HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 103, I was beside myself



Rama menghilang tanpa kabar dari hari Rabu, hanya bilang ke Papinya bahwa dia ingin menyepi. Ke Farida pun sudah berkoordinasi kalo dia hanya bisa di chat dan dijawab ketika bisa memegang HP. Semua pekerjaan bisa didiskusikan dengan Pak Isam jika bersifat urgent.


Pak Isam paham akan kondisi tekanan yang sedang dialami oleh sang putra bungsu. Makanya beliau mengijinkan agar Rama bisa kembali fresh setelah merenung.


Ternyata Rama ke Tasikmalaya, menginap di Pesantren milik Abah Ikin. Mencari ketenangan yang benar-benar bisa membuatnya sedikit mengurai isi otaknya yang sudah kusut.


.


"Begitulah Bah .. rasanya otak sudah terlalu penuh, hati ga tenang dan pemikiran jadi ga matang. Semua saya putuskan tanpa berpikir panjang" keluh Rama ke Abah Ikin setelah makan malam di Pesantren.


Rama menceritakan secara singkat apa yang menjadi bebannya selama ini. Tanpa ada yang dia tutupi, tujuannya adalah mencari solusi. Sebenarnya bisa saja dia ceritakan hal ini ke Pak Isam, tapi sebagai seorang Ayah pastinya akan ada keberpihakan, makanya Rama mencari orang luar agar penilaiannya lebih fair.


Abah Ikin menyediakan waktunya selama sepuluh menit khusus untuk Rama. Setelah itu beliau akan menerima tamu lainnya. Mereka berbincang di pinggiran kolam ikan yang ada di lingkungan Pesantren.


"Pernah lihat ikan di kolam yang jernih dan ikannya sehat? Berenang kesana kemari dengan lincahnya seakan tanpa ada beban dan masalah. Pernah terbesit dalam pikiran ga kalo ikan itu sangat yakin akan kehidupannya?" tanya Abah Ikin.


"Ga terlalu perhatikan sampai seperti itu. Selain saya ga suka binatang, saya memang seperti kurang memperhatikan sekitar karena fokus pada diri sendiri" jawab Rama.


"Ikan itu terus bergerak, padahal belum tentu disitu ada makanan, namun ikan itu tetap hidup dan tetap segar kan? Sekarang pandang kolam ikan yang ada dihadapan kamu, coba fokus perhatikan dan telaah lebih dalam lagi. Abah tau kamu pintar untuk tau apa yang Abah maksud. Besok ba'da Dhuha, kita ketemu lagi disini. Abah mau tau apa yang kamu dapatkan dari kolam ikan ini" ucap Abah Ikin sambil menepuk pundaknya Rama dan meninggalkan Rama seorang diri disana.


.


"Udah otak rasanya kusut, disuruh liat kolam ikan? dari Jakarta nyetir jauh-jauh, mana nyetir sendiri pula, dengan tujuan kesini buat nyari solusi tapi cuma begini yang didapat? Harus nyebur gitu ke kolam ikan biar adem? terus ikut renang sama ikan biar badan terasa segar .. ini solusi apa sih sebenarnya? Abah kan tinggal bilang aja ini .. ini.. ini... kenapa belajar dari kolam ikan sih?" oceh Rama seorang diri, kondisinya malah tambah kesal.


.


Rama terus duduk memandangi ikan-ikan yang masih saja bergerak bolak balik di kolam ikan yang jernih dan dihiasi temaram lampu yang indah. Hingga satu jam pun ga ada jawaban yang bisa ia dapatkan.


Angin malam sudah mulai terasa dingin, walaupun dia sudah memakai jaket gunungnya, tetap saja rasa dingin menusuk kulitnya.


Malam ini bukan bulan purnama, tapi cahaya bulan mampu menerangi tempat ia berpijak.


Rama mendekati kolam ikan, memasukkan tangannya kedalam kolam dan ikan-ikan menghampiri seolah melihat ada makanan. Rama spontan menarik tangannya.


.


Lamat-lamat Rama mendengar beberapa orang berteriak marah-marah, ada yang menjerit kesakitan bahkan menangis penuh penyesalan. Hal seperti itu sudah lumrah terjadi disini. Karena memang kebanyakan santri disini mengalami permasalahan kenakalan remaja.


"Untung dulu jaman masih suka tawuran sama trek-trekan, Papi belum kenal tempat ini. Kalo udah kenal kayanya bisa kaya mereka yang lagi teriak-teriak malam ini" gumam Rama sambil geleng-geleng kepalanya.


Terkadang ketika mengingat masa lalu, Rama suka tertawa sendiri, menertawakan kebodohannya menghabiskan waktu dengan percuma bahkan jadi banyak musuh dimana pun berada.


Pernah ada tamu Hotel yang mengenalinya sebagai jagoan tangan kosong saat tawuran, ternyata tamu tersebut adalah lawannya dulu.


Semua orang bisa berubah, tapi perubahan Rama sangat cepat dan banyak yang ga percaya kalo si anak yang selalu membantah perintah orang tua sudah berubah menjadi anak yang mengambil tanggung jawab perusahaan agar Pak Isam bisa menikmati masa tuanya tanpa mikirin pekerjaan.


Pada dasarnya penanggulangan dan rehabilitasi narkoba bukanlah spesialisasi sebuah Pesantren. Bukan pula tujuan utama sebuah Pesantren didirikan. Sebagaimana diketahui tujuan utama Pesantren didirikan adalah memberikan pendidikan yang holistik dan komprehensif pada anak didik. Banyak hal yang dipelajari seperti pendidikan ilmu agama, ilmu umum dan budi pekerti luhur (akhlakul karimah).


Tempat rehabilitasi narkoba dan anak nakal bukan merupakan inovasi baru dalam dunia Pesantren karena pada dasarnya mendidik adalah salah satu bagian dari tujuan pendidikan holistik Pesantren. Selain itu, Pesantren narkoba tidaklah hanya menjadi Pesantren tempat rehabilitasi para pecandu tapi juga mengajarkan berbagai ilmu agama dan umum. Didalamnya terdapat berbagai program meliputi pendidikan formal, madrasah diniyah, pengajian kitab dan Al Qur'an tartil seperti di Pesantren yang lain.


🌷


"Rama ini kenapa sih? Nelpon dari hari Rabu ga diangkat-angkat, chat ga dibalas, sampe chat ke media sosialnya pun ga ada jawaban. Kata Farida cuti dadakan. Ada apa sampe dia perlu cuti dadakan? Apa ini gara-gara kehadiran Izza di rumah Papi Isam jadinya dia harus menghindar? tapi waktu kemarin diantar makanan sama Izza keliatannya ga ada masalah. Please Ramaaa.. dijawab dong.. ini penting banget kan... urusan bisnis" kata Mba Anindya didalam kamarnya yang mewah.


Sudah sejak kemarin, Rama sudah ga bisa dihubungi oleh siapapun. Anindya sudah menanyakan Rama ke Farida, Pak Isam bahkan pengasuhnya Sachi, tapi semua tidak ada yang tau keberadaannya.


"Apa coba tanya ke Izza ya? mungkin dia tau kemana Rama sekarang ini. Rama kan pernah cerita kalo sudah melamar Izza sampe ikut ke Kudus, berarti Rama memang udah serius mau nikah sama Izza" ide Mba Anindya.


Mba Anindya mengambil HP nya dan mencari nomernya Izza. Kemudian menghubungi.


.


"Saya juga ga tau Mba" jawab Izza setelah Mba Anindya menanyakan keberadaan Rama.


"Ga pernah dia kaya gini. Memang ada apa sih Za?" tanya Mba Anindya penasaran.


"Saya juga ga tau Mba. Udah dua hari kan ga pulang ke rumah. Pak Isam bilang kalo Kak Rama ada di Audah Hotel, jadi saya taunya begitu, baru tau hari ini kalo Kak Rama putus komunikasi" jawab Izza.


"Di Audah Hotel cuma sehari terus menghilang. Mang Ujang tau ga dia dimana?" kata Mba Anindya.


"Mang Ujang justru udah ga ketemu sejak Kak Rama pindah sementara ke Audah Hotel. Kak Rama bawa mobil sendiri, ga minta disupirin sama Mang Ujang" jelas Izza.


"Ada yang ga beres nih dia. Kamu benar kan ga nambah beban pikirannya?" selidik Mba Anindya.


"Ga Mba .. tapi kalo Mba ada urusan bisnis yang penting, bisa hubungi Pak Isam. Tadi pagi Mba Farida juga datang kesini berbincang sama Pak Isam" saran Izza.


"Ya udah deh.. kalo kamu dengar kabar tentang Rama, tolong kabarin Mba ya" pinta Mba Anindya.


"Insyaa Allah Mba" jawab Izza.


💐


Do'akan bisa mencapai target episode yang diinginkan 🙏. Sekali lagi terima kasih udah selalu mengikuti karya saya 🤍.


💐


Rama masih memandang kearah kolam ikan. Mulai dia perhatikan tiap sudut, mencari sesuatu yang bisa dia resapi sebagai pembelajaran hidup.


Dari kejauhan, Abah Ikin dan anaknya memperhatikan Rama yang kadang duduk di kursi, ga lama kemudian berjongkok didepan kolam ikan, terus berjalan mengitari kolam.


"Kenapa ga diajak ngobrol aja Bah .. kayanya Aa' Rama memang agak depresi, tampangnya ga kaya biasa. Banyak beban sepertinya" saran anaknya Abah Ikin.


"Dia sudah tau jawabannya, hanya mencoba menyangkal. Dia tengah menunjukkan kekuatan untuk menutupi segala kelemahan. Biarkan dia bertenang, mungkin masa sekarang.. itu jalan yang paling baik. Dia bukan orang yang mudah depresi, hanya lelah sebentar dan akan bangkit lagi. Abah percaya dia punya solusi terhadap semua masalah yang sedang dihadapi" lanjut Abah Ikin.


"Kenapa harus liatin kolam ikan? memang ga bisa duduk di pendopo sambil membaca Al Qur'an atau berdzikir agar tenang" ucap anaknya Abah Ikin.


"Bisa saja dalam diamnya dia sedang mengagumi ciptaan Illahi dan belajar menerima takdir dirinya sendiri. Jangan mengecilkan sekedar kolam ikan, banyak yang bisa diambil pelajaran disana" nasehat Abah Ikin.


🌺


Sachi menangis didalam kamarnya, sudah dibujuk sama Mba Nur, Mas Haidar bahkan Pak Isam, semua ga mempan.


Izza yang baru pulang dari tempat fotocopy langsung diminta tolong sama Mba Nur untuk membantu membujuk Sachi.


Izza masuk ke kamar, Pak Isam dan Mas Haidar keluar dari kamar.


"Kenapa nangis?" tanya Izza lembut.


Sachi memeluk Izza.


"Ayah ga adaaa... " ucap Sachi ditengah nangisnya.


"Ga ada gimana? Ayah Rama kenapa?" tanya Izza yang rada panik mendengar Sachi berkata itu.


"Maksudnya Sachi, Ayahnya ga bisa dihubungi Mba.. dari kemarin ga bisa ditelpon. Sesibuk-sibuknya Mas Rama, ga akan pernah lepas komunikasi sama Sachi" Mba Nur meluruskan maksud omongan Sachi.


"Ayah mungkin lagi kerja.." kata Izza coba menenangkan.


"Ayah kerja teruss.. huhuhu...." jawab Sachi mulai kesal.


"Sachi... dari pada kamu nangis, bagaimana kalo kita sholat? minta sama Allah agar Ayah bisa segera pulang" usul Izza.


"Ga mau ... Sachi ga mau .. Sachi maunya sama Ayah" mulai Sachi merajuk.


.


Mas Haidar sudah berdiri dan siap masuk kedalam kamar Sachi, tapi Pak Isam menahannya.


"Biarlah jadi urusan para wanita saja, Sachi cuma anak kecil, nanti juga bisa dibujuk" cegah Pak Isam.


"Rama juga parah ... kalo dia marah, mbok ya jangan bikin Sachi jadi ikut kena imbas rasa kesalnya dong. Katanya bertanggung jawab terhadap Sachi, mana buktinya?" Mas Haidar mulai emosi.


"Kamu menanyakan tanggung jawabnya? Coba bercermin Mas .. enam tahun dia korbankan waktu dan tenaga demi Nay dan Sachi .. dia ambil tanggung jawab kamu tanpa dia pikir bagaimana nasibnya kelak" omel Pak Isam.


"Karena dia suka sama Nay Pi .. bisa aja kan saat itu dia mencoba terus menerus bilang tentang Nay ke Mas biar ingat kembali .. tapi nyatanya ga ada tuh, dia ga pernah mengingatkan tentang Nay saat Mas terapi" kata Mas Haidar.


"Kata siapa dia ga mencoba? bahkan gara-gara hal itu, dia kena marah Papi dan Anin. Tamparan demi tamparan yang dia dapatkan, ga pernah menyurutkan langkahnya untuk tetap berdiri buat Nay dan Sachi. Sekarang hanya karena kamu mendapat video dan foto yang entah dikirim sama siapa, kamu tutup mata sama Rama? Kalo bukan karena dia, kamu ga akan pernah bertemu Sachi. Lagi pula, jika memang Rama punya rasa terhadap Nay ... apa itu salah? dia juga lelaki normal yang bisa jatuh cinta. Mau dia melakukan apapun terhadap Nay, toh dia tau konsekuensinya. Papi juga menyesal banyak memaksa dia. Pulang study langsung urus perusahaan.. belum lagi urusan yang lainnya. Kamu kan ga mau pegang Abrisam Group.. makanya dia ambil tanggung jawab itu. Apa salah dia menumpahkan kasih sayangnya ke Nay dan Sachi? ingat juga Mas .. dia membesar tanpa perhatian dari Papi dan keluarga besar. Memang dia sempat berurusan sama pihak berwajib, tapi sekedar tawuran dan kebut-kebutan liar" papar Pak Isam.


"Papi selalu menganak emaskan dia ... Papi ga adil" ucap Mas Haidar sambil meninggalkan Pak Isam.


.


Izza yang mendengar suara Mas Haidar, merasa ga enak hati.


"Ya Allah .. apa karena kehadiranku, keluarga ini jadi penuh konflik? Kemana langkah ini harus kuarahkan ya Allah. PadaMu lah kupinta segalanya ya Rabb..." ucap Izza dalam hatinya.


Sachi tampak udah lelah karena hampir satu jam menangis. Izza meminta Sachi untuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan menggosok gigi kemudian ganti baju.


"Aunty .. tidur disini ya.." harap Sachi.


"Gimana kalo kita tidur di kamar bawah, disini kan kecil kasurnya. Kalo dibawah kita bisa pelukan" usul Izza.


Sachi menyetujui dan mereka turun ke lantai bawah. Pak Isam dan Mba Nur mengikuti dari belakang.


🌺


Seusai kajian Dhuha, Rama pergi ke kolam ikan, sudah ada Abah Ikin menunggu disana.


"Semalam dapat apa disini?" tanya Abah Ikin to the point.


"Kolam ini jernih, beda sama kolam ikan yang pernah saya liat sekilas, biasanya kan kotor dan berlumut. Saya memang bukan ahli aquascape, tapi menurut pengamatan saya, sistem filterisasi kolam ini bagus. Teori yang saya coba cari semalam kalo sepertiga dari bagian total kolam adalah sebagai filter. Karena sistem tersebut, air yang akan dipompa kembali kedalam kolam sudah bersih" papar Rama serius.


Abah Ikin manggut-manggut.


"Terus apa pelajaran yang kamu bisa simpulkan dari filterisasi itu?" tanya Abah Ikin.


"Sekotor apapun air kolam ikan itu tetap bisa dibersihkan, hal ini agar kualitas air menjadi lebih baik untuk ikan. Entah kotor karena kotoran yang jatuh kedalam kolam ataupun dari sisa makanan yang kita kasih kedalam kolam serta kotoran dari ikan itu sendiri, semua bisa ada solusi dengan filter yang sudah dipasang" lanjut Rama.


Abah Ikin duduk berhadapan dengan Rama.


"Bisa jadi kotoran didalam hati kita, itu ada pengaruh dari luar diri kita, bisa juga dari dalam diri. Ikan bisa mati kalo filter airnya tidak bekerja. Begitu juga dengan kotoran dalam hati kita, hati akan mati jika kita tidak memfilternya, membersihkannya. Bagaimana caranya, semua panca indera kita bisa dijadikan filter. Sesuatu yang negatif dikontrol, difilter, diusahakan tidak masuk ke diri kita lebih dalam. Kalaupun ada yang masuk, di filter lagi dalam hati. Kita lakukan segala amal-amalan terbaik. Rukuk dan sujud itu jadi filter kesombongan dan kepongahan. Shaum sebagai filter ketamakan. Zakat dan infaq sebagai filter yang membersihkan harta kita. Jadi sekarang .. bersihkan dulu hati kamu" ungkap Abah Ikin sambil berlalu untuk beristirahat.


Rama masih terdiam, kembali memandang kolam ikan didepannya. Jawaban Abah Ikin memang sangat dia pahami, hanya dia bingung memulai dari mana dia harus membersihkan hatinya.