HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 209, Boys will be boys



Selepas makan, Rama mandi, setelah itu turun ke bawah lagi karena sudah ditunggu oleh Pak Isam.


Pak Isam sedang menggoda Zian dan Sachi. Kakek dan cucunya tertawa bersama. Zian memang mudah tertawa jika ada yang tertawa, Sachi pun gemas hingga mencium Zian berkali-kali hingga Zian kesal. Izza sedang merapihkan playmatenya Zian.


Rama mengambil Zian dari pangkuan Pak Isam kemudian memangku Zian, Sachi ikutan menggelayut ditangannya Rama. Ketiganya ketawa bersama. Zian memang kalo sudah melihat Rama pasti ga mau sama yang lain, makanya setiap Rama berangkat kerja, Zian ga pernah ikut mengantar sampai depan rumah. Pernah seperti itu, walhasil nangis ngamuk dan susah untuk diamnya.


"Sachi.. sudah jam delapan, tidur ya, besok kan sekolah" ingat Izza.


"Sachi mau tidur sama ade Zian ya?" pinta Sachi.


"Ya... naik dulu, nanti Ayah nyusul, mau ngobrol sebentar disini" jawab Rama.


Izza, Sachi dan Zian menuju kamar. Rama masih ada di ruang keluarga bersama Pak Isam.


"Ram.. Kantor gimana?" tanya Pak Isam.


"Aman terkendali Pi" jawab Rama biasa aja.


"Papi dengar ada keramaian tadi pagi disana" kata Pak Isam.


"Manager HRD berulah Pi.. tapi sudah konsultasi kebagian legal, kita bisa memberhentikan tanpa perlu bayar pesangon dan tidak mendapatkan referensi kerja selama bekerja di Abrisam Group" lapor Rama.


"Apa bijak seperti itu Ram? dia kan sudah mengabdikan dirinya di kita" saran Pak Isam.


"Pi.. please .. ini sudah keputusan Rama. Untuk gaji bulan ini akan full dibayarkan meskipun baru berjalan sepuluh hari, Rama juga akan memberikan tanda terima kasih berupa tiga kali gaji. Sudah semua diurus oleh bagian legal, jadi jika didepannya berulah untuk menuntut kita, sudah ada landasan hukum yang jelas Pi" terang Rama.


"Oke.. Papi hormati keputusan kamu sebagai pemilik sekaligus pimpinan disana, tapi waspada Ram.. keputusan ini pasti akan ada dampaknya buat kamu secara pribadi dan perusahaan. Sebagai pimpinan perusahaan kita memang dituntut bisa tampil sempurna baik dalam sikap maupun keputusan. Setiap permasalahan harus bisa kita jadikan pelajaran berharga" saran Pak Isam.


"Iya Pi.." jawab Rama.


Izza turun menghampiri Ayah dan anak yang sedang berbincang.


"Anak-anak sudah tidur? kok ditinggal?" tanya Rama.


"Udah tidur, cape kali ya main dari siang, sama-sama ga tidur siang" jawab Izza sambil duduk disebelahnya Rama.


Rama langsung tiduran dipangkuannya Izza. Izza sudah paham kalo seperti ini, Rama sedang lelah dan minta dipijat kepalanya.


"Ram.. Papi mau tanya sama kamu. Benar ga ada masalah yang bikin kamu jadi stress?" tanya Pak Isam basa basi.


"Ada apa ya Pi.. dari tadi pertanyaan Papi berkutatnya itu itu aja. Rama sehat lahir batin Pi" jawab Rama.


"Terus kenapa kamu minta Alex jadi perempuan? kamu ga ada disorientasi menyimpang kan Ram? masih suka sama perempuan beneran?" cecar Pak Isam.


"Pi.. Zian itu sebagai bukti kalo Rama sukanya sama perempuan. Alhamdulillah normal sampai sekarang.. ya kan De? siapa yang minta Alex jadi perempuan Pi? ini gosip apa lagi?" ucap Rama otomatis langsung duduk.


"Ujang lapor ke Papi kalo kamu minta Alex jadi perempuan. Papi khawatir kamu punya daya khayal yang nggak-nggak. Atau kamu kerasukan makhluk halus ga ya Ram? perlu di ruqyah sama Abah Ikin?" tukas Pak Isam hati-hati.


Rama mengambil HP nya.


"Mang ... masuk ke ruang keluarga.. SEKARANG!!!!" perintah Rama kembali kesal.


Selang dua menit kemudian, Mang Ujang sudah ada di ruang keluarga sambil ngos-ngosan karena lari dari kamar. Dia tau kalo Rama marah, nada bicaranya ga enak didengar.


"Ada apa Mas Boss? kita mau jalan lagi? baru juga pulang.. belum selonjoran ini Mamang" tanya Mang Ujang.


"Duduk" pinta Rama.


Mang Ujang duduk di sofa tidak jauh dari Pak Isam.


"Mamang bilang apa sama Papi?" selidik Rama.


"Yang tadi Mamang tanya ke Mas Boss, kenapa minta Alex jadi Mba Farida. Terus Mamang bilang di ruqyah aja biar ga ada gangguan jin atau apa gitu" jujur Mang Ujang berkata.


"Udah tau tempat ruqyah dimana?" tanya Rama kepo.


"Di Pesantren Abah aja Mas Boss, nanti Mamang lapor ke Abah. Sering kok ada yang diruqyah kesana. Tenang aja nanti Mamang yang anterin, ga sakit kok Mas Boss. Cuma dido'akan aja. Sekarang tinggal Mas Boss maunya kapan datang kesana, biar disiapin semuanya. Mamang kan sayang sama Mas Boss.. mau Mas Boss kembali normal seperti dulu lagi. Kalo ga ada gangguan jin juga gapapa Mas Boss, siapa tau Mas Boss stress dan butuh curhat sama Abah. Kadang di tempat seperti itu Mas Boss menemukan jawaban atas banyak pertanyaan kan" ujar Mang Ujang sambil senyum sumringah.


"Baguslah tuh ... kalo orang Melayu bilangnya elok sangat idenya Mang Ujang yang satu ini" ucap Rama gemes.


"Tuh kan Boss Papi.. Mas Boss sudah sadar ada gangguan dalam tubuhnya, sampe bilang elok sangat mau di ruqyah" sambut Mang Ujang dengan sombongnya.


Pak Isam merasa lega karena Rama ga tersulut emosi menghadapi Mang Ujang.


"Benar memang perlu diruqyah.. tapi buat Mamang .. bukan saya. Makanya jangan kebanyakan tidur di Musholla. Banyakin dzikir .." oceh Rama.


"Nah ini nih.. tanda-tanda orang kemasukan jin lagi ya begini .. marah aja sama ngomongnya ngelantur. Mas Boss yang kena gangguan, saya yang diminta dzikir.. sini Mamang bacain Al Fatihah ke jidatnya, siapa tau bisa keluar jin pengganggunya" inisiatif Mang Ujang sambil berjalan menuju Rama.


Begitu tangan Mang Ujang mau menempel didahinya Rama, dengan gerakan cepat, Rama menepis tangan Mang Ujang dan membuat Mang Ujang terduduk didepannya Rama. Tangan Rama memegang tangannya Mang Ujang dengan kencang.


"Ampun.. ampun.. setan jahat enyahlahhhh" teriak Mang Ujang.


Orang rumah yang mendengar Mang Ujang teriak langsung menghampiri.


"Setan di badan Mang Ujang yang harusnya pergi. Yang perlu diruqyah tuh Mamang. Berkali-kali sudah saya bilang, kalo punya uang beli korek kuping, atau kalo perlu nanti konsultasi ke dokter THT aja. Kalo ga paham ya belajar, jangan pake ilmu kira-kira.. paham????" omel Rama.


"Kak.. udah Kak.. lepasin.. Mang Ujang kesakitan itu" Izza coba menyabarkan Rama.


Alex dan security baru masuk ke rumah, melihat tangan Mang Ujang diplintir sama Rama. Tapi mereka tidak berani bertindak apapun.


"Mulut itu dijaga, jangan bikin gosip yang aneh-aneh. Siapa yang bilang saya minta Alex jadi perempuan?" tanya Rama kesal.


Alex tentu saja kaget, namanya dibawa-bawa dalam permasalahan ini.


Rama melepaskan tangannya, Mang Ujang langsung duduk di lantai sambil meringis kesakitan.


"Lex.. jelasin nih sama orang yang sok tau ini. Dari tadi dibilangin ga ngerti-ngerti juga" pinta Rama sambil naik tangga menuju kamarnya, Izza buru-buru menyusul Rama.


.


"Jadi ceritanya tadi kan saya ngantuk berat, belum bisa mencerna kalimat Boss Rama dengan baik. Saya bilang ke Mang Ujang kalo Boss minta saya jadi Mba Farida, bukan jadi wanita tapi jadi sekretarisnya" buka Alex.


Pak Isam menahan tawa.


"Mang Ujang aja yang daya khayalnya ketinggian, belum jelas duduk masalahnya sudah lapor kemana-kemana, ya pasti Boss emosi. Hari ini Boss lagi banyak permasalahan, jangan ditambah sama ocehan Mang Ujang segala Boss kerasukan jin. Ada juga otaknya Mang Ujang kali udah jadi sarangnya setan" lanjut Alex.


Akhirnya semua tertawa karena tidak mampu menahan tawa lagi.


"Mamang kupingnya masih normal kan?" tanya Alex.


"Ya normal lah.. jadi Mas Boss bukannya kerasukan? terus masih normal suka sama perempuan tulen?" jawab Mang Ujang.


"Jang.. anak saya normal, sukanya sama perempuan, buktinya ada Zian sekarang. Kamu juga tau bagaimana mesranya Rama ke Izza, masa kamu bilang dia disorientasi menyimpang" bela Pak Isam.


"Waduh.. Mamang salah tanggap dong ya?" tanya Mang Ujang.


"Bukan salah persepsi aja Mang.. salah ucap, salah kasih saran, salah sudah menduga Boss itu ga normal dan kerasukan jin" papar Alex.


"Ngamuk deh Mas Boss.. gawat nih.. Mamang bisa diturunin jabatan jadi supir kantor lagi nanti. Kan kalo sekarang jabatannya mentereng.. drivernya Big Boss" kata Mang Ujang ketakutan.


"Tau takut.. masih juga berani-berani sama Boss.. asal Mamang tau ya, jaman masih sekolah, biasa gebukin orang sampe babak belur loh. Yang tadi mah belum apa-apa itu, saya aja pernah kena tonjok Boss, sakitnya ga hilang-hilang sampai tiga hari" cerita Alex.


.


"Sabar ya Kak.. kita kan tau Mang Ujang seperti apa. Ga usah dibawa emosi kaya gini" rayu Izza.


Izza memeluk Rama dari belakang saat Rama memandang kearah luar dari jendela kacanya.


"Cape juga lama-lama menghadapi Mang Ujang. Sudah empat tahun menahan rasa sabar, tapi ga ada perubahan dari Mang Ujang. Semua orang yang Kakak kasih saran, banyak yang sudah berubah. Sama Mang Ujang rasanya gagal banget mendidik dia" kata Rama.


Izza membalikkan tubuhnya Rama, kemudian mendekapnya dari arah depan.


"Memang tempat ternyaman itu dalam pelukan suami yang palinggggg hebat" rayu Rama.


"Mau apa sih sampe merayu gini?" tembak Rama.


"Emang manja sama suami sendiri ga boleh? boleh dong" tanya Izza bermanja.


"Kakak tau kamu seperti apa De.. selama pernikahan kita, bisa dihitung jari untuk kamu mulai berinisiatif duluan. But sorry.. malam ini Kakak sedang tidak ingin bercinta" jawab Rama dengan dingin.


"Siapa yang ngajakin bercinta Kak.. cuma mau memeluk aja, melepaskan kepenatan.. it's a long long day .." ucap Izza dengan nada agak gemes.


"Yaaa.. it's a long long day..." kata Rama.


Rama melepaskan pelukannya Izza dan duduk di sofa, Izza mengikuti duduk disebelahnya Rama.


"Kak.. mau berbagi cerita?" tanya Izza.


"Ga ada" jawab Rama.


"Bener nih ga ada?" lanjut Izza.


"Kamu pasti cape kan jaga Zian seharian. Sekarang tidur aja ya, besok Kakak berangkat pagi lagi. Tolong sarapannya dibekalkan aja. Kalo bisa nasi ya, biar kenyang dan kuat menghadapi kenyataan" ujar Rama.


Izza berjalan menuju tempat tidur, sudah ada Zian dan Sachi tertidur pulas.


"De... besok bisa minta antar supirnya Papi atau supirnya Mas Haidar untuk ke makam Mba Gita. Atau sekalian aja selepas antar Sachi sekolah. Besok Alex sudah mulai ngantor di Abrisam Group jadi ga bisa ngawal kamu lagi" kata Rama.


"Bener nih boleh?" tanya Izza sumringah.


"Iya.. tadi selepas Maghrib ada pengajian kan disini? Kakak minta Maryam adakan selama seminggu. Di Pesantren Abah Ikin juga diadakan do'a bersama selama seminggu. Maaf ya kalo Kakak belum bisa ikut gabung berdo'a bersama" papar Rama.


"Alhamdulillah.. makasih ya Kak, kirain Kakak cuek banget sama kematian Mba Gita, ternyata Kakak perhatian banget. Dari mulai di Rumah Sakit hingga memikirkan pengajian untuk Mba Gita selama seminggu. Sekali lagi terima kasih ya" kata Izza terharu.


"De... My love for you is uncountable (cintaku padamu tak terhingga)" ucap Rama sambil mencium keningnya Izza kemudian keningnya Sachi dan Zian.


"Me too" jawab Izza.


Mendengar Izza berbisik, Rama malah menjadi tertarik.


"Katanya ga mau bercinta malam ini.." bisik Izza.


"Mana tahan ya mendengar kamu berbisik, mana pakai baju yang kancing atasnya kebuka lagi.." lanjut Rama.


"Jangan disini Kak.. anak-anak tidur" ujar Izza.


"Terus di ruang wardrobe lagi? di lantai beralaskan karpet? makanya anak-anak pindahin ke kamar Zian aja, biar kita bisa main di kasur ini" kata Rama.


"Kakkk... mereka kan mau tidur bareng kita" sahut Izza.


"Besok beli sofa bed De.. buat di ruang wardrobe. Sejak ada Zian dan Sachi tidur disini, pasti deh kita bercintanya di ruang wardrobe dan dilantai" keluh Rama.


"Ini jadi ga? kalo ga jadi ya mending Izza tidur nih" ucap Izza.


"Jadilah De.. udah diujung ini" sahut Rama sambil menarik tangan Izza masuk ke ruang wardrobe mereka.


💠


Pagi ini, Alex sudah berpakaian rapih lengkap dengan dasi. Dia naik ke mobil dan duduk disebelahnya Mang Ujang. Rama duduk dibangku belakang.


"Ceileh Lex.. segala pake dasi, udah kaya serbet .. kotak-kotak begitu. Mirip sama tatakan makannya Mboss Zian" ledek Mang Ujang.


"Namanya juga asisten pribadi Mang, jadi penampilan harus dijaga. Boss eh Pak Rama yang minta seperti ini" jawab Alex.


"Mas Boss aja ga pake dasi, lah asistennya malah pakai dasi. Nanti orang bisa kebalik antara Boss dan asistennya" timpal Mang Ujang lagi.


"Dari tampang aja udah keliatan Mang .. Boss eh Pak Rama ga pake dasi juga keliatan aura Boss nya" sahut Alex.


Rama tidak bersuara, dia melihat laptopnya sambil menikmati sarapan.


"Sarapan apa Mas Boss? kayanya Mba Boss bawain bekal udah kaya orang mau piknik, pake rantang susun gitu" iseng Mang Ujang becanda agar Rama bisa cair dengannya.


Rama masih diam tidak menjawab.


"Itu bukan rantang sembarang rantang Mang Ujang. Mba Izza beli disebuah Mall besar. Harga tempat bekalnya itu hampir tujuh ratus ribuan, karena diskon harga segitu. Kalo ga diskon bisa sejutaan. Jadi bisa menjaga makanan tetap hangat atau dingin dalam satu tempat, sudah lengkap untuk makanan berkuah serta tempat minum juga, teknologi dari Jepang. Bisa masuk microwave pula" jelas Alex seperti sales lunch box.


"Sok tau kamu Lex" ujar Mang Ujang.


"Kan saya ikut nganter pas belinya Mang" sahut Alex.


"Lex.. sudah dapat jadwal dari Farida?" potong Rama.


"Sudah Boss.. eh maaf.. Pak Rama" jawab Alex masih belum terbiasa memanggil Rama dengan sebutan Pak.


"Paling pagi jadwalnya apa?" tanya Rama.


"Jam sembilan meeting dengan bagian legal dan Manager HRD yang lama" jawab Alex.


"Oke" jawab Rama singkat.


Rama menerima telepon, hanya sebentar dan kembali melanjutkan makan.


"Makan apa sih Mas Boss? baunya sedap banget" kata Mang Ujang.


"Bikinan istrilah.. Izza itu jarang masak, tapi sekalinya masak pasti sedap" puji Rama.


"Nasi goreng daun jeruknya memang enak, tadi saya dibagi juga" lanjut Alex.


"Kok Mamang ga dibagi?" protes Mang Ujang.


"Pas aja saya lagi di dapur, Mba Izza siapin bekal, eh ada sisa, saya ditawarin" jelas Alex.


"Banyak ga Mas Boss dibawainnya?" tanya Mang Ujang.


"Minta bikinin sama Maryam, memangnya tadi ga sarapan?" tanya Rama.


"Sarapan mie instan pake nasi dan telur, maklum deh Maryam kan ada si kembar yang lagi aktif-aktifnya, jadi sarapan seadanya" curhat Mang Ujang.


"Kan di dapur juga masak buat semua orang sarapan. Memangnya ga ke dapur?" tanya Rama lagi.


"Kita aja jalan jam enam kurang.. yang masak juga baru tahap persiapan" jawab Mang Ujang.


"Ya udah.. nanti kalo ada tukang jualan sarapan, Mang Ujang minggir aja terus bungkus buat makan di kantor" perintah Rama.


"Emang Mas Boss paling paham sama perutnya Mamang. Jadi kita baikan lagi ya jadi bestie.. ga marah lagi kan Mas Boss? Mamang minta maaf ya.. ga diulangin lagi deh.. janji.." kata Mang Ujang memelas.


"Besok-besok kalo ada apa-apa, jangan langsung lapor ke orang rumah. Saya paling ga suka jadi beban pikiran keluarga. Coba kalo Mang Ujang ada diposisi saya, enak ga dibilang kerasukan jin dan punya disorientasi menyimpang yang aneh-aneh. Untung Izza ga berpikir saya bisa main sama cewe dan cowo. Mana sama Alex lagi.. ampun deh Manggg.. makanya kita perlu menjaga pendengaran dan lisan, biar ga jadi fitnah" saran Rama.


"Ya maaf Mas Boss, lagian Mas Boss dimintain penjelasan bukannya jelasin dengan baik dan benar, malah marah sama Mamang" ujar Mang Ujang.


"Bisa diam ga? jangan merusak selera makan saya ya" ingat Rama.


"Merusak selera makan? kayanya Boss eh Pak Rama makan nasi goreng daun jeruk, donat tabur gula, jus mangga, sosis bakar, sama satu slice pizza" ungkap Alex keceplosan.


"Ya Allah.. itu sarapan apa kesetanan Mas Boss.. abis semua tuh?" tanya Mang Ujang.


"Alhamdulillah habis.. " jawab Rama.


"Abis nyangkul Mas Boss? sampe segitu laparnya" ledek Mang Ujang.


"Kok tau.. biasalah.. pulang dari sholat subuh di Mesjid, liat istri sedang MengASIhi Zian kok jadi kepengen.. hahahha" ucap Rama dengan vulgar tanpa malu-malu.


"Pantes rambut dari sholat subuh sampe mau berangkat basah terus.. ternyata eh ternyata mandi dua kali.. hehehe" ledek Mang Ujang.


"Kaya ga gitu aja .. " sahut Rama.


"Emang ya, serangan fajar tuh asyik-asyik gimana gitu. Tapi saya pusing juga nih Mas Boss, anak-anak kan sudah setahunan, begitu bangun udah bisa jalan, pasti nyamperin kita. Kebayang ga lagi enak-enak terus harus di stop.. nanggung banget kan" kata Mang Ujang blak-blakan.


"Alex diam aja nih.. dia mah enak ya Mang.. belum ada gangguan" goda Rama iseng.


"Nah iya tuh.. dia mah enak.. bebas gangguan. Mau main tinggal main aja" ujar Mang Ujang.


"Apaan ga ada gangguan, Sachi kan bangun jam setengah enam. Tau sendiri anak kecil, belum manjanya, belum ngerengeknya.. pokoknya jam lima itu udah siap-siap kerja. Boro-boro bisa diajak serangan fajar" kata Alex dengan polosnya.


"Polos banget sih Lex.. belum pengalaman nih" goda Mang Ujang.


"Kok jadi katrok banget sih Lex.. kayanya dulu ga begini" kata Rama.


"Yang ini lawannya ga mau yang aneh-aneh, diminta berfantasi aja ga mau" keluh Alex.


"Lagian pake segala fantasi sih Lex.. nikmati aja wajah istri.. otak kita ya penuhi sama wajah istri. Pasti deh rasanya luar biasa" saran Rama.


"Ya namanya juga lelaki .. ada dong keinginan mau ini itu. Toh sama pasangan sah ini" ujar Alex.


"Bener Lex.. dulu waktu belum punya anak juga gitu, sekarang pokoknya susah deh. Makanya serangan fajar itu udah paling bener" sambung Mang Ujang.


"Katanya bagus buat program hamil tuh Lex .. serangan fajar itu kondisi kita kan lagi on tuh tiap pagi, istri juga sudah rehat cukup semalam" kata Rama.


"Jadi Zian hasil serangan fajar Mas Boss?" ledek Mang Ujang.


"Dia mah made in Subang kayanya, kan lagi sering bolak-balik sana, udara sejuk plus masih sepi, ya ga kenal pagi siang sore malam, ada kesempatan ya hajarlah.. hahaha" Rama blak-blakan.


"Saya minta cuti deh Pak Rama.. dua hari aja, mau ke Subang. Siapa tau dapat yang kaya Zian.. lucu banget anaknya" pinta Alex.


"Baru kerja udah minta cuti.. besok kalo weekend aja manfaatin. Jalan malam ke Subang, pagi kan sampe sana. Sama makan nanas yang dijual sepanjang jalan menuju penginapan Papi" saran Rama.


"Dijamin jadi nih? nanti saya makan nanas yang banyak nih kalo dijamin jadi" ujar Alex.


"Adanya moncor Lex kalo kebanyakan... nanti Mamang ajarin cara-cara yang pernah Mamang ajarin ke Mas Boss.. pasti tokcer deh. Mas Boss ga mau sih, jadi lama kan Mba Izza hamilnya" potong Mang Ujang.


"Jangan mau Lex.. cara sesat itu. Adanya kamu diamuk sama Mba Nur kalo melakukan hal yang disuruh Mang Ujang. Segala pake putih telur buat bermain sama istri .. gila ga tuh.. adanya disemutin" ucap Rama.


"Nah ... saya juga mikirnya gitu ... pasti ide Mang Ujang ga masuk akal" ujar Alex.