HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 159, Finally



"Pak.. proyek yang di Subang dan Cimahi sedang bermasalah, kan itu masih ada irisan dari perusahaan milik Pak Flandy, laporannya sudah saya siapkan diatas meja" lapor Farida ketika melihat Rama datang selepas meeting sekaligus makan siang dengan klien.


"Ya.. sudah dengar tadi dari orang yang disana, progress awal sudah berapa persen?" kata Rama.


"Tahap awal sudah mencapai sembilan puluh persen, tapi tahap kedua belum bisa dikerjakan karena menunggu pihak perusahaan Pak Flandy dulu, saya sudah hubungi yang incharge disana, tapi sepertinya saling lempar pekerjaan tanpa ada koordinasi. Berita yang beredar, perusahaan tersebut seperti hidup segan mati tak mau. Sejak Pak Flandy tersandung masalah hukum, istrinya juga angkat tangan karena tidak paham sama sekali tentang bisnis dan anaknya pula keluar masuk Rumah Sakit saja" papar Farida yang memang tidak tau kalo selama ini Rama keluar Kantor untuk menemani Mba Anindya.


"Siapkan dokumen yang diperlukan, tolong buat janji dengan owner-nya segera. Nanti saya koordinasi sama Mba Anindya dulu, pihak sana harus menunjuk orang untuk menyelesaikan masalah ini. Semoga ada jalan keluar yang terbaik buat kita semua" harap Rama.


"Baik Pak... ada lagi yang bisa dibantu?" tanya Farida.


"Nanti saya hubungi jika butuh bantuan" jawab Rama.


"Baik Pak" pamit Farida.


.


Rama memandang layar HP nya, chat ke Izza sedari pagi hanya dibaca tanpa dibalas. Ada juga sejumlah notifikasi missed call dan chat dari Mba Anindya.


"Perempuan ini kalo ngambek kok betah banget ya... udah dijelasin juga ga paham-paham. Ini kan ada urusannya sama bisnis, kalo ga ada hubungan bisnis sama keluarga Mba Anin juga ga bakal begini" kata Rama ngomong sendiri di ruangannya.


Rama menyentuh layar HP nya dan menghubungi nomer yang tertera dilayar.


"Mang... lagi dimana?" tanya Rama.


"Baru sampai di HO Mas Boss .. dari pagi belajar bikin laporan ini itu di Audah Hotel" lapor Mang Ujang.


"Tumben.. biasanya tidur" ledek Rama.


"Ya ngga dong Mas Boss, abis saya diomelin sama Maryam gara-gara dia dengar saya sering tidur kalo kerja. Gara-gara Mas Haidar nih mulutnya pake keceplosan segala" cerita Mang Ujang.


"Sama dong kaya mulutnya Mang Ujang. Sekarang siapin mobil.. kita ke Rumah Sakit lagi" perintah Rama.


"Ke Mba Anin lagi? tampang Mba Boss pagi ini aja udah kaya mau nelen saya hidup-hidup ... takut ah, nanti disangka saya mendukung Mas Boss buat ketemu Mba Anin terus" kata Mang Ujang rada takut.


"Ga usah panjang kata, siapkan sekarang juga" ucap Rama.


.


Didalam mobil.


"Kita udah ga bener ini jam kerjanya Mas Boss, ga kasian apa sama saya? istri kan lagi hamil, saya pulang lewat tengah malam mulu, pagi-pagi sudah antar Mas Boss terus lanjut ke Audah Hotel.. emang Mba Anin ga punya saudara buat jagain dia?" ujar Mang Ujang sambil menyetir.


"Emang Mamang doang yang punya istri, saya juga punya anak istri malah.. ga kebagian waktu juga" jawab Rama sambil membaca email yang masuk.


"Ya udah kalo gitu kita balik aja ke HO terus kerja disana deh, sore kita balik pulang" ide Mang Ujang.


"Ga usah ngatur ya .. saya ini Boss nya, jadi Mang Ujang harus nurut apa yang saya perintahkan" kata Rama tegas.


.


Di ruang rawat inap.


Mang Ujang seperti biasa, leyeh-leyeh di sofa. Rama duduk di meja makan bersama Mba Anindya dan Mamanya Mba Anindya.


"Mau sampai kapan kaya begini Mba.. Tante? hidup kan harus terus berjalan. Yang tersandung kasus hukum kan Om Flandy, tidak ada yang disita pula hartanya. Sepertinya juga akan dijatuhi hukuman mati sesuai tuntutan dari Jaksa karena kepemilikan barang haram serta sindikat pengedar dan kejahatan lainnya. Bukan saya tega berkata seperti ini, pikirkan bagaimana nasib para karyawan kalo ga ada leader disana. Mba dan Tante jangan hanya memikirkan diri sendiri. Perusahaan saya pun terkena dampaknya karena ada dua project yang on going jadi terbengkalai. Saya ga bisa melanjutkan pekerjaan karena bagian yang harusnya dikerjakan oleh perusahaan Om Flandy sekarang pending. Secepatnya saya akan buat janji dengan owner-nya untuk menyelesaikan semuanya. Jadi saya minta Mba Anin menunjuk orang untuk bersama menyelesaikan proyek Waterboom ini" papar Rama serius.


"Tante ga ngerti masalah bisnis Ram.. blas ndak paham" ucap Mamanya Mba Anindya.


"Tolong dibantu ya Ram" pinta Mba Anindya.


"Maaf Mba.. saya juga harus mengurus perusahaan saya sendiri. Sudah tiga bulan ini saya ga fokus di Abrisam Group, ditambah sama keluarga pun jadi minim waktu. Kurang membantu bagaimana saya? Audah Hotel saya kerjakan sendiri tanpa memikirkan berdua sama Mba. Perusahaan dan butik yang Mba Anin punya pun saya bantu kelola sebisa mungkin" jelas Rama dengan tegas.


"Kamu kan tau kondisi Mba dan Mama seperti apa Ram, sama siapa Mba harus minta tolong kalo bukan sama kamu? keluarga seolah udah ga anggap kami ada lagi" ujar Mba Anindya memelas.


"Lepas aja Mba perusahaannya, jadi Mba bisa fokus kebidang usaha yang memang Mba kuasai" ide Rama.


"Terus kami bagaimana kalo perusahaan dijual?" tanya Mamanya Mba Anindya.


"Tante dan Mba Anindya ada usaha yang lainnya kan? ya sudah.. jalani aja yang itu dengan baik" jawab Rama.


"Tapi itu bisnis utamanya Ram. Dari perusahaan milik Papanya Anin lah semua ada. Ya rumah, uang, kendaraan, perhiasan dan sebagainya" sahut Mamanya Mba Anindya.


"Cuma ada dua pilihan.. dijual atau segera lanjutkan perusahaan sebagaimana mestinya" kata Rama.


"Kok kamu ga mau bantu kita sih? bukannya Anin sudah memberikan kamu gaji untuk membantu usaha Anin? ga profesional dong, gaji diterima tapi ga kerja" tanya Mamanya Mba Anindya.


"Saya atau Mba Anin yang ga profesional? kalo memang mau hitung-hitungan secara profesional, uang yang Mba Anin kasih itu jauh dibawah hitungan semestinya. Effort yang saya keluarkan lebih besar dari jumlah transferan Mba Anin. Lagipula saya hanya membantu yang berkaitan dengan Mba Anin saja. Saya tidak mencampuri urusan perusahaan milik Om Flandy sama sekali" jawab Rama yang mulai rada sewot.


"Ya sekarang kamu mindsetnya diubah aja, menolong kami ini para janda dan calon janda. Banyak pahalanya kan?" ujar Mamanya Mba Anindya.


"Masih banyak janda-janda diluar sana yang lebih layak untuk dibantu. Ini bukan masalahnya janda atau status apapun, tapi Tante juga harus banyak belajar dari masalah ini. Selama ini taunya pakai uang suami untuk foya-foya, jangan salahkan suami kalo gelap mata. Saya membantu Mba Anin karena saya masih menghormati beliau sebagai Kakak saya. Tapi Tante sudah menginjak-injak harga diri saya, jadi Mba Anin.. kita selesaikan saja bisnis kita berdua. Gampang aja .. siapa diantara kita yang menyerahkan kepemilikan Audah Hotel?" ungkap Rama yang memang sudah marah.


"Ram.. maafin Mama ya.. kamu jangan begini dong, nanti Mba bicara sama Mama dulu" pinta Mba Anindya.


"Maaf Mba.. ini sudah saya pikirkan baik-baik. Semua kebaikan saya selama ini hanya Mba manfaatkan, terserah habis ini Mba Anin dan Tante mau seperti apa. Lawyer saya yang akan mengurus mengenai prosedur yang akan kita lalui untuk penyelesaian Audah Hotel. Jika perlu, saya akan melepaskan semua kepemilikan saya disana" lanjut Rama.


"Maafin Tante deh Ram.. kamu mah balik lagi ke perangai Rama yang dulu, padahal Tante sudah senang liat kamu banyak berubah, tapi jiwa emosiannya masih aja menyala" kata Mamanya Mba Anindya.


"Andai yang ada dihadapan saya bukan wanita dan tidak lebih tua, mungkin sudah saya ajak duel. Minta maaf kok ujung-ujungnya malah menghina.. dunia ini yang aneh atau orang-orangnya sudah mulai aneh?" sahut Rama.


Mang Ujang yang tadi sudah tertidur langsung bangun begitu ada suara keributan.


"Mang... ayo kita pulang" perintah Rama dengan nada tinggi.


Mang Ujang yang baru bangun masih bengong, belum penuh kesadarannya.


Rama sudah keluar dari kamar, Mang Ujang masih bengong.


"Eh supir... malah bengong gitu, tuh Boss kamu udah keluar" ujar Mamanya Mba Anindya.


"Ma.. jangan begitu" pinta Mba Anindya.


"Ini nih jeleknya Rama, ga liat-liat dulu kalo nyari teman atau supir. Masa supir diajak ke kamar rawat mewah ini, yang ada tuh supir di mobil atau di parkiran" lanjut Mamanya Mba Anindya nyinyir.


"Nyonya ini kan orang terhormat, orang kaya, pergaulan juga kelas atas.. kenapa mulut kaya abis nelen isi Bantar gebang ya?" sahut Mang Ujang dengan cueknya.


"Ehh... berani-beraninya ngatain kaya gitu, ngaca dulu kamu siapa?" lanjut Mamanya Mba Anindya sambil melotot.


"Nilailah diri sendiri sebelum menilai orang lain. Seseorang boleh menilai kita, tapi tidak untuk menghakimi kita. Kita terlahir dengan dua mata. Kenapa masih sering menilai sesuatu hanya dari sebelah mata? Silahkan menilai saya sesuka Anda. Itu hak Anda. Tapi, alangkah baiknya berkaca dulu sebelum bicara" ucap Mang Ujang sambil keluar dari kamar rawat inap.


Mba Anindya terbengong-bengong mendengar ucapan Mang Ujang, sungguh ajaib kata-kata tersebut keluar dari bibir Mang Ujang yang sangat dia kenal bagaimana tipenya.


.


"Hahaha... ga percuma ini kata-kata Mas Boss dicatat, berguna juga. Mas Boss itu kalo punya kata-kata mah ga kaleng-kaleng. Ya sesekali keliatan kaya orang pintar kan boleh juga" kata Mang Ujang sambil memasukkan buku sakunya kedalam tas miliknya kemudian berjalan menuju parkiran mobil.


🏵️


Rama pulang ke rumah jam dua belas malam, sebenarnya sudah pulang dari Audah Hotel sekitar jam sembilan malam, tapi hujan deras membuat macet dimana-mana karena banyak jalan yang terendam banjir. Masuk tol pun seperti ibarat numpang parkir, tidak bergerak.


Untunglah didalam mobilnya Rama ada dua loyang kue, yang satu marmer cake dan yang satu lagi cheese cake, dikasih oleh seorang calon vendor bakery di Audah Hotel. Minuman selalu ada di kulkas mobilnya Rama, jadi lumayan aman urusan perut.


"Banjir membawa berkah nih buat pedagang yang mau cape jalan kesana kemari, biasa sepuluh ribu dapat delapan gorengan, sekarang dapat lima gorengan" ucap Mang Ujang.


"Berarti pintar menangkap peluang yang ada Mang. Pebisnis seperti itu, harus cepat tanggap sama situasi. Udah mah kita ga bisa gerak, orang pasti lapar karena jam pulang kerja pula. Kaya kita aja yang udah rencana makan di rumah, eh malah makan malam di jalan kaya gini. Mana ga jelas banget yang kita makan. Bolu yang biasa cuma saya liatin doang, eh dengan amat sangat terpaksa akhirnya dimakan buat ganjel perut" lanjut Rama.


"Mana istri saya udah masak spesial, soto ayam pake perkedel" ucap Mang Ujang sambil memperlihatkan foto makanan yang terhidang di meja kamarnya Mang Ujang.


"Enak tuh dingin-dingin" sahut Rama.


"Mba Boss juga biasanya masak, pasti lebih spesial. Pesmol ikan hiu, steak dinosaurus atau balado telur burung unta.. secara sultan kan harus yang wah menunya .. hahaha" ledek Mang Ujang yang tau kalo para Bossnya sedang gencatan senjata.


"Masakan mah pasti ada, tapi yang nyiapin para asisten rumah tangga, Ibu rumah tangganya lagi mager" kata Rama.


"Makanya jangan macem-macem Mas Boss, gegara kita nongkrong di Rumah Sakit mulu sih, jadinya diembargo deh. Udah berapa lama ga dapat jatah Mas... hahahaha. Pusing ga?" makin Mang Ujang menggoda Rama.


"Ngambek mah tetap ngambek.. tapi urusan itu dia ga pernah nolak Mang.. hehehe" jawab Rama dengan santai.


"Mantappp... apa rahasia Mas Boss? Mamang mah ga berani minta kalo istri lagi ngambek. Adanya nanti kita ga asyik aja .. disuruh buka tutup sendiri.. udah gitu ga hot rasanya" ucap Mang Ujang.


"Istri lagi hamil mau hot kaya gimana sih Mang? nanti malah bahaya loh" ingat Rama.


"Santuy Mas Boss... eh iya, katanya Mba Farida, Mas Boss mau dinas luar kota ya? naik apa dan mau kemana?" tanya Mang Ujang.


"Bawa mobil, tapi Mang Ujang ga usah ikut, saya bawa mobil sendiri" jawab Rama.


"Sama Mba Farida aja jalannya? wah ini mah namanya ngibarin bendera perang sama Mba Boss" kata Mang Ujang berapi-api.


"Ke Rumah Sakit nemenin Mba Anin aja Mamang saya bawa, jadi ga mungkinlah saya jalan sama Farida berduaan" ungkap Rama.


"Terus ajak siapa?" ujar Mang Ujang kepo.


"Ada deh" jawab Rama.


💐


Rama langsung mandi begitu sampai di rumah, rasanya badan sudah bau dirinya sendiri. Meskipun harum minyak wangi masih tercium, tapi kelamaan di mobil dengan AC yang dimatikan praktis membuatnya mandi keringat.


Izza sudah tidur, entah tidur beneran atau bohongan. Rama mematikan dua HP nya dan merebahkan tubuhnya dengan posisi merangkul Izza dari belakang.


"Kok ga pake celana gemes lagi De" sapa Rama.


Tidak ada jawaban dari Izza.


"De.. lusa kita jalan keluar kota ya, temenin kerja, sekitar semingguan. Berdua aja jalannya bawa mobil sendiri, kan bisa gantian bawa. Kalo Kakak meeting, kamu bisa rehat di Hotel, nanti pas mau jalan kemana gitu bisa kamu yang nyupirin" cerita Rama.


"Mau kemana?" tanya Izza masih dengan posisi mata tertutup.


"Cimahi dan Subang" jawab Rama sambil mencium rambutnya Izza.


"Bawa supir aja, ajak Mang Ujang. Cape kan kalo nyetir sendiri, mana harus meeting" saran Izza.


"Kan sekalian kita quality time, udah lama kan kita ga punya banyak waktu berduaan" jawab Rama.


"Sachi mau ada pentas seni, nanti kita ga datang bisa marah dia" ucap Izza.


"Sachi kan punya Papa, kita kasihlah space ke Mas Haidar buat makin dekat sama anaknya. Kalo kita masih seratus persen ke Sachi ya kapan Mas Haidar bisa jadi the real Papa buat Sachi?" ujar Rama.


"Liat besok aja gimana" kata Izza.


Rama makin mengeratkan pelukannya, kembali dia menciumi rambutnya Izza.


"Bau De rambutnya.. ga keramas ya?" tanya Rama.


"Keramaslah tadi sore, ini bau tuh karena abis becanda lari-larian sama Sachi, jadinya keringetan dan bau. Mau mandi malas rasanya" jawab Izza.


"Balik dong beb.. masa tidurnya punggungin Kakak mulu" protes Rama sambil memutar tubuhnya Izza.


Izza dan Rama sudah berhadapan tapi Izza tetap menutup matanya.


"De... Kakak udah on nih" bisik Rama.


"Kemarin kan udah" jawab Izza sambil membuka matanya.


"Kemarin mah kemarin, sekarang mah sekarang. Udah lama kan Kakak yang aktif sendiri, kamunya diam aja. Masih marah?" lanjut Rama.


"Lagi ga mood Kak" jawab Izza.


"Ya ga usah diemutlah.. gaya biasa aja, tapi kamunya ikutan aktif" canda Rama.


"Tapi besok beliin sepeda lipat ya" pinta Izza random.


"Kan kamu punya uang De, tinggal beli" jawab Rama.


"Ga maulah kalo pake tabungan sendiri, lagian pekan ini udah keluar uang banyak" ucap Izza santai.


"Minggu depan aja ya, tunggu gajian" pinta Rama.


"Habis uangnya?" tanya Izza heran.


"Ya .. lagi banyak ketemu orang, jadinya kan bayarin makan" jawab Rama.


"Kan ada dana entertain, bensin juga diganti.. habis buat apa?" selidik Izza.


"Lah dia malah nanya, sebulan kan Kakak cuma pegang lima juta, memang semua ditanggung Kantor, tapi kan ada juga yang ga ditanggung Kantor kalo lagi makan diluar buat kepentingan pribadi. Uang Kakak masuk ke kamu kan De.. lupa?" papar Rama.


"Kakak jadi susah ya setelah nikah?" tanya Izza serius.


"Susah gimana?" tanya Rama balik.


"Ya mau ngeluarin uang buat apa-apa jadi ga ada karena uangnya Izza yang pegang" jawab Izza.


"Saya tuh ada biaya operasional jabatan dari dua tempat. Jumlahnya hampir sebesar gaji. Tapi kan dikeluarkan tidak sekaligus, harus cermat juga dalam mengeluarkan uang perusahaan. Over all .. ga susah sih, biasa aja. Tapi kalo untuk keperluan yang bersifat pribadi kaya mau kasih orang, mau traktir orang dan yang sifatnya hepi-hepi ya udah mulai berkurang. Sejauh ini biasa aja, malah lebih lega juga, jadi kan cewek-cewek ga ada yang tertarik" ungkap Rama.


"Kak.. tetap aja cewek mana yang ga tertarik dengan owner Abrisam Group dan Audah Hotel. Mereka taunya uangnya banyak aja, mana percaya kalo uang jajannya lima juta sebulan. Penampilan oke, mobil keren, jabatan mentereng..." cerocos Izza.


Rama langsung mencium bibirnya Izza agar Izza berhenti bicara.


"Tapi mereka juga tau ... kalo seorang Rama itu bucin banget sama istrinya" ucap Rama didekat bibirnya Izza sehingga gerakan bibirnya pun terasa dibibirnya Izza.


"Kakak tuh ga punya waktu buat scrolling atau mantengin medsos yang kekinian apa ya?" tanya Izza.


"Emang kenapa?" tanya Rama.


"Coba dong cari rayuan yang maut gitu.. dari dulu standar banget rayuannya" kata Izza.


"Oke... Kakak coba ya... De.. tau ga kalo Kakak tanpamu bagaikan lagu Kahitna tanpa heya ya ya heya... ga lengkap gitu" ujar Rama.


"Ya ampun... kenapa grup musik sembilan puluhan dibawa-bawa" kata Izza.


Malam ini lumayan cair situasi keduanya. Rama memang tipe langsung action dan Izza tipe yang gampang kasian kalo mendengar cerita Rama.