harus siap terjun dibisnis ini, kalo bukan dia siapa lagi" papar Pak Isam dengan nada agak sedih.


"Tapi Papi Boss harusnya double bersyukur, punya anak yang nurut sama orang tua. Mas Boss juga sejak pulang langsung masuk kerja, ga pernah bolos. Masuk kantor juga pagi dan pulang pun malam. Keliatannya emang gayanya flamboyan, tapi saya tuh ngerasa Mas Boss itu orang yang baik" ucap Mang Ujang.


"Bener Jang... saya aja yang ga pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada saya sejak dulu" kata Pak Isam.


.


Rupanya jalan lancar jaya, jam dua dini hari sudah sampai di areal perkebunan organik. Mang Ujang menuju sebuah villa di areal perkebunan. Penjaga villa sudah menyiapkan tempat untuk mereka. Ternyata ini adalah villa dan perkebunan milik Pak Isam. Rama sama sekali ga tau tentang villa ini.


Sejak Rama kuliah di Inggris, Pak Isam membeli tanah di daerah sini buat mengembangkan perkebunan organik. Dulu pamannya Mang Ujang (pernah kerja jadi security di kantor Pak Isam, sekarang udah jadi TKI di Hongkong) yang nawarin tanah ini karena kasian sama penduduk sekitar yang banyak hijrah ke Jakarta, sehingga di desa kekurangan pemuda buat membangun desa.


Kebanyakan yang tinggal disini adalah wanita dan anak-anak aja. Dari rasa miris inilah, pamannya Mang Ujang memberanikan diri buat ngomong ke Pak Isam. Gayung bersambut, Pak Isam memang mau menghabiskan masa tua di kampung dengan bertani. Apalagi harga masih murah pas Pak Isam beli tanah ini, kondisinya masih semak belukar dan jarang ada yang lewat.


Setelah dibeli sama Pak Isam, benar-benar berubah, dibangun rapih dan jalanan dipakein conblock biar bisa nyerap air hujan (kalo beton ga menyerap air).


Pak Isam memang mendadak menjadi buah bibir saat itu, bahkan sampe sekarang siapa yang ga kenal beliau di daerah ini, ibaratnya kalo Pak Isam nyalonin diri jadi Kepala Desa pasti otomatis kepilih, tapi bukan jabatan tujuan Pak Isam, ada sebuah hutang budi dengan daerah ini yang membuat Pak Isam membangun desa ini.


"Pi.... ini villa punya siapa?" tanya Rama.


"Papi.." jawab Pak Isam.


"Pas kamu kuliah" jawab Pak Isam santai.


"Kok ga bilang?" ujar Rama.


"Kalo bilang emangnya kamu mau bayarin?" tanya Pak Isam balik.


Rama terdiam dan duduk di teras depan.


"Pi .. itu disana pesantren ya?" tanya Rama sambil menunjuk kearah barat.


"Iya... itu pesantren campur-campur" jawab Pak Isam sambil selonjoran.


"Maksudnya campur gimana Pi?" kata Rama penasaran.


"Pesantren kalongan kalo orang bilang" lanjut Pak Isam.


"Oh maksudnya bukan pesantren yang jenjang pendidikan gitu ya Pi?" sahut Rama mulai agak paham.


"Ya.. banyakan yang kesana itu rehabilitasi dari narkoba, suami istri yang rumah tangganya bermasalah atau anak yang ga bisa dibilangin sama orang tuanya" lanjut Pak Isam.


"Untung dulu Papi belum kenal tempat ini ya, jadi Ramaa ga dimasukin ke pesantren itu .. hehehe" canda Rama.


"Iya ya... kamu kan susah dibilangin. Papi mau tidur dulu ya.. ngantuk, besok pagi kita kondangannya jam delapan berangkat ya, ontime" kata Pak Isam sambil masuk kedalam villa.


.


"Mang... ngantuk ga?" tanya Rama.


"Ga..." jawab Mang Ujang.


"Jalan-jalan yuk" ajak Rama.


"Mas Boss ini punya jam ga?" tanya Mang Ujang.


"Punya lah .. ini jam tangan saya, hadiah dari Mas Haidar waktu saya lulus" tunjuk Rama.


"Nyala kan jamnya?" ujar Mang Ujang.


"Ya nyala lah, masa jam mati saya pake" ngotot Rama.


"Bisa baca kan sekarang jam berapa? ini udah dinihari Mas Boss. Mau jalan kemana? lagipula ini kampung, bukan kota Jakarta yang ga pernah tidur" papar Mang Ujang.


"Mau di kota atau di kampung tuh sama aja Mang, liat tuh di pesantren, masih rame orang di lapangannya .. tuh ada motor, kita boncengan keliling aja. Sekalian kita sholat subuh di Mesjid pesantren, ngalap berkahnya aja Mang" ajak Rama.


"Yakin mas Boss? Itu kan pesantren banyakan anak narkoba... sieun ah (takut)" jawab Mang Ujang.


"Emang pecandu narkoba itu setan? Udah yuk.. pengen liat dekat situ, siapa tau kita ketemu Ceu Lilis" goda Rama.


"Ih ngaco emang Ceu Lilis pecandu? tapi bener juga ya Mas Boss, siapa tau dia sholat disana, hayuklah kemon" jawab Mang Ujang semangat.


.


Rama yang membawa motor. Jalanan sangat sepi karena dini hari. Lampu jalan pun ga seterang di Jakarta, makanya nekat bermodalkan lampu motor buat melihat sekitar.


Diberanikannya menyapa orang yang berjaga didepan pintu pesantren, memperkenalkan dirinya. Rama kemudian dipersilahkan masuk karena Mang Ujang bilang kalo Rama ini adalah anaknya Pak Isam.


Sepanjang jalan menuju ruang tamu pesantren, Rama melihat ada yang teriak-teriak bahkan ada yang lagi dimasukin kedalam drum tubuhnya.


"A' itu kenapa dimasukin kedalam drum? Ga masuk angin nantinya?" tanya Rama penasaran.


"Itu lagi kambuh nagih obatnya A' Rama" jawab Aa' Ijam.


"Kita mau kemana nih A' ? saya mah mau liat-liat aja disini, sekalian mau ikut sholat subuh bareng Pak Kyai" ujar Rama mulai ga enak hati karena merasa sangat dihormati.


"Gapapa A' .. masuk dulu ketemu sama Abah Ikin. Tadi saya sudah lapor kalo ada Aa' disini" jawab Aa' Ijam.


"Ga enak atuh A' .. mana saya pake celana jeans sama kaos pula, masa mau menghadap Pak Kyai, ga pantas" jawab Rama merendah.


"Abah ga pernah pandang orang pake baju apa A'.. yang niat silaturahim ya insyaa Allah diterima dengan tangan terbuka" jelas Aa' Ijam.


.


Rama dan Mang Ujang menunggu disebuah pendopo terbuka. Hanya ada meja besar disana. Duduknya beralaskan tikar mendong (tikar khas kerajinan Tasikmalaya). Lampu juga temaram, Rama dan Mang Ujang disuguhin bandrek yang membuat badan hangat serta sepiring rengginang oyek.


"Ini rengginang bentuknya beda ya Mang? ga kaya biasa" kata Rama penasaran.


"Eta oyek Mas Boss, rengginang biasa dari ketan, lamun oyek teh singkong" jelas Mang Ujang.


"Ini rasa apa sih Mang? kaya ada bumbu apa gitu" kata Rama sambil menikmati oyek.


"Eta cikur Mas Boss" jawab Mang Ujang sambil mengambil oyek.


"Cikur apaan sih? saya taunya cukur" tanya Rama lagi.


"Kencur .. terus ada bumbu lainnya, saya ga tau apa aja bumbunya" jawab Mang Ujang.


.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" sapa Abah Ikin.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Rama dan Mang Ujang bersamaan sambil mencium tangan Abah.