
Mang Ujang membantu Izza membawakan satu box berisi berkas lelang yang dia kerjakan selama ini.
Mba Gita, Pak Feri dan Pak Idam masih berada di ruang meeting. Rama mengetuk kaca ruang meeting dan meminta untuk jalan sekarang juga.
"Mba Gita... ini gimana ya?" bisik Pak Feri.
"Gimana apanya Pak?" tanya Mba Gita ga paham.
"Laporan belum rapih dibuat, berkas juga ga semua ada di Izza, saya lupa dokumentasi in" jawab Pak Idam.
"Kok bisa... kan instruksi Mas Rama udah jelas pas proses awal pelelangan, beliau minta semua bukti transparan dan via transfer tidak cash" ingat Mba Gita.
"Kami kira seperti Mas Haidar dan Pak Isam aja yang nerima laporan total, ga perlu perincian yang detail" ucap Pak Feri.
"Beda Boss beda karakter, harusnya semua karyawan bisa mengikuti instruksi yang ada. Selama ini memang udah banyak yang salah dalam pelaporan, jadi memungkinkan banyak kesalahan yang dibuat" papar Mba Gita.
"Tapi Mba..." bela Pak Feri.
"Ini masih pada mau ngobrol atau mau kerja ya? Tolong ya di jam kerja seperti ini harusnya produktif, anda semua dibayar bukan sekedar buat duduk kan?" kata Ra.a yang sudah berdiri didepan pintu ruang meeting karena ga ada yang keluar ruangan.
.
Didalam lift, Pak Feri dan Pak Idam hanya bisa menunduk. Rama mukanya juga sudah tampak makin tegang. Mang Ujang dan Izza sudah menunggu di lobby sedari tadi.
"Izza.. kamu ikut mobil saya, duduk dibelakang, biar saya disebelah Mang Ujang" perintah Rama sambil memakai kacamata hitamnya.
"Iya" jawab Izza yang merasa ketakutan mendengar nada bicara Rama yang ga bersahabat.
Security yang membukakan pintu mobil buat Rama pun jadi korban omelannya.
"Jangan di pos terus, saya kan sudah kasih SOP terbaru buat tiap jam dijadwalkan keliling kesemua ruangan, kenapa saya ga pernah liat ya? kerjaan kalian bukan sekedar jaga pintu masuk kantor dan bukain pintu mobil. Paham ya?" semprot Rama.
"Siap ... instruksi sudah dijalankan, tapi khusus ruangan paling atas memang tidak di cek" jawab security.
"Kenapa ga di cek, bahkan ruangan saya pun wajib di cek, siapa tau saya berbuat yang aneh-aneh dalam ruangan atau tidur di jam kerja" kata Rama.
"Siap ... sesuai instruksi komandan untuk lantai paling atas tidak perlu di cek" jelas security lagi.
"Saya mau mulai besok ikut di sweeping juga ruangan saya, termasuk pemeriksaan obat terlarang dan lainnya. Saya ga mau di kantor ini ada yang melanggar hukum atau berbuat asusila" perintah Rama.
"Siap ... akan saya lanjutkan ke komandan" jawab security.
"Nanti saya sendiri yang akan telepon ke komandan" jawab Rama sambil masuk mobil.
"Siap" jawab security tegas.
💐
Raffa masih konsentrasi melihat layar HP nya, sambil membalas beberapa chat dan email yang masuk. Kadang terlihat tersenyum, kadang jidatnya berkerut. Izza dan mang Ujang ga berani ngomong melihat kondisi Rama yang moodnya lagi ga bagus.
Rama memencet sebuah nama di phonebook.
"Assalamualaikum Lis... ini saya Rama" sapa Rama via sambungan HP.
"Waalaikumsalam.. ya Aa' Rama... Lilis udah tau, kan nomernya udah disimpan" jawab Ceu Lilis.
Mang Ujang kaget juga begitu tau kalo Boss nya punya nomer HP Ceu Lilis, sedangkan dia aja ga punya.
"Gimana keadaan ibu kamu? dagangan bubur lancar?" tanya Rama basa basi.
"Besok mau ke Puskesmas buat kontrol ibu, kalo dagang bubur masih sepi A', namanya juga dagang di kampung" jawab Ceu Lilis.
"Dagang aja didepan kantor saya, kamu pindah sekeluarga ke Jakarta, nanti saya sewain rumah. Ga perlu bayar apa-apa. Paling saya cuma minta semangkok bubur aja" tawar Rama full senyum.
"Punten atuh A', ibu asli orang sini, ga mau pindah ka kota. Pokoknya mau disini terus" jelas Ceu Lilis.
"Oke deh nanti kita ngobrol lagi. Kayanya Jum'at malam ini saya mau berangkat ke Tasikmalaya lagi. Gimana kalo Sabtu kita janjian ketemu, belum tau sih jamnya, nanti saya hubungi lagi aja ya ... salam buat Ibu, assalamualaikum" kata Rama mengakhiri percakapan.
"Waalaikumsalam" jawab Ceu Lilis.
.
Mang Ujang pura-pura batuk mendengar Rama ngobrol santai dengan nada lembut sama Ceu Lilis. Beda banget sama Rama yang tadi di kantor.
"Kalo leher kering tuh minum air putih yang banyak. Kalo masih batuk juga minum obat atau pergi ke dokter" ucap Rama sambil masih menatap layar HPnya.
"Udah Mas Boss" jawab Mang Ujang dengan nada tercekat.
"Weekend mau ikut ke Tasikmalaya ga?" tawar Rama.
"Boleh Mas Boss, sekalian saya pulang ke orang tua, kemarin cuma mampir sebentar kan. Mau ada acara sunatan, cucunya Bibi. Emang rencana saya mau pulang Sabtu ini" kata mang Ujang rada lemes.
"Ya udah nanti Mang saya antar ke rumah orang tuanya, abis itu saya janjian sama Lilis. Mau ajak ke Rumah Sakit buat cek kondisi kesehatan ibunya" kata Rama.
"Kan katanya lumpuh Mas Boss" ucap Mang Ujang.
"Ya... maksudnya tuh ada kemungkinan bisa disembuhin atau ngga? Saya mah mau ibunya bisa normal kembali, jadi bisa mandiri urus diri sendiri dan adik-adiknya Lilis. Nanti kalo Lilis saya bawa kesini gimana? Ibunya ga mau pindah ke sini kan" jelas Rama.
"Lilis mau dibawa kesini? Mau ngapain Mas Boss? Jangan bilang kalo Mas Boss mau nikahin dia. Wah ini mah bukan sekedar tikungan. Tapi udah belokan yang sangat tajam terus disampingnya jurang" ujar Mang Ujang.
"Rahasia dong, misi pribadi.. ga ada urusan sama kerjaan. Saya cuma merasa sreg aja. Lagipula saya kan ga punya Mami, jadi kalo ada anak yang sayang sama ibunya pasti langsung terharu dan maunya bantu" jawab Rama sambil senyum yang membuat Mang Ujang tambah keki.
"Terus nasib saya gimana Mas Boss. Nyesel deh udah ngenalin Mas Boss ke Ceu Lilis, pujaan hatiku" ucap Mang Ujang.
.
"Izza... semua berkas transaksi pembayaran ada di kamu kan ya?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan sambil melihat kaca depan buat melihat Izza.
"Ga semuanya ada, saya juga dapat copyannya aja. Kan ga dari awal lelang saya ada" jelas Izza.
"Harusnya kamu sebagai administrator itu dapat aslinya untuk pemberkasan dan laporan. Harus berani bawel lah. Jangan lembek dong" ujar Rama.
"Maaf, saya baru pertama kali kerja, jadi semua tergantung keatasan saya langsung yaitu Pak Feri. Ga mungkin saya mendesak ke beliau" tambah Izza.
"Saya juga baru pertama kali kerja, tapi tetap diaturan yang ada. Saya paling ga suka kalo orang ga dengerin instruksi. Kan selalu tiap akhir meeting saya tanya kembali ada yang kurang jelas atau ga, semua selalu bilang jelas. Mana buktinya? dua bulan kaya jalan ditempat. Saya coba diemin sambil mantau, tapi malah pada nyaman kalo saya ga gerak" kata Rama yang mulai kepancing marah lagi.
"Maaf, semoga sisa waktu saya bekerja di perusahaan bisa saya pergunakan semaksimal mungkin. Waktu saya tinggal sebulan lagi kerja membantu proses penutupan Hotel dan penjualan aset" janji Izza.
"You do not need to be great to start something. Do it now and do not ever put off because the chance may not come twice. Do your best at every opportunity that you have"
(Kamu ga perlu jadi hebat untuk memulai sesuatu. Lakukan sekarang dan jangan pernah menunda karena kesempatan mungkin ga akan datang dua kali. Lakukan yang terbaik disemua kesempatan yang kamu miliki)" saran Rama.
"It's hard to find words to express my gratitude Mister Rama (Sangat sulit buat menemukan kata-kata yang tepat bagaimana mengekspresikan rasa terima kasih saya)" jawab Izza sopan.
"Za... sorry .... " kata Rama merendah.
"No problem" jawab Izza santai.
"Thank you for sparing the time to handle everything I need (Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mengurus segala hal yang saya perlukan)" kata Rama tulus.
Mang Ujang cuma bengong aja mendengar percakapan bahasa Inggris antara Rama dan Izza. Karena bahasa Inggris yang Mang Ujang tau hanya i love you, sorry dan thank you.
"Ini bukan pada lagi ngomongin saya kan ya?" tanya Mang Ujang memecah kesunyian.
"Ngapain ngomongin Mang Ujang coba" jawab Rama.
"Ya abisnya pada cas cis cus gitu. Segala sori .. tengkyu .. emang kenapa sih?" tanya Mang Ujang lagi.
"Kepo ya .. udah fokus aja ke jalan. Pokoknya ini ga ada ngomongin orang. Besok-besok, Mang Ujang harus baca kamus bahasa Inggris. Saya mau Mang Ujang bisa upgrade ilmu. Mang Ujang tuh akan jadi salah satu orang kepercayaan dari Big Boss di perusahaan Abrisam Group" papar Rama.
"Big Boss? maksudnya saya jadi sekretarisnya Pak Isam gitu?" tanya Mang Ujang ga paham.
"Kenapa jadi sekretarisnya Papi? nih... saya kan calon Big Boss... Mang Ujang kan pasti akan selalu bersama saya. Tau kan kalo saya malas sama kemacetan Jakarta, jadi pastinya akan minta antar kemana-mana sama Mang Ujang" ujar Rama dengan sedikit sombong.
"Oh iya ya ... lupa saya kalo jadi supir pribadinya Mas Boss" jawab Mang Ujang.
"Yes ... driver ... " ulang Rama.
"Apa tuh driver?" tanya Mang Ujang.
"Pengemudi seperti Mang Ujang" jawab Rama.
"Nah itu aja Mas Boss... saya jangan dibilang supir. Tapi bilang aja driver. Kan keren kalo ada yang tanya, kerja apa di Jakarta? jadi driver ... " ucap Mang Ujang bahagia.
"Nah kalo mau disebut driver, Mang Ujang nanti saya beliin kamus bahasa Inggris yang buat anak SD aja dulu, kalo udah pinter baru saya beliin kamus lagi yang lebih lengkap" usul Rama.
"Repot amat sih Mas jadi driver aja segala baca kamus. Adanya juga baca peta biar ga kesasar" protes Mang Ujang.
"Mau jadi driver kan?" ulang Rama.
"Iya dong ... mau seratus persen" jawab Mang Ujang.
"Kalo mau ya baca kamus, kalo perlu ikut les bahasa Inggris, nanti saya daftarin" kata Rama.
"Ga usah pake les deh Mas Boss, otak saya udah kaku rasanya kalo harus belajar di ruang kelas. Nanti saya belajar sama Mas Boss aja. Tuh anak-anak bule di Inggris tiap hari ngobrol sama keluarganya lama-lama pada pinter bahasa Inggris, ga pake les" tutur Mang Ujang.
"Orang Arab juga sama... tiap hari ngobrol pake bahasa Arab eh pada fasih banget bahasa Arabnya. Kan nanti kalo Mang bisa bahasa Inggris bisa gaya ke calon mertua" sahut Rama.
"Hirup mah ulah loba gaya tapi kudu loba duit Mas Boss (hidup ga perlu kebanyakan gaya, yang perlu itu banyak duitnya)" jawab Mang Ujang.
"Aisshhh... sedap benar deh kalimatnya" puji Rama.
Izza di bangku belakang menahan ketawa mendengar pembicaraan mereka berdua. Memang tampak sekali Rama cepat bisa akrab sama orang sekitarnya. Jangankan Mang Ujang yang dua bulan terakhir menjadi supirnya Rama, cleaning service yang hanya ketemu pas Rama mau naik lift aja juga keliatan akrab walaupun masih dalam batas yang wajar.
🍒
Hari ini Rama menunjukkan diri sebagai Big Boss di perusahaan, dia duduk melihat Pak Feri, Pak Idam dan Izza sibuk merapihkan berkas.
Rama tau kalo semua berkas yang dia minta belum disiapkan dengan baik, jadinya mereka tampak gemetaran.
"Sebaiknya kalian semua jujur aja sama saya, bukti transfer itu ada semua atau ga? Terus pembayaran ke karyawan yang terkena PHK juga bagaimana kelanjutannya? kok kayanya senyap aja" tanya Rama yang sudah makin naik darah.
"Maaf Mas, sepertinya ada yang keselip, tapi kami janji akan mencari sesegera mungkin. Nanti akan kami siapkan lagi. Karena dua bulan ini kan kita fokus ke pembayaran pesangon buat karyawan yang terkena PHK massal. Poin itu yang ditekankan oleh Pak Isam" jawab Pak Feri yang udah serba salah tingkah.
"Sekarang udah jam makan siang, silahkan semua makan siang dulu, saya tunggu disini jam satu, on time ya" ujar Rama sambil keluar menuju Mesjid yang ga jauh dari Hotel.
.
Seusai sholat, Rama keluar Mesjid dan duduk di tangga selasar Mesjid. Tetiba ingat sang putri kesayangannya.
"Assalamualaikum... Sachi.... Ayah rindu" sapa Rama lewat video call.
"Waalaikumussalam... Ayah dimana?" tanya Sachi sambil main boneka.
"Di Mesjid, habis sholat, Sachi udah sholat belum?" tanya Rama.
"Udah" jawab Sachi singkat.
"Udah makan belum?" tanya Rama lagi.
"Udah maem sop, wortel, ayam, telur kecil (telur puyuh), susu, melon... apalagi Mba..." kata Sachi nanya ke pengasuhnya.
"Roti" jawab pengasuhnya.
"Wah ... anak Ayah banyak ya makannya. Sekarang bobo siang dulu ya, besok libur sekolah kan? ikut Ayah ke kantor mau?" kata Rama.
"Asyik.... Sachi boleh ikut Ayah" jawab Sachi senang.
"Nanti Ayah pulangnya agak malam, ga usah tungguin Ayah ya. Sachi jangan tidur diatas jam delapan ya ... assalamualaikum" kata Rama mengakhiri pembicaraan.
"Waalaikumussalam Ayah, love you" jawab Sachi sambil memberikan kissnya.
"Love u too Sachi" kata Rama sambil tersenyum.
Sachi adalah salah satu obat buat menurunkan amarahnya Rama setelah Sang Rabb Maha Esa pastinya.
Tadi Rama dapat pemberitahuan dari sekolah Sachi, kalo besok sekolah diliburkan karena semua guru se Jakarta Selatan akan ada acara di Balaikota DKI Jakarta.
Sudah lama Sachi ga ikut ke kantor, dulu pernah diajak kalo sedang libur kuliah dan pulang ke Jakarta.
Ketika akan memakai sepatunya, Rama berpas-pasan sama Izza yang juga akan memakai sepatu.
"Ga makan siang Za?" tanya Rama.
"Insyaa Allah shaum Kak eh Mas" jawab Izza sambil menunduk.
"Kan udah saya bilang, kalo nyaman manggil saya Kakak kenapa harus dipaksakan jadi Mas" kata Rama.
"Saya akan coba, biar sama seperti yang lain" alasan Izza.
"Boleh nanya ga Za?" lanjut Rama yang duduk berjauhan dengan Izza di tangga Mesjid.
Keduanya menatap arah jalan didepannya.
"Silahkan kalo bisa saya jawab" ucap Izza sambil meletakkan tas dipangkuannya.
"Kamu ke makam siapa saat kita pertama kali ketemu?" tanya Rama.
"Orang tua saya. Keduanya dimakamkan dalam satu liang yang sama" jawab Izza sopan.
"Punya hubungan kekeluargaan sama Mba Gita?" kembali Rama bertanya.
"Mba Gita yang mengambil saya dari panti asuhan. Sekitar lima tahun yang lalu, saya jadi penghuni panti karena yatim piatu dan ga ada keluarga. Hanya sebentar saya disana, Mba Gita datang dan meminta saya ke ibu panti untuk diasuh dan tinggal sama Mba Gita" cerita Izza.
"Kamu benar ga punya kakak atau adik yang bisa kamu hubungi? atau saudara lainnya gitu?" tanya Rama penasaran.
"Saya punya Kakak, tapi ga tau kemana rimbanya" jawab Izza menahan sedih.