
"Rama mana?" tanya Mba Anindya yang tiba-tiba sudah berada didepan mejanya Farida.
"Selamat siang Bu Anin" jawab Farida sambil berdiri.
"Ga usah basa-basi.. Rama mana?" tanya Mba Anindya mengulang pertanyaan.
"Pa Rama sedang tidak bisa diganggu Bu" jawab Farida.
Mba Anindya berjalan kearah pintu ruang kerja Rama. Farida buru-buru mengejarnya.
"Maaf Bu Anin.. Pak Rama sedang tidak bisa diganggu oleh siapapun, jadi Ibu tidak bisa masuk ke ruangan tanpa ijin dari Pak Rama" cegah Farida.
"Kamu tau kan saya bukan tamu?" kata Mba Anindya ngotot.
"Tapi perintah Pak Rama seperti itu Bu, kecuali atas persetujuan Pak Rama terlebih dahulu baru tamu bisa masuk" jelas Farida.
Mba Anindya mendorong tubuh Farida untuk menyingkir dari depan pintu ruangan Rama.
Pintu ruang kerja Rama terbuka, Rama tengah melihat kearah jendela langsung refleks melihat kearah pintu.
"Maaf Pak.. sudah saya informasikan ke Ibu Anin jika Bapak tidak bisa diganggu" ucap Farida agak takut.
Mba Anindya sudah masuk kedalam ruangan, mendekati mejanya Rama.
"Rama... apa-apaan ini?" kata Mba Anindya dengan suara yang keras dan melemparkan sebuah map ke mejanya Rama.
"Farida.. kembali ke meja kamu" pinta Rama sambil duduk di kursinya.
Mba Anindya masih berdiri. Farida menutup pintu ruangannya Rama.
"Silahkan duduk Mba" tawar Rama.
Mba Anindya duduk dihadapannya Rama.
"Maksud kamu apa untuk melepas kepemilikan Audah Hotel?" buru Mba Anindya penuh emosi.
"Jelas kan dalam surat itu jika saya ingin lebih konsentrasi di Abrisam Group, saatnya saya fokus untuk membesarkan lagi perusahaan ini untuk membungkam para pengusaha licik yang menghalalkan segala cara dalam menjalankan bisnisnya" jawab Rama dengan santainya.
"Kenapa Ram.. karena Izza?" tembak Mba Anindya.
"Bagus kalo Mba Anin paham.. rupanya sudah cerita anak buahnya ya? so.. jelas sudah alasannya, kenapa harus Mba pertanyakan lagi? apa anak buahnya belum jelas bercerita? kurang dramatis?" ledek Rama.
"Mba bisa jelaskan semuanya Ram" kata Mba Anindya.
"Apalagi Mba? ga bisa mengubah cerita yang sudah lewat kan? teganya kalian yang punya kekuatan menindas gadis kecil yang ga berdaya, teganya kalian membuat Izza tumbuh bak seorang robot yang bisa kalian setel sekehendak hati, teganya kalian menimpakan dendam dan keinginan pribadi kepada saya dan keluarga. Apalagi yang mau Mba jelaskan? bagi saya semua sudah jelas. Saya tidak bisa bekerjasama dengan orang-orang culas seperti Mba Anin and the gank" ungkap Rama dengan suara yang bergetar menahan amarahnya.
"Ram.. kamu tau bagaimana perasaan Mba sudah dikhianati oleh Mas Haidar kan?" tanya Mba Anindya.
"Ga ada sambungannya antara Mas Haidar yang berkhianat dengan saya. Kenapa ga membalas ke Mas Haidar secara langsung? kenapa malah saya yang jadi korban?" papar Rama mulai naik tensi.
"Because I love you" kata Mba Anindya jujur.
"Sejatinya.. jika kita mencintai seseorang, bukankah ga mau orang itu terluka atau sakit?" jawab Rama.
"Tapi Om Alfian ternyata bermain juga, beliau ingin Dania menjadi istri kamu. Karena antara Mba dan Dania tidak kamu pandang, Izzalah yang dimanfaatkan" lanjut Mba Anindya.
Rama bertepuk tangan sambil tersenyum sinis.
"Kalian itu para penulis skenario plus sutradara yang sangat pintar. Kenapa ga bikin film saja.. mungkin bisa jadi box office dinegara ini atau bahkan sampai keluar negeri.. mendapatkan deretan piala citra bahkan piala oscar. Pesan saya, cari aktor dan aktris yang kawakan, jangan debutan baru yang masih lugu" kata Rama dengan nada yang menyindir.
"Ram... kita buat simple aja. Lepaskan Izza.. kami semua juga akan melepaskan dia dan tidak akan mengganggu hidupnya lagi" usul Mba Anindya.
"Urusan Izza adalah urusan saya sendiri, tidak ada kena mengena dengan bisnis kita. Mau saya apakan dia adalah hak saya.. paham???? Dan satu lagi... saya minta kalian semua lepaskan Izza atau saya yang akan mengobrak-abrik kalian semua" ucap Rama penuh penekanan.
Mba Anindya mendekati Rama dengan memegang tangannya Rama.
"Ram.. Izza ga layak jadi istri kamu. Dia ga tulus cinta sama kamu. Dia selama ini cuma pura-pura cinta sama kamu" kata Mba Anindya.
"Apa Mba Anin dan Dania bisa membuat saya jatuh cinta seperti saya jatuh cinta ke dia?andai dia berpura-pura mencintai saya sekalipun, toh saya sudah tertipu sama lakonannya" tanya Rama.
"Bisa Ram.. saya bisa mencintai kamu lebih lagi, kita bisa tinggal diluar negeri, membangun bisnis yang baru. Jauh dari orang-orang yang banyak mengenal kita disini. Kita nikmati waktu bersama hingga ajal menjemput" janji Mba Anindya dengan mata berbinar.
Rama menepis tangannya Mba Anindya kemudian Rama mengambil HP nya dan langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Ram.. Rama... Rama tunggu" panggil Mba Anindya.
Rama berjalan cepat menuju lift. Pintu lift sudah tertutup begitu Mba Anindya mendekat.
"Berani kamu yaaa ...aarggghhh..." omel Mba Anindya.
Farida yang ada didekat pintu lift hanya bisa terdiam menyaksikannya kejadian yang berlangsung cepat didepan matanya. Para Manager yang satu lantai dengan Rama pun langsung keluar ruangan begitu mendengar ada keributan.
🏵️
Pernikahan Alex dan Mba Nur akhirnya dipindahkan ke Pesantren Abah Ikin karena desanya Mba Nur terkena musibah banjir.
Semua surat numpang nikah langsung diurus kembali dalam tempo yang singkat. Rama yang membiayai semuanya, bahkan nanti disewakan bus untuk keluarga Mba Nur juga menuju Pesantren Abah Ikin.
Maman membantu semua persiapan di Pesantren, Mang Ujang juga diperbantukan disana. Abah Ikin menyiapkan ruangan tempat keluarga Mba Nur bisa beristirahat.
Kedua calon pengantin dan keluarga sudah berada di Pesantren Abah Ikin sejak Jum'at pagi karena sore hari akan diadakan pengajian menjelang pernikahan.
Keluarga Mba Nur dan Mba Nur menginap di Pesantren, sedangkan Alex dan teman yang sudah akrab menginap di rumah Mang Ujang.
Keluarga besar Pak Isam dan para asisten rumah tangga baru akan jalan dari Jakarta hari Jum'at ba'da Maghrib. Mereka menunggu Rama yang jadwalnya lumayan padat pekan ini.
.
Pak Isam menyewa bus pariwisata dengan kapasitas tiga puluh orang, rombongan hanya berjumlah dua puluh orang, tapi dikarenakan Pak Isam membawa alat tulis lengkap untuk diberikan ke Pesantren Abah Ikin jadinya bagasi full alat tulis sehingga butuh space untuk meletakkan tas-tas yang dibawa oleh rombongan. Nantinya juga pas balik ke Jakarta, pasangan Mang Ujang dan Ceu Lilis pun akan ikut naik bus juga.
Formasi tempat duduknya dua kanan dan dua kiri. Pak Isam duduk dibelakang supir seorang diri agar bisa duduk selonjoran. Mas Haidar juga duduk sendiri disampingnya Pak Isam. Rama duduk sendiri dibelakangnya Mas Haidar sedangkan Izza dan Sachi duduk berdua dibelakangnya Pak Isam.
TV yang ada didalam bus, sedang memutar DVD lagu kenangan tahun tujuh puluhan sesuai request Pak Isam. Sedangkan asisten rumah tangga sedang makan nasi box yang mereka buat tadi untuk makan malam. Mas Haidar dan Pak Isam tidak makan karena saat mau berangkat sudah makan.
Rama masih sibuk dengan laptop dan HP, lampu bus memang sudah temaram, tapi Rama membawa lampu khusus untuk penerangan laptopnya.
Sachi sedang disuapin makan sama Izza. Izza memakai sarung tangan plastik saat menyuapi agar lebih bersih, kamar mandi ada, tapi kan air harus dihemat selama perjalanan.
"Mommy ... tadi kan di sekolah ada hapalan surat pendek, Sachi bisa dong" pamer Sachi.
"Alhamdulillah.. berarti Sachi cocok ya sama guru ngaji yang baru" kata Izza.
"Bukan sama Bu Wulan, tapi sama Aammah Maryam" jelas Sachi.
"Kapan diajarinnya?" tanya Izza yang belum pernah lihat Sachi belajar ngaji sama Maryam.
"Makanya Mommy jangan sibuk terus, jadinya ga tau Sachi bisa apa" protes Sachi.
Rama dan Mas Haidar langsung menengok kearah Sachi.
"Mommy kan sibuk bantuin Papa Haidar setiap hari, abis jemput Sachi, Mommy balik lagi ke toko. Pulangnya pas Maghrib. Jadinya Mommy ga liat kalo sore Sachi ngapain aja" lanjut Sachi.
"Maaf ya.. mulai Senin ini Mommy ga di toko Papa Haidar lagi. Nanti temanin mulai dari antar sekolah terus jemput sekolah, tungguin Sachi ngaji, les renang dan belajar calistung" janji Izza.
"Benar ya mommy.. nanti buatin bekal lagi ya, kemarin yang buatin bekal Mba Nur, ga cantik kaya yang Mommy buat" celoteh Sachi.
"Iya..." jawab Izza.
"Makasih ya Mommy .. sudah dibuatkan sayur brokoli sama ayam kecap... pokoknya masakan Mommy paling sedap" puji Sachi.
"Ya udah..makan yang banyak ya" sahut Izza.
"Ayah... Ayah ga makan?" tawar Sachi.
"Nanti dulu, Ayah masih ada kerjaan" jawab Rama.
"Ayah juga sibuk terus.. susah ketemu sama Ayah. Sachi bangun tidur, Ayah sudah berangkat kerja. Ayah pulang kerja, Sachi sudah tidur. Memangnya orang dewasa harus kerja terus ya Yah?" lanjut Sachi.
"Sachi .. orang dewasa kerja untuk anaknya sekolah, makan, bayar les, beli bensin untuk mobil yang antar Sachi ke sekolah.. kalo Ayah ga kerja nanti ga dapat uang" kata Rama.
"Ya... gapapa... " sahut Rama.
"Ayah .. Ayah... kan diperutnya Aammah Maryam ada adik bayinya" lapor Sachi.
"Terus kenapa kalo ada adik bayi?" tanya Rama.
"Sachi mau juga ada adik bayi, teman Sachi di sekolah juga punya adik. Katanya enak punya adik, bisa main bareng" adu Sachi.
"Kalo Sachi mau punya adik, minta sama Mommy dan Ayah" timpal Mas Haidar iseng.
"Iya kata Mang Ujang juga begitu" jawab Sachi semangat.
"Mang Ujang bilang apa?" selidik Rama yang merasa khawatir kalo Mang Ujang berbicara yang aneh-aneh sama Sachi.
Rama mematikan laptopnya dan memperhatikan Sachi. Mas Haidar juga membalikkan tubuhnya menghadap Sachi. Pak Isam minta DVD dimatikan, beliau ingin mendengar celotehan cucunya.
"Kata Mang Ujang, Mommy sama Ayah harus pergi berdua terus, Sachi ga boleh tidur bertiga sama Mommy dan Ayah" papar Sachi.
"Terus Mang Ujang bilang apa lagi selain itu?" korek Rama.
"Katanya Ayah sama Mommy harus cinta. Ayah cinta kan sama Mommy? Mommy cinta kan sama Ayah?" Sachi mulai ceriwis.
Rama dan Izza saling pandang. Mas Haidar dan Pak Isam menunggu jawaban keduanya. Para asisten rumah tangga langsung berhenti makan guna mendengar apa jawaban kedua manusia yang sedang terlibat perang dingin ini.
"Iya.." jawab Rama singkat.
"Mommy gimana?" tanya Sachi.
"Iya .." jawab Izza singkat juga.
"Berarti sekarang sudah ada ya adik bayi diperutnya Mommy?" tanya Sachi makin menjadi.
"Ya belum ada Sachi.. " buru-buru Izza menjawab.
"Mang Ujang bohong dong?" ucap Sachi.
"Bohong kenapa?" tanya Rama.
"Kan Mommy sama Ayah sering pergi berdua, Sachi ga diajak. Sachi juga ga tidur bertiga sama Ayah dan Mommy, bobonya banyak sama Mommy aja. Terus Ayah sama Mommy katanya cinta. Harusnya ada adik bayinya dong" lanjut Sachi.
"Sachi... adik bayi hanya boleh hadir jika Ayah dan Mommy menikah, itu sudah kan. Kemudian Ayah memberikan cinta ke Mommy, jika Allah berkehendak dan memberikan adik ke Sachi lewat Mommy, maka adik itu akan ada ditempat spesial dalam tubuh Mommy. Sekarang tugas Sachi berdo'a, semoga Allah memberikan adik buat Sachi.. oke???" ujar Rama.
"Iya.. nanti habis makan ya, Sachi mau berdo'a biar punya adik. Tapi sesudah berdo'a.. langsung dikasih adik?" masih Sachi penasaran.
"Sachi... do'a itu ada yang langsung Allah berikan, ada juga yang disimpan dulu. Yang penting kita sebagai manusia ya berdo'a saja, mau dikabulkan atau tidak, tetap harus beribadah kepada Allah agar masuk surga" jelas Rama mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.
Sachi sudah selesai makan, dia berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Rama.
"Ayo Ayah.. ajarin Sachi berdo'a biar segera ada adik diperutnya Mommy" ajak Sachi.
Seisi bus menahan ketawa akan celotehannya Sachi. Mas Haidar apalagi udah cekikikan sama Pak Isam.
"Ya Allah.. semoga besok pagi, diperut Mommy ada adik bayinya.." pinta Sachi sambil mengangkat kedua tangannya.
"AAMIIN....." jawab semua yang ada didalam mobil dengan suara kencang.
Sachi kaget semua menjawab.
"Kok semua jawab Aamiin.. kan lagi ga sholat" protes Sachi.
"Aamiin itu bukan saat sholat aja, kamu berdo'a juga diakhiri Aamiin" kata Rama.
"Oh iya.. tapi kan itu do'anya Sachi.. kenapa semua ikutan .. harusnya berdo'a sendiri" protes Sachi.
"Meng Aamiinkan do'a yang baik itu juga sama aja berdo'a sendiri" ucap Rama.
.
Setelah mondar mandir depan belakang, Sachi akhirnya ngantuk, tapi dia minta dininabobokan dengan cara digendong sama Rama. Memang kalo lagi datang kolokannya, Sachi pasti minta digendong. Apalagi sudah lama tidak dikelonin sama Rama.
Untunglah didalam tasnya Rama ada sarung, akhirnya Sachi digendong pakai sarung karena khawatir jatuh akibat pergerakan bus di jalan raya.
Rama mengusap punggungnya Sachi dengan lembut, bahkan Rama melangkah pelan-pelan di jalanan antara kursi.
Hanya sekitar lima belas menit, Sachi sudah tertidur pulas.
"Sini Kak.. biar kepalanya dipangku aja" pinta Izza.
"Bonekanya dijadikan bantal aja, biar dia tidur sendiri di kursi. Toto... tolong itu tas ditumpuk dekat sini, biar kakinya Sachi ga gantung" perintah Rama ke security.
Izza merapihkan bantal dan menyiapkan selimut, dia berdiri didekat kursi.
Setelah meletakkan tubuh Sachi perlahan, Rama kembali ke kursinya. Izza menyelimuti tubuh Sachi.
Izza kebingungan sendiri mau duduk dimana. Dia memandang kearah Pak Isam.
"Ga bisa... Papi mau tidur selonjoran, maklum sudah tua, kalo posisi duduk terus kakinya bisa kesemutan" tolak Pak Isam.
"Mas juga ga mau ya.. bukan mahram. Nanti kalo kita sentuhan ada yang marah" sahut Mas Haidar.
Izza masih celingukan melihat apa ada kursi yang kosong, sayangnya hanya ada disebelahnya Rama. Kursi lain penuh tumpukan makanan, buah dan tas.
Rama berdiri, mempersilahkan Izza masuk ke kursi yang dekat jendela. Izza duduk dan melihat kearah luar jendela dengan pose bertopang dagu, sembari mencerna apa yang sedang dia lihat sepanjang jalan.
"De.. masih ada nasi ga?" tanya Rama.
"Ada dibelakang Kak, mau diambilkan?" jawab Izza.
"Yang kamu masak sendiri cuma buat Sachi?" kata Rama.
"Masih ada kok, mau menunya begitu aja?" ujar Izza meyakinkan.
"Ya daripada ga ada yang makan, udah makan belum De?" tanya Rama lagi.
"Belum, ga sempat makan soalnya tadi pas mau jalan, Sachi minta ini itu" jawab Izza.
"To... Toto.. ambilin dua nasi box ya" pinta Rama.
"Maaf Mas Boss, cuma sisa satu, kirain tadi Mba Izza sudah bekal makanan sendiri, jadi ga dibikinin nasi box" jawab Toto.
Toto menyerahkan nasi box ke Rama.
"Ya udah Kakak makan aja, masih ada kok sisa nasi sama lauknya Sachi, lumayan buat ganjal perut" kata Izza.
"To.. roti ada ga?" tanya Rama menghadap ke kursi belakang.
"Banyak Mas .. mau rasa apa?" kata Toto.
"Ambilin aja satu kardus, biasanya isi enam kan ya?" ucap Rama.
Toto mengambilkan satu kotak roti berbagai rasa untuk diserahkan ke Rama.
"Kamu makan aja, Kakak udah biasa makan roti pas jaman kuliah dulu" tukas Rama.
"Nanti Kakak lapar, tadi siang sempat makan ga? kan biasanya suka telat makan" ucap Izza.
"Gampang nanti kalo ada rest area bisa minta mampir buat beli makan" jawab Rama sambil membuka plastik roti abon kemudian mulai mengunyah.
Izza mengelap tangannya pakai tissue basah kemudian memakai sarung tangan plastik.
"Kan didalam box ada sendok" ujar Rama.
"Enakan pakai tangan Kak, makanya pakai sarung tangan juga biar gampang bersihinnya. Mau?" tawar Izza sambil menyodorkan sesuap nasi dan lauknya.
"Kamu makan aja, nanti kalo si Princess sudah bangun pasti kamu sibuk ngurusin dia. Butuh tenaga ekstra kan menghadapi seorang Sachi" kata Rama.