HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 177, Decision



Akhirnya Rama tidak jadi menjual Audah Hotel ke Mas Akmal dan Candra. Hal ini dikarenakan keduanya mendengar kabar tentang kisah polemik antara Rama dan Anindya dibalik rencana penjualan Audah Hotel. Bagi keduanya sangat beresiko dengan adanya permasalahan internal, walaupun secara legalitas memang milik Rama, tapi keduanya sudah mengundurkan diri dari daftar peminat Audah Hotel.


Rama sudah menjelaskan dengan tidak menjelekkan nama Mba Anindya, tapi Candra dan Mas Akmal tetap pada pendiriannya untuk tidak meneruskan pembelian Audah Hotel.


🌷


"Oh Bu Anindya yang ini toh pemilik Audah Hotel juga.." kata Lexa setelah melihat foto Mba Anindya yang ditunjukkan oleh Candra.


"Kenal?" tanya Candra.


"Bagi kaum perempuan Jakarta pasti pernah dengar namanya. Beliau ini penggiat UMKM. Toko second linenya tersebar luas dibeberapa wilayah Jabodetabek, barangnya murah tapi kualitas ga jauh beda sama kualitas import. Acik pernah beli baju harian sama jaketnya, bagus dan harganya murah. Apalagi sasaran mereka kan para mahasiswa yang uangnya terbatas, jadi harga nyaman di kantong deh" jelas Lexa.


"Edit ya... ga semua perempuan Jakarta, tapi ada tambahan yang hobby shopping" sindir Candra.


"Shopping itu kan hiburan Lung.. ditengah tugas sebagai seorang Ibu kan kadang lelah dan butuh reward. Selama ga mengganggu perekonomian keluarga why not kan?" jawab Lexa.


"Perempuan mana mau kalah ya ... ada aja jawabannya" sahut Candra.


"Jadi Keputusannya ga jadi beli Audah Hotel? Ayah udah tau?" tanya Lexa.


"Lebih baik begitu.. udah kita bicarakan bareng kok" jawab Candra.


"Alung habis ketemu sama Bu Anin? mendengar dari sebelah pihak dong" kata Lexa.


"Udah ketemu sama Rama juga kok. Dia udah jelaskan, tapi memang santun ya... ga dibuka semua hanya menegaskan jika secara legalitas punyanya Rama tapi karena ada satu dan lain hal jadinya penjualan ini pun masih melibatkan Ibu Anindya" jelas Candra.


"Basicnya Rama dari keluarga pebisnis dan sudah kaya dari lahir kali ya, jadi tau mana yang bisa diungkapkan dan tidak. Biasanya kan orang dari kalangan atas, attitudenya bagus karena mendapatkan pendidikan yang standar internasional. Sekolah seperti itu kan yang ditekankan awal adalah attitude, bukan sekedar ilmu pengetahuan aja" papar Lexa.


"Maksudnya nyindir atau gimana ya? karena Alung bukan dari kalangan atas jadi beda gitu dalam menjalani bisnis? toh memang pada dasarnya Alung ga punya ilmu dunia bisnis tapi langsung terjun karena ga ada pilihan lain. Kalo boleh milih juga maunya tetap dibidang teknik sipil aja" Candra agak tersinggung.


"Alung sekarang mah gampang baperan.. come on Lung.. ini kan hanya sebuah pendapat, bukan sebuah pernyataan. Tau ga bedanya internet sama Alung?" kata Lexa coba mencairkan suasana.


"Nggak tau" jawab Candra.


"Cepet amat bilang ga tau.. biasanya nyoba jawab dulu" keluh Lexa.


"Lagi males mikir" jawab Candra.


"Internet itu kan 4G, kalo Alung 4 me" kata Lexa.


Candra cuma melihat kearah Lexa tanpa ekspresi. Lexa jadi ga enak hati karena menyinggung perasaannya Candra.


"Cik... Alung CH3COOH sama Acik" ucap Candra.


"Apaan tuh Lung? rumus kimia? ga paham ah.. jaman SMA kan belajar rumus begituan" kata Lexa.


"Lemah amat sih langsung nyerah. Masih ingat ga CH3COOH itu rumus senyawa apa?" tanya Candra.


"Ga tau deh..lupaaaa .. ingetnya C itu karbon, H itu Hidrogen dan O itu Oksigen bukan sih?" ujar Lexa.


"Rumus senyawa cuka itu" ucap Candra.


"Apa hubungannya Acik sama cuka? maksudnya nyindir bau Acik kecut kaya cuka gitu?" oceh Lexa gantian kesel.


"Simak dong.. Alung CH3COOH sama Acik.. artinya Alung cuka sama Acik... hehehe" jelas Candra yang puas bisa membuat Lexa gantian sewot.


"Itu mah suka Lungggg ... bukan cuka... lagian ribet banget gombalan pake senyawa kimia, jadi kan loadingnya lama" sahut Lexa.


🌺


Sepulang kerja, Rama berdiam di balkon depan kamarnya, duduk di ayunan yang baru dibeli dari temannya.


Padahal beberapa hari yang lalu, dia sudah merasa bebannya akan berkurang setelah Audah Hotel akan laku terjual karena peminatnya banyak, tetapi semua peminat tiba-tiba mengundurkan diri setelah tau tentang permasalahan dirinya dengan Mba Anindya.


Izza membawakan secangkir coklat hangat serta kudapan ringan untuk Rama.


"Bete banget keliatannya Kak?" tanya Izza sambil duduk diayunan bersama Rama.


"Masih pusing sama urusan Audah Hotel. Menjual Hotel dengan prospek bisnis yang bagus ternyata ga mudah. Belum urusan di Abrisam Group" jawab Rama.


"Mungkin masih berjodoh sama Audah Hotel kali Kak.. jadi masih dikasih kesempatan ngurusin Audah Hotel dulu" sahut Izza.


"Audah Hotel itu banyak kenangan, baik Kakak maupun Mba Anin. Toh kita menikah pertama juga disana, tapi Kakak gak bisa bekerjasama dengan orang yang susah buat diajak profesional dalam berbisnis. Hanya ingin keluar dari circle mereka aja. Banyak kisah hidup masa lalu yang memilukan bermula dari keluarga besar Mba Anin kan?" kata Rama.


"Kalo ada hama, bukannya lebih baik memutus perkembangan hama tersebut, bukan malah membakar ladangnya Kak.. akan mematikan makhluk bermanfaat lainnya di ladang tersebut" saran Izza.


Rama mengambil cangkir yang berisi coklat panas. Kemudian diseruputnya pelan-pelan.


"Permasalahan Kakak dan Mba Anin ga akan selesai kalo ga duduk bareng. Kakak asyik aja menghindar. Seorang Rama yang Izza kenal itu berani, cermat, pandai dan bijak dalam bersikap.. kenapa sama Mba Anin ga bisa menunjukkan karakter Kakak yang seperti itu?" papar Izza.


"Udah tau kan kalo Mba Anin suka sama Kakak .. males banget kalo ketemu lagi. Oke lah Kakak ga punya perasaan sama Mba Anin, tapi apa pihak dia bisa mengabaikan rasa gitu aja? Setiap lelaki punya prinsip, Kakak ga mau antara bisnis dicampur adukan dengan masalah hati. Kita ga tau seberapa kuat kadar keimanan diri ini, kalo pas setan lewat terus Kakak lagi bersama Mba Anin... terus terjadi sesuatu.. apa ga jadi masalah nantinya? entah dijebak atau terjebak situasi kan kita ga bisa prediksi. So lebih baik menghindar bukan?" tanya Rama.


"Kakak kan mau jual Hotel.. bukan jual barang terlarang yang harus sembunyi-sembunyi. Kakak bisa ajak tim Audah Hotel untuk bertemu dengan pihak Mba Anin. Coba Kakak pikir ... bagaimana perasaan para karyawan Audah Hotel, mereka pasti cemas dengan keadaan seperti ini. Alhamdulillah memang Audah Hotel masih bagus daya inapnya, tapi dengan adanya kisruh dari pucuk pimpinan tertinggi, mereka pasti ketar ketir. Kalo dijual ke orang lain pun pasti masih was-was apa nanti dipekerjakan kembali sama pemilik baru? Itu kenapa Izza bilang Kakak jangan bakar ladangnya .. ada para karyawan yang harus dipikirkan,ga sebatas ego pribadi Kakak yang dikedepankan. Ngalah bukan berarti kalah kan?" ujar Izza.


"Udah ya De.. ga usah ikut campur urusan bisnis, kamu bukan orang Audah Hotel yang bisa mengintervensi segala keputusan Kakak terhadap Audah Hotel. Pulang ke rumah maunya tuh bisa santai.. rileks.. jangan malah dibikin buntu kaya gini. Jadi istri tuh harus bisa dong menenangkan hati suami, bukan malah bikin panas" protes Rama.


"Siapa yang mengintervensi? cuma memberikan masukan.. mau terima ya monggo, ga diterima pun ya rapopo. Tapi Kakak juga harus bisa juga menempatkan diri. Udah tau ga mau urusan pekerjaan sampai kedalam rumah, eh malah bengong mikirin kerjaan.. siapa yang ga sebel liatnya" ucap Izza sambil meninggalkan Rama.


Izza keluar dari kamar, dia menuju lantai bawah untuk kembali bermain bersama Sachi sambil membantu Pak Isam mengecek kembali tamu yang diundang dalam pernikahan Mas Haidar nantinya.


"Heran.. dia gampang emosi banget sekarang. Apa udah isi kali ya? orang-orang terdekat juga udah banyak yang bilang kalo Izza banyak berubah. Besok coba testpack deh.. perasaan juga seminggu ini bawaannya gampang emosi, ga bisa salah dikit, langsung aja pergi menjauh" gumam Rama.


.


"Orang kok masih aja egoisnya tinggi, ga mikirin orang lain suka atau ngga, yang penting dirinya nyaman. Kirain dah banyak berubah, ternyata Rama is Rama... susah menerima masukan orang lain" ucap Izza berbicara sendiri.


"Ngomong sama siapa Za?" tegur Pak Isam.


"Eehh.. mm... ga kok Pi.. lagi ngomong sendiri aja" jawab Izza.


"Rama tumben pulang cepat?" tanya Pak Isam.


"Ruwet sama urusan Audah Hotel yang ga kelar-kelar kayanya Pi" jawab Izza.


Pak Isam diam, dalam otaknya sedang memikirkan jalan terbaik untuk Rama. Pak Isam tidak mau ikut campur karena memang Audah Hotel adalah bisnis pribadinya Rama dan Mba Anindya, bukan bagian dari Abrisam Group.


🌺


Tanpa sengaja, Sachi mendengar percakapan antara Mas Haidar dengan Mba Anindya, mereka tidak sengaja ketemu disalah satu Mall. Saat itu Mas Haidar juga bersama Mba Rani untuk mengajak Sachi bermain.


Saat Mba Rani ke kamar kecil, Mba Anindya menghampiri Mas Haidar dan berbincang. Sachi hanya diam berdiri disebelahnya Mas Haidar.


.


"Papa.. memangnya Papa Haidar itu Papanya Sachi? terus Ayah Rama bukan Papanya Sachi?" tanya Sachi saat sedang makan.


"Siapa yang bilang?" tanya Mas Haidar balik.


"Aunty Anin.. tadi kan pas Aunty Rani ke kamar mandi, Papa ngobrol sama Aunty Anin" jawab Sachi masih sambil makan burger.


"Apa yang Sachi dengar tadi?" ujar Mas Haidar penasaran.


Mas Haidar perlu mengorek informasi apa yang Sachi tangkap untuk menyiapkan jawaban yang masih masuk logikanya Sachi.


"Sachi kan anak haram kamu ... Rama bukan Papanya.. " ucap Sachi menirukan ucapannya Mba Anindya.


Mas Haidar dan Mba Rani saling berpandangan.


"Sachi... habiskan dulu ya makanannya, katanya mau beli bando sama jepitan rambut" kata Mba Rani coba mengalihkan arah pembicaraan Sachi.


"Iya... tapi Sachi juga pernah dengar Aunty Anin bilang Sachi anak haram. Sachi kan anaknya Ayah Rama.. memang haram itu siapa Pah? bukannya kata guru ngaji yang haram itu babi?" tanya Sachi dengan polosnya.


"Sachi itu anak Papa dan Ayah ... oke" jawab Mas Haidar.


"Makan dulu ya... nanti kalo pulang kesorean bisa macet, Ayah sama Mommy pasti nungguin Sachi di rumah" potong Mba Rani.


"Aninnnn... ga bisa banget jaga omongan.." rutuk Mas Haidar dalam hatinya.


🌷


"Mommy... Mommy...." panggil Sachi ketika masuk kedalam rumah.


Izza sedang ngobrol sama Pak Isam, baru saja pihak wedding organizer yang menangani undangan pamit pulang karena sudah selesai perbincangan mengenai undangan.


Sachi mencium tangan Pak Isam kemudian Izza. Sachi langsung memeluk Izza.


"Mommy... ga best kalo Mommy ga ikut ke Mall" keluh Sachi.


Izza tersenyum sambil memangku Sachi.


"Kan ada Papa Haidar dan Aunty Rani.. oh ya .. Ayah baru aja pulang, tapi sekarang lagi mandi" jawab Izza.


"Tumben Si Boss udah pulang" kata Mas Haidar.


"Ga masuk Kantor hari ini, abis ketemu sama peminat Audah Hotel" jawab Izza.


"Jadi keputusannya tetap dilepas Za? ga sayang memangnya? Audah Hotel itu strategis loh" ujar Mba Rani.


"Ya.. sudah dipertimbangkan dari banyak sisi Mba.. semoga ini jalan yang terbaik. Saya sebagai istri ya manut aja" kata Izza.


Sachi memperlihatkan bando dan jepitan rambut yang tadi dibelinya. Warna warni dan berbagai bentuk yang lucu.


"Mommy... Mommy... tadi kan Sachi ketemu sama Aunty Anin.. " adu Sachi.


Wajah Mba Rani dan Mas Haidar mulai tegang.


"Terus Sachi cium tangan ga sama Aunty Anin?" tanya Izza.


"Iya.." jawab Sachi.


"Good girl .. terus Aunty Anin bilang apa sama Sachi?" iseng Izza bertanya.


"Katanya Sachi itu anak haram.. Sachi kan anaknya Ayah Rama ya? bukan Ayah haram" ucap Sachi tanpa basa basi.


Semua mata tertuju pada Sachi dengan wajah polosnya sambil membuka plastik pembungkus jepitan dan bando.


Rama yang sedang turun tangga kaget dengan ucapan Sachi barusan.


"Ayah.... Ayah...." panggil Sachi sambil berlari kearah Rama.


Rama menggendong putri kecilnya, Sachi mencium pipinya Rama. Rama pun membalasnya.


Rama menuju ruang keluarga, ikut berkumpul dengan lainnya.


"Ayah...Ayah... anak haram apa sih?" tanya Sachi penasaran.


"Tidak ada anak haram Sachi .. yang ada ya anak... anak yang diberikan kasih sayang sama semua orang" jawab Rama.


"Kenapa Aunty Anin bilang Sachi ini anak haram?" tanya Sachi lagi.


"Aunty Anin tidak ada saat Sachi dilahirkan dari perut Mama Nay.. yang ada kan Ayah ... jadi Ayah tau kamu anaknya Mama Nay" ujar Rama mencoba terus memberikan penjelasan yang bisa Sachi terima.


"Kenapa Aunty Anin selalu marah kalo ketemu sama Sachi?" tembak Sachi.


"Karena Aunty Anin ga punya anak secantik, sebaik, selucu dan sepintar Sachi" jawab Rama dengan santainya.


Semua masih berwajah tegang mendengar percakapan Sachi yang daya ingin taunya tinggi.


"Kenapa Sachi punya banyak Mama? ada Mama Nay.. ada Mommy Izza dan sebentar lagi ada Mama Rani. Teman Sachi cuma punya satu Mama. Nanti kalo ada yang tanya kenapa Mamanya Sachi banyak .. terus Sachi bilang apa?" tanya Sachi.


"Ga semua anak punya banyak orang tua Sachi.. itu sebuah hadiah luar biasa dari Allah. Artinya Allah sayang sama Sachi, jadi Sachi dikasih orang tua yang banyak. Ayah bilang kan kalo ditanya siapa nama Mamanya Sachi.. jawabnya apa coba?" tanya Rama.


"Mama Nay.. Ainayya Fathiyyaturahma" jawab Sachi.


"Betul banget... pintar deh... kalo ditanya nama Papanya?" pancing Rama.


"Haidar Zhafran Abrisam" jawab Sachi.


"Betul sekali .. jelas kan siapa Mama dan Papanya Sachi?" ucap Rama.


"Iya.." kata Sachi.


Untuk anak kelas satu SD, belum terlalu paham bagaimana kondisi orang tua, dari mana dia berasal pun belum mengerti. Sejak dulu, Rama selalu mengajarkan ke Sachi nama Papa dan Mamanya, dia tidak pernah menyebutkan namanya sendiri sebagai Papanya Sachi. Sachi pun sepertinya belum terlalu mudeng kenapa justru nama Haidar yang menjadi Papanya.


"Jadi Sachi ga perlu mendengarkan apa yang orang lain bilang. Sachi percaya sama Ayah kan?" tanya Rama.


"Iya .." jawab Sachi.


"Sachi mau ke makam Mama ga?" tawar Rama.


"Ga mau... Mama sudah meninggal dan tidur di kuburan. Sachi takut" kata Sachi.


"Ya udah.. kalo takut, Sachi mendo'akan Mama dari rumah aja ya" saran Rama.


"Ayah... Mama sama Mommy cantikan yang mana?" tanya Sachi membuat Rama bingung untuk menjawab.


Pak Isam pura-pura batuk, Mas Haidar menyembunyikan tawanya dibalik telapak tangan. Izza sendiri sedang melihat tajam kearah Rama, menanti apa jawabannya Rama.


"Mama sama Mommy ya?? sama-sama cantik, sama-sama baik, sama-sama pintar, sama-sama penuh kasih sayang. Tapi Ayah pilih Sachi aja deh... perempuan paling cantik yang Ayah pernah liat" jawab Rama mencari aman.


Mba Rani dan Mas Haidar ga bisa menyembunyikan tawanya, Pak Isam mesam mesem. Izza malah manyun. Sachi tertawa bareng Rama.


Rama membuang nafas penuh kelegaan. Sachi diajak Mba Nur untuk mandi dulu.


.


"Aman Bossssss" ledek Mas Haidar.


"Makin gede makin ceriwis aja nih Sachi... sekarang masih bisa dibelokin, entah kalo dia bertanya lagi tentang dirinya disaat dia sudah beranjak remaja" kata Rama.


"Bukan itu yang aman... masalah cantik yang mana Mama dan Mommy" ujar Mas Haidar.


"Ohhh.... ga ada lawan dong.. istriku tercinta, sing ayu dhewe ..." puji Rama sambil memeluk istrinya dari samping.


"Malu lah Kak" ucap Izza sambil melepaskan pelukannya Rama.


"Biarin aja.. biar Mas Haidar dan Papi ngiri" ledek Rama.


"Mas Boss ya .. kalo jauh dari istrinya.. udah kaya macan, ga ada takutnya sama orang. Eh giliran dekat Izza... udah kaya kucing... ndusel ae" timpal Mba Rani.


"Makanya... nikah kok persiapan lama banget, udah kaya persiapan kemerdekaan. Langsung aja kaya saya nih.. lamar terus ijab kabul, kelar kan" sombong Rama.


"Kan ada aturan mainnya kalo anggota kepolisian, ga bisa main hajar bleh kaya orang sipil" jawab Mba Rani.


"Oh ya Ram.. gimana Audah Hotel? ada yang serius mau ambil alih?" tanya Pak Isam.


"Besok mau ketemuan sama Mba Anin dan Pak Alfian. Sudah saatnya duduk bareng cari jalan terbaik. Semua orang maupun perusahaan pada dasarnya sangat tertarik dengan Audah Hotel, tapi kayanya ada pihak yang membuat akhirnya proses negosiasi selalu gagal. Ga mau menuduh siapapun sih... Audah Hotel dibangun dengan niat yang baik, jika diakhiri pun harus dengan cara yang baik-baik" kata Rama dengan bijak.


"Alhamdulillah kalo kamu mau sedikit menurunkan ego ... berkali-kali kan Mas Haidar kasih saran tapi kamunya ga mau. Duduk bersama memang adalah solusi tepat saat ini. Bisnis bukan hanya sekedar untung dan rugi, tapi disana ada pembelajaran hidup yang bisa kamu dapatkan. Apapun hasil kesepakatan kalian, pesan Papi.. ga perlu memutuskan tali silaturahim dengan Anin dan keluarganya. Mereka sedang salah langkah, kita bantu semampu kita aja. Kita pernah jadi satu keluarga, perpisahan Mas Haidar dengan Anin itu karena jodohnya sampai disana, sebelum itu kita kan sudah bersahabat lama dengan keluarga mereka. Disini Papi meminta sikap legowo dari Mba Rani dan Izza untuk mengijinkan anak-anak Papi tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga Anin. Papi yakin kok anak-anak Papi sudah mentok di kalian, jadi ga akan tergoda sama wanita lain termasuk Anin" nasehat Pak Isam.


Semua mendengarkan apa yang Pak Isam nasehatkan.


🌺


Maryam dan Mang Ujang sedang pulang ke Tasikmalaya, Maryam ngidam ingin makan masakan Ibunya. Sedangkan Maman dan Ceu Lilis, mengurus acara Bazaar yang diadakan salah satu Bank swasta besar di Indonesia, acara ulang tahun Bank tersebut, jadinya Mas Haidar membuka stand makanan frozen food. Karena sejak pagi antusiasme dari peserta acara sudah membludak, akhirnya ditambahlah personil serta makanan frozen foodnya.