
Pintu kamar diketuk. Rama menuju pintu untuk membukanya.
"Ayah....." sapa Sachi sambil berlari masuk kedalam.
"Anak Ayah kok belum tidur?" tanya Rama.
"Mau tidur sama Ayah..." teriak Sachi dari dalam kamar.
Mba Nur masih berdiri didepan pintu kamar.
"Masuk aja Mba Nur... ngapain depan pintu gitu.. gapapa kok... sini masuk, sekarang kan saya udah ada istri, jadi Mba Nur bisa masuk kamar saya tanpa khawatir timbul fitnah" jawab Rama.
Rama berjalan masuk.
"Ya Mas..." jawab Mba Nur sambil menutup pintu.
"Ayah... Ayah... wah kamarnya bagus.. ada bunga-bunga dan harum" ucap Sachi takjub.
"Tidur aja kalo Sachi suka" usul Rama.
"Benar Yah? boleh ya.." sahut Sachi antusias.
"Benar" jawab Rama.
Sachi langsung melompat-lompat di kasur dan mengambil bunga yang ada dibagian samping ranjang.
"Hati-hati ya.. nanti kamu jatuh kalo lompatnya ketinggian" ingat Izza yang menghampiri Sachi untuk menjaga agar tidak terjatuh ke lantai.
Rama duduk di sofa, Mba Nur duduk di kursi meja kerja.
"Maaf Mas.. saya sudah bilang kalo Mas sedang istirahat sama Mba Izza, tapi Sachinya ngambek dan minta kesini terus" lapor Mba Nur ga enak hati.
"Gapapa, makasih ya Mba Nur, udah repot jaga Sachi hari ini ... tapi aman ya makannya Sachi seharian? soalnya saya sampe ga sempat tanya" kata Rama.
"Alhamdulillah aman Mas. Tadi sesekali Mba Izza juga minta saya untuk nyuapin Sachi. Tapi memang agak banyak minum es krim, soalnya liat yang lain bolak-balik minum es krim" lanjut Mba Nur.
"Ya udah gapapa, nanti banyakin air putih aja" kata Rama.
Izza masih becanda sama Sachi di tempat tidur.
"Za .. tolong rapihin baju saya ya kedalam lemari" pinta Rama.
Izza langsung membuka tasnya Rama dan merapihkan kedalam lemari.
"Ayah...kok kamar Ayah ada bunganya? kamar Sachi sama Mba Nur ga ada bunganya" tanya Sachi polos.
"Ambil aja kalo Sachi mau. Ayah mau lepasin sih, wangi banget baunya" kata Rama sambil ikut berguling-guling di kasur sama Sachi.
"Sachi bobo disini sama Ayah ya.. please" mohon Sachi.
"Nanti Mba Nur bobo sama siapa kalo Sachi bobo sama Ayah?" tanya Rama iseng.
"Sachi maunya sama aunty Izza aja, bagaimana kalo Ayah yang temenin Mba Nur" ucap Sachi yang belum paham situasi dan kondisi.
"Ga boleh lah tidur sama Mba Nur, kan kami sudah dewasa, kalo anak kecil boleh tidur bersama" jawab Rama.
"Berarti Ayah ga boleh dong tidur sama aunty Izza, kan Ayah sama aunty Izza juga orang dewasa" balik Sachi.
Rama bingung harus menjawab apa, salah dia juga menjawab secara ga tuntas sama Sachi.
"Sachi kok manggilnya masih aunty Izza, kan harusnya udah beda" kata Rama mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kalo panggil Mama boleh?" tanya Sachi.
"No... no... no... nanti kalo Mama, biar Papa Haidar yang carikan. Kalo aunty Izza, Sachi bisa panggil Bunda aja" kata Rama dengan mimik lucu.
"Ga mau .. bagaimana panggil Mommy Izza aja. Biar kaya teman-temannya Sachi" usul Sachi.
"Bagus tuh Sachi ... Mommy Izza ... kerennnn" ungkap Izza bahagia.
"Yesss... Mommy Izza... Mommy Izza" teriak Sachi kegirangan kemudian melompat lagi di kasur.
"Masa manggilnya Mommy dan Ayah.. ga keren dong Ayah" protes Rama.
"Ayah selalu keren kan... apa Ayah mau dipanggil Poppy biar mirip sama Mommy?" canda Sachi.
"Kok Poppy.. udah kaya nama anjingnya Om Tio dong, yang kemarin dipakein baju terus jalan-jalan sore" sahut Rama.
Rama dan Sachi tertawa terbahak-bahak mendengar kata Poppy.
Pintu kamar diketuk lagi dari luar. Mba Nur yang membukakan pintu. Ada Mas Haidar diluar kamar.
Setelah pintu terbuka, Mas Haidar masuk kedalam.
"Berantakan amat kasurnya, abis ngapain kamu Ram?" ledek Mas Haidar dengan full senyum.
"Sachi tuh yang loncat-loncat di kasur" jawab Rama.
"Sachi ... keluar dulu ya sama Mba Nur. Papa mau ada perlu sama Ayah dan Aunty Izza" pinta Mas Haidar.
"Bukan Aunty Izza, tapi Mommy Izza" jawab Sachi.
"Oh iya Papa lupa.. sekarang udah jadi Mommy Izza ya. Tapi malam ini Sachi tidur dulu sama Mba Nur ya. Ayahnya mau Papa pinjam dulu. Besok boleh deh tidur sama Ayah dan Mommy" jelas Mas Haidar.
Sachi nurut, mungkin karena sudah ngantuk dan lelah, jadinya dia pasrah digendong sama Mba Nur menuju kamar sebelah.
.
"Ada apa Mas?" tanya Rama.
"Mba Gita melarikan diri" jawab Mas Haidar to the point.
"Hahhhh???" ucap Izza ga percaya sama pendengarannya.
"Izza ... ada polisi yang ingin ketemu sama kamu, sekarang mereka ada di Ballroom, ada Papi disana buat menemani dulu" jelas Mas Haidar.
"Melarikan diri? kok bisa? bukannya mau rehabilitasi? gimana bisa kaya gini? " tanya Izza bingung.
Rama diam, dia sudah tau terlebih dahulu tapi ga bilang ke siapapun, hanya dia dan Alex yang tau.
"Sekarang kamu turun Za.. temuin petugas kepolisian dulu. Mereka ingin meminta keterangan dari kamu" pinta Mas Haidar.
"Iya Mas, saya pakai jaket dulu ya, ga enak nemuin petugas pakai kaos begini" jawab Izza yang kemudian merapihkan penampilannya.
"Mas turun duluan aja, nanti kami menyusul" pinta Rama.
"Oke" jawab Mas Haidar.
Mas Haidar keluar dari kamar. Rama pun mengganti baju koko dan sarungnya dengan kaos lengan panjang dan celana training.
Setelah itu mereka berdua bergegas turun ke Ballroom untuk menemui petugas kepolisian.
.
"Selamat malam Ibu Izza... kami dari kepolisian" sapa Pak Polisi.
Pak Isam dan Mas Haidar pindah ke meja sebelah. Rama, Izza dan dua petugas kepolisian duduk melingkari meja.
"Kami kesini untuk mengabarkan jika Saudari Gita telah melarikan diri saat dalam perjalanan ke tempat rehabilitasi" lapor Pak Polisi.
"Ya Allah... kenapa harus melarikan diri.. kan mau diobatin" sesak Izza mulai sedih.
"Sudah kami selidiki, dari hasil olah TKP sementara, didapati jika mobil yang ditumpangi oleh Saudari Gita, kondisi ban depan kanan pecah kemudian oleng dan meluncur ke jurang yang tidak terlalu dalam. Disaat seperti itu, Saudari Gita keluar dari mobil, lebih tepatnya loncat karena pintu mobil terbuka, kondisi tangannya pun masih terborgol. Petugas yang ikut mengantar, sempat melihat Saudari Gita sudah dijemput oleh dua motor jenis sport. Sampai malam ini kami belum menemukan tanda-tanda jejak Saudari Gita" tutur Pak Polisi.
"Ya Allah... kenapa memilih kabur ya.. ga habis pikir" ucap Izza lirih sambil menutup mulutnya.
Rama mengusap bahunya Izza pelan. Memberikan isyarat agar Izza bisa diajak kerjasama oleh Pihak Kepolisian dan bisa menjawab pertanyaan dengan tenang.
"Maaf jika kami mengganggu malam ini, kami tidak tau jika Ibu Izza menikah hari ini" kata Pak Polisi.
"Gapapa Pak.. apa yang bisa saya bantu untuk menemukan Mba Gita?" tanya Izza.
"Apa Saudari Gita pernah bercerita jika dia akan melarikan diri? atau ada yang mengancam hingga ingin melarikan diri dari penjara?" ujar Pak Polisi.
"Tidak pernah sama sekali Pak. Selama saya berkunjung, hanya bercerita tentang kondisi didalam penjara dan mengenai proses hukum yang akan dijalankan. Beliau memang mengeluh kondisi kamar, tapi sekedar panas dan tidak empuk kasurnya" jawab Izza.
"Apa Ibu Izza tau kira-kira dimana keberadaan Saudari Gita?" tanya Pak Polisi.
"Saya tidak pernah tau siapa kawan-kawannya Pak. Tidak pernah diperkenalkan baik secara langsung ataupun sekedar cerita siapa namanya. Mba Gita sangat tertutup. Selama hampir lima tahun tinggal sama Mba Gita, saya juga tidak pernah diperkenalkan dengan saudaranya. Keluarga kami ya hanya penghuni Panti Asuhan serta pengurusnya saja. Mba Gita hidup seorang diri tanpa keluarga" papar Izza.
"Baik Bu Izza, jika ada informasi lebih lanjut tentang keberadaan Saudari Gita, mohon untuk berkoordinasi dengan kami" pinta Pak Polisi.
"Baik Pak" jawab Izza.
Petugas kepolisian mohon pamit. Pak Isam, Mas Haidar, Rama dan Izza masih duduk di Ballroom.
Izza langsung menangis, menutup wajahnya. Semua rasa menjadi satu. Marah, kesal, kecewa, kasihan dan khawatir terhadap keselamatan Mba Gita.
Rama mengusap kepalanya Izza.
"Kita istirahat dulu ya" ajak Rama.
Mas Haidar dan Pak Isam mengangguk.
"Istirahat dulu Za ... tenangkan pikiran, kita berdo'a semoga pihak kepolisian bisa menemukan Gita" saran Pak Isam.
.
Rama menggandeng Izza menuju kamar mereka. Begitu keluar lift, ketemu sama Ibu Panti Asuhan yang kebetulan pas buka pintu kamar.
"Za... kenapa?" tanya Ibu Panti Asuhan kaget karena melihat wajah Izza yang sangat sedih.
Tanpa kata-kata, Izza langsung memeluk Ibu Panti Asuhan.
"Za .. jangan nangis di koridor kaya gini, ga enak dilihat orang, lagi pula kasian Ibu kan cape hari ini. Kamu punya saya sekarang buat tempat mengadu" kata Rama.
"Benar itu Za.. kamu sudah punya suami, segala keluh, kesah, resah dan gelisah bisa kamu bicarakan sama Mas Rama. Dia cukup dewasa dan banyak pengalamannya" ucap Ibu Panti Asuhan.
"Udah yuk.. kita masuk ke kamar. Mau nangis terguling-guling juga gapapa. Kalo disini banyak orang liat, nanti dikiranya kamu kena kawin paksa" lanjut Rama.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Ibu Panti Asuhan jadi khawatir.
"Mba Gita kabur" jawab Rama agak berbisik.
"Kok bisa?" ucap Ibu Panti Asuhan setengah berbisik.
"Saya mohon ijin masuk ke kamar untuk menenangkan Izza ya Bu. Besok biar Izza yang menjelaskan semua. Ibu juga istirahat aja, ga usah dibawa pikiran, semua sudah ditangani oleh pihak yang berwajib" jelas Rama.
"Iya .." jawab Ibu Panti Asuhan.
"Ibu tadi rencana keluar mau apa ya?" tanya Rama.
"Tadinya mau ke front office, AC di kamar Ibu, remotenya rusak atau habis batere Ibu ga tau. Soalnya ga bisa diatur, Ibu jadi kedinginan" adu Ibu Panti Asuhan.
"Oh ya... coba saya liat dulu kesana. Jika memang rusak akan saya laporkan ke bagian maintenance" kata Rama yang masuk dulu ke kamarnya untuk mengambil HP yang satunya lagi dan remote AC kamarnya.
"Za... ayo ikut ke kamar Ibu" ajak Rama.
Ibu jalan didepan, Rama kembali menggandeng tangan Izza menuju ujung koridor, letak kamar Ibu berada. Izza berjalan agak gontai, rasanya udah ga ada semangat dalam hidupnya. Hari yang seharusnya bisa membuat bahagia, harus luluh lantak karena urusan Mba Gita.
.
Rama mengecek AC dan sepertinya memang remotenya rusak, udah diganti baterai sama stok yang tersedia dilaci kamar, tetap tidak bisa. Ternyata Rama baru sadar kalo remote AC kamar yang ditempati berbeda dengan merek AC di kamarnya Ibu Panti Asuhan.
Rama menarik kursi dan naik diatasnya untuk mengecek AC dan melihat tanggal perawatan pada kertas yang tertempel di belakang AC.
Kemudian setelah itu, Rama turun dari kursi dan menyalakan HP nya. HP yang biasa dia gunakan karena kebiasaannya suka sembarangan meletakkan remote apapun, fasilitas di HP ini memungkinkan bisa dipergunakan sebagai remote karena sudah dia setting. Akhirnya suhu AC bisa diatur. Ibu Panti Asuhan meminta di angka dua puluh enam derajat saja biar ga terlalu dingin.
"Makasih ya" ucap Ibu Panti Asuhan.
"HPnya saya tinggal disini ya Bu, nanti kalo Ibu mau menaikkan atau menurunkan suhunya untuk sementara pake HP saya aja dulu ya. Kasian bagian maintenancenya udah malam begini kalo dipanggil" ujar Rama.
"Ga usah Mas Rama, ini kan HPnya Mas Rama, pasti HP penting, nanti orang susah untuk hubungi Mas Rama" kata Ibu Panti Asuhan.
"Ini bukan HP utama kok Bu, ga ada yang telpon ke nomer ini. HP cuma saya pakai buat pengganti remote, maklum .. saya suka ketelingsut remote apapun" jelas Rama sambil meletakkan HPnya di meja.
"Ya Mas... sekali lagi terima kasih" jawab Ibu Panti Asuhan.
.
Rama dan Izza balik ke kamar mereka, sekarang giliran Izza yang megang tangan Rama karena suasana koridor memang ditemaramkan kalo malam. Berasa iseng aja jalan ditempat lurus seperti lorong. Izza memang tidak suka sama suasana temaram atau gelap. Karena dulu, jika Bapaknya marah ke Ibunya, Ibu selalu mematikan lampu agar anak-anak tidak lihat. Tapi suara rintihan menahan, tangisan serta bunyi tamparan serta bantingan benda pasti terdengar.
"Kenapa? Takut jalan di koridor ini? ga ada apa-apa kok" kata Rama.
"Iya .. Ini kenapa koridor lampunya temaram gini sih Kak, kan seram jadinya" jawab Izza.
"Ini memang sudah disetting seperti itu, per jam sebelas malam secara otomatis lampu akan menyala temaram, untuk hemat energi. Toh ga gelap gulita kan" jelas Rama. "Ehem...ehem.." suara dari belakang mengagetkan Izza yang langsung memeluk Rama dari samping.
Rama menengok kearah sumber suara.
"Papi... kirain siapa, kok masih diluar?" tanya Rama saat melihat Pak Isam.
"Ga bisa tidur .. nelpon ke Ujang atau Alex ga ada yang diangkat, makanya mau ke kamar Mas Haidar aja" kata Pak Isam.
"Pasti mau ajak main catur" kata Rama agak becanda.
"Iya... " jawab Pak Isam singkat.
"Cape kali Pi Mang Ujang sama Alex, Papi nonton TV aja, siapa tau nanti ngantuk kan bisa langsung tidur" usul Rama.
"Kalian abis darimana malah keluyuran, tadi katanya mau istirahat" tanya Pak Isam.
"AC di kamar Ibu remotenya rusak, jadinya liatin dulu, kasian Ibu kedinginan" jelas Izza.
"Ya udah sana.. istirahat deh. Kamu juga Ram, semalam baru diinfus, rehat total lah. Toh besok masih tanggal merah, ga usah mikirin kerjaan. Bersenang-senang sama istri aja buat menghilangkan penat" saran Pak Isam.
"Ya udah Pi... kami masuk kamar dulu" pamit Rama.
"Ya .." jawab Pak Isam sambil tersenyum lebar.