
Komandan dan Security yang berdinas sudah mendengar ada percobaan pemerkosaan di Audah Hotel, walaupun masih ditutupi dulu sampai semua bukti ada.
"Siapkan rekaman CCTV kemarin hingga pagi ini, khususnya di lantai empat. Ingat jangan ada yang terlewat satu detik pun. Kalian ini gimana sih, kok bisa kecolongan" perintah Rama penuh amarah.
"Siap" jawab Komandan Security.
"Kalian ga ada yang curiga jika ada keanehan terjadi di Hotel? misalnya kan keliatan orang yang dipaksa masuk atau tidak kedalam hotel ini" tanya Rama sambil melihat para Security yang berbaris dihadapannya.
"Siap tidak lihat Mas" jawab Komandan.
"Saya tau ini Hotel, dimana privasi sangat dijaga. Tapi yang perlu kalian terapkan adalah kewaspadaan, melihat sesuatu yang ganjil harusnya insting udah jalan. Wanita itu pasti dipaksa masuk kedalam kamar, bisa keliatan kan harusnya. Atau terburuknya wanita ini dalam kondisi pingsan, bisa kan kalian dampingi sampai tamu tersebut masuk kamar. Ada inisiatif dong dalam melaksanakan tugas. Jangan apa-apa harus tertulis dulu. Kalian ini semua termasuk front office, garda terdepan Hotel ini. Kalian berseragam bukan untuk saya jadikan pajangan. Kalo begitu mending saya letakkan patung aja" kata Rama masih sewot.
"Siap laksanakan" jawab semua Security.
"Laksanakan... laksanakan... apa yang dilaksanakan? Saya mau berita ini ditutup rapat, jika sampai ramai .. kalian semua akan saya pecat tanpa terkecuali. Jangan pernah membuka hal ini kepada siapapun termasuk keluarga kalian semua. Ingat itu baik-baik. Nama baik Hotel ini harus dijaga" kata Rama tegas.
Para Security kaget mendengar ancaman dari Rama.
"Kedepannya akan ada pelatihan untuk para Security. Saya jadi kurang yakin sama sertifikat yang kalian miliki. Nanti saya minta kawan saya yang polisi untuk melatih kalian semua. Security di pintu depan itu harus ada dua orang, untuk menjaga dan membukakan pintu para tamu. Didekat meja receptionist juga ditempatkan satu orang, tiap pintu lift juga satu orang. Tiap jam ada yang keliling perlantainya. Parkiran pun harus ada yang kontrol. Oke kita pakai secure parking, tapi kalian juga bertanggung jawab" oceh Rama lagi.
Semua diam, baru kenal dengan gaya Boss baru yang lumayan keras.
"Berapa lama bisa siapkan rekaman CCTV nya?" tembak Rama.
"Siap, kami minta waktu lima jam untuk memindahkan datanya" jawab Komandan Security.
"Lima jam? ini mau kalian edit dulu atau bagaimana? bilang sama bagian operator CCtV, saya minta rekaman mentahan full .. sekarang semua bisa bubar, saya tunggu paling lambat dua jam lagi untuk menyerahkan rekaman ke meja saya" perintah Rama.
"Siap bubarkan" ucap Komandan Security.
Ga lama kemudian datang cleaning service yang ditugaskan Rama untuk membersihkan kamar yang diduga sebagai tempat penyekapan Izza.
"Pagi Pak ... saya menemukan HP ini dikolong tempat tidur" ucap cleaning service sambil menyerahkan HP ke Rama.
"Oke ... makasih" jawab Rama sambil menerima HP.
"Saya permisi kerja dulu Pak" kata cleaning service.
"Tunggu ..." ujar Rama sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu.
"Terima kasih Pak" jawab cleaning service dengan wajah bahagia.
Rama memperhatikan HP yang tampaknya sudah lowbatt. Rama mengambil charger dari laci mejanya dan menyambungkan ke HP tersebut.
🏠
Haidar sedang menunggu Sachi di sekolahannya, padahal Sachi baru pulang nanti jam sebelas siang.
Haidar tampak berada di food court sekolahnya Sachi. Pengasuhnya Sachi berkumpul bersama para pengasuh di meja pojok.
Haidar mengerjakan pekerjaannya di sekolah Sachi. Dia ingin selalu dekat sama Sachi, Rama juga meminta Haidar bisa lebih mengakrabkan diri ke Sachi, makanya Rama mulai untuk memberikan banyak kesempatan ke Haidar bersama Sachi. Rama juga sengaja pulang lebih malam agar Sachi sudah tidur dulu sama Haidar.
Tapi Rama meminta Haidar ga sembrono memberitahu ke Sachi tentang kebenaran statusnya. Hal ini karena usia Sachi yang masih terlalu dini, ditambah ga akan paham atas kondisi masa lalu. Khawatir ada dampak yang ga baik untuk Sachi, Haidar sudah sepakat dan berjanji untuk tidak membuka rahasia hingga waktu yang tepat.
Pastinya berat bagi Rama harus berbagi Sachi dengan Kakaknya. Karena Ramalah yang pertama kali menggendong bahkan melantunkan adzan di telinganya Sachi saat dia terlahir ke dunia ini. Ditambah perjuangan menjadi seorang "Hot Daddy" selama ini.
Layaknya seorang Ayah yang menyayangi anaknya, seperti itulah Rama ke Sachi.
🍒
Izza masih agak trauma dengan peristiwa yang kemarin menimpanya. Jadi selalu was-was jika pulang malam dari kampus. Dia memilih naik kereta api yang lebih lama dibandingkan naik bus karena alasan di kereta lebih banyak orang.
Dia juga kena tegur oleh supervisor karena tidak konsentrasi menjawab pertanyaan dari customer yang datang ke Butik.
🏵️
Dua minggu telah berlalu, Alex sudah memberikan semua hasil kerjanya ke Rama.
"Boss .. ini semua yang Boss inginkan lengkap saya kasih. Tapi untuk identitas Mba Izza belum ada perkembangannya. Sangat sulit sekali mencari info tentang dia. Maaf Boss kalo boleh tau kenapa tertarik menyelidiki tentang Mba Izza lebih lanjut, kan Boss sudah tau siapa yang dicari selama ini" lapor Alex.
"Saya bayar kamu untuk cari informasi, bukan untuk ngepoin hidup saya. Paham?" kata Rama dengan datar.
"Maaf Boss, bukan begitu maksud saya" jawab Alex.
"Oke saya rasa cukup. Sudah saya transfer ya uangnya ... oh ya, saya minta tambahan satu orang bodyguard lagi, perempuan ya. Yang bisa nyetir mobil dan bisa naik motor. Harus bisa beladiri dan punya pengalaman sebagai bodyguard" pinta Rama.
"Siap Boss, yang menjaga Boss selama ini bagaimana? apa perlu saya ganti?" jawab Alex.
"Saya sudah sreg sama dia, biar dia terus kawal saya. Sangat profesional kerjanya, sampai Supir pribadi saya aja ga tau kalo saya ada yang ngawal" ucap Rama.
"Syukurlah Boss puas dengan orang-orang saya. Yang baru nanti tugasnya apa ya Boss?" tanya Alex.
"Saya akan kasih instruksi kalo kamu sudah dapat orangnya" kata Rama.
"Baik Boss... saya permisi dulu" ujar Alex.
🏠
Ceu Lilis mulai dapat job menyanyi di Jakarta, efek dari kerjaan yang Rama berikan saat peresmian Hotel, jadinya dia ada aja yang menghubungi untuk mengisi acara pernikahan. Setiap ada job pasti nginepnya minta di Audah Hotel.
Jum'at selepas subuh, Rama berjalan keluar dari Mesjid menuju Audah Hotel, dia sedang menginap disana sekamar sama Mang Ujang. Sedang tidak ada orang di rumah, Pak Isam sedang ke Tasikmalaya. Haidar dan Sachi sedang short vacation ke Malaysia sekaligus memeriksakan kesehatan Haidar pasca rawat inap kemarin. Haidar membawa pengasuh Sachi dan Supir barunya (Supirnya Haidar dan pengasuhnya Sachi adalah pasangan suami istri yang baru menikah sebulan yang lalu, makanya suaminya ditawarkan pekerjaan sebagai supirnya Haidar agar tinggal di atap yang sama).
Mang Ujang yang dari pagi sudah mengikuti gerak gerik Rama, ga banyak komentar atas diamnya sang Boss. Sekarang dia mau mengelap mobil sambil memanaskan mesin mobil.
Selepas sarapan Rama akan pergi bareng sama Ceu Lilis. Rencananya nanti malam Ceu Lilis akan balik ke Tasikmalaya, jadi Rama akan membelikan oleh-oleh buat orang di rumah Ceu Lilis.
Setelah Mang Ujang dan Ceu Lilis sarapan, ketiganya bergerak menuju suatu tempat. Mobil dikendarai langsung oleh Rama, Mang Ujang terdiam disampingnya.
Pagi ini Mang Ujang pun tampak ikut diam, terlihat lebih jinak, hal ini karena Rama memang berubah menjadi pendiam sejak dua hari yang lalu. Bahkan saat di mobil dan di kamar pun ga sepatah kata pun dia ucapkan.
Cukup heran juga Mang Ujang sama sikap dinginnya Rama. Mau menanyakan langsung khawatir Rama akan marah. Mang Ujang sudah hapal tabiat Rama yang ga suka kalo ada yang kepo terhadap hidupnya. Makanya demi keamanan pekerjaannya (daripada dipecat) lebih baik ikut diam.
"Mang Ujang tumben jadi kalem" buka Ceu Lilis memecah kesunyian.
"Sakit gigi" bohong Mang Ujang.
"Kasian banget Mang ... udah minum obat?" tanya Ceu Lilis.
"Kalo minum obat sakit gigi kan efeknya ngantuk, saya kan lagi kerja Lis" jawab Mang Ujang.
Rama masih fokus kearah jalan.
"A' ... ini kita mau kemana? itu PGC udah lewat, Mall yang lain juga lewat. Kenapa sekarang juga lewat tol? mau kemana sih A'?" tanya Ceu Lilis bingung.
"Nanti juga kamu tau mau saya bawa kemana. Tenang aja ... saya ga akan berbuat macam-macam sama kamu" kata Rama.
"Iya A' .. Lilis teh percaya kalo Aa' ga akan berbuat jahat. Tapi ini kita mau kemana? kan Aa' bilang mau beli oleh-oleh" ucap Ceu Lilis.
Mang Ujang menghadap kearah Ceu Lilis. Memberikan tanda agar Ceu Lilis diam.
Mang Ujang juga mengirimkan chat ke Ceu Lilis agar diam. Moodnya Rama sedang tidak bagus untuk diajak berbincang.
Rama menerima telepon dari Mba Gita yang melaporkan tentang jadwal Rama hari ini. Rama mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Oke .. nanti saya ke HO (Head Office Abrisam Group, sebutan singkat kalo Rama mau kesana)" jawab Rama singkat.
Kemudian sambungan telepon ditutup. Rama melihat dari spion mobilnya, pengawal yang ditugaskan untuk selalu berada dekat sama dia.
"Maaf Mas Boss ... Mas Boss curiga ga sih kalo hampir dua mingguan ini kita diikutin sama motor, ya selalu ganti sih motornya. Tapi aneh aja, perawakan orang itu juga sama kok. Jangan-jangan Mas Boss mau diculik" ujar Mang Ujang sambil melihat kaca spion.
"Emangnya saya Sachi segala diculik. Percuma dong saya punya Mang Ujang kalo ga bisa ngelindungin" jawab Rama datar.
"Yaelah Mas Boss... saya dikejar sama banci aja semaput, lah ini malah disuruh berantem sama orang yang badannya kaya buldoser gitu. Ngga deh Mas Boss ... makasih banyak .. saya masih sayang sama nyawa" ucap Mang Ujang.
"Emang ga pernah tawuran atau berantem gitu pas muda?" tanya Rama heran.
"Nyali saya mah kecil Mas Boss. Kalo teman ngajakin tawuran, saya mah ngumpet di kamar mandi, nanti kalo udah pada pergi ya saya kabur pulang ke rumah" papar Mang Ujang.
"Nanti gimana mau lindungin istri dan anak kalo Mang Ujangnya pengecut" kata Rama.
"Melindungi kan ga harus berantem, bisa kan pakai cara berdiskusi" ucap Mang Ujang.
"Mau diskusi apa kalo dijambret atau ditodong?" tanya Rama.
"Ya atuh jangan dido'akan gitu Mas Boss. Ya pokoknya menghindar aja kalo ada yang ga beres" lanjut Mang Ujang.
"Taunya ga beres dari mana? misalnya saya berniat jahat nodong Mang Ujang buat nyerahin HP dan dompet apa bisa menghindari saya?" tanya Rama.
"Hahahaha... Mas Boss mau nodong saya buat apa? HP nya Mas Boss itu kalo dijual bisa buat beli sepuluh model HP punya saya. Terus mau minta dompet juga buat apa? Harga dompet saya cuma lima puluh ribu, beli di abang-abang keliling jualan dompet. Isinya juga ga seberapa. Jadi buat apa Mas Boss melakukan hal itu?" kata Mang Ujang sambil masih menahan tawa.
"Ini kan misalnya ... bukan saya mau nodong Mang Ujang. Susah kalo ngomong sama orang yang ga nyambung. Udah deh mending diam kaya tadi, daripada tensi saya naik" ucap Rama yang jadi kesel.
"Tadi Mas Boss nanya, dijawab eh malah marah. Atuh yang sabar jadi orang Mas Boss. Jangan galak-galak, nanti ga ada cewe yang mau loh" goda Mang Ujang mencoba melucu.
"Mang Ujang yang ga galak aja ga laku-laku, kok malah ngeledek saya" nyinyir Rama.
Mang Ujang dan Ceu Lilis memilih ngobrol lewat chat daripada mendengarkan ocehan Rama yang kalo disahutin pasti panjang. Keduanya sedang membahas tentang nasib Mang Ujang yang ditinggal tunangan sama calon gebetannya.
.
Mobil memasuki area pemakaman. Agak bingung Mang Ujang dan Ceu Lilis mengetahui tujuan mereka.
Rama meminta semua untuk turun dan mengikuti langkahnya menuju makam Mba Nay. Rama mengganti sepatunya dengan sandal jepit dan mengenakan kacamata hitam Reybek nya.
Didepan nisan #Ainayya Fathiyyaturahma# Rama duduk dibangku plastik kecil yang sudah disediakan dipinggir makam.
Rama memimpin do'a, yang lainnya ikut melantunkan do'a bersama untuk Mba Nay. Ada wajah kesedihan mendalam diwajah Ceu Lilis. Mang Ujang tampak datar karena sudah sering ke makam ini.
Selesai berdo'a, Rama mengusap nisan dengan lembut.
"Mba... hari ini, kutepati janjiku padamu. Sudah kubawa adik kandungmu yang menjadi wasiat terakhirmu. Rama sadar ga bisa memastikan apa ini benar atau salah. Tapi lihatlah jerih payahku selama ini Mba. Rama ga akan tinggal diam. Semua akan Rama cek jika kebenaran ini terungkap" ucap Rama dengan suara berat tertahan.
Terdengar isak tangis seorang wanita dibelakang Rama. Rama ga mau menoleh karena dia tau siapa yang sedang menangis. Mang Ujang masih ga paham sama apa yang terjadi. Jadi dia tetap duduk dibangku kecilnya dihadapan Rama.
"Mba Nay .... Mba Nay ..." panggil Ceu Lilis dengan lirih.
Rama bangkit dari duduknya dan memberikan kursi plastik ke Ceu Lilis. Rama bertukar posisi dengan Ceu Lilis.
"Mba Nay kenapa pergi duluan .. huhuhu ... Setelah Bapak dan Ibu ikut menjadi korban saat rumah kita terbakar, kenapa sekarang Mba juga ikut pergi... Mba ga mau nunggu sampai kita bisa ketemu ... huhuhu..." tangis Ceu Lilis kian pecah.
Rama terdiam, Mang Ujang masih ga paham sama apa yang terjadi.
"Kenapa Lilis kenal sama nama yang ada di makam yang selalu didatangi sama Mas Boss ya? apa hubungannya ini? makin ga paham" ucap Mang Ujang.
"Lis ... Kita berdo'a dulu disini terus kita cari tempat yang enak buat ngobrol" ajak Rama sambil mengusap pundaknya Ceu Lilis yang sedang memeluk nisannya makam Mba Nay.
Semua mengikuti langkah Rama kembali masuk kedalam mobil. Bergerak menjauh dari areal pemakaman.
Ceu Lilis masih menangis bahkan tissue yang ada di mobil sudah hampir mau habis untuk mengelap air matanya.