
Sudah hampir subuh, Rama baru masuk kedalam rumah. Sulit untuk mendefinisikan perasaannya hari ini.
Berjalan perlahan menuju kamarnya dengan langkah yang terasa amat berat. Rasa marah, sedih, kasihan dan dendam menyatu dalam otaknya.
Dibasuh kepalanya dengan shower yang mengalir. Bayangan Mba Nay yang tersiksa batin, Papi yang berusaha untuk sembuh dari kecanduan ganja dan obat terlarang, Mas Haidar yang berusaha mengingat masa lalu saat penyembuhan, tengah asyik menari dalam pikirannya.
Adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang, Rama mempercepat mandinya dan bersiap menuju Mesjid didepan komplek perumahannya. Dia menuju Mesjid bersama Mas Haidar, Pak Isam sedang berada di Tasikmalaya. Beliau belum mendengar berita ini, tapi Mas Haidar sudah terus bertanya semenjak Rama masih ada di Kantor Polisi.
🏵️
"Kamu jangan nangis terus Za, nanti kita jenguk Mba Gita ya. Bisa jadi Mba Gita korban salah tangkap, selama ini kan Mba Gita orang yang baik sekali. Selalu membantu kita disini. Memang dia mewakili perusahaan tempatnya bekerja, tapi dia juga ikut membantu dengan uang pribadinya. Nanti juga sama pihak penyidik kepolisian akan dibebaskan jika ga bersalah" hibur Ibu Panti Asuhan.
"Ya Bu ... ini pasti ada kesalahan. Kak Rama mungkin dapat laporan palsu, ga nyelidikin dulu langsung aja lapor. Mba Gita kan baik banget sama Izza. Walaupun belum genap lima tahun bersama, Izza ngerasa seperti dilindungi oleh seorang Kakak. Memang Mba Gita banyak memberikan aturan ke Izza, tapi itu semua demi Izza juga kan?" kata Izza dengan suara serak karena sepanjang malam menangis.
"Za .. sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdo'a.. hanya Allah sekarang yang mampu menolong kita, kepada Allah kita serahkan segalanya" saran Ibu Panti Asuhan.
"Apa Izza coba temuin Kak Rama aja ya Bu? meminta untuk menyabut laporannya ke Polisi. Izza akan melakukan apapun demi Mba Gita" ide Izza.
"Jangan dulu Za, biar pihak yang berwajib menjalankan tugasnya untuk menyelidiki apa yang dilaporkan oleh Nak Rama. Ibu bukan membela dia, tapi kita harus sadar siapa yang kita lawan. Nak Rama itu orang berduit, punya kuasa dan pastinya akan lebih didengar daripada suara kita" jawab Ibu Panti Asuhan.
"Tapi hukum tidak pandang bulu Bu, semua warga negara berhak mendapatkan keadilan. Ini ga adil Bu. Jangan mentang-mentang Kak Rama orang kaya terus bisa menginjak-injak harga diri kita? Kak Rama menduga Mba Gita terlibat kasus korupsi di Abrisam Group, tapi kan Ibu tau sendiri kalo untuk biaya kuliah Izza aja yang kemarin, Mba Gita sempat keteteran uangnya. Rumah yang Mba Gita punya juga tipe 36. Mobil juga beli second, harganya murah karena saat beli ada orang yang mendesak butuh uang jadi dijual ke Mba Gita. Perhiasan, pakaian dan tas yang Mba Gita pakai juga biasa aja. Pergi keluar negeri ataupun dalam negeri juga atas biaya dinas dari Kantor. Kalo korupsi, kemana uangnya coba? Apa Kak Rama lupa bagaimana loyalnya Mba Gita ke Abrisam Group sampai ga punya waktu buat kehidupan pribadinya" marah Izza.
"Za ... kita sama-sama belum mendengar cerita secara utuh dari dua sisi, baik dari Mba Gita ataupun dari Nak Rama, jadi kita jangan terpancing emosi dulu. Allah ga tidur Za, Allah akan membantu hambanya yang didzolimi" nasehat Ibu Panti Asuhan.
Izza memeluk Ibu Panti Asuhan dan kembali menangis. Tangannya Ibu Panti Asuhan mengusap punggung Izza dengan lembut.
"Ya Allah ... mana keadilanMu? kenapa selalu Kau timpakan kesedihan dan kesengsaraan untukku. Ga cukupkah penderitaanku selama ini Ya Rabb?" keluh Izza.
"Za ... jangan mengutuk Allah. Siapa kita Za .. cuma makhluk ciptaanNya yang masih berlumuran dosa dan melakukan banyak kesalahan" ucap Ibu Panti Asuhan memperingati Izza.
"Kenapa selalu Izza Buuuuu..." kata Izza makin sedih.
"Za ... sebagian besar manusia dimuka bumi ini pasti pernah mengeluh seperti kamu, mempertanyakan keadilan Allah atas ujian yang kita terima. Sekarang Ibu tanya... pernah
ga kita mempertanyakan letak keadilan Allah saat kita melihat orang yang harus kerja dengan penghasilan dibawah standar atau orang yang mencari makan dengan cara mengais tong sampah untuk mengganjal perutnya?" tanya Ibu Panti Asuhan.
Izza menggelengkan kepalanya perlahan, tanda dia ga pernah berpikir tentang hal tersebut.
"Itulah kita Za ... pertanyaan tentang keadilan Allah akan muncul hanya saat kita ditimpakan sebuah cobaan, cuma protes saat diri kita sendiri yang merasakan.
"Tapi Bu ... Izza sudah menjalankan apa yang Allah perintahkan, tapi kenapa membiarkan Izza terus menangis? membuat Izza merasa ini semua ga adil, liat orang-orang kaya raya nan berkuasa .. betapa banyak mereka lalai menjalankan perintah dalam agamanya, tapi Allah selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan untuk mereka" protes Izza.
"Za .. kita ga pernah tau apa yang menimpa mereka diluar sana, itu bukan hak kita. Kepada siapa Allah memberikan nikmat dan peringatan harusnya ga perlu diperdebatkan. Hapus rasa su'udzon kamu, cepat ambil wudhu dan sholatlah biar tenang. Baca surat Al Hajj ayat 63, apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha mengetahui. Biasanya setiap orang yang sedang diuji akan merasa dirinyalah yang paling menderita, terus membandingkan dengan orang lain yang dilihatnya sedang bahagia. Pernah ga kita berpikir bahwa segala kesakitan, kepedihan, hancurnya impian bukanlah selalu menjadi yang terburuk dalam fase hidup kita? atau pernah ga kita berpikir bahwa cinta Allah kepada kita lebih dari apa yang sekedar kita pikirkan?" tanya Ibu Panti Asuhan kembali membuka mata hati Izza.
Izza terdiam dihadapan Ibu Panti Asuhan. Sulit baginya berpikir sehat dalam kondisi seperti ini.
🍒
"Rencana Allah itu selalu menjadi misteri, Allah bisa menjadikan sesuatu yang kita anggap buruk itu jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan, Allah akan memberikan kasih sayangnya kepada umatNya yang mencintai dan senantiasa selalu mengingatNya. Lalu apa sudah cukupkah cinta kita untuk Allah sehingga kita terus mengharap kebahagiaan tanpa sedikit pun ujian sebagai kerikil-kerikilnya?" tanya Pak Ustadz saat kajian ba'da sholat Subuh.
Di Mesjid dekat rumahnya Pak Isam memang selalu ada kajian Subuh setiap Sabtu dan Ahad (karena hari kerja biasanya Jama'ah sudah terburu-buru untuk menjalankan aktivitasnya, baik bekerja atau berangkat usaha).
"Sesungguhnya hanya akan menjadi sia-sia saat kita terus mempertanyakan dimana letak keadilan Allah. Allah selalu punya rencana dalam setiap skenario kehidupan, apa yang kita lihat buruk belum tentu benar-benar buruk, saat kita merasa mimpi kita hancur bisa jadi ada mimpi yang lebih tinggi yang siap-siap akan Allah wujudkan untuk kita. Ujian datang bisa karena dua hal, dosa kita yang terlalu banyak sehingga Allah menghapusnya perlahan dengan ujian di dunia, atau akan ada kejutan besar yang akan Allah berikan dari sabarnya kita menghadapi ujian" tutup Pak Ustadz.
Rama dan Haidar mendengarkan dengan serius kajian yang sedang didengarnya. Rasanya pas sekali wejangan ini dengan apa yang Rama rasakan.
.
Selepas sholat berjama'ah, Rama dan Haidar jalan santai kemudian mampir ke taman untuk jajan mengisi perutnya yang mulai keroncongan karena semalaman ga makan.
Rama memesan boiled rice cake, vermicelli, fried tofu and krackers with peanut sauce dressing (alias ketoprak). Haidar pun memesan yang sama tapi hanya pakai ketupat dan tahunya saja.
Mereka makan tepat disamping Pos Security. Para Security yang sedang berdinas pun diajak makan bareng, diminta untuk memesan makanan yang diinginkan.
Rama keliatan lapar sekali, baru habis setengah porsi ketoprak, dia sudah memesan yang baru lagi (atawa nambah).
"Boss Rama ini doyan apa lapar ya? kaya orang ga ketemu makan seminggu aja sampe segitu lahapnya. Pelan-pelan aja Boss, Abang ketopraknya nungguin kok sampe selesai makan" goda Security yang memang pada akrab sama Rama karena Rama suka menyapa dan kasih salam tempel untuk mereka semua.
"Ya nih .. laper beut .. terakhir makan siang kemarin. Rasanya sampe gemetaran karena terasa lapar" jawab Rama spontan.
"Jangan lupa makan dong Boss, sibuk kerja boleh tapi makan jangan kelewat. Makanya cepetan punya istri deh Boss, jadinya ada yang ingetin makan" saran Security.
"Kasian amat tugas istri cuma ingetin saya buat makan, kalo begitu mah nikah aja sama penjaga warteg. Kan tiap ketemu pasti ditanya mau makan Mas?" canda Rama sambil masih menikmati ketopraknya.
"Ya ga gitu juga kali Boss. Paling ga kalo ada istri tuh dari melek mata sampe nih mata merem lagi, semua udah dia urusin, full 24 jam .. udah disiapin semuanya. Plus pelayanan pijit luar dalam deh buat ilangin penat jiwa raga .. hehehe" jelas Security sambil tersenyum.
"Itu istri atau Security? segala siap sedia ngejaga kita 24 jam" tambah Rama makin cuek aja jawabannya.
"Boss Rama mah ga pernah serius kalo ngomongin tentang cewe. Tapi masih doyan kan ya sama cewe?" kata Security setengah putus asa kalo ngobrol sama Rama.
"Tau tuh Mas... padahal muka ga jelek-jelek amat, keliatannya juga penyayang, bertanggung jawab, kerjaan udah mapan, secara Big Boss gitu loh ...tapi kok ga ada yang nyantol satu pun sampai hari ini. Jadi curiga sih emang .. antara nasib atau pilihan nih ngejomblo terus" ledek Haidar.
"Bisa jadi mungkin Boss yang satu ini kebanyakan milih-milih" ucap Security.
"Udah selesai belum bahas tentang saya? Saya nih masih normal ya, masih suka sama cewe, tapi untuk sekarang belum membuka hati aja. Masih menikmati hidup. Kan katanya kalo cowo udah nikah tuh susah mau bebas. Sekarang ini masih pengen bebas. Mau kerja ya tinggal kerja, mau main ya tinggal main. Sekarang saya tanya nih Mas semua yang sudah beristri, udah bahagia punya istri? istrinya ngelayanin full 24 jam? istrinya ga bikin mumet dengan segala keinginannya?" tanya Rama dengan muka yang ngeselin.
"Lanjut makan aja deh Boss .. keliatannya dua piring masih kurang tuh... Abang ketoprak mah pasti senang hati kalo Boss mesen seporsi lagi ... hehehe" jawab Security mencari aman.
Security di komplek ini sudah hapal dengan tabiatnya Rama yang kaya jagoan. Makanya males cari gara-gara sama dia. Dulu waktu jaman SMA, ga boleh motornya kesenggol dikit, pasti langsung dikejar dan diajak berantem orangnya. Beberapa kali juga Security memisahkan keributan Rama sama orang-orang komplek yang ga suka dengan gaya ngeselinnya Rama. Sebenarnya Rama diam, tapi emang tampangnya kalo diam itu jutek, jadi terkesan nantangin orang.
.
Tadinya Rama mau meneruskan tidur, rasa kantuk sudah mulai menyerang. Baru juga meluruskan kakinya di sofa, Sachi udah bangun tidur dan berteriak sambil turun tangga.
"AYAAHHHHHH .... AAYAAAAHHHHH" panggil Sachi.
"Jangan lari turun tangganya .. nanti bisa jatuh" ingat Rama.
Sachi langsung menubruk tubuh Rama. Keduanya malah becanda saling ngelitikin dan tertawa bersama.
"Anak Ayah kok bangunnya jam delapan lewat.. kesiangan? pasti sholat subuhnya lewat nih" kata Rama.
"Iya ... Sachi lupa" jawab Sachi jujur.
"Tidurnya malam ya?" duga Rama.
"Iya ... Sachi tunggu Ayah pulang" sahut Sachi.
"Kan Ayah udah bilang kalo Sachi ga usah tunggu Ayah pulang" jawab Rama.
"I miss you Ayah... sekarang Ayah udah ga bobo sama Sachi lagi. Ayah pulangnya malam terus, Ayah juga ga libur.. setiap hari kerja" protes Sachi.
"Hari ini Ayah libur kok" kata Rama sambil tersenyum.
"Sama dong... Sachi juga libur sekolah" jawab Sachi.
"Terus kalo sama-sama libur, kita main aja di rumah.. gimana?" tanya Rama.
"Sachi mau nonton film di bioskop Yah. Teman Sachi udah nonton. Ada film kartun princess.. please Ayah ... please ya kita nonton" rayu Sachi sambil mendekap tangannya Rama.
"Ayah ngantuk banget nih, nanti sore atau besok aja ya sayang" ujar Rama sambil memeluk Sachi.
"Ga mau ... Ayah jahat" kata Sachi langsung ngambek.
"Nontonnya sama Papa aja ya" ajak Haidar berinisiatif.
"Ga mau .. pokoknya maunya sama Ayah. Sachi ga mau sama Papa Haidar" ujar Sachi makin kesel.
"Kok anak Ayah teriak-teriak gitu, ga sopan sama orang tua. Ayo minta maaf sama Papa Haidar" pinta Rama dengan lembut.
"Ga mau .. Sachi ga mau ... huhuhu" jawab Sachi yang jadinya malah nangis.
"Loh kok malah nangis .. nanti cantiknya hilang kalo banyak nangis" ledek Rama sambil memangku Sachi.
"Sachi kan kangen sama Ayah, maunya sama Ayah ... huhuhuhu" ucap Sachi sambil menangis
"Ayah juga kangen sama Sachi. Tapi Ayah cape banget. Minta waktu buat Ayah tidur ya, abis itu baru kita jalan. Ayah janji deh" rayu Rama sambil mengelus rambut Sachi.
"Janji?" tanya Sachi menyakinkan.
"Iya Ayah janji" jawab Rama.
"Ayah... Sachi boleh bobo sama Ayah?" tanya Sachi lagi
"Boleh lah... emang Sachi masih ngantuk?" kata Rama.
"Ngga .. Sachi cuma mau temenin Ayah. Sachi janji ga ganggu Ayah tidur. Nanti Sachi main boneka aja disampingnya Ayah. Sachi cuma mau sama Ayah terus" ujar Sachi dengan polosnya.
Rama langsung mendekap erat putri kesayangannya.
"Ya Allah ... betapa anak ini mencintaiku tanpa syarat. Berkali-kali kukecewakan karena ga menepati janji menyediakan banyak waktu buat dia, tapi dia ga pernah marah dengan keadaan. Anak sekecil ini mencintaiku dengan sepenuh hati" kata Rama dalam hatinya.
"Rama ga akan bisa tergantikan dimata Sachi. Rama adalah cinta pertamanya. Sebesar apapun usaha yang kulakukan, tetap ga bisa mendapatkan cinta utuh dari Sachi" gumam Haidar, tak terasa ada bulir kesedihan turun dipipinya.
"Ayah .. Sachi mau minum susu" pinta Sachi.
"Ga di botol lagi kan minumnya?" tanya Rama.
"Ga Ayah ... minumnya di kotaknya susu (maksudnya susu uht dalam kotak)" jawab Sachi.
"Kamu minum susu kotak?" kata Rama kaget.
"Sama Papa Haidar boleh, katanya Sachi udah besar" adu Sachi.
"Dia kan udah bisa minum susu UHT, jangan dibikin kaya bayi yang minum susu bubuk terus diseduh terus" timpal Haidar.
"Berarti Papa Haidar kalo beli susu UHT harus banyak, kan buat Sachi sama Ayahnya juga .. ya ga Sachi?" canda Rama.
"Iya benar tuh Papa Haidar. Kan Ayahnya Sachi kasian ga bisa minum susu" kata Sachi.
"Ga bisa minum susu? memang Ayah kenapa?" tanya Haidar.
"Kan Ayah ga dibeliin susu sama Opa, jadinya ga bisa minum susu. Kalo Sachi kan dibeliin susu sama Ayah dan Papa Haidar" jelas Sachi.
"Oh gitu .. jadi Papa punya dua anak kecil dong yang masih minum susu" canda Haidar.
Sachi tertawa geli. Rama pun sejenak bisa melupakan beban didalam pikirannya.