HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 180, Rush



Abah Ikin sedang ada di Jakarta, rencananya malam ini akan menginap di rumahnya Pak Isam. Maryam dan Izza sibuk menyiapkan masakan, para asisten rumah tangga ada yang membantu di dapur dan ada juga yang membersihkan kamar-kamar untuk tamu.


Mas Haidar sekeluarga juga akan menginap di rumah Pak Isam. Rencananya nanti Alex dan Mba Nur akan datang setelah menjemput Sachi pulang sekolah.


Rama dan Mang Ujang pun akan cepat balik ke rumah, mereka akan mengupayakan sebelum Maghrib sudah ada di rumah.


.


Jam empat sore, Rama dan Mang Ujang sudah siap untuk pulang. Mang Ujang sudah menunggu didalam mobil, Rama pun bersiap turun pakai lift.


"Pak Rama... Pak Rama... ada masalah di Audah Hotel, baru saja Managernya menelpon kesini" panggil Farida.


"Masalah apa?" tanya Rama.


"Bu Anin dan Bu Dania bertengkar hebat sampai jambak-jambakan" adu Farida.


"Didepan para tamu?" tanya Rama.


"Iya.. di lobby" jawab Farida.


"Sekarang mereka masih disana?" tanya Rama lagi.


"Masih Pak.. sedang dilerai oleh pegawai yang ada disana" kata Farida.


Rama segera turun dari lift sambil menelepon Manager yang ada di Audah Hotel, meminta untuk memasukkan Mba Anindya dan Dania kedalam ruangan dan menunggunya datang.


"Mang...Mang... " panggil Rama sambil mengetuk kaca mobil.


Kaca mobil diturunkan.


"Ada apa Mas Boss? hayuk kemon kita pulang" ajak Mang Ujang.


"Turun Mang" perintah Rama.


"Turun??? jangan bilang kita lembur ya" ingat Mang Ujang.


"Mamang pulang naik ojol atau bawa motor Kantor aja, saya mau ke Audah Hotel" kata Rama.


Mang Ujang turun dari mobil, Rama langsung naik dan tancap gas.


"Mas Boss gimana sih, dari pagi udah diwanti-wanti sama Mba Izza biar ga lembur, eh malah lembur, gimana kalo Mba Izza ngomel nih" kata Mang Ujang ngomong sendiri.


Mang Ujang langsung menuju Pos security untuk membuka aplikasi ojol. Dia rencananya naik ojol agar tidak perlu mengembalikan motor inventaris kantor.


🏵️


Sachi sudah datang, dia langsung minta disuapin makan sama Izza. Dia juga ingin Izza yang menemaninya tidur siang.


Setelah Sachi tidur, Izza langsung kembali ke dapur untuk menyiapkan hidangan menjamu para tamu.


.


"Loh Mang Ujang kok pulang sendiri.. Kak Rama mana?" tanya Izza yang melihat Mang Ujang masuk ke dapur.


"Ke Audah Hotel Mba" jawab Mang Ujang.


"Kan udah dibilang buat pulang cepat.. kok malah ke Audah Hotel?" tanya Izza lagi.


"Ga tau Mba.. keliatannya buru-buru, cuma bilang mau ke Audah Hotel doang. Ga ada pesan apapun lagi" jawab Mang Ujang.


Izza menelepon Rama tapi HP nya Rama tidak aktif.


"Ada apa sih di Audah Hotel sampai ga diangkat" oceh Izza.


Para asisten rumah tangga, Maryam dan Mang Ujang hanya bisa melihat Izza yang ngomel-ngomel ke HP.


"Mang... Kak Rama ingat kan hari ini Abah Ikin mau datang?" tanya Izza.


"Inget.. tadi aja yang nyuruh bersiap pulang juga Mas Boss. Mamang juga udah siap di mobil, eh malah disuruh turun dan pulang naik ojol" papar Mang Ujang.


Izza menelepon Mba Farida untuk menanyakan tentang Rama. Mba Farida menceritakan telepon dari Manager on duty nya Audah Hotel.


"Gara-gara para perempuan bertengkar terus ikut turun tangan? ada apa sih sampe begini aja Kak Rama yang selesaikan.. memangnya disana ga ada orang yang bisa?" tanya Izza.


"Saya kurang paham Bu.. mungkin bisa ditanyakan langsung ke Pak Rama" jawab Mba Farida hati-hati.


"Saya juga tau Mba.. tapi HP nya ga aktif, makanya saya telepon Mba Farida" semprot Izza.


Mba Farida diam, dia tau kalo Izza sedang dalam kondisi kesal.


Setelah sambungan telepon ditutup.


"Pak Rama juga ada-ada aja, udah tau istrinya lagi gampang sensi, eh malah cari perkara baru. Segala orang berantem diurusin. Ini kali kedua kena oceh Bu Izza, yang pertama itu seminggu yang lalu. Gara-garanya Pak Rama ga makan titipan bekal dari Bu Izza. Saya juga sih yang lupa, karena hari itu sibuk banget. Jadi tuh bekal ga keliatan dan saya malah order makan siang buat Pak Rama. Besokannya pas anterin bekal makan siang, Bu Izza liat bekal kemarin masih utuh.. ngomel deh. Padahal dulu Bu Izza itu sabar banget orangnya, sama Pak Rama yang rada ngeselin aja bisa sabar. Apa pengaruh dari mentalnya yang mulai down karena belum kunjung hamil ya? Soalnya Pak Rama tiap mau konsultasi ke dokter pasti minta jadwal dikosongkan. Berat banget kali ya nikah sama pria sekaya Pak Rama.. kirain mah bakal fine fine aja, makanya saya paling males punya hubungan asmara sama orang yang gap ekonominya terlalu jauh.. pasti muncul masalah begini. Keliatannya Pak Rama juga mulai stress, udah mah pekerjaan di Abrisam Group lagi hectic, ditambah urusan Audah Hotel ehh ... sekarang ditambah istrinya.. sabar-sabar deh buat Pak Rama" kata Mba Farida ngomong sendiri.


💠


"Kalian berdua ga malu jambak-jambakan didepan para tamu? kesannya kaya istri ketemu pelakor" omel Rama.


Dania dan Mba Anindya duduk dihadapannya Rama. Tatapan Rama tajam kearah mereka berdua.


"Apa masalahnya?" tanya Rama.


Keduanya masih ga ada yang mau jawab.


"Apa masalahnya?????" Rama menggebrak meja hingga semua terlonjak kaget.


"Dia duluan yang mulai Ram" sahut Mba Anindya.


"Loh Mba Anin kok malah nyalahin Dania.. kan Mba Anin duluan yang nyerang" ngotot Dania.


Rama membanting gelas yang ada dihadapannya.


Kedua wanita ini diam. Para staf yang menunggu diluar ruangan cuma bisa menerka apa yang terjadi didalam hingga ada suara gebrakan meja dan gelas pecah.


"Saya tau apa yang kalian ributkan.. saya kan? berapa kali saya bilang... saya ini suami orang dan tidak ada niat untuk berpoligami. Kalian masih bisa cari lelaki lain yang lebih segalanya dari saya. Saya terima tetap menduduki jabatan Vice President karena ingin mengawal masa transisi ini, ingat ya.. sesuai draft kontrak kerja saya.. disini saya hanya selama enam bulan dan setelahnya Audah Hotel harus mencari Vice President baru. Saya pertahankan saham saya walaupun turun jadi tiga puluh persen, bukan karena tetap ingin bersama kalian.. tapi saya ingat sejarah, ini adalah bisnis pribadi pertama yang saya miliki. Jangan kebaikan saya ke kalian disalah artikan. Saya bahagia dengan rumah tangga yang saya bina bersama Izza. Dia wanita yang mampu melengkapi segala kekurangan saya, dia wanita yang paling mengerti tanpa perlu saya dikte. Udah mentok deh cinta saya cuma buat dia" tegas Rama.


"Saya udah bilang ke Dania .. ga usahlah tebar pesona ke kamu. Be a profesional aja, Mba kan tau kamu udah cinta mati sama Izza, ga akan tergoyahkan. Dikasih nasehat malah Danianya marah" kata Mba Anindya.


"Gimana ga marah kalo negornya kasar dan didepan orang banyak. Kesannya kan kaya pelakor banget" ucap Dania.


"STOPPP... kalian berdua mulai besok ga usah kerja disini lagi. Sebagai Vice President, saya bisa memberhentikan kalian kapanpun dan tanpa alasan.. paham?" ucap Rama.


"Tapi Ram.. kita bisa bincang baik-baik" tawar Mba Anindya.


"Sebulan saya kasih waktu untuk kalian berdua.. mana hasilnya? Mba Anindya .. sebagai Manager Umum.. mana ada perubahan yang dilakukan di Audah Hotel. Semua masih copy paste aturan yang saya buat. Seluruh inventaris aja belum selesai dikerjakan update annya. Dania juga sebagai marketing manager...mana gebrakannya? daya inap tamu sekarang malah menurun, sebulan terakhir malah tidak ada yang menyewa ballroom. Kalian kerja atau main-main? jangan mentang-mentang punya saham disini terus kalian petantang petenteng.. saya aja yang punya saham mau kok kerja keras. Kalo kalian yang ga mau saya berhentikan, maka saya sendiri yang akan berhenti alias resign" ketus Rama.


"Jangan dong Ram.. Audah Hotel masih butuh kamu dibandingkan Dania" ujar Mba Anindya.


"Intinya saya ga mau melihat kalian berdua lagi di Audah Hotel mulai besok" perintah Rama sambil meninggalkan ruangan.


🏵️


Sholat Maghrib di rumah Pak Isam diimami oleh Ambu, sedangkan yang lelaki ke Mesjid depan komplek.


Karena baru akan makan malam setelah pulang sholat isya, jadinya para perempuan yang ada di rumah melanjutkan dengan tilawah berjama'ah.


Ambu juga memberikan sedikit kultum sambil menunggu adzan isya.


Semua yang ada disana manggut-manggut sambil serius mendengarkan.


🌺


Rama terjebak macet, Jum'at malam Sabtu memang menjadi puncak kemacetan menjelang weekend. Rama mendengarkan musik lewat radio di mobilnya. Sudah lama dia tidak menyetir sendirian dikala macet seperti ini.


HP nya diaktifkan, banyak misscall dari Izza, bahkan chat pun banyak. Rama hanya mengirimkan foto kondisi jalanan yang macet kemudian menulis macet, kemudian dikirim ke Izza.


.


Pintu kaca mobil Rama diketuk, Rama melihat kearah kaca yang diketuk. Tampak wanita hamil bersama wanita yang menggendong anak.


Rama menurunkan kaca pintunya.


"Mas.. Mas... tolong Mas..." pinta Lexa.


"Mba Lexa ya?" tanya Rama.


"Oh Mas Rama... " jawab Lexa.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rama.


"Boleh numpang ga Mas?" ujar Lexa.


"Masuk aja.. dibelakang aja semua.. saya gapapa kok didepan sendiri" kata Rama sambil memencet tombol kunci untuk pintu bagian belakang.


Lexa, pengasuhnya Boy dan Boy duduk di bangku belakang.


"Mobilnya kemana Mba?" tanya Rama.


"Mogok, itu dibelakang mobil ini, akan ditepikan dulu, baru nanti telepon bengkel" jawab Lexa sambil menunjuk ke mobil belakang.


"Oh.. sekarang mau pulang kearah mana? nanti saya anter" tawar Rama.


"Jadi merepotkan ya Mas.. maaf ya saya tadinya hanya mau numpang ngadem, nanti kalo jalan agak lenggang, saya pesan taksi aja. Soalnya tadi Boy ngamuk karena kegerahan didalam mobil yang mogok" jawab Lexa.


"Ga usah sungkan.. saya antar, sudah jam delapan malam, kondisi hamil, bawa anak pula.. mana tega saya Mba" kata Rama.


"Saya di Pondok Indah, apa ga merepotkan?" tanya Lexa lagi.


"Ga Mba.. oh ya ..dibelakang kursi saya ada kulkas mini, ambil aja Mba minuman yang ada kalo merasa haus" ucap Rama.


"Makasih.. maaf ya .. terpaksa ngetuk mobil, soalnya Boy ngantuk dan kegerahan, jadinya rewel. Bingung juga karena macet begini" jelas Lexa lagi.


"AC nya saya turunkan suhunya ya biar dingin. Kayanya ada juga kipas tangan elektrik milik istri saya ketinggalan.. pakai aja Mba" ujar Rama.


"Udah cukup, mobil ini udah dingin kok.. sekali lagi.. maaf ya merepotkan" kata Lexa ga enak hati.


"Santai aja Mba.. lagi ga sama Mas Candra?" tanya Rama basa basi.


"Kerja.. saya habis dari Mall.. pulangnya sudah lewat Maghrib, jadinya kejebak macet. Ada birthday party teman preschoolnya Boy, orangtuanya masih teman keluarga kami juga, ga enak kalo ga hadir" jawab Lexa.


"Oh ya Mba.. bilang dulu sama Mas Candra, biar ga khawatir. Pastinya supirnya Mba kan lapor ke Mas Candra kalo mobil mogok" pinta Rama.


"Iya..." jawab Lexa.


Lexa menelepon Candra, menceritakan kejadian yang baru menimpanya.


"Mas Rama... ini suami saya mau bicara" kata Lexa sambil menyerahkan HP ke Rama.


Rama meletakkan HPnya Lexa ditempat HP yang ada disamping kemudi. Kemudian di loud speaker.


"Jadi merepotkan ya Ram.. terima kasih ya sudah berbaik hati ke bumil yang satu ini" ujar Candra.


"Ya.. selagi masih bisa bantu.. lagipula kasian kan sama bumil kalo dalam situasi seperti tadi. Pokoknya insyaa Allah aman Mas.. saya antar sampe pintu gerbang rumah" kata Rama.


🏵️


Makan malam bersama di kediaman Pak Isam minus Rama yang masih berjuang ditengah kemacetan jalan Ibukota.


"Maaf ya Abah Ikin dan semuanya, Kak Rama belum bisa bergabung makan bareng" ucap Izza ga enak hati.


"Namanya juga orang bekerja ya, kita tidak bisa mengharuskan hadir diacara santai ini, mungkin Nak Rama ada kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Abah sangat maklum. Malah rombongan kami yang merepotkan orang-orang di rumah ini ya?" jawab Abah Ikin.


"Ala kadarnya aja Abah.. mohon maaf kalo dalam melayani dan penerimaan kami masih banyak kekurangan" pinta Pak Isam.


"Alhamdulillah ini melebihi jamuan Hotel berbintang.. makanannya enak, rumah dan orang-orangnya hangat .. nyaman sekali disini" kata Abah Ikin lagi.


🌺


"Mas Rama ga ada supir?" tanya Lexa.


"Ada, karena ada mertuanya datang ke rumah dan saya masih ada kerjaan, jadinya bawa sendiri" jawab Rama.


"Tapi pulangnya ga malam ya Mas.. kalo suami saya itu pulang diatas jam sembilan dari Kantor" adu Lexa.


"Ini juga karena ada tamu di rumah jadinya mau pulang cepat, biasanya jam satu atau selambatnya jam dua dini hari baru sampai rumah" jawab Rama.


"Astaghfirullahal'adzim... saya kira suami saya yang workaholic, ternyata ada yang lebih lagi" ucap Lexa kaget sambil geleng-geleng kepala.


Rama tersenyum.


"Kami para suami seperti ini deh Mba.. demi keluarga.. pergi pagi pulang dini hari" canda Rama.


"Istri ga protes?" tanya Lexa.


"So far so good aja.. ya paling cuma bilang untuk jaga kesehatan dan istirahat kalo udah terlalu lelah. Izza tipe yang ga banyak complain Mba.. Alhamdulillah pokoknya saya mah ga ribet jadinya. Kan ada yang suaminya cari nafkah, eh sama istrinya diteleponin terus buat pulang" kata Rama.


"Nyindir nih?" canda Lexa.


"Oh ada yang merasa tersindir.. sorry.. tapi kebanyakan pengalaman teman seperti itu Mba" jawab Rama.


"Kami ini para istri sebenarnya bukan ribet Mas Rama... tapi wajar dong kami juga minta bagian waktu dari suami tercinta. Hidup bukan sekedar kerja kan?" kata Lexa.


"Let me tell you Mba Lexa... Istri adalah rumah tempat suaminya pulang. Saat lelah dengan segala kesibukan pekerjaan, kami ini para suami sangat berharap bahwa dengan pulang ke rumah akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Kebayang ga kalo rumah sebagai tujuan utama malah membuat semakin pusing dan menambah masalah. Memberikan kenyamanan didalam rumah juga bisa sebagai bentuk apresiasi atas pengorbanan suami yang telah berjuang untuk keluarga loh Mba" kata Rama.


"Pembelaan atau nyindir kami para kaum istri nih?" lanjut Lexa.


"Ga ada Mba .. saya ga membela ataupun menyindir.. hanya meluahkan isi otak aja sih" ucap Rama.


"Menurut Mas Rama.. merasa ga sih suami itu kesannya sering disepelekan oleh istri karena istri merasa cape sendiri ngurus rumah dan anak? jadi pengorbanannya ga kita nilai" tanya Lexa.


"Sebenarnya bukan disepelekan juga sih Mba.. hanya kadang suami istri itu beda persepsi. Mensana in corporesano.. suami pikirannya kesana eh istri malah kesono.. hahaha... becanda loh Mba .. Ini saya hanya membuka apa yang suami-suami lakukan untuk keluarga ya, bukan hanya pengalaman saya pribadi ya.. kita bicara pada umumnya aja. Ada suami yang bekerja berangkat pagi pulang petang, ada yang sama sekali tidak mengambil jatah libur agar memiliki uang yang lebih untuk keluarganya. Bahkan ada suami yang rela merantau jauh untuk bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak istrinya. Mencari nafkah memang menjadi kewajiban seorang suami. Cukup kasih senyuman setiap pulang kerja untuk mengobati lelah, terus buatin minuman atau memberikan pijatan kalo istri ga cape ya. Para suami di tempat kerja juga sering ada permasalahan, ya berhadapan dengan klien yang komplain, rekan kerja yang sikut-sikutan dan setumpuk masalah lain yang mesti dibenahinya. Kalo begitu sampai di rumah harus kembali menerima komplain dan keluhan dari istri dan anak. Apa ga berat tekanan yang harus dihadapi suami? Makanya Mba.. saya minta ke istri, untuk menjadi teman yang mendengarkan keluh kesah dan memberikan suami support atas masalahnya" papar Rama.


"Pemikiran Mas Rama mirip sama suami saya, tapi bedanya dalam penyampaian aja. Mas Rama lebih tegas, kalo suami saya lebih santai" puji Lexa.


"Mas Candra levelnya sudah jauh diatas saya Mba, jadi bisa rileks menyampaikan pendapatnya, saya harus banyak belajar dari beliau dalam memperlakukan keluarganya" kata Rama.


"Suami saya memang orang paling sabar yang pernah saya kenal. Marahnya pun disampaikan dengan cara yang baik" lanjut Lexa.


"Maaf ya Mba.. mungkin karakter orang yang berasal dari kalangan atas seperti kita ini memang sepertinya kaku dan mau selalu dimengerti. Bukan saya merendahkan Mas Candra dan istri saya yang dari kalangan yang jauh sama kita, tapi orang-orang seperti mereka punya tekanan yang lebih dahsyat jadinya selalu berpikir bagaimana keluar dari tekanan itu dan tetap bisa berpikiran positif. Jadinya karakter mereka matang karena keadaan. Ketika mereka berada diposisi atas, otomatis sangat menghargai orang lain karena dulu mereka merasakan hal yang sama. Itulah kenapa mereka menjadi pribadi yang baik dan sangat dewasa. Beruntung kita bertemu dengan pasangan yang seperti itu. Coba kalo dari kalangan yang sama, apa ga main tinggi-tinggian ego.. alamat bubar jalan, banyak kan terjadi belakangan ini" ungkap Rama.


"Iya.. bener juga ya ... kayanya habis ini, saya harus bisa menyenangkan untuk suami. Biar suami makin semangat kerjanya" ucap Lexa.