
Terkadang emang apa yang udah diupayakan ga bisa berjalan sesuai dengan rencana. Kesulitan keuangan kembali menimpa perusahaan lagi. Lini utama perusahaan Abrisam Group itu di property, ditipu kontraktor yang membawa uang muka pengerjaan proyek hingga lebih dari satu milyar, padahal pihak kedua ini merupakan perusahaan punya teman SMA nya Rama yang bisa dibilang sangat akrab, teman keluar masuk Polsek jaman dulunya. Tentu hal ini menjadi pukulan dahsyat buat Rama yang baru pertama kali menangani proyek dan langsung kena tipu.
Biar bagaimanapun pengalaman memang merupakan guru yang terbaik. Dia yang masih idealis berjiwa muda berjalan sesuai teori di bangku kuliah. Kadang jeleknya Rama itu ga mau tanya sama Papinya atau orang yang lebih expert dibidangnya. Merasa cukup ilmu jadinya ga berpikir butuh advice dari orang sekitarnya.
Rama juga mau apa-apa serba cepat, biasanya saat rapat bareng bagian terkait, dia langsung maunya tersaji apa yang dia mau, baginya kalo bisa sekarang kenapa harus besok. Inilah yang menjadi celah dalam pemilihan vendor. Pihak terkait tidak terlalu dalam mempelajari sepak terjang dan kesepakatan dengan pihak vendor.
Pak Isam yang lagi main golf pun langsung datang ke kantor setelah mendengar aduan Mba Gita tentang kasus penipuan tersebut.
Wajahnya Pak Isam tampak dingin ga bersahabat. Sesuatu hal yang wajar beliau marah karena kecerobohan anaknya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, para karyawan pun mulai ketar ketir dengan kondisi perusahaan karena berita ini cepat merebak. Padahal baru jam delapan pagi Rama mendapatkan laporan dari staff bagian lapangan.
"Pagi Pak Isam..." sapa Mba Gita sambil berdiri begitu melihat Pak Isam datang.
"Pagi... Rama lagi ada tamu?" tanya Pak Isam.
"Ada Pak, nanti saya infokan Bapak datang" ucap Mba Gita.
"Nanti aja kalo tamunya udah selesai. Habis tamu ini ada tamu lagi?" tanya Pak Isam dengan wajah datarnya.
"Free Pak" jawab Mba Gita.
"Saya tunggu disini aja" jawab Pak Isam.
"Baik Pak... mau minum kopi atau lainnya?" tawar Mba Gita.
"Air mineral aja... saya ambil sendiri aja Git" jawab Pak Isam.
Pak Isam berjalan kearah showcase dekat pintu ruangan Rama.
"Gaya apa sih nih anak, segala ada showcase minuman didepan ruangannya, udah kaya minimarket aja" ujar Pak Isam sambil mengambil sebotol air mineral dingin.
"Kontrak pembelian Pak. Jadi kantor beli minimal senilai dua juta perbulan produk merek tersebut, showcase dipinjamkan sama pihak mereka" jelas Mba Gita.
"Tapi idenya boleh juga, tamu kan kadang pengen sesuatu yang segar ya, karyawan juga boleh bebas ambil?" tanya Pak Isam.
"Boleh Pak... bebas ambil asal dihabiskan kata Mas Rama. Tamu-tamu pun merasa senang juga ada pilihan minuman dingin. Mungkin bosan dengan tawaran kopi atau teh aja. Malah Minggu depan akan datang freezer ice cream, lebih murah lagi syarat pembeliannya, cukup belanja awal lima ratus ribu dan rutin setiap bulan ada pemesanan maka dipinjamkan gratis freezernya" jelas Mba Gita lagi.
"Rama tuh memang suka minuman dingin" kata Pak Isam.
.
Lima menit kemudian, tamu keluar dari ruangan Rama. Rama memandang kearah jendela. Memandang kearah Hotel yang kini hanya tinggal kenangan. Ada secuil memory disana, saat kecil kalo ada perayaan ulang tahun pasti Papi mengajak menginap sekeluarga. Mempertahankan Hotel itu sangat berat sekarang. Barang inventaris disana pun sudah hampir tujuh puluh persen terjual dan ada juga yang diberikan ke panti asuhan.
"Rama...." sapa Pak Isam.
"Pi... kapan datang? kok Mba Gita ga kasih tau" jawab Rama sambil mendekati Pak Isam dan mencium tangannya.
Pak Isam memeluk anaknya. Kemudian meminta Rama untuk duduk disebelahnya.
.
"Maafin Rama udah ceroboh ya Pi" ucap Rama menyesal.
"Kamu harus bayar mahal kesalahan kamu ini. Harus bisa cepat berpikir buat menanggulangi hal ini. Proyek harus terus berjalan, cash flow perusahaan pun harus aman. Papi yakin kamu tau harus bagaimana" kata Pak Isam serius.
"Ya Pi .." jawab Rama masih menunduk.
Sangat terlihat jelas wajah Rama yang banyak pikiran. Semua rasa jadi satu. Antara marah, sedih, kecewa dan pastinya malu.
"Hei... kamu kan anak lelaki ... naikkan dagunya, jangan nunduk gitu. Leader harus lebih kuat dari karyawannya. Ditipu, dikhianati dan kalah itu hal biasa dalam bisnis. Mana ada di dunia ini yang selalu untung. Ada kalanya harus merasakan kalah biar kamu menghargai kemenangan. Jadi ... tegakkan kepala kamu Rama. Papi ga mau kamu membuang waktu untuk menyesali yang sudah terjadi. Saatnya kamu habiskan waktu untuk menyusun langkah yang cepat dan tepat. Papi ga akan tinggal diam, nanti kita pelajari bersama" kata Pak Isam bijaksana.
"Ya Pi" jawab Rama masih lesu.
"Inilah bisnis Fa, ga bisa kamu pandang hitam dan putih, kadang kamu harus pilih warna lain. Bukan sekedar mengamankan diri, tapi ingat dibelakang kamu banyak karyawan yang bergantung hidup di perusahaan ini" nasehat Pak Isam.
Rama masih banyak diam mendengarkan semua nasehat Pak Isam. Kali ini Pak Isam sangat bijak. Walaupun wajahnya kecewa, tapi beliau tau ini adalah sebuah pengalaman berharga untuk sang putra mahkota. Pak Isam memang banyak berubah sejak sering mengunjungi pesantren.
"Kamu ga konsen karena jatuh cinta atau gimana? terus terang aja" tanya Pak Isam serius.
"Ga Pi... ga ada hubungannya antara kerja sama wanita. Itu hal yang berbeda. Ini murni kesalahan Rama dalam memutuskan kebijakan perusahaan" jawab Rama.
"Apa kamu udah terpikir untuk segera nikah? ya mungkin aja karena desakan Sachi yang ingin punya sosok Ibu dalam hidupnya" tanya Pak Isam makin serius.
"Belum ada niat Pi. Kalo masalah Sachi mah masih bisa dihandle" jawab Rama.
"Tapi kamu rela mengorbankan apapun buat Sachi" tegas Pak Isam.
"Untuk kalimat itu benar seratus persen, tapi Rama mau fokus dulu ke pekerjaan Pi. Sekalian mau ambil kuliah magister dulu disini kayanya. Buat nambah wawasan dan link bisnis. Ga mungkin kan sekarang Rama pergi lagi keluar negeri, nanti siapa yang urus Abrisam Group" jawab Rama lagi.
"Kuliah kan bisa sambil nikah. Malah enak ada yang urusin makan, ada yang mijitin, ada yang jadi support system" ledek Pak Isam.
"Khawatir ga bisa bagi waktu aja Pi. Nikah kan ga sekedar happy-happy, banyak tanggung jawabnya" alasan Rama.
"Terus itu para wanita-wanita yang kamu deketin buat apa?" cecar Pak Isam.
"Mang Ujang nih pasti ngomong macam-macam ke Papi" duga Rama.
"Kalo kamu mau nikah ya nikah aja, cukup kisah...." kata Pak Isam.
"Cukup kisah Mas Haidar dan Mba Nay? itu kan yang mau Papi bilang. Bukannya semua tragis karena campur tangan Papi? udahlah Pi .. itu udah kisah masa lalu" potong Rama.
"Haidar udah ga peduli sama Abrisam Group lagi. Cuma kamu harapan Papi sekarang ini. Makanya daripada kamu salah jalan ya lebih baik menentukan pilihan" kata Pak Isam.
"Pi ... konteksnya kita lagi bahas tentang perusahaan, kenapa jadi kehidupan pribadi Rama ditanya-tanya" ucap Rama kurang suka sama pembahasan yang bersifat pribadi sekalipun Pak Isam adalah Papinya.
"Waktu cepat berlalu ya ... kamu pun tumbuh lebih dewasa sekarang. Kayanya baru kemarin kamu lahir. Walaupun Papi ga banyak menemanimu saat kamu tumbuh dewasa, tapi kamu mampu menjadi penghapus lelah raga dan kepenatan jiwa Papi dengan segala prestasi dan perkembangan sosialmu. Papi cuma mau berpesan.. jadilah laki-laki dewasa yang berdaya juang tinggi, tangguh, bertanggung jawab, selalu dekat sama Allah SWT, karena Allah adalah segalanya buat manusia. Jadilah seorang lelaki sejati yang tegas, harus punya ego tapi ga egois dan kuat untuk diri sendiri serta mau melindungi keluarga dan orang-orang yang harus dilindungi. Ambillah yang baik dari perjalanan hidup kamu, buang yang buruk. Cukup Papi, Mba Mentari dan Mas Haidar yang pernah berada di jalan yang kurang baik. Jangan mengulang kembali kesalahan yang sama" nasehat Pak Isam lembut.
"Ya Pi..." jawab Rama singkat sambil mencerna ucapan Pak Isam.
"Sekarang segalanya ada ditangan kamu, tetap dekat sama Allah walaupun Papi ga pernah mengajari kamu ilmu agama sedari kecil, tapi Papi bahagia kamu mampu mencari ilmu itu sendiri. Kelak kalo kamu berkeluarga, pasti penuh ujian dan cobaan, hati-hati dan bersabarlah" tambah Pak Isam.
"Jadi pribadi yang pandai bersyukur, karena tugas manusia cuma ikhtiar dan berdo'a, selebihnya Allah yang Maha Berkehendak. Tidak perlu jadi sempurna. Tapi jadilah nyata dalam hidup ini. Ketika kamu mau dimengerti orang lain, maka kamu pun harus mengerti orang lain. Insya Allah Papi dan keluarga yang lain, akan selalu mendampingi dan mendo'akan yang terbaik untuk jalan hidup kamu" kata Pak Isam sambil menepuk pundak sang putra mahkota.
"Ya Pi... Rama akan ingat nasehatnya. Maaf ya Pi kalo Rama mengecewakan. Makasih juga Papi tetap support Rama walaupun begini kejadiannya" ucap Rama.
"Rama ... dalam bisnis selalu ada idiom ga ada makan siang gratis. Jadi... atas kerugian ini kamu harus bisa cari keuntungan buat menutupi kerugian yang ada. Papi ga mau sampe ada PHK massal lagi seperti kejadian Hotel yang kemarin" pinta zpak Isam.
"Insya Allah Pi... Rama akan coba memperbaiki kesalahan ini" Jawab Rama optimis.
"Papi pulang dulu, oh ya ... seminggu ini Papi akan ada di Tasikmalaya ya, mau mengurus perkebunan disana. Disana juga jauh dari polusi dan kebisingan kota, jadinya lebih damai" ucap Pak Isam.
"Ngurus perkebunan atau ada yang ditaksir disana Pi? kayanya rajin amat kesana" goda Rama.
"Kamu nih... kalo Papi mau nikah pasti udah dari dulu. Tapi kan Papi memutuskan sendiri bersama kenangan tentang Mami" kata Pak Isam.
Rama mencium tangan Pak Isam kemudian memeluknya.
"Fii amanillah.. jaga kesehatan ya, Rama akan berusaha kerja lebih keras lagi" kata Rama.
"Insya Allah" jawab Pak Isam.
.
Setelah Pak Isam pamit, Rama mengambil HPnya kemudian menghubungi Mba Anindya.
"Assalamualaikum... Mba Anin... jadi ga maksi barengnya?" tanya Rama.
"Waalaikumsalam... jadi dong. Tapi agak telat sedikit ya, Mba masih di salon, mungkin baru selesai jam satu siang, jadi kita janjian diatas jam satu ya, ga masalah nahan laper sebentar kan?" ujar Mba Anindya.
"Oke ... no problem, kita janjian dimana?" kata Rama.
"Gimana kalo di Senayan City aja, ga jadi di Sarinah. Soalnya Mba ada di Sency sekarang" jawab Mba Anindya.
"Siap Boss... see you .. assalamualaikum..." kata Rama.
"Waalaikumsalam" jawab Mba Anindya.
🏵️
Rama meminta ke Mba Gita untuk mengosongkan jadwal hari ini mulai dari jam dua belas siang karena memang ada janjian sama Mba Anindya. Kebetulan tadi pagi ngajakin makan siang bareng. Ada penawaran bisnis dari Mba Anindya yang udah kepending selama semingguan janjiannya.
.
Mang Ujang udah standby di lobby kantor selepas sholat dzuhur, sejak jadi supir pribadinya Rama, sholatnya Mang Ujang jadi tertib, karena hal pertama yang ditanya sama Rama kalo mau jalan diwaktusholat pasti "udah sholat belum?".
Awalnya Mang Ujang malu kalo jawab belum, tapi lama kelamaan malunya berubah jadi positif, Mang Ujang menganggap inilah jalan hidayahnya biar ga bolong-bolong menjalankan ibadah sholatnya. Padahal orang tuanya sangat keras ngajarin agama dari kecil. Tapi sejak di Jakarta ga ada yang bawelin sholat jadi ya edan eling.
.
Mang Ujang diajak ikut kedalam Mall, tapi dia menolak karena ga nyaman aja nungguin Rama yang pasti ada urusan bisnis sama Mba Anindya. Soalnya Mang Ujang pernah ada pengalaman nungguin Rama meeting di Restoran, emang sih kenyang, tapi ngantuk berat, walhasil dia ketiduran di Restoran dengan ngoroknya yang bak nelen toa Mesjid, kencengnya sampe kedengeran kemana-mana dan membuat malu.
.
Rama bertemu dengan Mba Anindya dan dua orang karyawannya Mba Anindya. Setelah makan siang, mereka tampak serius banget membahas tentang bisnis baru. Rama banyak diam, memperhatikan dengan seksama pemaparan timnya Anindya, dia mencoba mencerna semua penjelasan sambil mencatat hal-hal yang akan dia tanyakan. Rama memang tidak mengajak Mba Gita karena Mba Gita sedang diminta mengumpulkan semua notulen, bukti transaksi serta perjanjian kontrak dengan pihak yang telah menipu perusahaan. Setelah itu akan diserahkan ke pihak lawyer perusahaan untuk dipelajari lebih dalam.
.
Cukup lama meetingnya, hingga jam empat sore baru selesai. Beberapa kali Mba Gita menelpon Rama tapi direject. Memang ada chat dari Mba Gita yang mengabarkan kalo ada beberapa orang yang minta jadwal ketemu mengenai penjualan bangunan Hotel.
Setelah selesai meeting, Mba Anindya beserta timnya sudah pulang terlebih dahulu, Rama masih duduk santai menikmati suasana dan cemilan di Restoran, dia menelpon Mang Ujang untuk ketemu sama dia di Restoran yang berkonsep Indonesia, Mba Anindya emang tipe citarasa lidah lokal, jadi pasti ngajak janjian di Restoran yang menyajikan masakan lokal. Kalo Rama mah lidah palugada... apa yang lu kasih guwa doyan.
Mang Ujang diminta memesan makanan oleh Rama. Dia sendiri sedang sibuk membalas chat-chat dan email yang masuk sambil menikmati segelas grass jelly ice (es cincau) sama sepiring Indonesian spring rolls filled with bamboo shoots, prawns and served with sweet chili sauce (lumpia Semarang).
Lagi enak-enaknya menikmati hidangan, tiba-tiba ada adegan cewe ngamuk karena pacarnya ketahuan selingkuh dan yang bikin jadi perhatian Rama karena salah satu cewe dirombongan itu adalah Izza.
Rama menghabiskan lumpianya sambil liatin keributan ala-ala anak kuliahan, si cewe dengan segala sumpah serapah ke si cowo dan cewe selingkuhannya nangis dalam dekapan Izza. Rama memanggil pelayan untuk minta bill tagihan cemilan yang dia dan Mang Ujang makan (untuk makan siang tadi sudah dibayar sama Mba Anindya).
Rama langsung merapihkan laptop dan berkas-berkasnya kedalam tas. Setelah itu mendekati kerumunan.
"Lo ga usah ngelindungin cewe rese ini deh" kata sang cewe yang merasa pacarnya direbut (sebut dia A) sekarang ikut menyerang secara fisik ke Izza, karena memang Izza lah yang dipeluk cewe yang konon katanya selingkuhan pacarnya A (sebut B).
.
Pihak Restoran sudah mencoba melerai, tapi tau sendiri kalo ciwi-ciwi ribut dan kebakar esmosi pasti adu mulutnya rame kaya petasan hajatan di Betawi, panjang dan nyaring bunyinya.
"Sabar dong.. malu diliat orang" jawab Izza membela.
"Lo ya... dandanan alim kaya gini tapi liat tuh kelakuan temen Lo, pelakor..." ucap A masih emosi.
Sebenarnya A udah ditahan sama sang cowo. Tapi masih aja mau meraup muka si B.
B ini kawan sekampus Izza yang sedang berulang tahun dan sedang mentraktir teman-temannya. Mereka datang berenam, empat orang cewe dan dua cowo. Izza ga tau kalo si B ternyata udah janjian sama gebetan barunya disini buat ngerayain ulang tahun bareng.
"Za.... ayo pulang... ga usah ikut rame-rame ga jelas gini. Bikin malu aja ribut dimuka umum" kata Rama dengan muka ga bersahabatnya.
Semua langsung diam, melihat keasal suara. Lelaki tinggi atletis berkulit sawo matang dan dibalut kemeja lengan panjang warna biru muda yang digulung serta celana bahan senada disempurnakan dengan gesper bermerek gemesh. Tas kerja dari kulit bermerk sama seperti gespernya pun menggelayut manja dibahunya yang kekar. Suara ngebassnya juga makin membuat orang terkesima. HP keluaran terbaru berada digenggaman tangan kirinya (kalo kerja memang Rama itu pake yang serba branded, untuk menaikkan nilai dimata karyawan dan rekanan, walaupun semua itu barang pinjeman dari Haidar dan Pak Isam yang memang penggila barang branded. Kalo Rama belum banyak koleksinya, namanya juga dulu mahasiswa yang kehidupannya pas-pasan dan sekarang baru masuk dunia kerja, mana bisa kebeli barang seperti itu yang harganya puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. HP nya aja yang baru dibeliin sama Pak Isam sebagai hadiah karena mau menduduki jabatan sebagai CEO Abrisam Group. Sebenarnya Pak Isam mau membelikan mobil, tapi Rama menolak. Akhirnya dibelikan handphone dan jam tangan.
"Siapa tuh Za..." bisik teman cewenya yang tersepona (diatas terpesona😁) banget liat Rama.
"Ehm...ehmmm" bingung juga Izza menjawabnya, ga nyangka ketemu Rama disaat seperti ini.
"Saya Kakaknya... ada masalah sama Adik saya?" tanya Rama tegas kearah semua.
"Ga Mas... saya masalahnya sama cewe B" jawab si A mulai melunak.
"Cowo tuh banyak ... kalo dia udah ketauan selingkuh ya see you bye bye aja. Jadi cewe tuh jangan mengejar tapi posisikanlah untuk dikejar. Jika dia ga bersedia mengejar kamu, maka dia pun ga berhak dapat waktu dan perhatian kamu .. paham ga?" saran Rama ke si A.
Semua terdiam mendengar ucapan Rama yang sangat frontal sekali.
"Ayo Za pulang... atau mau Kakak kasih tau Mba Gita kalo kamu lagi terlibat keributan?" tanya Rama dengan tatapan kesal. Izza makin serba salah.