
Sabtu sore, Rama berolahraga di tepi pantai dengan cara berlari tanpa alas kaki. Dia mengajak Mang Ujang juga, mumpung ga banyak aktivitas disini. Daya tahan fisiknya Mang Ujang udah kedodoran padahal baru sepuluh menit mereka lari-lari santai. Rama melanjutkan lari sendirian. Ga banyak tamu menginap disini, jadi ga terlalu ramai pantainya.
"Ampun deh Mas Boss .. mending saya duduk dulu sambil minum es kelapa. Kan ga lucu kalo sampe pingsan disini. Siapa mau kasih napas buatan coba?" pinta Mang Ujang.
"Lemah banget sih.. umur belum kepala tiga juga .. makanya kalo diajak ke gym tuh jangan malah nongkrong di warkopnya" ledek Rama.
Rama meneruskan berlari sambil menghirup udara tepi pantai yang masih segar. Kegiatan seperti ini memang menimbulkan sensasi yang berbeda. Desiran ombak yang membuat efek menenangkan tubuh, membuat diri menjadi ketagihan untuk kembali berolahraga.
Berlari atau berjalan di pasir pantai juga bisa membuat orang cenderung membakar hampir tiga puluh persen lebih banyak kalori. Ini karena berlari di pasir mengeluarkan lebih banyak energi dibanding dengan berjalan di permukaan yang datar dan tidak berpasir.
"Mba Nay ...aku merindukanmu, segalanya yang pernah kita lalui akan menjadi kenangan terindah walau terbilang singkat" kata hati Rama.
Semakin sore, desiran angin menyapu pasir semakin terdengar. Untunglah Rama memakai kacamata hitamnya saat berlari, jadi matanya ga terkena pasir yang beterbangan.
Rama merentangkan tangannya di tepi pantai, matanya terpejam, sambil merasakan dingin air laut yang menyentuh kakinya berkali-kali.
"Bertahun terbilang... ternyata tak membuat dirimu perlahan lenyap dari memoriku, malah aku semakin ingat padamu" Rama masih berbicara sendiri.
💐
Keluarga Pak Isam menikmati makan malam di Villa milik Pak Isam. Bahkan sampai memanggil catering paket barbeque ke Villa. Ternyata someonenya Mas Haidar membawa tiga orang temannya untuk makan malam bersama.
Mas Haidar memenuhi janjinya untuk mengenalkan calon pasangan hidupnya kelak. Suasana sangat cair sekali, semua tampak akrab. Justru yang paling tampak bahagia adalah Pak Isam dan Sachi.
Sachi happy karena ada dua wanita yang memanjakannya malam ini. Bak putri raja yang dilayani semua keinginannya, hingga dia lupa memberi kabar ke Ayah Rama.
Kehilangan wanita yang amat dicintai saat melahirkan dan anak perempuan satu-satunya, membuat Pak Isam dihadapkan kenyataan tidak ada lagi yang menyiapkan waktu sekedar berbicara. Kedua anak lelakinya sibuk bekerja. Ketika ada di rumah pun hanya bicara yang penting saja. Untunglah masih ada Sachi, tempat Pak Isam mencurahkan kasih sayangnya.
Anak perempuan memang memiliki banyak sekali cinta dan kasih sayang dihatinya. Dia akan selalu peduli dan menyayangi semua orang yang ada di dekatnya, apalagi terhadap orang tua. Inilah yang amat sangat dirindukan oleh Pak Isam. Dulu sempat ada Anindya yang memberikan perhatian padanya, sekarang Anindya sudah sangat berjarak dengan dirinya.
"Ya Allah... semoga mereka berdua bisa segera menjadi putri-putriku. Ampuni hamba yang telah berbuat tidak adil untuk anak-anakku tentang urusan jodoh. Tapi kali ini, anak-anak bebas memilih kepada siapa mereka berlabuh. Sekarang rasanya sudah tenang, kedua anak lelaki sudah menentukan pilihannya, ada cucu tersayang. Kedua calon menantu juga cocok dan semua terlihat baik .. Alhamdulillah... nikmat mana lagi yang bisa kudustakan ya Allah" ucap Pak Isam penuh rasa syukur.
.
Sudah jam delapan malam, Sachi sudah ngantuk karena tidak tidur siang. Mereka berdua tidur di kamar yang biasa ditempati oleh Rama. Mas Haidar dan Pak Isam masih ngobrol sama penjaga Villa. Someone nya Mas Haidar sudah pulang bersama teman-temannya, Mba Nur sedang merapihkan dapur bersama pekerja yang ada disana.
💐
Selepas makan malam, Rama dan Mang Ujang iseng jalan menyusuri pantai. Lampu-lampu sekitar pantai sangat minim banget, jadi mengandalkan cahaya bulan.
Mba Anindya baru aja pulang tadi siang karena Papanya sakit. Nanti pulang ke Jakarta, Rama dan Ujang akan naik kendaraan umum.
Setelah agak lumayan jauh berjalan, akhirnya keduanya memutuskan duduk di pasir, memandang bulan yang sama. Awalnya Rama mendengar bunyi kresek-kresek tapi masih berpikir suara daun yang tertiup angin. Ga lama kemudian Rama dan Mang Ujang mendengar suara yang agak aneh, bukan suara alam, tapi suara orang.
"Mas Boss... bulu kuduk rasanya berdiri semua nih .. yuk ah balik ke kamar... ngeri-ngeri sedap ini mah judulnya. Lagian segala ngajak jalan di tempat gelap kaya gini. Romantis ngga, malah horor" kata Mang Ujang rada ciut karena takut.
"Ini mah bukan setan Mang ... tapi lagi jadi temennya setan" jawab Rama santai.
"Maksudnya jadi temennya setan apa Mas Boss? emang bisa gitu temenan sama setan?" tanya Mang Ujang dengan polosnya.
"Dengerin dong yang bener... ini mah suara cewe mendesah dan suara cowo yang lagi memanas" ucap Rama pelan.
"Cewe mendesah? cowo memanas? lagi olahraga gitu? apa makan panas dan pedes jadi hu ha hu ha?" tanya Mang Ujang asal.
"Katanya playboy.. masa begini aja ga tau sih.. ngerti ga sih sebenarnya maksud saya?" balik Rama bertanya.
"Ya udah pasti ngga lah ... otak Mas Boss itu mikirnya kecepetan, jadi susah nyusulnya" kata Mang Ujang.
"Lagi bercumbu Mang ... alias bercinta .. alias indehoy .. alias sedang nganu..." jelas Rama gamblang.
"Ah yang bener Mas Boss... itu Resort ada, kamar nyaman, ngapain di tempat gelap gini, mana pasir semua begini. Enak ngga yang ada gatel kena pasir" ucap Mang Ujang.
"Kok tau enak ... udah pernah nyicipin ya?" terka Rama.
"Yah kalo ciuman mah pasti udah dong .. pegangan tangan, pelukan .. kayanya itu doang deh. Mamang mah ga berani lebih dari itu .. takut ... takut ketahuan... hahaha" jawab Mang Ujang jujur.
Suasana pantai selalu membuat hati nyaman. Apalagi bersama pasangan. Angin dan debur ombak menjadi sountrack terbaik saat berpacaran, makanya banyak dijadikan tempat untuk memadu kasih para remaja yang berkunjung kesana. Tidak sedikit pula mereka secara terang-terangan bermesraan dihadapan banyak orang. Mulai dari bergandengan, gelendotan, membelai atau berpelukan. Tak jarang orang lain yang justru merasa risih melihat perilaku tersebut.
Kondisi yang gelap (karena ga terlalu dekat sama resort dan hanya mengandalkan cahaya bulan saja) ditambah pohon dan semak yang rindang, membuka kesempatan bagi pasangan remaja mengekspresikan cinta kepada pasangannya secara melampaui batas.
Suara yang terdengar oleh Rama makin lama makin ga enak untuk didengar. Membuatnya jadi penasaran mencari asal suara.
"Mas Boss .. kita balik yuk.. makin ngeri nih. Nanti kalo liat penampakan gimana?" tanya Mang Ujang yang makin mendekatkan tubuhnya kearah Rama.
"Apaan sih Mang segala nempel-nempel, nanti disangka orang-orang kita ini pasangan yang belok lagi" kata Rama yang buru-buru menjaga jarak sama Mang Ujang.
"Mas Boss mah ga ce es nih .. " jawab Mang Ujang.
"Yuk Mang kita gerebek aja... ini ada pasangan mesum pastinya. Dengerin deh .. itu suara yang mencurigakan" ucap Rama.
"Lah emang ga takut kesambet setan apa ditempat kaya gini. Boro-boro kepikiran buat mesra-mesraan, adanya takut duluan" ucap Mang Ujang.
Rama tetap mendekati asal suara, berjalan pelan-pelan mengendap.
.
Rama mendengarkan percakapan yang suaranya sangat pelan, bahkan nyaris kalah sama suara ombak kalo ga konsen dengarnya.
"A' ... jangan ya A' .." pinta sang wanita.
"Kita udah jauh-jauh kesini sayang.. ongkosnya juga gede kan" rayu sang lelaki hidung belang.
"Kita kaya biasa aja A'.. ciuman ..pelukan.. gelendotan.. kalo lebih teh takut hamil" jawab sang wanita lagi.
"Aa' akan tanggung jawab Neng.. Aa' ga tahan nih... katanya Neng cinta" pinta sang lelaki.
"Jangan atuh A' .. Neng memang cinta, tapi kita juga udah kejauhan A'. Neng takut jadinya. Aa' bilang katanya kita mau ikut persami di Bumi Perkemahan Cibubur, kan kita termasuk almuni yang masih aktif urusin Pramuka di SMA, eh malah dibawa kesini" protes sang wanita.
"Neng emang ga suka diajak healing? nikmati Neng .. malam ini aku dan kamu aja tanpa gangguan. Kalo Neng cinta .. nurut dong sama Aa'.. Aa' tuh cinta mati sama Neng seorang" lanjut sang lelaki.
"Aa' mah bisa aja ..." ucap sang wanita dengan suara menggoda.
"Kalo Neng belum siap.. Aa' ga masukin deh.. nempel dikitttt ajaaa .. atau main sekwilda gimana... sekitar wilayah dada" rayu sang lelaki ga pantang menyerah.
Rupanya tangan sang lelaki langsung menyergap sekwildanya sang wanita sambil menindihnya. Sang wanita merasa kegelian dan lama kelamaan mendesah. Sepertinya sudah sangat berpengalaman lelakinya dan wanitanya masih baru melakukan hal ini.
"A' ... geli atuh A'..." desah sang wanita.
"Nikmati Neng ... kancingnya dibuka ya Neng .. mau buat tanda cinta" rayu sang pria.
"Tanda cinta apa A'?" tanya sang wanita.
"Makanya buka dulu.. nanti Neng tau deh" ajak sang lelaki.
Walaupun nampak ragu, sang wanita yang sudah terbius panah asmara seakan terlupa, dia mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
Rama segera menyorotkan senter dari HP nya kearah dua sejoli. Jelas aja keduanya terlonjak kaget. Sang lelaki yang memakai kaos dan celana boxer langsung duduk disebelah sang wanita yang lagi sibuk mengancingkan kemejanya.
"Astaghfirullah... Pipit ... ngapain kamu disini?" pekik Mang Ujang kaget.
"Kang Ujangggg" pelan Pipit berbicara.
"Ya Allah Gustiiiii.... kamu berbuat zina? kok bisa dari Tasikmalaya kesini? Bapak Ibu ga nyariin kamu?" berondong Mang Ujang kecewa berat.
"Mang Ujang kenal?" tanya Rama heran.
"Ya Allah ... Astaghfirullah... " terus menerus Mang Ujang beristighfar karena masih gemeteran liat kejadian didepan matanya.
"Hei anak muda.. kalian masih minta uang orang tua aja pake kebanyakan gaya. Konon katanya ngajak healing.. yang ada mah ini bisa bunting. Segala ngerayu bilang mau kasih tanda cinta... ehhh kalo namanya cinta mah datengin walinya, jaga kesuciannya hingga kalian akad nikah" omel Rama.
"Betul tuh Mas Boss.. nasehatin aja nih bocah ingusan" ucap Mang Ujang menahan kesal.
Akhirnya Mang Ujang menonjok lelaki tersebut karena ga bisa menahan emosinya. Pipit mencoba melerai tapi kalah tenaga.
"Dia cewe gw tau" teriak Mang Ujang.
"Atuh sadar diri Kang .. udah bangkotan mau sama daun muda" jawab sang lelaki.
Mang Ujang jadi makin terpancing emosi. Rama akhirnya turun tangan untuk memisahkan keduanya.
"Stoppp... stop it ... ada apa ini semua? Siapa sih dia Mang?" pekik Rama.
"Eta calon yang kemarin Mang Ujang minta ijin ke orang tuanya. Kirain masih polos.. eh ga taunya hobi polosan.. alias buka-bukaan. Kirain mah terima apa adanya Akang, eh malah main gila dibelakang Akang. Untung aja Allah baik sama Akang yang sholeh ini, dijauhkan dari perempuan kaya kamu Pit" oceh Mang Ujang.
Rama langsung paham siapa kedua anak muda didepannya ini.
"Oh .. jadi ini cewe yang Mang Ujang bilang mau jadi calon istrinya. Untunglah ga jadi sama Mang Ujang" kata Rama dalam hatinya.
Mang Ujang masih ngeliatin Pipit dan pacarnya yang tertunduk karena takut sama Rama.
"Ini juga ceweknya mau aja, dibawa jauh-jauh kesini. Emang ga dicariin sama orang tuanya?" tanya Rama dengan galaknya.
"Ga tau Kang kalo mau dibawa kesini" jawab Pipit sambil menunduk.
"Ga tau gimana? emang kamu dibikin pingsan terus bangun-bangun udah disini? atau kalian pake pintu Doraemon yang bisa kemana aja dalam sekejap?" ucap Rama lantang.
Keduanya hanya menunduk malu.
"Emang ada Mas Boss pintu Doraemon? maksudnya yang ada gambar Doraemon? emang bisa pake pintu itu dari Tasikmalaya ke Pahawang. Atuh kalo ada mah Mamang mau beli. Biar bisa Ambu sama Abah ke Mekkah" bisik Mang Ujang.
"Jangan mulai deh lemotnya... ga tau apa orang lagi kesel" balas Rama setengah berbisik ke Mang Ujang.
Mang Ujang duduk di hamparan pasir, tepat didepan pasangan ini.
"Saya ga perlu kalian cerita bagaimana bisa sampai kesini, tapi yang jelas besok kalian akan saya antar pulang ke Tasikmalaya" tegas Rama.
"Jangan atuh Kang ... mohonnnn Kang .. jangan. Bisa saya diusir sama Bapak" pinta Pipit memelas.
"Hei ... kamu tuh udah dimacam-macamin sama nih cowo. Dia harus tanggung jawab" kata Rama.
"Atuh Kang belum ngapa-ngapain juga" ngeles sang lelaki.
"Belum ngapa-ngapain kamu bilang? eh... yang tadi bilang peluk cium siapa? terus yang maksa berhubungan siapa? terus sampe kancing baju dibuka tuh mau apa? mau latihan jadi Ibu menyusui?" tegas Rama makin kesel.
"Bocah cilik gayanya berlagak...hajar aja Mas Boss" Mang Ujang manas-manasin.
"Mang .. coba hubungi supir yang ada di rumah, minta jemput kita di Merak besok pagi. Kita naik kapal yang paling pagi. Nanti dari Merak baru kita ke Tasikmalaya. Kita anterin duo rese ini ke rumahnya" perintah Rama.
"Siap Mas Boss, nanti saya cari sinyal dulu, dari kemarin tuh sinyal kaya orang lagi marahan... ga ketemu" jawab Mang Ujang.
.
Mang Ujang tidur sekamar sama pacarnya Pipit, Rama tidur sendiri, sedangkan Pipit tidur di kamar yang ditempati Sebelumnya oleh Mba Anindya, toh sudah kosong sejak tadi siang dan sudah dibayar sama Mba Anindya sampai besok check out.
🌺
Ahad pagi, Izza berjalan sendiri ke kebun sayuran milik Pak Isam yang terletak disampingnya Villa.
Ga sengaja ketemu Ceu Lilis yang baru pulang dari pasar. Dia tidak dagang bubur hari ini, nanti sore ada pesanan bubur untuk acara pengajian.
"Assalamualaikum Lis" sapa Izza.
"Waalaikumsalam..." jawab Ceu Lilis cuek.
"Lis .. bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Izza.
"Mau ngomongin apa?" kata Ceu Lilis ketus sambil terus berjalan.
"Atas nama Mba Gita... saya mau minta maaf" kata Izza yang membuat Ceu Lilis menghentikan langkahnya.
Ceu Lilis menghadap ke Izza.
"Apa kata maaf bisa mengubah semuanya? bisa mengembalikan Mba Nay kesisi Lilis?" ujar Ceu Lilis.
Izza berjalan mendekati Ceu Lilis.
"Lis .. paling ga kamu masih bisa berziarah ke makam Mba Nay .. sedangkan saya ga tau dimana makam Mba Zizi .. kakak kandung saya" ucap Izza sedih.
"Tapi kebakaran itu membuat saya kehilangan orang tua dan ga tau dimana mereka dikuburkan. Kalo kamu kan ada kuburan orang tuanya" ngotot Ceu Lilis.
"Kita mengalami peristiwa yang sama Lis .. jadi sama-sama tau bagaimana rasanya" kata Izza merendahkan suaranya.
"Tapi kan kebakaran di rumah Lilis itu disengaja, gara-gara Mba Gita merasa Mba Nay sebagai ancaman, eh malah menimbulkan banyak korban karena kekesalannya" marah Ceu Lilis.
Ceu Lilis langsung berlari sambil membawa beberapa tentengan plastik. Beberapa kali tampak menghapus air matanya.
Izza pun menahan tangis yang sama. Dia ga bisa menyalahkan sikap Ceu Lilis yang marah padanya. Adalah sesuatu yang wajar Ceu Lilis semarah tadi, mungkin kalo Izza berada diposisi Ceu Lilis pun akan memberikan respon yang sama.
"Za .... " panggil Pak Isam lembut sambil menepuk pundaknya Izza.
Izza berbalik, ada buliran air mata yang siap menetes dikedua pipinya. Pak Isam mengusap kepalanya Izza perlahan.
"Menangislah, jika itu melegakan perasaan, walau terkadang tangisan tak akan pernah bisa mengubah suratan" ucap Pak Isam lembut.
Dengan menangis menyadarkan kita akan sebuah identitas manusia yg tidak terlepas pada sebuah persoalan dan lewat tangisan pula kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan.
Secara refleks, Izza berlari kepelukan Pak Isam. Rasanya sosok Pak Isam membuatnya kuat untuk saat ini. Sosok bijak dan seolah memahami kondisinya tanpa menghakimi siapa dan bagaimana Izza. Pak Isam awalnya kaget, tapi dia sudah menempatkan Izza sebagai anak perempuannya, jadi layaknya seorang Ayah memberikan pelukan hangatnya.
"Pada akhirnya, kita hanya perlu jujur pada diri sendiri. Tidak selamanya kita mampu memasang senyuman ketika pada kenyataannya kita sedang tidak baik-baik saja. Kita juga tidak bisa terus selamanya berusaha membahagiakan orang lain dan mengabaikan perasaan diri sendiri. Tiap orang punya masalah dan ujian hidupnya masing-masing. Tugas utama kita adalah bisa menerima dan mengatasi semua hal yang terjadi dalam hidup kita" nasehat Pak Isam.
"Rasanya hidup ini sudah tak layak buat diperjuangkan.." keluh Izza.
Dari kejauhan ada Mas Haidar yang merekam adegan berpelukannya Pak Isam sama Izza. Kemudian mengirimkan video tersebut ke Rama.
#Papi sudah menyayangi Izza terlebih dahulu dibanding kamu. Mas harap kamu bisa memberikan Izza perlindungan dan kasih sayang yang dia butuhkan#