
Setelah mengantar Lexa pulang ke rumahnya, kembali Rama mengemudikan mobil menuju rumah, sudah jam sebelas malam dan kembali terjebak macet di Ibukota. Banyak terjadi kecelakaan membuat laju jalan jadi macet dibeberapa titik.
Rama mencari-cari frekuensi radio yang sedang memutar lagu yang asyik untuk menemani kesendiriannya. Mendengar musik yang agak kearah rock agar tetap bisa terjaga dan membakar semangat untuk menembus kemacetan.
Ada chat masuk ke HP nya Rama, dari Mas Haidar. Sepertinya ada kiriman video. Dimatikan radio yang ada didalam mobil dan membuka video tersebut. Betapa kagetnya Rama, ternyata video Mba Nay yang belum pernah dilihatnya.
Semua folder video dan foto yang Mba Nay tinggalkan sudah dia buka hingga hapal apa saja isinya. Tapi video Mba Nay yang ini belum pernah dia lihat.
Mas Haidar menelepon Rama. Rama menyambungkan bluetooth HP dengan radio di mobilnya.
"Assalamualaikum.." sapa Mas Haidar.
"Waalaikumsalam.. ada apa Mas?" tanya Rama.
"Video ini hak kamu Ram.. Baru kemarin penjaga apartment kasih ke Mas. Katanya lupa memberikan ke Mas saat dulu apartment itu dibersihkan. Hingga keseliplah bertahun-tahun. Mas sudah liat isi video itu .. terima kasih ya Ram.. Mas ga akan memaksakan kehendak Mas lagi untuk Sachi tinggal sama Mas. Meskipun secara legalitas dia anak Mas .. kamu tetaplah Ayah yang selalu dia puja dan ga akan bisa tergantikan. Kayanya Sachi juga lebih bahagia sama kamu dan Izza" ujar Mas Haidar.
"Mas.. nanti kita lanjut berbincang hal Sachi di rumah aja ya, Rama masih kejebak macet nih" pinta Rama.
"Iya.. Mas nginep kok di rumah Papi" jawab Mas Haidar.
Rama menutup sambungan telepon, kemudian memutar video yang ada di HP nya, karena masih tersambung dengan bluetooth radio mobil, maka suara dari video tersebut jelas terdengar di seisi mobil.
"Haidar Zhafran Abrisam, seperti arti namanya, anak lelaki tampan yang beruntung, memiliki keberanian untuk mencari kemenangan sejati. Tapi sayangnya putaran nasib tidak seindah namanya. Mas Haidar memang tampan tapi tidak beruntung dan tidak cukup berani untuk mencari kemenangan. Asyik mengikuti kehendak keluarga saja. Ada penyesalan kenapa bertemu dengannya terlebih dahulu dibandingkan bertemu sama kamu Faqi... Mungkin kalo Mba ketemu sama kamu, ga akan ada janin bersemayam sebelum pernikahan terjadi... " tampak Mba Nay merekam videonya sambil duduk didepan meja rias.
"Raffasya Qiyas Ramadhan .. anak lelaki yang diharapkan berada di tempat tertinggi, berkepribadian tegas dan lahir dibulan suci Ramadhan. Kamu sangat mempresentasikan diri sesuai nama. Berani mengambil keputusan sangat penting dalam hidup dan mengorbankan impian. Sepertinya ga layak Mba dan bayi dalam kandungan ini ditukar dengan masa depan kamu. Memang tidak ada yang tau apa yang terjadi dimasa yang akan datang, tapi bukankah kamu pernah bilang kalo impian adalah setengah dari masa depan? Ga ada satu katapun yang layak Mba ucapkan sebagai wujud terima kasih dan hormat yang setinggi-tingginya buat kamu. Faqi .. kamu menyayangi calon keponakan ini sebelum dia lahir, kamu juga berjanji akan memberikan status untuk dia jika diperlukan. Kamu ingin kita bertiga bisa hidup bahagia walaupun tantangan sudah jelas membentang terutama dari pihak keluarga" kata Mba Nay sambil mengusap air matanya memakai tissue.
"Kelak, Mba do'akan semoga wanita yang akan menjadi istri kamu adalah wanita yang istimewa dan kalian merasa beruntung saling memiliki. Dibalik semua kenakalan remaja yang kamu lakukan, bagaimana pusingnya keluarga sama tabiat kamu serta emosi yang ga stabil .. Mba melihat disana ada kesungguhan dan cinta luar biasa yang terpendam. Singkat memang kedekatan kita, tapi itu semua penuh makna. Setiap kamu mengungkapkan ingin menikahi Mba.. ada desiran luar biasa bergemuruh dalam dada ini. Memang benar kata orang, jika persahabatan antara laki-laki dan perempuan kemungkinan besar salah satunya yang akan memendamkan perasaan. Yang terbawa perasaanlah yang kalah dalam cerita itu, dan Mba mengaku kalah. Ya kalah.. karena pada akhirnya mulut bicara tidak tapi hati melonjak bahagia. Terombang-ambing rasa untuk menerima kehadiran kamu sebagai pendamping, tapi ga adil bukan? kamu ga layak bertanggung jawab terhadap calon bayi yang ada di rahim Mba. Kamu ga pantas ada dalam kubangan lumpur dosa seperti Mba. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih dari Mba, diwaktu yang baik dan situasi yang baik-baik saja. Mba ga tau kapan pastinya mulai benar-benar jatuh cinta sama kamu, tapi yang Mba tau... Mba sudah mulai mencintaimu. Itu saja... Mba mencintaimu disini dan akan Mba akhiri disini juga. Mba ga akan membawa perasaan ini pulang ke rumah Mba yang sesungguhnya. Cukuplah semua ini menjadi saksi bagi hati yang telah rapuh dan patah. Faqi... sekarang ini, cuma kamu yang Mba percaya untuk menjaga anak Mba nantinya. Sayangi dia seperti anak kamu sendiri, sayangi dia dengan segenap cinta kasih. Kelak jika Mas Haidar sudah bisa mengingat masa lalu dan menurut kamu layak untuk diberitahukan tentang Sachi... silahkan kasih tau. Mba ga bisa bicara ke Mas Haidar lagi, Mba merasa waktunya ga akan sempat" wajah Mba Nay sudah banjir air mata.
"Mba Nay seperti punya firasat kalo ga akan bisa bertahan lama .. Mba.. maaf kalo sudah jarang ziarah ke makam Mba Nay. Tapi dalam do'a Rama.. selalu terselip nama Mba didalamnya. Terima kasih sudah memberikan kehidupan yang baru buat Rama. Karena Rama hari ini mungkin tidak akan ada jika tidak menukar impian demi keselamatan Mba dan Sachi" jawab Rama bicara seorang diri.
Video sudah berakhir. Rama mengambil tissue, disapunya ke ujung mata. Ada sedikit basah disana.
"I know Mba ... kenapa kita tidak bersatu? karena kita hanya bisa jadi adik kakak saja, bukan pasangan. Cinta kita tidak cukup untuk membuat bahagia. Izza adalah wanita yang berhasil mematahkan ego dan mencukupi rasa hati ini dengan cintanya. Mba .. mencintai Mba bukanlah kesalahan, tapi Rama lupa.. ternyata rasa itu hanya iba belaka. Ternyata cinta sejati Rama ya Izza. Mba adalah masa lalu, tapi Izza adalah masa kini dan nanti" tutup Rama.
Dihapusnya video tersebut, sudah tidak penting lagi pengakuan Mba Nay terhadap dirinya. Yang sekarang dipikirannya hanya ada satu wanita, yaitu Izza. Rama tidak mau perasaannya terhadap Izza terganggu oleh wanita lain.
Rama menelepon Izza, tapi HPnya sedang tidak aktif, kemungkinan HP nya sedang diisi daya. Rama kembali fokus ke jalan raya dan menyetel musik lagi.
.
Rama sampai di rumah sekitar jam satu dini hari, rumah tampak sepi karena penghuninya sudah tidur. Rama selalu membawa kunci sendiri, jadi tidak perlu menggangu orang yang sedang tidur untuk sekedar masuk kedalam rumah.
Dia membuka pintu kamar pelan-pelan agar Izza tidak terbangun. Kemudian menuju kamar mandi, rasanya badan sudah bau dengan keringat. Seusai mandi, dia langsung sholat isya kemudian bergegas naik ke tempat tidur.
"Macetnya parah banget Kak?" tanya Izza yang membuat Rama kaget.
"Iya" jawab Rama sambil mencium keningnya Izza.
Rama mendekap tubuh istrinya.
"I love you..." bisik Rama.
"Ga usah pake love love an segala deh, pasti Kakak merayu kaya gini biar Izza ga marah kan?" tembak Izza.
"Mau marah atau ga ya terserah sama kamu De.. toh pulang telat juga ada alasannya. Kakak ada keperluan mendadak di Audah Hotel yang harus diselesaikan saat itu juga. Kemudian pulang mengantarkan Mba Lexa, istrinya Mas Candra, yang mobilnya mogok dan anaknya ngamuk karena kegerahan. Balik ke rumah pun masih kejebak macet karena banyak kecelakaan" kata Rama bicara panjang lebar dengan santai.
"Abah Ikin tadi pulang jam dua belasan, ada pengurus Pesantren yang meninggal dunia, diserang oleh penghuni baru Pesantren. Jadi baru tadi pagi diantar keluarganya ke Pesantren, ngamuk dan berniat kabur. Dicegah oleh pengurus Pesantren, ga ada yang menyangka kalo dia bawa pisau lipat. Dihunuskan pisau tersebut ke perut salah satu pengurus. Jadinya Abah Ikin memutuskan segera pulang, karena disana juga sudah datang pihak berwajib untuk meringkus pelaku penusukan. Acara Abah Ikin untuk mengisi tausyiah di Bekasi juga sudah langsung dicancel, ya namanya musibah kan ga ada yang tau" jelas Izza.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. Nanti tanya ke Maryam, apa yang patut kita bantu. Mungkin almarhum punya keluarga yang ditinggalkan dan memerlukan bantuan" ujar Rama.
"Ya Kak, nanti ditanya ke Maryam. By the way, lapar ga Kak?" tanya Izza.
"Kakak ini sudah antara lapar dan ngantuk, tapi kayanya milih tidur aja deh, ga sanggup makan dulu, cape banget badan rasanya" ucap Rama yang langsung memejamkan matanya sambil memeluk Izza.
"Ga mau dipijitin Kak?" tawar Izza.
"Ga usah.. kamu pasti cape juga kan nyiapin ini itu untuk menjamu tamu. Cukup kita tidur berpelukan aja sudah buat cape Kakak hilang" jawab Rama.
"Bisa ga genitnya nanti aja, kalo Kakak udah fit. Beneran cape banget De.. pagi ini jam delapan ada breakfast meeting" kata Rama.
"Kan Sabtu Kak.. emang ga libur?" tanya Izza.
"Ga" jawab Rama singkat.
ðŸ’
"Semalam kejebak macet ga Ram?" tanya teman SMA nya Rama.
"Iya.. sampe rumah jam satu lewat kayanya, baru tidur sebentar udah subuh terus jalan kesini" jawab Rama.
"Keren loh dia, udah punya bodyguard sekarang, makin tajir aja nih Boss kita yang satu ini" ledek temannya Rama.
"Itu bodyguardnya istri, saya pinjem dulu buat nyetirin mobil, masih agak ngantuk" kata Rama.
"Sekarang udah ga kuat begadang? dulu kalong aja minder sama seorang Rama.. soalnya matanya kuat banget ga tidur seharian" ujar temannya Rama.
"Ya bedalah.. sekarang kan dia udah nikah, jadi double kerja, di kantor dan di rumah. Ga kaya kita yang masih belum nikah" goda temannya Rama yang satu lagi.
"Lagian ngapain nikah buru-buru Ram, belum enjoy masa muda udah terpasung, masih untung istrinya ga rewel ditinggal meeting, mana weekend pula" ucap temannya Rama.
"Ini mau bahas status atau mau meeting?" tegas Rama.
"Santai Ram... kita sarapan dulu lah, nanti baru kita persiapan akhir buat besok" kata temannya Rama.
"Pembahasan di grup chat kan sudah jelas, acara tinggal jalan aja. Konsepnya juga santai, untuk mempererat persahabatan aja, sambil mengumpulkan kontak teman-teman yang belum ada. Sudah sepakat juga kalo kita tidak menyiapkan makan minum karena akan langsung beli ke pedagang disana, untuk melariskan dagangan para pedagang" papar Rama.
"Tapi menghimpun kurang lebih lima puluh orang alumni plus pasangan juga butuh koordinasi, kaos sudah siap, besok yang bertugas tolong jam enam sudah di meeting point" tambah temannya Rama.
"Saya kebagian tugas juga ya?" tanya Rama.
"Bukan dipembagian kaos, ngurusin door prize.. jadi dari pembagian nomer sampai diundi. Untuk door prizenya sudah disiapkan sama cewek-cewek" jelas temannya Rama.
"Ini yang nikah baru saya ya?" tanya Rama.
"Yang cowo baru dua yang ketahuan, kalo yang cewe udah banyak yang nikah, yang ga kuliah dan ambil D3 kayanya yang udah nikah. Emang enak ga bisa tebar pesona ke para primadona angkatan kita" ucap temannya Rama.
"Mata saya tertujunya hanya untuk Izza seorang, ga ada yang lain. Buat apa nyari lagi kalo udah ketemu.. ya ga?" sahut Rama sambil ketawa kecil.
"Lain deh kalo masih pengantin baru, matanya masih tertuju ke istri. Coba nanti kita tanya lima tahun lagi, jawabannya masih sama atau ngga" ledek temannya Rama.
"Sebagai teman harusnya mendo'akan yang baik-baik, nanti deh bakal ngerasain gimana cinta sepasang suami istri, jauh beda sama cinta pasangan yang belum halal" pamer Rama.
"Tapi kalo dipikir-pikir.. pas kali ya nikah seusai kuliah, kan kalo anak kita gede, kitanya masih muda" khayal temannya Rama.
"Ga gitu juga konsepnya, menikah ga sekedar itu, yang utama bagaimana kita sebagai pria mampu secara lahir batin menafkahi wanita. Nikah ga sekedar modal cinta sama dengkul Bro" ingat Rama.
"Lain Bapak Rama kalo udah ngomong tentang pernikahan, udah kaya pakar" ucap temannya Rama.
"Bukan pakar, tapi kan udah ngejalanin, jadinya tau" sahut Rama.
"Udah mulai pusing sama uang belanja, bayar listrik, istri minta shopping sama lainnya ya Pak?" goda temannya Rama lagi.
"Kayanya yang pusing dia deh, kan dia yang atur" kata Rama santai.
"Wah repot urusannya nih .. konon katanya, kalo uang udah masuk kantong perempuan, bakalan susah keluarnya" ujar temannya Rama.
"Lagi ngapain mikirin Rama sih? pada lupa dia siapa? secara dari jaman kita sekolah aja, dia udah paling tajir satu sekolahan. Kan harusnya dia sekolah di SMA internasional, eh malah milih SMA umum. Uang yang dia kasih ke istrinya sebulan itu bisa jadi sama gaji kita enam bulan. Mana pusing dia urusan istri shopping sama token listrik, wong ada uangnya buat itu semua" papar teman akrabnya Rama.
"Iya ya.. jaman kita masih naik motor RY Sing, eh dia dah naik motor BCR. Makin kaya aja nih si Boss.. ajak-ajaklah kalo ada proyek" tukas temannya Rama yang satu lagi.
"Ketinggalan jaman banget nih orang.. semua bisnis Rama pasti colek-colek bisnis dan pekerjaan temannya. Bakery yang ada di Hotelnya itu kan milik orang tuanya Bakri, anak sos satu yang jago main futsal itu. Terus pengadaan alat tulis kantor ambil di saya, secara saya kerja di distributor alat tulis kantor. Pokoknya banyak deh yang diajak kerjasama" papar temannya Rama.
"Intinya kalo mau kerjasama tuh yang bener. Prosedur diikutin, jangan curang, sama-sama menguntungkan dan yang paling penting itu memang ada hubungannya sama perusahaan yang saya pimpin" ungkap Rama.