HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 161, The other part



Sekitar jam delapan pagi, pasangan Izza dan Rama menuju restoran untuk sarapan. Kemarin sore hingga malam, Rama dan Izza sibuk meeting, jadinya makan pun tidak kenyang karena lebih banyak berbincang dengan klien.


Pihak owner-nya sudah berjanji akan datang ke Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan. Ingin bertemu juga dengan perwakilan dari perusahaannya Om Flandy untuk mencari win win solution.


Lagipula owner-nya yang akan membuat Resort yang sedang dikerjakan Abrisam Group dan perusahaan Om Flandy ini akan berangkat umroh dulu besok pagi, jadi mau fokus ibadah, nanti sepulang dari Tanah Suci baru akan membahas masalah proyek yang tengah terkendala proses pembangunannya.


Pulang ke Resort tempat mereka menginap pun sudah diatas jam dua belas malam, akhirnya mereka sama-sama tertidur pulas dan baru bangun menjelang subuh. Karena keduanya masih merasa ngantuk, akhirnya memutuskan untuk tidur kembali setelah sholat subuh. Bangun tidur jam tujuh pagi, Izza langsung mandi, Rama hanya cuci muka karena subuh tadi sudah mandi.


Izza memakai setelan training yang baru dibelikan oleh Rama seminggu yang lalu. Ada promo merek "ndi ndas" buy two get three. Rama beli juga samaan kaya punya Izza.


Mereka berdua berjalan menuju restoran (sarapan pagi free). Padahal sekarang adalah hari kerja tapi Resort penuh kamarnya (total kamar ada lima belas dengan berbagai tipe). Rata-rata tamu yang sedang sarapan ini berpasangan, kalaupun keluarga juga masih keluarga kecil yang baru punya anak satu. Semua tampak santai menikmati hidangan yang tersaji.


Andi, Manager Resort, menghampiri Rama dan Izza. Ingin menyapa dan berbincang sejenak dengan Rama.


"Selamat pagi Pak Rama, bagaimana istirahatnya semalam?" tanya Andi.


"Alhamdulillah nyenyak" jawab Rama.


Rama mempersilahkan Andi duduk bersama mereka.


"Sudah makan?" tanya Rama.


"Sudah Pak" jawab Andi.


"Jangan panggil Pak, panggil Mas aja ya. Terkesan tua kalo dipanggil Bapak" jelas Rama.


"Baik Mas..." jawab Andi.


"Semua yang menginap disini pasangan sah ga?" tembak Rama dengan suara yang pelan.


"Sepertinya iya Mas" jawab Andi ragu.


"Kok sepertinya... memang tidak ada prosedur bertanya ke tamu tentang identitas keduanya? soalnya saya aja ga ditanya tuh pas booking kamar atau pas check in disini" cecar Rama.


"Memang tidak ditanyakan identitas keduanya Mas, hanya satu saja identitas yang dipakai. Sejujurnya belum ada SOP di Resort ini yang baku. Jadi sepertinya Pak Isam masih copy paste dari tempat lainnya. Kami baru mulai operasional sekitar dua bulan yang lalu, masih mencari pola target marketnya yang pas seperti apa" tutur Andi.


"Pak Isam ga kasih SOP nya tentang identitas tamu jika berpasangan?" tanya Rama lagi.


"Tidak ada Mas, identitas tamu hanya KTP salah satu tamu saja" jawab Andi.


"Kalo bukan pasangan sah, terus mereka berbuat mesum, mikir ga kalian kebagian dosanya? Atau paling ribetnya kalo ada operasi pemeriksaan oleh pihak berwajib ke tempat penginapan untuk menjaring pasangan ga sah serta adegan labrak melabrak pasangan sahnya terus timbul keributan gimana? selain mengganggu tamu yang lain, pastinya nama Resort ini jadi tercemar loh" Kata Rama seperti memojokkan Andi.


"Belum pernah kejadian sih Mas" jawab Andi rada bingung menjawab pertanyaan Rama.


"Jadi harus keujanan dulu baru beli payung? mau kejadian dulu baru kalian pikirkan aturannya" cecar Rama.


Izza menyenggol tangannya Rama.


"Kak... kita disini sebagai tamu, bukan tim audit kan? bukan pula mata-mata yang dikirim Papi untuk menilai Resort ini. Jadi bisa dong kalo hal ini dibahasnya nanti aja" Izza coba mengalihkan obrolan karena melihat Andi udah kebingungan.


Rama memang kalo sedang berbicara tentang pekerjaan, muka dan nada bicaranya sangat serius, bagi yang tidak sering berjumpa dan berbincang pasti akan timbul rasa takut dan segan. Ditambah dia selalu mencecar lawan bicara jika jawaban yang diinginkan belum sesuai.


Dulu aja Izza setiap berhadapan sama Rama pasti rada gemeteran. Sekarang karena sudah setiap hari bertemu dan kenal karakter Rama, jadinya bisa paham tentang sikap dan ucapan Rama.


Mereka masih menikmati sarapan paginya, Andi pamit untuk berkeliling resort terlebih dahulu.


Sepeninggalan Andi...


"Manager kok dibikin ga ada wibawanya gitu sih Kak" nasehat Izza sambil menuangkan teh poci ke cangkir tanah liat didepan Rama.


"Parah nih, kebayang ga pasangan yang ada disini bareng kita itu pasangan ga sah...ga bisa kaya gitu dong. Di Audah Hotel saja pasangan lawan jenis harus menunjukkan KTP, jika KTP alamat beda dengan berbagai alasan, maka diperlukan foto copy buku nikah. Untuk yang pesan online pun sudah tertera aturan tersebut. Saya tidak mau ada tindakan asusila atau tindakan dosa lainnya di tempat usaha yang saya punya. Ini kan punya Papi, jadi wajar kalo harusnya menerapkan seperti aturan saya" protes Rama.


"Tapi Resort ini tidak dibawah Abrisam Group atau Audah Hotel, jadinya Kakak ga bisa atur-atur" ucap Izza.


"Papi itu belum paham bisnis tempat penginapan, udah gitu kan bikinnya juga diam-diam, mungkin kalo ga karena kita kesini, kita juga ga tau kalo Papi punya usaha ini" sahut Rama masih berapi-api.


"Dinikmati dulu aja makannya, terus kalo ga ada agenda hari ini mending kita istirahat. Kalo Kakak sudah fresh.. baru deh ngobrol lagi sama Andi. Atau mau kasih pencerahan buat para management serta karyawan disini juga terserah. Jangan berbicara dalam kondisi lelah dan ga sedap hati, adanya malah ga baik buat semuanya. Kakak memang sekarang pemilik Abrisam Group, tapi segala bisnis Papi yang tidak ada kaitannya dengan Abrisam Group, ga bisa dicampuri. Sama halnya kalo ada orang lain mencampuri urusan di Abrisam Group apa Kakak suka?" tambah Izza memberikan pendapatnya.


"You know De ... cuma kamu yang mampu meredam emosi yang suka timbul kalo ada sesuatu yang ga sesuai hati nurani.. thank you..." ucap Rama sambil mengecup tangannya Izza.


"Malu lah Kak" kata Izza sambil melihat kanan kiri.


"Sini sini.. Kakak sayang dulu ..kayaknya udah lama Kakak ga sayang-sayang.. abis ada yang sensian terus sih" canda Rama sambil mencubit pipinya Izza.


Tau sendiri Rama kalo lagi on fire nya mode on, ga liat situasi, langsung aja istrinya dipeluk didepan umum.


"Ssstt... ini resto Kak, malulah banyak orang" ingat Izza.


"Kamu sih gemesin banget mukanya" kata Rama sambil tertawa kecil.


Para karyawan dan orang-orang yang berada di restoran cuma bisa senyum-senyum liat kelakuan Rama. Mereka ga menduga kalo Rama yang tampangnya serius bisa bersikap semanis itu.


Andi yang melihat dari kejauhan juga ikut tersenyum, padahal tadi pas ngobrol kaya macan lapar yang siap menerkam buruannya. Walaupun kadar kegantengannya pas digaris standar, tapi Rama punya senyum yang sehangat mentari pagi, bisa bikin meleleh kaya pisang coklat lumer.


Rupanya disini disediakan hidangan tradisional yang spesial, setiap hari beda. Untuk kudapan hari ini ada hidangan penutup yaitu cake made from cassava with coconut and palm sugar (timus/ketimus) dan jamu-jamuan buatan Pak Kumis yang terkenal didaerah sini.


Secara khusus Pak kumis didatangkan buat melayani jamu untuk para tamu yang sedang menginap.


Para tamu kebanyakan minta dibuatkan jamu standar kaya pegel linu dan tolak angin, ada juga beberapa pria yang minta dicampur pinang muda dan telor bebek.


Rama tampak ikut antri (Andi sudah memberitahukan ke Pak Kumis kalo anak yang punya Resort ini sedang berbulan madu disini, jadi minta diracikin jamu yang mak greng buat pasangan tersebut).


Begitu Rama sudah berada didepan Pak Kumis, dia ditawari jamu yang bisa membuat vitalitasnya kuat dan biasanya dipesan oleh para pengantin baru. Rama hanya meminta jamu pegal linu saja untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang banyak beraktivitas, tapi sama Pak Kumis dikasih racikan khusus tanpa dia tau. Izza juga ikut memesan kunyit asem biar menyegarkan tubuhnya.


Untuk ide disediakan jamu seperti ini, Rama angkat jempol. Baru kali ini ada penginapan yang menyediakan jamu plus disajikan oleh penjualnya langsung. Rama tersenyum melihat para tamu yang antusias sama jamu racikan Pak Kumis.


Efek jamu Pak Kumis memang paten dan langsung bereaksi setengah jam setelah minum. Restoran yang tadinya rame mendadak langsung sepi, semua langsung menuju kamar masing-masing. Sepertinya para penghuni sedang "ngerjain PR" sama pasangannya masing-masing. Demikian pula dengan Rama dan Izza, mereka sangat menikmati suasana santai dan hening di tempat ini.


Memang atmosfernya beda sama Jakarta yang bising dan Rama juga biasanya biar kata tengah malam, ada aja gangguan yaitu ditelepon oleh karyawannya atau rekan kerjanya.


Pernah ketika mereka sedang memadu kasih, ada telepon dari rekanan yang hanya bilang sudah kirim email penawaran. Kebayang ga saat suasana sudah romantis dan permainan siap dimulai jadi mendadak ambyar seketika.


Pagi ini bersama kicau burung yang bersahutan, terdengar bunyi nafas keduanya memburu, tanda mereka sedang bercumbu dimabuk asmara.


Izza langsung terlelap tidur, baru kali ini selepas bercinta dia bisa tidur. Tadinya mau mandi, tapi tubuhnya sudah minta untuk diistirahatkan sejenak.


Kalo Rama langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya, padahal tadi subuh dia juga sudah mandi.


Aliran air di resort ada dua jenis yaitu air biasa yang langsung dari pegunungan dan air hangat yang mengandung belerang. Rama penyuka dingin lebih memilih air biasa untuk membuat tubuhnya segar, lagipula nanti sore dia ada rencana untuk berendam di air yang mengandung belerang.


.


Rama memutuskan untuk keluar dari kamar melihat suasana sekitar, dia memakai celana training dan kaos oblong biasa. Kemudian


duduk didekat kolam renang air panas yang untuk umum. Pemandangan pegunungan menjadi daya tarik tersendiri, membuat dirinya makin bersyukur mata ini dimanjakan oleh ciptaan Allah.


"Mas Rama ga istirahat?" ucap Andi yang membuat Rama kaget.


"Sini Ndi... duduk" ajak Rama.


Andi duduk didepannya Rama.


"Enak ya suasananya, jadi ga pengen pulang ke Jakarta" ujar Rama.


"Iya Mas, enak disini, saya aja betah" ucap Andi.


"Wajah kamu ini kayanya ga asing deh.. dari tadi coba saya ingat-ingat, kok ya ga ingat juga ya. Apa kita pernah kenal atau ketemu sebelumnya?" tanya Rama.


"Teringat wajah mantan ya Mas?" canda Andi.


"Ga lah.. masa mantan saya cowok, eh lagipula ga punya mantan deh. Soalnya ga punya pacar dan langsung nikah sama istri, pacaran setelah menikah.. hehehe" jelas Rama.


"Kirain orang kaya Mas Rama ini mantannya banyak" timpal Andi.


"Wah kamu tuh udah orang yang ke sejuta dua ratus lima puluh delapan ribu sembilan ratus enam puluh empat kalinya yang bilang saya punya mantan yang banyak" ucap Rama.


"Ya iyalah Mas ..tampang keren, posisi yahud, keliatan matang dan bertanggung jawab. Wanita mana yang sanggup menolak? buktinya istrinya aja langsung diajak nikah mau kan?" sahut Andi.


"Udah ah jangan bahas begitu.. udah bosan, lagian saya udah nikah, ga mau bahas wanita lain. Udah ga mau tebar pesonalah ke kaum hawa" jawab Rama santai.


"Mas Rama ini memang unik, Big Boss tapi ga Bossy. Hampir mirip sama Pak Isam, cuma bedanya Pak Isam lebih banyak diam, kalo Mas Rama lebih ceplas-ceplos" terang Andi.


"Udah lama kenal sama Papi?" tanya Andi.


"Sudah lama... tempat ini didedikasikan Pak Isam buat para mantan pecandu dan anak nakal yang mondok di Pesantrennya Abah Ikin. Orang-orang seperti kami itu susah diterima keluarga dan masyarakat kembali walaupun sudah sembuh dalam tanda kutip. Itulah kenapa Pak Isam merahasiakan dari keluarganya. Karena beliau benar-benar ingin kita semua belajar memajukan Resort ini dengan lembaran dan semangat yang baru. Pak Isam ingin kita jadi entrepreneur kedepannya. Disini kita juga diajarkan banyak ilmu di dunia kerja" jelas Andi.


"Yes... learning by doing, saya aja langsung dicemplungin ke perusahaan begitu pulang kuliah" sambut Rama.


"Kalo Mas Rama mah pasti sudah langsung siap, kan di UK sudah terlatih nyari duit ala palugada" ucap Andi nyengir.


"Kok kamu tau Ndi? Kita pernah ketemu ya?" tanya Rama kepo.


"Siapa yang ga kenal Mas Rama sih, perpaduan unik antara anak pintar tapi ngocol dan pergaulannya luas. Dari yang muda sampe Pak Dubes aja kenal. Banyak loh yang mengidolakan Mas Rama dulunya" kata Andi.


"Ah...kata siapa?" tanya Rama lagi.


"Kita memang baru sekali ketemu Mas, tapi obrolan tentang Mas Rama hampir setiap hari kedengaran di rumah" jawab Andi polos.


"Oh ya?" tegas Rama.


"Kenal Pak Alfian... Mba Dania?" tanya Andi. Rama mengangguk.


"Saya anak bungsunya Pak Alfian, adiknya Mba Dania. Saya cuma setahun kuliah di XY univ, DO karena nilainya dibawah standar dan terlibat narkoba disana" ungkap Andi blak-blakan.


Rama memperhatikan Andi yang tengah bercerita.


"Bukannya anak Pak Alfian perempuan semua?" tanya Rama.


"Biasa...saya ga dikenalin karena sering buat malu keluarga" jawab Andi.


"Dania juga ga cerita apa-apa tentang keluarganya, jadi ga tau tentang kamu" ucap Rama.


"Mba Dania sangat mengharapkan Mas Rama jadi pendampingnya dan Papa juga sangat setuju kalo Mas Rama jadi menantunya" beber Andi.


"Dunia sempit ya... gimana kabar keluarga kamu, lama lost contact dengan mereka" ucap Rama mengalihkan pembicaraan.


"Papa masih di UK, akan pensiun tiga tahun lagi. Mba Dania sekarang meneruskan kuliah disini, dia lagi asyik ikut LSM yang menggelorakan gerakan ayo membaca se Indonesia, jadi sering keliling nusantara" jelas Andi.


"Syukurlah kalo dia bisa punya rasa peduli kaya gitu" jawab Rama.


"Itu karena omongan Mas Rama yang katanya lebih suka wanita yang punya kepedulian tinggi, ga jaim, tapi strong" papar Andi.


"Dan saya sudah mendapatkan wanitanya, yang bisa membuat saya banyak berubah. Dia mampu menjadi penyejuk dikala saya terbakar, apalagi saat ini bisa dibilang saya membangun perusahaan yang tadinya berada diujung tanduk kebangkrutan" kata Rama.


"Saya juga kenal sama Izza, sekolah kami bersebelahan saat SMP, tapi kebakaran bikin semua jadi berubah, dia ga mampu lagi sekolah di tempat semula karena kendala biaya sih yang saya dengar. Tapi ga tau juga sih kebenarannya, pernah dengar dia masuk panti asuhan dan lanjut ikut kejar paket buat ijazah SMP nya" jawab Andi.


"Kok kalian kaya orang ga kenal?" selidik Rama mulai cemburu.


"Dia mungkin menghormati Mas Rama, dia ga sombong kok, tapi saya paham dia seorang wanita yang mampu menjaga harga dirinya. Dia dulu itu cewe yang banyak penggemar di sekolah Mas, bukan primadona pertama sih, tapi sampai sekolah saya yang disamping sekolahnya aja kenal, pasti spesial dong. Perpaduan yang ciamik antara cantik alami, pintar dan baik. Tapi ga ada tuh yang berhasil nembak dia, ternyata tipenya tinggi euy.... Sekelas Mas Rama, benar-benar seleranya tinggi banget" ucap Andi.


"Termasuk kamu dong pengagum rahasia nya" tembak Rama.


"Begitulah... dulu mah belum berjilab, keliatan cakep banget. Kalo sekarang mah ga secantik dulu soalnya udah rapet banget pakaiannya... hehehe" canda Andi.


"Dulu dia seksi pake bajunya?" selidik Rama.


"Ga juga sih, tapi kan kalo liat cewe dengan rambut terurai sama cewe rapet berjilbab pasti beda Mas" terang Andi.


"Oke deh Ndi kayanya saya mau berduaan lagi sama istri, sayang kan momennya udah pas" pamit Rama.


Andi melihat Rama menuju kamar.