
Di mobil dalam perjalanan pulang ke Tasikmalaya.
"Mang ... beneran ga sih kalo Aa' Rama udah punya anak?" tanya Ceu Lilis penasaran.
"Ga tau deh ... saya aja udah kerja sama dia hampir enam bulan ga pernah dapat jawaban yang pasti tentang statusnya Sachi itu siapa. Tiap ditanya pasti jawabannya anaknya Mas Boss, buktinya manggil Ayah ke Mas Boss" jawab Mang Ujang.
"Atau anak diluar nikah kali Mang?" tanya Ceu Lilis lagi.
"Mas Boss itu ga pernah yang namanya cerita hal pribadi ke saya. Orangnya sangat tertutup untuk hal itu. Paling kalo ngobrol ya yang lucu-lucu aja, atau yang ada hubungannya sama kerjaan. Kalo liat dari gayanya, lumayan alim gitu ga mungkin dia punya anak diluar nikah. Lagian wajahnya Sachi ga mirip sama Mas Boss, lebih mirip ke Mas Haidar, Kakaknya Mas Boss" lanjut Mang Ujang.
"Emang Aa' Rama ga mirip sama kakaknya?" selidik Ceu Lilis lagi.
"Ga .. mukanya jauh. Kalo Mas Boss itu mah laki banget, kulitnya coklat, mukanya rada galak. Kalo Kakaknya mirip sama Papi Boss, bersih gitu, mukanya juga muka bebi pes sama rada ganteng" jawab Mang Ujang.
"Baby face kali Mang" edit Ceu Lilis.
"Nah ya itu maksudnya, maklum deh nih mulut kadang ga nyambung sama maksud otak saya" kata Mang Ujang.
"Terus kalo Izza itu siapanya Aa' Rama sih Mang? kayanya deket banget sama Aa' Rama, malah semalam anaknya Aa' Rama kan tidur sama Izza di kamar. Tadi pagi juga masih aja ikutin Izza" tanya Ceu Lilis.
"Ini dari tadi bahas Mas Boss mulu, saya nih didepan mata ga ditanyain?" protes Mang Ujang.
"Mang Ujang ga semenarik Aa' Rama, siapa coba yang mampu menolak pesonanya" sahut Ceu Lilis.
"Mas Boss mah menang kaya doang Lis. Coba kalo nasibnya jadi supir kaya saya, pasti gantengan saya kemana-mana" protes Mang Ujang.
"Ya itu saking gantengnya kemana-mana jadinya ga ngumpul dimukanya Mang Ujang" sahut Ceu Lilis.
Wajah Mang Ujang rada keki melihat Ceu Lilis tertawa.
"Lis .. boleh tanya ga? tapi jawabnya jangan becanda ya" kata Mang Ujang agak ragu.
"Mau nanya apa sih Mang?" ujar Ceu Lilis.
"Mas Boss kan pernah bilang mau bawa kamu ke Jakarta, mau apa ya kamu di Jakarta? mau diorbitin jadi penyanyi? atau mau dijadiin istri sama dia?" ucap Mang Ujang super kepo.
"Rahasia dong Mang .. saya udah janji sama Aa' Rama buat ga cerita sama siapapun" jawab Ceu Lilis penuh teka-teki.
"Kamu suka ya sama Mas Boss? atau Mas Boss suka sama kamu?" lanjut Mang Ujang makin penasaran.
"Siapa yang ga suka sama cowok kaya Aa' Rama? baik, kaya, keliatannya pekerja keras, sayang sama anak-anak, ya pokoknya banyak nilai plusnya. Kalo perasaan Aa' Rama ke Lilis mah masih belum pernah dengar dari mulutnya, tapi siapa atuh yang mampu menolak kecantikan Lilis ... hehehe" jawab Ceu Lilis dengan pedenya.
"Tapi keluarganya Mas Boss itu masih mandang bibit bebet bobot loh. Makanya karyawan cuma bisa mengagumi Mas Boss tapi sadar diri ga mungkin memiliki" saran Mang Ujang.
"Emang masih jaman yang kaya gitu Mang? kayanya Aa' Rama orangnya biasa aja. Kalo dia mau sama sesama orang kaya, ya pasti dia ga akan baik sama semua wanita" kesimpulan Ceu Lilis.
"Soalnya kan Kakaknya ada yang nikah sama OB dan akhirnya cerai karena tekanan keluarga" terang Mang Ujang.
"Ya liat aja nanti Mang, Aa' Rama pasti tau apa yang terbaik buat dia" jawab Ceu Lilis.
🏵️
Jam empat sore, Rama mengajak Izza dan Sachi untuk mencari mukena yang Sachi inginkan.
Rama baru pertama kali menginjakkan kakinya di toko busana muslim, biasanya udah terima beres busana buat Hari Raya, jadi tinggal pake aja.
Rama lumayan takjub liat baju dan mukena yang dipajang. Mulai yang berwarna polos sampai bermotif, ada yang berenda bahkan berpayet, aneka warna soft hingga warna menyolok mata.
Sachi dan Izza sedang mencari yang cocok untuk dipakai anak-anak. Baik warna, model yang simple sampe bahan yang nyaman untuk dikenakan.
Konon, mukena merupakan hasil perpaduan budaya Jawa dengan ajaran Islam yang dikompromikan oleh Wali Songo ketika menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sebelum kedatangan Islam di tanah Jawa, kaum perempuan memakai pakaian hanya menggunakan kain panjang (jarik batik) tanpa dijahit dan kemben yang hanya dililit saja. Sehingga sebagian anggota tubuhnya terlihat.
Akan tetapi, ketika Islam dibawa dan disebarkan oleh Wali Songo, terjadilah benturan budaya dengan syari’at Islam. Dalam ajaran agama Islam, para perempuan sangat dihargai dan ditempatkan pada kedudukan yang tinggi. Perempuan dihormati dengan cara diberi pakaian yang menutup seluruh auratnya. Dari benturan antara kebudayaan dan syari’at islam, lahirlah kompromi-kompromi antara Wali Songo dengan kaum wanita pada masa itu. Mereka merasa keberatan dengan berpakaian menurut syari’at apalagi ketika hendak pergi ke sawah (mata pencaharian utama saat itu).
Pastinya akan tidak nyaman para perempuan memakai gamis dan jilbab lebar terus turun ke sawah bertani ditengah terik panasnya matahari. Tidak praktis dan gerah.
Islam adalah agama yang toleran dan tidak memaksakan kemudharatan. Dari hasil kompromi tersebut, didapat sebuah kesimpulan bahwa budaya berpakaian yang telah lama tetap dijalankan seperti biasanya. Namun, ketika shalat harus mengenakan pakaian tambahan yang menutup seluruh tubuh dan tidak menunjukkan lekuk tubuh. Dari sinilah awal sejarah mukena dimulai. Penggunaan mukena saat sholat pun kebanyakan dikenakan di negara-negara melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura).
"Kak .. Sachi pakai yang dari bahan katun Jepang aja ya" kata Izza ke Rama.
"Emang di Indonesia ga ada katun sampe import dari Jepang?" tanya Rama.
"Ini istilah aja, ga tau kenapa dibilangnya katun Jepang. Bahan ini lembut dan enggak bikin gerah saat shalat, jadi cocok buat anak-anak. Motifnya juga menarik dan warnanya soft. Uniknya mukena berbahan katun Jepang itu semakin sering dicuci maka semakin adem. Ga gampang belel juga" jelas Izza.
"Oke ajalah .. saya ga ngerti yang begituan" jawab Rama sambil mengeluarkan kartu debit dan menyerahkan ke Izza,
"Nanti nomer PINnya saya chat ya" kata Rama.
"Bapak-bapak memang ga mau repot ya Pak, istri sama anak milih-milih, Bapaknya tinggal bayar" goda pramuniaga toko busana muslim.
"Kan kaum Bapak itu tugasnya nyari uang, yang habiskan ya orang rumah. Ada istilah mendingan uang habis buat wanitamu daripada buat wanita lain" canda Rama sambil tersenyum.
"Ini Bapakable banget, setuju deh sama pendapatnya" ujar pramuniaga toko.
"Kamu ga beli sekalian Za .. mukena atau jilbab gitu .. ambil aja, anggap sebagai rasa terima kasih saya buat hari ini" kata Rama.
"Ga usah Kak" jawab Izza.
Sementara Izza membayar mukenanya Sachi. Rama masih duduk di kursi toko tersebut, ga lama kemudian datang seorang Bapak duduk disampingnya.
"Saya nih udah setengah jam masih juga istri belum selesai milih mukena, padahal mukena ya begitu aja modelannya" buka Bapak tersebut.
"Wanita emang gitu kali Pak, ga puas milih kalo belum satu Mall diputerin. Padahal ya konsep punya mukena baru itu bagus. Tapi kan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Jangan sampai gara-gara mengenakan mukena baru yang kekinian dengan renda-renda serta taburan payet yang memberatkan, alih-alih sholatnya biar lebih khusyu karena mukena mahal, yang ada malah repot sendiri karena kegerahan dan keberatan" kelakar Rama.
"Bener banget tuh Pak. Mending kita ya, baju koko kalo ga lengan panjang ya lengan pendek, model mah gitu aja, beda motif sama warna aja. Plus sarung yang dari jaman beheula juga bolongannya dua, ga nambah-nambah.. hahaha" timpal Bapak tersebut.
"Berarti tandanya kita kaum pria tuh praktis dan ga mau ribet" sahut Rama.
💐
"Sachi ikut Rama kerja?" tanya Pak Isam ke Haidar yang sudah sampai ke rumah.
"Mungkin ... kangen kali anaknya sama Ayah tercinta" jawab Haidar.
"Tumben kamu jam lima udah sampai rumah" kata Pak Isam.
"Lagi ga banyak kerjaan" ujar Haidar.
"Besok mau ikut main golf ga? Rama ikut juga kok" ajak Pak Isam.
"Kapan nih Papi dikenalkan sama someone? kayanya anak-anak Papi tuh ganteng-ganteng, masa ga ada yang laku" tembak Pak Isam.
"Haidar kan udah pernah nikah Pi, artinya pernah laku. Tuh bujang Papi yang bungsu belum ada kabar mau gimana. Semua cewe dikasih harapan, tapi ujung-ujungnya dihempaskan. Kirain sama adiknya Mba Gita lanjut, eh ga taunya malah dipecat. Sama yang di Tasikmalaya pun sama, sampe kemarin katanya isi acara di Hotel, eh pulang ga dianterin. Terus yang anaknya diplomat juga sama, ga ada ujungnya. Jangan-jangan dia cinta mati sama Mamanya Sachi kali ya, sampe ga pernah dengar dia punya hubungan sama wanita" papar Haidar.
Pak Isam ga bisa berkata-kata untuk menjawabnya.
"Papi kenal sama Mamanya Sachi?" tanya Haidar serius.
"Kenapa mau tau tentang Mamanya Sachi?" kata Pak Isam balik nanya.
"Ya kalo kenal kan setidaknya Papi bisa cerita orangnya seperti apa dan bagaimana bisa anaknya sama Rama. Kenapa pula wajah Sachi mirip sama Haidar. Golongan darahnya pun sama. Sachi ga ada mirip-miripnya sama Rama. Sebenarnya siapa Sachi Pi? apa hubungannya dengan keluarga kita? kenapa Rama mau membesarkan Sachi tanpa pernah tau siapa keluarga besarnya Sachi. Kalo Sachi itu anaknya Rama, kenapa hanya ada nama Ibunya di akte kelahiran Sachi? Apa Sachi hasil hubungan gelap Pi?" selidik Haidar dengan banyak pertanyaan yang sebenarnya sering dia tanyakan ke Rama tapi ga pernah ada jawaban.
"Dia .... dia ...." ucap Pak Isam ragu.
"Assalamualaikum Papa ... Assalamualaikum Opa.." teriak Sachi saat masuk rumah dan mencium tangan keduanya.
"Waalaikumsalam" jawab Haidar dan Pak Isam barengan.
Sachi duduk disebelah Haidar, Rama yang baru masuk bawa tentengan langsung mencium tangan Papi dan Kakaknya kemudian duduk disebelah Pak Isam.
"Aduh ... keliatannya happy banget nih, sini Papa mau dengar dong ceritanya" puji Haidar.
Sachi pindah ke pangkuan Haidar.
"Sachi abis dari mana?" tanya Haidar.
"Dari theme park di Mall, banyak mainannya, tempatnya besar, banyak temannya" jawab Sachi dengan lancar.
"Berdua aja sama Ayah kesananya?" selidik Haidar iseng.
"Sama Aunty Izza juga, jadi kesana bertiga naik mobilnya Ayah" jawab Sachi dengan polos.
"Oh sama Aunty Izza... Mang Ujang ga ikut tohhh " ucap Haidar sambil melirik Rama.
"Sachiiiiiii...." kata Rama sambil menempelkan telunjuknya di bibir.
Sachi ga paham maksudnya Rama.
"Iya .. Mang Ujang ga ikut, kata Ayah, Mang Ujang libur kerja" lanjut Sachi.
"Oh Mang Ujang diliburkannnn???" ledek Haidar kearah Rama.
Rama malah mengalihkan pandangan ke HP nya. Pak Isam udah senyum-senyum aja.
"Main apa aja sama Aunty Izza?" tanya Haidar lagi.
"Main banyak .. mewarnai, bola, balapan mobil .. banyak pokoknya. Sama beli mukena juga buat Sachi" adu Sachi dengan lancar.
"Oh beli mukenaaa... Aunty Izza dibeliin ga?" tanya Haidar.
"Ayah ... Aunty Izza beli mukena juga ga?" tanya Sachi ke Rama.
"Ga" jawab Rama singkat.
Rama bangun dari duduknya dan bersiap masuk ke kamar.
"Ayah Rama mau kemana?" goda Haidar.
"Mandi" jawab Rama.
"Terus tadi Sachi disuapin ga makannya sama Aunty Izza?" tanya Haidar.
"Iya ... Ayah juga disuapin" jawab Sachi makin ember.
"Ohhhh Ayah juga ... manja ya Ayahnya Sachi" kata Haidar penuh kemenangan.
"Sachiiii ... ih nih anak ya" ujar Rama gemes dan langsung memeluk Sachi dan mengitik-ngitik Sachi.
Sachi merasa kegelian, dia teriak-teriak kegelian sambil ketawa.
"Ayah Rama malu tuh rahasianya dibongkar sama anaknya sendiri" tambah Haidar.
"Mba Nur ... Mba Nur... " panggil Rama.
Pengasuhnya Sachi menghampiri Rama.
"Ada apa Mas?" tanya pengasuhnya Sachi.
"Tolong Sachi dimandiin ya, udah bau keringat" pinta Rama.
Sachi dibawa sama pengasuhnya untuk mandi.
Rama sekarang duduk disebelah Haidar. Tatapan Pak Isam dan Haidar tertuju padanya.
"Kalo pergi sama Izza .. ya benar, karena semalam Sachi ngambek dan ketemu sama Izza langsung klop. Tau sendiri kan kalo seminggu ini Sachi banyak diam, dia ingin kaya temannya yang pergi sama orang tua utuh. Akhirnya ajak Izza hari ini buat menghibur Sachi. Itu aja ga lebih" jelas Rama buru-buru.
Pandangan Pak Isam dan Haidar masih kearah Rama.
"Kalo yang disuapin itu mah ga kaya gitu juga. Jadi tadi kan lagi makan burger, terus belepotan saos, eh ada telepon masuk. Izza tuh sodorin tissue, tapi tangan Rama buat pegang burger dan HP, akhirnya Izza inisiatif megangin burgernya. Rama yang mangap saat Izza pegang burger. Jadi ga disuapin, Rama yang menghampiri burger itu" lanjut Rama agak belepotan ceritanya.
Haidar dan Pak Isam tersenyum.
"Jadi gimana nih ... mau dijajaki jadi Mamanya Sachi atau sekedar menghibur Sachi aja hari ini? Kalo kamu niat sekedar main-main, jangan bikin Izza salah persepsi ya. Gita itu karyawan andalan Papi. Masa gara-gara kelakuan kamu nantinya hubungan kita sama Gita jadi ga nyaman" saran Pak Isam.
"Kan Rama udah bilang Pi dari awal. Murni hanya untuk menghibur Sachi" jawab Rama.
"Tapi kamu lupa Ram ... Sachi itu masih anak kecil, ketika dia merasa nyaman sama Izza, maka akan sulit bagi dia jauh dari Izza. Kamu dan Izza yang memulai permainan sama Sachi, so siap-siap aja denger rengekan Sachi yang meminta kamu dan Izza bisa jalan bareng lagi" papar Haidar.
"Nanti pinter-pinternya kita aja cari alasan, kan Sachi masih kecil, masih bisa lah dikibulin" jawab Sachi.
"Kita liat aja .. omongan siapa yang bakalan terbukti" tantang Haidar.
"Rama mau mandi dulu ya .. bau nih" pamit Rama.
"Tadi penjaga villa telepon ke Papi, katanya HP kamu ga bisa dihubungi. Papi tanya ada perlu apa sama kamu, Ibunya siapa gitu.. udah diperiksa dokter dan ga perlu rawat inap. Wanita mana lagi yang kamu lagi deketin? Papanya Dania aja udah sering juga nanyain kapan kita bisa liburan bareng mumpung mereka di Indonesia. Jangan semua dikasih harapan dong. Tentukan mana yang pas dihati" saran Pak Isam.
"Siap Boss Papi" ujar Rama seraya beranjak dan menuju kamarnya.