HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 85, The deepest pain is unseen by eyes



Lewat tengah malam, mobil Rama memasuki gerbang rumah Pak Isam. Rumah bergaya American classic modern dua tingkat sudah ada dihadapan Izza. Taman depannya tidak terlalu luas karena Pak Isam lebih fokus ke halaman belakang untuk bersantai dan lebih privasi karena tidak terlihat dari jalan.


"Bisa turun sendiri atau mau dibantu jalan?" tanya Rama saat membukakan pintu untuk Izza.


"Bisa sendiri kok" jawab Izza.


"Ayo Za .. kita masuk" tawar Pak Isam.


Izza mengikuti langkah Pak Isam, sementara Rama mengambilkan tas milik Izza dibagasi.


"Kamu mau minum dulu atau mau langsung istirahat?" tanya Pak Isam.


"Mau rehat saja Pak .. boleh saya tidur di kamarnya Sachi?" tanya Izza pelan.


"Boleh .. tapi kalo di kamarnya Sachi, kamu kayanya tidurnya dibawah, pakai kasur tambahan, tempat tidurnya Sachi itu single bed" jelas Pak Isam.


"Gapapa Pak" jawab Izza.


"Rama .. anterin Izza ke kamar Sachi, jangan lupa ya Za .. kamu kunci pintu kamarnya. Nur juga kalo tidur disana kunci pintu. Maklumlah Ayah dan Papanya Sachi suka tiba-tiba masuk kamar anaknya" ingat Pak Isam.


"Ya Pak" jawab Izza.


"Kita naik lift aja Za .. kamu pasti masih lemas" tawar Rama.


"Cuma naik selantai pakai lift? ya Allah.. berapa biaya listriknya coba. Padahal ga ada orang yang bolak-balik naik turun kaya di Mall kan ya... emang kadang orang kaya itu bingung buang duitnya gimana" tutur Izza dalam hatinya.


.


Rama mengetuk pintu kamar Sachi, ga lama kemudian Mba Nur keluar dari kamar.


"Kamu tidur di kamar bawah, Izza malam ini mau nemenin Sachi tidur disini" perintah Rama.


"Baik Mas.. saya gantikan dulu sprei kasur bawah, ga enak bekas saya" pinta Mba Nur.


"Ya" jawab Rama.


"Mba Izza perlu tambahan guling atau bantal?" tanya Mba Nur.


"Ga usah Mba Nur" jawab Izza.


Rama duduk di sofa depan kamar.


"Duduk dulu disini, itu ada kulkas kalo mau minuman dingin, kemarin sekalian beli waktu di PRJ. Abis kalo mau minuman harus ke dapur dulu, lumayan cape kan jalannya. Ada dispenser juga kalo mau minuman hangat. Dimeja bawah ada mie instan cup, kopi, teh, gula dan minuman sachetan lainnya" tawar Rama.


"Kak Rama mau minum? saya buatkan" kata Izza yang merasa ga enak karena sudah banyak dibantu hari ini sama Rama.


"Bisa tolong seduhin mie instan cup? yang rasa bakso ya. Sama minumnya es teh manis, kayanya seger tuh" ucap Rama tanpa basa basi.


Izza menyiapkan pesanan Rama.


"Orang mah basa basi kek.. ini malah request kaya di kantin aja. Ga ngerti banget orang lagi sedih" rutuk Izza dalam hatinya.


"Jangan bengong ... atau lagi sibuk ngatain saya ya?" kata Rama sambil melepaskan sepatunya.


Izza hanya diam, malas membalas ucapannya Rama.


"Mas .. Mba .. sudah saya ganti spreinya. Ada lagi yang bisa dibantu?" tanya Mba Nur.


"Kamu masih butuh bantuan Mba Nur ga Za?" kata Rama.


"Makasih Mba Nur. Sudah cukup, saya mau mandi terus tidur aja" jawab Izza.


"Baik Mba .. saya permisi dulu" pamit Mba Nur.


Mba Nur turun pakai tangga untuk menuju lantai bawah. Izza masuk kedalam kamar Sachi. Rama masih makan sambil menonton televisi.


.


Ketika memandangi wajah Sachi saat tertidur, wajah polos original tanpa pura-pura itu menjadi penawar kesedihan Izza walaupun hanya sedikit. Terus memandangi wajah Sachi bak memutar video kehidupannya sendiri, hanya bedanya kehidupan Sachi lebih mewah dibandingkan dirinya.


Tingkah polahnya Sachi selalu bisa menghadirkan senyum buatnya. Dirapihkan selimut Sachi yang mulai tersingkap. Setelahnya Izza mandi dan segera tidur.


Izza sangat terlelap dalam tidur karena lelah jiwa dan raganya.


.


Pengajian dari Mesjid membangunkan Izza, pertanda adzan subuh akan segera berkumandang, dia langsung mengambil wudhu.


"Kiblat menghadap mana ya? mau tanya ke Kak Rama ga enak ah .. nanti dia masih tidur" tanya Izza bingung.


ceklekkkk..


Ada suara pintu terbuka.


Izza buru-buru keluar sudah pakai mukena.


"Kenapa Za?" tanya Rama kaget.


Izza takjub memandang sosok lelaki tegap memakai jubah gamis diatas mata kaki plus pakai peci ada dihadapannya. Sajadah bertengger dipundaknya yang bidang.


"Beda banget ini orang kalo dandan kaya gini... " gumam Izza.


"Za .. ada apa keluar kamar buru-buru? ada yang bisa saya bantu?" tanya Rama.


"Mau tanya kiblat kearah mana?" ucap Izza langsung.


"Membelakangi pintu masuk kamar Sachi" jawab Rama sambil berlalu.


.


Jam setengah enam pagi, lamat-lamat Haidar mendengar ada suara perempuan sedang mengaji (kamar Sachi disebelah kamar Haidar).


"Astaghfirullah... Alhamdulillah masih hidup... ngimpi kok di ngajiin orang sambil tiduran. Eh .. tapi suara siapa yang ngaji sepagi ini?" tanya Haidar sambil bergegas ke kamar mandi, dia kesiangan bangun untuk sholat subuh.


Selesai sholat pun masih mendengar suara perempuan sedang mengaji. Suaranya terdengar bergetar karena menahan kesedihan yang mendalam.


"Kayanya bukan suara Nur deh .. lagian mana pernah ada suara perempuan lagi ngaji disini. Kenapa jadi merinding ya .. bulu kuduk berdiri semua gini" ucap Haidar rada mulai takut.


Karena penasaran, Haidar keluar dari kamarnya menuju asal suara. Dia tunggu di sofa depan kamarnya Sachi.


Tepat jam enam pagi, Izza keluar kamar karena haus.


"Izza????" kata Mas Haidar kaget.


"Eh Mas Haidar..." ucap Izza juga kaget.


"Bukannya ... semalam kamu..." ujar Mas Haidar bingung ngomongnya.


"Panjang ceritanya Mas" jawab Izza.


Izza menuju dispenser untuk membuat teh hangat.


"Mas mau dibuatkan minuman?" tawar Izza.


"Boleh ... ada susu sachet kayanya disana, tambahin kental manis juga ya sedikit" pinta Mas Haidar.


Izza membuatkan pesanan Mas Haidar, kemudian meletakkan di meja.


"Makasih Za ..." ucap Mas Haidar.


Izza menceritakan kejadian semalam secara singkat dan jelas. Mas Haidar mendengarkan dengan seksama.


"Duka karena kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya memang menjadi satu diantara perasaan paling tidak menyenangkan, paling menyedihkan yang dirasakan dalam kehidupan manusia. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Kakak kamu. Semoga kamu sabar dan tabah dalam menghadapi kepergiannya" ucap Mas Haidar tulus.


"Terima kasih Mas.. " jawab Izza.


"Saya agak kaget pas Papi semalam bilang Kakak kamu meninggal, bayangan saya langsung ke Mba Gita, ternyata bukan" ucap Mas Haidar.


"Sekarang saya juga bingung mau cari kemana, siapa yang ambil aja kami ga kenal" ujar Izza rada sedih.


"Ya udah .. ambillah masa buat bertenang disini. Kami ga masalah kok Za. Lagipula Sachi pasti senang kamu bisa banyak waktu buat dia. Siapa tau karena ada kamu, Ayahnya Sachi bisa pulang tepat waktu" ledek Mas Haidar sambil tersenyum.


"Ga ada apa-apa Mas .. kami hanya teman" sangkal Izza.


"Loh siapa yang bilang kamu sama Rama ada apa-apa? kan saya bilang siapa tau Rama bisa pulang cepat, karena biasanya Rama itu ga mau tersaingi kalo urusan Sachi. Nanti kalo kamu disini, Sachi akan lebih fokus ke kamu dibandingkan ke Rama" jelas Mas Haidar.


.


"Ga kerja?" tanya Mas Haidar heran.


"Ini mau berangkat kerja" jawab Rama.


"Dengan pakaian kaya orang mau touring gini?" ucap Mas Haidar.


"Mau naik motor, lama ga naik motor jauh. Hampir setahun juga naik motor keliling komplek aja" sahut Rama.


"Ga tunggu Sachi bangun? udah seminggu kamu berangkat pagi terus. Sebentar lagi juga Sachi bangun. Tuh Nur udah masuk ke kamarnya" nasehat Mas Haidar.


"Iya .. ini juga mau nunggu dia dulu" jawab Rama.


"Semalam pulang jam berapa, kok kamu malah bawa motor, nanti ngantuk" ucap Mas Haidar.


"Cukup kok udah tidur dua jam" jawab Rama.


"Jaga kesehatanlah.. sehari tidur sedikit, manage waktu yang bener" nasehat Mas Haidar.


"Iya.." jawab Rama.


Rama mengambil HP nya dan menelpon Mang Ujang.


"Tolong siapin motor saya, sekitar lima belas menit lagi saya jalan" kata Rama.


"Mas Boss mau pakai motor? terus saya gimana? boncengan gitu?" tanya Mang Ujang.


"Mamang standby aja di rumah, kalo saya butuhkan baru meluncur pake mobil" perintah Rama kemudian sambungan telepon ditutup.


"Alhamdulillah... lagi ngantuk gini, eh Mas Boss mau jalan sendiri.. tarik selimut lagi ah abis Mas Boss jalan.. mendingan dia lagi bete .. maunya sendiri, jadi bebas tugas euy" kata Mang Ujang penuh rasa bahagia.


.


"Aunty Izzaaaa..." panggil Sachi sambil berlari kearah Izza dan memeluknya.


"Udah bangun... mandi yuk" ajak Izza.


Izza segera bangun dari duduknya, bersamaan dengan itu, Rama pun ikut berdiri.


"Ehhh... yang diajak mandi itu Sachi, bukan kamu" ledek Mas Haidar sambil cengar-cengir.


"Siapa yang mau ikut mandi? Rama mau ambil minum" jawab Rama menuju kulkas.


"Pagi-pagi minumnya udah air es" ujar Mas Haidar.


"Kalo ga minum es rasanya kering banget Mas" alasan Rama.


.


Izza yang memandikan dan memakaikan seragam sekolah untuk Sachi. Setelah rapih, mereka semua turun kebawah, Pak Isam sudah menunggu di meja makan.


"Enak tidurnya Za?" sapa Pak Isam.


"Alhamdulillah nyenyak Pak" jawab Izza.


"Hari ini ada jadwal kuliah?" tanya Pak Isam.


"Ga ada Pak, diganti besok, dosennya ada seminar" ucap Izza.


Mba Nur menyiapkan bekal untuk Sachi di dapur. Izza yang mengurus sarapannya Sachi.


"Aunty .. tolong ya, ambilkan bakwan jagungnya dua" pinta Sachi sopan.


"Kalo dua namanya baktwo.. kalo bakwan mah satu aja.. hehehe" ledek Rama.


Sachi kebingungan sama becandaan Ayahnya.


"Baktwo apa Yah?" kata Sachi dengan polosnya.


"Udahlah.. nanti aja dijelasinnya" jawab Rama.


"Begini maksudnya Ayah itu kalo bahasa Inggris satu kan one.. tadi Sachi minta bakwan kan? jadi maksudnya Ayah bakwan itu hanya satu bakwan, nah kalo dua .. menurut Ayah bilangnya baktwo, kan two artinya dua" jelas Izza panjang lebar.


Sachi makin bengong dengan kerecehan yang dia dengar. Penjelasan Izza pun masih ga dia pahami.


"Ayah cuma becanda .. udah lanjut makannya" pinta Rama.


Sachi sarapan bihun goreng dan bakwan jagung pakai saos tomat. Yang lain menikmati havermout plus buah potong. Rama hanya meminum susu protein miliknya kemudian pamit untuk berangkat duluan.


"Ayah ga bisa antar ya sayang.. sekolah yang pinter" ucap Rama sambil mencium kedua pipinya Sachi.


"Iya Ayah .. kata Aunty Izza, hari ini mau anterin dan tungguin Sachi sekolah" kata Sachi.


Rama langsung mengeluarkan dompetnya. Kemudian mengambil tiga lembar uang seratus ribuan dan diserahkan ke Izza.


"Buat apa Kak?" tanya Izza ga paham.


"Kamu nanti kan tunggu di food court, ya buat jajanlah, ada Nur juga kan. Lumayan lama nunggu sampai jam dua belas" jawab Rama.


"Ambil aja Za .." sahut Pak Isam.


.


Rama ternyata menuju markasnya Alex dan teman-temannya, dilantai atas sebuah warung kopi biasa didaerah Tebet.


"Lima tahun saya percaya sama kamu Lex.. selama ini tidak ada berita yang meleset. Kenapa bisa begini??" teriak Rama.


Alex dan anak buahnya hanya diam tertunduk lesu.


"Sudah saya wanti-wanti untuk waspada di Rutan, see.... kecolongan kita" lanjut Rama.


"Maaf Boss..." jawab Alex.


"Mereka udah baca gerak gerik kita" kata Rama penuh emosi.


"Sepertinya begitu Boss" sahut Alex.


Rama yang ga terima jawaban Alex langsung membanting gelas yang ada dihadapannya. Hal ini dilakukan sebagai ledakan kemarahan secara verbal pada situasi yang tidak seharusnya terjadi.


"Sekarang awasi Mba Gita, dia pasti jadi incaran selanjutnya" pinta Rama sambil meninggalkan markas.


Rama memacu motornya menuju Abrisam Group, selama bekerja kurang dari setahun yang lalu, baru kali ini dia naik motor ke Kantor.


Security menghampirinya karena parkir ditempat biasanya mobil Rama parkir kalo lagi ga lama di Abrisam Group.


"Selamat pagi Pak, parkiran motor dibasement, lahan ini khusus untuk parkiran atasan kami" ingat security.


Rama membuka helmnya.


"Maaf Mas Rama .. saya tidak tau kalo yang mengendarai motor..." kata Security.


"Udah .. udah... ini helm saya bawa ke Pos aja" perintah Rama sambil menyerahkan helmnya.


"Siap" jawab security.


Rama bergegas masuk, dia masih memakai jaket kulit, sarung tangan kulit serta kaca mata hitam.


Rama memang meletakkan beberapa baju dan sepatu di Kantor sehingga kalo diperlukan tidak repot tunggu diantar dari rumah dulu. Makanya dia berdandan casual pun bisa ganti disini.


"Pagi Pak Rama.." sapa Farida yang kaget sama penampilan Bossnya.


"Pagi .. apa jadwal hari ini?" tanya Rama sambil melepaskan kaca matanya dan diletakkan di meja Farida.


Rama merapihkan rambutnya pakai jari jemari tangannya.


"Apa ga mau tunggu Bapak rileks dulu baru nanti saya masuk untuk menjelaskan?" tanya Farida hati-hati.


"Sekarang aja, kalo ga ada yang penting disini, saya mau lanjut ke Audah Hotel" jawab Rama.


"Ada Pak .. tumpukan berkas di meja kerja itu perlu dicek kembali dan ditandatangani, after lunch nanti ada meeting vendor penyewaan alat berat untuk konstruksi, sore sekitar jam empat ada meeting dengan perusahaan yang akan menyediakan perumahan untuk karyawannya. Diperkirakan baru selesai jam enam sore, ada juga undangan makan malam dari pihak engineering" lapor Farida.


"Makan malam diwakilkan saja, kamu coba tanya ke Manager umum siapa yang mewakili. Besok-besok kalo atur jadwal saya itu paling lambat jam lima sore sudah tidak ada kegiatan lagi" ingat Rama.


"Agak padat memang Pak, mengingat Bapak hanya menyediakan waktu disini empat hari sedangkan Bapak minta tidak dicampur jadwal dengan Audah Hotel, jadi pasti ada jadwal yang dipadatkan ke hari yang lainnya" alasan Farida.


Rama langsung ngeloyor masuk kedalam ruangannya. Sebelum masuk dia membuka showcase minuman. Membawa air mineral dingin dan es krim.