
Alarm HPnya Izza berbunyi tepat jam dua malam, memecah konsentrasi pasangan ini yang baru mau melanjutkan ke hal yang lebih intim lagi.
Izza meraih HP nya dan mematikan alarmnya. Rama beranjak menuju kulkas dan meminum sebotol air mineral yang dingin.
"Mau minum De?" tanya Rama.
"Ga mau kalo yang dingin .. maunya yang hangat" jawab Izza dan bersiap menyibak selimutnya.
"Udah jangan bangun .. Kakak masakin air panas dulu, mau bikin apa?" tanya Rama.
"Teh tawar aja" kata Izza.
Setelah membuatkan teh, Rama meletakkan disamping tempat tidur.
"Gimana .. dah lebih baik?" tanya Rama yang duduk ditepi ranjang menghadap Izza.
Izza mengangguk.
"Tidur aja kalo merasa udah ngantuk, biar pagi ini fresh" saran Rama.
"Kakak ga masalah?" tanya Izza hati-hati.
"Masalah apa ya?" ujar Rama.
"Kita kan belum... ya belum itu .." kata Izza bingung melanjutkan perkataannya.
"Kepengen yaaaa... nanggung yaaa " ledek Rama sambil ketawa.
Izza malu juga menanyakan hal itu ke Rama.
"Kamu baru aja mengalami gejolak batin yang luar biasa, kita belum cukup tidur dari kemarin. Lebih baik kita istirahat dulu yang cukup, begitu udah sama-sama fit, barulah kita melakukan hubungan untuk yang pertama kali. Kakak ga memaksakan harus sekarang kok. Lakukan saat kita berdua merasa siap dan penuh rasa bahagia" ujar Rama sambil menggenggam tangan Izza.
"Makasih ya selalu jadi orang yang paham situasi tanpa harus dikatakan" ucap Izza.
"Minum tehnya selagi hangat. Kakak mau mandi dulu, habis itu kamu mandi dan kita sholat dulu, terus tidur. Nanti subuh kita bangun terus tidur lagi. Nikmati waktu liburan kita... susah santai kalo kembali ke rumah karena kembali ke dunia nyata" kata Rama.
"Yakin melewatkan waktu sarapan?" ledek Izza.
"Kita liat nanti.. hehehe" ucap Rama.
Rama menuju kamar mandi, tapi begitu keluar kamar mandi, dilihatnya Izza sudah tidur nyenyak, Rama ga tega membangunkannya.
.
Keduanya bangun jam lima pagi, Izza buru-buru ke kamar mandi karena belum mandi wajib. Rama keluar dari villa, dia melihat ada pancuran air didepan kamarnya, mungkin digunakan untuk menyiram tanaman sekitar.
Rama sholat duluan, menunggu Izza pasti akan lama. Wanita tanpa keramas saja mandinya lama, apalagi harus keramas, pasti akan lebih lama.
Saat Izza sholat, Rama masih membaca Al Qur'an di teras depan resort. Udara masih terasa dingin dan cuaca masih mendung menggelayut tapi tidak hujan.
Selepas sholat, Izza sudah membuatkan dua cangkir air jahe instan yang sempat dibeli di jalan saat menuju kesini. Dia memakai jaket menuju teras depan.
Keduanya duduk bersama menikmati pagi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Semoga Sachi ga rewel ya pas bangun tidur, kayanya semalam ga nyenyak tidurnya, Mba Nur kirim chat katanya nyari kita terus" ujar Izza.
"Kadang Sachi tuh bisa lebih dewasa dibandingkan umurnya, kadang sisi anak-anaknya muncul juga. Mungkin dia nyaman sama Mommynya, terbiasa mendapatkan limpahan kasih sayang dari sosok lelaki saja, ketika dapat sesuatu dari sosok perempuan, dia merasa lebih nyaman. Sebenarnya Sachi cukup dikasih pengertian aja bisa kok, nanti Kakak telepon dia sepulang sekolah aja, kalo ditelpon pagi ini bisa ngambek dan ga sekolah" kata Rama.
"Dia seperti itu karena punya Ayah yang hebat pastinya. Kadang kepikiran juga sih, sosok Kak Rama ini kan rada unik dan nyentrik, tapi bisa juga mengasuh anak sejak bayi. Untuk hal ini, dua jempol pun ga akan cukup buat Kakak. Bisa saja Kakak melegalkan dia menjadi anak asuh, tapi ga Kakak lakukan agar nama Mas Haidarlah yang ada dalam semua berkasnya Sachi. Perlu hati yang besar untuk itu. Bantu Izza ya buat menjadi pribadi yang lebih baik lagi" pinta Izza.
"Aduh sanjungannyaaaa... kita belajar bersamalah. Laper ga De?" tanya Rama.
"Ngga" jawab Izza singkat.
"Kemarin kayanya masih ada roti ya" ujar Rama.
"Ada.. mau diambilin?" tawar Izza sudah bersiap berdiri untuk masuk ke kamar.
"Kita masuk aja ... dingin" usul Rama sambil berdiri.
"Tumben kenal kata dingin" ledek Izza.
"Makanya perlu kehangatan" rayu Rama yang sudah memeluk Izza dari belakang.
🌺
Pagi hari ini Mang Ujang sudah mencari sarapan keluar dari tempat dia menginap, menurut Mang Ujang, harga di penginapan lebih mahal dibandingkan diluar. Jadi demi irit, dia beli makan diluar kemudian makan bareng istrinya di kamar.
Ceu Lilis dan suaminya juga jarang ketemu sama Mang Ujang dan istrinya, meskipun kamar mereka berseberangan danau. Sepertinya kedua pasangan ini "sibuk" dengan acara bulan madu mereka masing-masing.
"A'.. kayanya Maryam masuk angin deh" kata istrinya Mang Ujang yang memang tampak lelah.
"Kenapa?" tanya Mang Ujang.
"Kebanyakan mandi kayanya, atuh Aa' minta dilayani terus" jawab Maryam.
"Ya namanya pengantin baru dan bulan madu, ya harus dinikmatilah momennya, bener kata orang-orang ya, pengantin baru itu ga bisa pandang-pandangan dikit pasti langsung aja mulai lagi" ujar Mang Ujang.
"Maaf A'.. tapi Maryam jadi kaya anyang-anyangan.. terasa sakit saat buang air kecil. Mungkin karena gesekan yang berlebihan saat berhubungan. Ini kalo boleh, bukannya menolak ya A'.. tapi sehari ini jangan dulu ya. Kemarin seharian kita kan sudah berkali-kali" pinta Maryam yang memang pandai berbicara.
"Ya kalo Aa' pengen gimana dong?" tanya Mang Ujang.
"Tahan dulu sehari aja A'.. coba nanti Maryam cari info dulu bagaimana mengurangi rasa sakit, kalo udah baikan, boleh deh Aa' ambil jatah lagi. Ya namanya juga masih baru, jadinya kaget mungkin tubuhnya Maryam" papar Maryam.
"Ya mau gimana lagi" sahut Mang Ujang.
Inilah bentuk sebuah keikhlasan dari Maryam, menerima Mang Ujang yang masih berpikiran kuno. Mang Ujang belum bisa berpikir jika hubungan suami istri harus sama-sama bahagia dan mencapai puncak satu sama lain. Sedangkan dari beberapa kali berhubungan, terkesan hanya Mang Ujang yang mencapai puncaknya, sedangkan Maryam pasrah tanpa berkeluh kesah.
Maryam memanglah lugu, tapi dia wanita modern yang hidup dijaman serba canggih. Jaman disaat semua informasi hanya berjarak seujung jari. Dia mempelajari dari internet, bukannya tidak mau bertanya ke orang tua atau Kakaknya, tapi bagi keluarganya hal ini masih tabu untuk dibicarakan. Alasannya mencari informasi ini untuk menyenangkan suami karena menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
🌺
Ceu Lilis ternyata sedang sakit pinggang karena salah posisi. Dia memang lebih dominan dari suaminya yang memang kalem. Untunglah di penginapan ini ada jasa urut perempuan, jadi bisa tertanggulangi masalah pinggangnya.
Suaminya Ceu Lilis juga banyak di Musholla seberang penginapan, tiap waktu sholat fardhu tiba, pasti dia kesana. Setelahnya berbincang dengan para jama'ah. Mamam cukup sumeh dalam pergaulan dengan siapapun.
🌷
Rama menggendong Izza kemudian direbahkan perlahan ke tempat tidur.
"De... keberatan ga kalo kita tuntaskan sekarang?" tanya Rama.
"Sepagi ini?" jawab Izza.
"Ada aturan waktu memangnya?" ujar Rama.
"Ya biasanya kan melakukan hal itu malam hari" jawab Izza lagi.
"Ya nanti malam lagi juga gapapa" ledek Rama yang mendapat tepukan manja dibahunya dari Izza.
"Biasa jam segini udah siap berangkat kerja sih ya, jadi jam biologis meminta jam segini untuk beraktivitas, tapi kalo di rumah jangan ya, repot ada Sachi" sahut Izza.
"Itu paham.. sebelumnya boleh ga minta sesuatu?" tanya Rama.
"Apa?" ujar Izza.
"Pakai baju haram ..." bisik Rama.
"Mana punya Kak" sahut Izza.
"Adalah... udah dibeliin kok" kata Rama penuh kemenangan.
"Ihh ... ga malu beli barang kaya gitu.. jangan bilang minta tolong sama Mba Farida ya..." terka Izza.
"Hahaha.. ga lah... jadi kan pas beli seserahan, pihak wedding organizer menawarkan jasa sebagai personal shopper barang yang dibutuhkan oleh calon pengantin. Nah untuk perlengkapan wanita, mereka ada merek-merek ternama yang diajukan ke Kakak. Tinggal pilih saja foto yang mereka kirimkan terus diantar deh. Nah ditawarinlah baju haram itu, ya jelas dong Kakak deal... liat gambar bajunya aja udah keramas, apalagi liat itu dipakai sama kamu .. hahaha" jelas Rama nakal.
"Malu lah Kak..." ujar Izza.
"Segala sesuatu pasti ada langkah awal kan? nah langkah awal kita ya seperti ini. Ya kita bikin spesial lah De... jangan kaya emak-emak yang tidur pake daster deh, ga bikin nafsu Deh.. hahahaha" ungkap Rama.
"Kan ga bagus Kak badannya .. adanya seksi ngga malah bikin down" ucap Izza.
Karena ini permintaan khusus suaminya, Izza mencoba untuk memberanikan diri memakai pakaian yang diinginkan oleh Rama.
Dia masuk ke kamar mandi membawa "baju dinas" berwarna nude dari satin, simple tapi berkelas, ada renda putih dibagian dada menambah aksen mewah.
Setelah memakai bajunya, Izza berkaca.
"Malu ga ya keluar dari kamar mandi terus mendekati Kak Rama dengan penampilan kaya begini, terkesan nakal ga sih? pantes ga ya... rasanya punya body tuh biasa aja. Bukan body goalnya kaum lelaki. Dada ga rata sih, tapi kan ga penuh berisi juga. Ampun deh Kak Rama itu kalo minta sesuatu suka nyeleneh. Tapi ga diturutin malah jadi dosa... ya sudahlah... yang terjadi maka terjadilah. Toh sebagai istri harus bisa menyenangkan buat suami, daripada disenangkan oleh wanita lain. Pakai baju kaya gini juga cuma suami yang liat, dia berhak melihat kan" Izza bicara sendiri sambil mematutkan dirinya didepan kaca.
Setelah meyakinkan dirinya, Izza memberanikan dirinya untuk keluar kamar mandi. Rama yang sudah menunggunya diatas tempat tidur sampai ga berkedip melihat Izza yang berjalan malu-malu.
Item fesyen perempuan ini memang dirancang khusus untuk memberikan kesan seksi saat dikenakan. Sebagai pakaian dalam spesial, lingerie memiliki model dan warna yang beragam.
Karena warna kulit Izza yang cenderung agak cerah dibandingkan Rama, menurut Rama akan cocok pakai lingerie model satin berwarna nude. Dan benar prediksinya Rama, Izza tampak menggoda.
"I was right you do look so hot De... " puji Rama sambil menghampiri Izza.
Karena sudah menahan cukup lama untuk momen ini, Rama sudah langsung memulai "permainannya". Dia pula yang membimbing Izza untuk berdo'a bersama.
Hubungan suami istri hadir bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi juga menjadi pahala bahkan bermanfaat bagi kesehatan.
Berniat menyenangkan pasangan juga jadi bagian dari adab serta tata cara berhubungan suami istri sesuai syariat Islam.
Rama mendahului dengan cumbuan ringan dulu. Dalam Islam, hubungan suami istri harus bisa menyenangkan dan dapat dinikmati oleh kedua belah pihak.
Karena masih sama-sama belum pernah melakukannya, mereka sepakat untuk tidak mencoba dengan berbagai gaya, cukup konvensional saja. Toh nantinya jika sudah sering dilakukan dan tau selahnya, maka akan bisa dimodifikasi dengan berbagai gaya. Yang penting nyaman dan keduanya bisa menikmati.
Tidak bisa dipungkiri kalo keduanya mengalami ketegangan luar biasa, makanya dilakukan pemanasan dengan tujuan dapat mengurangi ketegangan dan meningkatkan gairah antara keduanya.
Rama dan Izza sudah didalam satu selimut, keduanya pun sudah terlena dengan sentuhan pasangannya. Keduanya tampak sudah siap melakukan hal tersebut secara sadar dan penuh cinta.
"I'm yours Kak .." bisik Izza seakan menjadi seperti sebuah peluit tanda pertandingan dimulai.
"Oke .. udah sangat bergairah ini" sahut Rama.
"Pelan-pelan yaaa..." pesan Izza.
Memang butuh effort yang lumayan lama untuk bisa saling menikmati. Rama sangat hati-hati memperlakukan Izza, ketika Izza merasa kesakitan maka permainan dihentikan sementara hingga Izza siap kembali.
"Gapapa De.. ga harus jebol juga sekarang, kalo kamu kesakitan malah nanti ga nyaman dan bahaya untuk organ vital kamu" kata Rama.
"Serba salah juga sih Kak, kalo ga sedikit dipaksa ya tetap akan sakit juga kan awalannya" jawab Izza.
"Terus gimana ini? setiap pasangan kaya kita ga ya? kenapa kita kebanyakan diskusi jadinya" ucap Rama.
Setelah mencoba berkali-kali akhirnya mereka bisa juga menuntaskan semuanya dengan baik-baik aja.
"Terasa perih atau sakit ga De?" tanya Rama.
"Sedikit" jawab Izza.
"Maaf yaaa..." pinta Rama.
"It's okay... mungkin harus begini dulu kali. Bisa minggir dulu ga Kak... mau ke kamar mandi" ucap Izza.
Rama memindahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Karena lelah, keduanya kembali tidur hingga jam sebelas siang. Itu juga sama-sama terbangun karena perut sudah keroncongan.
"Makasih ya De ... Sudah ikhlas menerima nafkah batin dari Kakak" kata Rama kemudian mengecup manis bibirnya Izza.
"Makasih juga ya Kak.. Sudah memilih Izza jadi pendamping Kak Rama, jangan segan menegur kalo Izza ada salah" ucap Izza.
"Kamu gapapa kan melakukan itu tadi?" tanya Rama memastikan.
"Maksudnya gimana ya Kak?" ucap Izza belum paham maksudnya Rama.
"Ya .. melakukan hubungan tadi" kata Rama memperjelas.
"Sudah kewajiban Izza kan melayani Kak Rama. Tapi setelah melakukan hal itu rasanya timbul rasa cinta ya sama Kakak" jawab Izza dengan nada yang lucu.
"Ehhmmm.... sebenarnya mah kamu pasti sudah cinta dan sayang sama suami yang baik hati ini sejak lama kan? tapi ya balik lagi, seorang Izza kan gengsian. De ... I never thought able to love someone like I love you
(Aku tidak pernah berpikir mampu mencintai seseorang seperti aku mencintaimu)" gombal Rama.
"Udah ahhh.. mau mandi dulu, nanti kebanyakan ngegombal dan memuji malah ujung-ujungnya minta nambah lagi. Yang ada ga jadi mandi" ucap Izza.
"Namanya pengantin baru, ga bisa kecolek dikit langsung tegangan tinggi. Apa coba sekali lagi De... kan udah lancar kali sekarang mah" canda Rama.
"Nanti aja ya Kak.. mau mandi terus sholat, abis itu kita cari makan dulu ya... laparrr" pinta Izza.
"Samaaaaa... Kakak juga lapar pake banget nih" jawab Rama.
.
Izza bangun dari tempat tidur, mengambil piyama handuknya. Rama masih tiduran, tapi mulai mengaktifkan HP nya untuk cek telepon dan chat yang masuk.
🌺
Siang ini udara di Sapu Ijuk masih terasa fresh, cuaca mendung membuat semua tamu yang menginap jadi malas keluar.
Mang Ujang, Maryam, Maman dan Ceu Lilis ngumpul bareng di balkon kamar Mang Ujang. Menikmati kacang kulit dan kopi bersama-sama.
"Besok kita check out jam dua belas siang ya? pulangnya naik apa kita?" tanya Maman.
"Eh iya ya... Mas Boss kan belum pulang, kita gimana ini?" tanya Mang Ujang balik.
"Coba telepon Aa' Ramanya, mungkin dia udah sewain kita mobil" saran Ceu Lilis.
"Ga enak atuh Lis... Aa' Rama sudah baik banget. Hampir delapan puluh lima persen semua biaya pernikahan kita sudah ditanggung, dikasih paket menginap disini, dikasih uang saku, pas kesini juga diantar. Sekarang mah pintar-pintarnya kita aja pulang pakai apa. Kendaraan umum banyak, bisa juga nanti tanya kalo travel ada ga yang ke Tasikmalaya" papar Maman.
"Terus kita balik ke Tasikmalaya dulu?" tanya Mang Ujang.
"Ya atuh A'... Maryam kan belum bawa baju-baju dan sebagainya. Kita juga belum pamitan sama orang tua, masa langsung ke Jakarta" sahut Maryam.
"Maryam sama Mang Ujang mah sudah jelas akan tinggal di rumah Aa' Rama. Kita ini yang belum jelas kapan pindahnya" kata Ceu Lilis.
"Bersyukur Lis.. apa yang sudah disiapkan sama Aa' Rama itu sangat berlebih .. Aa' kan juga harus koordinasi dulu sama Pak Haidar. Mau tanya kapan mulai kerja di Jakartanya. Kan kata Pak Haidar, rumah punya Aa' Rama juga sudah siap huni, tinggal masuk saja" ujar Maman.
"Aa' Rama memang baik, tapi kan sekarang sudah nikah, belum tentu sesuai omongannya sama sebelum nikah" ucap Ceu Lilis.
"Kenapa bisa begitu Lis? Mas Boss ga akan berubah cuma karena udah nikah" ujar Mang Ujang.
"Kan istrinya itu Izza... mulutnya kan rada-rada pedes. Kemarin kan kita duduk di ruangan yang sama pas dirias. Ga ada tuh muka-muka ramahnya" protes Ceu Lilis.
"Itu mah Teh ... bukan karena tidak ramah. Tapi lagi bingung. Ya kalo kita di posisi Mba Izza pastinya akan mengalami hal yang sama. Tidak tau kalo hari itu akan nikah, yang dia tau mau jadi pagar ayu di pernikahan kita. Tapi kok dandanannya lebih wow dari kita yang mau resepsi" papar Maryam bijaksana.
"Jangan gitu Lis... Mas Boss itu kayanya udah mentok banget sama Mba Izza, berani kamu macam-macam sama Mba Izza... bisa murka Mas Boss. Beberapa kali aja Mba Izza dapat kiriman bunga, coklat, kue bahkan ayunan taman.. sama Mas Boss disuruh buang. Apa ga cemburu berat itu namanya" kata Mang Ujang keceplosan.
"Dapat kiriman dari lelaki gitu Mang? emang lelakinya ga tau kalo Izza sudah nikah? atau memang sengaja kali ga umumin sudah nikah. Padahal kan juga nikah sama lelaki baik dan kaya raya, masa malu sih" sinis Ceu Lilis.
"Lis.. mulai dijaga ya mulutnya. Apa yang keluar dari mulut kita tidak boleh menimbulkan fitnah. Haknya Mba Izza dan Aa' Rama mau seperti apa rumah tangganya, karena pasti ada alasannya. Mungkin Mba Izza belum umumkan karena menunggu nikah secara resmi. Aa' Rama juga sedang mempersiapkan resepsi mewah di Jakarta, Aa' sudah diminta bantuan untuk membaca Al Qur'an sebagai Qori saat acara nanti dan Maryam sebagai saritilawahnya. Acara itu akan mengundang beberapa pejabat dan rekan kerja Aa' Rama dan Pak Isam. Rencananya akan ada tiga resepsi. Dua resepsi lagi untuk keluarga besar Pak Isam dan keluarga Almarhumah Ibunya Aa' Rama serta untuk para tetangga. Aa' Rama dan Pak Isam itu kan banyak kenalannya, jadi tidak bisa dalam satu acara resepsi yang sama. Terpaksa semua dipisah waktunya" jelas Maman.
"Banyak amat resepsi sampai tiga kali" kata Ceu Lilis.
"Ya namanya orang kaya mah bebas Lis.. mau resepsi tiap hari juga bisa. Mas Boss itu sebenarnya sudah lebih kaya dibandingkan Pak Isam dan Mas Haidar, tapi gayanya kaya orang biasa saja. Semua perusahaan kan Mas Boss yang punya, bahkan sekarang tambah Audah Hotel. Uangnya ga berseri, tapi dia pintar muter uangnya. Untuk pesta kita semua kemarin aja dia kasih seratus lima puluh juta ke Abah Ikin" ceplos Mang Ujang.
"Itu mah baru dari Aa' Rama... Pak Isam dan Pak Haidar juga kasih tambahan" lanjut Maman.
"Pantas ya semua serba mewah.. kasih uang lumayan banyak ternyata" takjub Ceu Lilis.
"Makanya Lis.. lupakan aja dendam sama Mba Izza, dia juga ga tau apa-apa" nasehat Maman.
"Kok Aa' tau" ujar Ceu Lilis.
"Aa' Rama cerita semua, sekaligus minta Aa' kasih nasehat ke kamu. Nanti Aa' Rama juga akan coba ajak ngomong Mba Izza tentang kamu" papar Maman.
"Masalah apa sih.. kok ada berita yang lolos nih dari kuping Mamang. Jangan bilang kamu suka sama Mas Boss ya Lis?" tembak Mang Ujang.
"Bukan begitu Mang ... Lilis mah dari awal ga tertarik sama Aa' Rama, orangnya kaku kaya gitu, eh sekarang dapat suami sama aja kakunya .. hehehe" sahut Ceu Lilis.
"Ga usah tau aja Jang (usia Maman memang lebih tua dari Mang Ujang, jadinya sejak dulu panggil nama, teman main bola di kampung), pokoknya ini mah urusan wanita" putus Maman.
"Iya A' .. jadi orang ga boleh kepo sama hidup orang. Kan membuka aib saudara seiman sama saja memakan bangkai saudaranya sendiri" tegur Maryam.
💐
Karena Rama disibukkan oleh pekerjaan, akhirnya mereka memilih pesan antar makanan ke kamar.
Menu yang dipilih pun masih standar karena ga banyak pilihannya.
"Kak... itu makanan didiemin aja" kata Izza yang sudah mulai makan pesanannya.
"Ini ada yang perlu dibalas email-nya" jawab Rama.
"Disuapin aja ya?" tawar Izza sambil memberikan makanan yang ada dipiringnya.
"Ga masalah nih sesendok berdua? kan dari mulut Kakak" jawab Rama sambil masih konsen ngetik dilaptopnya.
"Lupa ya bibir ini berkali-kali disentuh bibirnya siapa?" ledek Izza.
"Iya ya... lupa" kata Rama becanda.
"Ih Kakak mah gitu.. baru juga bercumbu udah lupa" sahut Izza kesal.
"Maksudnya lupa daratan... hehehe, makanya biar ga lupa harus sering tuh" lanjut Rama.
"Genit deh" kata Izza sambil mencubit manja lengannya Rama.
.
Setelah sholat ashar, Rama dan Izza sudah bisa bersantai setelah menelpon Sachi.
"De.. itu yang dalam plastik pink, bawa sini deh..." panggil Rama.
Izza membawakan plastik yang Rama maksud.
"Buka deh" pinta Rama.
Izza duduk disebelahnya Rama, kemudian mengeluarkan isi dalam plastik. Dilihatnya satu persatu. Isinya semua "baju dinas istri" dengan model dan warna yang berbeda.
"Kakak beli banyak?" tanya Izza.
"Iya... penasaran aja" jawab Rama sambil ketawa.
"Naughty... naughty..." kata Izza sambil geleng-geleng kepala.
Rama mengambil salah satu baju yang ada diatas meja.
"Yang ini De... gaya klasik. Nuansa putih yang elegan, aksen satin, lace, ditambah dengan outer... simple tapi transparannya bikin penasaran" ucap Rama makin menggila.
Izza membentangkan baju yang Rama maksud.
"Nah kalo ini nuansa kaum urban De, potongannya modis, kombinasi brokat yang manis, pokoknya two pieces yang bikin tampilan kamu lebih sadis" lanjut Rama.
"Kok hapal... nah ya... Kakak jangan-jangan ..." duga Izza.
"Kakak tuh ga pernah punya pikiran buat liat-liat baju kaya gini De.. tapi begitu ditawarin sama wedding organizer, eh jadi kepikiran terus. Bolehlah bersenang-senang dengan istri sendiri. Tapi beneran oke kok pas kamu pakai. Setiap malam ya pakai ini, nanti kamu beli lagi aja" pinta Rama sambil memeluk Izza dari belakang.
"Inget punya anak yang maunya tidur sekamar. Sachi kan mulutnya kaya Mang Ujang juga.. mau dia cerita Mommy pakai baju seksi?" ujar Izza.
"Wah iya ya... nanti kalo di rumah dia maunya tidur sekamar gimana nasib kita nih?" tanya Rama.
"Kita????" ledek Izza.
"Jangan rese deh.. yakin ga mau dikasih nafkah batin tiap malam" goda Rama.
Keduanya tertawa.
"Ya ampun sampe beli model camisole (terdiri atas dua bagian, yakni atasan dan bawahan. Meski tertutup, camisole tetap menampilkan kesan menggairahkan. Lingerie jenis ini ada tali pengait yang dimodel slip dan tipis sehingga mudah dilepas)" ucap Izza makin heran.
"Ya kayanya gimana gitu buka pengaitnya .. ga kebayang bisa nambah-nambah" ujar Rama makin menjadi.
Rama menerima panggilan telepon dari Mang Ujang, hanya mengabarkan kalo Mang Ujang ke Tasikmalaya dulu nanti baru ke Jakarta.
Jam menunjukkan pukul empat sore.
"De... pake deh yang sol..sol.. apa tadi?" pinta Rama.
"Camisole" jawab Izza.
"Ya itu coba pake" kata Rama.
"Ini rambut aja masih basah Kak.. masa mandi lagi sih" ucap Izza.
"Kan ada air hangat" jawab Rama.