
Selepas makan malam, Rama mengajak Izza masuk kedalam kamar mereka. Akan ada tamu yang datang.
Tadinya Izza masih ingin menikmati suasana malam sambil memandang deburan ombak di malam hari. Tapi Rama tidak mengijinkan karena dinilai udaranya terlalu dingin malam ini.
"Kenapa kita terima tamunya di kamar Kak? kita bisa ketemu di restoran atau cafe dekat sini. Penting banget ya pembicaraannya sampai ga boleh ada yang dengar?" tanya Izza yang heran kenapa Rama akan menerima tamu di kamar mereka.
"Nanti kamu tau alasannya. Ini untuk lebih santai dan menjaga privasi aja. Kita kan berdua, jadi ga ada masalah dong menerima tamu disini. Lagipula ada sofa untuk tamu duduk" jawab Rama santai.
Izza merapihkan tempat tidur dan beberapa barang yang berantakan.
Lima menit kemudian, kamar Rama diketuk dari arah luar kamar. Rama yang membukakan pintu.
Izza melihat wajah sang tamu, dia tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. Rama tersenyum dan mencium tangannya sang tamu.
"Kenapa Kak Rama mencium tangan dan keliatannya sudah akrab? ga mungkin kan itu saudara. Atau rekan bisnis? ah mana ada rekan bisnis sampai cium tangan begitu, meskipun rekan kerja kita lebih tua, kayanya ga lazim dalam dunia bisnis" kata Izza dalam hatinya.
Rama mengajak sang tamu untuk masuk dan menutup pintu kamar.
"Pak.. ini istri saya.. Izza..." Rama yang berdiri disampingnya Izza menepuk pundaknya Izza.
Izza hanya mengangguk, dia tidak bersalaman dengan sang tamu, tapi senyum mengembang dibibirnya.
"De.. tolong buatin teh hangat untuk kita berdua" pinta Rama.
"Merepotkan saja Mas Rama" jawab sang tamu.
"Hanya air, mau tawarin makan ya ga ada.. hehehe" canda Rama.
Izza memasak air mineral yang ada dalam dispenser, panasnya air dispenser kurang untuk membuat teh hangat yang enak dan harum.
"Silahkan duduk.. maaf jika terpaksa saya pindahkan pertemuan kedalam kamar" ucap Rama basa basi.
Rama dan sang tamu duduk di sofa.
Izza menyeduh teh kemudian menghidangkan keatas meja.
Sang tamu sudah meneteskan air matanya saat memandangi gerak gerik Izza.
Izza belum paham kenapa sang tamu terlihat mellow.
"Duduk sini De..." ucap Rama sambil mengambilkan kursi yang ada di teras.
Posisi duduknya Izza berada dihadapan sang tamu dan Rama.
"Izza ... nama yang bagus sekali.. sepertinya sebagus hatinya" puji sang tamu sambil mengusap air matanya.
Rama masih menunggu keduanya saling berbicara. Dia tampak tenang sekali.
"Terima kasih... maaf Bapak ini siapa ya? saya belum pernah bertemu sepertinya" tanya Izza.
"Nama saya Sandi... apa kabar Za? akhirnya kita bisa bertemu" jawab Pak Sandi dengan suara yang tertahan.
"Alhamdulillah saya baik. Pak Sandi? saya belum pernah berkenalan atau ada saudara yang bernama Pak Sandi. Rekan kerja suami saya atau masih ada hubungan keluarga dengan suami saya?" tanya Izza penasaran karena sedari tadi Pak Sandi melihatnya terus dengan tatapan yang amat dalam.
"Tumben Kak Rama ga cemburu .. biasanya ada yang ngeliatin sedikit aja udah cemburu. Apa karena ini sudah berumur kali ya, jadinya Kak Rama biasa aja" pikir Izza dalam hatinya.
"De... ini tamu spesial malam ini, kita dengarkan kenapa beliau harus bertemu sekarang dengan kita. For your information, beliau inilah yang memberikan kita paket menginap disini. Tujuannya hanya satu, menyampaikan sesuatu ke kamu. Silahkan Pak Sandi.. pelan-pelan saja dalam menjelaskan semuanya" buka Rama.
Pak Sandi meminum teh hangat yang dibuat oleh Izza. Rasanya cukup untuk membasahi tenggorokannya yang rasanya mulai mengering.
"Puluhan tahun yang lalu, ketika usaha sedang menanjak... mulailah Bapak terlupa. Ya lupa bahwa perjuangan selama itu harusnya bisa dinikmati hanya oleh keluarga. Lelaki, uang dan kekuasaan.. menjadi sebuah paket yang tidak terelakkan dengan godaan wanita diluar sana. Tidak puas hanya dengan istri di rumah, saya mencari kepuasan diluar dengan wanita lain. Entah berapa puluh wanita yang saya tiduri, ada yang sekedar teman satu malam, tapi ada pula yang cukup lama menjadi simpanan. Astagfirullah... maaf..." kata Pak Sandi mulai tersendat karena menangis.
Izza diam, masih menebak arah pembicaraan Pak Sandi. Ketika memandangi wajah tua Pak Sandi, Izza seolah sedang melihat seseorang yang agak mirip dengan wajahnya. Hidung dan bibirnya sangat mirip. Bahkan tatapan matanya sedalam tatapannya. Pak Sandi terlihat rapuh, serapuh Izza dulu saat belum bersama Rama.
"Hampir dua tahun kami bersama saat itu, tidak tiap hari berjumpa, hanya beberapa kali dalam sebulan. Saya memberikan sebuah apartemen sebagai tempat dia tinggal. Kami juga sering berlibur ke Bali saat istri dan anak sedang liburan keluar negeri. Saat itu, kami bak pengantin baru yang sedang honeymoon. Sebuah perjalanan cinta terlarang yang kami rancang secara matang. Disanalah kami memadu kasih yang sangat intens... maaf jika Bapak segamblang ini bercerita. Nanti kalian bisa menilai Bapak seperti apa. Nama wanita itu Andhika tapi saya memanggilnya Didie sebagai sapaan sayang" lanjut Pak Sandi
Izza tentu kaget mendengar nama Ibunya disebut, dia mulai paham arah pembicaraan Pak Sandi.
⬅️⬅️
Rama sedang ada meeting disebuah restoran di Hotel bintang lima. Saat sedang menunggu, dia berjumpa dengan Candra yang juga akan meeting di tempat yang sama.
Keduanya berbincang ringan.
"Oh iya Ram.. lupa terus mau bilang sesuatu. Izza itu wajahnya mirip sama kenalan keluarga saya. Apa masih saudara ya?" tanya Candra.
"Namanya siapa Mas?" tanya Rama balik.
"Pak Sandi, salah satu pengusaha juga di Jakarta, dulu bisa dibilang bersaing dengan perusahaan milik mertua. Sejak dipegang anaknya, sempat turun, hingga akhirnya Pak Sandi terpaksa turun gunung. Alhamdulillah dua tahun belakangan ini, kondisi perusahaannya naik lagi" cerita Candra.
"Pak Sandi? tunggu.. kayanya pernah dengar" kata Rama sambil berusaha mengingat nama tersebut.
"Pernah dengar ciptabangun.com?" Candra coba membantu.
"Oh iya.. itu perusahaan yang sejak awal saya dengar sangat concern kearah perumahan yang murah tapi berkualitas. Yang bekerja disana juga anak muda, jadi masih punya semangat yang tinggi serta idealis" kata Rama.
"Itu salah satu anak perusahaan milik Pak Sandi. Saya awal bekerja juga disana, termasuk salah satu start up nya di ciptabangun.com" jawab Candra.
"Wajar kalo Mas Candra awalnya disana. Meskipun kita baru kenal, tapi saya yakin jika awal karier Mas Candra pasti bagus. Mas Candra punya sikap seorang leader, pintar membaca situasi dan punya nilai plus.. ganteng banget" puji Rama.
"Aduh saya malah serem ya kalo ada lelaki bilang saya ini ganteng... kalo perempuan gapapa lah..." canda Candra.
"Saya masih normal kok Mas.. masih punya orientasi ke perempuan. Tapi dalam dunia bisnis seperti kita, penampilan tentunya dilihat Mas. Makanya saya terpaksa pakai serba branded, untuk naikin sedikit level muka saya.. hahahha" kata Rama.
"Bisa aja kamu Ram.. justru kamu itu macho.. wajah kotak khas lelaki perkasa. Kalo anak sekarang bilangnya cowok banget. Anak semuda kamu tapi sudah menduduki dua jabatan penting di perusahaan dan Hotel ternama. Ditambah sudah memutuskan untuk menikah muda. Patut dicontoh dan diacungi jempol" puji Candra.
"Merasa tersanjung nih di puji oleh senior.. hehehe" jawab Rama.
"Merendah aja kamu Ram" sahut Candra.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya Candra dari arah belakang.
Candra menoleh kebelakang.
"Pak Sandi... lama kita tidak berjumpa... maaf ya Pak jadi jarang datang ke rumah" ucap Candra sambil mencium tangannya Pak Sandi kemudian berangkulan.
"Bapak paham kok.. sekarang gemukan kamu Can.. Bapak belum jenguk anak kedua kamu nih, nanti kita jadwalkan ketemu ya" kata Pak Sandi.
"InsyaAllah Pak.. oh ya Pak.. ini Rama.." Candra memperkenalkan Rama ke Pak Sandi.
Rama dan Pak Sandi berjabat tangan.
"Rama.. " Rama memperkenalkan diri.
"Panggil saja Pak Sandi.. ini Pak Rama dari Abrisam Group?" kata Pak Sandi
"Iya Pak.. saya Rama dari Abrisam Group, tapi panggil nama saja. Tidak perlu panggil Pak Rama" jawab Rama.
"Oh begitu... saya panggil Mas saja ya, biar lebih formal sedikit. Saya mewakili anak saya untuk bertemu dengan Mas Rama, anak saya sedang ada emergency ke Rumah Sakit. Mohon maaf jika tidak ada pemberitahuan sebelumnya" ujar Pak Sandy.
Candra pamit karena harus bertemu dengan kliennya.
Pak Sandi beserta staff berbincang dengan Rama beserta staffnya. Rencananya Rama akan memakai jasa konstruksi gedung dari perusahaan Pak Sandi. Sudah tahap pengajuan penawaran. Kali ini para pimpinan saling bertemu untuk menanyakan banyak hal mengenai kerjasama kedepannya.
Meeting diakhiri dengan makan siang bersama. Selama berbincang dengan Pak Sandi, selalu terbesit sosok Izza tapi versi lelaki dimatanya Rama.
Hidung, bibir dan tatapannya seperti Izza. Bahkan jika dipandang lama, wajahnya seiras dengan Izza.
Saat masih berbincang santai, HP Rama tergeletak di meja sehabis menerima telepon. Tanpa sengaja Pak Sandi melihat screensaver HP Rama, ada foto close up Izza. Pak Sandy melihat cukup lama. Rama yang melihat hal tersebut pastinya bingung.
"Maaf Mas Rama.. itu foto kekasihnya?" tanya Pak Sandi.
"Bukan Pak.. dia tidak pernah jadi kekasih saya, karena kami tidak melalui proses pacaran. Ini istri saya.. Izza namanya" jelas Rama.
"Boleh saya lihat lagi fotonya?" pinta Pak Sandi.
Rama mulai waspada, dia khawatir Pak Sandi suka sama Izza
"Maaf jika permintaan saya kurang berkenan. Tapi saya melihat foto istri Mas Rama ini seperti perpaduan wajah seseorang" tambah Pak Sandi.
Rama melihat sebuah pengharapan dari Pak Sandi saat meminta melihat fotonya Izza. Akhirnya Rama membuka folder khusus foto Izza. Hpnya diserahkan ke Pak Sandi.
Semakin melihat foto-fotonya Izza dari berbagai pose, mulai dari tampak wajah saja hingga full body. Raut wajah Pak Sandi berubah.
"Manis istrinya .. namanya siapa tadi?" tanya Pak Sandi.
"Izza..." jawab Rama.
"Izza... Fayza Noor Zaina.." gumam Pak Sandi dengan volume yang nyaris tak terdengar.
"Bapak kenal sama istri saya?" tanya Rama.
"Mungkin hanya kebetulan saja" jawab Pak Sandi buru-buru.
"Tapi tadi menyebut nama lengkap istri saya" lanjut Rama.
"Di dunia ini bisa jutaan orang punya nama yang sama kan?" tanya Pak Sandi.
Rama memilih untuk setuju dengan pernyataan Pak Sandi, tapi jiwa detektifnya seakan meronta-ronta memanggilnya untuk segera menyelidiki apakah ada kaitannya Izza dengan Pak Sandi.
.
Keesokan harinya pun Rama tidak sengaja kembali bertemu sama Pak Sandi. Saat itu mobil Pak Sandi ditabrak oleh mobil pickup yang jalan ugal-ugalan. Spion patah dan lampu bagian samping depan pecah.
Saat Pak Sandi keluar dari mobil, mobil Rama tepat berada dibelakangnya.
Rama yang membantu bernegosiasi dengan pengendara mobil pickup dengan meminta supir tersebut menghubungi atasannya. Akhirnya proses negosiasi tersebut hanya disanggupi senilai satu juta rupiah untuk biaya perbaikan. Uang tersebut langsung ditransfer ke rekening supirnya Pak Sandi.
Pak Sandi meminta supirnya untuk segera ke bengkel langganan. Rama menawarkan tumpangan ke Pak Sandi. Bahkan Rama mengantar sampai ke rumahnya Pak Sandi. Karena Rama ingin segera sampai di rumah, Rama terpaksa menolak ajakan Pak Sandi untuk mampir dulu.
.
Pertemuan ketiga kalinya terjadi di kantornya Pak Sandi. Saat itu ada juga Mas Barry. Mereka meeting bersama disana karena sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak untuk bekerjasama.
Wajah Mas Barry pun bisa dibilang agak mirip sama Izza. Dalam bayangan Rama, jika ketiga orang ini berjajar bersama-sama, akan ada benang merah wajah mereka yang identik.
.
Diam-diam Rama meminta Alex untuk kembali menjadi spionasenya. Seminggu sudah Alex mencoba menggali informasi, tapi hasilnya nihil.
.
Rupanya bukan hanya Rama yang menyelidiki siapa Pak Sandi. Pihak Pak Sandi pun menyelidiki siapa Izza.
Sama seperti Alex, orang suruhan Pak Sandi pun tidak bisa mendapatkan informasi tentang Izza.
.
Pak Sandi yang sedang membeli buku di toko buku, bertemu secara langsung dengan Izza. Hatinya bergetar tak tentu arah.
Beliaulah yang mengikuti Izza saat nonton di bioskop bersama Rama dan Sachi.
Dari sanalah, Pak Sandi bertekad untuk berbicara sama Izza.
Pak Sandi membuat janji untuk bertemu dengan Rama di kantor Abrisam Group. Setelah bertemu, Pak Sandi menceritakan secara singkat tentang masa lalunya. Termasuk membawa beberapa foto. Foto yang Rama kenal sebagai Ibunya Izza.
"Bapak tidak bisa menyimpulkan tentang Izza. Dia istri saya, apapun yang akan Bapak lakukan terhadapnya harus seijin saya. Saya akan mengatur pertemuan Bapak dengan Izza. Saya hanya sebagai penengah, semua keputusan berpulang pada Izza. Saya hanya meminta Bapak bisa legowo terhadap apapun keputusan yang dia ambil. Dia sebatang kara di dunia ini, saya sudah berjanji pada Allah untuk menjaganya" Rama mengajukan persyaratan yang harus Pak Sandi terima.
"Ya.. Bapak ikut semua yang akan Mas Rama rencanakan. Yang penting Bapak bisa berbicara panjang lebar dengan Izza. Benar atau tidaknya, biarkan waktu yang menjawabnya" kata Pak Sandi.
➡️➡️
"Sebulan setelah kami berlibur ke Bali, dia bilang hamil. Saat itu berkecamuk banyak hal, dia kerap kali masih menerima tamu lelaki lain saat bersama Bapak. Bahkan dia pernah menerima tamu di Apartemen tempat Bapak dan dia hidup bersama. Bahkan yang lebih parah, dia ternyata sudah bersuami. Ditambah hubungan kami terendus oleh istri Bapak. Jadilah dia terusir dari Apartemen. Tapi setelah itu, ada berita yang sampai ke telinga Bapak, kalo dia sudah menjadi simpanan orang kaya lagi" lanjut Pak Sandi.
"Ibu saya tidak serendah itu" bela Izza dengan penuh amarah.
Rama buru-buru menenangkan Izza, meminta Izza untuk duduk kembali. Rama memilih berdiri disampingnya Izza sambil mengusap kepalanya Izza dengan lembut.
"Inilah kenyataannya ... Izza... rasa bingung, penasaran dan segalanya sudah menghantui Bapak berpuluh-puluh tahun. Jika bayi yang dikandung Didie saat itu adalah kamu, besar kemungkinan kamu adalah anak Bapak" tegas Pak Sandi.
"Ibu saya bukan wanita murahan. Beliau bukan wanita sekotor itu. Beliau adalah wanita super yang berjuang untuk kami anak-anaknya. Hentikan ucapan bohong Bapak. Ibu saya tidak mengenal kehidupan seperti yang Bapak gambarkan. Ibu hanya Ibu rumah tangga yang tidak begitu saja pasrah dengan keadaan. Apa yang Bapak mau dari saya?" lanjut Izza kembali emosi.
Rama kembali menenangkan Izza.
"Za... mari kita berdua test DNA. Istri saya sudah tiada. Anak-anak pun sudah diceritakan tentang hal ini sejak lama. Bahkan mereka mendukung untuk bisa bertemu dengan anak yang ada didalam kandungan Didie. Ini Za... foto-foto kebersamaan kami yang berhasil Bapak selamatkan dan disimpan selama ini" kata Pak Sandi sambil meletakkan beberapa foto di meja.
Izza melihatnya, diambilnya satu foto dimana Ibunya berpose di ranjang dengan Pak Sandi dengan bagian dada tertutup selimut. Kemudian diambilnya foto yang lain. Ada yang tengah memakai bikini dan berciuman mesra didalam kolam.
Rasanya jijik melihat foto-foto syur seperti itu, terlebih lagi wanita didalam foto tersebut adalah Ibu kandungnya.
Dirobeknya foto-foto tersebut dengan sisa kekuatan yang ada kemudian dilempar kearah Pak Sandi.
Izza langsung memeluk Rama dengan erat dan menangis didalam dekapan Rama.
"Za.... Bapak mau minta maaf..." ucap Pak Sandi.
Tangis Izza malah tambah meledak.
"Pergi... pergi....." pekik Izza mengusir.
Rama memberikan kode ke Pak Sandi untuk keluar dari kamarnya dulu. Rama meminta waktu agar Izza bisa tenang dulu.
Pak Sandi berjalan kearah pintu, kemudian membalikkan tubuhnya.
"Za... Bapak hanya ingin menebus kesalahan masa lalu..." lirih Pak Sandi berkata penuh penyesalan.
"Pergiiiii.... pergi" teriak Izza semakin marah.