
Mba Anindya datang ke Audah Hotel, padahal Rama tidak memberitahukan tentang acara ini ke Mba Anindya. Setelah menyapa Pak Isam dan Mas Haidar, Mba Anindya mendekati Rama yang sedang duduk sendiri untuk menenangkan diri.
"Kenapa lamaran kaya sembunyi-sembunyi sih Ram? kan kamu bisa buat di tempat yang lebih luas dengan jumlah undangan yang lebih banyak. Direncanakan dengan baik dan lebih matang. Rekanan kita pada marah nih ke Mba, katanya kamu ga undang bahkan ga ngasih tau kalo mau lamaran" jelas Mba Anindya.
"Tau dari mana mereka Mba? Kan ini baru direncanakan dua hari yang lalu" tanya Rama heran.
"Entahlah mereka tau dari mana, tapi dari tadi pagi HP Mba mulai rame, katanya kamu mau lamaran. Kaget dong karena ga tau apa-apa. Karena penasaran akhirnya kesini, eh benar aja begitu sampai disini ada acara, malah segala mau nikah siri dulu. Come on Rama.. kamu ga cinta sama Izza" papar Mba Anindya.
"Sekarang Rama cuma mau bareng keluarga dulu aja, biar terasa lebih sakral Mba. Toh surat-surat masih on proses, belum bisa pengajuan ke KUA. Disini bukan hanya sekedar perasaan Mba, tapi kan Mba tau sendiri bagaimana posisi Izza sekarang ini. Dia hidup seorang diri dan sekarang terpaksa tinggal di rumah Papi. Kan ga boleh kalo dia bukan anggota keluarga terus tinggal di rumah, selain khawatir timbul fitnah, kami disana lelaki single, bisa aja menggoda atau tergoda" alasan Rama.
"Kamu merelakan masa depan kamu Ram.. ini pernikahan, bukan permainan bisnis. Mba hanya ga mau kamu menyesal di kemudian hari. Izza kan sudah kamu kasih bodyguard, bisalah dia menjaga dirinya. Apa kelebihan dia sampai kamu begitu ngotot buat menikah? itu bukan solusi Ram.. jangan gila deh" ungkap Mba Anindya.
"Siapapun ga akan bisa mengubah keputusan Rama Mba.. " tegas Rama.
"Terus kamu akan tetap akan adakan akad nikah ulang dihadapan penghulu dan membuat pesta mewah layaknya seorang keturunan Abrisam?" tanya Mba Anindya.
"Ya.. saya akan mengurus semuanya. Kalo masalah pesta mah gampang kalo kami sudah nikah resmi. Mba.. saya berusaha menjaga harga diri Izza, kebayang kan kalo makin banyak orang hadir, maka akan makin banyak kemungkinan orang kenal siapa Izza. Saya ga malu kok dia siapa dan bagaimana, tapi kasus Mba Gita membuat semua akan terasa ganjil bagi yang tau. Jakarta seberapa luasnya sih Mba? tembok pun bisa mendengar karena padatnya. Coba deh Mba bayangkan, menikahi adik dari orang yang mau hancurin keluarga dan perusahaan kita. Lagipula saya ga mau timbul omongan yang macam-macam dari orang luar terhadap Izza. Kalo dia sudah menikah sama saya, saya yang akan menjaga harga dirinya" jelas Rama.
"Iya juga sih .. ya serba salah memang" ujar Mba Anindya.
"Rama cuma minta do'anya aja Mba.. agar semua rencana bisa berjalan mulus tanpa hambatan" ucap Rama lagi.
"Semoga ya Ram... eh tau ga ... karena kamu nih pernikahan saya akan dimajuin jadi bulan depan" adu Mba Anindya.
"Alhamdulillah dong Mba, jadi jelas statusnya. By the way kok bisa dimajukan? katanya Mas Ivan lagi sibuk" tanya Rama.
"Mas Ivannya udah ngiri sama kamu, katanya masa kalah sama yang muda .. hehehe" papar Mba Anindya.
"Bisa aja nih Mas Ivan.. kok ga ikut kesini Mas Ivannya?" tanya Rama.
"Biasalah .. kalo ga sibuk meeting, keluar kota, keluar negeri, main golf sama klien dan deretan kegiatan lainnya" ucap Mba Anindya.
"Kenapa ga diikutin Mba? Mas Ivan tuh perfect loh, bisa-bisa disamber cewe lain nanti" ledek Rama.
"Dia udah mentok banget sama Mba, jadinya ya ga bakalan berpaling deh" sahut Mba Anindya.
"Syukurlah kalo begitu" jawab Rama.
"Ram.. Mba tuh sayang sama kamu, maaf kalo kamu rasa Mba komen yang ga mendukung. Tapi Mba hormati semua keputusan, kamu udah besar kan Ram.. tau mana yang terbaik buat kalian berdua. By the way .. congratz Ram.. jadi fix nih hari ini nikah agama dulu? siap ya... awas kalo sampe diulang karena deg-degan" ledek Mba Anindya.
"Insyaa Allah Mba, saya sedang tunggu Izza yang lagi nelpon keluarganya dulu. Rama juga mau menenangkan diri sejenak" jelas Rama.
"Kamu tuh ya ... bikin Pak Manager pusing tujuh keliling mengupayakan semua ini. Katanya kaya disuruh bangun candi dalam semalam. Ga dikerjakan ya kamu owner plus Big Bossnya. Dikerjakan ya resikonya ga tidur karena ngawasin hal ini. Farida juga tampangnya kusut banget, sekretaris andalan emang totalitas banget sama Bossnya, sampe acara lamaran dia ikut repot" canda Mba Anindya.
"Belajar menghadapi tekanan Mba.. hehehe, saya aja sampe diinfus semalam udah ga kuat" ucap Rama.
"Serius??? udah ga kuat apa nih? ga kuat karena fisik ngedrop atau udah ga kuat tidur cuma melukin guling?" ledek Mba Anindya.
"Eh malah kesitu mikirnya .. beneran drop Mba.. Papi yang panggil dokter" jelas Rama.
"Berarti kamu siap-siap panggil dokter lagi tuh buat infus Pak Manager sama Farida" sahut Mba Anindya.
.
Keluarganya Rama heran sama kedekatan Rama dan Mba Anindya. Dulu sangat terlihat sekali kalo Rama ga suka sama Anindya. Hubungan ipar yang ga harmonis istilahnya.
"Apa karena bisnis mereka jadi lebih akrab?" tanya Tantenya Rama ke Pak Isam.
"Iya .. mereka dari awal ketemu lagi udah sepakat buat melupakan masa lalu. Kebetulan satu visi dan misi dalam membuat bisnis, ya udah akhirnya mereka kerjasama" jelas Pak Isam.
"Damai malah liatnya kaya gitu, beda sama Mas Haidar yang sangat cuek sama Anin" lanjut Omnya Rama.
"Namanya perpisahan kan pasti ada suatu masalah. Mungkin keduanya sama-sama menjaga jarak, kan sama-sama udah punya pasangan baru. Bahkan Anin sudah dilamar sama kekasihnya" ujar Pak Isam.
"Syukurlah kalo begitu. Anin jauh berubah ya, tadi dia udah menyapa duluan, ga jaim dan keliatannya lebih supel" kata adik bungsunya Pak Isam.
.
Izza melihat Rama ngobrol sama Mba Anindya sangat akrab sekali. Seolah mereka ga peduli ada banyak orang disekitarnya. Sejarah siapa Mba Anindya dalam keluarga Rama pun ga membuat keduanya berjarak. Memang mereka tidak terlibat urusan asmara, tapi bagi yang ga paham pasti jadinya salah paham.
"Inilah kamu Kak.. dikelilingi banyak wanita. Masih ga habis pikir kenapa bisa Kakak memilih Izza. Semoga keputusan kita ga salah ya Kak. Semoga pengorbanan ini ga sia-sia..." gumam Izza.
.
Selepas sholat Ashar, akad nikah akan diucapkan oleh Rama. Wajah Rama tampak berbeda sore ini, sampe tiap orang yang melihat merasa pangling. Rama merapihkan dasi dan memakai jasnya kembali.
Rama meminta do'a restu dulu dari keluarganya sebelum mengucapkan ijab kabul. Pertama kali dia meminta do'a restu sama Pak Isam. Ga banyak kata yang terucap dari Rama tapi dia yang banyak mendengarkan saja.
"Rama... Anakku, jangan bandingkan istrimu dengan wanita mana pun, sebagaimana dia juga sedang menahan diri agar tidak membandingkanmu dengan pria lain. Jangan pernah melakukan kekerasan pada pasanganmu, rasa sakit ditubuhnya tidak ada bedanya dengan luka dihatinya. Wanita yang terluka tidak akan ada senyum dibibirnya, tidak ada perhatian dan tidak ada makanan di meja pastinya. Putraku tercinta, jadilah anak lelaki yang pantang menyerah, disiplin, sabar, dan tangguh. Maafkan kalo dulu Papi tidak bisa seperti Papi teman-temanmu yang lain. Tapi Papi berjanji untuk memberikan segala yang terbaik yang bisa Papi persembahkan, sebelum Papi beranjak pergi" ujar Pak Isam menahan tangisnya dalam pelukan Rama.
Setelah dengan Papinya, Rama beranjak kehadapan Mas Haidar. Mas Haidar langsung memeluknya.
"Kamu tau Ram? Memiliki adik sepertimu adalah karunia yang sangat luar biasa buat Mas... Makasih udah menjaga Sachi selama ini, menunaikan semua janjimu sama Nay, sekarang saatnya kamu bangun rumah tanggamu sendiri. Tidak perlu terlalu jadi beban pikirin lagi, Sachi tanggung jawab Mas. Cepat kasih adik buat Sachi ya" ucap Haidar sambil mengusap punggung adik satu-satunya yang dia miliki.
Rama memeluk Sachi, kali ini Sachi belum paham kenapa Rama tampak terharu.
"Sachi... nanti jangan panggil aunty Izza lagi ya.. tapi kamu udah bisa panggil Bunda Izza" pinta Rama.
"Ayah bilang ga boleh panggil itu sebelum Ayah menikah sama aunty Izza. Memangnya Ayah sudah menikah? memangnya menikah itu apa Yah?" tanya Sachi dengan polosnya.
"Ya .. Ayah akan menikah sama aunty Izza. Menjadikan aunty Izza sebagai Mamanya Sachi" ucap Rama.
"Horeee... Sachi punya Mama.. sama kaya teman-teman di sekolah. Makasih ya Ayah sudah bikin aunty Izza jadi mamanya Sachi" ucap Sachi sambil loncat kegirangan.
.
Riasan wajah Rama sedikit ditouch up karena mukanya agak sembab akibat menahan haru. Rama memang ga terlalu nangis berurai air mata seperti Pak Isam dan Mas Haidar, memang sedari dulu Rama itu paling kuat menahan air mata sekali pun dalam suasana sedih, dia biasanya menangis sendiri dalam kamarnya. Mungkin dia udah bosan selalu menangis saat kecil, jadinya sekarang susah buat menangis lagi.
Langkah tegapnya Rama terlihat bak pangeran dari negeri dongeng yang siap menjemput sang putri. Diapit oleh Pak Isam dan kakaknya, Mas Haidar. Senyum ga pernah lepas tersungging dibibirnya. Bahkan senyumnya mampu menghangatkan jiwa orang yang melihatnya.
.
Giliran Izza kembali memasuki ruangan acara dengan riasan jilbab yang ditambah ronce melati. Semua yang ada di ruangan pun ikut mengabadikan wajahnya Izza yang sangat ayu bak putri keraton.
Izza jalan perlahan didampingi oleh Ibu Panti Asuhan dan istrinya Abah Ikin. Dia duduk di kursi pelaminan yang sudah dipersiapkan, tepat berhadapan dengan Rama yang lebih banyak menunduk sekarang ini.
Dimulailah prosesi akad nikah. Semua berjalan khidmat, Rama pun tampak tegas dan yakin saat mengucapkan ijab kabul. Hanya cukup sekali lafadz, Fayza Noor Zaina resmi menjadi istri sah Raffasya Qiyas Ramadhan.
Setelah dinyatakan sah dan Abah Ikin memimpin do'a, Rama diminta untuk menjemput istrinya untuk penyerahan mas kawin.
Rama berjalan kearah Izza yang berkali-kali berusaha mengusap air matanya. Sampai pihak tata rias kembali memberikan sedikit touch up biar riasannya Izza tetap bagus. Rama tersenyum dihadapan Izza yang masih duduk di pelaminan.
"Ya Allah... Ketika ada orang lain tidak menyukai keberadaannya, aku tahu ada Engkau yang Maha Melindungi kami. Ketika ia gundah gulana, aku tahu ada Engkau yang Maha Bijaksana, Ya Allah. Ampunilah semua khilaf dan kesalahannya. Jadikan istri hamba menjadi orang yang memiliki pikiran yang positif. Jadikan ia orang yang pemaaf dan juga ingat untuk memohon pengampunanMu. Berikan ketenangan untuknya, Ya Allah. Semoga hamba bisa memberikan kasih sayang suami kepada istrinya sesuai kehendak-Mu. Kami ingin sekali menjadi hamba yang setia kepada-Mu Ya Allah, bimbing kami untuk selalu di jalan-Mu, menyadari bagaimana keberadaan-Mu sebagai yang Maha Penguasa Ya Allah. Jadikan hidup kami penuh harapan dan kedamaian sehingga Kami pun bisa mensyukuri segala nikmat-Mu ya Allah" ucap Rama yang membuat banjir air mata di Ballroom ini.
Izza apalagi, rasa haru dan sedih bercampur aduk, menjalani fase kehidupan baru tanpa didampingi oleh kedua orang tua dan keluarga serta Mba Gita. Tampak sekali ada pukulan batin yang luar biasa dalam diri Izza.
Melihat Izza masih menangis, Rama berlutut dihadapan Izza, mengambil tissue yang tergeletak dibelakang Izza. Diusapnya air mata istrinya perlahan. Izza merasa ga enak hati dan malu atas perlakuan Rama kepadanya. Baru kali ini Rama bisa se sweet ini padanya. Biasanya bahasanya blak-blakan, ga romantis dan terkesan ga peduli.
"Jangan nangis terus, acara belum selesai, emang kamu mau muka kamu didempulin bedak mulu sama MUA?" kata Rama berbisik ke Izza.
Yang melihat menduga kalo Rama akan mencium istrinya. Tapi rupanya hanya mendekatkan mulutnya ditelinga Izza aja buat membisikkan sesuatu.
"Kamu cukup pintar untuk paham harus bagaimana sekarang, jadi tersenyumlah yang lebar, agar semua orang tau kamu bahagia" bisik Rama.
Izza memandang kearah Rama.
"Dalam diam, saya mengagumi sifatmu, senyummu dan kepribadianmu yang istimewa Kak.. hanya sayangnya walaupun takdir menyatukan kita, tapi tidak dengan hati kita. Menikah atas dasar kebahagiaan orang lain" ucap Izza dalam hati sambil menyambut uluran tangan lelaki dihadapannya yang sudah berstatus sebagai suaminya.
Tangannya hangat sekali, sehangat senyumnya. Konon katanya ketika lelaki menggenggam tangan dengan halus dan memilin jari terlebih dahulu, artinya ia ingin menunjukkan pasangannya ini adalah miliknya tapi tanpa mengekang pasangan.
Walaupun genggaman ini terlihat begitu santai, sebenarnya maknanya lebih dalam. Sentuhan ini terjadi di ruang publik, tidak mungkin menunjukkan kemesraan yang berlebihan. Sebagai gantinya, posisi ini dilakukan untuk menyatakan bahwa "kamu milikku".
"Ya Allah tangan inilah yang akan membimbing hamba menuju syurgaMu" ucap Izza lagi dalam hati sambil sesekali mencuri pandang kearah lelaki yang lebih tinggi lima belas centimeter dari tinggi badannya.
"Ayo Mas Rama ... Mba Izza .. bisa dipercepat ga jalannya, ini bisa-bisa saya makin pusing pengen buru-buru masuk kamar nih sama istri kalo liat adegan baper begini" canda Abah Ikin.
Semua hadirin tertawa, Rama menggandeng tangan Izza dan membantunya turun tangga serta membimbingnya duduk didepan Abah Ikin.
Setelah itu diserahkan mas kawin berupa satu set perhiasan yang ga kalah berkilaunya dari peningset tadi. Rama melingkarkan cincin ke tangan istrinya. Izza mencium tangan Rama untuk pertama kalinya.
"Ini mau dicium ga nih kening istrinya Mas Rama?" goda Abah Ikin.
"Nanti ajalah Bah" sahut Rama dengan canggungnya.
"Kayanya ada yang ga mau diliat sama semua orang dulu. Ya mangga.. mau apapun sudah halal. Mau tunggu sampai nikah resmi pun boleh" tambah Abah Ikin.
Rama memang menyiapkan dua set perhiasan untuk Izza. Yang pertama memang yang harganya ga terlalu mahal walaupun dihias berlian, tujuannya agar bisa dikenakan sehari-hari. Sedangkan untuk mas kawin dia memberikan perhiasan dengan nilai total ratusan juta, tujuannya agar bisa dikenakan jika ada acara yang mengharuskan Izza tampil glamor. Uang hasil menjual mobil antiknya ternyata cukup untuk melunasi hutang mobil ke Pak Isam, membiayai acara hari ini dan membeli perhiasan untuk Izza.
.
"Aih mas Boss pake malu-malu... kalo Mamang mah udah ga pake nunggu lagi deh .. sosor langsung" kata Mang Ujang gemes.
"Ih... Mang Ujang... genit banget deh" ujar Alex yang duduk disebelahnya.
"Sekarang nunggu apa coba? udah sah kan... coba liat aja ntar, kita-kita nih yang harus siap-siap tutup mata sama kemesraan mereka" kata Mang Ujang.
"Lilis teh kalo bukan karena Aa' Rama mah ga mau datang. Tau sendiri rasanya hadir dinikahan adiknya seorang pembunuh, mana keluarga saya lagi yang dibunuh" ucap Ceu Lilis penuh dendam.
"Berisik amat sih Lis.. sana tuh siap-siap nyanyi. Mengganggu kebaperan yang ada aja" ujar Mang Ujang.
Acaranya memang dibuat sesimpel mungkin, jadi kurang dari jam lima sore sudah selesai, baik acara, sungkeman bahkan foto-foto.
Ceu Lilis menyumbangkan suaranya menghibur para tamu yang menikmati santapan yang tersaji serta sesi foto-foto.
Fotografer meminta waktu kedua mempelai untuk berfoto berdua. Izza tampak kikuk pas diarahin sama fotografer. Kalo Rama lebih luwes, mungkin karena dia banyak bergaul dengan berbagai karakter orang jadi bisa membawa dirinya tampil biasa aja. Pose foto makin mendekatkan tubuh keduanya. Namanya cowo dipegang cewe, apalagi ini udah sah diapain juga, mulai timbul nervous didalam diri Rama, sampe keliatan berkali-kali narik nafas panjang.
"Biasa aja Mas Boss, santuy... anggap aja pemanasan" goda Mang Ujang dari bawah panggung.
"Iya nih Pak Rama... tadi ga grogi, sekarang malah jadi grogi. Halal Pak .. halal .. dipegang-pegang juga boleh" ledek fotografer.
"Biasa Mas potograper... Orang kalo belum pernah pacaran terus langsung nikah tuh gini. Baru megang pinggang cewe aja udah gemeteran .. apalagi ntar didalam kamar... melihat keindahan ciptaan Tuhan... bisa-bisa lakinya yang pingsan... Hahaha" timpal Mang Ujang tertawa puas.
Rama cuma geleng-geleng kepala mendengar celetukan Mang Ujang. Izza malah makin kikuk karena ledekannya Mang Ujang.
"Bagus nih Pak ... rapetan sedikit lagi Pak berdirinya, Ibunya juga liat mata Bapak lebih dalam... smile...." instruksi fotografer.
Rama menyerahkan HP-nya dan meminta difotoin sama fotografer pakai HP nya.
.
Selepas Maghrib, rombongan Abah Ikin pamit pulang ke Tasikmalaya. Rupanya Rama sudah mempersiapkan buah tangan untuk rombongan Abah Ikin dan sudah diletakkan didalam mobil.
Rama juga menemui semua "panitia dadakan" dan memberikan amplop sesuai nama yang tertera di amplop serta diminta untuk pulang dan beristirahat.
.
Makan malam hari ini juga masih tampak meriah, Rama memanggil paket barbeque untuk menjamu semuanya malam ini.
"Pak Rama .. makanan sudah tersaji di meja yang disediakan.. mari silahkan kedua mempelai ke meja tersebut" ajak seorang pelayan.
Raffa berjalan menuju meja meninggalkan Izza yang masih ngobrol sama keluarganya Rama. Setelah diberikan kode oleh Tantenya Rama, Izza segera bergegas mendekati Rama.
"Mang Ujang ... tolong ambilin grilled meat stick with peanut sauce, tomato and onion plus crispy salty soy bean" ujar Rama.
Mang Ujang terbengong-bengong karena ga paham maksud permintaan Rama, karena memang logat Rama dalam berbahasa Inggris itu seperti orang bule dan ngomongnya cepat.
"Minta apa sih Mas Boss? emang ga bisa pake bahasa Indonesia aja gitu?" tanya Mang Ujang.
"Sate kambing sama mendoan Mang" jawab Izza langsung.
"Wow... ngerti juga ya becandaan bahasa asingnya" sahut Rama.
"Astaghfirullah... segala panjang kitu.. tinggal bilang sate sama mendoan kok segala krispi salti koy.. koy apa tuh?" gumam Mang Ujang.
"Koyooo?" ledek Rama.
"Bukan.. yang ada bin bin itu tadi.. udah kaya nama aja segala ada bin nya, emang makanan punya orang tua?" ucap Mang Ujang mulai telmi lagi.
"Soybean mang... bukan koy bin.. itu kuping apa tetelan bakso sih? kalo dengar ga pernah bener" ledek Rama.
"Makanya Mas Boss jangan ngomong pake bahasa Inggris dong, kan jadi lola" bela Mang Ujang.
"Saya ngomong pake bahasa Indonesia aja Mang Ujang sering lola.. terus mau pake bahasa apa lagi?" tanya Rama.
"Udah Kak.. begitu aja dibawa serius. Mang Ujang ga makan? tuh udah banyak yang matang" kata Izza.
"Kok malah nanyain Mang Ujang udah makan apa belum.. saya yang suaminya aja ga dilayanin" protes Rama.
"Masih jetlag .. namanya juga nikah dadakan, jadi lupa kalo udah nikah" sahut Izza santai.
Mang Ujang cekikikan mendengar jawaban Izza yang spontan membuat Rama mengernyitkan dahi.