
Rama menyeruput minuman yang disajikan Izza, menikmati secara perlahan. Setelahnya diletakkan kembali cangkir keatas meja.
"Wow .. bisa becanda juga nih sang sekretaris bertangan besi, kirain cuma pandai jalanin perintah Papi aja" ledek Rama.
"I know you Mas Rama... Mba ga masalah kok kalo Mas punya sebuah rasa sama Izza, tapi jangan ulangi kebodohannya Mas Haidar ya. Cukup sudah masa lalu jadi pelajaran berharga. Jangan ada Nay lainnya yang menjadi korban. Untunglah nasib Sachi lebih baik dari Nay, dia bisa tinggal di rumah Pak Isam tanpa diganggu siapapun" saran Mba Gita.
"Apa sih Mba... i'm single and very happy. Mau menikmati masa muda dulu, ga mau cepet-cepet punya pasangan. Saya akan coba buat ingat nasehat Mba .. Mba kan udah saya anggap seperti Kakak sendiri" kata Rama.
"Good... karena kamu udah ditunggu setumpuk PR yang harus cepat dikerjakan buat perusahaan ini" harap Mba Gita.
"Papi datang jam berapa Mba? Semalam Papi ga pulang ke rumah" ucap Rama.
"Pak Isam lagi berlibur, beliau ga mau diganggu. Maaf ya ga bisa kasih tau sekarang Pak Isam ada dimana, sudah instruksi dari beliau" jelas Mba Gita.
"Bisa minta nomer yang bisa dihubungin ga Mba? Banyak hal yang mau dibicarakan" pinta Rama.
"Sorry ... beliau minta bertenang dulu selama seminggu tanpa siapapun menghubungi. Boleh Mba sedikit kasih kamu masukan?" tanya Mba Gita.
"Silahkan Mba.." jawab Rama.
"Pak Isam sangat mengharapkan kamu menjadi pimpinan perusahaan, menggantikan beliau. Itu impian terbesar dalam hidupnya sekarang ini. Bisa dibilang ini adalah waktu yang tepat buat kamu wujudkan mimpi Papi kamu. Kamu sayang kan sama Papi? Mas Haidar sudah asyik dengan kehidupannya sendiri dengan bisnisnya, asal cukup buat kebutuhan hidupnya dan berbagi dengan Sachi aja dia merasa cukup. Tapi Mas Haidar lupa kalo ada banyak dapur yang menggantungkan asanya di perusahaan ini. Mas Haidar terlalu larut dalam pemikiran mengetahui masa lalunya sendiri. Mba percaya kalo perusahaan ini bisa bangkit kembali ditangan kamu" ucap Mba Gita bijak.
"Saya cuma manusia biasa yang minim pengalaman Mba. Ga mungkin saya mengarungi lautan sedangkan baru belajar renang kan?" jawab Rama berfilosofi.
"Paling ga kamu bantu buat nyelamatin perusahaan biar ga ada PHK massal lagi. Cukup satu hotel aja yang menjadi korbannya" harap Mba Gita.
"Udah jam sembilan nih, saya mau cari sarapan dulu ya... lapar" ucap Rama mencoba mengelak dari pembicaraan serius dengan Mba Gita.
.
Rama menuju warung pesor depan kantor Papinya. Udah sepi disana, karena sudah masuk jam kerja. Rama melepaskan kemejanya dan dimasukkan kedalam tas. Sekarang dia hanya memakai kaos dan celana jeans-nya. Dia duduk di warung tenda sederhana. Mba Rani agak terpana liat sosok yang lumayan rada bening duduk di warungnya.
"Mau makan Mas?" sapa Mba Rani sopan.
"Boleh Mba.. saya pesan lonsay campurin kuah kacangnya dikit sama minumnya air mineral dingin ada?" pinta Rama.
"Ada Mas... Mas mau ngelamar kerja ya?" tanya Mba Rani kepo.
"Tau dari mana Mba kalo saya mau melamar kerja? liat deh penampilan saya aja santai kaya gini" jawab Rama becanda.
"Ya siapa tau Mas baru tes aja, sebenarnya perusahaan ini mah bonafid Mas, tapi sejak beberapa bulan ini mengalami penurunan dibeberapa usaha bisnisnya. Gara-gara anaknya yang punya itu berselingkuh dan bercerai sama istrinya yang notabene anak orang kaya juga" celoteh seorang Ibu paruh baya yang dari tadi duduk dibelakang Mba Rani.
"Emang ada pengaruhnya ya? kayanya banyak di ibukota ini yang Bossnya melakukan hal-hal yang kaya gitu, malah lebih parah dengan punya banyak wanita simpanan. Udah pernah denger dong para Boss ada skandal sama sekretaris bahkan artis bookingan, main judi hingga keluar negeri, setiap tikungan ada selingkuhannya, konsumsi miras dan narkoba bahkan praktek menggugurkan kandungan pun udah lazim ... maklumlah mereka kaum berduit" ucap Rama dengan cueknya sambil menikmati hidangan yang dia pesan.
"Wah Mas ini mantul deh gambarannya. Iya juga sih Mas, makanya karyawan bingung kok cuma gara-gara isu kaya gitu bisa semua usahanya langsung turun" sahut Mba Rani.
"Mba kan kenal sama karyawan disini ya?pada ngeluh ga sama kondisi perusahaan seperti sekarang ini?" Rama mencoba mengorek informasi.
"Ya sih Mas, banyak yang khawatir kalo begini terus bisa bangkrut dan mereka di PHK" adu Mba Rani.
"Mereka udah mulai nyari kerjaan ditempat lain belum Mba?" tanya Rama lagi.
"Ada yang udah nyari, ada yang belum. Biasanya yang belum karena faktor usia sih Mas, kalo masih dibawah tiga puluh tahun mah enak masih bisa kemana aja, kalo udah tiga puluh tahun keatas kan jarang ada lowongan" jawab Mba Rani.
"Karyawan disini sayang ga sih sama Bossnya atau perusahaan ini?" ucap Rama makin kepo.
"Yang kerja disitu semua udah kaya sodara Mas, apalagi Pak Isam tuh baik banget. Gaji ga pernah telat, bonus lancar... makanya karyawan pada sayang sama perusahaan" jelas ibunya Mba Rani.
"Gitu ya.." gumam Raffa.
"Saya baru ikut dagang sama orang tua disini Mas, jadi belum kenal banget sama para petinggi perusahaan ini, lagian mana mungkin mereka makan disini. Tapi kalo orang tua saya bilang dari dua puluh tahun yang lalu ga pernah ditegur atau diusir dagang didepan kantor, malah sekarang kaya gini disediain lahan memotong dikit taman kantor, kata apak Isam biar ga dagang di trotoar jalan. Kami juga ga sewa sama kantor ini, paling kena jatah para preman daerah sini aja" jelas Mba Rani.
"Wow.. baik banget ya" jawab Rama takjub.
"Iya Mas... tapi susah ketemu Pak Isam, jarang ada dikantornya" lanjut Ibunya Mba Rani.
🏵️
Rama masuk kedalam ruangan Pak Isam. Ada tumpukan berkas yang enggan ia sentuh. Rama menuju jendela kaca yang mengarah ke jalan raya, dia memandang kearah luar tepat kearah hotel milik Papinya yang sudah tutup operasionalnya.
.
Mba Gita memberikan data yang Rama minta yaitu laporan keuangan sepuluh tahun terakhir. Rama mencoba mempelajarinya pelan-pelan. Segala daya pengetahuan saat dia kuliah coba dia pakai.
Hingga jam menunjukkan pukul lima sore, saatnya dia pulang. Rama menelpon Mang Ujang untuk mengantarnya pulang karena Rama belum punya kendaraan sendiri dan udah lama ga nyetir mobil sendiri.
Saat di lobby dia melihat Mba Gita dan Izza sedang kebingungan karena mobilnya ga bisa nyala. Rama menghampiri keduanya.
"Kenapa Mba... ada masalah sama mobilnya?" tanya Rama yang membuat Mba Gita kaget.
"Iya nih, ga bisa di starter" jawab Mba Gita.
"Mang Ujang.... sini dulu" panggil Rama.
Mang Ujang langsung lari kearah Rama.
"Ada apa Mas Boss" tanya Mang Ujang.
"Tolong liatin dulu nih mobil, siapa tau bisa nyala" perintah Rama.
Mang Ujang dan security mengecek mobilnya Mba Gita.
"Ini mah akinya tekor Mba Gita" kata Mang Ujang.
"Tadi pagi kan hujan deras ya, Mba Gita pasti lupa mematikan lampu depan saat parkir dan menyalakan AC dengan kondisi mesin mobil mati" jelas Mang Ujang.
"Eh iya ..lupaaa" kata Mba Gita.
"Besok deh Akinya disetrum, udah sore kaya gini adanya kalo masuk bengkel pasti disuruh ganti aki baru" saran Mang Ujang.
"Ya udah deh, saya naik taksi aja pulangnya" kata Mba Gita.
"Naik mobil aja sama Mang Ujang, saya nanti telpon Mas Haidar aja, kebetulan dia lagi dekat daerah sini" usul Rama padahal ia kasian sama Mba Gita dan terpaksa berbohong kalo Haidar ada dekat sini.
"Gapapa nih Mas?" tanya Mba Gita meyakinkan.
"Ya gapapa .. udah santuy aja sama saya mah Mba. Mang... anterin ya dua wanita ini dengan selamat sampai depan rumah, kalo mereka belum masuk rumah jangan ditinggal dulu" perintah Rama.
"Siap Mas Boss" jawab Mang Ujang.
"Makasih ya Mas" ucap Mba Gita.
"Saya yang harusnya makasih Mba .. selama ini Mba udah bantu jagain Sachi" jawab Rama.
Izza hanya bisa menganggukkan kepala ke Rama, pertanda ia pamit dan berterima kasih sama Rama.
Mba Gita dan Izza masuk kedalam mobil. Rama berdiri sambil melihat mobil berjalan menuju gerbang keluar.
Rama kemudian memanggil security buat minta tolong menukarkan uang poundsterlingnya ke rupiah di money changer seberang gedung ini.
Sambil menunggu, ia membuka media sosialnya. Ada pesan pribadi dari Mba Anindya, dua hari yang lalu, menanyakan kapan Rama akan pulang ke Indonesia (nomer HP Rama ganti, jadi Anindya tidak tau nomernya). Rama segera menjawab, pada akhirnya Anindya mengajak untuk ketemuan disalah satu restoran di Mall. Jaraknya dekat antara Mall sama kantor Pak Isam. Rama berniat jalan kaki aja setelah dapat uang tukaran.
Selama empat tahun terlatih banyak jalan kaki kemana-mana, Rama ga merasa lelah kalo jalan kaki, tapi rupanya Inggris beda sama Indonesia. Di jam pulang kerja seperti ini, dia harus bertarung sama pedagang yang menempati trotoar jalan hingga para pejalan kaki terpaksa jalan dipinggiran jalan raya yang pastinya sering diklakson oleh mobil atau motor biar bisa minggir ga menghalangi jalur mereka. Belum lagi bising orang-orang yang ga sabar rebutan angkutan umum, tapi yang lebih parah itu asap kendaraan dari knalpot bus metromini yang ngebul kaya semprotan nyamuk buat penanggulangan DBD. Walhasil muka kinclongnya Rama harus rela ketempelan partikel-partikel debu.
Setelah sampai di Mall, dia langsung menuju sebuah apotek jaringan dan membeli sabun muka kemudian bergegas ke toilet untuk mencuci mukanya yang keliatan banget banyak debu menempel.
Anindya menelpon Rama (tadi sempat bertukar nomer HP di media sosial). Rama menuju restoran yang dimaksud sama Anindya.
"Hai Rama ... long time no see (dah lama ga ketemu)" sapa Anindya sambil tersenyum.
"Hai juga Mba.. how are you?" tanya Rama.
"So far so good (sejauh ini baik-baik aja), how about you? (gimana kabar kamu)" kata Anindya.
"So so. I am neither happy nor sad right now (biasa aja, saya sedang ga senang ataupun sedih saat ini)" jawab Rama santai.
"Kamu keliatannya agak kurusan .. cape ya kuliah. Mau pesan apa ? Mba traktir deh" ucap Anindya.
"Orderin apa aja lah Mba .. saya mah apa juga suka. Tau aja ya Mba sama kantong mahasiswa saya, mana mungkin bisa traktir di restoran kaya gini ... hehehe" jawab Rama.
"Masih aja ga pernah serius kalo jawab ya" kata Anindya.
"Mba ... saya pamit sholat Maghrib dulu ya, nanti saya balik lagi kesini" pamit Rama.
"Ok .. Mba tunggu... mau makanan Indonesia atau makanan luar?" tanya Anindya.
"Indonesia dong .. udah bosen sama makanan western Mba .. hehehe" sahut Rama sambil beranjak menuju Musholla di Mall.
.
Sebagai orang terdekat dengan Haidar dan Anindya, Rama memang dari awal mengambil sikap bijaksana dalam kemelut rumah tangga yang dihadapi oleh Kakaknya, baginya masalah perceraian keduanya adalah masalah pribadi mereka berdua. Mereka pula yang akan bertanggung jawab dan membuat pilihan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Sejak mereka menikah pun Rama berusaha menghindari campur tangan ditiap masalah mereka dan tidak serta merta menghakimi salah satu pihak.
Sekarang sepertinya Anindya mungkin masih menyimpan kekesalan atau duka yang belum terselesaikan, sehingga butuh berbagi kepada orang-orang terdekat mereka, salah satunya adalah Rama.
Mungkin karena Anindya anak tunggal, pastinya ia ga punya saudara buat curhat. Rama ga termasuk dekat sama Anindya, tapi sejak menikah sama Haidar, mau ga mau Rama pun berusaha menerima kehadiran Anindya.
Selepas sholat, Rama kembali ke restoran dan menikmati santapan yang dipilih sama Anindya. Sop buntut dan nasi goreng hijau plus bebek goreng.
"Sampe dua porsi gini Mba?" kata Rama.
"Ga usah basa-basi lah, baru pulang kemarin pasti belum dimasakin sama orang rumah" jawab Anindya.
"Tau aja nih.... hehehehe... kan jadi enak" jawab Rama.
Anindya memang memberikan waktu buat Rama menikmati hidangan yang ada. Sebagai awalan mereka berbincang ringan.
"Jadi udah mulai masuk kantor?" tanya Anindya.
"Officially belum, ya baru ngerasain hawa kantor dulu Mba" jawab Rama asal.
"Kamu tuh digadang-gadang jadi Boss disana, gaya kok masih aja kaya anak SMA" ucap Anindya.
"Kalo saya jadi Boss, apa harus mengubah karakter yang udah melekat? Biarlah orang menilai saya sebagai Rama .. bukan titisan Pak Isam" lanjut Rama cuek.
"Mas Haidar ga bisa menjalankan perusahaan dengan baik, makanya perusahaan Papi kamu banyak yang merugi. Salah satu korbannya ya Hotel, kamu tau kan sejarahnya hotel itu? Hotel kerjasama keluarga kita, setelah Papi menarik semua sahamnya, langsung collaps" papar Anindya.
"Terus maksudnya ngajak saya makan buat unjuk kekuatan keluarga Mba dihadapan saya?" tembak Rama.
"Bukan gitu, cuma mau kasih nasehat ke kamu, kerja yang benar, jangan sibuk mengejar masa lalu" ucap Anindya.
"Curcol?" ledek Rama.
"Hahaha... Mas Haidar udah ga masuk prioritas hidup saya lagi" kata Anindya.
"Kayanya ga nyebut nama deh, kenapa harus terlontar nama Mas Haidar. Mba .. saya tau kok gimana cinta matinya Mba sama Mas Haidar dari dulu. Kalo ngajak makan sekedar menertawakan perusahaan Papi dan mencela Mas Haidar, saya rasa ga perlu sampe kaya gini. Saya selalu memberikan kesempatan kepada siapapun yang saya kenal untuk punya sikap sendiri, karena semua orang memiliki hak persepsi untuk memandang sesuatu dari sudut pandang mereka masing-masing. Kalo arahnya mau bahas dunia rumah tangga ... sorry ... saya belum punya pengalaman berumah tangga, wong pacaran aja belum pernah" papar Rama dengan tegas tapi dengan gaya santainya.