
Saat Rama dan Ceu Lilis berbincang di sawah dulu (saat di Tasikmalaya), Rama berusaha untuk memancing Ceu Lilis untuk bereaksi dengan ceritanya tentang kisah Mba Nay tanpa menyebut nama, tapi rupanya Ceu Lilis masih menutup rapat masa lalunya.
Entah kenapa saat itu Rama sudah punya keyakinan kalo Ceu Lilis lah yang dia cari selama ini. Makanya dia langsung membantu keluarga Ceu Lilis tanpa pikir panjang. Penyelidikan lebih mendalam pun makin intensif kearah Ceu Lilis. Alex dan anak buahnya berhasil mengumpulkan sedikit demi sedikit bukti kalo Ceu Lilis adalah adik kandungnya Mba Nay.
Sekarang semua sudah terbuka, Ceu Lilis ga sanggup bersandiwara lagi karena saat didepan makam Kakaknya dia langsung spontan bereaksi kesedihan yang mendalam. Rama memang sengaja seperti menjebak Ceu Lilis kedalam situasi yang mengharuskan untuk membuka identitasnya.
Rama sudah pernah cerita ke Ibu angkatnya Ceu Lilis, tapi memang minta disembunyikan dulu sampe identitas Ceu Lilis benar adanya, Rama pun ingin Ceu Lilis sendiri yang mengakui jati diri yang sebenarnya. Ibu angkatnya Ceu Lilis setuju sama idenya Rama karena itu adalah haknya Ceu Lilis untuk membuka atau menutup identitas aslinya. Lagipula masih ada kekhawatiran kalo Ceu Lilis masih dicari orang-orang jahat yang membakar rumahnya.
Hari ini ada sebuah rasa ketenangan dihati sanubari Rama. Betapa do'a-do'anya sejak lima tahun yang lalu, Allah kabulkan satu persatu dengan cara yang baik dan luar biasa. Dia mampu menjalankan wasiat dari Mba Nay untuk menemukan adiknya. Selama ini merasa berat banget memikul wasiat tersebut, sempet frustasi dan pernah keceplosan curhat ke Anindya, makanya Anindya paham bagaimana gigihnya Rama mencari adik kandung Mba Nay. Tapi sekarang Rama memutuskan untuk tidak memberitahukan ke Anindya siapa adiknya Mba Nay. Bagi Rama, dia masih menghormati Anindya sebagai Kakaknya, khawatir masih ada rasa kesal mengingat masa lalu antara Anindya dan Mba Nay yang ga baik. Lagipula keselamatan Ceu Lilis juga tetap harus dijaga. Rama belum tau apakah yang dulu membakar rumah keluarga Ceu Lilis masih mencari atau tidak keberadaan Ceu Lilis.
.
Setelah mengantar Ceu Lilis sampai depan rumahnya, Rama ga pake lama dan langsung balik ke Jakarta, hanya cukup istirahat satu jam saja di rumah Ibunya Ceu Lilis, kemudian dia pamit.
Dalam perjalanan pulang, Rama yang mengemudikan mobil, karena tadi sudah sempat tidur pas menuju Tasikmalaya. Mang Ujang dan supir kantor tengah tertidur pulas.
Rama juga sedang menerima telepon dari Pamannya. Dia ga banyak bicara, hanya mendengarkan aja. Rama memang sudah janjian sama Pamannya untuk ikut dalam proses penangkapan tersangka atas proses laporan dugaan korupsi di Abrisam Group, ditambah pula akan melaporkan tentang kebakaran yang terjadi di rumah keluarga Mba Nay (meminta untuk diusut kembali). Tinggal menunggu surat penangkapan maka polisi akan datang ke rumah yang diduga sebagai dalangnya.
🏵️
"Mba ... jangan marah ya.. Izza mau ngomong sesuatu" kata Izza saat sudah melihat Mba Gita santai sambil nonton TV.
"Mau ngomong apa sih? langsung aja ga usah basa-basi" jawab Mba Gita.
"Boleh ga kalo Izza nyari keluarga di Kudus. Memang sih ga tau alamat jelasnya. Tapi Izza masih ingat dikit-dikit nama saudara dan daerah tempat tinggalnya" ijin Izza.
"Apa???? buat apa nyari mereka kesana? saat kamu terdampar di Panti Asuhan ga ada tuh yang peduli" ucap Mba Gita.
"Karena mereka ga tau Mba. Kita lost contact" bela Izza.
"Masa ga curiga kalo saudaranya udah lama ga hubungin, harusnya inisiatif dong nyari ke Jakarta. Lagipula Kudus begitu luasnya, mau cari kemana coba? kamu kan ga pernah kesana sendirian" omel Mba Gita.
"Namanya juga usaha Mba .. merekalah yang Izza punya. Ga ada lagi keluarga selain mereka" jawab Izza yang memang takut kalo dibentak.
"Kamu ga anggap Mba ini keluarga? apa yang kamu harapkan dari mereka? memang bisa menanggung hidup kamu?" tanya Mba Gita tegas.
"Bukan begitu maksudnya Mba. Izza menganggap Mba sudah seperti Kakak kandung Izza sendiri. Tapi selain Mba, Izza kan juga punya keluarga lain. Bukan mengharapkan bantuan dari mereka, tapi ga ada salahnya mengeratkan tali silaturahim yang terputus. Dari hasil kerja selama ini, Izza ada sedikit tabungan. Cukup kalo buat ongkos dan hidup disana selama seminggu" jelas Izza.
"Za .. kamu kan harus kuliah, mau bolos seminggu? kamu kira bayar uang kuliah pakai daun? itu semua pakai uang" lanjut Mba Gita.
"Ya Mba .. Izza tau kalo selama ini banyak merepotkan Mba. Izza janji akan bayar semuanya Mba" ucap Izza dengan suara tercekat.
"Za ... dulu kamu anak yang penurut, kenapa sekarang jadi keras kepala seperti ini. Apa ini pengaruh dari Mas Rama?" tanya Mba Gita.
"Ga ada hubungannya dengan Kak Rama. Beliau saya hormati layaknya atasan dengan bawahan. Beliau juga ga pernah memberikan intervensi kehidup Izza. Niat Izza ke Kudus hanya mau cari keluarga" ngotot Izza.
"Kamu mau melawan Mba?" mulai Mba Gita gemas sama Izza yang selalu punya jawaban.
Mba Gita sampai memegang pipinya Izza dengan kencang. Izza ketakutan.
"Ngga Mba .. Izza ga ngelawan. Izza mau minta maaf kalo hal ini membuat Mba ga suka dengarnya. Tapi ga ada niat Izza untuk melawan Mba. Mana mungkin Izza melawan orang yang sudah baik dan memberikan segalanya buat Izza" ungkap Izza dengan tulus.
"Sekali ngga tetap ngga. Jangan sekali-kali kamu berani melawan. Kalo kamu berani ke Kudus, ga usah balik kesini lagi. Dan kamu Mba cap sebagai anak yang ga tau balas budi" bentak Mba Gita sambil membanting wajah Izza ke bantalan sofa kemudian Mba Gita berjalan masuk kedalam kamar.
Izza masih duduk terdiam, air mata yang ditahannya sedari tadi ga mampu dia bendung lagi.
"Ya Allah ... apa yang harus Hamba lakukan. Bak buah simalakama, ingin mencari keluarga tapi konsekuensinya dibenci sama Mba Gita. Menuruti Mba Gita artinya siap ga bisa menyambung tali persaudaraan dengan keluarga orang tua" kata Izza dalam hatinya.
🍐
"Ibu mah terserah Lilis aja, mau ke Jakarta mangga, mau disini juga boleh. Tapi apa yang Aa' Rama bilang itu benar. Kamu harus ke Jakarta buat bantu dia. Liat pengorbanannya nyari kamu demi janji sama Kakak kamu. Alhamdulillah kondisi Ibu makin membaik. Udah bisa jalan agak jauhan walaupun pakai tongkat. Sekarang kan juga sudah rutin terapi. Nanti juga ada sepupu Ibu yang akan tinggal disini, bisa bantu Ibu jualan bubur" ungkap Ibu angkatnya Ceu Lilis.
"Mana tega Lilis Bu" jawab Ceu Lilis.
"Nanti kalo urusan di Jakarta sudah selesai, balik kesini lagi Lis. Disini rumah kamu. Ibu ini orang tua kamu, adik-adik juga keluarga kamu" ucap Ibu angkatnya Ceu Lilis.
Ibu dan anak ini berpelukan dalam keharuan mendalam.
"Yakinlah Lis ... Aa' Rama itu orang baik. Dia ga akan bikin kamu susah" kata Ibu angkatnya Ceu Lilis.
🏵️
Selepas sholat Jum'at, Rama dan Mang Ujang berjalan kaki menuju Head Office Abrisam Group, jaraknya hanya sekitar dua ratus meter saja kesebuah Mesjid.
Hampir aja Rama ditabrak oleh sebuah sepeda motor yang sengaja naik ke trotoar, untunglah bodyguardnya Rama cepat tanggap, jadinya tabrakan bisa dihindarkan.
Rama hanya terjatuh karena ga seimbang karena kakinya sempat terkena roda bagian depan. Mang Ujang membantu Rama bangun. Bodyguardnya Rama sudah diberi kode untuk menjauh dari Rama.
"Mas Boss gapapa?" tanya Mang Ujang panik.
"Cuma kotor aja" jawab Rama santai.
"Itu tuh Mas Boss yang udah bantu bikin motor jadi ga nabrak. Pas banget dia dibelakang, jadi lebih keliatan" kata Mang Ujang.
Rama menganggukkan kepalanya kearah bodyguard agar Mang Ujang ga curiga.
"Mas Boss... saya mau ucapin makasih dulu ya, sama mau dikasih berapa orangnya?" tanya Mang Ujang berinisiatif.
"Ucapin makasih aja, ga selalu orang menolong itu mengharapkan imbalan" jawab Rama.
"Oke deh kalo gitu" kata Mang Ujang.
Mang Ujang menghampiri lelaki tinggi besar untuk berterima kasih atas bantuannya menyelamatkan Mas Boss kesayangannya.
.
Rama duduk di sofa depan Receptionist, tangannya terasa perih, ternyata ada sedikit luka baret. Mang Ujang diminta membeli cairan antiseptik dan kasa penutup luka kecil (plester yang ada bantalan antiseptik).
Lima menit kemudian, Rama sudah membersihkan lukanya sendiri.
"Makanya Mas Boss.. punya ayang dong, kan kalo kaya gini ada yang bersihin" kata Mang Ujang.
"Itu mah namanya punya bukan punya ayang tapi punya perawat pribadi" jawab Rama.
"Saya udah gede Mang ... apa yang dikhawatirkan?" tanya Rama.
"Mas Boss mah susah dibilanginnya. Makanya coba deh sekali aja pacaran, nanti jadinya bisa ngerasain enaknya punya ayang" jawab Mang Ujang.
"Sekalian aja punya istri, tanggung kalo sekedar ayang mah ada batasannya. Kalo istri kan mau diapain aja boleh" sahut Rama asal.
"Nikmatin masa muda Mas Boss, ngapain harus buru-buru nikah, cari dulu yang pas. Pasangan kan buat seumur hidup" nasehat Mang Ujang.
"Udah jangan bawel, ambilin air mineral dingin sana" perintah Rama.
Mang Ujang jalan menuju showcase yang berisi air mineral. Bersamaan dengan itu, Mba Gita baru balik dari makan siang.
"Kenapa Mas?" tanya Mba Gita rada panik.
"Jatuh... luka baret aja kok" jawab Rama.
"Udah dipakein antiseptik?" tanya Mba Gita lagi.
"Udah" jawab Rama.
Mang Ujang memberikan air mineral ke Rama.
"Mang Ujang gimana sih jaga Boss nya, sampe jatuh kaya gini, kan bajunya jadi kotor" protes Mba Gita.
"Mba Gita.. Mas Boss kan bukan anak kecil yang saya tuntun sana sini. Ya emang lagi apes aja kali. Atau tuh pengendara motor mabok kali, udah mah kita jalan di trotoar kok masih aja ditabrak" jawab Mang Ujang.
"Udah .. udah ... hal sepele aja digede-gedein. Mang ... makan siang yuk" ajak Rama.
"Makan siang dimana kita Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Makan tongseng dekat kantor aja, enak kan rasanya" ucap Rama.
"Mas Boss... udah mah terik panas gini, ditambah makan tongseng, apa ga makin panas nih badan kita" sahut Mang Ujang.
"Mau ga? kalo ga mau ya saya jalan sendiri" kata Rama sambil berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Ikut Mas Boss ... kan kalo makan siang bareng pasti saya dibayarin. Lumayan menghemat uang makan .. hehehe" ujar Mang Ujang.
.
Di tenda pedagang tongseng pinggir jalan, Rama dan Mang Ujang sudah memesan dan duduk di bangku plastik. Makanan pinggir jalan memang banyak digemari orang. Selain harganya murah, rasanya juga tak kalah enak dibanding membeli di kafe atau restoran. Hanya penyajiannya yang terkadang kurang menyenangkan.
Rama dengan lahapnya makan, bahkan sampai menghabiskan dua porsi tongseng kambing.
"Mang .. nanti saya pulang sendiri ya. Mang Ujang pulang naik taksi aja" kata Rama.
"Mau kemana Mas Boss? bukannya ada janji sama Sachi buat pulang cepat?" tanya Mang Ujang.
"Udah telpon ke Sachi tadi, saya ga bisa pulang hari ini" jawab Rama.
"Mas Boss mau kemana lagi? gapapa ditemenin" ucap Mang Ujang.
"Ga usah, saya ada keperluan pribadi" jawab Rama.
"Jadi curiga nih, jangan-jangan Mas Boss lagi backstreet ya ... karena belum dapat restu orang tua jadinya ketemu diam-diam" tanya Mang Ujang iseng.
"Orang tua mana yang kalo anak gadisnya saya datangin terus nolak?" tanya balik Rama.
"Sombong amat deh .. iya iya.. tau deh krejiric mah" jawab Mang Ujang.
"Crazy rich Mang.. gimana mau jadi crazy rich kalo lidah aja belum betul ngucapinnya" ledek Rama.
"Serius ini Mas Boss.. mau kemana? tau sendiri kalo Papi Boss itu orangnya kepo, mau tau aja tentang Mas Boss. Mau jawab apa coba kalo ditanya" sahut Mang Ujang.
"Pake segala nanya ... biasanya juga tuh mulut ngelebihin emak-emak yang gosip di arisan" jawab Rama santai.
"Segala emak-emak dibawa-bawa... atuh beda lah. Saya mah ga rumpi kaya mereka, tapi menyampaikan sesuatu seusai faktanya" ujar Mang Ujang.
"Nanti juga tau sendiri, pokoknya saya mau ketemu orang penting hari ini" lanjut Rama.
"Mas Boss mau ketemu Presiden? Menteri? Duta Besar? atau apa nih?" tanya Mang Ujang makin penasaran.
"Ketemu siapa ajalah, yang penting jangan ketemu Yang Maha Kuasa aja" jawab Rama.
"Lah kalo ketemu Yang Maha Kuasa mah judulnya metong alias meninggoy atau innalilahi wa innailaihi rojiun" kata Mang Ujang.
"Jangan bawel aja, cepet abisin makannya" pinta Rama.
"Bawel bawel gini juga limitid edison" jawab Mang Ujang.
"Limited edition Mangggg... atuh kalo Edison mah yang jaga parkir gedung sebelah" kata Rama agak gemes.
"Beda dikit doang aja protes, kaya emak-emak nawar cabe di warung" balik Mang Ujang.
🏵️
Jam empat sore, Rama sudah bergerak ke kantor Polres untuk menemui polisi yang ada disana. Pamannya sudah memperkenalkan Rama sebelumnya. Kebetulan hari ini, Pamannya ga bisa ikut karena ada acara di Polda. Setelah sedikit berbincang dengan pihak kepolisian dan merapikan semua berkas pengaduan, Rama didampingi pengacara dan bodyguard bersiap untuk ikut dalam proses penangkapan.
Pihak yang berwajib memutuskan akan bergerak setelah sholat Maghrib.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah tersangka, Rama terus melantunkan Sholawat Nabi, baginya dengan pelaporan ini bak makan buah simalakama. Ga dilaporkan ini adalah sebuah kejahatan, dilaporkan dia amat menyayangkan kenapa orang ini pelakunya.
Polisi terlebih dahulu berkoordinasi dengan meminta ijin ke RT dan RW setempat, mengutarakan tujuan kedatangan, kemudian baru menuju TKP.
Pintu diketuk, keluar wanita muda, agak kaget melihat para petugas dengan seragam lengkap ada dihadapannya.
Rama masih menunggu di mobil. Pandangannya ga lepas dari rumah tersebut.
"Boss ... hati-hati juga dengan jaringannya. Saya kira Boss harus menambah bodyguard lagi. Mau ga mau ya Mang Ujang harus tau kalo Boss diikuti bodyguard. Saya khawatir akan keselamatan Boss. Jadinya nanti di mobil akan ada bodyguard" ingat Josh.
"Minta Alex datang ke kantor polisi ya, tunggu saya disana"