HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 89, Admire



Rama mengisi waktu selama dalam perjalanan dengan bekerja, lewat HP dan laptop secara bersamaan. Sepertinya sedang rapat koordinasi dengan pihak Audah Hotel.


Izza sendiri sedang menikmati film action yang sudah lewat masa tayangnya di bioskop. Sebenarnya hatinya merasa ga tenang dan pikirannya jauh melayang kemana-mana. Satu-satunya memory yang dia ingat, hanya rumah keluarganya di Kudus terletak dekat sama Menara Kudus yang terkenal itu.


Terakhir pulang kampung saat dia berusia delapan tahun, sekitar dua belas tahun tidak pernah menginjakkan kaki lagi disana, pastinya banyak yang sudah berubah. Selain itu, apa pihak keluarga bisa mengenali bahkan menerima kehadirannya terus menjadi beban dalam pikirannya.


.


Setelah sampai di Semarang, Rama mencari musholla dulu, bergantian sholat sama Izza karena harus ada yang jaga koper dan tas.


Sudah jam dua siang, Rama kembali merasa lapar dan memutuskan mengajak Izza makan dulu baru jalan menuju Kudus.


"Makan mangut Mbok Jar .. pokoke mantap deh rasanya, keluar dari stasiun ada warung sederhana gitu, lama ga kesana, ada kali sekitar tujuh tahunan. Terakhir kesini jaman masih SMA" kata Rama menjelaskan.


Izza ga pake banyak kata, dia mengikuti arah tujuannya Rama. Karena nasi goreng yang tadi diberikan di kereta porsinya ga banyak, jadi masih terasa lapar juga mengingat dia ga sarapan. Dia memang ga memesan makanan lain, padahal Rama sudah menawarkan, tapi dia malu kalo Rama yang bayar.


Mangut (ikan yang diasap) pedas disini masih menjadi favorit pecinta kuliner. Ukuran mangutnya jumbo, cita rasa pedas mantap dan dipadukan rempah-rempah yang kuat. Selain itu, ada juga telur dadar dan sayur lodeh sebagai penyemarak menu.


💐


Sachi hari ini ga sekolah karena masih agak demam. Dia masih tertidur di kamarnya. Sachi belum tau kalo Rama pergi ke Kudus.


Pak Isam dan Haidar sedang makan siang bareng karena Haidar hari ini hanya muter-muter toko frozen food aja, tidak ada meeting dengan siapapun.


"Semalam Rama bilang ke Papi mau ke Kudus dampingin Izza buat nyari keluarganya, dia mau sekalian nembung katanya" buka Pak Isam.


"Apa Pi? nembung? dia mau ngelamar Izza? memang mereka pacaran?" Haidar kaget mendengar omongan Pak Isam.


"Rama merasa Sachi sangat butuh sosoknya Izza. Satu-satunya cara agar Izza terikat di rumah ini dan bisa ngurus Sachi ya dengan menikahi Izza" jawab Pak Isam.


"Kapan dia ngomong kaya gitu ke Papi?" tanya Haidar.


"Semalam, kamu belum pulang, padahal dia mau kita ngobrol bertiga. Mungkin dia perlu pandangan dari kita yang sudah berpengalaman mengarungi biduk rumah tangga" lanjut Pak Isam.


"Pi .. udahlah cukup dia mengorbankan segalanya buat Sachi. Sekarang gantian Haidar yang mikirin tentang Sachi. Mimpi menjadi arsitek gagal, kerja keras saat kuliah dan ga mendapatkan fasilitas seperti anak Papi lainnya demi menukar kondisi sama Sachi juga sudah lebih dari cukup. Dari dalam kandungan sampai sekarang, semboyan hidupnya hanya demi Sachi. Dia berhak bahagia Pi .. sudah sangat sempurna dia membahagiakan Sachi, Papi dan Haidar. Jangan pula dia mengorbankan masa depannya sendiri dan masa depan Izza. Mau dibawa kemana pernikahan kalo hanya bermodal untuk membahagiakan Sachi?" kata Haidar agak sedih.


Dalam tradisi Jawa, sebagai tanda bahwa pasangan sudah mantap untuk melanjutkan kejenjang pernikahan, sebagai langkah awalan dilakukan nembung atau panembungan (ndodok lawang). Istilah panembungan atau nembung sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang artinya meminta dengan menggunakan kata-kata. Mengapa ndodok lawang penting? Ndodok lawang merupakan wujud keseriusan pihak laki-laki untuk memperistri pihak perempuan. Selain itu, mengetahui apakah pihak perempuan menerima atau menolak niat serius dari pihak laki-laki. Nembung dilakukan oleh keluarga pihak laki-laki dengan cara bertamu ke rumah keluarga perempuan. Pihak laki-laki menanyakan mengenai status perempuan, sudah diikat orang atau belum, sedang terlibat hubungan dengan orang lain atau tidak. Jika diketahui perempuan belum atau tidak sedang diikat orang, maka selanjutnya orang tua pihak laki-laki mengutarakan maksudnya untuk berbesanan kepada orang tua perempuan.


Tapi konsep Rama nembung awalan ini, untuk memperkenalkan dirinya dulu sebagai pasangannya Izza. Jika pihak keluarga Izza setuju maka pihak keluarga Rama akan datang secara resmi.


"Haidar harus ngomong sama dia Pi, dia harus dikasih pencerahan. Haidar ga setuju kalo alasan menikah hanya untuk membahagiakan Sachi" ucap Haidar.


"Kita kasih waktu dulu ya. Sekarang Rama kan mau bantu Izza ketemu sama keluarganya dulu. Dia cukup dewasa untuk tau mana yang baik dan tidak, jadi kita kasih dia kebebasan buat merasakan apakah tepat keputusannya untuk menikahi Izza" saran Pak Isam.


"Gimana sama perasaan Izza Pi? pernah ga dia mikir hal itu? seenaknya aja melamar, mentang-mentang ga ada keluarga terus bisa sembarangan? Izza itu perempuan baik Pi, hatinya tulus dan ga neko-neko. Apa dia pantas buat Rama yang gampang panasan? Udah cukup derita hidupnya selama ini, jangan malah bertambah dengan hadirnya Rama dalam hidupnya" ucap Haidar.


"Kok kamu kaya marah dan ga senang kalo Rama mau menikahi Izza? Apa jangan-jangan, someone yang kamu mau kenalin ke Papi itu Izza?" tembak Pak Isam.


"Bukanlah Pi .. Izza itu mah cocoknya jadi adik, bukan jadi istri" ucap Haidar.


"Terus kita ga jadi janjian ketemu sama someone kamu di Tasikmalaya, kan Sachi masih sakit" tanya Pak Isam.


"Batal Pi .. dia juga ada tugas dadakan dari kantornya" jawab Haidar.


🍒


Mang Ujang sudah berada di Tasikmalaya, berangkat tadi pagi sekitar jam tujuh. Dia membawa mobil yang biasa dipakai para asisten rumah tangga Pak Isam belanja keperluan dapur dan keperluan rumah tangga lainnya.


Pak Isam dan Haidar yang memberikan ijin ke Mang Ujang, bahkan memberikan uang bensin karena niat Mang Ujang ingin nembung sama keluarga calon pacarnya.


Dia datang ke rumah wanita pujaan hatinya yang baru, membuka omongan untuk berhubungan lebih serius lagi. Jika memang diijinkan maka akan mengajak orang tuanya untuk bicara lebih lanjut. Ga mau pake pacaran yang lama kalo ujung-ujungnya selalu gagal.


Sepulang dari ketemu sama sang pujaan dan orangtuanya, Mang Ujang balik ke rumahnya untuk melaporkan hasil obrolan ringan tadi ke orangtuanya.


Di jalan ketemu sama Lilis yang mau pulang ke rumah. Mang Ujang nawarin memberikan tebengan.


"Lama ga ketemu kita Lis" basa basi Mang Ujang.


"Iya Mang .. lagi ga ada job nyanyi di Jakarta" kata Ceu Lilis.


"Oh gitu .. atuh terima aja tawaran Mas Boss buat kerja di kantornya" kata Mang Ujang.


"Atuh Lilis masih ikut kejar paket dulu biar punya ijazah SMA" jawab Ceu Lilis.


"Lis .. maaf sebelumnya, mau tanya tentang gosip yang beredar. Bener ibunya mau nikah lagi?" tanya Mang Ujang penasaran.


"Iya Mang" jawab Ceu Lilis.


"Kok kamu ga seneng?" tanya Mang Ujang.


"Sebenarnya punya modus itu Mang. Bilangnya mau nikahin Ibu, tapi masih genit ke Lilis. Udah bilang juga ke Ibu, tapi Ibu ga percaya. Kaya ga wajar gitu deh Mang .. susah buat dijelasinnya juga" kata Ceu Lilis.


"Terus kamu maunya gimana?" tanya Mang Ujang.


"Kalo sampe mereka nikah mah, mending Lilis cari kontrakan atau ke Jakarta aja. Takut ah tinggal serumah sama lelaki kaya gitu" jawab Ceu Lilis.


"Udah bilang ke Mas Boss belum masalah ini?" kata Mang Ujang.


"Belum Mang .. kayanya Aa' lagi sibuk, chat Lilis aja seminggu ini cuma dibaca doang kaya koran. Telepon juga ga pernah diangkat. Kenapa ya Mang? Aa' Rama lagi sakit?" tanya Ceu Lilis.


"Emang seminggu ini berubah, kalo yang Mang perhatikan sejak sering pergi sama Mba Izza, dia jadi banyak uring-uringan" adu Mang Ujang.


"Mereka pacaran Mang?" ujar Ceu Lilis.


"Ga tau deh, tapi kalo dari kaca mata Mamang, Mas Boss itu suka tapi Mba Izzanya ngga. Jadi Mas Boss mungkin aja kecewa karena cinta ditolak" ucap Mang Ujang.


"Emang sih Aa' itu baik, tapi sifatnya rada unik, susah ditebaknya. Bisa sangat perhatian tapi tiba-tiba menghilang, bisa sangat ngemong tapi tiba-tiba jadi malas ngomong. Cewe juga mikir puluhan kali kalo mau pacaran sama cowok kaya gitu. Oke secara harta ga usah diragukan lagi, bakal bahagia deh dengan segala kelimpahan duniawi yang ada. Tapi ngapain harta banyak tapi makan hati, tekanan batin dan bikin stress setiap hari?" papar Ceu Lilis.


"Mamang aja kadang kesel sama Mas Boss, tapi baru dia yang bikin hidup Mamang jadi banyak berubah" ujar Mang Ujang.


"Izza emang biang kerok kali Mang. Asal Mamang tau aja ya, saya nih masih kesal sama dia. Ga ada minta maafnya secara langsung sama saya" kata Ceu Lilis rada emosi.


"Emang ada apa segala minta maaf?" tanya Mang Ujang.


"Mang Ujang emang ga tau kalo Kakaknya Izza yang bakar rumah orangtuanya Lilis?" kata Ceu Lilis penuh emosi.


"Aa' baru cerita semalam, Kakaknya Izza di penjara dan baru aja meninggal. Tapi jenazahnya entah siapa yang ambil. Sakit Mang .. orang yang Lilis anggap teman adalah adik dari pembunuh keluarga Lilis" ungkap Ceu Lilis sedih.


"Beneran Lis?" tanya Mang Ujang ga percaya.


"Mana mungkin Aa' Rama bohong. Tapi emang udah tabiat keluarganya kali Mang. Kakaknya pembunuh, Kakak angkatnya korupsi .. makanya Mang.. larang deh Mas Boss deket sama Izza, nanti malah Mas Boss kena aura negatifnya Izza" jawab Ceu Lilis.


"Bisa jadi tuh Lis.. kan Mas Boss kaya orang kesetanan, bawaanya marah-marah mulu belakangan ini" kata Mang Ujang.


🏵️


"Kita ke Terminal sekarang Kak?" tanya Izza.


"Nyewa taksi ajalah ke Kudus. Naik bis kan panas, lagian rame orang" jawab Rama.


"Maksudnya mau sepi gitu?" ucap Izza rada takut.


"Jangan parno deh, pikirannya udah travelling kemana-mana. Saya cuma dari segi praktis aja, secara kamu ga tau alamat. Mending kumpulin tenaga buat nyari rumah saudara kamu" jelas Rama.


"Kan ga nyuruh ikut juga, kalo cape ya kita pisah aja disini" putus Izza.


Izza mengambil tasnya dan langsung menenteng menuju tempat nunggu angkutan umum. Rama cuma ikutin dibelakangnya.


"Mba .. mau kemana Mba .. naik taksi saja, saya bisa antar" sapa salah satu supir taksi.


"Terima kasih Pak .. saya tidak naik taksi" jawab Izza.


"Dari Jakarta ya Mba?" tanya supir taksi lagi.


Wajah Izza memang tampak polos dan seperti orang keder, jadinya mudah dibaca oleh orang sekitarnya kalo dia sedang mencari angkutan yang bisa membawanya ke sebuah tempat.


"Ehem.. ehem.. " Rama terbatuk-batuk dibelakangnya supir taksi.


Izza dan supir taksi melihat kearah Rama.


"Aduh sayang .. udah dibilang kalo Kakak mau beli minuman dulu malah jalan duluan.. udah dapat driver taksi onlinenya?" tanya Rama sambil memeluk pundak Izza.


Izza melihat kearah Rama. Rama memberikan kode agar Izza bisa diajak kerjasama.


"Mas ini driver taksi online?" tanya Rama.


"Bukan Mas .. taksi gelap. Mari Mas saya antar .. mau kemana Mas?" jawab supir taksi.


"Ga kemana-mana.. kan saya mah udah ga bisa kemana-mana sejak terborgol cinta sama dia" gombal Rama sambil memberikan senyum ke Izza.


Izza memaksakan untuk tersenyum agar supir taksi bisa segera meninggalkan mereka.


"Bisa aja nih Mas becandanya" ucap supir taksi.


"Loh kok Mas yang baper. Harusnya dia dong yang melayang karena saya gombalin" sahut Rama sambil melihat Izza lagi.


"Oh maaf, Mba ini ternyata istrinyanya Mas .. sekali lagi maaf ya Mas. Tidak ada niat ganggu hanya menawarkan jasa apa mau pakai taksi atau tidak" jelas supir taksi.


.


Rama sudah memesan taksi online dari Semarang ke Kudus, rasanya malas kalo harus berjubel di bis.


Di mobil pun Rama sibuk dengan pekerjaannya, beberapa kali tampak menelpon untuk koordinasi.


"Kalo sibuk harusnya ga usah ikut kesini" protes Izza.


"Kan saya ga ngerepotin kamu" jawab Rama.


"Ga ada kepentingan juga kan harus ikut kesini. Kakak harus ingat ada banyak orang yang bergantung hidup di Abrisam Group" ucap Izza.


"Ini kasian sama saya atau ngusir ya?" tembak Rama.


"Kasian aja liatnya, kurang istirahat pastinya, liat tuh mata udah kaya mata panda" ujar Izza sedikit perhatian.


"Gimana ga mata panda .. kan selalu inginnya pandangin kamu aja" iseng Rama berkata sambil masih memperhatikan laptopnya.


Supir taksi online yang sepertinya sepantaran dirinya menahan ketawa mendengar celotehan Rama.


"Kenapa Mas .. ketawa aja, ga usah ditahan-tahan" kata Rama sambil tersenyum.


"Mas nya lucu" jawab supir taksi.


"Ya kalo sama wanita kita kan selalu salah, ya mending melawak sekalian Mas biar ga ada yang ngambek" ucap Rama makin iseng mainin mata ke Izza.


Izza jelas ga suka melihat Rama seaneh itu.


"Ini istrinya ya Mas? mirip mukanya" tanya supir taksi.


"Emang kembar segala mirip" sahut Rama.


"Ini kata Mbah saya kalo mirip itu berjodoh Mas" kata supir taksi.


"Begitu ya" jawab Rama.


"Tapi kalo saya lebih setuju nasehat Mbah .. jodoh iku rumongso nyaman yen bebarengan,


tanda bahwa dia berjodoh, ketika bersama dengannya selalu merasa nyaman, tentram dan damai. Dari sisi dalam berkomunikasi maupun segala hal ya Mas" papar supir taksi.


Rama mendengarkan omongan sang supir taksi. Sesekali dipandangi wajah Izza dari samping.


"Dia tipe orang yang tenang-tenang menghanyutkan. Dibalik tenangnya dirimu, ada jiwa yang sangat kuat. Apa kamu memang tipe perempuan tenang yang sebenarnya berjiwa tegar? terlihat sangat bisa mengontrol emosi walaupun pasti hatinya saat ini sedang berantakan. Kamu bisa menampilkan citra yang menenangkan bagi orang lain disekitar seperti Sachi yang sangat bahagia bersamamu" puji Rama.


Perempuan seperti Izza, biasanya tidak gegabah dalam mengambil keputusan, makanya dia seperti menarik ulur lamarannya Rama. Izza paham betul dengan segala resiko dan tanggung jawab yang ada. Sehingga tidak gegabah dalam membuat pilihan atau sebuah keputusan hidup yang baru. Dia sangat menyadari bahwa setiap pilihan yang dibuat akan menghadirkan konsekuensi. Lain hal jika dilakukan secara terpaksa atau dipaksa.


Izza, mendapatkan kabar kematian Kakaknya, ia tidak sedih secara berlarut-larut, bukan berarti ga bersedih, justru ia punya kemampuan untuk menata emosi dan perasaannya dengan baik. Saat merasa sedih, ia akan mengizinkan diri untuk bersedih tapi bukan berarti terus terpuruk didalamnya.


"Please Rama .. jangan biarkan kekagumanmu menjadi boomerang atas semua rencana kamu" umpat Rama dengan dirinya sendiri.