HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 208, Ice breaking



Farida datang tergopoh-gopoh menuju lantai paling atas, dimana ruangannya berada. Rama sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Pagi Pak.." sapa Farida.


"Pagi ... Duduk dulu disini" pinta Rama.


Farida mengikuti perintah Rama. Farida meletakkan tasnya disamping tempat dia duduk.


Rama meletakkan laptopnya di meja dan memutar laptop tersebut kearah Farida.


"Ada apa ya Pak?" tanya Farida masih belum paham.


"Baca" jawab Rama.


Farida membaca isi email, ada juga lampiran foto-foto. Isinya laporan berupa kecurangan yang dilakukan oleh karyawan di Abrisam Group dan bukti foto-foto.


"Benar ini Pak beritanya? dapat informasi dari siapa?" tanya Farida penasaran.


"Suami kamu" jawab Rama.


"Kok bisa tau alamat emailnya Bapak? sepertinya saya tidak pernah kasih tau ke beliau. Lagipula kenapa lapor ke Bapak ya?" kata Farida agak takut.


"Santai aja.. saya yang kasih kok alamat emailnya" sahut Rama datar.


"Terus maksudnya saya diminta datang lebih cepat untuk apa ya Pak?" tanya Farida.


"Semalam tidur nyenyak?" ujar Rama.


"Alhamdulillah nyenyak Pak" jawab Farida bingung.


"Mimpi apa?" lanjut Rama.


"Mimpi? kayanya ga mimpi Pak. Ini ada apa sampai Bapak tanya saya mimpi apa semalam? Bapak ga ada niat macam-macam sama saya kan?" tanya Farida mulai takut.


Rama tertawa kecil, sampai cleaning service yang sedang mengepel tidak jauh dari mereka melihat kearah Rama.


"Saya mau macam-macam? ini di ruangan terbuka, ada orang pula disana, CCTV dimana-mana dan security juga keliling setiap satu jam sekali. Sekarang juga hampir jam delapan dimana para karyawan akan mulai berdatangan. Artinya saya ga waras kalo ada niat ga baik sama kamu" ucap Rama masih dengan senyuman misteriusnya.


Farida masih tidak paham, kenapa Rama bersikap seperti ini.


"Saya sudah punya anak istri, ga pandang lagi deh wanita lain. Jadi ga perlu ada pikiran saya menggoda kamu. Istri saya sudah lebih dari yang saya inginkan" lanjut Rama.


"Ini punya Boss kenapa bisa baca pikiran orang ya. Punya kelebihan kali ya" ujar Farida dalam hatinya.


Manager HRD, Manager umum, Manager Keuangan dan para kepala bagian mulai berdatangan. Mereka menyapa Rama, kemudian berjalan menuju ruangan.


Betapa kagetnya ketika pintu ruangan masih terkunci. Rama langsung melempar-lempar kunci dalam genggamannya. Semua melihat kearah Rama.


Rama berjalan menuju ruang HRD, dimana Sang Manager dan tiga orang kepala bagian bekerja. Dibukanya pintu ruangan.


"Yang lain duduk dulu di ruang tamu, nanti ada gilirannya semua ruangan akan dibuka" perintah Rama.


Para karyawan diluar bagian HRD duduk didekat Farida.


"Mba ada apa sih?" tanya para karyawan dengan suara pelan.


"Ga tau.. saya aja ga bisa masuk ke ruangan. Entah kenapa Boss kita pagi ini sampai memeriksa semua ruangan" bisik Farida.


"Apa ada kecurangan ya Mba? soalnya waktu Pak Rama baru jadi pimpinan disini, begini juga dan ada yang dipecat" kata karyawan yang sudah tujuh tahun bekerja di Abrisam Group.


"Bisa jadi, wong mukanya aja udah ga enak dilihat dari tadi" jawab Farida.


.


"Ada yang tau kenapa saya pegang kunci ruangan ini?" tanya Rama.


"Tidak tau Pak" jawab kepala bagian


"Tolong nyalakan semua laptop kalian. Saya mau liat pekerjaan masing-masing orang" pinta Rama.


Empat orang yang ada dalam ruangan segera menyalakan laptopnya masing-masing.


Rama memeriksa satu persatu laptop dan menanyakan apa yang menjadi tugas harian mereka semua.


"Oke.. kalian bertiga keluar, saya mau berbincang dengan atasan kalian" kata Rama datar.


Ketiga kepala bagian di HRD keluar ruangan. Kini hanya ada Rama dan Manager HRD, duduk saling berhadapan.


"Anda jual CV ke perusahaan lain atau menjadi agen penyalur para pekerja ke perusahaan lain?" tembak Rama secara langsung sambil melemparkan satu berkas yang ada didekatnya ke meja sebelah.


Sang Manager HRD mulai menunduk.


"Anda bekerja dengan siapa sebenarnya? apa masih kurang semua yang diberikan oleh Abrisam Group?" cecar Rama.


Makin Sang Manager HRD menunduk serta diam menutup rapat mulutnya.


"Apa maksudnya dengan menawarkan Manager marketing kita yang handal itu ke perusahaan lain? berapa fee yang Anda dapatkan dari perusahaan tempat Anda menyalurkan semua karyawan-karyawan terbaik kita disini? apa ini salah satu upaya untuk menggembosi Abrisam Group?" mulai meninggi suaranya Rama.


Karena ruangan kebanyakan terbuat dari kaca, jadinya para karyawan bisa melihat Rama yang tengah marah ke Manager HRD.


"Maaf Pak" akhirnya Manager HRD menjawab.


"Apa maaf Anda bisa mengubah segalanya?" tanya Rama makin marah tapi nadanya dibuat sedatar mungkin.


"Saya khilaf Pak" jawab Manager HRD.


"Khilaf hanya sekali, berapa banyak karyawan yang Anda angkut ke perusahaan lain... itu namanya doyan bukan khilaf. Sebagai bagian HRD harusnya tau bagaimana saya membuat prosedur untuk para karyawan disini agar mempunyai etos kerja dan daya juang yang tinggi, setelah mereka jadi.. Anda angkut ke tempat lain. Butuh effort untuk saya menggembleng mereka disini. Tidak hanya sekedar waktu, ada juga cost yang saya keluarkan untuk mereka ikut pelatihan ini itu. Sekarang Anda maunya apa?" ucap Rama masih rada ngotot.


"Mengundurkan diri Pak" jawab Manager HRD.


"Saya akan pertimbangkan dengan kuasa hukum perusahaan ini, layak tidak saya berhentikan secara tidak hormat, karena ini akan berhubungan dengan riwayat kerja Anda. Saya tidak mau Anda berulah lagi di tempat baru dan membawa nama Abrisam Group. Jadi pengunduran diri akan ditangguhkan setelah saya berbincang dengan bagian legal. Tapi mulai besok, tidak perlu datang kesini lagi. Semua hak akan ditangguhkan hingga clear dulu. Kita akan berbincang lagi setelah semua ada prosedur hukumnya" kata Rama tegas.


"Bisa mematikan rejeki saya Pak jika perusahaan seperti itu. Toh saya sudah legowo untuk mengundurkan diri" ucap Manager HRD.


"Tidak semudah itu juga, membuat kesalahan maka harus menanggung akibatnya. Saya tau Anda dengan mudahnya mengundurkan diri karena sudah ada penawaran di tempat lain. Ownernya sendiri yang menelepon saya untuk konfirmasi apakah Anda masih tercatat sebagai karyawan Abrisam Group atau tidak" jelas Rama.


"Tolong kebijaksanaannya Pak, lihat bagaimana saya mengabdikan diri disini selama lima tahun" pinta Manager HRD.


"Rejeki itu dari Allah.. bahkan para narapidana di penjara yang notabene tidak mempunyai penghasilan pun masih Allah jamin rejekinya. Jadi rejeki Anda bukan karena keputusan perusahaan ini. Yakin saja sudah Allah atur yang terbaik dan pasti cukup" papar Rama.


"Tolonglah Pak.. saya memohon.." ujar Manager HRD dengan penuh nada iba.


Rama langsung berdiri dan meninggalkan ruangan. Rasanya sudah malas melihat muka orang memelas.


Kemudian Rama masuk ke ruangan bagian umum. Semua penghuni ruangan tersebut dipanggil. Dimintai keterangan tentang job description mereka masing-masing. Hanya sekitar setengah jam, Rama menuju ruangan bagian keuangan.


"Saya minta laporan keuangan khusus permintaan budget dari HRD secara terperinci, selama satu tahun terakhir. Kapan saya bisa mendapatkan laporan tersebut?" tanya Rama.


"Tiga hari Pak" jawab Manager keuangan.


"Tiga hari?" tanya Rama lagi.


"Dua hari Pak, besok sore sudah bisa dilaporkan" jawab Manager keuangan.


"Satu... dua... tiga... ada tiga orang di ruangan ini. Semua pelaporan keuangan sudah by system, tidak bisa di scroll saja untuk bagian HRD? atau kalo perlu minta bantuan staf lainnya untuk mencari laporan yang saya butuhkan?" kata Rama yang membuat panik seisi ruangan.


"Baik Pak.. sore ini akan saya letakkan diatas meja Bapak" janji Manager keuangan.


"Saya tunggu tiga jam lagi, sebelum makan siang, sudah ada di meja saya" pinta Rama sambil meninggalkan ruangan.


.


Alex sudah tiba di kantor Abrisam Group. Dia menunggu di sofa ruang tamu bareng sama Farida.


"Lex.. Farida.. ikut saya" perintah Rama sambil menuju ruangannya Rama.


Rama berjalan dengan tegap, sekilas memandang semua ruangan yang tadi dia masuki dengan tatapan tajam. Kesibukan dalam ruangan terlihat jelas.


.


"Farida.. saya pernah baca di curriculum vitae kamu pernah jadi staff HRD selama setahun ya?" tanya Rama.


"Iya Pak.. saat itu baru lulus kuliah, ambil kesempatan yang ada saja, jadi ga pilih kerjaan" jawab Farida.


"Paling tidak pernah mendengar tentang ketenagakerjaan dan how to develop para karyawan kan?" tanya Rama lagi.


"Saya ada sertifikat untuk training karyawan baru Pak, pernah juga ikut pelatihan tentang jaminan kecelakaan kerja dan kesehatan para pekerja" jawab Farida.


"Saya akan memberikan kamu jabatan baru sebagai Manager HRD disini, menggantikan yang lama, saya akan urus tentang surat kesepakatan kerja yang baru dengan bagian legal nanti. Apa kamu bersedia?" ujar Rama.


Farida jelas saja kaget mendengar ucapan Rama. Antara bahagia dan agak ngeri.


"Maaf Pak.. bukannya yang tidak ada disini adalah Manager marketing?" tanya Farida memberanikan diri untuk bertanya.


"Ya.. sebenarnya sebulan yang lalu saya sudah meminta seseorang untuk menjadi Manager marketing disini, karena akan proses resign dulu, jadinya masih tertangguh sampai sekarang. Tapi seminggu lagi akan mulai kerja disini kok" jelas Rama.


"Oh begitu Pak" jawab Farida.


"Dan kamu Lex.. akan menggantikan posisi Farida sebagai sekretaris dan asisten pribadi saya. Jadi tidak menjadi pengawal Izza lagi" ucap Rama.


"Maksudnya saya gantiin Mba Farida itu dengan pakai baju kaya Mba Farida?" tanya Alex yang ngaco karena bingung dan efek ngantuk.


Alex benar-benar tidak tau apa yang sedang terjadi, tiba-tiba Rama memintanya menggantikan Farida. Jadinya ga bisa mikir panjang.


Farida tampak menahan tawa karena Rama tidak tersenyum sama sekali.


"Belum tidur kamu ya Lex?" tembak Rama.


"Belum Boss, pemakaman selesai jam tiga dinihari, sampai rumah tadi subuh. Baru juga saya tidur, sudah dibangunkan katanya diminta kesini segera. Saya kesini juga naik ojek online Boss, takut ngantuk kalo bawa kendaraan sendiri" jelas Alex.


"Sekarang kamu tidur dulu sana di musholla, selepas makan siang ketemu saya lagi" kata Rama.


"Ya Boss.. saya permisi dulu" pamit Alex.


.


Alex yang masih ngantuk berat, masih belum bisa mencerna maksudnya Rama. Alex menuju musholla kantor, dilihatnya Mang Ujang sedang tiduran sambil main HP.


"Boss abis marah-marah ya katanya, rame nih karyawan pada ngoceh dibawah" kata Mang Ujang kepo.


"Ga tau Mang.. saya juga bingung. Masa saya disuruh jadi Mba Farida" jawab Alex sambil merebahkan tubuhnya di karpet persis dibawah AC.


"Hahhhh??? maksudnya jadi cewe? operasi plastik ganti kelamin gitu? astagfirullah Mas Boss.. marah boleh, tapi ga sampe minta orang ganti kelamin kali" sahut Mang Ujang kaget.


"Apa Mang? saya diminta ganti kelamin? kayanya Boss ga bilang begitu? saya ini udah ngantuk berat Mang Ujang, mau tidur dulu. Sekarang lagi ga bisa mikir" ujar Alex yang langsung tertidur.


.


Sudah jam sembilan lewat tiga puluh menit, Rama masuk kedalam musholla hendak sholat dhuha.


"Mas Boss.. Mas Boss.. Mamang mau ngomong" pinta Mang Ujang.


"Saya sholat dulu, udah kesiangan" jawab Rama.


Mang Ujang menunggu Rama selesai sholat dan berdo'a.


.


"Kenapa Mas Boss setega itu sama Alex? apa salahnya dia sampai Mas Boss minta dia jadi perempuan. Inget dosa Mas Boss. Kita dilahirkan dalam kondisi menjadi lelaki, sampai nanti mati pun tetap menjadi lelaki. Jadi tidak boleh melawan fitrah kita" tutur Mang Ujang menceramahi Rama.


"Siapa yang bilang saya minta Alex jadi perempuan?" tanya Rama.


"Tadi Alex sendiri yang bilang" jawab Mang Ujang.


"Alex bilang saya minta dia jadi perempuan?" tanya Rama meyakinkan.


"Ga begitu sih Mas Boss... katanya disuruh Mas Boss jadi Mba Farida, kan Mba Farida perempuan" jelas Mang Ujang.


"Makanya.. kalo sekolah dan lagi pelajaran bahasa Indonesia itu masuk, jangan bolos, jadinya ga paham arah pembicaraan orang. Orang tuh kalo ga ngerti lebih baik diam, daripada nyerocos ga jelas arahnya. Apa perlu Mang Ujang saya ikutin kejar paket lagi biar otaknya bisa lebih ke upgrade?" nasehat Rama.


"Saya mah lulus SMA, ga pakai kejar paket, SMA umum" bela Mang Ujang.


"Udah sholat belum? mending sholat sana, daripada main HP, mending berdzikir, meminta penerangan pikiran dari Allah SWT. Minta dijadikan orang yang bisa menjaga lisan dan tidak kepo terhadap berita yang tidak ada sangkut pautnya sama Mamang" terang Rama panjang lebar.


"Lah.. emang dunia kebalik.. Mas Boss yang bikin dosa karena meminta Alex jadi perempuan, eh malah Mamang yang diminta berdzikir. Eling atuh Mas Boss" saran Mang Ujang.


"Lama-lama ngobrol disini, kita udah bisa ngalahin dagelan wayang yang lucu. Atau kita jadi Bang Bolot sama Bang Malih biar ga nyambung sekalian" kata Rama sambil memakai kaos kakinya.


"Tadi disuruh dzikiran, sekarang malah diminta main wayang, pake peran Bang Bolot dan Bang Malih lagi. Mas Boss sebenarnya arah pembicaraan mau kemana sih?" ucap Mang Ujang yang malah jadi bingung.


"Arah pembicaraan??? gayane Mangggg Mang...udah sana mending sholat abis itu cuci mobil" sahut Rama sambil meninggalkan musholla.


"Punya Mas Boss kaya gitu emang unik. Dia marah sama siapa, yang kena siapa. Jangan-jangan ada masalah kejiwaan ini Mas Boss, stress apa dia ya sama kondisi perusahaan. Atau dia kerasukan setan karena semalam kan ke kamar jenazah. Harus bilang Boss Papi dan Mba Boss nih, biar Mas Boss di ruqyah" kata Mang Ujang bicara sendiri.


💠


"Yang bener Jang? becanda aja kamu. Salah dengar ga?" tanya Pak Isam ga percaya.


"Masa Ujang bohong sama Boss Papi" jawab Ujang lewat sambungan telepon.


"Nanti coba tanya ke Izza dulu, mungkin Izza tau kenapa Rama seperti itu" ucap Pak Isam.


"Ya Boss Papi, Ujang disini dulu, jagain Alex yang lagi tidur. Kasian kan kalo dia dibawa sama Mas Boss ke rumah sakit buat operasi ganti kelamin" jawab Mang Ujang.


Sambungan telepon ditutup.


Izza mau menuju dapur. Dia mendorong Zian di stroller.


"Za.. mau kemana?" tanya Pak Isam.


"Ke dapur Pi.. lapar habis mengASIhi Zian, dari pagi melek aja dia. Makanya sekalian ke bawah, biar main di ruang tengah" jawab Izza.


Zian diletakkan di kasur playmate dan diberikan beberapa mainan. Zian sudah lancar berguling-guling, meskipun badannya gemuk, tapi dia lincah. Sehingga Rama membelikan pembatas di kasur playmatenya.


"Papi mau tanya ke kamu tentang Rama" kata Pak Isam.


"Kenapa Pi? Kak Rama ada masalah?" tanya Izza penasaran.


"Ujang tadi telepon, dia bilang dari pagi Rama sudah ngamuk di Kantor. Semua bagian kena omel dia. Alex juga tiba-tiba diminta kesana, padahal pasti masih ngantuk itu Alex karena baru pulang subuh. Tau ga yang paling parah dibandingkan omelannya Rama tuh apa?" ujar Pak Isam.


"Apa Pi?" tanya Izza makin penasaran.


"Rama meminta Alex jadi perempuan" jawab Pak Isam.


Jelas saja Izza kaget mendengar ucapannya Pak Isam.


"Astaghfirullahal'adzim.. masa Kak Rama begitu Pi.. kaya bukan sosok yang kita kenal selama ini" kata Izza ga percaya.


"Papi juga ga percaya .. Rama kan ibadahnya lumayan bagus. Masa dia mau melawan kodratnya Alex. Makanya Ujang curiga kalo Rama kerasukan makhluk halus, semalam kan ke kamar jenazah" papar Pak Isam.


"Papi percaya sama hal seperti itu? salah dengar kali Mang Ujang, tau sendiri gimana Mang Ujang dalam merespon sebuah berita" ucap Izza.


"Menurut kamu, kita perlu ke kantor ga ya? atau kita telepon Rama sekarang?" tanya Pak Isam meminta pendapat.


"Kita tunggu Kak Rama pulang saja Pi. Tadi kan juga berangkat pagi-pagi, biasanya kalo begitu, ada hal genting yang harus diselesaikan. Kita jangan ganggu dulu Pi. Sambil kita tunggu perkembangan beritanya seperti apa" saran Izza.


"Ya udah.. katanya kamu lapar, makan dulu sana, Zian nanti Papi yang jagain" pinta Pak Isam.


Sambil makan, Izza mencoba berpikir.


"Kayanya ga mungkin banget seorang Kak Rama meminta Bang Alex jadi perempuan, buat apa coba? masa sih Kak Rama punya disorientasi seksual yang beda.. selama ini baik-baik aja... ya Allah.. hindarilah dari rasa negative thinking terhadap Kak Rama" ucap Izza dalam hatinya.


🌷


Jam sebelas lewat sepuluh menit, laporan budgeting bagian HRD diantar ke ruangannya Rama. Farida yang meletakkan ke mejanya Rama.


"Makasih" kata Rama.


"Sama-sama Pak.. boleh saya bertanya Pak? sampai saat ini saya masih mencoba merangkai puzzle yang belum berhasil saya pecahkan" tanya Farida.


"Duduk dulu.. saya jelaskan secara singkat ya. Saya tau apa yang sedang menari-nari didalam pikiran kamu" pinta Rama.


Farida duduk dihadapannya Rama.


"Suami kamu itu sebenarnya masih temannya Alex. Singkatnya masih anak buah saya dari jaman dulu kala, saat saya masih jadi preman. Saya yang meminta dia kerja dibeberapa tempat, agar dia bisa belajar banyak hal. Sekarang saatnya dia pulang kandang setelah kurang lebih lima tahun mengembara bekerja sana sini. Dia orang yang sangat gigih dalam bekerja, sebentar lagi jabatan Manager marketing akan ada ditangannya" jelas Rama.


"Jadi suami saya bilang mau pindah kerja itu ternyata ke Abrisam Group?" tanya Farida meyakinkan pendengarannya.


"Iya.. dengan pengalamannya, saya harap dia bisa membuat gebrakan baru untuk Abrisam Group. Kamu menempati jabatan sebagai Manager HRD dan Alex akan menggantikan posisi kamu yang sekarang ini sebagai sekretaris dan pengawal pribadi" lanjut Rama.


"Perusahaan ini membolehkan suami istri bekerja di tempat yang sama?" tanya Farida.


"Why not, asal kalian berdua bisa memisahkan mana yang urusan pekerjaan dan mana yang urusan rumah tangga. Be a professional please" ingat Rama.


"Yakin Pak sama keputusan yang Bapak buat?" tanya Farida lagi.


"Seratus persen.. bersiap akan saya minta kamu ikut training tentang aturan ketenagakerjaan dan lain sebagainya" jawab Rama.


"Terus Manager HRD sekarang bagaimana Pak?" tanya Farida.


"Hari ini sedang merapihkan berkasnya dan memberikan operan ke kepala bagian. Mulai besok sudah tidak aktif kembali disini. Setelah makan siang, saya dan bagian legal akan meeting bersama, membahas masalah beliau. Semoga ada win-win solution. Saya paling anti dikhianati, so.. bekerja yang benar sesuai track yang ada, maka perusahaan akan memberikan apa yang karyawan butuhkan" jawab Rama.


"Jadi suami saya yang melaporkan jika Manager HRD berbuat curang sekitar setengah tahun yang lalu? Bapak mulai curiga saat banyak karyawan kita yang handal pindah ke perusahaan lain secara massal?" tanya Farida.


"Iyess.. kamu memang cepat tanggap ya. Saya sudah curiga saat itu, tapi kan semua perlu diselidiki. Orang yang tepat ya suami kamu. Saya minta dia melaporkan gerak-gerik orang yang saya curigai. Dia orang saya yang belum diketahui orang banyak, jadi pasti tidak menimbulkan kecurigaan" kata Rama.


"Kalo dia menyelidiki sesuatu, bagaimana dia mengatur jam kerjanya? kan dia bekerja Pak" tanya Farida.


"Dia kan sekarang Manager marketing di sebuah katering kan?" tanya balik Rama.


"Iya Pak.. Bapak kan tau sendiri, malah sering pakai jasa katering tersebut" jawab Farida.


"Katering itu punya saya. Jadi saat baru lulus kuliah, ada Ibunya teman yang ingin menjual kateringnya, padahal perlengkapan dan juru masaknya itu bagus-bagus loh. Tapi mereka mau pindah keluar negeri, jadinya tidak mau ada bisnis di Indonesia, tidak ada yang mengawasi. Saya jual ruko dan tanah warisan Mami untuk ambil alih katering itu. Alhamdulillah sampai sekarang cukup dikenal banyak orang. Semua karyawan masih sama seperti dulu, malah nambah banyak sekarang" jelas Rama.


"Ya Allah.. jadi Bapak pesan katering milik sendiri, ya itu mah uangnya muter-muter juga ya ke kantong Bapak.. hehehe" canda Farida.


"Begitulah bisnis saya, harus banyak dapur istilahnya. Saling melengkapi saja. Dari jasa katering, saya bisa membeli beberapa aset berupa ruko. Ketika perusahaan ini butuh dana segar, saya jual ruko tersebut. Saya suntikan dana sebagai pinjaman. Nantinya ketika perusahaan memberikan margin keuntungan dan membayar pinjaman ke saya, ya saya belikan aset lagi" kata Rama.


"Pintar sekali caranya.. halus dan rapih sampai ga ketahuan" puji Farida.


"Kata siapa ga ketahuan? istri, Papi dan Kakak tau kok tentang hal ini" kata Rama.


"Ya sudah pastilah mereka tau Pak.. kan keluarga terdekat" jawab Farida.


"Mereka tau sendiri, saya ga pernah cerita. Istri saya sih yang awalnya ngebongkar. Susah saya merahasiakan sesuatu dari dia. Ya abis gimana ya.. dia kan pawangnya seorang Rama.. hahaha" kata Rama sambil ketawa geli.


💐


Rama baru sampai di rumah menjelang makan malam.


"Makan Ram.. " ajak Pak Isam.


"Ya Pi.. Zian mana De?" tanya Rama.


"Baru pulang yang dicari anak ya.. istri didepan mata ga disapa" ledek Izza.


"Ngiri ya?" sahut Rama.


Mang Ujang dan Alex masuk kedalam rumah.


"Jang.. Lex.. makan sini.." ajak Pak Isam.


Mang Ujang bergabung di meja makan, tapi Alex ijin mau ke kamar mandi dulu.


"Zian lagi main sama Sachi di kamar. Dari Sachi pulang sekolah, ya main terus sama Sachi" lapor Izza.


"Udah bisa main apa anak tiga bulan?" tanya Rama heran.


"Udah main sepeda bahkan mau minta mobil buat balapan" sahut Izza.


"Ah masa.. duduk aja belum bisa sendiri" kata Rama dengan polosnya.


"Ya lagian segala tanya main apa.. ya sekedar diajak ngobrol dan mainan yang ada bunyi aja udah ketawa kok" ucap Izza.


"Dia banyak ketawa ya hari ini? alamat deh nanti malam nangis.. Zian tuh kaya Mommynya, kalo kebanyakan ketawa ujung-ujungnya pasti nangis" goda Rama.


"Zian lebih mirip ke kamu Ram.. kecilnya kamu suka ketawa, udah gedean baru banyak diam. Muka aja fotocopynya kamu. Katanya orang itu kalo anak mirip salah satu dari orang tuanya berarti yang cinta banget ya dia" ungkap Pak Isam.


Mereka mulai makan.


"Keliatan ya Pi siapa yang cinta banget" timpal Izza sambil tersenyum.


"Udah keliatanlah Za..." ucap pak Isam.


"Mitos itu Pi... yang namanya anak ya mirip sama orang tuanya, masa mirip tetangga" bela Rama.


"Ga usah gengsi mengaku kalo cinta banget sama istrinya, toh kita-kita juga tau yang nempel banget ya kamu. Inget ga jaman kamu mulai jatuh cinta sama Izza" goda Pak Isam.


"Emang gimana Pi?" tanya Izza antusias.


"Ga ada ya Pi .. ngarang itu. Rama ga jatuh cinta sama Izza sebelum menikah" sahut Rama.


"Masa sih... Rama ini rajin berangkat ke kantor dari abis subuh, udah gitu gercep handle urusan hotel. Kayanya kalo ga liat kamu tuh terasa ada yang kurang gimana gitu. Kalo weekend di rumah kaya orang linglung" jelas Pak Isam.


"Hahaha.. ketauan bucin banget ya Pi" tambah Izza.


"Bukan lagiiii... apalagi abis anterin kamu ke Kudus... senyum aja kerjaannya di rumah, padahal ga ada siapa-siapa yang diajak senyum" bongkar Pak Isam.


"Tiap pagi aja kalo berangkat kerja selalu lewatin rumah Mba Gita tuh Boss Papi, nanti saya diminta buat ikutin mobil mereka kalo mau ke kantor. Pas Mba Boss udah ga kerja di Abrisam Group, tiap pulang kerja kita nongkrong di parkiran kampus buat liat sang pujaan hati keluar kampus...haha" tambah Mang Ujang.


"Eh ikutan bongkar-bongkaran dia.. ga begitu ceritanya" Rama mencoba membela dirinya sendiri.


"Cinta tapi gengsi ya Mang.. hahaha" kata Izza sambil tertawa.


"Itu kalo ga saya komporin juga masih gengsi aja, saya bilang aja ntar kalo duluan disamber orang gimana, bisa gigit jari deh" ujar Mang Ujang.


"Haha.. ga nyangka ya seorang Kak Rama seperti itu" tukas Izza merasa menang.


"Ga begitu ceritanya.. hobby banget pada bikin cerita hidup orang lain. Kan kamu udah diceritakan semuanya De.. ga ada yang ditutupi kok" jawab Rama.


"Kenapa malu mengakui sih Ram.. toh sekarang wanita yang kamu kejar sudah jadi milik kamu, bahkan menjadi Ibu dari anak kamu. Sesuatu yang sangat wajar, malah harus loh cinta sama istri" saran Pak Isam.


Rama memandang kearah Mang Ujang, Mang Ujang tersenyum melihat Rama yang melotot kearahnya.